TINJAUAN UMUM TENTANG PARTAI POLITIK ISLAM A.Pengertian Partai Politik Islam
D. Sejarah Perjalanan Partai Politik Islam di Indonesia 1.Periode Pra Kemerdekaan (1900-1945)
3. Periode Orde Baru (1966-1998)
Orde Baru adalah suatu masa atau era pemerintahan nasional yang dimulai dengan kepemimpinan Soeharto, melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) tahun 1966. Soeharto sang Jenderal Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) memiliki mandat kepemimpinan untuk mengendalikan situasi politik kenegaraan melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) 1966,
dari Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno.63 Proses politik dibawah
Negara Orba berlangsung di luar aturan main demokrasi. Akibatnya Semua tindakan
61
Inu Kencana Syafii dan Azhari, Sitem Politik Indonesia, h. 43
62
Zainal Abidin Amir, Peta Islam Politik Pasca Soeharto , h.45
63
Firdaus Syam, Amin Rais dan Yusril Ihza Mahendra di Pentas Politik Indonesia Modern
yang penting diarahkan untuk mengamankan stabilitas termasuk mengganjar para pendukung dan memberantas para pembangkang.
Pemilu pertama Orde Baru dilaksanakan pada tangal 13 Juli 1971, dengan Golkar yang keluar sebagai partai pemenang pemilu dengan perolehan suara 62,8 % suara. Dari tiga partai Islam yang pernah terlibat dalam pemilu 1955, hanya NU yang berhasil meningkatkan perolehan suaranya dalam pemilu kali ini, dari 18,4 % suara menjadi 18,67 % suara. PSII dan Perti yang pada pemilu 1955 meraup 2,9 % dan 1,3 % suara, persentase suaranya melorot menjadi 2,39 % 0,70 persen suara, jauh dibawah persentasi Masyumi yang dapat mendulang suara 43% suara pada pemilu 1955. Kemenangan Golkar dalam pemilu 1971 memberikan legitimasi konstitusional
akan pemerintahan militer di Indonesia.64
Pada masa Orde Baru tepatnya pada tahun 1973 partai-partai Islam (NU, Partai Syarikat Islam Indonesia [PSII], Persatuan Tarbiyah Islamiyah [Perti] dan Partai Muslimin Indonesia [Parmusi] yang kemudian mengubah nama menjadi M.I
[Muslimin indonesia]) lebur menjadi satu partai yakni dalam PPP.65 Langkah ini
dilakukan karena adanya tekanan dari rezim penguasa yang tidak dapat ditolak.66Pada
masa ini sejak pertengahan 1970-an, bersama dengan berlangsungnya proses
64
Zainal Abidin Amir, Peta Islam Politik Pasca Soeharto , h. 50
65
Firdaus Syam, Amin Rais dan Yusril Ihza Mahendra di Pentas Politik Indonesia Modern, h. 83
66
Sudirman Tebba, Islam Pasca Orde Baru (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 2001), h. 20
restrukturisasi rezim Orde Baru (1973), jumlah partai politik mengalami pembatasan, yakni hanya ada tiga partai politik yang hidup di masa rezim Orde Baru diantaranya; PPP, Golkar dan PDI (yang merupakan fusi dari partai Kristen dan nasionalis sekuler;
PNI, Parkindo, Partai Katolik, IPKI, dan Murba) .67Fenomena ini tidak lain
merupakan buah hasil dari produk hukum yang dikeluarkan pemerintah Soeharto dengan produk hukumnya yakni UU No. 3 tahun 1973 tentang partai politik, yang menyederhanakan sejumlah partai politik. Untuk itulah kemudian terjadi fusi ditubuh partai politik.68
Meskipun Partai Politik Islam yang telah memfusikan kegiatan politiknya ke dalam PPP, secara kehidupan sosial kemasyarakatan program-program utamanya tetap berjalan sebagaimana halnya sebelum meleburkan diri ke dalam PPP, misalnya PSII yang tetap fokus melaksanakan tugas dan fungsinya dalam bidang dakwah,
sosial dan ekonomi.69 Perampingan jumlah parpol dianggap sebagai strategi paling
kuat untuk melanggengkan kekuatan Orde Baru.70
Berdasarkan sejarahnya, PPP dibentuk sebagai hasil dari rekayasa pemerintah
Orde Baru, untuk membentuk hegemonic partysystem, yaitu sistem partai yang
67
Bahtiar Effendi, Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia, h. 234
68
Firmanzah, Mengelola Partai Politik: Komunikasi dan Positioning Ideologi Politik di Era Reformasi (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), h. 59
69
M.A. Gani, Cita Dasar dan Pola Perjuangan Syarikat Islam (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1984), h. 8
70
hegemoni dalam kendali penguasa Orde Baru. Sebagai partai ciptaan negara, PPP terjerat kesulitan dalam membenarkan kehadirannya di hadapan para pendukungnya, bahkan di depan dirinya sendiri. Melihat fenomena demikian Kingsbury sebagaimana dikutip oleh Zainal Abidin, menyimpulkan bahwa negara dibawah kendali Orba pada dasarnya telah membatasi pertumbuhan politik Islam, sebagaimana pernah
dipergunakan oleh Soekarno terhadap Masyumi.71 Baik PPP maupun PDI keduanya
masuk dalam jaringan korporatisme Negara, sehingga fungsinya dalam perpolitikan Negara termarjinalkan. Sebab hampir semua fungsi partai politik diambil alih oleh birokrasi dari berbagai organisasi korporatis yang merupakan perpanjangan tangan Golkar. Untuk itu baik PPP yang berbasis Islam maupun PDI yang berbasis nasionalis/kerakyatan tidak pernah mampu megungguli perolehan suara Golkar pada
setiap pemilu di masa Orde Baru.72
Sejak Pemilu 1971 hingga Pemilu 1997 (selama kurun waktu dua puluh enam tahun atau selama lima kali pemilihan umum), rata-rata jumlah perolehan suara PPP secara nasional tidak bisa melampaui ambang batas 20 persen. Fakta nyata ini membuktikan secara jelas bahwa aspirasi politik umat Islam tidak selalu terkonsentrasi penyalurannya ke kubu PPP. Sepanjang sejarah politik Orde Baru, bagian terbesar aspirasi politik umat Islam tersalurkan ke kubu Golkar, partai adidaya yang didukung oleh pemerintah dan militer. Selebihnya dalam jumlah kecil, umat
71
Zainal Abidin Amir, Peta Islam Politik Pasca Soeharto , h. 53
72
Firdaus Syam, Amin Rais dan Yusril Ihza Mahendra di Pentas Politik Indonesia Modern, h, 84
Islam menyalurkan aspirasi politiknya ke kubu PPP dan PDI yang secara politis tidak bisa secara signifikan menyaingi, apalagi menggoyahkan dan mengalahkan posisi
Golkar selama kurun pemerintahan refresif Orde Baru.73 Artinya pemerintah bersama
Golkar tetap merupakan kekuatan politik yang dominan.74
Peristiwa yang terjadi di atas bukanlah suatu kebetulan atau dianggap natural tanpa adanya rekayasa yang dilakukan rezim penguasa, pasalnya sebelum ikut dalam Pemilu tahun 1970, Golkar sudah mendapat dukungan luar biasa dari pemerintah yang memang sejak mula kelahirannya partai tersebut didesain untuk menjadi partai pemerintah yang diproyeksikan menjadi tangan sipil Angkatan Darat dalam Pemilu. Pada tahun 1969 Amir Machmud mengeluarkan Permendagri No. 12/1969 yang melarang warga departemen memasuki partai politik, dan selanjutnya melalui surat edaran Mendagri Amair Machmud memerintahkan kepada pegawai negeri untuk menanggalkan kenggotaannya dalam parpol maupun ormas untuk menggabungkan diri ke dalam Korp Karyawan Pemerintah Dalam Negeri (Kokarmendagri) yang berafiliasi ke Golkar. Selanjutnya disusul dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP. No. 6/1970) yang mewajibkan seluruh pegawai negeri harus setia
kepada pemerintah dan harus memilih partai Golkar dalam pemilu.75 Aparat dan
73
Faisal Ismail, Pijar-Pijar Islam: Pergumulan Kultur dan Struktur, h.123
74
Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2009), h. 259
75
pejabat pemerintah sejak Pemilu 1971 secara terang-terangan bekerja untuk
menjamin kemenangan Golkar.76
Peranan pemerintah berimplikasi sangat menguntungkan dan mendorong kemenangan Golkar. Disamping hal tersebut di atas, juga terdapat tindakan-tindakan aparat seperti BAKIN (Badan Koordinasi Intelejen Negara) , Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban), Opsus (Operasi Khusus), dan Ditjen Sospol Departemen Dalam Negeri yang melakukan tugas atas nama kemantapan Pleksosbud. Aparat resmi pemerintah secara efektif melakukan kontrol terhadap kegiatan-kegiatan partai politik dan pada saat yang sama mempromosikan Golkar
sebagai mesin pemerintah dalam Pemilu.77 Jadi tidak salah jika setiap kali meghadapi
pemilu atau selama enam kali pemilu di masa Orde Baru suara Golkar selalu berada diambang batas partai-partai lainnya yakni PPP, dan PDI. Bahkan jika dalam kurun waktu tersebut suara PPP dan PDI digabungkan, suara keduanya tidak pernah
melampaui 40 % dari total suara pemilih, sementara Golkar selalu di atas 60%.78
Pemilu 1977 merupakan masa jaya PPP sebagai parpol Islam yang ternyata tidak mampu diraih lagi pada 4 kali pemilu berikutnya selama Orde Baru. Pada masa Orde Baru perolehan suara PPP dan PDI selalu naik dan turun, tepatnya selama pemilu 1982 hingga 1997, hal ini terjadi karena selain faktor eksternal, partai tersebut
76
Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, h. 218-219
77
Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, h. 219
78
Firdaus Syam, Amin Rais dan Yusril Ihza Mahendra di Pentas Politik Indonesia Modern, h. 84
dilanda pula konflik internal. PPP sekalipun sebagai partai Islam tidak pernah mengembangkan isu-isu agama seperti masalah syariat Islam, presiden Islam, namun PPP tetap sebagai kekuatan parpol nomor dua di Indonesia. Karena parpol nomor satunya tetap Golkar. Kondisi ini ikut memperkuat anggapan bahwa parpol
nasionalis/non-agama lebih diminati rakyat dari pada parpol Islam.79