• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONSEP POLIGAMI MENURUT HUKUM POSITIF DAN HUKUM

5. Perkawinan Poligami yang Tercatat

Pencatatan perkawinan adalah suatu yang dilakukan oleh pejabat Negara terhadap peristiwa perkawinan. Dalam hal ini pegawai pencatat nikah yang melangsungkan pencatatan, ketika dilangsungkan suatu akad perkawinan antara calon suami dan calon istri.34

Pencatatan adalah suatu administrasi Negara dalam rangka menciptakan ketertiban dan kesejahteraan warga negaranya. Mencatat artinya memasukan perkawinan itu dalam buku akta nikah kepada masing-masing suami istri. Kutipan akta nikah itu sebagai bukti otentik yang dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah, Talak, dan Rujuk. Juga oleh pegawai perkawinan pada Kantor Catatan Sipil sebagaimana dimaksud dalam berbagai perundang-undangan yang berlaku mengenai pencatatan perkawinan.35

32 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, BAB VIII Pasal 43.

33 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, BAB VIII Pasal 44.

34 Muhammad Zein & Mukhtar Alshadiq, Membangun Keluarga Harmonis, (Jakarta:

Graha Cipta, 2005), Cet, ke-1, h. 36.

35 Arso Sostroatmodjo, dan A. Wasit Aulawi, “Hukum Perkawinan Indonesia”, (Jakarta:

Bulan Bintang, 1978), hal. 55-56.

Untuk hukum yang berlaku di Indonesia pencatatan perkawinan telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946 Tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 Tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.36

Berdasarkan ketentuan perundang-undangan tersebut di atas, Menteri Agama Republik Indonesia mengeluarkan ketentuan-ketentuan pelaksanaannya yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Agama (Permenag) Nomor 3 Tahun 1975 Tentang Kewajiban Pegawai-Pegawai Nikah dan Tata Kerja Pengadilan Agama dalam Melaksanakan Peraturan Perundang-Undangan Perkawinan Bagi yang Beragama Islam. Ketentuan ini sebagai pedoman pelaksanaan teknis yang harus dipatuhi oleh Hakim Pengadilan Agama dalam memberikan putusan/penetapan izin berpoligami, maupun oleh pejabat pencatat nikah dalam menyelenggarakan Pencatatan Perkawinan Poligami.37 Pengadilan Agama ialah penetapan yang berupa izin beristri lebih dari seorang.39

36 Jaih Mubarok, “Modernisasi Hukum Islam”, (Bandung: Pustaka Bani Quraysi, 2005), hal. 76.

37 Anwar Sitompul, Kewenangan dan Tata Cara Berperkara di Peradilan Agama, (Bandung; CV. Armico, 1984), h. 67

38 Permenag Nomor 3 Tahun 1975, (Pasal 8 Ayat 2).

39 Pemenag Nomor 3 Tahun 1975, (Pasal 1 Ayat 2 poin h)

22

Pasal 14 ayat 1 mengatur permohonan secara tertulis. Apabila seorang suami bermaksud untuk beristri dari seorang maka ia wajib mengajukan permohonan secara tertulis disertai alasan-alasannya kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggalnya, dengan membawa kutipan akte nikah yang terdahulu dan surat-surat lain yang diperlukan.

Pasal 14 ayat 2, Pengadilan Agama kemudian memeriksa hal-hal sebagaimana yang diatur dalam pasal 41 Peraturan Pemerintah No.

9 Tahun 1975.

Pasal 14 ayat 3, Pengadilan Agama dalam melakukan pemeriksaan harus memanggil dan mendengar keterangan istri yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam Pasal 42 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975.

Setelah melakukan pemeriksaan, apabila Pengadilan Agama berpendapat bahwa cukup beralasan bagi pemohon untuk beristri lebih dari seorang, maka Pengadilan Agama memberikan putusannya yang berupa izin untuk beristri lebih dari seorang kepada pemohon yang bersangkutan. 40

Pegawai Pencatat Nikah atau P3 NTR dilarang melangsungkan, membantu, melangsungkan, mencatat, atau menyaksikan pernikahan sebelum dipenuhi persyaratan untuk melangsungkan pernikahan sebagaimana diatur dalam pasal 8, 12, 13, dan 14 Peraturan ini.41

Berdasarkan ketentuan pencatatan perkawinan poligami di atas, seorang yang ingin beristri lebih dari seorang diharuskan mengikuti proses serta ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

40 Pemenag Nomor 3 Tahun 1975, (Pasal 14)

41 Pemenag Nomor 3 Tahun 1975, (Pasal 15)

Jika tidak, maka izin untuk beristri lebih dari seorang dapat ditolak oleh Pengadilan Agama serta Pegawai Pencatat Nikah.

Meskipun masalah pencatatan perkawinan telah diatur dalam pasal 2 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, namun sampai saat ini masih ada kendala dalam pelaksanaannya. Hal ini mungkin sebagian masyarakat muslim belum mengetahui keberadaan aturan tersebut. Ataupun masih ada yang berpegang teguh kepada perspektif fiqh tradisional.

Menurut pemahaman sebagian masyarakat tersebut bahwa perkawinan sudah sah apabila ketentuan-ketentuan yang tersebut dalam kitab fiqh sudah terpenuhi, tidak perlu adanya pencatatan di Kantor Urusan Agama (KUA) dan tidak perlu surat nikah sebab hal itu hanya merepotkan saja. Sebagai akibat dari pemikiran tersebut di atas, banyak timbul perkawinan secara sirri tanpa melibatkan Pegawai Pencatat Nikah sebagai petugas resmi mengenai urusan perkawinan.42

Adapun yang dimaksud dengan perkawinan sirri secara etimologi berasal dari kata sirrun yang artinya rahasia, sunyi, diam, tidak ditampakkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa nikah sirri adalah perkawinan yang dilakukan secara rahasia dan sembunyi-sembunyi, dan tidak memperoleh pengakuan secara hukum, karena tidak pernah didaftarkan pada catatan sipil.43

Nikah sirri yang tidak dicatatkan secara resmi dalam lembaga pencatatan negara sering pula diistilahkan dengan nikah di bawah tangan. Nikah di bawah tangan adalah nikah menurut hukum

42 Muhammad Fahri, Pembagian Waris dalam Perkawinan Tidak Tercatat (Studi Kasus Perkawinan Poligami di Kelurahan Cipete Selatan), Skripsi UIN Jakarta, 2016, h.32

43 Eko Setiawan, Fenomena Nikah Sirri Dalam Perspektif Sosiologi Hukum, Justicia Islamica, Vol. 13 No. 1 Tahun 2016, h. 139.

24

dianggap liar, sehingga tidak mempunyai akibat hukum berupa pengakuan dan perlindungan hukum.44

Menurut A. Zuhdi Muhdlor, nikah sirri adalah pernikahan yang dilangsungkan di luar pengetahuan petugas resmi (PPN/ Kepala KUA), karena pernikahan itu tidak tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA), sehingga suami-istri tersebut tidak mempunyai surat nikah yang sah.45

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan tidak mensahkan pernikahan sirri, karena sebagai warga negara Indonesia, umat Islam juga dituntut untuk menjadi warga negara yang baik dengan menuruti perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, orang yang melakukan nikah sirri dalam pandangan perundang-undangan tetap disamakan dengan orang yang melakukan hubungan di luar nikah..46

Praktek perkawinan sirri (bawah tangan) hingga kini masih banyak terjadi. Padahal perkawinan bawah tangan berdampak sangat merugikan bagi perempuan serta tidak melindungi hak-hak kaum perempuan dan juga hak anak.47

Adapun akibat-akibat dari pernikahan sirri, yaitu:

a. istri yang dinikahi dan tidak tercatat (di bawah tangan) tidak dianggap sebagai istri yang sah. Berdasarkan Undang-Undang No.

1 Tahun 1974 Pasal 2 ayat 2, perkawinan harus dicatat menurut Peraturan-peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tidak

44 Basith Mualy, Pernikahan Sirri & Akad Nikah, (Surabaya; Quntum Media, 2011), h.12.

45 A. Zuhdi Muhdlor, Memahami Hukum Pernikahan (NTC&R), (Bandung; Al-Bayan, 1994), Cet. 1, h.22.

46 A. Zuhdi Muhdlor, Memahami Hukum Pernikahan (NTC&R), (Bandung; Al-Bayan, 1994), Cet. 1, h. 12

47 Asrorun Ni’am Sholeh, Fatwa-fatwa Masalah Pernikahan dan Keluarga, (Jakarta;

Elsas, 2008), h. 150.

dicatatnya perkawinan berarti menyalahi ketentuan ini, sehingga perkawinan tersebut dianggap tidak sah dan ilegal.

b. Istri tidak berhak atas harta gono-gini jika terjadi perceraian.

c. Istri tidak berhak atas nafkah, dan jika suami meninggal dunia, maka dia juga tidak berhak mendapatkan warisan dari peninggalan suaminya itu.

d. Anak tidak berhak atas nafkah dan warisan dari ayahnya. Dalam pasal 42 Undang-Undang Perkawinan disebutkan bahwa “anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat yang sah.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa anak hasil perkawinan tidak tercatat dianggap anak yang tidak sah.

e. Anak yang dilahirkan di luar perkawinan yang sah tidak mempunyai hubungan perdata dengan ayahnya, tetapi hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya.

Ketentuan ini berdasarkan pasa Pasal 43 Undang-Undang Perkawinan yang menyebutkan “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hunungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya.48

Dengan demikian, pernikahan sirri merupakan nikah yang dilakukan secara diam-diam atau rahasia dari orang lain termasuk dari Pegawai Pencatat Nikah (PPN) sehingga tidak dicatatkan. Kemudian juga nikah sirri banyak menimbulkan kerugian bagi si istri dan anaknya dengan tidak berhak atas keduanya atas nafkah dan warisan dari suami atau ayahnya.

48 Muhammad Fahri, Pembagian Waris dalam Perkawinan Tidak Tercatat (Studi Kasus Perkawinan Poligami di Kelurahan Cipete Selatan), Skripsi UIN Jakarta, 2016, h.36

26

Dokumen terkait