• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjanjian Kerja sama Transportasi Angkutan BBM Moda

Dalam dokumen HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN (Halaman 83-90)

BAB II PERJANJIAN KERJA SAMA TRANSPORTASI

C. Perjanjian Kerja sama Transportasi Angkutan BBM Moda

Wahyu Prakasa yang Menggunakan Perjanjian Baku

Perjanjian baku adalah wujud dari kebebasan individu pengusaha menyatakan kehendak dalam menjalankan perusahaan. Setiap individu bebas berjuang untuk mencapai tujuan ekonominya, walaupun mungkin akan merugikan pihak lain, golongan ekonomi kuat selalu menang berhadapan dengan golongan ekonomi lemah yang umumnya adalah konsumen biasa. Dalam hubungan hukum antara sesama pengusaha, perjanjian baku hampir tidak menimbulkan masalah apa-apa karena mereka berpegang pada prinsip ekonomi yang sama dengan menerapkan sistem bersaing secara sehat dalam melayani konsumen.91

90 Paragraf V Penjelasan Undang-Undang Jabatan Notaris.

91 Abdulkadir Muhammad, Perjanjian Baku dalam Praktek Perusahaan, Op Cit, hal 4

1. Isi Perjanjian Kerja sama Transportasi Angkutan BBM Moda Mobil Tangki

Perjanjian kerja sama transportasi angkutan BBM moda mobil tangki pengangkutan bahan bakar minyak (BBM) antara pihak PT. Mitra Wahyu Prakasa dengan PT. PERTAMINA (Persero) dilakukan dalam suatu, perjanjian tertulis sehingga mengikat para pihak sesuai hak dan kewajiban yang dituangkan dalam perjanjian.

Berdasarkan perjanjian kerja sama transportasi angkutan BBM moda mobil tangki pengangkutan bahan bakar minyak (BBM) antara pihak PT. Mitra Wahyu Prakasa dengan PT. PERTAMINA (Persero) di TBBM Dumai dan TBBM Siak Nomor : SPT-026/F11430/2013-S3, yang kedudukan para pihak adalah sebagai berikut:

a. PT PERTAMINA (Persero), Perseroan yang didirikan berdasarkan Akta Nomor 20 tanggal 17 September 2003, dibuat di hadapan Lenny Janis Ishak SH, Notaris di Jakarta, yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sesuai Keputusan Nomor 024025 HT.01.01.TH.2003 tanggal 9 Oktober 2003, sebagaimana terakhir diubah dengan Akta Nomor 01 tanggal 01 Maret 2010, dibuat dihadapan Lenny Janis Ishak, SH Notaris di Jakarta, yang telah mendapatkan Surat Penerimaan Pemberitahuan

Perubahan Data Perseroan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-AH.01.10-08629 tanggai 12 April 2010, berkedudukan di Jakarta dengan alamat di Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 1A Jakarta Pusat, dalam hal ini diwakili oleh Muji Pangestu selaku Supply dan Distribution Region Manager I Marketing Operation Region I Fuel Marketing dan Distribution -Marketing dan Trading Directorate, berdasarkan Surat Keputusan Direktur Utama Nomor: Kpts.P014/C00000/2013-S8 tanggal 12 Pebruari 2013 berkantor di Medan beralamat di Jalan K.L. Yos Sudarso Nomor 8-10 dengan demikian bertindak untuk dan atas nama Perseroan tersebut.

b. PT. Mitra Wahyu Prakasa, perusahaan yang didirikan berdasarkan Akta Nomor 38 tanggal 15 Agustus 2009 berkedudukan di Dumai beralamat di Jalan Meranti II Nomor 23 Dumai-Riau, dalam hal ini diwakili oleh Amrizal selaku Direktur, yang bertindak untuk dan atas nama perusahaan tersebut di atas

Perjanjian kedua belah pihak didasari dengan tujuan masing-masing pihak yaitu PT. PERTAMINA (Persero) berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1568K/10/MEM/2008 tanggal 21 April 2008 tentang : Izin Usaha Niaga Minyak Bumi dan Gas

Bumi kepada PT. PERTAMINA (Persero), menghendaki terselenggaranya kegiatan jasa pengangkutan BBM untuk kebutuhan Konsumen/Industri, sedangkan PT. Mitra Wahyu Prakasa dengan Surat Permohonan Nomor : 189/MWPA/I-2013 tanggal 18 Juni 2013 berkeinginan untuk memperpanjang Izin Masuk dan Operasi Mobil Tangki di Terminal BBM, berdasarkan hal-hal tersebut di atas, para pihak sepakat untuk mengadakan kerjasama dalam kegiatan pengangkutan bahan bakar minyak.

PT. PERTAMINA (Persero) bekerjasama dengan PT. Mitra Wahyu Prakasa dengan memilihnya sebagai salah satu agen dari BBM industri PT. PERTAMINA (Persero) karena menganggap PT. Mitra Wahyu Prakasa telah memenuhi standar kelengkapan dan keabsahan dokumen yang disahkan oleh Dirjen Migas serta kelengkapan armada mobil tangki untuk pendistribusian BBM dan PT. Mitra Wahyu Praksa merupakan agen BBM dan transportir yang merupakan kategori pengusaha minyak dan gas bumi yang harus terdaftar dalam anggota Hiswana Migas yang merupakan himpunan wiraswasta nasional minyak dan gas bumi.92

92Wawancara dengan Mariana Tetty Sihaloho, Supply and Distribution Region I PT. PERTAMINA (Persero), pada tanggal 25 Maret 2015

Suatu perjanjian pada dasarnya harus memuat beberapa unsur perjanjian yaitu :93

1) Unsur essentialia. sebagai unsur pokok yang wajib ada dalam perjanjian. seperti identitas para pihak yang harus dicantumkan di dalam suatu perjanjian

2) Unsur naturalia, merupakan unsur yang dianggap. ada dalam perjanjian, walaupun tidak dituangkan secara tegas dalam perjanjian, seperti itikad baik dari masing-masing pihak dalam perjanjian

3) Unsur accidenticilia, yaitu unsur tambahan yang diberikan oleh para pihak dalam perjanjian

Substansi yang terdapat dalam perjanjian kerjasama transportasi angkutan BBM Moda Mobil Tangki antara PT. PERTAMINA dan PT.

Mitra Wahyu Prakasa sebanyak 14 (empat belas) pasal yang terdiri dari:

a. Istilah dan Definisi (Pasal 1);

b. Sarana dan Fasilitas Angkutan BBM (Pasal 2) c. Lingkup Kegiatan (Pasal 3)

d. Hak dan Kewajiban Pihak Pertama yaitu PT. PERTAMINA (Persero), (Pasal 4)

e. Hak dan Kewajiban Pihak Kedua yaitu PT. Mitra Wahyu Prakasa (Pasal 5)

f. Jenis dan Bentuk Pelanggaran (Pasal 6) g. Sanksi Pelanggaran (Pasal 7)

h. Keadaan kahar (force majeure) (Pasal 8) i. Jangka waktu perjanjian (Pasal 9) j. Pengakhiran perjanjian (Pasal 10).

k. Ketentuan lain-lain (Pasal 11) l. Kerahasiaan informasi (Pasal 12)

m. Tempat kedudukan hukum dan penyelesaian perselisihan (Pasal 13) n. Direksi kegiatan (Pasal 14)

o. Korespondensi (pasal 15)

93R. Subekti.Aneka Perjanjian,Op Cit, hal 20

2. Bentuk Perjanjian Baku Kerja sama Transportasi Angkutan BBM Moda Mobil Tangki

Dalam era globalisasi ini pembakuan syarat-syarat perjanjian merupakan mode yang tidak dapat dihindari, bagi para pengusaha hal ini merupakan cara yang efisien, praktis dan cepat serta tidak bertele-tele tetapi bagi pihak lain terkadang bukanlah merupakan pilihan yang sangat menguntungkan karena hanya dihadapkan pada suatu pilihan yaitu menerima walaupun dengan berat hati, tetapi pelaksanaan perjanjian baku di Indonesia tidak semata-mata diserahkan kepada para pengusaha melainkan juga harus dissuaikan dengan nilai-nilai Pancasila yang menjadi dasar Negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia.94

Perjanjian kerja sama transportasi PT. PERTAMINA (Persero) dengan PT. Mitra Wahyu Prakasa dilakukan dalam perjanjian tertulis, agar mempunyai bukti sah dan kuat bagi para pihak yang bersangkutan.

Perjanjian kerja sama ini dibuat dalam bentuk perjanjian baku yaitu perjanjian tertulis tidak dibuat dihadapan pejabat yang berwenang (Notaris) melainkan dibuat berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak yang mengadakan perjanjian kerja sama.95

94 Ibid, hal 2

95 Wawancara dengan Amrizal, Direktur PT. Mitra Wahyu Prakasa, Pada tanggal 10 Maret 2015.

Perjanjian kerja sama transportasi PT. PERTAMINA (Persero) dengan PT. Mitra Wahyu Prakasa merupakan perjanjian baku96 yang dibuat oleh PT. PERTAMINA dan disetujui oleh PT. Mitra Wahyu Prakasa, yang perjanjian transportasi tersebut telah ditetapkan oleh PT.

PERTAMINA Region I Medan.97

Menurut Mariam Darus Badrulzaman ciri-ciri perjanjian baku adalah sebagai berikut :98

1. Isinya ditetapkan secara sepihak oleh pihak yang posisinya (ekonominya) kuat.

2. Masyarakat (debitur) sama sekali tidak ikut bersama-sama menentukan isi dalam perjanjian tersebut.

3. Terdorong oleh kebutuhannya debitur terpaksa menerima perjanjian itu.

4. Bentuk tertentu (tertulis).

5. Dipersiapkan secara massal dan kolektif.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa hakikat perjanjian baku merupakan perjanjian yang telah distandarisasi isinya oleh pihak ekonominya yang lebih kuat, sedangkan pihak lainnya hanya diminta untuk menerima atau menolak isi perjanjiannya. Berdasarkan uraian diatas

96 Perjanjian baku berasal dari terjemahan dari bahasa inggris, yaitu standart contract”. Standar kontrak merupakan perjanjian yang telah ditentukan dan telah dituangkan dalam bentuk formulir kontrak. Kontrak inilah telah ditentukan secara sepihak oleh salah satu pihak, terutama pihak ekonomi kuat terhadap pihak ekonomi lemah. Salim HS, Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, (Mataram : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2002), hal 40

97 Wawancara dengan Amrizal, Direktur PT. Mitra Wahyu Prakasa, Pada tanggal 10 Maret 2015.

98Mariam Darus Badrulzaman, Kompilasi Hukum Perikatan, (Bandung : Citra Adtya Bakti, 2001), hal 1

jelaslah unsur-unsur dalam perjanjian baku itu yaitu: (1) diatur oleh kreditur atau ekonomi kuat, (2) dalam bentuk formulir (tertulis), dan (3) adanya klausul-klausul eksonerasi atau pengecualian. Oleh karena itu agar para pihak yang mengadakan perjanjian menjadi seimbang, perlu adanya penyesuaian kehendak para pihak, kepercayaan para satu sama lain, pernyataan para pihak karena mempunyai keterkaitan yang sangat penting untuk hubungan kontraktual.

D. Alasan Perjanjian Kerja Sama Transportasi Angkutan BBM

Dalam dokumen HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN (Halaman 83-90)

Dokumen terkait