TINJAUAN UMUM PERLINDUNGAN ANAK DARI PERKAWINAN USIA DINI
B. Perkawinan Anak Usia Dini 1.Batas Usia Dini
Mengenai batas usia perkawinan terjadi perbedaan pendapat antara para ahli. Hal tersebut terjadi karena tidak ditemukannya hukum yang secara pasti membatasi perkawinan dengan usia, melainkan dengan sifat kedewasaan seseorang. Penentuan kedewasaan terjadi secara variatif karena terdapat perbedaan sudut pandang hukum terhadap problema masyarakat dalam semua tingkatan sosial.
Secara tersurat, dalam Al-Qur‟an tidak ditemukan ayat yang berkaitan dengan batas usia perkawinan, namun Al-Qur‟an memiliki
31
beberapa ayat yang berhubungan dengan usia baligh seperti pada Surat An-Nur ayat 32.
(رونلا
:
32
)Artinya: “dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.”(QS. An-Nur ayat 32)
Dalam tafsir Al-Maraghi (1993:186), kata washshalihin (ٍَْي ِذِهّصنا َو) dimaknai sebagai laki- laki atau perempuan yang mampu untuk menikah danmelakukan hak-hak suami istri, seperti berbadan sehat, memiliki harta, dan lain- lain. Sedangkan menurut Q uraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah (2012 c:536) menafsirkan washshalihin sebagai seseorang yang mampu
secara mental dan spiritual untuk membina rumah tangga. Menurutnya, kata tersebut bukan dalam arti yang taat beragama, karena fungsi perkawinan memerlukan persiapan, tidak hanya materi, tetapi juga kesiapan mental maupun spiritual, baik bagi calon suami maupun calon istri. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa indikator kesehatan mental seseorang itu sangat berkaitan dengan usia seseorang. Hal tersebut dikuatkan dengan pandangan Dedi Supriyadi (2011:60), bahwa secara umum orang yang sehat mental dan dewasa adalah orang yang usianya
32
lebih dari anak-anak, atau dapat dikatidakan matang secara kejiwaan dan pemikiran.
Kata shalihin sebagaimana tersebut di atas merupakan cikal bakal
dalam proses penetapan usia baligh pada sebuah pernikahan. Kata tersebut memberikan petunjuk bahwa pernikahan dalam Islam memiliki syarat, meskipun masih bersifat umum. Adapun syarat yang ditonjolkan dalam hal ini adalah kedewasaan dan kematangan yang identik dengan usia seseorang. Dalam hadits dijelaskan:
َلاَق َىَّهَس َو ِّْيَهَع ُالله ًَّهَص ِّيِثَُّنا ٍَِع َحَشِئاَع ٍَْع
:
ٍَِع ٍث َلََث ٍَْع ُىَهَقنْا َعِفُس
ْوَا َمِقْعَي ًَّتَد ٌِ ْىُُْجًَنا ٍَِع َو َشُثْكَي ًَّتَد ِشْيِغَّصنا ٍَِع َو َظِقْيَتْسَي ًَّتَد ِىِئاَُّنا
َقْيِفُي
(
يزيشتنا لاا حعتسلاا و ذًدا ِاوس
)
Artinya: “dari Aisyah r.a. dari Nabi SAW, bersabda: Terangkat qalam (pertanggungjawabanmu) dari tiga hal, orang yang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia mimpi, dan orang gila hingga ia siuman (sembuh) dan sadar. (H.R. Ahmad dan empat imam, kecuali Tirmidzi).
Makna esensial hadits di atas secara tersurat tidak mengisyaratkan usia baligh, namun menjelaskan tanda-tanda baligh. Fuqaha tidak sepakat terhadap batas usia minimal perkawinan, akan tetapi mereka berpandangan bahwa baligh bagi seseorang itu belum tentu menunjukkan kedewasaannya, dengan alasan sebagai berikut (Supriyadi, 2011:62-63): a. Ketentuan baligh maupun dewasa bukan persoalan yang dijadikan
pertimbangan boleh tidaknya seseorang melaksanakan perkawinan, sebagaimana Imam Maliki, Imam Syafi‟I, dan Imam Hambali yang berpendapat bahwa ayah boleh menikahkan anak perempuan kecilnya
33
yang masih perawan (belum baligh), demikian juga kakeknya apabila
ayah tersebut tidak ada.
b. Adanya fakta sejarah yang menyatakan bahwa batasan usia perkawinan sebagaimana dicontohkan Nabi SAW dengan Aisyah yang berusia 9 tahun. Selain itu, Rasul SAW membolehkan Ibnu Umar mengikuti perang Khandaq ketika ia sudah berusia 15 tahun.
Batasan usia kedewasaan seorang anak di Indonesia dapat ditemukan pada beberapa Undang-Undang. Adapun Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 mengatur ketentuan usia kedewasaan seseorang untuk dapat melangsungkan perkawinan sebagaimana berikut.
a. Izin orang tua bagi orang yang akan melangsungkan perkawinan apabila belum mencapai umur 21 tahun (pasal 6 ayat 2).
b. Umur minimal untuk diizinkan melangsungkan perkawinan, yaitu pria 19 tahun dan wanita 16 tahun (pasal 7 ayat 1).
c. Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah kawin, berada di dalam kekuasaan orang tua (pasal 47 ayat 1).
d. Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah kawin, yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tuanya, berada di bawah kekuasaan wali (pasal 50 ayat 1).
Isi pasal 50 ayat (1) UU Perkawinan secara jelas menunjukkan ketentuan usia perkawinan yang belum mencerminkan kedewasaan seseorang. Menaggapi berbagai ketentuan batas usia kedewasaan yang ditentukan pada UU Perkawinan, penulis sependapat dengan Ahmad
34
Rofiq (dalam Supriyadi, 2011:94) yang menyatakan bahwa batasan usia perkawinan dalam UU Perkawinan tidak konsisten.
Undang-undang lain juga mengatur batas usia kedewasaan anak secara berbeda. Perbedaan batasan yang diberikan berkaitan erat dengan pokok persoalan yang diatur. Pembatasan usia anak-anak merupakan cara negara melindungi warganya yang belum mampu mengemukakan pendapat dengan benar dan belum menyadari konsekuensi dari perbuatannya (Musfiroh, 2016:66-67). Tabel 2.1 merupakan perbandingan batas usia anak dalam beberapa peraturan perundang-undangan di Indonesia.
Tabel 2.1 Perbandingan Batas Usia Anak
No Undang-Undang Batas Usia Anak
1 KUH Perdata Janin dalam kandungan sampai usia 21 tahun atau pernah kawin (Pasal 330)
2 UU Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak
Usia 21 tahun atau pernah kawin (pasal 1 huruf 2)
3 Kepres Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Konvensi Hak Anak
18 tahun (Pasal 1)
4 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
Usia 18 Tahun atau pernah menikah (pasal 1 huruf 5)
5 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
18 tahun (Pasal 1 huruf 26) 6 UU Nomor 40 Tahun 2004
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
23 tahun, sudah bekerja, atau telah menikah (Pasal 41)
7 UU Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
Usia 18 Tahun atau telah menikah (Pasal 39)
8 UU Nomor 7 Tahun 1983 jo UU Nomor 36 Tahun 2006 tentang Pajak Penghasilan
Usia 18 tahun atau telah menikah (penjelasan Pasal 8 ayat (2))
10 UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang kewarganegaraan
18 tahun atau telah kawin (Pasal 4)
35 Lanjutan Tabel 2.1
No Undang-Undang Batas Usia Anak
11 UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang
Janin dalam kandungan sampai usia 18 tahun (Pasal 1 huruf 5) 12 UU Nomor 10 Tahun 2008
tentang Pemilihan DP, DPD, dan DPRD
17 tahun atau pernah kawin (Pasal 1 huruf 22)
13 UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden
17 tahun atau pernah kawin (Pasal 1 huruf 22)
14 UU Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi
Usia 18 tahun (Pasal 1 huruf 4) 15 UU Nomor 2 Tahun 2008 jo UU
Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik
17 tahun atau pernah kawin (Pasal 14)
16 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya
17 tahun (Pasal 81)
17 UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak
Minimal 12 tahun dan maksimal 18 tahun (Pasal 1 huruf 3) 18 UU Nomor 35 tahun 2014
tentang Perlindungan Anak
Janin dalam kandungan sampai usia 18 tahun (pasal 1 huruf 1) Secara yuridis, pengaturan yang berbeda dalam berbagai undang-undang tentang batas usia seseorang disebut sebagai anak-anak juga menambah polemik pernikahan dini di Indonesia. Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa anak adalah individu dengan usia dibawah 18 tahun dan orang tua wajib untuk mencegah terjadinya pernikahan usia dini. Sementera itu, Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa batas usia perkawinan adalah 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki- laki. Hal ini menunjukkan bahwa belum ada sinkronisasi tentang batas usia.
36 2. Pengertian Pe rkawinan Usai Dini
Perkawinan atau nikah menurut bahasa berarti berkumpul menjadi satu. Menurut syara‟ nikah adalah suatu aqad yang berisi pembolehan melakukan persetubuhan dengan menggunakan lafadh
ٍحاَكَِْإ
(menikahkan) atauجْيِو ْزَت
(mengawinkan) (Al-Asqolani, 1980:1).Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dalam Pasal 1 mendefinisikan perkawinan adalah ikatan lahir batin atara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (2015:2). Sedangkan KHI mendefinisikan pernikahan sebagai sebuah akad atau ikatan yang kuat atau miitsaaqan gholiidhan
untuk menaati perintah Allah SWT dan melaksanakannya merupakan ibadah (2015:324).
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perkawinan adalah suatu perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki- laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga sehingga diliputi rasa tentram dan kasih sayang dengan cara yang di-ridloi Allah SWT.
Adapun pengertian dari perkawinan anak usia dini atau sering disebut sebagai perkawinan anak di bawah umur dapat kita ambil dari berbagai sumber. UU Perlindungan Anak menentukan bahwa orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya
37
perkawinan pada usia anak-anak (Pasal 26 ayat (1) huruf c). Anak dalam UU Perlindungan Anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 18 tahun maupun yang berada dalam kandungan. Ketentuan tersebut dapat dijadikan pengertian perkawinan anak usia dini yaitu perkawinan yang dilakukan oleh seseorang yang belum mencapai batas umur tersebut. Menurut Husein Muhammad (2007:90) perkawinan anak usia dini adalah perkawinan usia muda (belia) atau perkawinan yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang belum baligh.
Menurut Yusuf Hanafi (2012:74), pada prinsipnya agama Islam membenarkan perkawinan yang dilakukan oleh orang dewasa. Anak-anak di bawah umur tidak dapat melakukan suatu ikatan. Kementrian Agama juga sudah melarang perawinan anak usia dini. Hal tersebut tertuang dalam Surat Edaran tanggal 21 Oktober 2009 No. A/VII/142 yang memberikan intruksi supaya pegawai Kemenag jangan memberikan bantuan untuk perkawinan anak-anak.
Berdasarkan beberapa ketentuan di atas, perkawinan anak usia dini perspektif UU Perlindungan Anak adalah suatu akad perkawinan yang terjadi antara calon mempelai yang masih tergolong pada usia anak-anak yaitu seseorang yang belum mencapai usia 18 tahun sebagaimana ditetapkan dalam UU Perlindungan Anak.
38 3. Dampak Pe rkawinan Anak Usia Dini
Perkawinan anak usia dini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti hamil diluar nikah, adanya beban ekomoni, desakan budaya, pendidikan rendah dan sebagainya (Surbakti, 2008:316). Terlepas dari faktor tersebut, perkawinan anak usia dini menimbulkan berbagai dampak. Dampak dari perkawinan anak usia dini dibagi menjadi dua macam, yaitu dampak positif dan negatif.
a. Dampak Positif
1) Perkawinan anak usia dini dapat menjaga norma- norma menyangkut kesucian anak perempuan maupun laki- laki dari dosa perzinahan.
2) Perkawinan anak usia dini dapat menghindari kelahiran anak-anak diluar perkawinan, yang mana mendapat stigmatisasi sebagai anak yang tidak diharapkan atau pembawa aib (Munti, 2005:55).
b. Dampak Negatif
1) Dampak Psikologis
Dampak psikologis pernikahan dini berupa ketidakmampuan mengemban fungsi- fungsi reproduksi dengan baik. Menurut para psikolog, ditinjau dari sisi sosial pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. (Irianto, 2006:158).
39
Pendapat serupa dikatakan oleh Abdi Koro (2012:181) bahwa perkawinan anak usia dini lebih banyak menimbulkan hal-hal yang tidak sejalan dengan misi tujuan perkawinan, yaitu terwujudnya ketentraman rumah tangga berdasarkan kasih sayang. Tujuan ini tentu akan sulit terwujud, apabila suami istri belum memiliki kematangan jiwa dan pemikiran dewasa. Menurut Ahmad Rofiq (dalam Koro, 2012:181) kematangan dan integritas pribadi yang stabil akan sangat berpengaruh dalam penyelesaian setiap problem yang muncul dalam menghadap badai rumah tangga.
Menurut Yusuf Hanafi (2012:88), gadis- gadis muda yang dikawinkan pada usia dini lazimnya bersuami pria yang berusia jauh lebih tua darinya. Akibatnya, margin usia yang sangat lebar inilah hampir selalu muncul problem komunikasi keluarga maupun seksual diantara keduanya.
2) Dampak Biologis
Pernikahan dini menimbulkan dampak biologis seperti, kerusakan organ-organ reproduksi dan kehamilan prematur. Anak dibawah umur 20 tahun secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya, apalagi jika sampai hamil kemudian melahirkan. Perempuan tersebut beresiko terkena kangker rahim. Sebab pada usia remaja, sel-sel
40
leher rahim belum matang (Irianto, 2008:158). Selain itu, resiko infeksi HIV pada seks yang tidak terlindungi dua sampai empat kali lebih tinggi pada perempuan di banding pada laki-laki. Resikonya bahkan lebih besar pada gadis yang sedang tumbuh menuju kematangan fisiknya, karena luka akibat penetrasi mempermudah terjadinya infeksi (O‟Donnell, 2006:89). Menurut Yusuf Hanafi (2012:80-86) perkawinan anak usia dini menyebabkan kematian ibu karena berdasarkan penelitian, ibu kecil yang berusia 10-14 tahun memiliki resiko meninggal 5 kali lebih besar dalam proses persalinan dari wanita dewasa.
3) Dampak Pendidikan
Pernikahan dini akan menghilangkan berbagai hak anak, seperti hak untuk memperoleh pendidikan (wajib belajar 12 tahun), hak bermain dan menikmati waktu luangnya, serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri anak.
Akibat lain dari perkawinan usia muda umumnya pasangan suami istri tersebut memiliki tingkat pendidikan rendah, termasuk tingkat pengetahuan agamanya. Bahkan dapat diduga pengalaman ajaran agamanya rendah pula. Jika hal itu terjadi, maka tujuan perkawinan sebagaimana disebutkan dalam UU Perkawinan yaitu “kehidupan yang bahagia dan kekal”, tentu
41
semakin sulit untuk diwujudkan dalam kehidupan berumah tangga (Koro, 2012:179).
4) Dampak Ekonomi
Anak-anak perempuan yang menikah atau menjadi hamil pada umumnya keluar dari sekolah. Potensi pendapatan mereka juga terpengaruh, menjadikan mereka lebih tergantung kepad a pasangannya atau laki- laki lain, dan mereka cenderung memiliki keluarga dengan jumlah yang lebih besar. Data Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa “Memiliki anak pada usia dini dalam keluarga miskin melangggengkan siklus kemiskinan antar generasi” (O‟Donnell, 2006:89).
C. Peran Pemerintah Daerah dalam Perlindungan Anak