• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Robbins, Stephen P. (2006, h. 303), kelompok didefinisikan sebagai dua individu atau lebih, yang berinteraksi dan saling bergantung, yang bergabung untuk mencapai tujuan tertentu. Kelompok dapat bersifat formal maupun informal. Kelompok formal adalah kelompok yang diterapkan berdasarkan struktur organisasi, dengan penugasan kerja yang sudah ditentukan. Dalam kelompok formal, perilaku-perilaku yang harus ditunjukan dalam kelompok ini ditentukan oleh dan diarahkan ke sasaran organisasi. Enam anggota awak pesawat merupakan contoh kelompok formal. Kelompok informal adalah persekutuan yang tidak terstruktur secara formal dan tidak ditetapkan secara organisasi. Kelompok ini terbentuk secara alamiah dalam suasana kerja yang muncul sebagai tanggapan terjadap kebutuhan akan kontak sosial. Tiga karyawan dari departemen berbeda yang secara teratur makan siang bersama merupakan contoh keompok informal.

Kondisi Eksternal yang Dipaksakan ke Kelompok

Untuk mulai memahami perilaku kelompok kerja, perlu memandangnya sebagai substansi yang tertanam ke dalam sistem yang lebih besar. Kelompok kerja tidak muncul dalam isolasi. Dia merupakan bagian dari organisasi yang lebih besar. Tim riset di Divisi Plastik Dow, misalnya, harus hidup dalam aturan-aturan dan kebijakan yang diberlakukan oleh kantor pusat divisi itu dan kantor-kantor korporasi Dow. Jadi semua kelompok kerja dipengaruhi oleh kondisi eksternal yang dipaksakan dari luar. Kondisi-kondisi eksternal ini mencakup strategi keseluruhan organisasi, struktur wewenag, peraturan formal, sumber daya, proses seleksi karyawan, evaluasi kerja dan sistem imbalan, budaya, dan tatanan kerja fisik.

Sumber : Stephen P.Robbins (2006,h.309) Sumber Daya Anggota Kelompok

Sebagian besar potensi tingkat kinerja kelompok bergantung pada sumber daya yang dibawa masing-masing anggota ke kelompok. Dalam bagian ini, kita melihat dua sumber daya yang telah menerima paling besar, yaitu kemampuan dan karakteristik keperibadian.

1. Pengetahuan, keterampilan dan kemampuan

Sebagian kinerja kelompok dapat diperkirakan dengan menilai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan masing-masing anggota. Tentu, kadang kita baca berita mengenai tim atletik yang dibentuk dari pemain-pemain biasa yang karena pelatihan yang bagus sekali, tekad dan kerja tim yang cermat, mampu mengalahkan kelompok pemain yang jauh lebih berbakat. Tetapi kasus semacam itu dimunculkan sebagai berita karena merupakan penyimpangan. Tinjauan terhadap bukti telah menemukan bahwa keterapmilan hubungan antarpersonal secara konsisten muncul sebagai hal yang penting bagi kinerja tinggi kelompok kerja. Semua ini mencakup manajemen konflik dan resolusinya, pemecahan masalah kolaboratif, dan komunikasi. Sebagai contoh, para anggota harus mampu mengenal jenis dan sumber konflik yang melanda kelompok dan mengimplementasikan strategi resolusi konflik yang tepat, untuk mengidentifikasi situasi-situasi yang menuntut pemecahan masalah kelompok secara partisipatif dan memanfaatkan tingkat dan jenis partisipatif secara tepat, dan untuk mendengar tanpa melakukan penilaian setara menggunakan secara tepat teknik pendengaran aktif.

2. Karakteristik kepribadian

Ada banyak riset tentang hubungan antara ciri kepribadian, dan sikap beserta perilaku kelompok. Kesimpulan umumnya adalah bahwa ciri yang cenderung mempunyai konotasi positif dalam budaya kita akan cenderung berhubungan secara positif dengan produktifitas, semangat, dan kohesifan kelompok. Ini mencakup ciri-ciri seperti misalnya kemahiran bergaul (sosiabilitas), inisiatif,

Keadaan luar yang dipaksakan dalam kelompok Sumber Anggota Kelompok Struktur Kelompok Proses Kelompok Kinerja dari Kepuasan Tugas Kelompok

keterbukaan, dan kelenturan. Karekteristik yang dievasluasi secara negatif seperti misalnya otorititarisme, dominasi, dan ketidakkonvensionalan cenderung berhubungan secara negatif dengan dengan variabel-variabel bergantung. Ciri-ciri keperibadian ini berdampak pada kinerja kelompok yang sangat mempengaruhi cara individu itu berinteraksi dengan anggota kelompok yang lain.

Struktur kelompok

Kelompok kerja bukanlah gerombolan yang tidak terorganisasi. Mereka mempunyai struktur membentuk perilaku anggotanya dan memungkinkan untuk menjelaskan dan meramalkan sebagaian besar perilaku individu di dalam kelompok maupun kinerja kelompok itu sendiri. Variabel struktur ini adalah kepemimpinan formal, peran, status kelompok, ukuran kelompok, komposisi kelompok, dan tingkat kohesivitas (keeratan) kelompok.

Proses Kelompok

Mengapa proses penting untuk memahahi perilaku kerja? Salah datu cara untuk menjawab pertanyaan ini adalah kembali ke topik mengenai kemalasan sosial (social loafing). Kita jumpai bahwa 1+1+1 tidak seharusnya sama dengan 3. Dalam tugas-tugas kelompok di mana sumbangan tiap anggota tidak tampak dengan jelas, ada kecenderungan bagi individu untuk mengurangi upaya mereka. Dengan kata lain, kemalasan sosial melukiskan derugian juga dapat menghasilkan hasil yang positif. Yaitu, kelompok dapat menciptakan output yang lebih besar daripada jumlah input-nya.

Sinergi adalah istilah yang digunakan dalam biologi yang mengacu ke tindakan dua atau lebih substansi (zat) yang menghasilkan dampak atau efek yang berbeda dari penjumlahan masing-masing substansi itu. Kita dapat menggunakan konsep itu untuk memahami proses kelompok dengan lebih baik.

Gambar 8.2. Dampak dari Proses Kelompok

+ - =

Sumber : Stephen P.Robbins (2006,h.330) Tugas-tugas Kelompok

Tugas dapat dijeneralisasikan sebagai hal yang sederhana atau rumit. Tugas rumit adalah tugas yang cenderung baru atau tak rutin. Tugas sederhana adalah tugas rutin dan terbaku. Kami akan memberikan hipotesis bahwa makin rumit

Keefektifan kelompok

potensial

Keuntungan

Proses Kerugian Proses KeefektifanNyata Kelompok

tugas itu, makin banyak kelompok itu mendapatkan manfaat dari diskusi antara anggota-anggotanya mengenai metode kerja alternatif. Jika tugas itu sederhana, anggota kelompok tidak perlu membahas alternatif-alternatif semacam itu. Mereka dapat mengandalkan pada prosedur operasi yang baku untuk mengerjakan tugas itu. Sama halnya pula, jika interdependensi itu tinggi diantara tugas-tugas yang harus dilakukan oleh para anggota kelompok, mereka memerlukan lebih banyak interaksi.

Oleh karena itu, komunikasi yang efektif dan tingkat konflik minimum seharusnya lebih relevan dengan kinerja kelompok bila tugas itu interdependensi. Kesimpulan dari konsisten dengan apa yang kita ketahui mengenai kapasitas pemrosesan informasi dan ketidakpastian. Tugas yang mempunyai ketidakpastian yang tinggi yaitu tugas yang rumit dengan interdependen menuntut lebih banyak pemrosesan informasi. Selanjutnya ini menyebabkan pemrosesan kelompok menjadi lebih penting. Jadi hanya karena kelompok dicairkan oleh komunikasi yang buruk, kepemimpinan yang lemah, tingkat konflik yang tinggi dan semacamnya, namun tidak harus berarti kinerjanya akan rendah. Jika proses kelompok sederhana dan tidak banyak menuntut interdependensi di antara anggota-anggotanya, kelompok itu masih mungkin efektif.