• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

2. Perilaku Mahasiswa

a. Pengertian Perilaku

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V, perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Berikut adalah beberapa pengertian menurut para ahli, di antaranya:

1) Menurut Robert Kwick, perilaku adalah tindakan yang dapat

diamati dan dipelajari.9

2) Menurut Polauspessy menguraikan perilaku adalah sebuah

gerakan yang dapat diamati dari luar.10

9 Sunaryo. (2002). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. h. 3

19 3) Menurut Notoatmodjo perilaku dapat diartikan suatu respon

organisme atau seseorang terhadap rangsangan dari luar

subjek tersebut.11

Sederhananya dapat dipahami perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Perilaku pada penelitian ini didefinisikan sebagai cara mahasiswa bertindak setelah menerima, berpikir dan merasakan rangsangan informasi video hoaks yang diterima.

Dalam bertindak dan berfikir seseorang didasari oleh pengalaman, pengetahuan,dan argumentasi melalui bacaan. Islam sendiri telah menegaskan kepada umatnya untuk membaca. Penegasan ini terdapat pada surah Al-Alaq ayat pertama dan ketiga.

َقَل َخ ي ِذَّلٱ َكِِبَر ِم ۡسٱِب أَرۡقٱۡ

١

….

ُمَر ۡكلۡٱ َكُّب َر َو َ ۡ ۡ

أَرۡقٱ

٣

Artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang

menciptakan,…. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah”

Rasulullah pun telah memberikan perumpaan kepada orang yang membaca dan tidak membaca.

11 Sunaryo. (2002). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. h. 3

20

َع

ْن

َ

أ ِب

َع ي

َّب

ٍسا

َر

ِ ض

َي

ُالل

َع

ْن ُه

َم

َق ا

َلا

:

َلاَق

َسْيل ْي ِذَ َّلا َّنِإ : م ص ِالل ُلْو ُسَر

)يذمرتلا هاور( ِبْرَخلا ِتْيَبلاَك ِنآْرُقلا َنِم ءْي َ ش ِهِفْوَج يِف

Artinya:

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra. Bahwa Rasulullah

SAW bersabda: sesungguhnya orang yang di dalam mulutnya tidak ada Alquran bagaikan rumah yang runtuh.

b. Batasan Perilaku Manusia

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus, perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu perilaku tertutup (covert behavior)

dan perilaku terbuka (overt behavior).12 Perilaku sendiri

memiliki batasan yang dibedakan oleh Bloom dalam tiga domain perilaku yaitu kognitif (cognitive), afektif (affective) dan psikomotorik (psychomotor). Terdapat tiga ranah perilaku,

di antaranya:13

1) Pengetahuan (knowledge)

Hal ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku. Pengetahuan didapatkan dari hasil penginderaan seseorang terhadap sesuatu.

2) Sikap (attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Keyakinan

12 Sunaryo. (2002). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. h. 15

13 Mia Lasmi Wardiah. (2016). Teori Perilaku dan Budaya Organisasi. Bandung: Pustaka Pedia. h. 16-19

21 seseorang mengenai objek atau situasi yang disertai adanya perasaan tertentu, serta dapat memberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respon atau berperilaku dalam cara

tertentu yang dipilihnya.14 Rakhmat mendefinisikan sikap

adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Sedangkan menurut Pane, sikap merupakan suatu perilaku yang mencerminkan pola berpikir, suasana batin dan motif seseorang.15

3) Tindakan (practice)

Merupakan berbagai kecenderungan untuk bertindak dari segi praktik. Untuk mewujudkan sikap menjadi tindakan diperlukan kondisi yang mendukung seperti fasilitas dan sarana

prasarana.16

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Manusia

Faktor biologis, merupakan dasar perkembangan perilaku

makhluk hidup, antara lain:17

1) Jenis ras, setiap ras di dunia memiliki perilaku yang spesifik, saling berbeda satu sama lainnya.

14 Sunaryo. (2002). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. h. 196

15 Livia Paranita K. (2014). Sikap Masyarakat Surabaya Terhadap Tayangan Talkshow @Show_Imah di Trans TV. Jurnal E-Komunikasi. Vol. 2 No. 1 h. 4

16 Mia Lasmi Wardiah. (2016). Teori Perilaku dan Budaya Organisasi. Bandung: Pustaka Pedia. h. 16-19

17 Sunaryo. (2002). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. h. 10

22 2) Jenis kelamin, perbedaan perilaku pria dan wanita dapat

dilihat dari cara berpakaian dan melakukan pekerjaan sehari-hari.

3) Sifat fisik, perilaku individu akan berbeda karena sifat fisiknya.

4) Sifat kepribadian, meliputi pola pikiran, perasaan dan perilaku yang digunakan seseorang dalam usaha adaptasi terhadap hidupnya.

5) Bakat pembawaan, menurut Notoatmodjo kemampuan individu untuk melakukan sesuatu yang sedikit sekali bergantung pada latihan mengenai hal tersebut.

6) Intelegensi, kemampuan untuk berpikir abstrak. Sedangkan Ebbinghaus mendefinisikan intelegensi adalah kemampuan untuk membuat kombinasi.

Faktor sosiopsikologis, manusia memperoleh beberapa karakteristik yang mempengaruhi perilakunya, diantaranya adalah18:

1) Komponen afektif atau apek emosional yang memiliki kaitan erat pada proses sosial.

2) Komponen kognitif yakni intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia.

3) Komponen konatif, berkaitan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.

18 Yeha Rehina Citra Mahardika. (2017). Perilaku Mahasiswa Dalam Menyikapi Pemberitaan Hoax Di Media Sosial Facebook. Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Diakses pada 22 Mei 2020 pukul. 18.45 WITA

23

3. Mahasiswa Sebagai Digital Native

Helsper & Enyon (2009) mengatakan bahwa digital native adalah generasi muda yang lahir saat internet telah menjadi bagian hidup mereka. Mereka mahir menggunakan gawai untuk bermain game

online, menonton youtube, dan mengakses kegiatan lainnya. Seiring

perkembangan usia mereka, kemampuan mereka menggunakan

smartphone semakin meningkat di masa kanak-kanak dan remaja.19

Data terbaru yang ditulis oleh DATAREPORTAL dari We Are Social menyatakan bahwa terdapat 175.4 juta pengguna internet di Indonesia

pada Januari 2020.20

Dalam buku Grown Up Digital yang ditulis oleh Don Tapscott

membagi generasi menjadi beberapa kelompok21:

a. The Baby Boom (1946-1964)

Generasi ini dapat disebut “generasi perang dingin” atau “generasi pertumbuhan ekonomi.” Orang-orang yang lahir pada tahun ini selain sebagai pekerja, sebagian besar ikut dalam peperangan. Dampak revolusi komunikasi di era ini dipelopori oleh radio dan selanjutnya bergeser menjadi televisi.

b. Gen X / The Baby Bust (1965-1976)

Generasi X termasuk dalam generasi yang mengenyam pendidikan paling baik sepanjang sejarah. Mereka merasakan angka pengangguran yang tinggi dan gaji relatif rendah namun memiliki semangat kerja yang tinggi. Generasi ini adalah komunikator yang agresif dan sangat mengandalkan media,

19 Lucy Pujasari Supratman. (2018). Penggunaan Media Sosial oleh Digital Native. Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 15 Nol 1 h. 47

20 https://datareportal.com/reports/digital-2020-indonesia diakses pada 25 Mei

2020 pukul 11.52

21 Don Tapscott. (2009). Grown Up Digital “How The Net Generation is Changing Your World.” United State: The McGraw Hill Companies. h. 11-16

24 walaupun dengan segmen populasi paling tua dengan kebiasaan berkomputer dan berinternet.

c. The Net Generation/Generasi Internet (1977-1997)

Generasi pertama yang bersifat global dan menyelami angka-angka biner (bit), lebih cerdas, lebih gesit, lebih toleran terhadap keberagaman dibanding pendahulu mereka. Generasi ini juga disebut generasi milenial atau generasi Y.

d. Generasi Mendatang (1998-Sekarang)

Generasi ini adalah kelanjutan dari generasi internet. Generasi ini disebut juga sebagai generasi Z.

Dalam media baru, pengguna media ditempatkan sebagai konsumen dan produsen dalam mengaplikasikan media sosial. Kekritisan berpikir dibutuhkan dalam mengolah informasi media. mengontrol diri tidak hanya dari pesan yang menerpa, tetapi memaknai, memproduksi dan menggunakan media secara etis.

Kecakapan berpikir kritis mengenai media baru dikemukakan Jenknis et al. membagai inti ketarampilan mengenai informasi media

menjadi 11 yaitu:22

1) Play

Play diartikan sebagai kemampuan menggunakan.

Menggunakan dalam artian tidak hanya sekedar mengakses, tetapi juga mengeksplor media baru yang digunakan. Menurut Jenkins, pengguna media baru wajib mengeksplorasi dan mengetahui seluk-beluk aplikasi media baru yang digunakan. Hal ini akan membentuk hubungan pengguna dengan pikiran, komunitas dan lingkungan di dalam gadget (interaksi di dalamnya) serta

22 Henry Jenkins et al. 2007 . Confronting the Challenges of Participatory Culture: Media Education for the 21st Century. Chicago: MacArthur Foundation. h. 4

25 menambah pengetahuan pengguna. Semakin banyak kita menggunakan media, semakin kita melek terhadapnya. Pengguna media baru akan mengetahui fungsi, kelemahan, kelebihan, maupun cara penggunaan media baru tersebut, yang akan menciptakan kesadaran terhadap pengguna.

2) Simulation

Simulation diartikan sebagai kemampuan untuk

menginterpretasikan dan menyelewengkan informasi pesan media. Kemampuan ini didapatkan melalui bereksperimen, berhipotesis, menguji dengan variabel update. Percobaan langsung seperti ini membuat manusia lebih paham, memperkaya pengalaman dan kemungkinan penemuan-penemuan baru, menguji teori melalui

trial and error yang dilakukan, sebagaimana para pakar

menemukan dan menyimpulkan sifat dunia virtual. Kesadaran akan pengalaman bersimulasi merupakan kelanjutan dari kesadaran aktivitas bermedia yang sudah dilewati pada kemampuan play atau menggunakan media.

3) Performance

Performance merupakan kemampuan untuk bermain peran atau

mengadopsi alternatif identitas dalam tujuan improvisasi dan penjelajahan mempelajari sesuatu. Sesuatu yang dimaksudkan di sini adalah pengetahuan dan pengalaman seputar menggunakan media baru. Menurut Jenkins, dengan menjalani peran-peran ini dapat menumbuhkan kekayaan pemahaman akan diri manusia itu sendiri dan peran sosialnya, termasuk cara mereka terkoneksi dengan orang-orang di lingkungan maya tersebut, sehingga membantu dan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Kemampuan mengadopsi beragam identitas membuat manusia

26 dapat memahami perspektif orang lain, peran lain, negara lain, saat lain (konteks), interaksi sosial, posisi sosial, baik di dunia nyata ataupun virtual. Oleh karena itu, semakin manusia menguasai kemampuan ini, semakin melek media manusia tersebut.

4) Appropriation

Kemampuan appropriation diartikan sebagai sebuah proses di mana manusia mengambil sebagian budaya dan menyatukannya dengan berbagai konten media. Bentuknya dapat berupa musik,

subtitle, fashion, maupun picture. Semakin manusia menguasi

kemampuan ini akan semakin melek media karena dari proses ini manusia mempelajari dan berpikir lebih dalam tentang budaya yang akan digunakan, etika dan implikasi legal dari mengkreasikan konten media.

5) Multitasking

Multitasking adalah kemampuan memindai lingkungan dan

mengalihkan fokus ke detail-detail elemen pesan. Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam kemampuan ini. Pertama, atensi atau perhatian, yaitu kemampuan mengkritisi, menyaring informasi asing dan fokus ke rincian paling detail dari lingkungan informasi itu, sehingga mencegah keberlimpahan informasi dengan mengontrol informasi yang masuk ke dalam memori jangka pendek manusia. Kedua, memindai dan memetakan informasi ke dalam kategorinya masing-masing, sehingga dapat mengurangi masuknya informasi ke memori jangka pendek. Keduanya dipekerjakan oleh otak untuk memanajemen kendala memori jangka pendek secara cerdas dengan menyaring dan memetakan pesan/informasi yang masuk.

27 dan merespon lautan informasi yang beredar di sekitar kita. Konteks dunia yang beralih cepat oleh hadirnya media baru

melatarbelakangi kemampuan ini. Manusia harus dapat

membedakan antara mengerjakan tugas dengan mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus (multitasking).

6) Distributed Cognitition

Distributed cognition adalah kemampuan berinteraksi dengan

penuh makna dengan peralatan (media baru) yang memperluas kapasitas mental manusia. Interaksi penuh makna adalah menyadari peran masing-masing elemen dalam media baru atau dalam aplikasi pesan instan. Sedangkan yang dimaksud dengan kapasitas mental adalah kapasitas menyelesaikan masalah yang terjadi dalam interaksi dalam media baru dan kemudian menerapkannya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Sehingga perspektif kemampuan ini adalah membawa kecerdasan terdistribusi antara otak, badan dan dunia nyata.

7) Collective Intelligence

Distributed cognition adalah kemampuan untuk menyatukan

pengetahuan dan membandingkan pendapat dengan orang lain menuju tujuan bersama. Dalam media baru, seringkali terbentuk komunitas yang terjadi akibat ketertarikan akan suatu hal.

8) Judgment

Judgment adalah kemampuan mengevaluasi keandalan dan

kredibilitas sumber-sumber informasi yang berbeda. Meskipun informasi dibagi dari orang-orang yang mempunyai ketertarikan yang sama, belum tentu informasi yang beredar didalamnya kredibel.

28 9) Transmedia Navigation

Transmedia navigation adalah kemampuan untuk mengikuti

aliran cerita dan informasi antara beberapa pengandaian. Dalam era konvergensi, konsumen menjadi pemburu dan pengumpul informasi, untuk menarik informasi dari beberapa sumber dan membuat sintesis baru. Oleh karena itu manusia harus mahir membaca dan menulis melalui gambar, teks, sounds dan simulasi. Cerita transmedia yang paling dasar adalah yang diceritakan di beberapa media. Kemampuan ini meningkatkan pembelajaran untuk memahami relasi antar sistem media yang berbeda.

10) Networking

Networking adalah kemampuan untuk mencari, menyintesis dan

menyebarkan informasi. Dalam dunia di mana pengetahuan diproduksi secara kolektif dan komunikasi terjadi antar media, kapasitas untuk berjejaring muncul sebagai sebuah kemampuan sosial dan budaya. Kemampuan ini meningkatkan kemampuan untuk berselancar antar komunitas sosial yang berbeda. Partisipasi dalam komunitas sosial yang berskala besar menjadi investasi dalam mengumpulkan dan mencatat data untuk pengguna lainnya. Keaktifan partisipasi dibutuhkan dan bergantung pada etos sosial untuk berbagi pengetahuan.

11) Negotiation

Negotiation adalah kemampuan untuk melayari beragam

komunitas, memahami dan menghargai beragam perspektif serta berpegang dan mengikuti berbagai norma di setiap komunitas. Arus komunikasi dalam media baru dapat membuat budaya berjalan dengan mudahnya. Manusia dapat membentuk komunitas bahkan tanpa saling mengenal sebelumnya, keberagaman budaya di

29 dalamnya dapat menjadi permasalahan. Sehingga manusia akan membagun pemahaman tentang konteks keberagaman budaya yang terjadi dalam komunitas. Konteks ini dibaca melalui prasangka dan asumsi yang sudah ada pada masing-masing anggota (tidak semua orang dapat menerima keberagaman). Hal ini juga beresiko menimbulkan konflik nilai dan norma.

12) Visualization

Terdapat keterampilan tambahan yaitu visualization, adalah kemampuan untuk membuat dan memahami representasi visual informasi dalam tujuan mengekspresikan ide, menemukan

pola-pola dan mengidentifikasikan trend.23

Keduabelas kemampuan ini disaring kembali berdasarkan kebutuhan penelitian. Oleh karena itu, hanya tujuh kemampuan yang digunakan sebagai unit analisis dalam penelitian ini, yaitu

simulation, appropriation, multitasking, collective intelligence, judgment, negotiation dan visualization.

23 Nur Azizah Dewi Aniroh. (2018). Sikap Mahasiswa Terhadap Pesan Kebencian dan Berita Palsu di Facebook Terkait Kasus Basuki Tjahaja Purnama yang Disebarkan oleh Saracen. Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Lampung diakses pada 25 Mei 2020 pukul 16.58 WITA

30

4. Informasi Hoaks

Menurut Curtis D. MacDougall, “hoax is a deliberately conocted

untruth made to masquerade as truth.” Hoaks adalah sebuah

kebohongan atau informasi sesat yang sengaja disamarkan agar terlihat benar.24

A.S. Hornby mendefinisikan hoaks sebagai (n) “a lie or an act of

deception, usually intended as a joke against somebody.”

(Kebohongan; tipu daya, umumnya dalam bentuk lelucon yang ditujukan kepada seseorang); (v) to deceive somebody as a joke

(menipu atau membohongi dengan cara berkelakar).25

Allcot dan Gentzkow menyatakan bahwa hoaks menjadi artikel berita yang sengaja dan dapat diverifikasi salah dan bisa menyesatkan pembaca. Informasi hoaks merupakan laporan atau berita salah yang tidak disengaja, rumor yang tidak berasal dari artikel berita tertentu, terdapat teori konspirasi, humor yang sifatnya menyindir yang tidak

mungkin terjadi namun disalah artikan sebagai faktual.26

Demikian dapat diartikan bahwa hoaks adalah berita bohong yang disamarkan agar terlihat benar agar dipercaya oleh pembaca. Berita hoaks memungkinkan merubah persepsi pembaca sampai ke level psikomotorik, baik kognitif dan afektif.

Berita video telur rebus menangkal covid-19 merupakan salah satu bentuk hoaks yang diverifikasi tidak benar. Video tersebut merupakan

24 Yeha Rehina Citra Mahardika. (2017). Perilaku Mahasiswa Dalam Menyikapi Pemberitaan Hoax Di Media Sosial Facebook. Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Diakses pada 23 Mei 2020 pukul. 14.06 WITA.

25 Hanif Azhar. (2017). Aspek Pidana Dalam Berita Bohong (Hoax) Menurut Fiqih Jinayah. Cendekia: Jurnal Studi Keislaman Vol. 3, No. 2 h. 60

26 Nur Azizah Dewi Aniroh. (2018). Sikap Mahasiswa Terhadap Pesan Kebencian dan Berita Palsu di Facebook Terkait Kasus Basuki Tjahaja Purnama yang Disebarkan oleh Saracen. Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Lampung diakses pada 25 Mei 2020 pukul 10.22 WITA

31 jenis hoaks satire atau berita bohong yang dikemas dalam bentuk lelucon, tidak bermaksud membahayakan namun memberikan dampak pada level sikap dan perilaku penerima pesan.

Larangan menyebarkan berita hoaks dalam Islam telah diingatkan dalam kitab suci alquran surah An-Nur ayat 11:

ٌۚۡم ُكَّل ٞرۡي َخ َو ُه ۡلَب ۖم ُكَّل اِٗر َش ُهوُب َس ۡحَت لَ ٌۚۡم ُكن ِِم َ ٞةَبۡصُع ِكۡفِ ۡلۡٱِب وُءَٰٓاَج َنيِذَّلٱ َّنِإ

ٞمي ِظَع باَذَع ۥُهَل ۡمُهۡنِم ۥُهَرۡبِك َٰىَّلَوَت يِذَّلٱَو ٌِۚمۡثِ ۡلۡٱ َنِم َب َسَتۡكٱ اَّم مُهۡنِِم ٕٖ يِرۡمٱ ِِلُكِل

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu

adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”.

Ayat ini menceritakan tentang kisah Aisyah ra, istri Nabi Muhammad SAW yang difitnah berbuat tidak senonoh. Hal tersebut bermula saat Siti Aisyah. Keadaan tersebut digunakan oleh pemimpin kaum munafik, Abdullah ibn Ubay ibnu Salul menyebarkan kepada orang-orang. Cerita tersebut menyebar sangat cepat dari mulut ke mulut hingga sampai pada telinga Rasulullah SAW. Akhirnya turunlah ayat alquran yang menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.27

27 Idnan A Idris. (2018). Klarifikasi Al-Quran Atas Berita Hoaks. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. h. 11

32 a. Jenis-Jenis Informasi Hoaks

Ada berbagai macam jenis-jenis informasi hoaks antara lain:28

1) Fake News adalah berita bohong yang berusaha menggantikan berita yang sesungguhnya. Tujuan informasi ini untuk memalsukan suatu berita.

2) Clickbait adalah suatu tautan jebakan yang diletakkan secara strategis di dalam suatu situs dan bertujuan untuk menarik orang lain untuk mengunjungi situs tersebut. Jenis ini mempunyai judul yang dilebih-lebihkan untuk menarik perhatian pembaca.

3) Confirmation Bus adalah bias informasi. Suatu

kecenderungan untuk menginterpretasikan sebuah informasi dengan kepercayaa yang sudah ada.

4) Minsinformation adalah suatu informasi yang tidak akurat dan diperuntukkan untuk menipu.

5) Satire adalah sebuah tulisan yang menggunakan humor, ironi dan hal yang dibesar-besarkan untuk mengomentari kejadian yang sedang hangat.

6) Post-truth atau pasca kebenaran adalah sebuah kejadian di mana emosi lebih berperan daripada fakta untuk membentuk opini publik.

7) Propaganda adalah aktifitas menyebarluaskan suatu informasi, fakta, argument, gosip, setengah kebenaran bahkan kebohongan yang bertujuan untuk mempengaruhi opini publik.

28 Dedi Rianto Rahadi. (2017). Perilaku Pengguna dan Informasi Hoax Di Media Sosial. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol. 5 No. 1 h. 62

33 b. Ciri-Ciri Hoaks

Berikut adalah ciri-ciri hoaks, di antaranya adalah:29

1) Tidak mengikuti bahkan mengabaikan kaidah 5w+1H 2) Terdapat kalimat yang berupa ajakan untuk menyebarkan ke

semua orang dengan sifat memaksa. Semakin mendesak permintaanya semakin mencurigakan pesan tersebut.

3) Bahasa yang terlalu berempati, serta penggunaan huruf kapital dan tanda seru yang berlebihan.

4) Isi pesan tersebut berupa informasi yang sangat penting, namun berlum bisa ditemukan di media maupun situs resmi. 5) Tidak konsisten dan bertentangan dengan akal sehat.

6) Pesan telah di forward atau diteruskan berulang kali sebelum sampai kepada anda.

7) Untuk meyakinkan agar beritanya dapat dipercaya, seringkali disebutkan sumber resminya namun tidak bisa menyebutkan nama narasumber perseorangan, perusahaan, organisasi dan rujukan lainnya yang memiliki otoritas. 8) Tidak menggunakan bahasa yang baku, baik dan benar.

29 Yeha Rehina Citra Mahardika. (2017). Perilaku Mahasiswa Dalam Menyikapi Pemberitaan Hoax Di Media Sosial Facebook. Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Diakses pada 23 Mei 2020 pukul. 16.58

34

5. Media sosial

a. Definisi Media Sosial

Istilah media sosial tersusun dari dua kta, yakni “media” dan “sosial”. Media menurut McQuaill diartikan sebagai alat komunikasi. Sedangkan kata “sosial” diartikan sebagai kenyataan sosial bahwa setiap individu melakukan aksi yang

memberikan kontribusi kepada masyarakat.30

Brogan (2010) dalam bukunya berjudul social media mendefinisikan sosial media sebagai satu set baru komunikasi dan alat kolaborasi yang memungkinkan banyak jenis interaksi

yang sebelumnya tidak tersedia untuk orang biasa.31 Menurut

Mandibergh (2012) ia mendefinisikan media sosial adalah suatu media yang dapat mewadahi khalayak atau pengguna untuk menghasilkan suatu konten. Konten tersebut bisa berupa teks, gambar maupun video.

Andreas M. Kaplan dan Michael Haenlien mengemukakan bahwa media sosial adalah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun dengan dasar-dasar ideologis web. 2.0 (merupakan platform dari evolusi media sosial) yang memungkinkan terjadinya penciptaan dan pertukaran dari User

Generated Content.32

Berdasarkan teori – teori sosial yang dikemukakan oleh Durkheim, Weber, Tonnies, maupun Marx dapat didefinisikan

30 Mulawarman dan Aldila Dyas Nurfitri. (2017). Perilaku Pengguna Media Sosial beserta Implikasinya Ditinjau dari Perspektif Psikologi Sosial Terpaan. Buletin Psikologi. Vol. 25 No. 1. h. 37s

31 Yusrin Ahmad Tosepu. (2018). Media Baru Dalam Komunikasi Politik (Komunikasi Politik di Dunia Virtual. Surabaya: CV. Jakad Publishing. h. 28

32 Mac Aditiawarman, dkk. (2019). Hoax dan Hate Speech di Dunia Maya. Padang: Lembaga Kajian Aset Budaya Indonesia Tonggak Tuo. h. 51

35 bahwa media sosial bisa dilihat dari perkembangan bagaimana

hubungan individu dengan perangkat media.33 media sosial

dapat dikatakan sebagai sarana interaksi individu dan individu lainnya dalam suatu media komunikasi.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa media sosial merupakan sarana komunikasi antara individu dan individu lain dengan perangkat teknologi komunikasi dalam proses sosial. Media sosial dapat menjadi wadah kolaborasi untuk menghasilkan dan berbagi konten berupa teks, gambar maupun video.

b. Fungsi Media Sosial

Kietzmann (2011) mendefinisikan media sosial dengan tujuh fungsi yaitu34:

1) Identity, menggambarkan pengaturan identitas para pengguna dalam sebuah media sosial menyangkut nama, usia, jenis kelamin, profesi, lokasi serta foto.

2) Conversations, menggambarkan pengaturan berkomunikasi dengan pengguna lainnya dalam media sosial.

3) Sharing, menggambarkan pertukaran dan penerimaan konten berupa teks, gambar atau video.

4) Presence, menggambarkan apakah para pengguna dapat mengakses pengguna lainnya.

5) Relationship, menggambarkan para pengguna terhubung atau terkait dengan pengguna lainnya.

33 Rulli Nasrullah. (2015). Media Sosial. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. h. 8 34 Dedi Rianto Rahadi. (2017). Perilaku Pengguna dan Informasi Hoax Di Media Sosial. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol. 5 No. 1 h. 61

36

6) Reputation, menggambarkan para pengguna dapat

mengidentifikasi orang lain serta dirinya sendiri.

7) Groups, menggambarkan para pengguna dapat membentuk komunitas dan sub komunitas yang memiliki latar belakang, minat atau demografi.

c. Jenis-Jenis Media Sosial

Jenis-jenis media sosial yaitu:35

1) Media Jejaring Sosial (Social networking), jenis ini adalah yang paling populer dan banyak digunakan masyarakat. Media sosial memungkinkan terjadinya interaksi. Interaksi tersebut berupa teks, gambar dan video dengan publikasi

Dokumen terkait