• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku Seksual Remaja dan Kesehat Reproduks

Dalam dokumen resum kesehatan masyarakat id. pdf (Halaman 93-98)

MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT

C. Perilaku Seksual Remaja dan Kesehat Reproduks

Perilaku dapat diartikan sebagai respons organisme atau respons seseorang terhadap stimulus (rangsangan) yang ada (Notoatmodjo, 1993). Sedangkan seksual adalah rangsangan-rangsangan atau dorongan yang timbul berhubungan dengan seks. Jadi perilaku seksual remaja adalah tindakan yang dilakukan oleh remaja berhubungan dengan dorongan seksual yang datang baik dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya.

Kesehatan Masyarakat | 93 Adanya penurunan usia rata-rata pubertas mendorong remaja untuk aktif secara seksual lebih dini. Quadrel et.al. (1993) menyatakan bahwa remaja cenderung melakukan underestimate terhadap vulnerability dirinya.

Batasan kesehatan reproduksi menurut international Conference dengan batasan „sehat‟ dari WHO. Kesehatan reproduksi menurut ICPD adalah keadaan sehat jasmani, rohani, dan bukan hanya terlepas dari ketidak hadiran penyakit atau kecacatan semata, yang berhubungan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi (ICPD, 1994.

Rai dan Nassim mengemukakan definisi kesehatan reproduksi mencakup kondisi di mata wanita dan pria dapat melakukan hubungan seks dengan aman, dengan atau tanpa tujuan terjadinya kehamilan, dan bila kehamilan diinginkan, wanita dimungkinkan menjalani kehamilan aman, melahirkan anak yang sehat serta di dalam kondisi siap merawat amak yang dilahirkan (Iskandar, 1995).

Secara umum terdapat 4 faktor yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi, yakni:

a. Faktor sosial, ekonomi dan demografis; b. Faktor budaya dan lingkungan;

c. Faktor psikologis; d. Faktor biologis.

Pada pasal 7 rencana kerja ICPD Kairo dicantumkan definisi kesehatan reproduksi menyebabkan lahirnya hak-hak reproduksi. Dari pasal itu hak-hak reproduksi dedasarkan pada pengakuan hak-hak asasi semua pasangan dan pribadi untuk menentukan secara bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah anak, penjarangan anak, dan menentukan waktu kelahiran anak-anak mereka dan mempunyai informasi dan cara untuk memperolehnya, serta hak untuk mentukan standart tertinggi kesehatan seksual dan reproduksi.

Kesehatan Masyarakat | 94 D. Perilaku Seksual Berisiko pada Remaja Saat Ini

Banyak peneliti dan berita di media massa yang menggambarkan fenomena perilaku seksual remaja pranikah di Indonesia. Sebenarnya perilaku seksual remaja pranikah sudah ada sejak manusia ada. Di Indonesia sediri ada beberapa penelitian yang menggambarkan fenomena perilaku seksual remaja pranikah. Berikut contoh penelitian terhadap perilaku seksual remaja pranikah.

Prilaku, Tindakan Waktu Pacaran Remaja DKI Jakarta dan DI Yogyakarta

NO Perilaku, tindakan DKI DIY DKI + DIY

N % N % N % 1 Berkunjung ke rumah bercanda 512 42,9 478 39,8 990 41,3 2 Cium Pipi 141 11,8 147 12,3 288 12,0 3 Cium bibir 330 27,6 277 23,1 607 25,4 4 Memegang buah dada 86 7,2 143 11,9 229 9,6 5 Memegang alat kelamin 75 6,3 105 8,7 180 7,5 6 Berhubungan Seks 50 4,2 40 4,2 90 4,2 Sumber: Ramly Bandy, dkk., 1995

Bila kita melihat kecenderungan perilaku seksual remaja pranikah berdasarkan tempat tinggal mereka, ternyata baik di desa maupun di kota perilaku tersebut juga sangat memperihatinkan.

Faktor-faktor yang saling terkait kondisi saat ini menyebabkan perilaku seksal remaja semakin menggejala akhir-akhir ini. Banyak remaja tidak

Kesehatan Masyarakat | 95 mengindahkan bahkan tidak tahu dampak dari perilaku seksual mereka terhadap kesehatan reproduksi baik dalam waktu yang cepat ataupun dalam waktu yang lebih panjang.

1. Hamil yang tidak dikehendari (Unwanted pregnancy)

Unwanted pregnancy atau kehamilan yangtidak dikehendaki merupakan salah satu akibat dari perilaku seksual remaja.

Unwanted pregnancy membawa remaja pada dua pilihan, mewujudkan

kehamilan atau menggugurkannya. Menurut Khisbiyah (1995) secara umum ada dua faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan itu yakni faktor internal dan eksternal.

a. Faktor internal meliputi, intensitas hubungan dan komitmen oasangan remaja untuk menjalin hubngan jangka panjang dalam perkawinan, sikap dan persepsi terhadap janin yang dikandung, serta persepsi subjektif mengenai kesiapan psikologis dan ekonomi untuk memasuki kehidup perkawinan.

b. Faktor eksternal meliputi sikap dan penerimaan orang tua kedua belah pihak, penilaian masyarakat, nilai-nilai normative dan etis dari lembaga keagamaan, dan kemungkinan-kemungkinan perubahan hidup di masa depan yang mengikuti pelaksanaan keputusan yang akan dipilih.

Hamil dan melahirkan dalam usia remaja merupakan salah satu faktor risiko kehamilan yang tidak jarang membawa kematian ibu. Menurut Wibowo (1994) terjadi pendarahan pada trimester pertama dan ketiga, anemia, dan persalinan kasip merupakan komplikasi yang sering terjadi pada kehamilan remaja. Kehamilan di usia muda juga berdampak pada anak yang dikandung. Kejadian berat bayi lahir rendah (BBLR) dan kematian perinatal sering dialami oleh bayi-bayi yang lahir dari ibu usia muda.

Kesehatan Masyarakat | 96 Tidak sedikit pula dari mereka yang mengalami Unwanted pregnancy melakukan aborsi. Dari data yang ada 1.000.000 kebutuhan induksi haid (aborsi) sekitar 60,0% dilakukan oleh wanita tidak menikah, termasuk remaja. Perlu diketahui pula bahwa Unsafe abortion juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kematian ibu.

2. Penyakit menular seksual (PMS) HIV/AIDS

Dampak lain perilaku seksual remaja adalah tertularnya PMS termasuk HIV/AIDS. Sering kali remaja melakukan hubungan seks yang tidak aman. Adanya kebiasaan berganti-ganti pasangan dan melakukan anal seks menyebabkan remaja semakin rentan untuk tertular PMS?HIV, sepertisifilis, gonore, herpes,klamidia, dan AIDS. Dari data yang ada menunjukkan bahwa di antara penderita atau kasus HIV/AIDS, 53 % berusia antara 15-29 tahun.

3. Psikologis

Dampak lainnya lagi adalah konsekuensi psikologis. Setelah kehamilan terjadi, pihak perempuan – atau tepatnya korban – utama dalam masalah ini. Kodrat untuk hamil dan melahirkan menempatkan remaja perempuan dalam posisi terpojok yang sangat dilematis. Perasaan bingung, cemas, malu, dan bersalah yang dialami remaja setelah mengetahui kehamilannya bercampur dengan perasan depresi, pesimis terhadap masa depan, dan kadang disertai rasa benci dan marah baik kepada diri sendiri maupun kepada pasangan, dan kepada nasib membuat kondisi sehat secara fisik, sosial, dan mental yang berhubungan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi remaja tidak terpenuhi.

Kesehatan Masyarakat | 97 BAB 11

PROBLEMATIKA LANSIA DAN PELAYANAN KESEHATAN

Dalam dokumen resum kesehatan masyarakat id. pdf (Halaman 93-98)