BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
B. Perencanaan Audit Internal
Pada tahap perencanaan audit internal atas fungsi produksi di PT Mabar Feed Indonesia dibadi menjadi tiga tahap pengauditan, yaitu : menentukan tujuan, luas, dan periode audit, mengidentifikasi dan menilai resiko, dan menyusun program audit. Berikut dijelaskan mengenai ketiga tahapan dalam perencanaan audit internal :
1) Menentukan tujuan, luas, dan periode audit
Tujuan dilakukannya audit internal adalah untuk menilai proses produksi pakan ternak telah dilakukan sesuai prosedur, kebijakan dan peraturan yang berlaku. Luas cakupan audit dilakukan pada bagian produksi di salah satu perusahaan pakan ternak swasta di Medan, Sumatera Utara yaitu PT Mabar Feed Indonesia selama akhir bulan februari hingga pertengahan bulan Maret 2019.
2) Mengidentifikasi dan Menilai Risiko
Tahap pengidentifikasian dan penilaian risiko dilakukan untuk mengetahui risiko- risiko yang terjadi selama proses audit di bagian produksi yang meliputi proses perencanaan induk produksi dan operasi, produktivitas, pengendalian bahan baku, pengendalian peralatan dan fasilitas produksi, pengendalian transformasi, pengendalian kualitas, pengendalian barang jadi.
Hasil identifikasi dan penilaian risiko di bagian pembelian dikelompokkan dalam tiga tingkatan risiko yaitu: risiko rendah, risiko menengah, dan risiko tinggi yang ditampilkan dalam tabel gabungan
red flags dan risk worksheet. Semakin tinggi tingkat risiko audit maka semakin tinggi juga tingkat kehati-hatian yang diperlukan saat melakukan tindakan audit.
Berikut ini ditampilkan tabel gabungan red flags dan risk worksheet.
Tabel 5: Tabel Gabungan Red Flags dan Risk Worksheet Tingkat Risiko Risiko Kegiatan Pengendalian Kelemahan Pengendalian Risiko Rendah
Tidak ada tanggal kadaluarsa yang dicetak dalam bentuk angka pada label kemasan produk. Unit produksi harus mencantumkan tanggal kadalaursa pada kemasan produk jadi pakan ternak dalam bentuk angka (tanggal-bulan- tahun) dan dicetak dengan tinta tahan air.
Unit produksi sudah mencantumkan tanggal produksi dan keterangan lamanya masa penggunaan pada selembar kertas berbentuk persegi panjang yang ditempelkan pada kemaan produk jadi.
Risiko Menengah
Pengawasan fisik secara langsung atas bahan baku (access control) di gudang tidak memiliki
pengawasan dan selama jam kerja siapa saja bisa masuk ke gudang bahan baku tanpa otorisasi. Bagian gudang bahan baku sebaiknya memiliki pengendalian pengawasan atau otorisasi terhadap akses keluar masuk untuk mencegah adanya resiko kerusakan bahan baku atau
pencurian bahan baku yang dapat mengganggu kegiatan produksi. Perusahaan sudah merasa cukup dengan adanya pemeriksaan atas kondisi bahan baku oleh bagian quality control dan kondisi kesesuaian gudang sebagai tempat penyimpanan sehingga merasa tidak perlu adanya pengawasan khusus atas bahan baku di gudang. Pemilihan bahan baku (jagung) hanya diuji kualitasnya oleh Pengujian kualitas bahan baku seharusnya menggunakan Pihak quality control merasa sudah cukup dengan
Tingkat Risiko Risiko Kegiatan Pengendalian Kelemahan Pengendalian quality control menggunakan sampel (50%) dari total bahan baku (karung) yang dibeli perusahaan.
sampel dari seluruh (karung) bahan baku sehingga apabila ada perbedaan kualitas perusahaan dapat mengembalikan bahan baku sebelum dibongkar di gudang karena pemasok tidak memberikan garansi atas bahan baku.
melakukan
pengecekan terhadap 50% (karung) dari total bahan baku yang akan dibeli dan berasumsi sudah mampu mewakili kualitas atas keseluruhan bahan baku. Risiko Tinggi
Bahan baku utama produksi pakan (jagung) mengalami kekurangan pasokan selama musim kemarau atau kondisi tertentu yang mengakibatkan kelangkaan jagung. Perusahaan seharusnya mampu memperkirakan kondisi kelangkaan tersebut sehingga sebelum kondisi ini terjadi perusahaan harus melakukan penyetokan terhadap bahan baku utama (jagung) tersebut. Perusahaan tidak memiliki gambaran akan kondisi kelangkaan bahan baku jagung tersebut sehingga perusahaan tidak melakukan aktivitas penyetokan bahan baku jagung.
Sumber: Hasil penelitian di PT. Mabar Feed Indonesia, Februari – Maret 2019
3) Menyusun Program Audit
Program audit yang disusun digunakan di semua proses kegiatan produksi yang terdiri dari 7 (tujuh) bagian yaitu: program audit rencana induk produksi dan operasi, produktivitas dan nilai tambah, pengendalian bahan baku, pengendalian peralatan dan fasilitas produksi, pengendalian transformasi, pengendalian kualitas, pengendalian barang jadi.
Program audit rencana induk produksi dan operasi bertujuan untuk meminimalkan biaya persediaan dan penyetelan (setup), meminimalkan kerja lembur (overtime), waktu sumber daya yang menganggur (idle time resources) dan penentuan tingkat persediaan yang optimal.
Fungsi produksi pakan ternak bertujuan untuk menilai apakah kegiatan produksi yang dilakukan oleh perusahaan yang didasarkan pada kebijakan, prosedur-prosedur, dan perencanaan yang berlaku berjalan dengan ekonomis, efisien dan efektif. Oleh sebab itu, audit ini tidak hanya dilakukan pada unit produksi saja tetapi berlaku untuk keseluruhan unit yang terlibat dalam fungsi produksi pakan ternak perusahaan. Ketujuh bagian program audit yang telah ditetapkan memiliki fungsinya masing- masing. Berikut akan dijelaskan tujuan dari ketujuh bagian program audit. Program audit produktivitas bertujuan untuk menjadikan operasional perusahaan yang mampu menekan berbagai pemborosan yang terjadi secara maksimal. Program audit pengendalian bahan baku bertujuan untuk memastikan bahwa bahan baku yang diolah dalam proses produksi telah sesuai dengan kebutuhan dan strandar kualitas produk yang dihasilkan perusahaan. Program audit pengendalian peralatan dan fasilitas produksi bertujuan untuk memastikan bahwa semua peralatan dan fasilitas produksi ada dalam keadaan siap untuk melaksanakan proses produksi sesuai dengan ketentuan penggunaannya. Program audit pengendalian
transformasi berfungsi untuk mengolah input menjadi output sesuai dengan standar yang telah ditetepkan. Program audit pengendalian transformasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa proses pengelolaan berjalan sesuai dengan kebutuhan proses yang efektif dan efisien. Program audit pengendalian kualitas bertujuan mengendalikan proses produksi sehingga produk yang dihasilkan mampu memenuhi spesifikasi pelanggan, fungsi pengendalian kualitas juga sebenarnya adalah tanggung jawab bersama setiap komponen yang terlibat di dalam perusahaan. Program audit pengendalian barang jadi bertujuan untuk memastikan bahwa penanganan setelah produksi berjalan sesuai dengan prosedur, sehingga tidak terjadi kerusakan barang dalam proses penyimpanan atau pendistribusiannya. Oleh karena itu, keberhasilan fungsi produksi sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan perusahaan secara keseluruhan.
C. Pelaksanaan Audit Internal
Kegiatan audit dilakukan dengan membandingkan kegiatan produksi yang terjadi di PT Mabar Feed Indonesia dengan pedoman audit internal yang disesuaikan dengan SOP (Standard Operational Procedure) yang berlaku. Pelaksanaan audit dilaksanakan berdasarkan tabel checklist dengan 7 (tujuh) program audit yang telah disusun sebelumnya. Berikut ini adalah hasil pelaksanaan audit yang telah dilakukan.
1. Program Audit Rencana Induk Produksi dan Operasi
Tabel di bawah ini merupakan tabel audit rencana induk produksi dan operasi pakan ternak pada PT Mabar Feed Indonesia.
Tabel 6 – Table check list Rencana Induk Produksi dan Operasi
Nama Perusahaan: PT Mabar Feed Indonesia Periode Audit:
Februari 2019 Program yang diaudit: Rencana induk produksi
dan operasi No
.
Pernyataan Jawaban Keterangan
Ya Tidak
1 Jadwal induk produksi telah mencerminkan kestabilan usaha perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan. Jadwal induk produksi telah sejalan dengan jadwal permintaan pelanggan. 2 Jadwal induk produksi disusun berdasarkan
rencana penjualan untuk menjaga kestabilan barang di pasaran. Jadwal induk produksi telah sejalan dengan rencana perusahaan. 3 Jadwal induk produksi mampu meminimalkan
biaya persediaan, biaya setup mesin dan upah lembur. Jadwal induk produksi telah disusun dengan anggaran biaya yang sesungguhnya. 4 Jadwal induk produksi telah mengintegrasikan
jadwal penerimaan bahan baku, pemeliharaan fasilitas dan pengiriman barang ke dalam jadwal produksi regular.
Jadwal induk produksi telah selaras dengan jadwal lainnya dalam departemen produksi. 5 Jadwal induk produksi telah selaras dengan
jadwal pada fungsi-fungsi bisnis yang lain.
Telah sesuai. 6 Jadwal induk produksi telah disusun
berdasarkan penggunaan kapasitas produksi optimal.
Telah sesuai.
7 Jadwal induk produksi didukung dengan metode permintaan material yang akurat.
Material yang digunakan
Nama Perusahaan: PT Mabar Feed Indonesia Periode Audit: Februari 2019 Program yang diaudit: Rencana induk produksi
dan operasi No
.
Pernyataan Jawaban Keterangan
Ya Tidak telah diinspeksi berdasarkan standar perusahaan. 8 Perusahaan memiliki kebijakan tertulis tentang
pemanfaatan kapasitas menganggur.
Perusahaan memiliki kebijakan yang akan disesuaikan dengan kondisi saat terjadinya keadaan kapasitas menganggur dan kebijakan tersebut ditentukan oleh manajer produksi. 9 Perusahaan memiliki kebijakan tertulis tentang
pengelolaan kebutuhan produksi di atas kemampuan kapasitas yang tersedia untuk mengerjakannya. Perusahaan menerima perintah dari manajer produksi secara langsung mengenai pengelolaan kebutuhan produksi 10 Perusahaan memiliki prosedur pengendalian
persediaan bahan baku.
Prosedur ini untuk
memastikan bahan baku tidak rusak. 11 Prosedur tersebut telah disosialisasikan kepada
petugas yang melaksanakan.
Terdapat
dalam Job Desk.
12 Penentuan tingkat persediaan minimum telah mempertimbangkan kemungkinan terjadinya
Perusahaan
Nama Perusahaan: PT Mabar Feed Indonesia Periode Audit: Februari 2019 Program yang diaudit: Rencana induk produksi
dan operasi No
.
Pernyataan Jawaban Keterangan
Ya Tidak
keterlambataan pasokan bahan baku, pemeliharaan fasilitas produksi dan perubahan permintaan pasar. menyesuaikan tingkat persediaan dengan aktivitas produksi. 13 Jadwal induk produksi telah meminimalkan
persediaan. Perusahaan telah menyesuaikan tingkat persediaan dengan jadwal induk produksi. 14 Perusahaan memiliki pedoman pemeliharaan
fasilitas produksi secara tertulis.
Fasilitas Produksi telah dibersihkan secara rutin dan diinspeksi sebelum digunakan. 15 Jadwal pemeliharaan fasilitas telah terintegrasi
dengan rencana produksi.
agar kegiatan produksi dapat berjalan sesuai dengan rencana produksi. 16 Pengoperasian fasilitas produksi didukung
oleh tenaga operator yang memadai.
Karyawan yang mengoperasika n telah memiliki kemampuan yang sesuai dengan standar perusahaan. 17 Perusahaan memiliki panduan pengoperasian
fasilitas produksi secata tertulis untuk mencegah terjadinya kesalahan proses produksi. Panduan pengoperasian terdapat pada setiap mesin/ fasilitas
Nama Perusahaan: PT Mabar Feed Indonesia Periode Audit: Februari 2019 Program yang diaudit: Rencana induk produksi
dan operasi No
.
Pernyataan Jawaban Keterangan
Ya Tidak produksi. Diaudit Oleh: Nathania Br Tarigan Tanggal: 28 Februari 2019 Jawaban Catatan Ya Tidak 15 2
Sumber: Hasil penelitian di PT. Mabar Feed Indonesia, Februari – Maret 2019
Berdasarkan hasil pelaksanaan audit internal dengan menggunakan tabel check list yang dilakukan pada fungsi produksi di PT Mabar Feed Indonesia menunjukkan 15 (lima belas) jawaban “Ya” dan 2 (dua) jawaban “Tidak” dari 17 (tujuh belas) total pernyataan. Jumlah jawaban “Ya” lebih banyak dari jumlah jawaban “Tidak” menunjukkan bahwa kegiatan pada organisasi rencana induk produksi dan operasi telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan kebijakan yang berlaku.
Secara umum Jadwal induk produksi (Master Production Schedule) telah mencerminkan kestabilan usaha perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan karena jadwal induk produksi dalam penyusunannya telah sesuai dengan rencana penjualan demi menjaga kestabilan barang. Hal ini karena perusahaan memiliki konsumen tetap berupa peternak ayam lokal di sumatera utara yang jumlah pesanannya dapat dikatakan stabil sehingga perusahaan mampu menghubungkan antara kebutuhan konsumen dengan jadwal penerimaan bahan baku dan pengelolaan kapasitas produksinya. Dalam hal ini perusahaan sudah
menyusun jadwal induk produksi berdasarkan kapasitas produksi optimal sehingga jadwal induk produksi perusahaan sejalan dengan fungsi bisnis lainnya di perusahaan. Perusahaan juga memiliki hubungan kerja sama yang baik dengan pemasok, baik pemasok lokal maupun internasional sehingga material yang digunakan dalam proses produksi sudah sesuai dengan standar kualitas perusahaan karena setiap material yang berasal dari para pemasok sudah diuji di laboratorium oleh bagian quality control dan telah dinyatakan sesuai dengan standar kualitas perusahaan.
Perusahaan akan membeli bahan baku dari pemasok yang sudah memenuhi kualifikasi perusahaan sehingga hal ini akan mengurangi resiko terjadinya keterlambatan pasokan bahan baku untuk kegiatan produksi pakan dan mengantisipasi kondisi adanya perubahan permintaan pasar yang mendadak. Manajer produksi juga menetapkan kebijakan untuk membeli bahan baku lebih banyak dari pembelian regular perusahaan apabila harga bahan baku sedang murah sehingga hal ini akan menguntungkan perusahaan saat harga bahan baku melonjak tinggi karena pada saat harga bahan baku melonjak tinggi perusahaan dapat menggunakan cadangan bahan baku yang ada dan mengurangi pembelian pada saat itu.
Perusahaan juga melakukan pemeliharaan dan pembersihan mesin produksi sehingga apabila ada kesalahan pada mesin dapat terdeteksi dini dan proses produksi tidak akan terhenti atau terhambat dan dapat dilaksanakan tepat waktu. mesin produksi pakan dioperasikan oleh karyawan yang sudah sesuai dengan kualifikasi perusahaan sehingga memiliki kemampuan untuk
mengoperasikan fasilitas produksi dengan benar sesuai panduan pengoperasian yang ada. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko terjadinya kesalahan penggunaan mesin produksi selama proses produksi yang akan beresiko pada keruakan mesin dan produk jadi pakan.
Dari program audit organisasi rencana induk produksi dan operasi terdapat 2 (dua) jawaban “Tidak”, yaitu perusahaan tidak memiliki kebijakan tertulis tentang pengelolaan kebutuhan produksi di atas kemampuan kapasitas yang tersedia untuk mengerjakannya. Walaupun tidak adanya kebijakan tertulis tetapi perusahaan memiliki pertimbangan atas pengelolaan kebutuhan produksi di atas kemampuan kapasitar yang tersedia melalui pertimbangan manajer produksi langsung. Pertimbangan manajer didasari dari stok persediaan pakan jadi di gudang dan penambahan jam kerja lembur kepada para karyawan dalam memproduksi pakan melebihi kemampuan kapasitas yang tersedia.
Pernyataan “Tidak” yang kedua, Perusahaan tidak memiliki kebijakan tertulis tentang pemanfaatan kapasitas menganggur. Hal ini tidak memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas produksi karena PT Mabar Feed Indonesia memiliki kebijakan tidak tertulis yang akan disesuaikan dengan kondisi saat terjadinya keadaan kapasitas menganggur dan kebijakan tersebut ditentukan oleh langsung oleh manajer produksi.
Dari hasil program audit yang dilaksanakan dan adanya temuan audit di bagian rencana induk produksi dan operasi, penulis memberikan rekomendasi yang dijabarkan sebagai berikut:
a. Temuan
1) perusahaan tidak memiliki kebijakan tertulis tentang pengelolaan kebutuhan produksi di atas kemampuan kapasitas yang tersedia untuk mengerjakannya.
2) Perusahaan tidak memiliki kebijakan tertulis tentang pemanfaatan kapasitas menganggur dalam fungsi produksi pada perusahaan.
b. Kriteria
1) Adanya Standar Operating Procedure (SOP) mengenai pengelolaan kebutuhan produksi di atas kemampuan kapasitas yang tersedia untuk mengerjakannya untuk menjaga kinerja perusahaan dalam memproduksi pakan tetap ekonomis, efisien, dan efektif.
2) Pengadaan kebijakan oleh perusahaan dalam hal pemanfaatan kapasitas menganggur sehingga resiko terjadinya inefisiensi dalam proses produksi tidak terjadi.
c. Penyebab
1) Bagian produksi tidak memiliki kebijakan tertulis tentang pengelolaan kebutuhan produksi di atas kemampuan kapasitas yang tersedia untuk mengerjakannya dikarenakan kebijakan dan arahan dari manajer produksi selama ini sudah dapat memenuhi target dan kegiatan yang dilakukan di atas kemampuan kapasitas perusahaan yang tersedia. Selain itu untuk membuat Standar Operating Procedure (SOP) dibutuhkan banyak pertimbangan, waktu yang lama dan juga pengeluaran biaya.
2) Keadaan atau kondisi yang memungkinkan adanya kapasitas menganggur pada perusahaan sangat jarang terjadi sehingga perusahaan hanya memberikan sedikit perhatian dalam hal penanggulangan untuk jangka waktu yang relatif pendek.
d. Akibat
1) Tidak adanya Standar Operating Procedure (SOP) mengenai pengelolaan kebutuhan produksi di atas kemampuan kapasitas yang tersedia mengakibatkan penilaian tingkat ekonomis, efisien, dan efektivitas kinerja perusahaan menjadi sulit, selain itu adanya peluang terjadinya kendala atau keterlambatan produksi dikarenakan pertimbangan yang kurang sesuai dengan kemampuan sumber daya produksi.
2) Tidak memiliki kebijakan tertulis tentang pemanfaatan kapasitas menganggur dapat mengakibatkan terjadinya kerugian bagi perusahaan. e. Alternatif Solusi
1) Membuat Standar Operating Procedure (SOP) pada bagian pengelolaan kebutuhan produksi di atas kemampuan kapasitas yang tersedia.
2) Perusahaan membuat beberapa opsi peraturan/ kebijakan mengenai pemanfaatan kapasitas menganggur dengan pertimbangan tidak adanya kerugian yang akan dialami perusahaan.
f. Rekomendasi
1) Membuat Standar Operating Procedure (SOP) pada bagian pengelolaan kebutuhan produksi di atas kemampuan kapasitas yang tersedia yang dilakukan secara tertulis dan terdokumentasi oleh perusahaan
2) Perusahaan membuat beberapa opsi peraturan/ kebijakan mengenai pemanfaatan kapasitas menganggur dengan pertimbangan tidak adanya kerugian yang akan dialami perusahaan.
2. Program Audit Produktivitas dan nilai tambah
Tabel di bawah ini merupakan tabel produktivitas dan nilai tambah pakan ternak pada PT Mabar Feed Indonesia.
Tabel 7 – Tabel check list Produktivitas Nama Perusahaan: PT Mabar Feed
Indonesia
Periode Audit: Februari 2019 Program yang diaudit: Produktivitas dan
Nilai Tambah
No. Pernyataan Jawaban Keterangan
Ya Tidak
1 Perusahaan memiliki standar produktivitas yang bisa digunakan sebagai pedoman oleh karyawan dalam beraktivitas.
Setiap karyawan
memiliki Job Desk dan instruksi kerja sesuai dengan bidangnya. 2 Perusahaan memiliki standar pencapaian
hasil minimal yang harus dicapai setiap karyawan. Perusahaan tidak memiliki standar pencapaian minimal karyawan tetapi memiliki standar minimal mesin per hari. Apabila pekerja lembur/ menambah jam kerja maka produktivitasnya akan meningkat. 3 Perusahaan memberikan penghargaan
kepada karyawan yang memiliki produktivitas lebih tinggi dari yang ditetapkan perusahaan. Perusahaan memiliki kebijakan dalam memberikan penghargaan kepada para karyawan.
4 Perusahaan memberikan tanggung jawab yang cukup besar kepada karyawannya untuk mengelola aktivitasnya sendiri. Karyawan bertanggung jawab terhadap tugasnya masing- masing berdasarkan
instruksi kerja dan Job Desk.
Nama Perusahaan: PT Mabar Feed Indonesia
Periode Audit: Februari 2019 Program yang diaudit: Produktivitas dan
Nilai Tambah
No. Pernyataan Jawaban Keterangan
Ya Tidak
terhadap kinerja karyawannya (individu / kelompok).
melakukan evaluasi pertahun 6 Perusahaan memiliki kriteria tentang
aktivitas produksi yang memberikan nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan Perusahaan memiliki standart nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan berdasarkan kandungan gizi dalam kandungan produk.
7 Dalam proses produksi dan operasi pernah terjadi pengerjaan ulang, hal ini dilakukan apabila ada produk pakan yang belum memenuhi spesifikasinya.
Pengerjaan ulang
dilakukan agar bahan baku tidak terbuang karena bisa di-proses ulang agar menjadi sesuai dengan standar kualitas. Diaudit Oleh: Nathania Tarigan Tanggal: 28 Pebruari 2019 Jumlah Jawaban Catatan: Ya Tidak 5 2
Sumber: Hasil penelitian di PT. Mabar Feed Indonesia, Februari – Maret 2019
Berdasarkan hasil pelaksanaan audit internal yang dilakukan pada fungsi produksi di PT Mabar Feed Indonesia dengan menggunakan tabel check list menunjukkan 5 (lima) jawaban “Ya” dan 2 (dua) jawaban “Tidak” dari 7 (tujuh) total pernyataan. Jumlah jawaban “Ya” lebih banyak dari jumlah jawaban “Tidak”
menunjukkan bahwa kegiatan di organisasi produktivitas dan nilai tambah sudah dilaksanakan berdasarkan prosedur dan kebijakan yang berlaku.
Secara keseluruhan produktivitas dan nilai tambah dilaksanakan perusahaan dengan baik. Pernyataan tersebut didukung dengan mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan keunggulan bersaingnya. Praktik yang dilakukan perusahaan meliputi adanya standar produktivitas yang dapat dijadikan pedoman oleh karyawan dalam beraktivitas sehingga hal ini mendorong karyawan untuk menjadi bertanggung jawab atas tugasnya. Perusahaan melakukan kegiatan evaluasi terhadap kinerja karyawan setahun sekali sesuai dengan kebijakan perusahaan yang bertujuan untuk menilai tingkat produktivitas/ kinerja karyawan, perilaku karyawan dan kesanggupan karyawan bekerja lebih efektif pada masa yang akan datang.
Walaupun perusahaan tidak memiliki standar pencapaian hasil minimal bagi karyawan tetapi perusahaan memiliki standar maksimal mesin per hari yaitu harus memproduksi sebanyak 10 ton pakan ternak yang harus dicapai oleh karyawan bagian produksi. Kondisi tertentu yang mengharuskan perusahaan memproduksi lebih dari 10 ton apabila ada kebijakan menerima permintaan pakan diluar ketentuan produksi sehingga karyawan akan melakukan pekerjaan lembur yang akan diberi penghargaan berupa upah lembur bagi karyawan.
Aktivitas produksi yang memberikan nilai tambah terhadap produk pakan yang diproduksi perusahaan adalah jenis campuran vitamin dan bahan baku yang digunakan dalam pembuatan pakan. Jenis ini digolongkan dari kandungan tingkat gizi, sumber bahan baku dan waktu pemrosesan produk pakan yang dibutuhkan.
Semakin tinggi kandungan gizi maka akan memberikan nilai tambah terhadap produk pakan yang dihasilkan. Dalam kegiatan produksi, walaupun perusahaan pernah melakukan pengerjaan ulang tetapi hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kerugian pada tingkat yang lebih tinggi yang menjadikan pakan harus mengalami down grade atau tidak dapat dipakai. Pengerjaan ulang ini terjadi karena kondisi yang tergolong normal yang kadang terjadi pada proses produksi apabila ada pakan yang belum memenuhi spesifikasinya seperti bentuk (ukuran) produk yang belum sesuai dengan standar pakan dan apabila ditemukan ketidaksesuaian maka perusahaan akan melakukan pengerjaan ulang setelah mendapat persetujuan dari manajer produksi sesuai dengan prosedur yang dimiliki perusahaan.
Dari program audit di bagian produktivitas dan nilai tambah pakan ternak terdapat 2 (dua) jawaban “Tidak”, yang pertama yaitu perusahaan tidak memiliki standar pencapaian hasil minimal yang harus dicapai setiap karyawan dan yang kedua tidak dilakukan evaluasi harian terhadap kinerja karyawannya (individu / kelompok). Kedua hal tersebut tidak memiliki pengaruh yang besar dalam penilaian tingkat produktivitas dan nilai tambah fungsi produksi karena walaupun perusahaan tidak memiliki standart pencapaian hasil minimal yang harus dicapai tetapi perusahaan memiliki standar maksimal produksi mesin per hari, sehingga tingkat produktivitas perusahaan akan tetap stabil. Dalam kegiatan produksinya walaupun perusahaan tidak melakukan evaluasi setiap hari tetapi perusahaan tetap melakukan evaluasi atas kinerja produksi yang dilakukan setiap tahun.
Dari hasil temuan yang ada di bagian produktivitas dan nilai tambah pakan ternak, penulis memberikan rekomendasi yang dijabarkan sebagai berikut:
a) Temuan
1) perusahaan tidak memiliki standar pencapaian hasil minimal yang harus dicapai setiap karyawan.
2) Tidak melakukan evaluasi harian terhadap kinerja karyawannya. b) Kriteria
1) Perusahaan sebaiknya membuat kebijakan mengenai standart pencapaian