BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
3. Pergeseran dan Pemertahanan Bahasa
Lukman (2012: 57) menyimpulkan bahwa secara sederhana dapat dikatakan bahwa pergeseran bahasa itu terjadi manakala masyarakat pemakai bahasa memilih suatu bahasa baru untuk mengganti bahasa sebelumnya. Atau dengan kata lain, pergeseran bahasa itu terjadi karena masyarakat bahasa tertentu beralih ke bahasa lain, biasanya bahasa yang dominan dan berprestise, lalu digunakan dalam ranah-ranah pemakaian bahasa yang lama, sedangkan pemertahanan bahasa adalah masyarakat bahasa tetap menggunakan bahasanya secara kolektif atau secara bersama-sama dalam ranah-ranah pemakaian tradisional.
Pergeseran bahasa berkaitan dengan fenomena sosiolinguistik yang terjadi akibat adanya kontak bahasa. Pergeseran bahasa menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh sekelompok penutur yang bisa terjadi akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur lain. Apabila seseorang atau sekelompok penutur pindah ke tempat lain yang menggunakan bahasa lain, dan berinteraksi dengan masyarakat tutur di wilayah tersebut, maka akan terjadilah pergeseran bahasa. Kelompok pendatang umumnya harus menyesuaikan diri dengan menanggalkan bahasanya sendiri dan menggunakan bahasa penduduk setempat. Dengan kata lain, Para pendatang cenderung menyesuaikan diri dengan bahasa pengguna bahasa sehari-hari. Proses
pergeseran bahasa ini bisa saja diawali oleh sejumlah kecil penutur dan baru dikatakan pergeseran penuh ketika sejumlah kelompok atau guyub ikut serta melakukan penyesuain bahasa.
Jika berkumpul dengan komunitas masyarakat yang berasal dari komunitas atau daerah dan bahasa yang sama, masyarakat umumnya masih mempertahankan penggunaan bahasa pertamanya. Akan tetapi, untuk berkomunikasi dengan selain kelompok atau komunitasnya tentu mereka tidak dapat bertahan untuk tetap menggunakan bahasanya pertamanya tersebut.
Sedikit demi sedikit mereka harus belajar menggunakan bahasa penduduk setempat untuk mempermudah mereka melakukan berbagai aktivitas sosial.
Sumarsono dan Partana (2004: 231) mendefinisikan pergeseran bahasa fenomena di mana suatu komunitas meninggalkan suatu Bahasa sepenuhnya untuk memakai bahasa lain.
Pergeseran bahasa biasanya terjadi di negara, daerah, atau wilayah yang memberi harapan untuk kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik, sehingga mengundang imigran untuk mendatanginya. Misalnya, kota metropolitan Jakarta yang identik dengan kota yang menjanjikan seseorang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik sehingga mendorong warga masyrakat dari berbagai daerah untuk datang berbondong-bondong ke sana.
Salah satu contoh, warga Maluku yang melakukan migrasi ke Jakarta, secara perlahan karena adanya tuntutan situasi, kondisi, dan kebutuhan maka mereka akan berpindah mempergunakan bahasa mereka ke bahasa Indonesia.
Peristiwa pergeseran bahasa setidaknya disebabkan oleh beberapa faktor, beberapa diantaranya adalah : adanya dwibahasawan, migrasi, perkembangan ekonomi, adanya status bahasa yang dianggap lebih tinggi oleh
masyarakat sosial dan imprelisme atau penjajahan. Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahawa pergeseran bahasa terjadi pada masyarakat dwiBahasa atau multibahasa. Kedwibahasaan tersebut kemungkinan dimulai ketika penduduk melakukan migrasi sehingga terjadi kontak budaya yang berujung pada kontak bahasa pula dengan penduduk asli yang memiliki bahasa yang berbeda. Keadaan itupun akhirnya membuat mereka menanggalkan atau tidak memakai kembali bahasa asli mereka. Pada situasi kedwibahasaan sering terlihat orang melakukan penggantian satu bahasa dengan bahasa lainnya dalam berkomunikasi. Penggantian bahasa ini biasanya terjadi karena tuntutan berbagai situasi yang dihadapi oleh masyarakat tutur. Selain itu, peralihan atau penggantian bahasa itu dapat terjadi karena penggantian topik pembicaraan.
Peristiwa pergeseran bahasa yang tejadi pada akhirnya akan berujung pada dua hal, yakni apakah bahasa resapan yang mengalami pergeseran tersebut mengalami pergeseran yang berujung pada kepunahan atau tetap bertahan dengan memungsikan dua bahasa (menjadi dwibahasa).
Pemertahanan bahasa pada umumnya bertujuan untuk mempertahankan budaya yang berfungsi sebagai identitas kelompok atau komunitas, untuk mempermudah mengenali anggota komunitas, dan untuk mengikat rasa persaudaraan sesama komunitas. Keadaan ini akan umumnya terjadi pada komunitas masyarakat yang memiliki bahasa lebih dari satu. Faktor yang mendorong bisa saja berasal dari dalam diri individu yang memiliki rasa cinta akan bahasa ibu sehingga menanamkannya kepada keluarga dan masyarakat dan dari rasa persatuan serta kecintaan pada indentitas kelompok atau komunitas yang dimiliki.
Perubahan yang terus menerus memiliki dampak kurang baik terhadap pelestarian bahasa, dalam kurun waktu panjang akan menyebabkan hilangnya banyak kosa kata dalam bahasa utama akibat tergusur oleh kata-kata baru.
Kondisi yang demikian, apabila tidak terkendali bisa menyebabkan kematian sebuah bahasa , termasuk bahasa Jawa (Chaer, 2004:142). Perubahan bahasa biasa terjadi di wilayah-wilayah yang memiliki peluang kerja tinggi bagi penduduk wilayah lain yang wilayahnya memiliki peluang kerja kecil. Peluang kerja itu yang menyebabkan banyaknya masyarakat wilayah minus menuju ke wilayah plus atau surplus peluang kerja.
Dalam masyarakat multilingual, penutur cenderung berusaha menentukan pilihan bahasa yang dianggap tepat untuk menafsirtuturan yang diterima. Fasold (1984:180) menyatakan bahwa pemilihan bahasa bukan suatu yang mudah, sekadar memilih satu di antara yang dibutuhkan. Pemilihan bahasa harus dilandasi akan kebutuhan dan keterpahaman antara penutur dan mitratutur. Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam pemilihan bahasa, di antaranya: memilih salah satu variasi, berikut dilakukan alih kode, dan ketiga melakukan campur kode. Peristiwa alih kode dan campur kode disebabkan oleh kebutuhan komunikasi yang tidak mungkin dicukupi oleh satu bahasa saja.
Akibatnya, akan terjadi perubahan fitur kebahasaan bahasa utama setelah-terjadi peristiwa campur kode danalih kode. Pemilihan bahasa memiliki dampak merubah fitur bahasa dan sosiokultural. Hal tersebu sejalan dengan pendapat Fishman (dalam online) yang menyatakan aktivitas komunikasi tidak mungkin terlepas dari topik, lokasi, dan antisipan. Ketiga ranah yang dimaksud merupakan konsepsi sosiokultural.
Selain peristiwa alih kode dalam kontak bahasa, akan terjadi pula pergeseran bahasa. Pergeseran bahasa biasa dilakukan oleh kelompok tutur pendatang. Seorang penutur dari wilayah lain dengan bahasa akan melakukan pergeseran bahasa dari bahasa ke bahasa masyarakat yang didatangi.
Pergeseran bahasa biasanya terjadi di wilayah yang mampu memberi harapan hidup, seperti di Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar merupakan wilayah yang banyak didatangi orang-orang lainnya sehingga di wilayah itu mampu memunculkan peristiwa multilingual. Namun, jika bahasa setempat atau bahasa Jawa kuat, dalam arti masyarakat asli (penduduk setempat) secara konsisten tetap berbahasa Jawa dalam berbagai kegiatan hidup tentu para pendatang akan berusaha kuat memahami bahasa Jawa.
Sebagai salah satu usaha mempertahankan bahasa setempat agar tidak terkikis oleh peristiwa pergeseran bahasa atau proses multilingual, maka perlu adanya usaha pemertahanan bahasa. Konsep pemertahanan bahasa lebih berkaitan dengan prestisesuatu bahasa di mata masyarakat pendukungnya.
Sebagaimana dicontohkan oleh Danie (dalam Chaer, 1995:193) bahwa menurunnya pemakaian beberapa bahasa daerah di Minahasa Timur adalah karena pengaruh bahasa Melayu Manado yang mempunyai prestise lebih tinggi dan penggunaan bahasa Indonesia yang jangkauan pemakaiannya bersifat nasional. Namun, bisa saja bahasa pertama tetap dapat bertahan terhadap pengaruh penggunaan bahasa kedua apabila penutur bahasa pertama konsisten menggunakan dan mempertahankan keberadaannya.
Fishman (dalam Sumarsono, 1993: 1) menjelaskan pemertahanan bahasa terkait dengan perubahan dan stabilitas penggunaan bahasa di satu pihak dengan proses psikologis, sosial, dan kultural di pihak lain dalam
masyarakat multibahasa. Salah satu isu yang cukup menarik dalam kajian pergeseran dan pemertahanan bahasa adalah ketidakberdayaan minoritas imigran mempertahankan bahasa asalnya dalam persaingan dengan bahasa mayoritas yang lebih dominan.
Ketidakberdayaan suatu bahasa minoritas untuk bertahan hidup itu mengikuti pola yang sama. Awalnya adalah kontak bahasa minoritas dengan bahasa kedua, sehingga mengenal dua bahasa dan menjadi dwibahasawan, kemudian terjadilah persaingan dalam penggunaannya dan akhirnya bahasa asli bergeser atau punah. Kajian semacam itu pernah pula dilakukan di Australia dan di Inggris, dan juga di Kanada (Sumarsono, 1993:2).
Upaya untuk mempertahankan sebuah bahasa agar tidak mengalami pergeseran yang mengakibatkan penghilangan bahasa tidaklah mudah untuk saat ini. Hal ini diakibatkan oleh kontak bahasa yang semakin mudah akibat mobilitas penduduk yang cukup tinggi. Untuk itu diperlukan sebuah perencanaan matang untuk menanganimasalah tersebut. Perencanaan yang dimaksud adalah kebijakan pemberian pertimbangan baik secara konseptual maupun politik, untuk mengolah permasalahan bahasa pada tingkat nasional agar bisa bertahan atau syukur berkembang.
Kebijaksanaan bahasa itu merupakan pegangan yang bersifat nasional.
Wujud kebijakan berupa perencanaan cara melestarikan, membina dan mengembangkan sebuah bahasa sesuai dengan fungsi bahasa di wilayah termaksud. Usaha seperti itu, dilakukan oleh pemerintah di berbagai negara, seperti Canada, Cina, New Zeland, termasuk Indonesia. (Holmes, 1995:129;
Wardhaugh: 1988:335). Di Indonesia, lembaga yang berwenang merencanakan kebijakan bahasa adalah Pusat bahasa. Lembaga ini bertugas membina dan
mengembangkan bahasa Indonesia, Daerah dan Asing yang dilindungi Negara.
Cris (dalam Alwasilah, 1985 : 113) menurunkan tahapan perencanaan bahasa sebagai berikut: tahap pencarian fakta, penentuan tujuan, penentuan strategi dan hasil, pelaksanaan, dan umpan balik.
Tahapan-tahapan di atas memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan hidup bahasa yang berada di Indonesia terkhusus bahasa-bahasa daerah, mengapa demikian? bahasa daerah di Indonesia memiliki jumlah yang sangat banyak, yang kesemuanya memiliki hak yang sama untuk bertahan bahkan berkembang. Namun pada kenyataannya, harapan tersebut susah untuk diwujudkan, karena keberadaan bahasa daerah terbatasi oleh kebijakan yang berbunyi: “Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah lambang kebulatan semangat kebangsaan Indonesia, alat penyatuan berbagai-bagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang kebahasaan, kebudayaan, dan kesukuannya ke dalam satu masyarakat nasional Indonesia, alat perhubungan antarsuku, antardaerah, dan serta antarbudaya. Di dalam kedudukannya, bahasa Indonesia adalah bahasa resmi pemerintahan, bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan, alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional, ilmu pengetahuan dan teknologi.” (Halim dalam Wijana dan Rohmadi, 2006:30)
Kebijakan ini memang memiliki nilai positif, tetapi dampak negatifnya juga sangat besar. Tidak terbayangkan apabila bahasa-bahasa daerah di Indonesia punah, negeri ini akan menanggung kerugian yang amat besar, sebab di dalam bahasa daerah itulah sebelumnya karakter bangsa ini tergambar.
bahasa daerah adalah bahasa yang menyimpan nilai budaya luhur yang penuh kearifan lokal. Pada bahasa tersebut terkandung nilai-nilai budi pekerti/ karakter,
pandangan hidup atau etika yang cocok untuk penduduknya, teknologi, politik dan hukum, pengobatan dan keharmonisan bergaul antar masyarakat dan dengan alam lingkungannya.
Perpindahan bahasa atau yang kerap juga disebut pergeseran bahasa (language shift) menurut Kridalaksana (2001) adalah perubahan secara tetap dalam pilihan bahasa seseorang untuk keperluan sehari-hari, terutama akibat dari migrasi. Chaer dan Agustina (2004) menambahkan bahwa perpindahan bahasa merupakan hal yang berkaitan dengan masalah penggunaan bahasa oleh seorang atau sekelompok penutur yang bisa terjadi, akibat perpindahan dari suatu masyarakat tutur ke masyarakat tutur lain, pada umumnya, pergeseran bahasa terjadi di negara, daerah, atau wilayah yang menjanjikan kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik, sehingga mengundang para imigran atau transmigran untuk datang ke tempat-tempat tersebut dengan harapan untuk mendapat kehidupan yang tentunya lebih baik dari sebelumnya. Pergeseran bahasa yang mengacu pada pergeseran kelompok-kelompok kecil (sedikit penutur) dan rendah status ke arah kelompok bahasa yang lebih besar dan berstatus sosial tinggi merupakan kasus pergeseran bahasa yang berhubungan dengan faktor sosial.
Sekolah juga tidak kalah berperan sebagai faktor penyebab pergeseran bahasa, karena di sekolah seseorang di ajarkan B2 yang berbeda dari bahasa ibunya, misalnya bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan lainnya. Pergeseran bahasa (language shift) menjadi penyebab utama kehilangan bahasa , fenomena ini merupakan efek dari perpindahan fungsi bahasa tersebut dan berlaku untuk masyarakat bilingual maupun multilingual. Proses awalnya adalah ketika sekelompok masyarakat menguasai Bl, namun karena Bl memiliki peran yang
sangat sedikit sekali di dalam komunikasi, sehingga jarang sekali dituturkan, peran bahasa itu kalah dengan bahasa yang dipelajari kemudian memiliki peran yang lebih kuat dalam berkomunikasi. Sehingga lama kelamaan penutur Bl sedikit demi sedikit melupakan bahasa nya dan beralih ke B2.
Kematian bahasa terjadi ketika suatu bahasa sudah tidak memiliki penutur, memang hal yang sangat disayangkan jika suatu bahasa harus punah, karena bahasa tidak hanya alat komunikasi yang digunakan dalam komunitas masyarakat, lebih dari itu, di dalam suatu bahasa menyimpan khazanah budaya dan kearifan lokal tersendiri; yang kesemuanya ikut punah ketika suatu bahasa mati dan tak lagi memiliki penutur. Jika bahasa tersebut memiliki aksara, sehingga khazanah atau kearifan yang tersimpan dalam bahasa sudah didokumentasi dalam manuskrip, maka kekayaan yang ada dalam bahasa tersebut bisa dipelajari oleh generasi selanjutnya meski bahasa tersebut telah mati. Akan lebih mengenaskan lagi jika suatu bahasa tidak memiliki aksara dan tradisi tulis dan kemudian punah. Sudah dipastikan bahwa bahasa dan segala yang tersimpan di dalamnya akan punah pula. Menurut Holmes (1992), proses matinya sebuah bahasa hampir sama dengan proses pergeseran bahasa. Kloss (dalam Sumarsono, 2008:286), mengatakan bahwa terdapat tipe utama kepunahan bahasa : (a) kepunahan bahasa tanpa adanya pergeseran; (b) kepunahan bahasa karena pergeseran bahasa; (c) kepunahan bahasa nominal melalui metamorfosis (turunya derajat bahasa menjadi dialek dan mulai ditinggalkannya bahasa tersebut oleh para penutur.
Dalam hal ini, contoh fenomena yang terjadi bahwa pada 200 bahasa aborigin yang dituturkan di Australia, ketika Eropa masuk ke daerah tersebut, sekitar 50 - 70 punah dengan seketika akibat pembunuhan masal oleh bangsa
eropa juga akibat dari penyakit yang dibawa oleh bangsa tersebut yang mengakibatkan kematian para penutur bahasa. Fenomena lain adalah, punahnya bahasa Manx bahasa di sebuah pulau kecil Man, bersamaan dengan meninggalnya penutur terakhir dari bahasa itu, bernama Ned Maddrell pada tahun 1974. Dan punahnya bahasa Cornish di Cornwall bersamaan ketika penuturnya Dolly Pentreath meninggal pada tahun 1977. (Holmes, 1992:62).
Kematian sebuah bahasa tidak terjadi begitu saja, sebelum sebuah bahasa berangsur-angsur punah, terdapat proses pergeseran demi pergeseran bahasa yang penyebabnya adalah fungsi bahasa di suatu daerah diambil alih oleh bahasa lain, hal ini terjadi biasanya terhadap bahasa minoritas terhadap bahasa mayoritas, dimana bahasa mayoritas mengambil alih fungsi bahasa minoritas, sehingga hal yang tidak dapat terelakkan adalah terjadilah perpindahan bahasa yang berakhir pada kepunahan bahasa. Berbeda halnya, jika adanya kesadaran penutur, lantas masyarakat penutur tersebut mengantisipasi dengan mengadakan berbagai upaya pemertahanan bahasa sebagaimana yang telah disinggung di atas.
Kepunahan tersebut bukan karena bahasa itu hilang atau lenyap dari lingkungan peradaban, melainkan para penuturnya meninggalkannya dan bergeser ke penggunaan bahasa lain yang dianggap lebih menguntungkan dari segi ekonomi, sosial, politik atau psikologis. Di Indonesia sendiri, katanya, keadaan pergeseran bahasa yang mengarah kepada kepunahan ini semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari terutama di kalangan keluarga yang tinggal di perkotaan. Pergeseran ini tidak hanya dialami bahasa-bahasa daerah yang jumlah penuturnya sudah sangat kurang (bahasa minoritas), tetapi juga pada bahasa yang jumlah penuturnya tergolong besar (Bahasa mayor) seperti bahasa
Jawa, Bali, Mandar , dan Lampung, termasuk bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Selatan seperti lainnya, Makassar, Toraja, dan Massenrempulu.
Bagaimanakah sebuah bahasa dikatakan punah ? Apakah ketika sebuah bahasa yang tidak dipakai lagi di seluruh dunia disebut sebagai bahasa yang telah punah ataukah sebuah bahasa yang tidak dipakai lagi dalam sebuah guyup tutur, tetapi masih dipakai dalam guyup tutur juga disebut dengan bahasa yang punah? Berkaitan dengan hal ini, pendapat yang dikemukakan oleh Dorian (di dalam Sumarsono dan Partana, 2002: 284) mengungkapkan jika kepunahan bahasa hanya dapat dipakai bagi pergeseran total di dalam satu guyup atau komunitas saja dan pergeseran itu terjadi dari satu bahasa ke bahasa yang lain, bukan dari ragam bahasa yang satu ke ragam bahasa yang lain dalam satu bahasa. Artinya, bahasa yang punah tidak tahan terhadap persaingan bahasa yang lain bukan karena persaingan prestise antarragam bahasa dalam satu bahasa. Berdasarkan penjelasan Dorian ini, dapat disimpulkan bahwa kepunahan bermakna terjadinya pergeseran total dari satu bahasa ke bahasa yang lain dalam satu guyup atau kominitas tutur. Akan tetapi, pada akhirnya para ahli bahasa ini menyimpulkan jika kepunahan bahasa ini bisa mencakup pengertian yang luas dan terbatas.
Selanjutnya, Kloss (di dalam Sumarsono dan Partana, 2002:286) menyebutkan bahwa ada tiga tipe utama kepunahan bahasa, yaitu (1) kepunahan bahasa tanpa terjadinya pergeseran bahasa; (2) kepunahan bahasa karena pergeseran bahasa (guyub tutur tidak berada dalam wilayah tutur yang kompak atau bahasa itu menyerah pada pertentangan intrinsik prasarana budaya modern yang berdasarkan teknologi; dan (3) kepunahan bahasa nominal melalui metamorfosis (misalnya suatu bahasa tutur derajatnya menjadi dialek ketika
masyarakat tidak lagi menulis dalam bahasa itu dan mulai memakai bahasa lain.
Salah satu contoh bahasa yang mengalami kepunahan karena pergeseran (terjadi pada abad ke-19) yakni bahasa Gaeltacht di Irlandia. Masyarakat Irlandia lebih memilih untuk meninggalkan bahasanya dan menggantinya dengan bahasa Inggris. Menurut beberapa ahli, faktor-faktor yang menyebabkan kepunahan bahasa Gaeltacht tersebut antara lain (a) Rapuhnya upaya untuk melindungi dan mempertahankan Gaeltacht, (b) Tidak mempunyai guyub tutur yang terpusat di perkotaan, (c) Terjadinya modernisasi, (d) Adanya kehendak aktif dari masyrakat untuk bergeser, (e) Tidak cukupnya konsentrasi masyarakat untuk menghadapi lingkungan yang kuat secara ekonomi dan canggih teknologinya, (f) Tidak adanya pengalihan (tansmisi) bahasa asli dari orang tua kepada anak-anaknya, (g) Tidak adanya optimisme akan masa depan bahasa .
Kasus punahnya bahasa Irlandia bisa saja dialami oleh bahasa Indonesia apabila masyarakat dan pemerintah tidak bersikap tegas dan selektif terhadap berbagai budaya (bahasa) yang masuk ke Indonesia. Menurut Halim (melalui Muslih, 2010: 20) setelah bahasa Indonesia dikukuhkan sebagai bahasa persatuan, situasi kebahasaan ditandai oleh dua tantangan. Tantangan pertama, yakni perkembangan bahasa Indonesia yang dinamis, tetapi tidak menimbulkan pertentangan di antara masyarakat. Pada saat bersamaan bangsa Indonesia kedewasaan berbahasa. Sekarang tumbuh kesadaran emosional bahwa prilaku berbahasa tidak terkait dengan masalah nasionalisme. Buktinya banyak orang yang lebih suka memakai bahasa asing. Tantangan kedua, yakni persoalan tata istilah dan ungkapan ilmiah. Tantangan kedua ini yang menimbulkan prasangka yang tetap dihadapi ilmuan kita yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia miskin, bahkan kita dituduh belum mampu menyediakan sepenuhnya padanan
istilah yang terdapat banyak dalam disiplin ilmu, teknologi dan seni. Menurut Moeliono prasangka itu bertumpu pada apa yang dikenal dan atau diketahui, tidak ada dalam bahasa indonesia. Beberapa kebiasaan yang mendorong pergeseran bahasa Indonesia yang ditemukan di dalam masyarakat harus segera dicegah dan dihilangkan untuk tetap mempertahankan identitas bangsa.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut antara lain :
a. Banyak orang Indonesia lebih suka menggunakan kata-kata, istilah-istilah, ungkapan-ungkapan asing. Padahal kata-kata, istilah-istilah dan ungkapan itu sudah memiliki padanan dalam bahasa Indonesia, bahkan sudah umum dipakai. Misalnya page, background, reality, alternatif, airport, masing- masing untuk halaman, latar belakang, kenyataan, kemungkinan pilihan dan lapangan terbang atau bandara.
b. Banyak orang Indonesia menghargai bahasa asing secara berelebihan sehingga ditemukan kata ada istilah asing yang amat asing, atau hiper asing.
Hal ini karena salah pengertian dalam menerapkan kata-kata asing tersebut, misalnya, rokh, insyaf, fihak, fatsal, syarat, syah, dll.
c. Banyak orang Indonesia belajar dan menguasai bahasa asing dengan baik tetapi menguasai bahasa Indonesia apa adanya. Terkait dengan itu, banyak orang Indonesia yang mempunyai bermacam-macam kamus bahasa asing tetapi tidak memilikisatupun kamus bahasa Indonesia. Keadaan ini mengakibatkan sering terjadinya kesalahan penggunaan istilah seperti, yang mana, yang kurang tepat, pencampuradukan penggunaan kata tidak dan bukan, pemakaian kata ganti saya, kami, kita yang tidak jelas.
Berikut data mengenai bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia yang diperoleh dari Darwis guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Hasanuddin, Makassar (disampaikan pada Workshop Pelestarian Bahasa Daerah lainnya Makassar, Balitbang Agama Makassar, Hotel Pariwisata Parepare, 15 Oktober 2011). “Kepunahan Bahasa Daerah karena Kehadiran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris serta Upaya Penyelamatannya”, 22 Mei 2007, Rachman memetakan kepunahan bahasa daerah di Indonesia sebagai berikut. Dari lebih 50 bahasa daerah di Kalimantan, satu di antaranya terancam punah. Di Sumatera, dari 13 bahasa daerah yang ada, dua di antaranya terancam punah dan satu lainnya sudah punah. Namun, di Jawa tidak ada bahasa daerah yang terancam punah. Adapun di Sulawesi dari 110 bahasa yang ada, 36 bahasa terancam punah dan 1 sudah punah, di Maluku dari 80 bahasa yang ada 22 terancam punah dan 11 sudah punah, di daerah Timor, Flores, Bima dan Sumba dari 50 bahasa yang ada, 8 bahasa terancam punah. Di daerah Papua dan Halmahera dari 271 bahasa, 56 bahasa terancam punah. Dikatakan lebih lanjut bahwa data yang diberikan oleh Rumbrawer dari Universitas Cendrawasih pada tahun 2006 lebih mengejutkan lagi, yaitu pada kasus tanah Papua, 9 Bahasa dinyatakan telah punah, 32 bahasa segera punah, dan 208 bahasa terancam punah (Berita Depkominfo, 22 Mei 2007).
Upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah sekaligus menangani keterancampunahan bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia antara lain (1) Vitalisasi etnolinguistik, (2) Menggiatkan penerbitan majalah berbahasa daerah bagi media cetak dan menyediakan program khusus berbahasa daerah, (3) Memasukkan sebagian kosakata bahasa daerah ke dalam bahasa nasional, (4) Menjadikan bahasa daerah sebagai mata pelajaran wajib di berbagai jenjang pendidikan; dan (5) Membentuk jurusan atau jika