4.10. Faktor Sosial yang berperan pada keberlanjutan ekosistem rawa lebak 1. Nilai dan norma sosial
4.10.2. Perilaku nelayan dalam pemanfaatan sumberdaya ikan dan hutan
Perilaku masyarakat nelayan didasari oleh nilai, norma, serta pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat. Sikap nelayan mengenai pemanfaatan ekosistem rawa lebak disajikan pada Tabel 28. Sikap nelayan terhadap sumberdaya hutan di rawa lebak, mempengaruhi tingkat eksploitasi kayu hutan. Nelayan tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pengaruh penebangan pohon hutan terhadap sumberdaya ikan. Mereka tidak memahami, bahwa tindakan mereka menebang pohon hutan akan merugikan mata pencaharian mereka sebagai nelayan. Sebagian besar masyarakat nelayan (Petuk Ketimpun 90 %, Marang 83,33 %), setuju apabila kayu hutan rawa lebak dimanfaatkan untuk dijual. Hanya sebagian kecil nelayan yang menyetujui hutan rawa lebak sebaiknya dibiarkan menjadi hutan alam. Masyarakat nelayan tidak memiliki pengetahuan mengenai dampak penambangan emas di sungai terhadap sumberdaya ikan. Kondisi ini disebabkan oleh aktivitas penambangan emas masih jarang dilakukan di Petuk ketimpun dan Marang. Aktivitas penambangan emas lebih banyak dilakukan di sungai Kahayan.
Tabel 28. Sikap responden terhadap sumberdaya ikan dan perairan rawa lebak
No Sikap Jumlah responden
yang setuju (%) Petuk ketimpun Marang
1 Penebangan hutan merusak sumberdaya ikan 10,00 0,00
2 Penambangan emas di sungai merusak
sumberdaya ikan 0,00 0,00
3 Penangkapan ikan dengan racun dan listrik
merusak sumberdaya ikan 100,00 100,00
4 Penangkapan ikan oleh orang luar desa merusak
sumberdaya ikan 33,33 6,67
5 Penangkapan ikan berlebihan merusak
sumberdaya ikan 60,00 63,33
6 Penangkapan induk ikan yang mau bertelur
merusak sumberdaya ikan 10,00 0,00
7 Menangkap ikan yang masih kecil merusak
sumberdaya ikan 23,33 16,67
8 Hutan di rawa lebak sebaiknya dibiarkan menjadi
hutan alam 10,00 16,67
9 Hutan di rawa lebak sebaiknya dimanfaatkan kayu
hutannya yang bisa dijual 90,00 83,33
Kearifan lokal masyarakat nelayan di Petuk Ketimpun dan Marang yang mendukung keberlanjutan ekosistem adalah :
1. Menangkap ikan secukupnya dengan membatasi waktu penangkapan ikan sekitar 4 jam per hari.
2. Membatasi akses orang luar desa untuk menangkap ikan.
3. Mengembalikan benih ikan yang tertangkap ke perairan, terutama pada alat tangkap selambau dan jebakan.
4. Menjaga perairan dari penggunaan alat tangkap racun, listrik, dan rempak. 5. Mencegah hutan rawa lebak dari penebangan oleh masyarakat luar desa.
Perilaku yang dijumpai pada masyarakat nelayan yang dapat menyebabkan kerusakan eksositem rawa lebak adalah :
1. Menangkap ikan menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.
Alat tangkap yang tidak ramah lingkungan meliputi : listrik, racun, selambau, dan jaring insang dengan ukuran mata jaring kecil (1 inci). Alat tangkap yang tidak ramah lingkungan ada dua golongan yaitu alat tangkap yang dilarang oleh
masyarakat nelayan dan alat tangkap yang diperbolehkan digunakan oleh nelayan. Alat tangkap yang dilarang oleh masyarakat nelayan, seperti listrik dan racun, sedangkan yang tidak dilarang adalah selambau dan jaring insang dengan ukuran mata jaring kecil. Kasus penggunaan listrik dan racun untuk menangkap ikan terutama dijumpai di Petuk Ketimpun. Petuk Ketimpun posisinya dekat dengan Kota Palangkaraya, sehingga pelanggaran lebih sering terjadi. Perilaku penggunaan alat tangkap listrik dan racun dilakukan oleh masyarakat luar desa, dan nelayan tertentu di desa. Masih terjadinya penggunaan alat tangkap listrik dan racun, karena lemahnya kontrol masyarakat nelayan di wilayah – wilayah perairan yang sedikit kehadiran nelayan. Nelayan di Petuk Ketimpun yang dicurigai menggunakan racun dan listrik cenderung dijauhi dari pergaulan nelayan. Selambau digunakan oleh nelayan tertentu yang memiliki penguasaan wilayah anak sungai. Jaring insang dengan ukuran mata jaring kecil digunakan oleh seluruh nelayan. Dampak penggunaan alat tangkap tersebut adalah penurunan populasi ikan, yang akhirnya dapat mengancam keberlanjutan sumberdaya ikan dan pendapatan nelayan. Penggunaan selambau dan jaring insang ukuran mata jaring kecil tetap digunakan, karena tidak dilarang, mudah mendapatkan ikan dengan alat tersebut, dan nelayan belum mengetahui dampak negatif penggunaan alat tangkap tersebut.
2. Penangkapan ikan terfokus di rawa terbuka, sehingga cenderung terjadi penangkapan berlebih di rawa terbuka.
Penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan Petuk Ketimpun dan Marang terfokus di rawa terbuka, karena jaring insang lebih mudah dioperasikan di lokasi tersebut dibandingkan di rawa berhutan. Dampak dari perilaku ini adalah ikan di rawa terbuka mengalami tekanan penangkapan yang intensif, sedangkan di rawa berhutan tekanan penangkapan sangat rendah. Tekanan penangkapan yang intensif ini mengakibatkan keanekaragaman dan kelimpahan ikan di rawa terbuka lebih rendah dibandingkan rawa berhutan (Gambar 21 dan 22).
3. Penangkapan anak ikan dan induk ikan toman.
Penangkapan anak ikan toman dilakukan untuk memenuhi kebutuhan benih ikan toman pada usaha budidaya ikan toman di karamba. Penangkapan dilakukan oleh masyarakat nelayan desa tersebut yang memiliki karamba maupun yang tidak
memiliki karamba. Meskipun nelayan tidak memiliki karamba, mereka tetap menangkap anak ikan toman, bila kebetulan menjumpai gerombolan anak ikan toman pada saat menangkap ikan. Anak ikan yang diperoleh dijual kepada nelayan lain yang memiliki karamba. Penangkapan anak ikan toman dilakukan, karena benih ikan ini belum diproduksi melalui teknik budidaya dan biaya pengadaan benih ikan lebih murah bila melalui penangkapan dari alam. Induk ikan toman yang masih menjaga anaknya ikut ditangkap, karena memiliki nilai jual yang tinggi. Penangkapan anak ikan dan induk ikan toman mengakibatkan populasi ikan ini semakin menurun. Bahkan dalam penelitian ini, selama 1 tahun tidak berhasil ditangkap ikan toman. Hal ini menunjukkan populasi jenis ikan ini sudah semakin sedikit.
4. Penangkapan ikan kecil untuk pakan ikan toman di karamba oleh nelayan pemilik karamba.
Penangkapan ikan kecil untuk pakan ikan toman dilakukan menggunakan alat tangkap anco yang diletakkan di rawa terbuka. Perilaku ini dilakukan oleh semua nelayan yang memiliki usaha budidaya ikan toman di karamba. Responden di Petuk Ketimpun yang memiliki karamba sekitar 86,67 % dan di Marang 80,00 %. Dampak dari perilaku ini adalah semakin meningkatnya tekanan penangkapan ikan di rawa terbuka dan cenderung merusak komunitas ikan di rawa terbuka. Ikan kecil yang tertangkap oleh anco ada dua kelompok yaitu ikan species kecil dan benih ikan. Tekanan penangkapan pada species kecil berdampak negatif pada jenis ikan lain yang makanannya berupa ikan kecil tersebut. Apabila ikan pemangsa tersebut kesulitan memperoleh mangsa, maka species tersebut akan terancam populasinya. Penangkapan benih ikan alam akan berdampak negatif pada penambahan anggota populasi (rekruitmen) jenis ikan tersebut. Peningkatan usaha budidaya ikan toman di karamba, mengakibatkan semakin meningkat intensitas dan jumlah nelayan yang melakukan perilaku ini. Belum adanya alternatif pakan atau alternatif jenis ikan pengganti untuk dibudidaya menjadi penyebab terus berlanjutnya perilaku ini.
5. Melakukan penebangan pohon hutan rawa untuk dijual sebagai bahan bangunan dan kayu bakar.
Pihak yang melakukan penebangan pohon hutan rawa adalah nelayan di desa tersebut. Nelayan responden di Petuk Ketimpun yang melakukan usaha eksploitasi kayu hutan sekitar 80 %, sedangkan di Marang sekitar 33,33 %. Nelayan Marang yang melakukan eksploitasi kayu terutama nelayan yang tergolong miskin. Persentase nelayan Petuk Ketimpun yang mengeksploitasi kayu lebih tinggi, karena yang melakukan tidak hanya yang tergolong miskin dan pembeli atau pengumpul kayu ada di desa tersebut sehingga nelayan lebih mudah menjual kayu di Petuk Ketimpun. Dampak perilaku ini adalah menurunnya kualitas hutan rawa lebak, yaitu kerapatan pohon yang rendah dan diameter batang pohon yang besar jarang dijumpai lagi. Faktor – faktor yang mendorong perilaku ini dijelaskan pada sub bab faktor – faktor pendorong eksploitasi kayu hutan (halaman 106).