• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian

3. Perhitungan ROP Obat Methylprednisolon inj 125 mg/2 ml

Waktu dilakukan pemesanan obat Methylprednisolon inj 125 mg/ 2 ml di RSU Haji Medan dilakukan setiap bulan, tidak ada jadwal pasti kapan akan dilakukan pemesanan. Pemesanan akan dilakukan berdasarkan kebutuhan saja, yaitu dilihat dari jumlah stok yang masih tersedia di gudang farmasi. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan:

“Kita melakukan pemesanan Methylprednisolon inj 125 mg/ 2 ml tergantung kebutuhan, bisa awal bulan, pertengahan bulan ataupun akhir bulan. Kita mesan berdasarkan pemakaian obat sebelumnya”.(I1)

“Jadwalnya ga pasti tergantung kebutuhan aja, kalau obat

Methylprednisolon inj 125 mg/ 2 ml udah kosong kita melakukan pemesanan dan yang mau habis juga kita order, tapi kalau obat yang cito hari itu juga akan kita pesan”(I3)

“Ga ada jadwal, yang penting sebulan sekali aja. Pokonya kalau diliat stock udah kosong atau hampir kosong baru kita order lagi” (I5)

Untuk menentukan waktu pemesanan yang ideal untuk setiap obat Methylprednisolon inj 125 mg/ 2 ml dapat digunakan perhitungan Reorder

Point (ROP). Cara menghitung Reorder Point (ROP) menurut Heizer dan

ROP = (d x L) +SS

Keterangan:

ROP = Reorder Point

d = permintaan harian

L = lead time (waktu tunggu)

SS = persediaan pengaman (safety stock)/buffer stock

Sedangkan untuk menentukan safety stock, perlu mempertimbangkan target pencapaian kinerja (service level). Menurut Assauri (2004), jika buffer stock/safety stock dengan service level dan standar lead time diketahui dan bersifat konstan, maka perhitungannya adalah sebagai berikut:

SS = Z x d x L

Keterangan :

SS = Safety Stock/Buffer stock

Z = Service level

D = Rata-rata pemakaian

L = Lead Time

Menurut informan lead time/waktu tunggu obat paling lama adalah 2 hari. Berikut merupakan kutipan hasil wawancara dengan informan:

“Dua hari paling lama udah nyampe”(I1)

“Kita mesan hari ini, besok udah diantar sama abangnya. Paling lama 2 hari sudah nyampe”(I3)

“2 hari udah kita terima barangnya” (I5)

Berikut ini perhitungan Reorder Point (ROP) untuk obat Methylprednisolon inj 125 mg/2 ml:

Jumlah pemakaian tahun 2014 (D) = 8.076 Vial

Lead time (l) = 2 hari

Service level = 95%

Jumlah hari dalam setahun = 365 Maka :

Jumlah pemakaian rata-rata (d) = 8.076 vial/365 hari = 22 vial

Z (95%) = 1,65

Safety Stock (SS) = z x d x l

= 1,65 x 22 x 2

= 72,6 vial atau 72 vial

Jadi safety stock/stokpengaman untuk obat Methylprednisolon inj 125 mg/2 ml adalah 72 vial.

ROP = (d x l) + SS

= (22 x 2) + 72

= 116 vial

Jadi, Reorder Point (ROP) untuk obat Methylprednisolon inj 125 mg/2 ml adalah 116 vial.

Berdasarkan perhitungan tersebut, artinya pada leadtime/waktu tunggu selama 2 hari dengan pemakaian rata-rata perhari adalah 22, obat Methylprednisolon inj 125 mg/2 ml dapat dilakukan pemesanan kembali ketika stok obat sudah mencapai 116 vial.

Kendala yang dirasakan oleh gudang farmasi dalam menentukan kapan waktu pemesanan kembali dilakukan adalah tidak adanya perhitungan, belum adanya sistem informasi yang memadai. Berikut merupakan hasil wawancara dengan informan:

“Semua masih manual, jadi harus sering ngecek kartu stok. Terkadang

lupa nge cek, eh… ternyata sudah kosong. Yaudah langsung di pesan karena ga ada buffer stocknya, jadi harus mesan karena stoknya udah kosong”(I1)

“Terkadang lupa ngecek kartu stok ternyata uda habis, jadi harus mesan”(I5)

C. Efektivitas Pengendalian Persediaan Obat Methylprednisolon inj 125

mg/ 2 ml Pasca Penerapan Metode ABC, EOQ dan ROP di Gudang Farmasi RSU Haji Medan

Setelah dilakukan penerepan metode ABC, Economic Order Quantity (EOQ) dan Reorder Point (ROP) di gudang farmasi Rumah Sakit Umum Haji Medan pada bulan Juni 2015 didapatkan hasil bahwasanya dengan menggunakan metode tersebut dapat mengatasi permasalahan stock out obat sehingga tidak terjadi pembelian secara cito terhadap obat Methylprednisolon inj 125 mg/ 2 ml. Hal ini berdasarkan hasil wawancara terhadap informan:

“Kita sudah menerapkan hasil perhitungan dengan metode ABC, EOQ dan ROP tersebut, ternyatata hasilnya jauh lebih baik. Jadi persediaan obat kita ga kosong lagi. Penerapannya baru kita coba untuk obat

Methylprednisolon inj 125 mg/2 ml. Untuk bulan ini, kita ga ada cito untuk obat tersebut” (I1)

“Bulan kemaren kita udah coba pake perhitungan ABC, EOQ dan ROP

ternyata jauh lebih baik kalau dibandingkan dengan metode kita selama ini yang hanya berdasarkan pengalaman. Untuk bulan kemaren persediaan kita ada, kita ga ada cito untuk obat Methylprednisolon inj 125 mg/ 2 ml. Bisa jadi masukan untuk kita terapkan untuk semua jenis obat” (I3)

“Perhitungan ABC, EOQ dan ROP udah kita coba untuk perencanaan

bulan kemaren, tapi Cuma untuk obat Methylprednisolon inj 125 mg/ 2 ml, hasilnya lebih baik kalau dibandingkan dengan perkiraan apoteker. Untuk bulan kemaren kita tidak cito obat Methylprednisolon inj 125 mg/ 2ml” (I5)

Dengan penerapan metode ABC, Economic Order Quantity (EOQ) dan

Reorder Point (ROP) efektif dalam mengatasi permasalahan stock out obat

Methylprednisolon inj 125 mg/ 2 ml pada bulan Juni 2015 di gudang farmasi RSU Haji Medan. Hal ini sesuai pernyataan informan:

“Setelah kita coba metode ABC, EOQ dan ROP nya ternyata lebih efektif dibanding dengan metode yang kita pakai sebelumnya, kita ga

ada cito untuk obat Methylprednisolon inj 125 mg/2 ml bulan kemaren”

(I1)

“Lebih efektif make metode ABC dibanding berdasarkan perkiraan

kita, jadi kita ga rugi keuangannya karena bayar mahal untuk beli cito” (I3)

“Metode ABC efektif untuk pengendalian persediaan jadi ada perhitungan yang riil bukan hanya perkiraan saja, jadi dapat mengatasi stock out obat jadi kita ga cito lagi”(I5)

BAB VI

PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian

Penelitian dilakukan melalui efektivitas pengendalian persediaan obat Methylprednisolon inj 125 mg/2 ml menggunakan data terkait persediaan obat generik selama periode tahun 2014 di Rumah Sakit Umum Haji Medan. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah: penerapan metode ABC, EOQ dan ROP belum terimplementasikan secara keseluruhan dikarenakan keterbatasan waktu dan faktor SDM tidak dibahas secara mendalam serta komponen biaya penyimpanan (biaya gedung, biaya penanganan bahan, biaya pekerja dan biaya investasi) tidak dihitung secara rinci karena data tidak tersedia sehingga perhitungan biaya penyimpanan menggunakan teori Heizer dan Render (2010), yaitu 26% dari harga barang.

B. Pengendalian Persediaan Obat Methylprednisolon inj 125 mg/2 ml

Sebelum Penerapan Metode ABC, EOQ dan ROP di Gudang Farmasi Rumah Sakit Umum Haji Medan

RSU Haji Medan didukung oleh instalasi farmasi khususnya gudang farmasi yang bertanggung jawab mengelola dan menyelenggarakan kegiatan yang mendukung ketersediaan obat dan alat kesehatan di RSU Haji Medan. Agar ketersediaan obat dapat berjalan dengan baik, yaitu dengan jumlah yang tepat, disediakan pada waktu yang dibutuhkan dan dengan biaya yang

terendah-rendahnya maka unit gudang farmasi RSU Haji Medan berupaya melakukan pengendalian persediaan.

Menurut Aditama (2000), pengendalian merupakan fungsi inti dalam manajemen logistik yang kegiatannya meliputi pengawasan dan pengamanan keseluruhan pengelolaan logistik. Dalam fungsi ini terdapat kegiatan pengendalian inventarisasi (inventory control) dan expediting yang merupakan unsur-unsur utamanya. Pengendalian persediaan (inventory

control) merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengawasi dan mengatur

tingkat persediaan yang optimum agar dapat memenuhi kebutuhan bahan dalam jumlah, mutu, dan waktu yang tepat serta dengan jumlah biaya yang rendah. Subagya (1994) menjelaskan bahwa fungsi pengendalian mengandung kegiatan:

1. Inventarisasi, menyangkut kegiatan-kegiatan dalam perolehan data logistik.

2. Pengawasan, menyangkut kegiatan-kegiatan untuk menetapkan ada tidaknya deviasi-deviasi penyelenggaraan dari rencana-rencana logistik.

3. Evaluasi, menyangkut kegiatan-kegiatan memonitor, menilai dan membentuk data-data logistik yang diperlukan hingga merupakan informasi bagi fungsi logistik lainnya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan di Gudang Farmasi RSU Haji Medan, diketahui bahwa dalam melakukan pengendalian persediaan obat, dilakukan berbagai bentuk upaya sebagai berikut:

1. Stock Opname

Menurut Aditama (2000), inventory control bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara persediaan dan permintaan. Sehingga, hasil stock

opname harus seimbang dengan permintaan yang didasarkan atas satu

kesatuan waktu tertentu, misalnya satu bulan, dua bulan atau kurang dari satu tahun. Stock opname di gudang farmasi RSU Haji Medan dilaksanakan setiap 6 bulan sekali untuk mengecek dan mencocokan kondisi fisik barang dengan kartu stok, yang bertujuan untuk menilai dan mengetahui jumlah aset/kekayaan rumah sakit saat akhir tahun. Hal yang sama juga dilakukan pada obat Methylprednisolon inj 125 mg/ 2 ml. Pada saat stock opname, dilakukan pengecekan seluruh persediaan yang ada di gudang dengan memeriksa fisik barang, menyeleksi atau mencatat expired date obat yang akan segera kadaluarsa, dan mencocokkan jumlah persediaan antara fisik dengan kartu stok, Obat yang mendekati kadaluarsa akan diinformasikan kepada dokter agar digunakan terlebih dahulu atau dikembalikan kepada distributor. Hal ini sudah sesuai menurut Dirjend Binakefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI (2010), yaitu stock opname diperlukan untuk kebutuhan audit dan perencanaan yang wajib dilakukan.

2. Kartu Stock

Pencatatan merupakan salah satu bentuk pengendalian yang dapat dilakukan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Subagya (1994) dimana salah satu kegiatan dalam fungsi pengendalian adalah inventarisasi yang menyangkut kegiatan-kegiatan dalam perolehan data logistik.

Sistem pencatatan persediaan yang dilakukan oleh gudang farmasi RSU Haji Medan adalah melalui kartu stok. Barang yang diterima dari rekanan dilakukan pemeriksaan atas kesesuaiannya dengan permintaan dan dibuatkan Berita Acara Penerimaan Barang (BAPB) kemudian barang disimpan ke dalam rak-rak penyimpanan dan dilakukan pencatatan ke dalam kartu stok manual. pengecekan harus dilakukan secara rutin setiap hari untuk menghitung dan mencocokkan jumlah persediaan antara kartu stok manual maupun sistem dengan fisik obat, agar tidak terjadi selisih barang.

Penggunaan kartu stok tersebut sesuai dengan teori Rangkuti (1996) yang menyebutkan bahwa untuk mengendalikan pengeluaran barang dari gudang diperlukan sistem pengendalian dengan menggunakan kartu-kartu dan surat pengeluaran barang. Kartu yang dimaksud ialah Kartu Bahan (Material Ledger Card) atau Lembaran Stok (Stock Ledger Sheets). Kartu ini juga biasa disebut dengan Kartu Persediaan yang merupakan kartu tambahan untuk persediaan yang berisi informasi mengenai berapa jumlah barang, kapan diterimanya suatu barang, kapan dan berapa jumlah yang dikeluarkan, serta berapa sisa yang tersedia. Pengisian kartu tersebut dilakukan berdasarkan faktur yang telah disetujui dan dokumen-dokumen pendukung, seperti surat pesanan, laporan penerimaan barang, dan surat permintaan barang. Selain itu, diperlukan juga pemeriksaan fisik di gudang secara periodik untuk mencocokkan saldo barang yang tersedia di gudang dengan saldo pencatatan.

3. Buku Defekta

Menurut Seto (2004), pencatatan dalam persediaan adalah untuk menjamin obat-obat yang ada dalam persediaan dipergunakan secara efisien. Pencatatan tersebut meliputi penerimaan, persediaan di gudang dan penerimaan barang (dagangan), barang pembantu, inventaris dan lain-lain. Begitu juga di Gudang Farmasi RSU Haji Medan, terdapat buku defekta yang berfungsi pencatatan mengenai permintaan dan pengiriman obat dari gudang farmasi ke apotek. Obat yang diminta oleh apotek dicatat dalam buku tersebut, selanjutnya staf gudang farmasi memeriksa stok yang ada apakah cukup untuk memenuhi permintaan, setelah itu jumlah obat yang dikirim dan sisa stok yang ada di gudang farmasi dicatat dalam buku tersebut. Hal ini sesuai dengan Dirjend Binakefarmasian dan Alat Kesehatan RI (2010) yang menjelaskan bahwa pencatatan merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk memonitor transaksi perbekalan farmasi yang keluar dan masuk di lingkungan IFRS.

4. Laporan

Kepala Unit Farmasi setiap bulan melaporkan pembelian obat dan jatuh tempo pembayaran kepada Kepala Bidang Penunjang Medis, yang selanjutnya akan diteruskan kepada Kepala Bagian Keuangan. Selain itu Kepala Unit Farmasi melaporkan jenis persediaan perbekalan farmasi dan pemakaian perbekalan farmasi.

C. Pengendalian Persediaan Obat Methylprednisolon inj 125 mg/ 2 ml dengan Penerapan Metode ABC, EOQ dan ROP di Gudang Farmasi Rumah Sakit Umum Haji Medan

1. Sistem Pengelompokan Obat Generik dengan Metode ABC

a. Input (masukan) dari SDM dan Metode

Input (masukan) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk dapat melaksanakan suatu pekerjaan (Azwar, 1996). Input (masukan) dalam penelitian ini terdiri dari sumber daya manusia (man) dan metode (method).

1) Sumber Daya Manusia

Sumber Daya Manusia (SDM) salah satu input yang sangat penting dalam organisasi. Sukses tidaknya suatu organisasi sangat ditentukan oleh sumber daya manusia yang memberikan bakat, kerja, kreatifitas dan semangatnya pada organisasi.

a) Kecukupan dan Kesesuaian tentang pengetahuan dan pengalaman

Penilaian terhadap kecukupan dan kesesuaian meliputi kecukupan dalam jumlah, yang pengetahuan dan keterampilan serta kesesuiaan antara posisi dan tugas yang didapatkan dengan pendidikan dan pengalaman.

Jumlah SDM di unit farmasi ini saat ini 31 orang, yang terdiri dari 4 orang apoteker, 9 orang

asisten apoteker. Dengan jumlah tenaga yang sudah cukup banyak dan pembagian tugas dan shif yang sesuai dengan jam kerja dirasakan kebutuhan tenaga di unit farmasi sudah cukup.

Petugas dibagian pengelolaan obat memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Pekerjaan yang mereka geluti sesuai dengan latar belakang dan pendidikan mereka dimana hampir semua berasal dari pendidikan farmasi. Latar belakang beberapa orang di bagian penunjang yang tidak sesuai tetapi tidak menghambat jalannya kegiatan kefarmasian, karena mereka diawasi oleh karyawan lain yang sesuai dan sudah senior.

Cukup tidaknya jumlah karyawan ini didasarkan pada analisa jabatan dan struktur organisasi yang ada. Meskipun dalam analisis jabatan tersebut hanya ditetapkan syarat kualitas bukan kuantitas namun dengan analisis jabatan tersebut kita dapat menetapkan jumlah karyawan secara tepat dari segi kuantitas (Handoko, 1996).

Sesuai dengan analisis jabatan dan struktur organisasi yang ada di unit farmasi RSU Haji Medan maka satu orang sebagai kepala Unit Farmasi, 2 orang wakil , 4 orang koordinator,

supervisor dan selebihnya pelaksana. Khusus bagian gudang / logistik obat terdapat 4 orang yang bertanggung jawab atas pemesanan dan persediaan obat. Dengan analisis jabatan dan uraian tugas maka jumlah yang ada sekarang udah cukup.

b) Kesesuaian uraian tugas di bagian SDM

Petugas pengelolaan obat sudah melaksnakan tugas sesuai dengan uraian tugas masing-masing. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang uraian tugas dan pelaksanaan tugas kerja maka setiap karyawan sudah mengerti dan memahami uraian tugas mereka masing-masing serta bertanggung jawab atas pekerjaan mereka. 2) Metode

Dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) Unit Farmasi RSU Haji Medan, penentuan kebutuhan didasarkan kepada data kebutuhan, data prediksi penyakit, jumlah persediaan barang di gudang, usulan masing-masing unit, perhitungan pareto (fast moving, moderate dan slow moving) dan obat essensial.

Namun dalam menentukan fast moving, moderate dan

slow moving belum pernah dilakukan perhitungan

berdasarkan data riil obat baik dari jumlah pemakaian maupun nilai investasi. Selama ini pengelompokan

persediaan hanya berdasarkan pengalaman saja. Obat yang sering diminta oleh apotek disebut fast moving dan obat yang jarang diminta disebut slow moving.

Metode pengendalian persediaan yang dilakukan RSU Haji Medan belum sesuai dengan John dan Harding (2001), pengendalian persediaan dikatakan efektif harus dapat menjawab tiga pertanyaan dasar, yaitu obat apa yang akan menjadi prioritas untuk dikendalikan, berapa banyak yang harus dipesan dan kapan seharusnya dilakukan pemesanan kembali.

b. Proses Pengelompokan Obat Generik Melalui Metode Analisis

ABC

Menurut Sabarguna (2005), ciri logistik/persediaan rumah sakit yaitu: spesifik (obat alkes, film, rontgen, dan lain-lain); harga yang variatif; dan jumlah item yang sangat banyak. Begitu juga dengan perbekalan farmasi di RSU Haji Medan memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain, baik dari jenis obat-obatan, alat kesehatan dan reagen. Setiap perbekalan farmasi tersebut berbeda dari segi jumlah kebutuhan per item maupun harga per item. RSU Haji Medan fokus pada pelayanan kepada masyarakat menengah ke bawah dengan program khusus Jamkesmas dan Jampersal, sehingga obat-obat yang sering digunakan adalah obat generik yang penggunaannya disarankan oleh pemerintah.

Sebagaimana diatur dalam Permenkes RI Nomor HK.02/02/Menkes/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah, obat generik merupakan obat dengan nama resmi International Nonpropoetary Names (INN) yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Selain jauh lebih murah, kualitas dan khasiatnya sama seperti obat bernama dagang (bermerek).

Berdasarkan daftar obat generik yang terdapat E-Catalogue Obat Pemerintah Indonesia Provinsi Sumatera Utara, obat generik yang digunakan di RSU Haji Medan adalah sebanyak 166 jenis obat dari 777 jenis obat yang terdaftar dalam e-katalog tersebut. Setiap jenis obat tersebut memiliki karakteristik yang berbeda baik dari jumlah pemakaian maupun harga, yang keduanya menentukan nilai investasi obat.

Menurut Ahyari (1987), dalam kenyataannnnya akan terdapat bahan baku yang dipergunakan dalam jumlah unit yang besar namun nilai rupiah yang kecil, sebaliknya akan terdapat sejumlah bahan baku dalam nilai rupiah yang tinggi walaupun jumlah unit fisiknya tidak berapa besar. Berdasarkan hasil perhitungan mengenai jumlah pemakaian dan nilai investasi berdasarkan kemasan obat generik di gudang farmasi tahun 2014, terlihat bahwa obat generik dengan kemasan tablet adalah yang paling banyak digunakan baik dari jenis obat maupun jumlah pemakaian,

yaitu sebanyak 73 jenis obat dengan jumlah pemakaian sebanyak 665.297 tablet. Namun bukan berarti obat dengan satuan/kemasan tersebut memiliki nilai investasi yang paling tinggi. Nilai investasi tertinggi adalah obat dengan satuan/kemasan vial. Obat tersebut bernilai Rp. 357.535.538,00 walaupun hanya 16 jenis obat dengan jumlah pemakaian sebanyak 23.621 vial.

Sehingga diperlukan perlakuan yang berbeda terhadap setiap jenis obat terutama pada obat dengan nilai investasi tinggi. Hal ini sesuai menurut Heizer dan Reider (2010), apabila bahan diperlakukan sama rata, maka tindakan tersebut terkadang akan merugikan perusahaan karena terdapat perbedaan nilai mata uang dari bahan yang dipergunakan. Oleh sebab itu diperlukan pengelompokkan obat berdasarkan nilai investasinya agar dapat menentukkan prioritas persediaan. Untuk menentukkan prioritas persediaan cara yang paling umum digunakan adalah dengan analisis ABC.

Penentuan persediaan obat yang dilakukan oleh unit gudang farmasi RSU Haji Medan berpedoman pada formularium rumah sakit sebagai dasar penyusunan kebutuhan obat. Namun permintaan obat di luar formularium masih terjadi. Hal ini disebabkan adanya kasus penyakit baru yang diderita pasien, sehingga obatnya belum terdapat pada daftar formularium rumah sakit. Menurut Seto (2004), penentuan kebutuhan obat di rumah sakit harus berpedoman kepada daftar obat essensial, formularium

rumah sakit, standar terapi dan jenis penyakit di rumah sakit. Hal ini menunjukkan bahwa RSU Haji Medan dalam melakukan penentuan kebutuhan dilakukan sesuai dengan teori menurut Seto (2004), yaitu dengan menggunakan formularium rumah sakit, namun belum sepenuhnya dapat terlaksanan dengan baik, karena masih adanya kasus permintaan obat di luar formularium rumah sakit.

Berdasarkan hasil wawancara dengan 3 informan yang telah dilakukan, dalam penentuan kebutuhan di RSU Haji Medan dilakukan berdasarkan banyaknya jumlah pemakaian pada periode sebelumnya. Kelompok obat yang tergolong fast moving akan disediakan dengan jumlah yang lebih banyak, begitupun sebaliknya, obat yang tergolong slow moving akan disediakan lebih sedikit. Namun dalam pelaksanaannya untuk menentukan obat yang fast moving atau slow moving dan obat dengan nilai investasi tinggi atau nilai investasi rendah tidak ditentukan menggunakan analisis ABC.

Berikut adalah pengelompokan obat generik menggunakan analisis ABC pemakaian dan investasi:

1) Analisis ABC Pemakaian

Pada umumnya persediaan terdiri dari berbagai jenis barang yang sangat banyak jumlahnya. Masing-masing jenis barang membutuhkan analisis tersendiri untuk mengetahui besarnya order size dan order point. Namun, berbagai jenis

barang yang ada dalam persediaan tersebut tidak seluruhnya memiliki tingkat prioritas yang sama. Sehingga, untuk mengetahui jenis-jenis barang yang perlu mendapat prioritas, dapat digunakan analisis ABC, karena analisis ini dapat mengklasifikasi seluruh jenis barang berdasarkan tingkat kepentingannya (Rangkuti, 1996).

Berdasarkan hasil telaah dokumen berupa data pemakaian obat generik selama tahun 2014, diperoleh hasil analisis ABC pemakaian terhadap 166 item obat generik yang tersedia di gudang yaitu terdapat 22 item atau 13,25% dari total item obat generik termasuk ke dalam kelompok A dengan pemakaian tinggi yaitu sebesar 745.999 atau 69,41% dari total pemakaian obat generik keseluruhan. Kelompok B terdiri dari 29 item atau 17,47% dari total item obat generik dengan jumlah pemakaian sedang yaitu sebesar 220.873 atau 20,55% dari total pemakaian obat generik keseluruhan. Sedangkan, kelompok C terdiri dari 115 item atau 69,28% dari total item obat generik dengan jumlah pemakaian rendah, yaitu sebesar 107.964 atau 10,04% dari total pemakaian obat generik keseluruhan. Hasil analisis ABC pemakaian dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 6.1. Pengelompokan Obat Generik Berdasarkan Analisis ABC Pemakaian Tahun 2014

Hasil analisis ABC pemakaian yang disajikan pada gambar diatas, diketahui bahwa obat generik yang termasuk kelompok A (fast moving) hanya 13,25% dari seluruh jenis obat generik yang diminta oleh apotek, namun obat ini paling banyak diminta oleh apotek untuk memenuhi kebutuhan obat pasien yaitu sebesar 69,41% dari total pemakaian. Sebagaimana menurut Seto (2004) Kelompok A merupakan obat yang cepat laku. Meskipun hanya ada sedikit kelompok A dalam persediaan apotek, tetapi karena kelompok tersebut sangat tinggi permintaannya, merupakan obat yang berputar dengan cepat.

Merurut Seto (2004), kelompok B mempunyai penjualan rata-rata dan perputaran inventaris. Di Gudang Farmasi RSU Haji Medan, obat yang termasuk kelompok B (moderate) merupakan jenis obat yang sedang/agak lambat perputarannya, yaitu 17,47%

0 10 20 30 40 50 60 70 %Jumlah item (166 item) % Jumlah Pemakaian (1.074.836) 13.25 69.41 17.47 20.55 69.28 10.04 A B C

dari seluruh jenis obat generik yang diminta apotek dan

Dokumen terkait