• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergeseran Bahasa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergeseran Bahasa

Ada beberapa faktor utama yang menjadi penyebab pergeseran bahasa . Berikut akan diuraikan mengenai beberapa faktor penyebab pergeseran Bahasa tersebut.

a. Industrialisasi

Industrialisasi merupakan suatu proses perubahan sosial ekonomi yang mengubah sistem pencaharian masyarakat agraris menjadi masyarakat industri.

Industrialisasi dapat menjadi bagian dari proses modernisasi dimana perubahan sosial dan perkembangan ekonomi erat hubungannya dengan inovasi teknologi.

Dalam Industrialisasi ada perubahan filosofi manusia dimana manusia mengubah pandangan lingkungan sosialnya menjadi lebih kepada rasionalitas (tindakan didasarkan atas pertimbangan, efisiensi, dan perhitungan, tidak lagi

mengacu kepada moral, emosi, kebiasaan atau tradisi). Menurut para peniliti ada faktor yang menjadi acuan modernisasi industri dan pengembangan perusahaan.

Mulai dari lingkungan politik dan hukum yang menguntungkan untuk dunia industri dan perdagangan, bisa juga dengan sumber daya alam yang beragam dan melimpah, dan juga sumber daya manusia yang cenderung rendah biaya, memiliki kemampuan dan bisa beradaptasi dengan pekerjaannya.

b. Imigrasi

Adalah perpindahan orang dari suatu negara-bangsa (nation-state) ke negara lain, di mana ia bukan merupakan warga negara. Imigrasi merujuk pada perpindahan untuk menetap permanen yang dilakukan oleh imigran, sedangkan turis dan pendatang untuk jangka waktu pendek tidak dianggap imigran. Faktor ini menduduki peran yang tidak kalah penting dalam perpindahan bahasa , arah migrasi dapat dibagi menjadi dua: pertama, beberapa kelompok kecil bermigrasi ke daerah atau negara yang lain, sehingga menyebabkan Bahasa mereka tidak digunakan di wilayah yang baru.

c. Pendidikan

Pendidikan merupakan proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang ditransfer dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang.

d. Mobilitas Sosial

Mobilitas adalah pergerakan atau perpindahan, sedangkan sosial adalah masyarakat. Jadi mobilitas sosial adalah adalah suatu proses pergerakan naik (sosial climbing) atau turunnya (sosial sinking) status seseorang atau kelompok masyarakat. Kecenderungan sesorang dalam menggunakan bahasa daerah ketika status sosial yang bersangkutan meningkat akan menurun dengan lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi.

e. Jumlah Penutur

Ialah jumlah atau banyaknya masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut sehingga secara langsung ataupun tidak langsung itu merupakan salah satu cara untuk mempertahankan suatu bahasa agar tidak terjadi pergeseran.

f. Ekonomi

Faktor ekonomi menduduki peranan penting sebagai faktor utama pendorong perpindahan bahasa, sebagai contohnya seperti yang dilaporkan Ayatrohaedi (dalam Chaer dan Agustina) mengenai kasus bahasa Sunda di Desa Legok, Indramayu, yang telah punah ditinggal para penuturnya. Lancarnya arus transportasi ke Cirebon sehingga memudahkan mereka mendapatkan perekonomian yang lebih baik dan wilayahnya yang terkepung oleh komunitas penutur bahasa Cirebon menyebabkan mereka beralih menggunakan bahasa Cirebon untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

5. Faktor-Faktor Sosial Pergeseran dan Pemertahanan Bahasa

Berkenaan dengan permasalahan bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat penuturnya, yang merupakan objek kajian sosiolinguistik, (Oetomo 1987) mengemukakan bahwa dalam mengkaji hubungan bahasa dengan masyarakat penuturnya terdapat tiga bidang utama yang lazim digolongkan

dalam sosiolinguistik, yaitu; (1) sosiologi bahasa, yang pada hakikatnya menelaah interaksi dua segi perilaku manusia, yaitu penggunaan bahasa dan pengorganisasian bahasa oleh masyarakat, (2) berkenaan dengan pengkajian bahasa terhadap penggunaannya dalam konteks sosial budaya, dan (3) berkenaan dengan struktur bahasa dan perkembangannya dalam konteks sosial masyarakat bahasa.

Taha (1985: 17) mengemukakan bahwa sosiolinguistik menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai dan pemakaiannya di dalam masyarakat. Ini berarti bahwa sosiolinguistik, pertama-tama memandang bahasa sesuatu system sosial dan system komunikasi, yang merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan. bahasa sebagai system sosial, pemakaiannya tidak semata-mata ditentukan oleh faktor linguistik, tetapi juga faktor-faktor sosial. Faktor-faktor sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa mencakup, antara lain status sosial, kedudukan sosial ekonomi, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jabatan atau pekerjaan, dan keanggotaan seseorang dalam suatu jaringan sosial tertentu.

Bell (dalam Sumarsono 1990) mengemukakan bahwa ada asumsi penting di dalam sosiolinguistik yang menyatakan bahwa bahasa itu tidak pernah monolitik; bahasa tidak pernah tunggal karena bahasa itu selalu mempunyai ragam atau varian. Asumsi ini mengimplisitkan bahwa sosiolinguistik memandang masyarakat yang dikajinya sebagai masyarakat yang seragam, setidak-tidaknya dalam hal penggunaan atau pemilihan ragam bahasa mereka.

Hal senada juga dikemukakan oleh Fasold (1984: 180) dengan konsep societal multilingualism yang menunjukkan bahwa dalam masyarakat terdapat beberapa bahasa.

Cahyono (1995: 388) mengemukakan bahwa dua orang yang dibesarkan dalam lingkungan geografis yang sama, memiliki cara berbicara yang berbeda karena sejumlah factor social. Aspek sosial bahasa itu perlu diperhatikan karena menunjukkan identitas sosial dan keanggotaan kelompok sosial atau masyarakat bahasa yang berbeda. Dalam hubungannya dengan aspek sosial itu, penelitian tentang variasi bahasa biasanya juga mengandung usaha untuk mendeskripsikan latar belakang penutur bahasa. Hasil penelitian itu dapat digunakan untuk mengetahui dialek social. Dialek sosial ialah variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok-kelompok masyarakat menurut lapisan masyarakat, tingkat pendidikan, kedusukan dalam masyarakat, usia, jenis kelamin, dan beberapa acuan yang lain.

Beberapa laporan penelitian terdahulu, seperti Wodjowarsito dan Tenner yang dikutip oleh Isman (983: 163) mengungkapkan bahwa dalam percakapan antara dua orang yang sesuku dalam bahasa daerahnya mempunyai beberapa tingkatan seperti bahasa Jawa, kadang-kadang lebih mudah berpindah ke bahasa Indonesia. Tanpaknya, apabila orang yang berkomunikasi mengusai beberapa bahasa yang sama, perpindahan bahasa dalam percakapan sering terjadi karena topik pembicaraan, situasi perasaan, atau beberapa faktor lain.

Perpindahan kode (bahasa) berjalan otomatis sesuai dengan tuntutan keefisienan, keefektifan, dan keempukan pembicaraan.

Mattulada (1983: 329-332) dalam penelitiannya mengenai Penggunaan Bahasa Indonesia dana Pembangunan Masyarakat Desa yang berlokasi di empat Desa di Sulawesi Selatan, yaitu Desa Bontonompo, Desa Banyorang, Desa Kambuno, dan Desa Cabengnge mengungkapkan bahwa warga Desa yang menggunakan bahasa Indonesia lebih banyak dalam arti intensitas

penggunaannya lebih tinggi daripada penggunaan bahasa daerahnya sendiri dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik itu di rumah maupun di dalam masyarakat. Hal itu terjadi karena tiga hal, yakni: (1) pengalaman mobiltas seseorang, (2) tngkat pendidikan, dan adanya rasa bangga menempatkan bahasa Indonesia sebagai simbol kemajuan. Selanjutnya, juga dikemukakan bahwa tingkat pendidikan formal masa kanak-kanak dapat juga dipandang sebagai faktor penting untuk memungkinkan seseorang menggunakan bahasa Indonesia lebih banyak dengan kemampuan yang lebih tinggi. Semakin tinggi kemampuan mereka menggunakan bahasa nasional, semakin banyak menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa daerah mereka sendiri.

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin tinggi pula intensitas penggunaan bahasa Indonesianya. Hal ini tentunya berkolerasi pula dengan penggunaan bahasa daerahnya. Situasi seperti itu apabila dikaitkan dengan pemertahanan bahasa daerah, maka pemertahanan bahasa daerah menjadi lemah.

B. Kerangka Pikir

Kerangka berfikir merupakan bentuk kerangka yang di analogi oleh peneliti untuk melakukan penelitian berdasarkan permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai, selain itu juga berfungsi sebagai peta konsep dalam penelitian ini.

Kerangka berfikir ini untuk membantu supaya tidak terjadi penyimpangan dalam penelitian.

Gambar 1 Kerangka Pikir Pelitian

Bagan 01. Kerangka berfikir pergeseran penggunaan Bahasa Mandar di Lingkungan Masyarakat Mandar.Kecamatan Mapilli Kabupaten Polewali Mandar

Berdasarkan kerangka berfikir di atas, dapat diuraikan sebagai berikut.

Dalam masyarakat terdapat bahasa sebagai alat komunikasi. Dalam masyarakat Mandar terdapat bahasa Mandar yang di duga telah terjadi pergeseran bahasa Mandar di lingkungan masyarakat Mandar kecamaan Mapilli Kabupaten Polewali Mandar. Dalam upaya untuk menemukan penyebab terjadinya pergeseran tersebut, maka dalam penelitian ini akan berupaya untuk menjawab bagaimana pergeseran bahasa Mandar dan faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pergeseran bahasa Mandar di lingkungan masyarakat Mandar kecamatan Mapilli kabupaten Polewali Mandar.

Masyarakat Mandar

Pergeseran Bahasa

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pergeseran

Bahasa Mandar

Sekolah, Keluarga, Tetangga, Pemerintahan

Ragam Pemakaian Bahasa Mandar

Jenis Kelamin

Usia Pendidikan

Pergeseran Bahasa Mandar

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang dalam penelitian ini adalah deskriktif kualitatif dan kuantitatif. Penelitian deskriktif kualitatif merupakan penelitian yang hanya berdasarkan pada fakta-fakta yang ada untuk mendekripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang diteliti; tidak bermaksud untuk membuat, mencari atau menjelaskan hubungan-hubungan, membuat ramalan, menguji hipotesis, atau menentukan implikasi (Nazir, 1983: 63). Melalui penelitian deskriptif kualitatif ini, peneliti hanya melakukan analisis terhadap perseran bahasa Mandar di lingkungan masyarakat. Jadi peneliti hanya akan memanfaatkan data apa adanya.

Dalam proses penelitian, peneliti menganalisis satu persatu data yang berupa tuturan-tuturan kemudian mendiskripsikan hal-hal yang ditemukan sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong 2007:4), mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian secara deskriptif. Data yang diperoleh dari penelitian ini tidak berupa angka-angka tetapi data yang terkumpul berbentuk kata-kata lisan yang mencakup catatan, laporan, dan foto foto. Alasan menggunakan metode kualitatif adalah karena peneliti ingin melihat kenyataan yang ada pada lapangan.

Selain itu penelitian kuantitif juga digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui bagaimanakah pergeseran bahasa yang terjadi di lingkungan masyarakat mandar kecamatan Mapilli kabupaten Polewali Mandar. Apakah terjadi pergeseran di lingungan sekolah, keluarga, tertangga, atau pemerintahan, yang didasarkan pada jenis kelamin, umur dan tingkat pendidikan yang akan disajikan dalam bentuk tabel.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Dalam penyusunan tesis ini, sesuai dengan judul “Pergeseran Bahasa Mandar di Lingkungan Masyarakat Mandar Kecamatan Mapilli Kabupaten Polewali Mandar”, maka lokasi penelitian ini mengambil dua tempat yang berbeda yang berada Kecamatan Mapilli Kabupaten Polewali Mandar yaitu Kelurahan Mapilli dan Desa Bonra.

Alasan memilih lokasi tersebut karena sebagian besar masyarakat yang berada di Kelurahan Mapilli sebagai satu Kelurahan di mana ibu kota kecamatan berada sebagai pusat pemerintahan, pusat pendidikan dan masyarakat yang majemuk. Sedangkan Desa Bonra sebagai Desa baru hasil pemekaran dari Kelurahan Mapilli.

2. Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan mulai dari seminar usulan penelitian sampai menyelesaikan tesis dalam 3 bulan sejak bulan Januari 2006 sampai dengan bulan Maret 2016 dengan perincian kegiatan sebagai berikut (a) Pengajuan usulan penelitian, (b) Pengumpulan dan pengolahan data, (c) Bimbingan dan koreksi hasil penelitian, dan (d) Ujian tesis.

C. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis data

Sumber data dalam penelitian ini dikaji dari beberapa sumber, antara lain adalah:

a. Data primer

Sumber data primer, penulis dapatkan dari hasil wawancara dengan subjek dan informan dalam penelitian ini. Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat di Kelurahan Mapilli dan Desa Bonra kecamatan Mapilli. Subjek penelitian ini merupakan pusat perhatian dan sasaran penelitian, sedangkan penulis mendapatkan informan secara suka rela menjadi anggota penelitian meskipun hanya bersifat informasi tentang penggunaan bahasa Mandar. Hasil dari data primer bisa berupa teks hasil wawancara yang diperoleh melalui wawancara dengan informan atau subjek penelitian yang dijadikan sampel penelitian.

Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat yang berada di Kelurahan Mapilli dan Desa Bonra yang menggunakan bahasa Mandar dalam kehidupan sehari-hari. Subyek data meliputi keluarga, tetangga, sekolah (SD, SMP dan SMA) dan mahasiswa serta pemerintahan yang didasarkan pada jenis kelamin, umur dan tingkat pendidikan. Jumlah subjek penelitian adalah 100 orang responden dari Kelurahan Mapilli dan 80 orang dari Desa Bonra.

b. Data Sekunder

Data sekunder yaitu data tambahan yang berupa informasi untuk melengkapi data primer. Data sekunder dapat diperoleh dari dokumen dan arsip berupa data monografi Kelurahan Mapilli dan Desa Bonra yang digunakan sebagai pelengkap guna menunjang penelitian ini. Selain itu juga dapat

digunakan skripsi, buku-buku yang relevan tentang penggunaan Bahasa Mandar. Selain itu data sekunder juga dapat diperoleh dari foto-foto tentang kegiatan masyarakat yang merupakan hasil dokumentasi penulis.

2. Sumber data a. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek / subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

b. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini diambil secara blok area dari dua lokasi penelitian Kelurahan Mapilli dan Desa Bonra.

Pengambilan sampel responden dilakukan secara proporsional terhadap empat ranah yaitu ranah sekolah, ranah keluarga, ranah tetangga dan ranah pemerintahan terhadap penggunaan Bahasa Mandar di lingkungan masyarakat Mandar Kecamatan Mapilli berdasarkan jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan.

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik Observasi

Penulis dalam penelitian ini menggunakan observasi secara langsung dengan peneliti mengadakan pengamatan secara langsung pada subjek yang diteliti dalam kurung waktu tertentu. Penulis terjun langsung ke lokasi penelitian untuk melaksanakan pengamatan dan pencataan data pada objek penelitian.

Objek penelitian yang dimaksud adalah masyarakat Kecamatan Mapilli kabupaten Polewali Mandar. Observasi dilakukan untuk mengungkap bagaimana penggunaan Mandar di lingkungan masyarakat Mandar kecamatan Mapilli.

Hal-hal yang peneliti observasi diantaranya sebagai berikut:

a. Kondisi sosial masyarakat Kelurahan Mapilli dan Desa Bonra kecamatan Mapilli kabupaten Polewali Mandar.

b. Penggunaan Bahasa Mandar pada masyarakat Kelurahan Mapilli dan Desa Bonra kecamatan Mapilli.

c. Interaksi sosial masyarakat masyarakat Kelurahan Mapilli dan Desa Bonra kecamatan Mapilli.

Dalam penelitian ini dilakukan dua tahap observasi, yaitu:

a. Observasi Tahap Awal

Tahapan observasi awal ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran atau informasi yang dapat digunakan sebagai landasan observasi selanjutnya. Observasi ini dilakukan dengan cara mengamati berbagai hal yang menjadi fokus penelitian. Observasi dilakukan dengan mengamati penggunaan Bahasa Mandar pada masyarakat, serta gambaran umum masyarakat, seperti tingkat jenis kalamin, usia dan tingkat pendidikan.

Tahapan awal dalam observasi ini dilakukan dengan cara pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti serta melakukan pengamatan serta pendokumentasian. Untuk membantu peneliti dalam memperoleh data digunakan peralatan seperti buku catatan yang digunakan untuk mencatat hasil pengamatan serta kamera yang digunakan untuk mendokumentasikan hal-hal yang berhubungan dengan penelitian.

b. Observasi Tahap Lanjut

Observasi tahap lanjut adalah observasi yang dilakukan dengan melakukan penyempurnaan terhadap data awal yang telah diperoleh. Persiapan

yang dilakukan dalam observasi tahap lanjut sama dengan observasi awal.

Namun dalam tahap ini data yang gali lebih mendalam dari tahap observasi awal.

2. Teknik wawancara

Untuk memperoleh data agar sesuai dengan pokok permasalahan yang diajukan, maka dalam wawancara digunakan pedoman wawancara, yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan penelitian. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar menghindari jawaban yang meluas. Pertanyaan dibuat berdasarkan poin-poin permasalahan dalam penelitian sehingga wawancara dapat terlaksana dengan sistematis.

Wawancara dalam penelitian dilakukan dalam bentuk wawancara terstruktur, hal ini dilakukan untuk memperoleh gambaran identitas dan latar belakang informan. Dalam pelaksanaan pengumpulan data di lapangan, peneliti menggunakan teknik wawancara secara mendalam (indepth interview).

3. Dokumentasi

Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi bertujuan untuk memperoleh informasi bukan dari orang sebagai narasumber, tetapi penulis memperoleh informasi dari macam-macam sumber tertulis atau dari dokumen yang ada pada informan dalam bentuk dokumen. Dokumen tersebut adalah Profil Kelurahan Mapilli dan Desa Bonra Kecamatan Mapilli Kabupaten Polewali Mandar.

Penulis melakukan studi dokumentasi sebagai pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara. Penulis dokumen yang berhubungan dengan gambaran umum tentang lokasi penelitian khususnya data populasi masyarakat di Kelurahan Mapilli dan Desa Bonra berdasarkan jenis

kelamin, usia dan tingkat pendidikan, sehingga data tersebut dapat digunakan untuk mendukung kelengkapan data yang ada pada peneliti.

4. Angket

Angket adalah daftar pertanyaan atau pernyataan yang dikirimkan kepada responden, baik dilakukan secara langsung atau tidak langsung (melalui pos atau perantara). Dalam penelitian ini, angket dilakukan secara langsung dibagikan kepada respoden.

E. Teknik Analisis Data

Dalam menganalisis data dilakukan dengan cara penghitungan persentase mengikuti pola perhitungan Muhajir (1979), yaitu perhitungan yang didasarkan pada jumlah jawaban yang masuk. Pertimbangannya adalah bahwa setiap pertanyaan mungkin tidak akan dijawab oleh responden. Angka persentase akan disajikan dalam dua angka dibelakang koma.

Setelah dianalisis, data dalam penelitian ini disusun dalam bentuk tabel.

Penyusunan dalam bentuk tabel atau tabulasi ini merupakan tahap lanjutan dalam rangkaian proses analisis data (Koentjaraningrat, 1993). Data yang telah masuk mula-mula dicatat, lalu disesuaikan dengan pengelompokan yang telah dilakukan kemudian ditarik dalam angka-angka gabungan yang dipakai sebagai dasar analisis. Dari hasil pengolahan data tersebut akan terlihat kecenderungan- kecenderungan tertentu yang kemudian dimasukkan ke dalam tabel-tabel tabulasi dan grafik.

Berkaitan dengan skala pengukuran dalam menganalisis data dalam penelitian ini digunakan skala pengukuran nominal, ordinal, interval, dan rasio (Nasution, 2007). Dalam hal ini, skala nominal merupakan sebatas label yang diberikan terhadap kategori jenis kelamin, usia, asal suku, penggunaan bahasa

Mandar dalam kehidupan sehari-hari, bahasa yang digunakan berbicara dengan orang tua, saudara, teman-teman, guru-guru, tetangga, anak-anak (yang lebih muda), anak, membeli sesuatu di warung, di pasar dan lingkungan pekerjaan/

sekolah/kampus. Sementara itu, untuk mengukur tingkat penggunaan bahasa Mandar dalam kehidupan sehari-hari terhadap penggunaan bahasa Mandar sebagai bahasa ibu, saat berkunjung ke kantor pemerintahan, penggunaan bahasa Mandar pegawai pemerintahan, guru dalam proses belajar mengajar, ceramah di masjid dan saat berkumpul dengan teman-teman disajikan dalam bentuk persentase. Selanjutnya, skala interval dalam penelitian ini merupakan klasifikasi secara kuantitatif dari objek penelitian, dalam hal ini, peneliti hendak meneliti apakah bahasa Mandar itu mengalami pergeseran atau tidak.

Adapun setiap pertanyaan (indikator) yang terdapat dalam kuesioner yang diberikan kepada responden dijawab dengan menggunakan pilihan jawaban : Responden masih menggunakan bahasa Mandar, bahasa Indonesia, campuran bahasa Indonesia dengan bahasa Mandar, dan bahasa lainnya.

Kemudian, dibuatlah standar penilaian dalam bentuk interval, yaitu:

1) Jika Persentase jawaban responden yang menggunakan bahasa Mandar antara 0%--50% dianggap bahwa bahasa Mandar mengalami pergeseran.

2) Jika Persentase jawaban responden yang menggunakan bahasa Mandar antara 51%--100% bahasa Mandar tidak mengalami pergeseran.

Untuk lebih rincinya, dalam menghitung bergeser atau tidaknya bahasa Mandar di kecamatan Mapilli digunakan dengan cara menghitung nilai tengah atau median, yakni dihitung dari setengah jumlah responden. Nilai tertinggi dihitung dari nilai tengah keatas dan nilai terendah dihitung dari nilai tengah ke nilai terbawah (Sujana, 2001:138). Misalnya, jumlah responden ada 60

(100,00%) maka rumus yang digunakan adalah 60 (100,00%) : 2 = 30 (50,00%), maka jumlah responden 0-30 atau >50,00% bermakna bahasa Mandar mengalami pergesera sedangkan jika jumlah responden 31-60 atau <50,00%

bermakna bahasa Mandar tidak mengalami pergeseran.

Data yang diperoleh dari penelitian diolah sehingga diperoleh keterangan-keterangan yang berguna sehingga selanjutnya dianalisis. Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif, dimana peneliti menggambarkan keadaan/fenomena yang diperoleh kemudian menganalisisnya dengan bentuk-bentuk kata untuk memperoleh kesimpulan.

Tahap analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

1. Pengumpulan data.

Penulis mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan.

2. Reduksi Data

Data yang dikumpulkan peneliti kemudian dipilih yang sesuai dengan penelitian. Data yang sesuai dengan fokus penelitian yaitu pergeseran bahasa Mandar dan faktor penyebab pergeseran bahasa Mandar di lingkungan masayarakat mandar.

3. Penyajian Data

Penyajian data dilakukan setelah melakukan reduksi data yang digunakan sebagai bahan laporan. Penyajian data dilaksanakan setelah reduksi peneliti lakukan. Reduksi data sebelumnya yang telah peneliti kelompokan kedalam dua kategori atau poin, kemudian disajikan dan diolah serta dianalisis dengan teori. Data yang diperoleh terkait dengan pergeseran bahasa

Mandar di lingkungan masyarakat mandar. Data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara yang telah terpilih mengenai pergeseran bahasa Mandar disajikan dalam bentuk deskrptif.

4. Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan merupakan langkah terakhir dari analisis data. Dalam penarikan kesimpulan harus didasarkan pada reduksi data dan sajian data.

Jika dalam pengambilan kesimpulan terdapat kekurangan data dalam reduksi data, maka peneliti menggali kembali pada catatan-catatan di lapangan. Apabila dari catatan tidak ditemukan, maka peneliti kembali melakukan pengumpulan data yang dibutuhkan.

F. Teknik Validitas Data

Pemeriksaan terhadap keabsahan data merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam penelitian kualitatif yaitu mengetahui derajat kepercayaan dari hasil penelitian yang dilakukan. Peneliti melaksanakan pemeriksaan terhadap keabsahan data secara cermat dan menggunakan teknik yang tepat maka akan diperoleh hasil penelitian yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dari berbagai segi.

Validitas data yang diharapkan dalam penelitian ini digunakan teknik triangulasi sebagi teknik pemeriksaan data. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dari luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2007 : 330). Teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pemeriksaan dengan memanfaatkan penggunaan sumber berarti membandingkan dan mengecek derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.

Dokumen terkait