BAMBU RUNCING DI TENGAH SERGAPAN BEDIL JEPANG
B. Perjuangan KH Subch
Tampilnya kyai sebagai pemimpin suatu gerakan di Indonesia tidaklah asing lagi, sebab kyai dalam kehidupannya menyatu dengan rakyat sehingga menjadi pengayom rakyat. Selain itu, kyai juga memiliki otoritas kharismatik sebagai elite religious, yang mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat. Dengan demikian kepemimpinan kyai wajar jika tumbuh dan berkembang di daerah-daerah Indonesia, seperti halnya di
Parakan dan sekitarnya.124 Parakan sendiri banyak lahir kyai yang
memiliki peran besar terhadap perang kemerdekaan. Salah satunya adalah KH Subchi, KH Subchi memimpin para ulama, para pemuda dan rakyat Parakan untuk melawan penjajah yang berada di Parakan dan sekitarnya. Menurut Adaby Darban, keiikutsertaan kyai dalam perjuangan kemerdekaan memang terbukti saat kyai melakukan strategi dengan tugas masing-masing sebagai bagian dalam pasukan. Masing-masing tugas diantaranya ada yang mendorong dengan do’a-do’a, dan bahkan ada yang langsung di Medan pertempuran melawan penjajah. Tampilnya KH Subchi yang saat itu usianya kurang lebih 70 tahun ikut mendatangi ke berbagai daerah-daerah pertempuran. KH Subchi mendatangi Ambarawa,
Cepiring, Semarang, Pati bahkan sampai ke Jawa Timur.125
Diungkapkan oleh Muhammad Asrof cicit dari KH Subchi bahwa tampilnya KH Subchi dalam kemerdekaan Indonesia tidak dilakukannya
123
Adaby Darban, “Sejarah Bambu Runcing”, hlm. 18. 124
Ibid, hlm. 10. 125
43
dengan perjuangan secara fisik akan tetapi KH Subchi hanya melakukan perjuanganya dengan cara berdo’a dan memberikan semangat kepada
para pasukan yang akan bertempur di medan peperangan.126 Peranan alim
ulama (kyai) ternyata menyumbangkan moral yang sangat berguna bagi para pejuang kemerdekaan. Beberapa kyai telah memberikan do’a-do’a kepada para pejuang. Dalam hal ini ada beberapa kyai Parakan yang ikut serta dalam perjuangan membela kemerdekaan diantaranya KH Ali, KH Sumogunardho. KH Subchi bertugas sebagai pemimpin dan yang memberikan gemblengan kepada para pejuang. Selain memberikan semangat serta gemblengan KH Subchi juga memberikan amalan do’a untuk memohon pertolongan dan kekuatan dari Allah SWT masing- masing amalan tersebut dibaca 3 kali setiap akan pergi ke medan peperangan. Amalan tersebut diantaranya:
1. Bismillahhi Biaunillah 2. Allahu Ya Khafidhu 3. Allah hu Akbar
Illahana Ya Sayidana Anta Maulana Fansurna Alal Qoimil Kafirin.127
KH Ali bertugas memberikan banyu wani (air berani), yaitu air putih diberi do’a dengan maksud tidak gentar melawan musuh.128
Sebelum memberikan air berani kepada para pejuang KH Ali menyuruh untuk melakukan upacara do’a dengan berendam di kolam masjid Kauman Parakan. Upacara ini dimaksudkan untuk penyucian diri sebelum berangkat ke medan pertempuran. Selama menyelam di kolam
126
Wawancara dengan Muhammad Asrof cicit KH Subchi pada tanggal 3 September 2018 pukul 12:40.
127
Wawancara dengan Muhammad Asrof cicit KH Subchi pada tanggal 3 September 2018 pukul 12:40.
128
44
masjid Kauman Parakan yang dilakukan pada pukul 01:00 malam dengan
membaca ayat Al-Qu’ran surat Al-An’am ayat 103 sebanyak 313 kali129 :
ِن اَطْيَّشلا َهِم ِالله اِب ُذْىُعَا
.مْيِحَّرلا ِهَمْحَّرلا ِالله ِمْسِب مْيِجَّرلا
.رْيِبَخلْا ُفْيِطَّلا َىُهَو .َر اَصْب َلاْا ُكِرْدُيَىُهَو .ُر اَصْب َلاْا ُهُكِرْدُتَلا
Sedangkan KH Sumogunardho bertugas untuk menyepuh bambu runcing, dengan maksud para pejuang yang bersenjatakan bambu runcing tidak merasa rendah diri, namun para pejuang tampil dalam perangdengan penuh semangat. 130 Para pejuang diberi ijazah oleh KH
Sumogunardho, kemudian meniupkan dipucuk Bambu Runcing (ujung)
dengan membaca ayat suci Al-Qur’an surat An-An-Anfal ayat 17 dengan
dibaca 3 kali dengan tidak bernafas:131
ىَمَر َالله َّهِكَلَو َتْيَمَرْذِا َتْيَمَراَمَو
Setelah memperoleh doa dari KH Subchi, para pejuang mempunyai kebulatan hati yang tak tergoyahkan menuju pertempuran dan mempunyai ketabahann untuk bertawakal kepada Allah SWT. Para pejuang yang hendak berangkat menuju pertempuran, mereka dating dan meminta do’a dari KH Subchi.132Peristiwa didudukinya Magelang oleh tentara sekutu membuat pasukan Jenderal Sudirman dengan anak buahnya dari Purwakarta singgah terlebih dahulu ke Parakan bertemu dengan KH Subchi untuk meminta gemblengan sebelum menuju pertempuran ke Ambarawa. Gemblengan tersebut dilakukan pada hari selasa kliwon jam 12:00 siang tanggal 30 oktober 1945 saat berlangsungnya bedug drandang, karena
129
Istachori, “Sejarah barisan Bambu Runcing Parakan Temanggung”, hlm. 7. 130
Ahmda Adaby Darban, “Sejarah Bambu Runcing”, hlm. 14. 131Istachori, “
Sejarah barisan Bambu Runcing Parakan Temanggung”, hlm. 14. 132
Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Sastra LKiS, 2001), hlm. 340.
45
waktu saat itu adalah waktu mustajab dan bambu runcingnya mencari
bambu wulung. Untuk memberi do’a kepucuk bambu runcing sudah
dilaksanakan di depan rumah KH Sumogunardho sesudah itu, karena tempatnya tidak mencukupi para pejuang yang ingin meminta do’a dan gemblengan yang semakin hari semakin banyak yang datang untuk meminta ditiupkan bambu runcingnya, kemudian pindah ke rumahnya mbah Moho (bangsa Tiong Hoa) di jalan masjid Kauman Parakan yang tidak lain adalah markas dan kantor Barisan Muslimin Temanggung (BMT). Selain gemblengan, para pejuang meminta doa kepada KH Subchi untuk menyepuh ujung senjata api. Selain itu Jendral Sudriman juga meminta kepada pasukannya, jika akan turun di pertempuran Jendral Sudirman menyuruh kepada pasukannya untuk miminta berkah kepada KH Subchi yang saat itu juga KH Subchi menjadi imam atau pemimpin
tertinggi Barisan Bambu Runcing.133 Pendapat tersebut dikuatkan oleh
Rijal Mumazziq, bahwa Kiai Subchi juga banyak dirujuk oleh para pejuang pada saat perang diantaranya pasukan yang dipimpin oleh Jendral Sudirman. KH Subchi adalah putra salah satu pengikut Diponegoro yang setelah undur diri dari medan tempur memutuskan mendirikan sebuah perguruan agama di sebuah desa bernama Parakan.
Di masa-masa awal revolusi fisik itu, setiap hari ribuan pejuangan mampir ke Parakan dalam perjalanan mereka dari ke front-front pertempuran di Magelang, Ambarawa, Ungaran, dan Semarang. Beberapa di antaranya bahkan datang dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Barat. KH Subchi, saat itu berumur 90-an tahun, adalah magnet yang menarik mereka ke Parakan. Mereka ingin didoakan oleh kiai sepuh
itu. Dalam otobiografinya, Berangkat dari Pesantren, KH Saifudin Zuhri
antara lain menulis, di antara pasukan yang singgah ke Parakan terdapat anggota Tentara Keamanan Rakyat dari Banyumas pimpinan Kolonel Soedirman yang belakangan menjadi panglima besar. Mereka membawa
133Istachori Syamani., “
Sejarah barisan Bambu Runcing Parakan Temanggung”, hlm. 24.
46
peralatan tempur lengkap. Ketika itu mereka dalam perjalanan ke medan perang Ambarawa.
Diceritakan juga bahwa banyak para pejuang kemerdekaan yang datang ke Parakan untuk menemui kiai yang sudah sepuh itu, sekedar meminta doa dan berkah dari sang kiai. Di antara mereka misalnya: Panglima Besar Jenderal Sudirman, KH Wahid Hasyim, KH Zainul Arifin, KH Masykur, KH Saifuddin Zuhri, Mr. Mohammad Roem, Mr.
Kasman Singodimejo, dan Anwar Cokroaminoto.134
Ternyata jiwa nasional yang dimiliki oleh KH Subchi diwarisinya dari kakeknya KH Subchi, Harun Ar-Rasyid, yang merupakan anak buahnya Pangeran Diponegoro. Hal itu terbukti di dalam pernyataan Saifuddin Zuhri bahwa KH Subchi mengatakan kepadanya sekitar tahun 1850 ketika sisa-sia bekas anak buah Pangeran Diponegoro menjadi buronan Belanda, KH Subchi yang saat itu masih kecil digendong oleh kakeknya berlari-lari menyembunyikan diri dari sergapan serdadu-
serdadu Belanda.135