IV- 1 4.1. Supply Chain pada UMKM Noerlen
4.4. Perhitungan Pembobotan Snorm De Boer
Berikut ini perhitungan snorm de boer untuk masing-masing KPI : 1. Pelatihan dan Edukasi
Digunakan untuk mengukur apakah rencana perusahaan dalam memberikan pelatihan untuk mengedukasi para pekerja sudah terlaksana. Secara umum,
pelatihan dan edukasi terbagi atas dua yaitu pelatihan eksternal dan pelatihan internal. Berdasarkan interview dengan koordinator UMKM, pelatihan hanya dilakukan secara eksternal. Sehingga nilai dari KPI ini adalah 50.
2. Audit Internal
Digunakan untuk mengukur apakah rencana audit untuk menguji dan mengevaluasi pelaksanaan sistem jaminan halal sudah terlaksana. Berdasarkan interview dengan koordinator UMKM tidak ada pelaksanaan audit internal.
Sehingga nilai untuk KPI ini adalah 0.
3. Kaji Ulang Manajemen
Digunakan untuk mengukur apakah rencana rapat pimpinan dan tim manajemen halal untuk membahas pelaksanaan sistem jaminan halal sudah terlaksana. Berdasarkan interview dengan koordinator UMKM tidak ada kaji ulang manajemen. Sehingga nilai untuk KPI ini adalah 0.
4. Pertemuan dengan Pelanggan
Berdasarkan interview dengan koordinator UMKM, pihak UMKM sendiri tidak pernah merencanakan jadwal bertemu dengan pelanggan untuk mengetahui apa yang diinginkan pelanggan. Sehingga nilai untuk KPI ini adalah 0.
5. Jumlah Bahan Berlabel Halal
Digunakan untuk mengetahui berapa banyak representasi bahan dalam pembuatan sirup yang memiliki logo Halal MUI. Berdasarkan pengamatan langsung bahan yang digunakan dalam pembuatan sirup memiliki logo halal MUI.
Bahan-bahan yang memenuhi kriteria halal yaitu : a. Buah Markisa
b. Gulang Pasir merk ILP
Nomor Sertifikat : 00230096340619
Nama Produsen : PT. IndoLampung Perkasa Expired Date : -
Sehingga nilai dari KPI ini adalah 100.
6. Lead Time Bahan
Nilai lead time dihitung mulai dari perusahaan melakukan pemesanan kepada pemasok hingga bahan tiba. Berdasarkan interview dengan koordinator UMKM diperoleh bahwa lead time bahan adalah 1 hari, karena lokasi supplier dengan UMKM yang cukup jauh, sementara lead time maksimum adalah 2 hari, dan minimum adalah 12 jam. Sehingga normalisasi snorm de boer adalah (kategori lower is better)
Snorm = -
- i = -
- = 0,6666 = 66,66.
7. Ketepatan Pembayaran Ke Supplier
Berdasarkan interview dengan koordinator UMKM diperoleh bahwa setiap transanksi selalu dibayarkan secara tepat waktu, pembayaran dilakukan secara langsung begitu bahan tiba (diterima). Sehingga nilai dari KPI ini =100.
8. Pembayaran Gaji Pekerja
Berdasarkan interview dengan seluruh pekerja di UMKM ini bahwa pembayaran gaji selalu dibayarkan tepat waktu. Sehingga nilai KPI ini = 100.
9. Kebersihan Transportasi
Kebersihan transporasi dinilai berdasarkan 3 kriteria, yaitu:
- Transportasi pengiriman bahan baku oleh supplier tidak digunakan untuk mengangkut produk non-halal atau mengandung najis.
- Transportasi pengiriman produk jadi oleh pihak UMKM tidak digunakan untuk mengangkut produk non-halal atau mengandung najis.
- Prosedur pengangkutan produk jadi/bahan baku kedalam alat transportasi.
Berdasarkan interview dengan koordinator UMKM, transportasi yang digunakan adalah kendaraan pribadi baik mobil atau motor yang hanya mengantarkan produk sirup markisa kepada retailer dimasing-masing tempat.
Kebersihan kendaraan sudah baik, karena saat proses pengangkutan sirup markisa tidak terkontaminasi dengan produk non-halal. Berdasarkan interview dengan pihak supplier, bahan baku diangkut dengan mobil pribadi, tidak terdapat bahan yang mengandung najis dan saat pengantaran bahan baku dipastikan bahan yang diangkut tidak terkontaminasi oleh najis. Sehingga nilai KPI = 100.
10. Kehandalan Pekerja yang Dapat Mendukung Jalannya Proses Produksi
Berdasarkan interview dengan koordinator UMKM dan melihat proses produksi secara langsung, kemampuan dan ketepatan pekerja dikategorikan baik sehingga dapat memperlancar jalannya proses produksi. Dikatakan baik berdasarkan ketepatan waktu dan kualitas yang dihasilkan sesuai dengan standard UMKM. Sehingga nilai KPI ini = 100.
11. Waktu Pembuatan Produk
Waktu pembuatan sirup dimulai dari pemotongan tangkai buah markisa hingga Penyegelan tutup botol dan pemberian label. Rekapitulasi waktu pembuatan produk dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Waktu Pembuatan Produk
No Proses Waktu (Jam)
1. Pemotongan tangkai buah markisa. 1
2. Pencucian buah markisa 1
3. Pengeringan buah markisa 1
4. Pemotongan ujung buah markisa 0.5 5. Pengerukan buah markisa 0,416 6. Penghalusan isi buah markisa 0,472 7. Pemisahan sari buah markisa dengan biji 0,883 8. Penyaringan sari buah markisa 0,5 9. Penambahan gula pasir pada sari buah 0,0833
10. Pelarutan gula pasir 6
11. Penyaringan dan pendinginan sirup 12 12. Pengemasan ke dalam botol 0,158 13. Penyegelan tutup botol dan pemberian
label
0,087
Sumber : Pengolahan Data
Total waktu pembuatan sirup = 24,0993. Waktu siklus maksimum dalam pembuatan sirup di asumsikan = 48, dan waktu siklus minimum terendah = 24, sehinggga normalisasi snorm de boer (kategori lower is better).
Snorm = -
- i = -
- = 0,995 = 99,5.
12. Masa Pakai Peralatan
Waktu pergantian peralatan yang digunakan untuk memproduksi sirup, berdasarkan interview dengan koordinator UMKM masa pakai peralatan rata-rata 3 tahun, diasumsikan untuk nilai terbaik masa pakai peralatan adalah 3
tahun, dan masa pakai terburuk adalah 1 tahun, maka normalisasi snorm de boer (kategori larger is better).
Snorm = - i - i = - - = = 100.
13. Kebersihan Fasilitas Produksi
Kebersihan fasilitas produksi pada UMKM Noerlen dinilai berdasarkan 3 kriteria, yaitu:
- Fasilitas tidak digunakan untuk pembuatan produk non-halal.
- Fasilitas dibersihkan sesudah proses produksi selesai.
- Fasilitas dibersihkan kembali sebelum proses produksi dimulai.
Berdasarkan pengamatan langsung dan interview dengan koordinator UMKM fasilitas yang digunakan dibersihkan secara rutin setelah proses produksi selesai maupun sebelum proses produksi dimulai dan tidak digunakan pembuatan produk non-halal. Sehingga nilai KPI ini adalah 100.
14. Tingkat Pengiriman Produk Jadi Siap Kirim
Berdasarkan interview dengan koordinator UMKM permintaan pelanggan selalu dapat dipenuhi baik dari segi kuantitas pemesanan serta waktu pengiriman yang on time. Sehingga nilai KPI ini adalah 100.
15. Lead Time Pengiriman Produk Jadi
Digunakan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan dari mulai sirup selesai dikemas hingga sirup diantar ke pelanggan. Berdasarkan interview dengan koordinator UMKM waktu yang dibutuhkan tegantung oleh jarak pesanan pelanggan. Lead time yang dibutuhkan adalah 1 hari (24 jam), dan
lead time maksimum = 7 hari (168 jam), lead time minimum adalah 2 jam.
Sehingga normalisasi snorm de boer (kategori lower is better).
Snorm = - i - = - - = = 0,867 = 86,67.
16.Jumlah Keluhan dari Costumer
Berdasarkan interview dengan koordinator UMKM diperoleh bahwa selama 3 bulan ini ada mendapat 1 keluhan dari pelanggan karena pengemasan yang rusak. Dengan asumsi nilai terbanyak dari keluhan pelanggan adalah 5, sementara nilai terbaik = 0, maka normalisasi snorm de boer (kategori lower is better).
Snorm = -
- i = -
- = 0,8 = 80.
17.Waktu untuk Mengatasi Complaint
Digunakan untuk mengetahui kecepatan respon perusahaan dalam mengganti produk yang menjadi keluhan pelanggan. Berdasarkan interview dengan koordinator UMKM diperoleh bahwa waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk mengganti sirup adalah 1 hari, karena pada umumnya UMKM memiliki beberapa stock sirup, sedangkan waktu terlama diasumsikan adalah 2 hari tergantung dari ketersediaan bahan. Idealnya sirup tersebut bisa diganti dihari yang sama, sehingga normalisasi snorm de boer (kategori lower is better).
Snorm = -
- i = -
- = = 50.
Rekapitulasi perhitungan snorm de boer dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Rekapitulasi Skor Normalisasi KPI (Key Performance Indicators)
Reliability Plan Larger is better
50
Audit Internal Larger is
better
Reliability Source Larger is better
100
Lead Time Bahan Larger is
better
Reliability Make Larger is better
Reliability Deliver Larger is better
Reliability Return Lower is better
Sumber : Pengolahan Data