MEMBIASAKAN AKHLAK ISLAM
F. Pergaulan Islam
Pertemuan sesama laki-laki dan sesama perempuan di masyarakat tidak akan menimbulkan masalah yang berarti. Permasalahan muncul ketika pertemuan terjadi antara laki- laki dan perempuan. Hal ini jelas memerlukan sistem yang mengaturnya. Sistem itulah yang dimaksud dengan Nizhâm
al-Ijtimâ‘i, yaitu sistem yang mengatur pertemuan laki-laki
dengan perempuan, mengatur hubungan yang muncul dari pertemuan keduanya, dan apa saja yang timbul dari hubungan itu.
Dalam masalah pergaulan laki-laki dengan perempuan, kaum Muslim berada dalam tarikan dua kutub yang saling
berlawanan. Pertama: mereka yang berupaya mengambil
dan menjiplak semua yang berasal dari Barat, termasuk pergaulan laki-laki dengan perempuan. Mereka menyerukan kebebasan pribadi, kebebasan perempuan, dan kesetaraan total perempuan dengan laki-laki karena terpikat propaganda
kesetaraan jender. Kedua: mereka yang bersikap dan
melarang perempuan keluar rumah, berjual-beli, bekerja, berpolitik, dan menjalankan aktivitas publik lainnya; bahkan suara perempuan mereka anggap sebagai aurat.
Keduanya sama-sama berakibat buruk. Kutub pertama melahirkan masyarakat bebas, institusi keluarga rusak dan kesucian masyarakat luntur. Sementara kutub kedua mengakibatkan potensi perempuan tersia-siakan, lahir kejumudan, kemunduran dan pemberontakan perempuan.
Semua itu tidak lain karena ketidakpahaman tentang sistem Islam, khususnya hakikat pertemuan dan hubungan
laki-laki dengan perempuan serta pengaturannya. Oleh
karena itu, Nizhâm al-Ijtimâ‘i dalam Islam harus dikaji secara
menyeluruh dan mendalam. Nizhâm al-Ijtimâ‘i ini dibangun
di atas sejumlah pandangan dasar, yaitu:
1. Pandangan tentang laki-laki dan perempuan
Islam memandang bahwa Alah menciptakan manusia, baik laki-laki dan perempuan, dibekali dengan fitrah yang sama, yakni adanya kebutuhan fisik dan naluriah yang sama, juga sama-sama memiliki potensi akal.
2. Pandangan tentang hubungan laki-laki dengan perempuan
Salah besar pandangan Barat yang berangkat dari filsafat freudian dengan psikoanalisanya yang menganggap libido sebagai dorongan kehidupan sehingga rangsangan libido itu harus bertebaran dan tersedia di tengah masyarakat, yang jika tidak, akan menyebabkan matinya kehidupan. Faktanya, naluri seksual hanya muncul karena adanya rangsangan dari luar, yang jika tidak terpenuhi, tidak menyebabkan kematian, tetapi hanya menyebabkan kegundahan. Jadi yang benar, manusia bukannya diberikan kebebasan, melainkan diatur secara tepat sehingga dapat mewujudkan tujuan penciptaannya dan merealisasi kebaikan masyarakat.
Pertemuan laki-laki dan perempuan dalam rangka kerjasama di tengah-tengah kehidupan dalam perdagangan, pendidikan, ijarah, politik, dan sebagainya, merupakan satu keniscayaan untuk merealisasi kemaslahatan keduanya dan masyarakat pada umumnya. Karena itu, pertemuan dan interaksi tersebut harus dilakukan dengan pandangan dasar dan pengaturan kerjasama yang melahirkan kebaikan bagi masyarakat dan individu, agar dapat menjamin realisasi nilai- nilai luhur dan keridhaan Allah. Jadi, yang diperlukan adalah sistem yang mengatur pertemuan laki-laki dan perempuan
yang dapat menjamin semua itu, yang tidak lain adalah
Nizhâm al-Ijtimâ‘i Islam.
Aturan Nizhâm al-Ijtimâ‘i dalam Islam itu bisa dikelompokkan menjadi: Pertama, sistem yang mengatur pertemuan laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini, Islam telah menetapkan sejumlah hukum:
a. Memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk
menundukkan pandangan.
b. Memerintahkan wanita untuk mengulurkan pakaian secara sempurna yang menutupi seluruh tempat perhiasannya, kecuali yang biasa tampak.
c. Melarang wanita melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain yang jaraknya ditempuh sehari semalam tanpa disertai mahramnya (illatnya adalah bahaya). d. Melarang laki-laki dan perempuan berkhalwat (berduaan). e. Melarang wanita keluar rumah tanpa seizin suaminya. f. Mengharuskan jamaah laki-laki terpisah dari jamaah
perempuan.
g. Mengharuskan hubungan kerjasama antara laki-laki dan perempuan dalam bentuk hubungan yang bersifat umum dalam muamalah.
Kedua: sistem yang mengatur hubungan yang muncul dari pertemuan laki-laki dengan perempuan berikut masalah yang muncul dari hubungan tersebut, yaitu hukum yang mengatur tentang perkawinan, perempuan yang haram dinikahi, poligami, perceraian, li‘ân, soal anak, dan nafkah; juga yang mengatur masalah nasab, kewalian bapak, pengasuhan anak, dan silaturahmi.
kehidupan suami-istri bukan seperti hubungan antar rekan perseroan, atau rekan bisnis; bukan seperti kehidupan majikan-bawahan; juga bukan seperti kehidupan penguasa- rakyat. Kehidupan perkawinan itu tidak lain adalah kehidupan persahabatan yang sempurna dari segala sisi, persahabatan yang di dalamnya menenteramkan satu sama lain. Kehidupan kehidupan suami-istri adalah kehidupan
yang diliputi cinta, kasih sayang, kehangatan dan kemesraan; dipenuhi saling menyelami, memahami, menghargai dan menghormati, kerjasama dan tolong menolong. Kehidupan model ini di samping sebagai tuntutan syariah, merupakan tuntutan agar baik laki-laki (suami) dan perempuan (istri) dapat menjalankan semua aktivitasnya, baik privat maupun publik secara baik.
3. Kedudukan Laki-laki dan Perempuan di Hadapan Syariah.
Syariah membebankan taklif atas manusia tanpa memandang jenis kelaminnya. Ketika muncul masalah yang berkaitan dengan kodrat jenis kelaminnya, syariah mendatangkan taklif hukum sesuai dengan kodrat itu. Syariah, misalnya, mendatangkan taklif dan hukum tentang posisi, peran dan tanggung jawab kebapakan hanya kepada laki-laki; sementara yang berkaitan dengan posisi, peran dan tanggung jawab keibuan hanya kepada perempuan.
Berdasar pandangan itu, lalu dirumuskan aktivitas perempuan semata-mata berdasarkan seruan nash tanpa memandang persamaan atau ketidaksamaan antara laki- laki dan perempuan. Dirumuskanlah bahwa aktivitas pokok perempuan adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga
(umm[un] wa rabbah al-bayt) meski ia boleh—bahkan dalam
kadar tertentu wajib—melakukan aktivitas lain yang telah digariskan syariah seperti: berdakwah, menuntut ilmu, dan sebagainya sebagaimana laki-laki; ia juga boleh menjalankan berbagai aktivitas muamalah seperti bekerja, berbisnis, berdagang, berorganisasi dan aktivitas publik lainnya. Perempuan juga harus berpolitik sebagaimana laki-laki.
Tentu saja dalam menjalankan semua aktivits publik itu, seorang perempuan tidak boleh mengabaikan dan meninggalkan aktivitas pokoknya sebagai umm[un] wa rabbah
al-bayt. Selain itu, ia tetap harus terikat dengan berbagai
ketentuan syariah yang berkaitan dengan dirinya seperti: menjaga pandangan, menutup aurat dan berjilbab ketika
keluar rumah, tidak ber-tabarruj, tidak boleh ber-khalwat dan tidak boleh ber-ikhtilât
G. Adab dan Perilaku Islami