A. LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KONSOLIDASIAN Tabel IV.1.
Tabel Laporan Realisasi Anggaran Konsolidasian Tingkat Wilayah Provinsi Sumut Triwulan I Tahun 2021 (dalam miliar rupiah)
Uraian
TW III 2020 % Kenaikan/
Penurunan
TW III 2019
Pusat Daerah Konsolidasi Konsolidasi
Pendapatan Negara 3,704.36 9,116.39 12,820.74 -5.69% 13,594.41 Pendapatan Perpajakan 3,319.76 1,124.23 4,443.99 -25.07% 5,930.67
Pendapatan Bukan Pajak 384.59 407.58 792.18 11.85% 708.28
Hibah - 0.36 0.36 -96.02% 8.99
Transfer - 7,584.22 7,584.22 9.18% 6,946.47
Belanja Negara 12,320.77 4,177.03 16,497.80 -7.50% 17,835.72 Belanja Pemerintah 3,283.44 3,889.11 7,172.55 -12.47% 8,194.03
Transfer 9,037.33 287.92 9,325.24 -3.28% 9,641.69 Sumber: LKPP Kanwil DJPb Prov. Sumut dan LKPD-K Pemda Sumut Triwulan I Tahun 2021 (diolah)
Total pendapatan konsolidasian Provinsi Sumatera Utara Triwulan I tahun 2021 mencapai Rp12,8 triliun. Sedangkan total belanja konsolidasian mencapai Rp16,5 triliun. Realisasi pendapatan maupun belanja mengalami penurunan dari periode sebelumnya yang mengakibatkan defisit anggaran sebesar 28,68% atau minus Rp3,68 triliun. Dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, surplus/defisit mengalami penurunan sebesar 13,3%. Hal ini disebabkan karena Triwulan I tahun 2021 merupakan awal tahun anggaran yang sebagian besar Instansi pemerintah pusat maupun daerah belum memulai kegiatan/program kerjanya. Defisit terjadi karena penurunan belanja tidak sebanding dengan kenaikan pendapatan, oleh karena itu, besarnya belanja yang dikeluarkan belum tertutupi oleh besarnya pendapatan.
B. PENDAPATAN KONSOLIDASIAN
Pendapatan Pemerintah Konsolidasian terdiri dari Penerimaan Perpajakan, Pendapatan Negara Bukan Pajak, Transfer ke Daerah dan Hibah.
BAB IV : PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN
ANGGARAN KONSOLIDASIAN (APBN DAN APBD)
19
BAB IV : PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN KONSOLIDASIAN
Pajak PNBP Hibah Transfer
2021 4,444 792 0 7,584
2020 5,931 708 9.0 6,946
(2,000)
Perbandingan Komposisi Pendapatan Konsolidasian s.d. Triwulan I Tahun 2021 dan 2020
Sumber: LKPP Kanwil DJPb Prov. Sumut dan LKPD-K Pemda Sumut 2021 (diolah)
Grafik IV.2
Perbandingan Komposisi Pendapatan Konsolidasian di Provinsi Sumut Triwulan I 2021 Daerah dan Pusat
Sumber: LKPP Kanwil DJPb Prov. Sumut dan LKPD-K Pemda Sumut 2020 (diolah)
1. Analisis Proporsi dan Perbandingan
Pada Triwulan I tahun 2021, Pendapatan Konsolidasian Tingkat Wilayah Provinsi Sumut yang berasal dari Perpajakan mengalami penurunan sebesar 25,07 persen dengan nilai total pendapatan yaitu Rp4,4 triliun. Namun berbanding terbalik dengan penerimaan dari Pendapatan Negara Bukan Pajak mengalami kenaikan yang cukup tinggi dengan total pendapatan Rp792,18 miliar atau naik sebesar 11,85 persen dibanding periode
yang sama ditahun
sebelumnya.
Pendapatan Hibah justru turun sebesar 96,02 persen dari tahun 2020 dengan total pendapatan Rp357 juta, sedangkan pendapatan transfer mengalami kenaikan sebesar 9,18 persen dengan total pendapatan Rp7,6 triliun.
Total pendapatan pajak konsolidasian Triwulan I tahun 2021 adalah sebesar Rp4,4 triliun yang terdiri atas Pendapatan Pemerintah Pusat sebesar Rp3,3 triliun dan Pendapatan Pemerintah Daerah Rp1,1 triliun. PNBP terdiri atas Pendapatan Pemerintah Pusat sebesar Rp384,5 miliar dan Pendapatan Pemerintah Daerah Rp407,5 miliar. Sedangkan pendapatan yang berasal dari Hibah dari Daerah sebesar Rp357 juta dan pendapatan dari transfer daerah sebesar Rp7,6 triliun.
Diantara empat jenis pendapatan negara konsolidasian, realisasi pendapatan transfer pada tahun 2021 memiliki proporsi yang paling besar dibanding pendapatan lainnya, yaitu sebesar 59,16 persen dari total pendapatan negara konsolidasian tahun 2021. Angka tersebut cukup jauh dibandingkan pendapatan perpajakan dengan proporsi sebesar 34,66 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sumber pendapatan di
20
Perbandingan Pendapatan Perpajakan Pempus dan Pemda s.d. Triwulan I Tahun 2021
Sumber: LKPP Kanwil DJPb Prov. Sumut dan LKPD-K Pemda Sumut Tahun 2021 (diolah)
Sumber: LKPP Kanwil DJPb Prov. Sumut, LKPD-K Pemda Sumut 2021, BPS Sumut (diolah)
Provinsi Sumut cukup mampu untuk menutup kebutuhan pendanaan pemerintah di Sumut, sehingga dapat dikatakan Provinsi Sumut sudah mandiri secara fiscal karena ketergantungan terhadap dana transfer di Triwulan I dari pemerintah pusat lebih rendah dibanding periode sebelumnya.
2. Analisis Perubahan
Berdasarkan pendapatan perpajakan konsolidasian, pemerintah pusat memberikan kontribusi sebesar 74,7% terhadap penerimaan perpajakan konsolidasian, sedangkan pendapatan perpajakan daerah memberikan konstribusi sebesar 25,3%.
Pendapatan perpajakan pemerintah pusat mengalami tren yang positif pada tiga tahun terakhir dengan besar kenaikan rata-rata Rp291 milyar setiap tahunnya.
Namun pendapatan perpajakan pemerintah daerah mengalami tren menurun di tiga tahun terakhir, dengan rata-rata penurunan 198 milyar setiap tahunnya. Dibanding periode Triwulan I Tahun 2020, pendapatan perpajakan konsolidasian mengalami penurunan sebesar 25,07%. Penurunan perpajakan disebabkan oleh adanya pelambatan aktivitas ekonomi akibat pandemi Covid-19 disegala sektor ekonomi. Hal ini pun tidak terlepas dari peran perpajakan, dimana dalam rangka pemulihan ekonomi nasional, pemerintah menganggarkan insentif pajak sebesar Rp120,61 triliun.
3. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Kenaikan Realisasi Pendapatan Konsolidasi
Pada Triwulan I tahun 2021, PDRB atas dasar harga berlaku di Provinsi Sumut mencapai Rp207
triliun dengan
pertumbuhan ekonomi yang mengalami kontraksi Tabel IV. 2 Realisasi Konsolidasian Tahun 2021 dan 2020
Uraian 2021 2020
Realisasi Kenaikan Realisasi Kenaikan Penerimaan Perpajakan 4,443 -25,07% 5,930 6,67%
PNBP 792,2 11,85% 699 -14,57%
Total 5,235 - 6,629 -
PDRB/Pertum. Ekonomi (triliun)
207 -0,13% 207,27 7,94%
21
Perbandingan Belanja dan Transfer Pemerintah Pusat dan Daerah terhadap Konsolidasian di Provinsi Sumut Triwulan I
Tahun 2021
Sumber: LKPP Kanwil DJPb Prov. Sumut dan LKPD-K Pemda Sumut Tahun 2021 (diolah)
sebesar 1,85 persen. Ekonomi Sumut Triwulan I-2021 terhadap Triwulan sebelumnya pun mengalami kontraksi sebesar 0,22 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, penurunan disebabkan oleh kontraksi yang terjadi pada sebagian besar lapangan usaha.
Sementara dari sisi pengeluaran, penurunan disebabkan oleh kontraksi pada seluruh komponen kecuali Komponen Ekspor Barang dan Jasa.
Berdasarkan selisih angka pertumbuhan ekonomi dan kenaikan pendapatan tersebut, menunjukkan masih adanya potensi pendapatan sebagai akibat dari pertumbuhan ekonomi yang belum dioptimalkan, khususnya oleh pemerintah daerah. Namun, secara umum pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Provinsi Sumut berpengaruh positif terhadap kenaikan pendapatan konsolidasian.
C. BELANJA KONSOLIDASIAN
1. Analisis Proporsi dan Perbandingan
Berdasarkan klasifikasi ekonomi (jenis belanja), komposisi pengeluaran pemerintah Triwulan I tahun 2021 secara umum hampir sama, yaitu realisasi belanja pegawai yang lebih besar jika dibandingkan dengan belanja yang lainnya.
Secara proporsi, belanja pegawai pemerintah daerah lebih besar dibandingkan belanja pemerintah pusat, masing-masing sebesar 63,11% dan 36,89% dari total konsolidasian belanja pemerintah. Selain belanja pegawai, terdapat perbedaan yang mencolok antara Pengeluaran pemerintah pusat dan pengeluaran pemerintah daerah yaitu pada belanja barang dan belanja modal yang lebih sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa untuk pengeluaran operasional kantor pemerintah daerah yang merupakan belanja rutin, masih belum optimal. Maka, perlu adanya pengendalian belanja pemerintah daerah baik khususnya pada belanja pegawai diluar gaji pegawai negeri sipil.
2. Analisis Perubahan
Komposisi belanja konsolidasian Triwulan I tahun 2021 didominasi oleh transfer ke daerah sebesar 57,17 persen, diikuti oleh belanja pegawai dan belanja barang.
Komposisi ini sedikit berbeda tahun 2020, belanja pegawai dan belanja barang maupun bantuan social mengalami penurunan di tahun 2020, namun berbanding
22
Sumber: LKPP Kanwil DJPb Prov. Sumut dan LKPD-K Pemda Sumut 2021 (diolah) Grafik IV.5
Tabel Komposisi Belanja Konsolidasian Provinsi Sumut Triwulan I Tahun 2021
terbalik dengan belanja modal yang mengalami kenaikan sampai dengan 34%.
Penurunan realisasi belanja konsolidasian dikarenakan adanya recofusing anggaran untuk penanganan Covid-19.
3. Analisis Dampak Kebijakan Fiskal kepada Indikator Ekonomi Regional
Pada Triwulan I tahun 2021, Neraca Keuangan Pemerintah Konsolidasian di Provinsi Sumut mengalami defisit Rp3,6 triliun. Sebagian besar defisit ini merupakan efek dari penurunan Pendapatan Konsolidasian Provinsi Sumut yang lebih besar cenderung diikuti juga dengan penurunan belanja pemerintah. Penurunan pendapatan yang lebih besar disebabkan oleh perekonomian Sumut yang terkontraksi dan adanya kucuran insentif pajak akibat pandemic Covid-19. Selain itu karena Indonesia menganut penetapan kebijakan rencana anggaran defisit, di Provinsi Sumut kebijakan ini dinilai cukup berhasil jika ditinjau dari tingkat pertumbuhan ekonomi di Tahun 2021 terkontraksi sebesar 1,85% lebih besar dari tingkat pertumbuhan nasional yang juga mengalami kontraksi sebesar 0,47% serta mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya. Hal ini menandakan ekonomi Provinsi Sumut termasuk stabil meski terjadi penurunan laju pertumbuhan ekonomi yang cukup besar secara nasional.
D. ANALISIS KONTRIBUSI PEMERINTAH DALAM PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB)
Berdasarkan laporan operasional, yang menunjukkan perkembangan realisasi belanja pemerintah (pusat dan daerah) di Provinsi Sumut terhadap perkembangan PDRB Sumut. Pada Triwulan I tahun 2021, rasio belanja pemerintah terhadap PDRB Sumut sebesar 7,97 persen. Angka tersebut turun jika dibandingkan dengan rasio pada tahun 2020 yang sebesar 8,61 persen. Selain itu, baik realisasi belanja pemerintah maupun PDRB sama-sama mengalami tren turun. Dalam hal ini dapat diambil suatu hipotesis bahwa belanja pemerintah merupakan salah satu variabel penting yang kemungkinan dapat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumut.
4,614 ;
BAB V
BERITA/ISU FISKAL REGIONAL TERPILIH
T a r i T o r - t o r , S a m o s i r
BAB V : BERITA/ISU FISKAL REGIONAL