• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERHITUNGAN JUMLAH DAN PENENTUAN UKURAN MIKROBIA

Dalam dokumen LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM (Halaman 78-87)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Mikroorganisme merupakan makhluk hidup yang sangat banyak, baik ditanah, air, maupun udara. Penyebaran mikroorganisme yang tumbuh pada bahan hasil pertanian atau pada hasil olahannya. Umumnya terdiri dari bakteri, jamur/kapang, virus dan disamping itu terdapat juga binatang satu sel. Pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme dalam bahan atau makanan, akan menyebabkan perubahan-perubahan tertentu yaitu, perubahan yang bersifat fisik dan kimiawi, sebagai contoh yaitu, konsistensi bahan menjadi lunak, timbul gas atau aroma tertentu dan zat racun yang membahayakan. Jumlah penyebaran bakteri/mikroorganisme pada bahan atau makanan yang sedang mengalami pembusukan sangat bervariasi jumlahnya dan tidak sama jenis (spesies)nya serta tegantung pada varietas, habitat, susunan kimia, cara penanganan, suhu penyimpanan dan lain-lain. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengamatan dan perhitungan mikroba, sehingga penyebaran mikroba dapat diketahui dan ukuran dari mikroba tersebut juga dapat diketahui.

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui jumlah dan menentukan ukuran mikroba

TINJAUAN PUSTAKA

Haemocytometer ditemukan oleh Louis Charles dan terdiri dari sebuah slide mikroskop kaca tebal dengan lekukan persegi panjang yang menciptakan sebuah kamar. Ruangan atau kamar tersebut diukir dengan laser grid tergores garis tegak lurus. Perangkat tersebut dibuat dengan hati-hati sehingga daerah yang dibatasi oleh garis diketahui dan kedalaman ruang tersebut telah diketahui. Oleh karena itu, alat tersebut berguna untuk menghitung jumlah sel atau partikel dalam suatu volume cairan tertentu, sehingga dapat menghitung konsentrasi dalam cairan secara keseluruhan (Pelczar, 2011).

Haemocytometer sering digunakan untuk menghitung sel-sel darah, organel dalam sel, sel-sel darah dalam cairan tulang punggung ke otak setelah melakukan tusukan lumbal atau jenis sel lain (Waluyo, 2009).

Cara menghitung sel individu didalam volume sangat kecil biasanya dilakukan dengan Counting Chamber. Counting Chamber diatur sedemikian rupa sehingga kotak-kotak dengan luas tertentu dengan lapisan cairan dengan kedalaman yang diketahui dapat dimasukkan diantara gelas objek dengan gelas tutup. Akibatnnya volume cairan yang menutupi setiap kotak diketahui dengan tepat. Perhitungan langsung ini dikenal dengan jumlah sel total (Stainer, 2007).

Pada perhitungan mikroskopis langsung, sampel ditaruh disuatu ruang hitung seperti Haemocytometer dan jumlah sel ditentukan secara langsung dengan bantuan mikroskop. Keuntungan metode ini ialah pelaksaannya adalah cepat dan tidak memerlukan banyak peralatan. Namun kelemahannya ialah tidak dapat

membedakan sel-sel yang hidup dan yang mati. Dengan perkataan lain hasil yang diperoleh ialah jumlah total sel yang didalam populasi (Campbell, 2009).

Perhitungan jumlah koloni atau mikroorganisme dengan cara “Reable Count” atau disebut juga sebagai standar plate count didasarkan asumsi, bahwa setiap sel mikroorganisme hidup dalam suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni setelah diinkubasi dalam media biakan dan lingkungan yang sesuai. Setelah masa inkubasi, jumlah koloni yang tumbuh dihitung dan merupakan perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroorganisme dalam suspensi tersebut (Bibiana, 2010).

PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis 13 Desember 2012 di Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Uviversitas Mataram.

Alat dan Bahan Praktikum

a. Alat-alat praktikum

Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, Haemocytometer, pipet tetes dan gelas penutup.

b. Bahan-bahan praktikum

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah suspensi biakan Trichoderma sp. dan Fusarium sp..

Prosedur Kerja

1. Dibersihkan Haemocytometer dan dikeringkan.

2. Ditempatkan gelas penutup pada Haemocytometer tepat pada petak-petaknya. 3. Diambil suspensi jamur dengan pipet tetes dan didekatkan ujung pipet pada

bagian berlekuk pada Haemocytometer.

4. Diamati pada mikroskop pada pembesaran sedang. 5. Dihitung jumlah sel jamur pada 5 bidang pandang.

HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

Hasil Pengamatan

Gambar 8.1. Trichoderma sp. (40 X 10)

Deskripsi : berbentuk bulat dan berwarna transparan

Gambar 8.2. Fusarium Sp. ( 40 X 10)

Deskripsi : Berbentuk bulan sabit, ujungnya tidak runcing dan berwarna transparan

Tabel 8.1. Hasil Pengamatan Jumlah Trichoderma sp. pada Haemocytometer

Bidang Pandang Jumlah Mikroba

1 14 2 23 3 45 4 56 5 25 Jumlah 163 Total Sel 8,2 X 106

Jumlah sel mikroba = 163 X 5 = 815/0,1 mm2 = 8.150 mm2 = 8.150 X 1000 = 8.150.000 ml = 8,2 X 106 sel/ml

Tabel 8.2. Hasil Pengamatan Jumlah Fusarim sp. pada Haemocytometer Bidang Pandang Jumlah Mikroba

1 5 2 14 3 30 4 15 5 3 Jumlah 67 Total Sel 3,4 X 106

Jumlah sel mikroba = 67 X 5 = 335/0,1 mm2 = 3.350 mm2 = 3.350 X 1000 = 3.350.000 ml = 3,4 X 106 sel/ml

PEMBAHASAN

Mikroba ialah jasad renik yang mempunyai kemampuan sangat baik untuk bertahan hidup. Jasad tersebut dapat hidup hampir disemua tempat dipermukaan bumi. Penentuan jumlah angka mikroorganisme sangat penting dilakukan. Berbagai metode telah dikembangkan untuk menghitung jumlah mikroorganisme. Metode tersebut menghitung jumlah sel, massa sel atau isi sel yang sesuai dengan jumlah sel. Salah satu dari metode tersebut adalah perhitungan langsung (Direct Count) (Bibiana,2010).

Perhitungan langsung (direct count) digunakan untuk jumlah sel atau biomassa mikroorganisme dan sel dihitung langsung dibawah mikroskop atau perhitungan partikel elektronik (electronik particle counter). Metode perhitungan langsung dapat menggunakan Counting Chamber. Perhitungan ini dapat menggunakan Haemocytometer, Peroffhauser Bacterial Counter atau alat-alat yang sejenis. Pada praktikum ini digunakan Haemocytometer untuk menghitung jumlah miroba. Haemocytometer ialah perangkat atau alat yang berfungsi untuk menghitung jumlah sel serta partikel mikroskopis lainnya. Haemocytometer memiliki kelemahan dan kelebihan dalam penggunaannya dalam proses perhitungan bakteri secara langsung. Kelebihannya antara lain ialah cepat dalam menghasilkan data dan tidak perlu menunggu lama, serta datanya atau jumlah selnya langsung didapat

pada saat itu juga setelah menghitung menggunakan rumusnya dan menghemat biaya. Sedangkan kelemahannya ialah tidak dapat membedakan sel yang hidup dan yang mati karena perhitungan secara keseluruhan dan data yang dihasilkan tidak akurat karena setiap pengamat memiliki mata yang berbeda-beda dan terdapat keterbatasan dalam melihat serta menghitung sel yang ada dalam kamar Haemocytometer (Waluyo, 2009). Dalam pengamatan ini digunakan dua bakteri yaitu Fusarium sp. dan Trichoderma sp.. Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa jumlah sel yang terdapat dalam kamar Haemocytometer untuk Fusarium sp. adalah 3,4 X 106 sel/ml dan untuk Trichoderma sp. adalah 8,2 X 106 sel/ml. Terjadinya perbedaan jumlah dalam perhitungan pada kamar Haemocytometer disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pada saat pengambilan mikroba menggunakan mkropipet untuk diletakkan pada Haemocytometer.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Perhitungan langsung digunakan untuk jumlah sel atau biomassa mikroorganisme dan sel dihitung langsung dibawah mikroskop. 2. Haemocytometer adalah perangkat atau alat yang berfungsi untuk

menghitung jumlah sel suatu partikel mikroskopis lainnya. 3. Jumlah sel Fusarium sp. adalah 3,4 x 106 sel/ml.

4. Jumlah sel Trichoderma sp. adalah 8,2 x106 sel/ml.

5. Salah satu faktor terjadinya perbedaan jumlah mikroba pada kamar Haemocytometer adalah pada saat pengambilan mikroba menggunakan mikro pipet.

ACARA VIII

PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN

Dalam dokumen LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM (Halaman 78-87)

Dokumen terkait