• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjanjian Penting, Komitmen, dan Kontinjensi Agreements, Commitments and Contingencies

Blok/Block

36. Perjanjian Penting, Komitmen, dan Kontinjensi Agreements, Commitments and Contingencies

a. Iuran Dana Hasil Produksi Batubara (DHPB) a. Royalty

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan

Republik Indonesia No. 129/KMK.01/1997

tanggal 31 Maret 1997, perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan batubara berkewajiban untuk menyetor DHPB sebesar 13,5% dari produksi batubara.

Based on the Decision Letter No. 129/KMK.01/1997 dated March 31, 1997 of Ministry of Finance of the Republic of Indonesia, all companies engaged in coal mining activities are required to pay royalty fee equivalent to 13.5% of coal produced from its activities. Sehubungan dengan Keputusan Menteri

Keuangan Republik Indonesia

No. 129/KMK.01/1997, BORNEO, anak

perusahaan, dan Pemerintah Republik Indonesia mengadakan Perjanjian Kerjasama Penjualan Batubara No. 32.KS/05/DJB/2009 tanggal

12 November 2009 yang berlaku sejak

1 Juli 2009 sampai dengan 31 Desember 2010 dan No. 49.BA/05/DJB/2011 tanggal 28 Maret 2011 yang berlaku sejak 1 Januari 2011 sampai dengan 31 Desember 2015. Berdasarkan perjanjian tersebut BORNEO wajib menyetor hasil penjualan batubara bagian Pemerintah sebesar 13,5% dari penjualan yang diterima BORNEO.

In accordance with the Decision Letter

No. 129/KMK.01/1997 of Ministry of

Finance of the Republic of Indonesia, BORNEO, a subsidiary, and the Government of the Republic of Indonesia entered into Coal Sale agreement No. 32.KS/05/DJB/2009 dated November 12, 2009, which was valid starting July 1, 2009 until December 31, 2010 and No. 49.BA/05/DJB/2011 dated March 28, 2011 which is valid starting January 1, 2011 until December 31, 2015. As stated in the agreement, BORNEO is required to pay to Indonesia Government an amount equivalent to 13.5% of proceeds from sale of BORNEO’s coal.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 45/2003, seluruh perusahaan yang memiliki kuasa pertambangan diwajibkan untuk membayar iuran eksploitasi sebesar 3% - 5% dari nilai penjualan, setelah dikurangi beban penjualan.

Further, based on Government regulation No. 45/2003, all companies holding mining rights have an obligation to pay an exploitation fee equivalent to certain percentage, ranging from 3% - 5% of sales, net of selling expenses.

Iuran DHPB yang masih harus dibayar pada tanggal 31 Desember 2011 dan 2010 masing-masing sebesar Rp 25.368.277.802

dan Rp 16.889.150.470 disajikan sebagai

bagian dari “Biaya yang masih harus dibayar” pada laporan posisi keuangan konsolidasian (Catatan 17). Beban DHPB untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2011 dan 2010 masing-masing sebesar Rp 162.804.577.572 dan Rp 44.512.743.168 disajikan dalam “Beban Pokok Penjualan” (Catatan 25).

As of December 31, 2011 and 2010, accrued royalty fee amounted to Rp 25,368,277,802 and Rp 16,889,150,470, respectively, and is

presented as part of “Accrued expenses” in the consolidated statements of financial position (Note 17). The royalty fee for the years ended December 31, 2011 and 2010, amounted to Rp 162,804,577,572 and Rp 44,512,743,168, respectively, and was presented as part of “Cost of Sales“ (Note 25).

b. Iuran Tetap (Deadrent) b. Deadrent

Sesuai dengan Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), BORNEO, anak perusahaan, diwajibkan untuk membayar iuran tetap kepada Pemerintah berdasarkan jumlah hektar yang termasuk dalam area PKP2B yaitu 24.100 hektar sesuai dengan tarif yang ditetapkan dalam PKP2B. Beban deadrent untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2011 dan 2010 masing-masing sebesar Rp 845.311.796 dan Rp 877.274.075, disajikan sebagai bagian dari “Beban umum dan administrasi” (Catatan 27).

In accordance with the Coal Contract of Work (CCoW), BORNEO, a subsidiary, is required to pay fixed payment (deadrent) to the Government based on total area of land of 24,100 hectares and the rates stipulated therein. Deadrent for the years ended December 31, 2011 and 2010 amounted to Rp 845,311,796 and Rp 877,274,075, respectively, and was presented as part of “General and administrative expenses” (Note 27).

c. Perjanjian Penggarapan Lahan

Pertambangan Batubara

c. Land Exploitation Agreement

BORNEO, anak perusahaan, mengadakan perjanjian penggarapan/eksploitasi lahan tambang batubara dengan beberapa pihak ketiga. Sesuai dengan perjanjian tersebut, BORNEO akan membayar pemilik lahan sejumlah nilai tertentu berdasarkan hasil produksi setiap bulan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Surat Perjanjian Kerjasama.

BORNEO, a subsidiary, had agreements with third parties relating to usage/ exploitation of a certain parcel of land in relation to its mining activities. Based on the aforementioned agreement, BORNEO will pay the land owner a certain sum of money calculated based on the production output for each month in accordance with the terms and conditions stipulated in the Agreement.

Biaya yang masih harus dibayar sehubungan dengan penggarapan lahan pada tanggal 31 Desember 2011 dan 2010 masing-masing sebesar Rp 49.500.000 dan Rp 1.146.938.945, disajikan sebagai bagian dari “Biaya yang masih harus dibayar” (Catatan 17). Beban penggarapan lahan untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2011 dan 2010 masing-masing sebesar Rp 36.577.796.877 dan Rp 7.233.020.646 disajikan sebagai bagian dari “Beban Pokok Penjualan” (Catatan 25).

Accrued production fee related to the agreement as of December 31, 2011 and 2010 amounted to Rp 49,500,000 and Rp 1,146,938,945, respectively, and was recorded as part of “Accrued expenses” (Note 17). Land exploitation expense for the years ended December 31, 2011 and 2010 amounted to Rp 36,577,796,877 and Rp 7,233,020,646, respectively, and was recorded as part of “Cost of Sales” (Note 25).

Berdasarkan Perjanjian Pemakaian Lahan tanggal 4 Juli 2008 antara PT Kirana Chatulistiwa (KIRANA), pihak ketiga, dengan BORNEO, KIRANA selaku pemilik hak atas Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) mengijinkan BORNEO melakukan kegiatan penambangan batubara didalam area HTI milik KIRANA, dimana sebagian areal PKP2B BORNEO berada di dalam areal HTI milik KIRANA. Perjanjian ini akan berakhir setelah BORNEO selesai melakukan penambangan di areal HTI. Sehubungan dengan perjanjian ini, pada tanggal 27 Agustus 2010, BORNEO telah menyerahkan uang jaminan kepada KIRANA sebesar Rp 5.000.000.000 (Catatan 13).

Based on Land Exploitation Agreement dated July 4, 2008 between PT Kirana Chatulistiwa (KIRANA), a third party, and BORNEO, KIRANA as the owner of the Industrial Forest Concession Rights (Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI)) allowed BORNEO to use a certain parcel of land in relation to its mining activities inside HTI’s area owned by KIRANA. The agreement shall be in force until BORNEO completed its mining activities. In relation to this agreement, on August 27, 2010, BORNEO has placed guarantee deposits to KIRANA amounting to Rp 5,000,000,000 (Note 13).

Pada tanggal 23 Maret 2009, BORNEO memberikan pinjaman tanpa bunga kepada KIRANA, sehubungan dengan pembiayaan kembali Dana Reboisasi Proyek HTI KIRANA sebesar Rp 5.425.530.807 dicatat sebagai bagian dari “Piutang lain-lain - pihak ketiga” tidak lancar pada laporan posisi keuangan konsolidasian. Pinjaman ini berjangka waktu sampai dengan 5 (lima) tahun.

On March 23, 2009, BORNEO granted a non-interest bearing loan to KIRANA, to pay KIRANA’s Industrial Forest Reforestation Fund amounting to Rp 5,425,530,807 and was recorded as part of noncurrent “Other accounts receivable - third parties” in the consolidated statements of financial position. The loan has a term for five (5) years.

Pada tanggal 19 Juli 2011, BORNEO, mengadakan perjanjian dengan PT Gerak Bangun Utama, pihak ketiga. Perjanjian ini dibuat sehubungan dengan kegiatan penambangan BORNEO di areal yang terdapat Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) milik pihak ketiga lainnya. Perjanjian ini berlaku 1 (satu) tahun sejak ditandatangani dan berakhir sampai dengan BORNEO selesai melakukan kegiatan penambangan di area tersebut.

On July 19, 2011, BORNEO, entered into an agreement with PT Gerak Bangun Utama, a third party. This agreement has been made in a relation with BORNEO’s mining activities in the area which Industrial Forest Concession Rights (HPHTI) is owned by other third party. This agreement is valid for one year since the signing date of the agreement until BORNEO’s mining activities in the area are completed.

Pada tanggal 5 Oktober 2011, BORNEO dan PT Buana Karya Bhakti (BKB), pihak ketiga, telah menandatangani Perjanjian Pemakaian Lahan Perkebunan BKB seluas 183,11 hektar di Batulaki Utara untuk keperluan eksploitasi/ penambangan batubara BORNEO, dengan periode kegiatan penambangan selama 4 (empat) tahun

terhitung sejak tanggal 5 Oktober 2011

dengan toleransi perpanjangan waktu selama 1 (satu) tahun. Sehubungan dengan perjanjian ini, BORNEO memberikan ganti rugi lahan pada tahun 2011 sebesar Rp 10.000.000.000, uang jaminan atas kompensasi tanah yang belum digunakan sebesar Rp 26.000.000.000 dan uang jaminan atas perbaikan sarana dan prasarana sebesar Rp 19.860.000.000 (Catatan 13).

On October 5, 2011, BORNEO and PT Buana Karya Bhakti (BKB), a third party, signed a Plantation Land Usage Agreement for an area of 183.11 hectares owned by BKB in North Batulaki for BORNEO’s coal exploitaiton/mining acitivities for a period of four (4) years since October 5, 2011 and can be extended for one (1) year. In relation to this agreement, BORNEO pays compensation for the land used in 2011 amounting to Rp 10,000,000,000, guarantee for unused land area amounting to Rp 26,000,000,000 and guarantee for infrastructure maintenance amounting to Rp 19,860,000,000 (Note 13).

Pada tanggal 5 Oktober 2011, BORNEO, mengadakan Perjanjian Kerjasama dengan PT Gagah Putera Satria (GPS), pihak ketiga, sehubungan dengan kegiatan penambangan BORNEO di areal lahan perkebunan milik BKB, uang jasa pengelolaan lahan dibayarkan oleh BORNEO kepada BKB berkisar antara US$ 1/ton sampai dengan US$ 4,75/ton berdasarkan ketentuan sebagaimana diatur dalam perjanjian. Perjanjian ini berlaku sejak ditandatangani dan berakhir sampai dengan BORNEO selesai melakukan kegiatan penambangan di areal tersebut.

On October 5, 2011, BORNEO, entered into a Cooperation Agreement with PT Gagah Putera Satria (GPS), a third party, relating to BORNEO’s mining activities in BKB’s plantation land area. Management fee paid by BORNEO to BKB ranges from US$ 1/ton up to US$ 4.75/ton based on the provision stated in the agreement. The agreement is valid since the signing date until until BORNEO’s mining activities in the area are completed.

d. Perjanjian Jual Beli Batubara d. Coal Sale and Purchase Agreement

Perusahaan The Company

Pada tanggal 20 April 2010, Perusahaan (sebagai pembeli) menandatangani Perjanjian Jual Beli Batubara dengan PT Andalan Satria Cemerlang (ASC), pihak ketiga (sebagai penjual), yang berlaku sampai dengan 30 April 2011. Sesuai dengan Adendum Perjanjian tanggal 5 Oktober 2010, jangka waktu perjanjian diperpanjang sampai dengan 31 Agustus 2012 dan Perusahaan sepakat untuk memberikan uang muka pembelian batubara sebesar Rp 100.000.000.000 yang akan diperhitungkan dengan pembelian batubara setiap bulannya. Syarat dan ketentuan lainnya dinyatakan dalam perjanjian tersebut. Pada tanggal 31 Desember 2011, saldo uang muka pembelian batu bara kepada ASC sebesar Rp 17.131.576.625 dicatat sebagai bagian dari “Biaya dibayar dimuka dan aset lancar lainnya” (Catatan 8) dan pada tanggal 31 Desember 2010 uang muka sebesar Rp 80.082.832.716 dicatat sebagai “Uang muka pembelian batubara”, dalam laporan posisi keuangan konsolidasian.

On April 20, 2010, the Company (as the buyer) entered into a Coal Sale and Purchase Agreement with PT Andalan Satria Cemerlang (ASC) (as the seller), a third party, which shall be valid until April 30, 2011. Based on the Addendum of the Agreement dated October 5, 2010, the term of contract has been extended until August 31, 2012 and the Company agreed to pay an advance for purchase amounting to Rp 100,000,000,000 which will be reckoned with its monthly purchase of coal. Other terms and conditions are stipulated in the agreement. As of December 31, 2011, advances paid to ASC amounted to Rp 17,131,576,625 was recorded as part of “Prepaid expenses and other current assets” (Note 8) and as of December 31, 2010 amounted to Rp 80,082,832,716 was recorded as “Advance for purchase of coal”, both in consolidated statements of financial position.

Pada tanggal 25 Mei 2010, Perusahaan (sebagai pembeli) menandatangani Perjanjian Jual Beli Batubara dengan PT Bara Global Energy (sebagai penjual), pihak ketiga. Spesifikasi dan harga batubara disepakati kedua belah pihak dalam perjanjian tersebut. Perjanjian ini berlaku sampai dengan 30 Juni 2011 dan tidak diperpanjang. Pada tanggal 31 Desember 2010, saldo uang muka pembelian batubara sebesar Rp 1.376.000.000 dicatat sebagai bagian dari “Biaya dibayar dimuka dan aset lancar lainnya” dalam laporan posisi keuangan konsolidasian tahun 2010 (Catatan 8).

On May 25, 2010, the Company (as the buyer) entered into a Coal Sale and Purchase Agreement with PT Bara Global Energy (as the seller), a third party. Coal price and specifications were agreed upon by both parties in the agreeement. This Agreement is valid until June 30, 2011 and has not been extended anymore. As of December 31, 2010, advance for coal purchase amounted to Rp 1,376,000,000 was recorded as part of “Prepaid expenses and other current assets” in the 2010 consolidated statement of financial position (Note 8).

Pada tanggal 2 Agustus 2010, Perusahaan (sebagai penjual) menandatangani Perjanjian Jual Beli Batubara dengan PT Transindo Makmur Sejahtera (TMS) (sebagai pembeli), pihak ketiga. Spesifikasi dan harga batubara disepakati dalam perjanjian tersebut. Perjanjian berlaku sampai dengan 31 Mei 2011, dan berdasarkan Adendum tanggal 30 Mei 2011, telah diperpanjang sampai dengan 31 Desember 2011.

On August 2, 2010, the Company (as the seller) entered into a Coal Sale and Purchase Agreement with PT Transindo Makmur Sejahtera (as the buyer), a third party. Coal specification and price are stated in the agreement. This agreement is valid until May 31, 2011 and based on Addendum dated May 30, 2011, has been extended until December 31, 2011.

Pada tanggal 30 September 2010, PT Purinusa Ekapersada dan anak-anak perusahaannya (sebagai pembeli), pihak berelasi, menandatangani Perjanjian Jual Beli Batubara dengan Perusahaan dan anak-anak perusahaannya (sebagai penjual). Perjanjian ini berlaku sampai dengan 29 September 2011 dan mencakup spesifikasi batubara dan syarat-syarat lainnya. Berdasarkan Adendum tanggal 23 September 2011, perjanjian ini telah diperpanjang sampai dengan 30 September 2012.

On September 30, 2010, PT Purinusa Ekapersada and its subsidiaries (as the buyer), related parties, entered into a Coal Sale and Purchase Agreement with the Company and its subsidiaries (as the seller). This agreement, which stated coal specifications and other terms, shall be valid until September 29, 2011. Based on Addendum dated September 23, 2011 the agreement has been extended until September 30, 2012.

Pada tanggal 25 Oktober 2010 Perusahaan (sebagai pembeli) menandatangani Perjanjian Jual Beli Batubara dengan PT Kike (sebagai penjual), pihak ketiga, yang berdasarkan Adendum tanggal 14 Maret 2011 berlaku sampai dengan 15 Mei 2011 dan tidak diperpanjang. Syarat dan spesifikasi serta ketentuan lainnya diatur dalam perjanjian tersebut. Pada tanggal 31 Desember 2010, saldo uang muka kepada PT Kike sebesar Rp 1.619.093.101 dicatat sebagai bagian dari “Biaya dibayar dimuka dan aset lancar lainnya - Uang muka pemasok” dalam laporan posisi keuangan konsolidasian tahun 2010 (Catatan 8).

On October 25, 2010 the Company (as the buyer) entered into a Coal Sale and Purchase Agreement with PT Kike (as the seller), a third party, which based on Addendum dated March 14, 2011 is valid until March 15, 2011 and has not been extended. Other terms, specifications and conditions are stated in the agreement. As of December 31, 2010, advances paid to PT Kike amounting to Rp 1,619,093,101 was recorded as part of “Prepaid expenses and other current assets - Advances to suppliers” in the 2010 consolidated statement of financial position (Note 8).

Pada tanggal 27 Juni 2011, Perusahaan (sebagai pembeli) menandatangani Perjanjian Jual Beli Batubara dengan PT Intan Sari Prakarsa, pihak ketiga (sebagai penjual), yang berlaku sejak tanggal perjanjian sampai dengan 26 Juni 2012. Perjanjian ini telah diubah dengan adendum tanggal 1 Desember 2011 mengenai perubahan mekanisme pembayaran. Syarat dan ketentuan lainnya diatur dalam perjanjian. Pada tanggal 31 Desember 2011, saldo uang muka kepada PT Intan Sari Prakarsa sebesar US$ 500.000 (setara Rp 4.534.000.000) dicatat sebagai bagian dari “Biaya dibayar dimuka dan aset lancar lainnya - Uang muka pemasok” dalam laporan posisi keuangan konsolidasian tahun 2011 (Catatan 8).

On June 27, 2011, the Company (as the buyer) entered into a Coal Sale and Purchase Agreement with PT Intan Sari Prakarsa, a third party (as the seller), which is valid since the date of the agreement until June 26, 2012. This agreement has been changed with addendum dated December 1, 2011 regarding the change in payment scheme. Other terms and conditions are stated in the agreement. As of December 31, 2011, advances paid to PT Intan Sari Prakarsa amounted to US$ 500,000 (equivalent to Rp 4,534,000,000) was recorded as part of “Prepaid expenses and other current assets - Advances to suppliers” in the 2011 consolidated statement of financial position (Note 8).

Pada tanggal 27 Juni 2011, Perusahaan (sebagai penjual) menandatangani Perjanjian Jual Beli Batubara dengan Zhejiang Qiying Energy & Chemical Co. Ltd., (sebagai pembeli), pihak ketiga, untuk jangka waktu sejak Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012. Syarat dan ketentuan lainnya diatur dalam perjanjian tersebut.

On June 27, 2011, the Company (as the seller) entered into a Coal Sale and Purchase Agreement with Zhejiang Qiying Energy & Chemical Co. Ltd., (as the buyer), a third party, for the period since August 2011 until June 2012. Other terms and conditions are stated in the agreement.

Pada tanggal 1 Juli 2011, Perusahaan (sebagai pembeli) menandatangani Perjanjian Jual Beli Batubara dengan PT Transindo Makmur Sejahtera, pihak ketiga (sebagai penjual), yang berlaku sampai dengan 30 Juni 2012. Syarat dan ketentuan lainnya dinyatakan dalam perjanjian tersebut. Pada tanggal 31 Desember 2011, uang muka dibayar kepada TMS sebesar Rp 2.508.750.000 dicatat sebagai bagian “Biaya dibayar dimuka dan aset lancar lainnya - Uang muka pemasok” dalam laporan posisi keuangan konsolidasian tahun 2011 (Catatan 8).

On July 1, 2011, the Company (as a buyer) entered into a Coal Sale and Purchase Agreement with PT Transindo Makmur Sejahtera, a third party (as a seller), which is valid until June 30, 2012. Other terms and conditions are stated in the agreement. As of December 31, 2011, advances paid to TMS amounted to Rp 2,508,750,000 was recorded as part of “Prepaid expenses and other current assets - Advances to suppliers” in the 2011 consolidated statement of financial position (Note 8).

BORNEO BORNEO Pada tanggal 23 Agustus 2010, BORNEO,

anak perusahaan, (sebagai penjual) mengadakan Perjanjian Jual Beli Batubara dengan Element Commodities Ltd (Element), pihak ketiga, (sebagai pembeli), dengan minimum kuantitas sebesar 50.000 metrik ton selama 7 bulan sampai dengan 7 Maret 2011. Spesifikasi dan harga batubara telah disepakati kedua belah pihak

dalam amandemen tanggal 15 Desember 2010. Perjanjian ini tidak diperpanjang lebih lanjut. Berdasarkan Surat Korespondensi tanggal 16 Desember 2010, Element mengalihkan Perjanjian Jual Beli Batubara tersebut kepada Graceland Pte Ltd

(Graceland). Pada tanggal 31 Desember 2010, saldo uang muka yang

diterima sehubungan dengan perjanjian jual beli batubara sebesar US$ 108.750 (setara Rp 977.771.250) (Catatan 18) disajikan sebagai uang muka pelanggan - pihak ketiga pada laporan posisi keuangan konsolidasian tahun 2010.

On August 23, 2010, BORNEO, a subsidiary, (as the seller) entered into a Coal Sale and Purchase Agreement with Element Commodities Ltd (Element), a third party, (as the buyer) with a minimum quantity of 50,000 metric tons in seven month up to March 7, 2011. The specifications and coal price agreed by both parties are stated in amendment dated December 15, 2010. This agreement was not extended. Based on Corespondence Letter dated December 16, 2010, Element transferred the Coal Sale and Purchase Agreement to Graceland Pte Ltd (Graceland). As of December 31, 2010, advances for coal purchase amounted to US$ 108,750 (equivalent to Rp 977,771,250) (Note 18) and was recorded as part of “Advance from a customer - third party” in the 2010 consolidated statement of financial position.

Pada tanggal 31 Mei 2011, BORNEO, anak perusahaan, (sebagai penjual) menandatangani Perjanjian Jual Beli Batubara dengan Zhejiang Qiying Energy & Chemical Co., Ltd., pihak ketiga, (sebagai pembeli) untuk sejumlah 450.000 metrik ton batubara. Perjanjian berlaku sampai dengan 30 Juni 2012 atau sampai kewajiban kedua belah pihak terpenuhi, mana yang tercapai terlebih dahulu. Syarat dan ketentuan lainnya diatur dalam perjanjian.

On May 31, 2011, BORNEO, (as the seller) entered into a Coal Sale and Purchase Agreement with Zhejiang Qiying Energy & Chemical Co., Ltd., a third party, (as the buyer) for 450,000 metric tons of coal. This agreement is valid until June 30, 2012 or until obligations of both parties are fullfilled, whichever comes first. Other terms and conditions are stated in the agreement.

KIM KIM Pada tanggal 25 Agustus 2010, KIM

mengadakan Perjanjian Jual Beli Batubara dengan PT Bara Global Energy, pihak ketiga. KIM akan membeli batubara dengan spesifikasi standar dan kualitas yang disepakati kedua belah pihak. Perjanjian ini berlaku efektif sejak tanggal 25 Agustus 2010 dan akan berakhir pada tanggal 24 Agustus 2011. Perjanjian ini telah diperpanjang beberapa kali sampai dengan 23 Januari 2013. Pada tanggal 31 Desember 2011 dan 2010, saldo uang muka sebesar Rp 2.300.000.000 dicatat sebagai bagian dari “Biaya dibayar dimuka dan aset lancar lainnya - Uang muka pemasok” (Catatan 8).

On August 25, 2010, KIM entered into a Coal Sale and Purchase Agreement with PT Bara Global Energy, a third party. KIM will purchase coal with standard specifications and quality agreed upon by both parties. The agreement is valid effective August 25, 2010 and will expire on August 24, 2011. This agreement has been extended several times until January 23, 2013. As of December 31, 2011 and 2010, advances paid amounted to Rp 2,300,000,000 was recorded as part of “Prepaid expenses and other current assets - Advances to suppliers” (Note 8).

KIM, NIL, WAL, dan MAL KIM, NIL, WAL, and MAL

Pada tanggal 31 Juli 2009, KIM, NIL, WAL dan MAL, anak-anak perusahaan, mengadakan Perjanjian Jual Beli Batubara dengan PT Sinar Mas Tunggal (SMT), pihak berelasi, dimana anak-anak perusahaan akan menyediakan dan menjual batubara kepada SMT dengan spesifikasi standar dan kualitas yang akan disepakati oleh kedua belah pihak. Perjanjian ini berlaku efektif sejak tanggal 1 Agustus 2009 dan akan berakhir pada tanggal 31 Juli 2019 dan dapat diperpanjang oleh SMT untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun.

On July 31, 2009, KIM, NIL, WAL and MAL, subsidiaries, entered into Coal Sale and Purchase Agreement with PT Sinar Mas Tunggal (SMT), a related party. The subsidiaries will provide and sell coal to SMT based on specification and quality of coal agreed by the parties. These agreements are effective on August 1, 2009 until July 31, 2019 and can be extended by SMT for another ten (10) years.

Pada akhir tahun 2010, NIL dan WAL telah