• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Kuantitatif Senyawa Tanin dengan Metode Lowenthal-procter

FeCl3 karena tanin akan membentuk senyawa komplek dengan FeCl3.Hal ini sesuai denganpernyataan Sriwahyuni (2010), pada senyawatanin terdapat banyak gugus OH yang menyebabkan sifatnya polar maka senyawatanin dapat larutdalam pelarut polar sepertimetanol sehingga tanin dapat terekstrakdalam pelarut metanol. Hasil uji fitokimia masing-masing ekstrak dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 2 Hasil uji fitokimia tanin menggunakan FeCl3 Tumbuhan

Mangrove

Hasil uji dengan FeCl3

Buah +

Daun +

Kulit batang +

Keterangan: Tanda + : Terkandung senyawa tanin

4.2Uji Kuantitatif Senyawa Tanin dengan Metode Lowenthal-procter

Uji kuantitatif senyawa tanin dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sampel yang memiliki senyawa tanin dengan kadar tertinggi. Metode yang digunakan untuk uji kuantitatif senyawa tanin adalah metode Lowenthal-procter. Metode ini menggunakan metode titrasi oksidasi yaitu dengan menggunakan senyawa pengoksidasi kalium permanganat. Penentuan kadar tanin dalam metode ini adalah berdasarkan jumlah gugus fenol pada senyawa tanin. Titrasi dengan larutan kalium permanganat, gugus fenol pada tanin akan teroksidasi. Jumlah gugus fenol berbanding lurus dengan jumlah kalium permanganat yang diperlukan untuk titrasi. Proses uji tersebut dapat dilihat pada Gambar 10 berikut.

44 Proses Titrasi KmnO4

Hasil titrasi KmnO4 pada buah

45 Hasil titrasi KMnO4 pada Batang

Gambar 10. Penentuan kadar Tanin menggunakan metode Lowenthal-procter

Ekstrak dari buah, daun dan kulit batang mangrove S.alba diambil sebanyak 0,5 gram dan dilarutkan dalam 100 ml aquades. Senyawa tanin bersifat polar, sehingga setiap ekstrak sangat mudah larut dalam air. Masing-masing ekstrak diambil 50 ml dan ditambahkan larutan indigokarmin kemudian dititrasi dengan kalium permanganat sampai warna kuning keemasan kemudiaan dicatatbanyaknya KmnO4 yang digunakan. Banyaknya KmnO4yang digunakan untuk menentukan senyawa tanin dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 3 Hasil titrasi senyawa tanin dengan KmnO4(A ml) Tumbuhan

Mangrov S.alba

Volume KmnO4yang digunakan

Rata-rata Ulangan I Ulangan II

Buah 1,3 1,3 1,3

Daun 1,4 1,4 1,4

46 Proses selanjutnya yaitu menentukan senyawa non tanin.Ekstrak yang telah dilarutkan dalam air diambil 50 ml dan ditambahkan larutan gelatin, NaCl, serbuk kaolin dan dikocok selama beberapa menit dan ditambahkan larutan indikator indigokarmin kemudian dititrasi dengan KmnO4 sampai berwarna kuning emas. Banyaknya KmnO4 yang digunakan untuk titrasi merupakan banyaknya gugus fenol selain tanin misalkan flavonoid yang masih terdapat dalam sampel.

Penambahan garam pada suasana asam adalah untuk mengendapkan tanin terkondensasi, sedangkan penambahan larutan gelatin adalah untuk mengendapkan senyawa tanin yang terdapat dalam ekstrak. Banyaknya KmnO4yang digunakan untuk menentukan senyawa non tanin dapat dilihat pada Tabel 5 dan hasil perhitungan kadar tanin menggunakan metode Lowenthal-procter dapat dilihat pada penjelasan berikut.

Perhitungan kadar tanin menggunakan metode Lowenthal-procter A. Buah mangrove S.alba

Kadar tanin = × 100%

= × 100%

= × 100%

= × 100% = 41,6%

47 B. Daun Mangrove S.alba

Kadar tanin = × 100%

= × 100%

= × 100%

= × 100% = 29,12%

C. Kulit Batang Mangrove S.alba

Kadar tanin = × 100%

= × 100%

= × 100% = × 100% = 4,16%

48 Tabel 4 Hasil titrasi senyawa non tanin dengan KmnO4 (B ml)

Tumbuhan Mangrove S.alba

Volume KmnO4yang digunakan

Rata-rata Ulangan I Ulangan II

Buah 0,3 0,3 0,3

Daun 0,7 0,7 0,7

Kulit batang 0,5 0,55 0,5

Tabel 5 Hasil perhitungan kadar tanin dengan metode Lowenthal-procter. Cara perhitungan dapat dilihat pada lampiran 1.

Tumbuhan Mangrove

Sonneratia alba Kadar tanin (%)

Buah 41,6

Daun 29,12

Kulit batang 4,16

Berdasarkan hasil penelitian perhitungan kadar tanin dengan menggunakan metode Lowenthal-procter menunjukkan bahwa dari 50 ml larutan ekstrak buah mangrove S.alba memiliki kadar tanin 41,6%, daun 29,12% dan kulit batang 4,16%. Buah mangrove S.alba memiliki presentase tertinggi bila dibandingkan daun dan kulit batang. Hal ini sesuai dengan teori Lisdawati, dkk (2008), yang menyatakan bahwa buah tanaman pada umumnya memiliki kandungan metabolit sekunder yang lengkap dalam jumlah yang banyak bila dibandingkan dengan bagian tanaman lainnya.

Tanin yang terdapat pada ekstrak daun mangrove S.alba masih tergolong tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Makkar & Becker, (1998)

49

dalamJayanegaraet al.,(2008), menyatakan bahwa kebanyakan

dedaunanmengandung senyawa fenolik dalamkonsentrasi yang tinggi, khususnya dalambentuk senyawa tanin.

Kandungan tanin yang terdapat dalam kulit kayu Mangrove S.alba adalah yang paling sedikit bila dibandingkan dengan buah dan daun. Hal ini dipengaruhi oleh ukuran diameter pohon yang dijadikan sampel penelitian karena semakin besar diameter pohon maka semakin lama proses pertumbuhan telah berlangsung, sehingga kulit yang telah dibentuk juga semakin banyak atau tebal dengan demikian tanin yang dibentuk juga semakin banyak. Menurut penelitian Hamidah (2007), diameter pohon berpengaruh sangat nyata terhadap kadar tanin. Semakin besar diameter pohon maka kadar tanin semakin meningkat, disebabkan meningkatnya diameter pohon diikuti oleh bertambahnya ketebalan kulit sehingga pada pohon yang berdiameter besar lebih banyak mengandung sel parenkim. Haygreen & Bowyer, (1989) dalam Hamidah, (2007), menyatakan bahwa diantara

xylem(jaringan kayu) dan floem (jaringan kulit kayu), terdapat kambium yang membelah berulang-ulang membentuk jaringan xylem dan floem baru. Dengan demikian pada pohon berdiameter besar akan menghasilkan lebih banyak jaringan

floem yang mengandung sel-sel parenkim, karena sel-sel parenkim merupakan salah satu komponen yang menyusun floem. Semakin banyak sel-sel parenkim berarti tanin yang ada juga semakin banyak.

50 Menurut Gourama dan Bullerman (1995), produksi senyawa metabolit sekunder dipengaruhi oleh interaksi antara substrat dan lingkungan. Faktor yang mempengaruhi produksi senyawa metabolit sekunder dapat dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu fisik (suhu, pH, kelembaban relatif dan kadar air, cahaya dan aerasi), nutrisi dan biologi.

Secara ekonomisjika ditinjau dari kadar tanin yang dihasilkan oleh buah dan daun mangrove S.albacukup besar. Maka buah dan daun mangrove S.albadapat dijadikan sebagai sumber tanin. Hal ini sesuai dengan pendapatSoenardi, (1985)dalam Hamidah, (2007) yang menyatakan bahwa kadar tanin hanya ekonomisapabila kadar tanin yang diperoleh lebih dari 5%. Kadar tanin yang didapat pada buah dan daun mangrove S.albaini jauh lebihtinggi dari nilai yang dipersyaratkan.

51 5.2 Ekstraksi Flavonoid.

Persiapan Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada penelitian penentuan total flavonoid pada buah, daun dan kulit batang mangrove S.alba menggunakan metode fitokimia dan kolorimetri alumunium klorida adalah seperangkat alat gelas, vacum rotary evaporator (Eyela water bath 58-650), timbangan analitik PW 214, termometer, oven, stopwatch, toples, spektrofotometer UV-Vis T80.

Bahan yang digunakan pada penelitian penentuan total flavonoid pada buah, daun dan kulit batang mangrove S.alba menggunakan metode fitokimia dan kolorimetri alumunium klorida adalah buah, daun dan kulit batang mangrove (S.alba) berdiameter 15 cm. Bahan-bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini adalah metanol 75%, AlCl3 10%, NaOH 10%, H2SO4 0.25N, HCl pekat, kuersetin, serbuk magnesium. Bahan penunjang yang digunakan adalah kertas saring, alumunium foil, kapas dan tisu.

Prosedur Kerja

Sampel yang digunakan yaitu daun muda, buah tanpa biji dan kulit batang mangrove S. alba. Sampel dicuci sampai bersih menggunakan air mengalir kemudian diangin-anginkan dan dikeringkan menggunakan pengering mekanik pada suhu 50-60o C, kemudian dihaluskan lalu diekstraksi. Pelarut pengekstraksi flavonoid yang digunakan adalah pelarut polar (metanol). Hasil ekstrak diuji keberadaan flavonoid menggunakan metode fitokimia kemudian dilanjutkan dengan penentuan total flavonoid metode kolorimetri alumunium klorida.

Pekerjaan dilakukan dalam empat tahap, yaitu preparasi sampel, ekstraksi flavonoid dengan metode maserasi, identifikasi flavonoid dengan metode fitokimia dan penentuan total flavonoid menggunakan metode kolorimetri alumunium klorida.

52 Ekstraksi Menggunakan Metode Maserasi

Dokumen terkait