• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERILAKU KONSUMSI KONSUMEN MUSLIM TERHADAP HALAL MARKETING

Dalam dokumen April 2019, Pukul WIB) (Halaman 51-64)

oleh

Andin Nesia, Ari Pandu Witantra Abstrak

Saat ini konsumen sudah dapat melihat baik di iklan televisi hingga di iklan media sosial berskala UMKM sudah banyak menonjolkan sertifikasi Halal sebagai bagian dari kelebihan produk mereka. Jika kita tilik lebih lanjut, pastinya mereka merasakan bahwa Halal Marketing adalah sebuah keharusan untukmenjadikan produk mereka lebih dipercaya konsumen. Bagaimana perilaku konsumen muslim terhadap halal marketing? bagaimana pola konsumsi konsumen muslim terhadap halal marketing? Penelitian ini akan mencoba membahas dua pertanyaan diatas dengan mencari fakta di lapangan menggunakan teknik pengumpulan data Focus Group Discussion.

PENDAHULUAN

Dalam sebuah jurnal Marketing Management and Consumer Behavior, Vol. 1, Issue 5 tahun 2017 yang ditulis oleh Najmaei M, disebutkan bahwa ekonomi islam adalah salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat di dunia, yang diperkirakan akan mencapai 3 triliun dollar pada tahun 2021. Makanan halal merupakan salah satu segmen yang berkontribusi di dalamnya dengan 1.17 triliun pada tahun 2015. Muslim dalam kehidupannya, berpegang pada landasan Al Quran dan hadist, dua hal inilah yang digunakan oleh produsen dalam menentukan kebijakan promosi mereka.

Merek sebagai identitas produk didefinisikan secara standar oleh The American Marketing Association sebagai nama, kata, tanda, simbol atau desain, atau kombinasi daripadanya.

Bertujuan untuk mengidentifikasi barang/jasa dari satu penjual ke sekelompok penjual dan untuk membedakan mereka dari

kompetitornya. Pengaplikasian merek sebagai identitas sebuah produk secara administratif akan memudahkan pencatatan baik secara proses penyimpanan atau pun distribusi dari tingkat produsen hingga pengecer karena sebagai sarana identifikasi merek akan memudahkan proses penanganan atau pelacakan produk bagi perusahaan, terutama dalam pengorganisasian sediaan dan pencatatan akutansi.

Tingginya tingkat pembajakan pada produk-produk yang memiliki reputasi bagus di pasaran menjadi ancaman bagi produsen dan penanam saham. Jaminan keuntungan yang meningkat secara berkala di masa depan menjadi terancam saat prestasi yang dibuktikan melalui tingkat kepuasan pelanggan yang tinggi lalu dibajak dengan tampilan (kemasan, bentuk dan rasa) yang serupa dan dipasarkan dengan harga di bawah harga pasar dengan kualitas produk yang buruk. Untuk mengantisipasi hal ini merek dapat dijadikan bentuk perlindungan hukum terhadap fitur atau aspek produk yang unik. Merek bisa mendapatkan perlindungan properti intelektual. Nama merek bisa dilindungi melalui merek dagang terdaftar (registered trademark), proses pemanufakturan bisa dilindungi melalui hal paten dan kemasan bisa diproteksi melalui hak cipta (copyrights) dan desain. Hak-hak properti intelektual ini memberikan jaminan bahwa perusahaan dapat berinvestasi dengan aman dalam merek yang dikembangkannya dan meraup manfaat dari aset bernilai tersebut.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh Republika, Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) menyampaikan, sejak 2012 sampai 2018, tercatat sebanyak 55.626 perusahaan disertifikasi halal, 65.116 sertifikat halal diterbitkan dan 688.615 produk disertifikasi halal. Namun jumlah produk yang sudah disertifikasi halal masih sedikit dibanding yang belum disertifikasi halal.

"Sangat banyak (produk yang belum disertifikasi halal, Red), kalau kita bandingkan data yang bersertifikat halal sekitar 600 ribu produk, produk yang beredar jutaan, memang masih sedikit," kata Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim kepada Republika.co.id

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam- nusantara/19/01/17/plf0dn384-688615-produk-disertifikasi-halal-sejak-2012-hingga-2018 Pada 2016, sebanyak 6.564 perusahaan disertifikasi halal, 7.393 sertifikat halal diterbitkan dan 114.264 produk disertifikasi halal. Tahun 2017, sebanyak 7.198 perusahaan disertifikasi halal, 8.157 sertifikat halal diterbitkan dam 127.286 produk disertifikasi halal.

Kemudian pada 2018, sebanyak 11.249 perusahaan disertifikasi, 17.398 sertifikat halal diterbitkan dan 204.222 produk disertifikasi halal. Sejak 2012 sampai 2018, perusahaan dan produk yang disertifikasi halal terus mengalami peningkatan.

Hal ini seharusnya menjadi tawaran menarik bagi para konsumen muslim dengan banyaknya pilihan produk yang sudah terserifikasi halal. Namun , tidak memungkinkan bahwa hal ini bukanlah merupakan sebuah penawaran menarik bagi sebagian konsumen muslim. Atau bahkan bisa saja mereka tidak menyadari keberadaan produk-produk halal tersebut. Mereka bisa saja tidak menyadari bahwa produk yang biasa mereka konsumsi sehari-hari sudah bersertifikat halal, dan bahwa mereka mempunyai banyak tawaran menarik dalam hal ini. Berdasarkan hal tersebut maka menarik untuk dilakukan analisa, bagaimana perilaku konsumen dalam mengkonsumsi produk dalam keseharian mereka. Apa yang menjadi preferensi mereka dalam pemilihan produk. Apakah sertifikat halal menjadi salah satu alasan mereka dalam memutuskan mengkonsumsi sebuah produk.

Penelitian ini memiliki rumusan masalah yang merupakan konseptualisasi terhadap peristiwa/ kasus dalam arti penggunaan satu atau lebih konsep terhadap suatu fenomena/ peristiwa/ kasus

dengan sebuah cara berpikir tertentu dalam proses penelitian baik berdasarkan pendekatan, paradigma maupun jenis dan metode penelitian tertentu (Hamad, 2005:2). Maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Perilaku Konsumsi Konsumen Muslim Terhadap Halal Marketing.

Pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian bisa saja berasal dari suatu persoalan yang diperoleh selama berlangsungnya proses penelitian, dari peristiwa atau pengalaman penting yang terjadi dalam kehidupan keseharian kita, hasil konsultasi dengan peneliti lain, atau berasal dari literatur-literatur teknis (Strauss &

Corbin, 1990) dalam (Denzin & Lincoln, 2009:278). Maka pertanyaan penelitiannya adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana perilaku konsumen muslim terhadap halal marketing

2. Mengidentifikasi pola konsumsi konsumen muslim terhadap halal marketing

Dalam riset kali ini Peneliti bertujuan mencari sebuah temuan dari penelitian. Temuan yang dimaksud adalah (bukti) yang hendak dicari dari penelitian berdasarkan permasalahan dan paradigma serta metode penelitian yang digunakan (Hamad, 2005:2). Adapun tujuan penelitannya adalah sebagai berikut:

1. Mengungkapkan perilaku konsumen muslim terhadap halal marketing

2. Mengidentifikasi pola konsumsi konsumen muslim terhadap halal marketing

Manfaat penelitian adalah berupa buah atau implikasi dari hasil penelitian baik terhadap teori, metode penelitian, praktis maupun sosial. Maka dari itu peneliti memiliki harapan agar penelitian ini dapat berimplikasi positif kepada bidang keilmuan dan bidang praktis (Hamad, 2005:2), sebagai berikut:

1. Bagi pengembangan ilmu:

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memperkaya kajian perkembangan studi ilmu komunikasi, khususnya kajian

tentang komunikasi pemasaran sehingga penelitian ini dapat dikembangkan di masa mendatang.

2. Bagi kepentingan guna laksana (praktis):

Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat dalam memecahkan masalah-masalah komunikasi, dapat membantu masyarakat untuk memahami strategi marketing dari produsen.

Konsep Marketing

Menurut Uyung Sulaksana dalam bukunya integrated marketing communication, Marketing Concept yang popular setelah tahin 1950-an, menganut bahwa strategi pemasaran bergantung pada pemahaman lebih baik pada konsumen. Sebuah produk mesti diposisikan untuk menyampaikan seperangkat benefit kepada segmen konsumen tertentu. Iklan dirancang untuk mengkomunikasikan simbol-simbol dan citra yang menunjukan bagaimana merek menyodorkan benefit-benefit sehingga tercipta sikap positif kepada merek tersebut, dan mendoroong konsumen untuk mencoba produk (trial). Iklan juga berfungsi agar setelah konsumen melakukan pembelian, pilihan terhadap merek dapat terus diperkuat lagi untuk mempengaruhi mereka membeliulang merek tersebut.

Untuk saat ini, pergeseran dari orientasi penjualan ke orientasi konsumen tidak terjadi begitu saja. Pergeseran ke orientasi konsumen mengubah kondisi pemasaran tersebut dengan (1). Lebih mendukung riset perilaku konsumen; (2).

Menciptakan kerangka strategi yang lebih berorientasi konsumen;

(3). Menekankan segmentasi pasar; (4). Menekankan positioning produkuntuk memenuhi kebutuhan konsumen; (5). Mendorong selektifitas dalam periklanan dan penjualan langsung; dan (6).

Mendorong selektifiktas media dan outlet distribusi.

Agar sukses bertahan, perusahaan dituntut menyesuaikan diri dengan pergeseran kebutuhan konsumen dan tren lingkungan.

Tren-tren baru yang turut mempengaruhi strategi pemasaran yaitu meningkatnya orientasi kepada nilai (value), meningkatnya kebutuhan dan akses pada informasi, serta keinginan untuk melakukan kustomisasi produk agar lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Beberapa konsumen melihat nilai, baik pada barang paling mahal maupun barang paling murah untuk masing-masing kategori produk tertentu. Konsumen menjadi pembelanja yang lebih sadar dan percaya diri. Alasannya adalah makin luasnya aksesbilitas informasi dan opsi-opsi belanja. Makin maraknya saluran swasta ikut mendorong tersedianya informasi produk yang berlimpah melalui saluran home-shopping dan informercial.

Banyak perusahaan terjun kedunia Internet sejak tahun 1990-an dengan mengelola situs untuk mempromosikan merek-merek mereka.

Konsumen yang makin canggih, akses informasi yang luas dan penekanan pada nilai memungkinkan konsumen memperoleh produk yang lebih cocok sesuai kebutuhan mereka.

Konsumen kini lebih menghargai keragaman pilihan dengan harga yang terjangkau tren kustominasi akan cenderung meningkat, sehingga pemasar sekarang lebih membidik segmen-segmen yang makin kecil bahkan individu.

Konsumen dan konsep halal

Menurut undang-undang perlindungan konsumen Pasal 1 angka 2, Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan (Susanto, 22)

Dalam web resmi MUI, dijelaskan bahwa Sertifikat Halal MUI adalah fatwa tertulis Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syari‘at Islam.

Sertifikat Halal MUI ini merupakan syarat untuk mendapatkan

ijin pencantuman label halal pada kemasan produk dari instansi pemerintah yang berwenang.

Sertifikasi Halal MUI pada produk pangan, obat-obat, kosmetika dan produk lainnya dilakukan untuk memberikan kepastian status kehalalan, sehingga dapat menenteramkan batin konsumen dalam mengkonsumsinya. Kesinambungan proses produksi halal dijamin oleh produsen dengan cara menerapkan Sistem Jaminan Halal.

Pendekatann Penelitian

Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah dirumuskan di atas, Peneliti akan menggunakan pendekatan Kualitatif.

Penelitian kualitatif adalah metode riset yang didasarkan pada evaluasi subjektif perilaku, sikap, atau event. Teknik riset kualitatif mencakup kelompok fokus. Riset kualitatif melibatkan jauh lebih kecil sampel responden dan sering digunakan untuk memverifikasi teknik riset kuantitatif. Sedangkan Penelitian kuantitatif, metode riset berdasarkan pada jawaban yang mutlak dan definitif. Kelompok besar orang dapat disurvei, kemudian statistik dan data dapat dikumpulkan. Riset kuantitatif sering digunakan bersama dengan riset kualitatif untuk membuktikan bukti keras. Ensiklopedia Komunikasi (Sobur, 2014:694).

Tema penelitian ini adalah mengenai perilaku konsumsi konsumen muslim terhadap halal marketing, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam mengenai hal tersebut, peneliti memerlukan data yang bukan sekadar angka-angka, tetapi kedalaman data yang dapat diperoleh melalui wawancara, observasi dan Focus Group Discussion. Kriyantono (2006:116) menjelaskan bahwa Focus Group Discussion adalah metode pengumpulan data atau riset untuk memahami sikap dan perilaku khalayak. Biasanya terdiri dari 6-12 orang yang secara bersamaan dikumpulkan, diwawancarai, dengan dipandu oleh moderator.

Teknik Analisis Data

Moderator memimpin responden (peserta diskusi) tentang topic yang dipersiapkan melalui diskusi yang tidak terstruktur.

Analisis data dilakukan dengan mengklasifikasikan data ke dalam kategori-kategori tertentu, dengan mempertimbangkan kesahihan data, dengan memperhatikan subjek penelitian, tingkat autentisitasnya dan melakukan triangulasi berbagai sumber.

Setelah diklasifikan, peneliti akan melakukan pemaknaan terhadap data dengan berteori dan beragumentasi. Sedangkan analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model komunikasi interaktif sebagai strategi yang efektif dalam mensosialisasikan program kepada masyarakat desa, dengan alasan:

1. Tidak bersifat instruktif;

2. Prosesnya menyebar ke segala arah sehingga arus informasinya berjalan timbal balik dari dan ke segala arah diantara pihak- pihak yang terlibat;

3. Kesamaan posisi antara pihak komunikan dan komunikatornya, sehingga tidak ada perasaan inferior dan superior, sehingga hasil komunikasinya dianggap sharing.

PEMBAHASAN

Pengetahuan umum tentang ketentuan produk halal

Pengetahuan umum yang dimiliki peserta FGD selaku konsumen mengenai ketentuan produk halal banyak didapatkan melalui pendidikan di dalam keluarga. Mereka juga banyak merujuk ayat dalam kitab suci dan hadis untuk mengetahui ketentuan produk halal.

Sebagian peserta FGD memandang bahwa produk yang dinilai halal adalah produk yang memiliki label halal dari MUI.

Sementara itu sebagian peserta FGD juga memandang bahwa

produk-produk halal yang tersebar dipasar dagang Indonesia belum tentu memiliki label halal dari MUI. Satu dari sembilan peserta FGD berpendapat bahwa pengelompokan halal dan haram perlu memperhatikan bahan, cara pembuatan dan penyajian sebuah produk.

Pandangan tentang perkembangan produk halal di dunia umumnya di Indonesia secara khusus

Perkembangan pasar dagang di Indonesia hari ini ternyata dapat dikatakan liberal. Berbagai produk di dunia berlomba masuk ke dalam pasar dagang Indonesia.

Seluruh peserta FGD meragukan label halal yang ada pada produk-produk impor, yang mana label halal ini merupakan pemberian dari lembaga penjamin produk halal luar negeri. Hal ini dikarenakan mereka meragukan standar spesifikasi produk halal yang ada pada lembaga penjamin produk halal luar negeri.

Satu dari peserta FGD memandang bahwa setiap produk impor perlu mengikuti regulasi yang ada di Indonesia, dan apabila produk tersebut tidak bersedia mengikuti regulasi mengenai produk halal yang ada di Indonesia maka pemerintah perlu menolak produk impor ini masuk ke wilayah Indonesia.

Sementara sampai hari ini, produsen produk-produk impor yang masuk ke pasar Indonesia memahami regulasi standar halal di Indonesia. Hal ini memengaruhi proses produksi produk impor yang akan masuk di Indonesia. Namun, pada dasarnya keseluruhan peserta FGD tidak menyetujui pemberian label halal pada produk impor yang mana label halal ini tidak dikeluarkan oleh MUI.

Pandangan tentang maraknya produk halal

Satu dari sembilan peserta FGD memandang bahwa trend produk halal telah terjadi sejak tiga tahun lalu. Seluruh peserta FGD memandang pentingnya produk berlabel halal di pasar

Indonesia. Dengan adanya ketentuan legalitas halal dari suatu produk dapat menekan perilaku pasar yang meng-kapitalisasi produk secara liberal.

Sementara seorang peserta FGD juga memandang bahwa label halal pada produk non makanan, seperti pada hijab justru dijadikan alat strategi marketing yang dapat menjatuhkan pesaingnya di pasar dagang. Pada dasarnya trend halal yang saat ini terjadi berjalan beriringan dengan trend hausnya nilai religi di kalangan masyarakat modern.

Pengetahuan tentang UU No 33/2014 dan BPJPH Mengenai UU No 33/2014

Delapan dari sembilan peserta FGD belum mengetahui tentang UU No 33/2014. Di dalam UU No 33/2014 mengatur bahwa setiap produk yang beredar di pasar dagang Indonesia harus sesuai bersertifikasi halal dan sertifikasi halal tidak lagi dikeluarkan oleh MUI. Sertifikasi halal akan dikeluarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal yang berdiri di bawah naungan Kementerian Agama. Dibentuknya Lembaga Penjamin Halal yang berada di bawah naungan Kementerian Agama diharapkan dapat meningkatkan keyakinan pasar internasional terhadap produk-produk halal Indonesia.

Pandangan tentang regulasi/undang-undang produk halal di Indonesia

Regulasi/undang-undang produk halal di Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan masyarakat yang sadar akan pentingnya label halal pada produk-produk di pasar Indonesia. Di sisi lain, sering terjadi perdebatan alot tentang biaya administrasi yang harus dibayarkan produsen agar produknya mendapat sertifikasi halal membuat para peserta FGD mencurigai bahwa penyelenggaraan label halal justru dijadikan bisnis oleh lembaga terkait.

Perilaku pembelian konsumen

Peserta FGD, lebih sering mengonsumsi produk berlabel halal, yang beredar di pasar Indonesia. Meskipun belum seluruh produk halal di Indonesia bersertifikasi halal, konsumen tetap memperhatikan standar halal yang telah ditentukan oleh agama islam. Dalam memilih produk impor, konsumen pun cenderung membeli produk impor yang berlabel halal. Hal ini menunjukkan bahwa trend produk halal sedang berkembang di tengah masyarakat modern.

Sikap terhadap produk non halal

Peserta FGD yang juga seorang konsumen lebih menghindari produk non halal. Hal ini dilakukan sebagai langkah menjaga diri dari sesuatu yang tidak halal menurut pandangan islam. Konsumen juga dapat menekan produsen agar menyediakan produk halal dan melegalkan status halal pada produk yang diperjualbelikan dengan mensertifikati produk tersebut.

Pola pencarian/referensi informasi produk halal

Seluruh peserta FGD cenderung melakukan pola pencarian/referensi informasi produk halal dengan membaca komposisi produk yang akan di beli. Pada sistem penjualan online, peserta FGD yang akan membeli akan menanyakan langsung kepada penjual mengenai kehalalan produk yang dijual.

Dan ketika dihadapkan pada produk tertentu yang sedang viral, peserta FGD akan melakukan pencarian via google mengenai kehalalan produk tersebut

Peran konsumen terhadap halal marketing

Dengan adanya perkembangan teknologi di era 4.0 hari ini ternyata memfasilitasi peran konsumen sebagai agent of control. Hari ini konsumen dapat menggunakan media sosial

untuk mempertanyakan kehalalan suatu produk secara masif, sehingga akan menekan produsen untuk menyediakan produk-produk yang sesuai dengan standar halal umat muslim. Sementara itu, standardisasi produk halal perlu di atur dalam suatu payung hukum yang jelas. Artinya, pemerintah memiliki kewajiban untuk membuat aturan regulasi mengenai standardisasi produk-produk yang tersebar di pasar Indonesia.

Pada akhirnya, konsumen memiliki peran penting terhadap pembuatan regulasi yang mengatur standardisasi produk-produk yang diperjualbelikan di pasar dagang Indonesia.

Pandangan tentang strategi halal marketing

Pola strategi halal marketing tercipta beriringan dengan kondisi penduduk muslim dunia yang terus tumbuh dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Strategi halal marketing ini kemudian dimanfaatkan oleh pelaku kapital untuk mengalahkan pesaingnya.

Dampak dari strategi halal marketing pada akhirnya akan menciptakan persaingan dagang yang kurang sehat. Klaim halal pada suatu produk akan menjatuhkan pesaingnya justru dikapitalisasi, sehingga akan muncul ledakan produk halal di kemudian hari.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil FGD yang telah dilakukan, sementara dapat disimpulkan bahwa pada umumnya konsumen muslim sudah mengetahui dan memahami tentang syarat produk halal dan haram. Dalam melakukan konsumsi, mereka percaya pada pengetahuan mereka tentang ketentuan produk halal dan menjadikan pemahaman mereka sebagai dasar dalam melakukan pembelian produk. Para peserta FGD juga menganggap maraknya produk halal saat ini merupakan strategi marketing yang

diterapkan oleh para produsen untuk menambah nilai dari produk mereka.

PUSTAKA

Kriyantono, S.Sos,M.Si, Rachmat.2006. Teknik Praktik Riset Komunikasi, Jakarta: Kencana Media

Najmaei M. et al. / Journal of Marketing Management and Consumer Behavior, Vol. 1, Issue 5 (2017) 53-62

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam- nusantara/19/01/17/plf0dn384-688615-produk-disertifikasi-halal-sejak-2012-hingga-2018

http://www.halalmui.org/mui14/index.php/main/go_to_section/55 /1360/page/1

.

Dalam dokumen April 2019, Pukul WIB) (Halaman 51-64)

Dokumen terkait