B. Ekstraksi Metode Maserasi
3. Perhitungan Untuk Menentukan Total Flavonoid
Kadar flavonoid, dihitung berdasarkan kurva kalibrasi hasil pembacaan dari alat spektrofotometer UV-Vis, dan persamaan regresi linear dengan menggunakan hukum Lambert-Beer seperti pada persamaan dibawah :
59 Keterangan : y = Absorbansi
x = Konsentrasi (C) mg.L b = Slope (kemiringan) a = Intersep
Nilai a dan b diperoleh dari persamaan (Daijan, 1986 dalam Pakaya, 2015) :
Keakuratan hasil perhitungan, sebagai penetapan kadar suatu sampel, ditentukan melalui nilai koefisien korelasi (r2) yang mendekati 1 sehingga dapat dikatakan bahwa absorbansi merupakan fungsi yang besarnya berbanding lurus dengan konsentrasi dan mengikuti persamaan regresi linear. Persamaan yang digunakan untuk memperoleh nilai memperoleh nilai koefisien (r2) (Daijan, 1986 dalam Pakaya, 2015), sebagai berikut :
Setelah konsentrasi pengukuran diketahui, maka kandungan flavonoid total dalam sampel ditentukan dengan menggunakan persamaan di bawah : (Halvorsen, dkk, 2002) berikut ini :
Keterangan : M = Kandungan flavonoid total dalam sampel (μg/g)
C = Konsentrasi yang diperoleh dari kurva kalibrasi (mg/L) F = Faktor pengenceran
B = Bobot sampel yang digunakan (gr). a = (∑y)(∑x2 )-(∑x)(∑xy) n (∑x2 )-(∑x)2 b = n ∑xy - (∑x)-(∑y) n ∑x2 - (∑x)2 n ∑xy - (∑x)(∑y) r = (n ∑x2 - (∑x) 2 )-(n ∑y2 - (∑y)2 ) M = C x F B
60 Hasil Rendemen Daun, Buah , dan Kulit Batang Mangrove S.alba
Sampel tumbuhan mangrove S.alba diambil di Desa Katialada, Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara sebanyak 2 kg. Sampel dibersihkan dan dipotong kecil-kecil, kemudian sampel daun dan buah dikeringkan menggunakan suhu 50-60oC selama 6 jam sedangkan kulit dikeringkan pada suhu 50-60oC selama 7 jam menggunakan pengering mekanik. Sampel kulit batang mangrove S.alba
lebih tebal dibanding sampel daun dan buah sehingga waktu pengeringan sedikit lebih lama dari sampel daun dan buah mangrove S.alba.
Tabel 7. Rendemen Sampel Kering Mangrove S.alba
Daun (g) Buah (g) Kulit Batang (g)
Sampel Mentah 2000 2000 2000
Sampel Kering 793 964 1221
Rendemen (%) 39,65 % 48,20 % 61,05 %
Sampel kering daun dihasilkan dengan rendemen 39,65 %, buah dengan rendemen 48,20 %, dan kulit batang dengan rendemen 61,05 %, sebagaimana ditunjukan pada Tabel 7. Sampel yang telah dikeringkan kemudian dihaluskan menggunakan blender sehingga diperoleh serbuk halus kemudian diangin-anginkan.
Tabel 8. Rendemen Sampel Serbuk Mangrove S.alba
Daun (g) Buah (g) Kulit Batang (g)
Sampel Mentah 2000 2000 2000
Sampel Serbuk 605 888 1017
Rendemen (%) 30,25 % 44,4 % 50,58 %
Sampel serbuk daun dihasilkan dengan rendemen 30,25 %, buah dengan rendemen 44,4 %, dan kulit batang dengan rendemen 50,58 %, sebagaimana
61 ditunjukan pada Tabel 8. Penurunan berat pada proses pengeringan dan proses penghalusan diakibatkan berkurangnya kadar air pada sampel ketika dilakukan pengeringan dan setelah proses penghalusan sampel. Menurut Pakaya (2015), pengeringan dimaksudkan untuk mengurangi kadar air, menghentikan reaksi enzimatis dan mencegah tumbuhnya jamur agar dapat disimpan lebih lama dan tidak rusak sehingga komposisi kimianya tidak mengalami kerusakan.
Daun, buah, dan kulit batang mangrove S.alba yang digunakan adalah daun, buah, dan kulit batang yang masih dalam keadaan segar, pemilihan sampel harus diperhatikan untuk menghindari kerusakan pada sampel karena sampel yang cacat telah mengalami kerusakan pada jaringan sel sehingga komposisi kimianya akan berbeda dengan sampel yang masih segar. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam preparasi sampel adalah harus terhindar dari zat pengotor, kontak dengan senyawa lain dan tidak terkena langsung dengan cahaya matahari.
Bahan tanaman yang dapat dikeringkan dengan cara dikeringkan langsung dibawah sinar matahari adalah simplisia dari akar, rimpang, kulit, dan biji-bijian. Pengeringan bahan dengan sinar matahari langsung dalam keadaan terbuka, seringkali menyebabkan bahan mengalami pencemaran dan bila terjadi perubahan cuaca secara tiba-tiba akan merupakan suatu masalah. Pada proses pengeringan dengan matahari langsung, kemungkinan akan terjadi kontaminasi dari lingkungan seperti debu, insekta, burung, dan lain-lain (Hernani dan Nurdjanah, 2009). Menurut Pramono (2006), Sinar ultra violet dari matahari juga dapat menimbulkan kerusakan kandungan kimia pada bahan yang dikeringkan.
Hasil Ekstraksi Menggunakan Metode Maserasi
Serbuk daun, buah, dan kulit batang mangrove S.alba ditimbang masing-masing sebanyak 250 gram. Masing-masing-masing dimaserasi dengan pelarut metanol 75% pada suhu kamar selama 1 x 24 jam dan dilakukan 2x pengulangan ditahap perendaman. Hasil maserasi dipekatkan dengan evaporator pada suhu 40-45oC
62 dengan tujuan untuk menguapkan metanol sehingga didapatkan ekstrak kental. Menurut Voight (1995) dalam Istiqomah (2013), penggunaan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar), bertujuan untuk menarik zat-zat berkhasiat yang tahan pemanasan maupun yang tidak tahan pemanasan untuk mencapai kosentrasi pada keseimbangan. Rendemen ekstrak kental metanol yang diperoleh dari daun, buah, dan kulit batang mangrove
S.alba dapat ditunjukan pada Tabel 9.
Tabel 9. Rendemen Ekstrak Kental Metanol Mangrove
S.alba Berat Serbuk Kering (g) Ekstrak Metanol Berat Ekstrak (g) Rendemen (%) Daun 14,73 5,89 250 Buah 3,59 1,43 Kulit Batang 9,67 3,86
Ektrak kental yang dihasilkan yaitu daun dengan berat ekstrak 14,73 gram dengan rendemen 5,89%, buah dengan berat ekstrak 3,59 gram dengan rendemen 1,43%, dan kulit batang dengan berat ekstrak 9,67 gram dengan rendemen 4,83%.
Menurut Sani, dkk (2014), rendemen ekstrak dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
Pada proses ekstraksi terjadi dua fase yaitu fase pembilasan dan fase ekstraksi. Fase pembilasan merupakan fase dimana sel-sel yang rusak atau tidak utuh lagi dari simplisia bersentuhan langsung dengan pelarut sehingga komponen di dalam sel semakin mudah untuk berpindah ke dalam pelarut (Maulida dan Guntarti, 2015).
63
Gambar 15. Sampel Serbuk dan Ekstrak Kental Mangrove S.alba
Hasil Identifikasi Flavonoid Menggunakan Metode Fitokimia
Uji Flavonoid dapat dilakukan dengan menambahkan beberapa pereaksi diantaranya adalah H2SO4, NaOH, dan Mg + HCl. Hasil uji skrining flavonoid dari masing-masing ekstrak dapat ditunjukan pada Tabel 10.
Tabel 10. Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Daun, Buah dan Kulit Batang Mangrove
S.alba
Keterangan : (+) = Teridentifikasi (Jika terjadi perubahan warna) (-) = Tidak teridentifikasi (tidak terjadi perubahan warna) Berdasarkan Tabel 4, ekstrak daun, buah dan kulit batang mangrove S.alba
positif mengandung senyawa flavonoid dengan indikasi beberapa perubahan warna setelah ditambahkan pereaksi NaOH, Mg+HCl, dan H2SO4.
Sampel Ekstrak Kontrol
Perubahan Warna Ket NaOH Mg-HCl H2SO4 Daun Hijau Kecoklatan Kuning Hijau Kecoklatan Kuning Kemerahan + Mangrove S.alba Buah Hijau Kecoklatan Kuning Kemerahan Kuning Kehijauan Kuning + Kulit
Batang Cokelat Kuning Jingga
Kuning Kecoklatan +
64 a. Warna Ekstrak Mangrove Setelah Ditambahkan Pereaksi NaOH
Pada identifikasi flavonoid menggunakan pereaksi NaOH, warna yang dihasilkan dari sampel daun mangrove S.alba yaitu kuning, warna yang dihasilkan dari sampel buah mangrove S.alba yaitu kuning kemerahan dan warna yang dihasilkan dari sampel kulit batang mangrove S.alba yaitu kuning. Hasil perubahan menunjukan sampel mangrove S.alba positif terdapat flavonoid ditunjukan pada Gambar 19.
Berdasarkan hasil yang didapatkan maka dugaan reaksi yang terjadi antara flavonoid dan pereaksi NaOH adalah sebagai berikut :
Gambar 16. Dugaan Reaksi Flavonoid dengan NaOH Sumber : Achmad, 1986 dalam Pakaya, 2015
Achmad (1986) dalam Pakaya (2015) menjelaskan bahwa senyawa krisin yang merupakan turunan dari seyawa-senyawa flavon pada penambahan NaOH mengalami penguraian oleh basa menjadi molekul seperti asetofenon yang berwarna kuning karena adanya pemutusan ikatan pada struktur isoprene. b. Warna Ekstrak Mangrove Setelah Ditambahkan Pereaksi Mg+HCl
Pada identifikasi flavonoid menggunakan pereaksi Mg+HCl, warna yang dihasilkan dari sampel daun mangrove S.alba yaitu hijau kecoklatan, warna yang dihasilkan dari sampel buah mangrove S.alba yaitu kuning kehijauan dan warna yang dihasilkan dari sampel kulit batang mangrove S.alba yaitu jingga. Hasil perubahan menunjukan sampel mangrove S.alba positif terdapat flavonoid ditunjukan pada Gambar 19.
NaOH
2C
C H3C
Na+
65 Berdasarkan hasil yang didapatkan maka dugaan reaksi yang terjadi antara flavonoid dan pereaksi Mg+HCl adalah sebagai berikut :
Gambar 17. Dugaan Reaksi Flavonoid dengan Mg+HCl Sumber : Setyowati dkk (2014)
Setyowati dkk (2014) menjelaskan bahwa penambahan logam Mg dan HCl pekat pada uji flavonoid berfungsi untuk mereduksi inti benzopiron yang terdapat pada struktur flavonoid sehingga terbentuk perubahan warna menjadi merah atau jingga. Jika dalam suatu ekstrak tumbuhan terdapat senyawa flavonoid akan terbentuk garam flavilium saat penambahan Mg dan HCl yang berwarna merah atau jingga.
c. Warna Ekstrak Mangrove Setelah Ditambahkan Pereaksi H2SO4
Pada identifikasi flavonoid menggunakan pereaksi H2SO4, warna yang dihasilkan dari sampel daun mangrove S.alba yaitu kuning kemerahan, warna yang dihasilkan dari sampel buah mangrove S.alba yaitu kuning dan warna yang dihasilkan dari sampel kulit batang mangrove S.alba yaitu kuning
+Cl -HCl
Cl-+ Cl
-Flavonon
66 kecoklatan. Hasil perubahan menunjukan sampel mangrove S.alba positif terdapat flavonoid ditunjukan pada Gambar 19.
Berdasarkan hasil yang didapatkan maka dugaan reaksi yang terjadi antara flavonoid dan pereaksi H2SO4 adalah sebagai berikut :
Gambar18. Dugaan Senyawa Flavonoid dengan NaOH Sumber : Achmad, 1986 dalam Pakaya, 2015
Terbentuknya warna merah karena penambahan H2SO4 pekat mengakibatkan terjadinya reaksi substitusi elektrofilik dimana posisi atom OH pada flavonoid terdistribusi oleh atom H dan H2SO4 (Markham dan Andersen, 2006). Menurut Usman (2003) dalam Pakaya (2015), sebagaimana senyawa aromatik, flavon juga mengalami reaksi substitusi elektrofilik, gugus hidroksi pada flavon mengarahkan reaksinya seperti senyawa fenol.
SO42 -H+
OH
67 Gambar19. Hasil Uji Flavonoid Metode Fitokimia
Flavonoid pada tanaman mempunyai pigmen warna dan juga berfungsi sebagai antioksidan serta dapat berfungsi sebagai pertahanan diri terhadap organisme perusak dan lingkungan yang ekstrim (Shah dan Hossain, 2014). Menurut Prabowo (2008), adanya flavonoid pada suatu tumbuhan dilihat dengan terbentuknya warna saat direaksikan dengan senyawa yang dapat bereaksi dengan pigmen warna pada flavonoid.
Total Flavonoid Menggunakan Metode Kolorimetri AlCl3 Kurva Kalibrasi Kuersetin
Penentuan total flavonoid dilakukan dengan membuat serangkaian standar senyawa kuersetin dengan variasi 0,1 ppm, 0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm, dan 2,5 ppm. Kuersetin merupakan salah satu jenis flavonoid yang umum digunakan sebagai standar dalam penentuan kadar flavonid, yang secara biologis amat kuat, memiliki aktifitas antioksidan yang sangat tinggi (Waji dan Sugrani, 2009) dan glikosidanya berada dalam jumlah sekitar 60-70% dari flavonoid (Kelly, 2011). Selanjutnya, diukur absorbansinya pada panjang gelombang 300-400 nm sehingga diperoleh serapan maksimum panjang gelombang 374 nm dan kurva kalibrasi larutan standar senyawa kuersetin.
68 Tabel 11. Absorbansi Larutan Standar
Kuersetin No Konsentrasi (mg.L -1 ) Absorbansi 1 0.1 0.086 2 0.5 0.208 3 1 0.345 4 1.5 0.5 5 2 0.64 6 2.5 0.781
Berdasarkan hasil penentuan absorbansi larutan standar kuersetin pada Tabel 8 dapat digambarkan kurva kalibrasi larutan standar kuersetin berupa grafik
kurva kosentrasi (C) dan absorbansi (A) dengan persamaan regresi linear y = 0,289x + 0,059 dengan koefisien korelasi (r2) adalah 0.999.
Gambar 20. Kurva Kalibrasi Larutan Senyawa Kuersetin
Kurva kalibrasi diperoleh dengan membuat larutan standar kuersetin, tujuan pembuatan larutan standar untuk mengukur tingkat ketelitian data. Pengenceran dilakukan dari larutan induk kuersetin dengan teliti, agar kesalahan dalam pengenceran relatif kecil. Berdasarkan hasil penentuan absorbansi larutan standar
69 tersebut dapat digambarkan kurva kalibrasi larutan standar berupa grafik kurva konsentrasi (C) dan absorbansi (A) yang ditunjukkan pada Gambar 20.
Berdasarkan kurva kalibrasi pada Gambar 20, diperoleh persamaan regresi linear y = 0,289x + 0,059 dengan koefisien korelasi (r2) adalah 0.999 yang menunjukkan bahwa konsentrasi mampu menerangkan keragaman absorbansi sebesar 99.99% dan sekitar 0.01% diterangkan oleh faktor lain. Hasil pengukuran absorbansi larutan standar pada berbagai konsentrasi diperoleh hubungan yang linear antara absorbansi dengan konsentrasi yang ditunjukkan dengan pengukuran linearitas sebesar 0,9999. Besarnya linearitas ini mendekati nilai satu sehingga dapat dikatakan bahwa absorbansi merupakan fungsi yang besarnya berbanding lurus dengan konsentrasi dan mengikuti persamaan regresi linear. Setelah diukur menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis diperoleh hasil pengukuran seperti yang ditunjukkan berikut ini.
Perhitungan Dan Pembuatan Kurva Kalibrasi No Konsentrasi (mg.L-1) Absorbansi 1 0.1 0.086 2 0.5 0.208 3 1 0.345 4 1.5 0.5 5 2 0.64 6 2.5 0.781 x y x2 y2 xy 0.1 0.086 0.01 0.007396 0.0086
70 0.5 0.208 0.25 0.043264 0.104 1 0.345 1 0.119025 0.345 1.5 0.5 2.25 0.25 0.75 2 0.64 4 0.4096 1.28 2.5 0.781 6.25 0.609961 1.9525 ∑x = 7.6 y = 2.56 ∑x2 = 13.76 ∑y2 = 1.439246 ∑xy = 4.4401
Persamaan garis lurus antara kosentrasi flavonoid (x) dan absorbansi (y) dapat dituliskan melalui persamaan berikut :
y = bx + a
- Penentuan Nilai Intersep (a) - Penentuan Nilai
Intersep (b) X = 7.6 = 1.2666 6 (∑x)2 = 57.76 Y = 2.56 = 0.4226 6 (∑Y)2 = 6.5536
71
- Penentuan Nilai Regresi
Kurva Sampel Kulit Batang Mangrove S.alba
Kurva sampel kulit batang diperoleh dengan membuat larutan ekstrak kulit batang dengan kosentrasi 0.1%, 0.5%, 1%, 1.5%, 2% dan 2.5%, tujuan pembuatan larutan ekstrak kulit batang untuk mengukur tingkat ketelitian data. Pengenceran dilakukan dari larutan induk ekstrak kulit batang dengan teliti, agar kesalahan dalam pengenceran relatif kecil. Berdasarkan hasil pengukuran absorbansi larutan ekstrak kulit batang tersebut dapat digambarkan kurva sampel larutan ekstrak kulit
72 batang berupa grafik kurva konsentrasi (X) dan absorbansi (Y) yang ditunjukkan pada Gambar 21.
Gambar 21. Kurva Sampel Kulit Batang Mangrove S.alba
Berdasarkan kurva sampel kulit batang mangrove S.alba pada Gambar 21, hasil absorbansi yang diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada sampel kulit batang berbanding lurus dengan kosentrasi setelah dilakukan perhitungan menggunakan persamaan regresi linear y = 0.303x + 0.138 dan mengikuti persamaan regresi linear. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa hasil penentuan total flavonoid pada sampel kulit batang sangat kecil kemungkinan terjadi kesalahan saat melakukan perhitungan kadar flavonoid kulit batang mangrove S.alba.
Kurva Sampel Daun Mangrove S.alba
Kurva sampel daun diperoleh dengan membuat larutan ekstrak daun dengan kosentrasi 0.1%, 0.5%, 1%, 1.5%, 2% dan 2.5%, tujuan pembuatan larutan ektrak daun untuk mengukur tingkat ketelitian data. Pengenceran dilakukan dari larutan induk ekstrak daun dengan teliti, agar kesalahan dalam pengenceran relatif kecil. Berdasarkan hasil pengukuran absorbansi larutan ekstrak daun tersebut dapat
73 digambarkan kurva sampel larutan ekstrak daun berupa grafik kurva konsentrasi (X) dan absorbansi (Y) yang ditunjukkan pada Gambar 22.
Gambar 22. Kurva Sampel Daun Mangrove S.alba
Berdasarkan kurva sampel daun mangrove S.alba pada Gambar 22, hasil absorbansi yang diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada sampel daun berbanding lurus dengan kosentrasi setelah dilakukan perhitungan menggunakan persamaan regresi linear y = 0.294x + 0.331 dan mengikuti persamaan regresi linear. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa hasil perhitungan total flavonoid pada sampel daun sangat kecil kemungkinan terjadi kesalahan saat melakukan perhitungan kadar flavonoid daun mangrove S.alba.
Kurva Sampel Buah Mangrove S.alba
Kurva sampel buah diperoleh dengan membuat larutan ekstrak buah kosentrasi 0.1%, 0.5%, 1%, 1.5%, 2% dan 2.5%, tujuan pembuatan larutan ekstrak sampel buah untuk mengukur tingkat ketelitian data. Pengenceran dilakukan dari larutan induk ekstrak buah dengan teliti, agar kesalahan dalam pengenceran relatif kecil. Berdasarkan hasil pengukuran absorbansi larutan ekstrak buah tersebut dapat digambarkan kurva sampel larutan ekstrak buah berupa grafik kurva konsentrasi (X) dan absorbansi (Y) yang ditunjukkan pada Gambar 23.
74 Gambar 23. Kurva Sampel Buah Mangrove S.alba
Berdasarkan kurva sampel buah mangrove S.alba pada Gambar 23, hasil absorbansi yang diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada sampel buah berbanding lurus dengan kosentrasi setelah dilakukan perhitungan menggunakan persamaan regresi linear y = 0.321x + 0.350 dan mengikuti persamaan regresi linear. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa hasil perhitungan total flavonoid pada sampel buah sangat kecil kemungkinan terjadi kesalahan saat melakukan perhitungan kadar flavonoid daun mangrove S.alba.
Total Flavonoid Pada Daun, Buah, dan Kulit Batang Mangrove S.alba Memperhitungkan Faktor Pengenceran
Konsentrasi rata-rata flavonoid pada kulit batang mangrove S.alba yaitu 1.95 mg/L, konsentrasi rata-rata flavonoid pada daun mangrove S.alba yaitu 3.10 mg/L, dan konsentrasi rata-rata flavonoid pada buah mangrove S.alba yaitu 3.43 mg/L. Dari hasil pengukuran yang disajikan pada Lampiran 3 menunjukkan bahwa pada pada buah mangrove S.alba memiliki kadar flavonoid tertinggi jika diperhitungkan dengan faktor pengenceran. Menurut Rusman dan Mukhlis (2010), proses pengenceran adalah mancampurkan larutan pekat (konsentrasi tinggi)
75 dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar atau konsentrasi yang lebih kecil. Sedangkan Menurut Simanjuntak dkk (2007), hubungan absorbansi dengan faktor pengenceran dinyatakan dengan persamaan garis.
Data analisis kadar flavonoid pada kulit batang, daun, dan buah mangrove
S.alba yang diperhitungkan dengan faktor pengenceran yang disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12. Hasil Perhitungan Kadar Flavonoid Diperhitungkan dengan Faktor Pengenceran
Sampel Ekstrak Rata-rata mg/L
Kulit Batang 1.95
Mangrove
S.alba Daun 3.10
Buah 3.43
Pengukuran kadar flavonoid total dalam sampel dapat dihitung berdasarkan kosentrasi yang dijelaskan sebagai berikut.
Kosentrasi Flavonoid Dalam Kulit Batang, Daun dan Buah Mangrove S.alba Untuk menentukan kosentrasi pada sampel yaitu dengan menggunakan persamaan berikut :
y = bx + a y = 0. 2897x + 0.0597
dimana y adalah absorbansi dan x adalah kosentrasi flavonoid dalam daun, kulit batang dan buah.
A. Kosentrasi Flavonoid Dalam Kulit Batang Mangrove S.alba a. Kulit 1
y= bx + a y = 0.307
0.307 = 0.2897x + 0.0597 0.2897x = 0.307 - 0.0597 x = 0.2473/0.2897
76 x = 0.8581 b. Kulit 2 c. Kulit 3 y= bx + a y = 0.388 0.388 = 0.2897x + 0.0597 0.2897x = 0.388 - 0.0597 x = 0.3310/0.2897 x = 1.1384
B. Kosentrasi Flavonoid Dalam Daun Mangrove S.alba
a. Daun 1 y= bx + a y = 0.521 0. 521 = 0.2897x + 0.0597 0.2897x = 0. 521 - 0.0597 x = 0.4613/0.2897 x = 1.5986 y= bx + a y = 0.328 0. 328 = 0.2897x + 0.0597 0.2897x = 0. 328 - 0.0597 x = 0.2683/0.2897 x = 0.9308
77 b. Daun 2 y= bx + a y = 0.500 0.500 = 0.2897x + 0.0597 0.2897x = 0.500 - 0.0597 x = 0.4403 /0.2897 x = 0.1.5260 c. Daun 3 y= bx + a y = 0.499 0.499 = 0.2897x + 0.0597 0.2897x = 0.499 - 0.0597 x = 0.4393/0.2897 x = 0.15225
C. Kosentrasi Flavonoid Dalam Buah Mangrove S.alba a. Buah 1 y= bx + a y = 0.535 0.535 = 0.2897x + 0.0597 0.2897x = 0.535 - 0.0597 x = 0.4753/0.2897 x = 1.6471 b. Buah 2 y= bx + a y = 0.579 0.579 = 0.2897x + 0.0597 0.2897x = 0.579 - 0.0597 x = 0.5193/0.2897 x = 1.7993
78 c. Buah 3 y= bx + a y = 0.549 0.549 = 0.2897x + 0.0597 0.2897x = 0.549 - 0.0597 x = 0.4893/0.2897 x = 1.6955
A. Total Flavonoid Kulit Batang Mangrove S.alba
Total Flavonoid Dalam Kulit Batang, Daun dan Buah Mangrove S.alba
Untuk menentukan kadar flavonoid total pada sampel yaitu dengan menggunakan persamaan berikut :
M = C x F B
Keterangan : M = Kandungan flavonoid total dalam sampel (μg/g)
C = Konsentrasi yang diperoleh dari kurva kalibrasi (mg/L) F = Faktor pengenceran
79 - Kulit Batang Mangrove S.alba - Daun Mangrove S.alba
- Buah Mangrove S.alba Kulit 1 Kulit 2 Kulit 3 Daun 1 Daun 2 Daun 3 Buah 1 Buah 2 Buah 3
80 Berdasarkan perhitungan kadar flavonoid total kulit batang mangrove
S.alba yang disajikan di atas kulit batang mangrove memiliki kadar flavonoid total sebanyak 3.91 µg/g dengan kosentrasi ekstrak 0.5 % menggunakan pelarut metanol 75%. Santi dan Sukadana (2015) telah melakukan penelitian tentang kadar flavonoid total pada kulit batang gayam menggunakan pelarut etanol p.a sehingga didapatkan hasil kadar flavonoid total pada kulit batang gayam sebanyak 1400 µg/g. Dari hasil penelitian kadar kulit batang, maka dapat disimpulkan bahwa kadar kulit gayam lebih banyak dibanding kulit batang mangrove S.alba. Perbedaan total flavonoid antara kulit batang mangrove S.alba dan kulit batang gayam dipengaruhi oleh jenis tumbuhan serta kosentrasi pelarut yang digunakan untuk menarik flavonoid pada suatu tumbuhan. Hal ini didukung oleh pernyataan Santi dan Sukadana (2015), bahwa kulit gayam merupakan jenis tumbuhan obat yang dapat menangkap radikal bebas 1,1-difenil-2-pikril-hidrazil (DPPH) dengan nilai IC50 200 ppm. Pelarut sangat berpengaruh dalam menarik metabolit sekunder yang terdapat pada suatu tumbuhan, sehingga pemilihan pelarut sangat penting untuk menarik lebih banyak metabolit sekunder (Ketaren, 1986).
Tabel 13. Kadar Flavonoid Kulit Batang Mangrove S.alba dan Kulit Batang Gayam
Kulit Batang Kadar (µg/g)
Mangrove S.alba 3.91 *
Gayam 1400 **
Ket : * = Hasil Penelitian
81 B. Total Flavonoid Daun Mangrove S.alba
Berdasarkan perhitungan kadar flavonoid total daun mangrove S.alba , daun mangrove memiliki kadar flavonoid total sebanyak 6.20 µg/g dengan kosentrasi ekstrak 0.5 % serta pelarut metanol 75%. Neldawati dkk (2013), telah melakukan penelitian tentang kadar flavonoid total pada daun katuk menggunakan pelarut etanol teknis sehingga didapatkan hasil kadar flavonoid total pada daun katuk sebanyak 13,11 μg/g. Sedangkan hasil penelitian terhadap daun waru
menggunakan pelarut metanol 80% didapatkan kadar flavonoid total yaitu sebanyak 1430 µg/g (Lumbessy dkk, 2013). Dari penjelasan diatas maka total flavonoid daun katuk dan daun waru lebih banyak dibanding total flavonoid daun mangrove. Daun katuk memiliki kadar flavonoid yang tinggi karena daun katuk sering digunakan untuk pengobatan secara tradisional sudah sejak dulu (Neldawati
dkk, 2013). Menurut Lumbessy dkk (2013), daun waru merupakan tumbuhan yang tumbuh liar di Indonesia. Pernyataan Lumbessy dkk, (2013), memperkuat dugaan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi total flavonoid pada suatu tumbuhan.
Tabel 14. Kadar Flavonoid Daun Mangrove S.alba, Daun Katuk, dan Daun Waru
Daun Kadar (µg/g)
Mangrove S.alba 6.2 *
Katuk 13.11 **
Waru 1430 ***
Ket : * = Hasil Penelitian ** = Neldawati dkk (2013) *** = Lumbessy dkk, (2013) C. Total Flavonoid Buah Mangrove S.alba
Berdasarkan perhitungan kadar flavonoid total buah mangrove S.alba , buah mangrove memiliki kadar flavonoid total sebanyak 6.86 µg/g dengan kosentrasi
82 ekstrak 0.5 % serta metanol 75%. Azizah dkk (2014), telah melakukan penelitian tentang kadar flavonoid total pada buah kakao sehingga didapatkan hasil kadar flavonoid total pada buah kakao menggunakan pelarut metanol p.a sebanyak 4 µg/g. Tingginya total flavonoid pada buah mangrove S.alba dipengaruhi oleh faktor lingkungan hal ini dapat diamati pada proses pengambilan sampel banyak terdapat serangga pada buah mangrove. Menurut Siswanto dan Trisawa (2001)
dalam Asikin (2014), setiap jenis tanaman memiliki daya tarik yang berbeda terhadap serangga. Serangga umumnya datang mengunjungi bagian tumbuhan karena tertarik oleh bau atau warna untuk mendapatkan makanan.
Tabel15. Kadar Flavonoid Buah Mangrove S.alba dan Buah Kakao
Buah Kadar (µg/g)
Mangrove S.alba 6.86 *
Kakao 4 **
Ket : * = Hasil Penelitian Penulis ** = Azizah dkk (2014)
Dari hasil perhitungan total flavonoid mangrove S.alba menunjukan total flavonoid buah 6.86 µ g/g, daun 6.20 µ g/g, dan kulit batang 3.91 µg/g dan diperoleh grafik flavonoid total daun, buah dan kulit batang seperti yang ditunjukan pada Gambar 24.
83 Gambar 24. Grafik Total Flavonoid Daun, Buah dan Kulit Batang Mangrove
S.alba
Hasil penentuan total flavonoid mangrove S.alba didapatkan total flavonoid terbanyak yaitu pada sampel buah sebanyak 6.86 µ g/g. Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa kadar flavonoid terikat pada jagung, gandum, oat dan padi relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kadar flavonoid dalam bentuk bebasnya (Adom dan Rui, 2002 dalam Redha, 2010). Penyataan ini memperkuat dugaan bahwa kadar flavonoid pada buah memiliki kadar flavonoid yang banyak jika dibanding dengan daun dan kulit batang tumbuhan. Nurfadillah (2013), menambahkan bahwa, kondisi lingkungan hidup suatu tumbuhan juga sangat memengaruhi adanya kandungan senyawa bioaktif yang terkandung pada suatu tumbuhan, semakin besar pengaruh dari kondisi perairan yang buruk meyebabkan semakin meningkatnya kandungan senyawa bioaktif pada tumbuhan tersebut.
Faktor lingkungan yang memengaruhi stabilitas bahan aktif yaitu suhu, radiasi cahaya, udara (terutama oksigen, karbon dioksida dan uap air) dan kelembaban. Faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi stabilitas seperti pH, sifat air dan kondisi biotik, dan keberadaan bahan kimia lain yang merupakan
Y
84 kontaminan atau dari pencampuran produk yang berbeda secara aktif dapat memengaruhi stabilitas sediaan bahan aktif (Akhila dkk, 2007). Menurut Lenny (2006), banyaknya senyawa flavonoid ini disebabkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi, alkoksilasi atau glikosilasi dari struktur tersebut. Modifikasi flavonoid lebih lanjut mungkin terjadi pada berbagai tahap dan menghasilkan penambahan atau pengurangan hidroksilasi, metilasi gugus hidroksi inti flavonoid, isoprenilasi gugus hidroksi atau inti flavonoid, metilenasi gugus orto-hidroksi, dimerisasi pembentukan biflavonoid, pembentukan bisulfat, dan terpenting glikosilasi gugus hidroksi (pembentukan flavonoid O-glikosida) atau inti flavonoid (pembentukan flavonoid C-glikosida) (Markham, 1988 dalam Nugrahaningtyas dkk, 2005).
85 DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, D. 1998. Isolasi Tanin Dari Daun Kaliandra
(Calliandra calothyrsus). [SKRIPSI] Jurusan Kimia Institut Pertanian Bogor. Bogor
Ahmad, M.M., 2006, Anti Inflammatory Activities of Nigella sativa Linn