BAB I PENDAHULUAN
A. Perkembangan gugatan bersifat in rem pada negara
Selama abad pencerahan (renaissance), ilmu pengetahuan hukum di Eropa dipengaruhi oleh kekuatan dan ketentuan hukum Romawi yang digali kembali, dan hukum Romawi sangat mempengaruhi perkembangan gaya dan muatan hukum di berbagai negara. Namun, bangsa Inggris tidak tergoda oleh keagungan Roma melainkan tetap memegang erat tradisi aslinya. Memang dalam kenyataannya, banyak pemikiran dan istilah dari hukum Romawi dan Eropa Kontinental masuk ke sistem hukum Inggris, namun inti sistem hukumnya tetap kokoh. Sistem yang lokal yang kuat ini disebut sistem hukum anglo amerika (common law).54
Common law system atau Sistem common law dikenal dan berkembang di
negara-negara Anglo Saxon. Pelopor utamanya adalah Negara Inggris. Kemudian sistem ini dikembangkan di Negara-negara commonwealth (Negara-negara persemakmuran Inggris). Tahun 1066 dianggap sebagai tahun kelahiran tradisi
54 Zuryawan Isvandiar Zoebir, “
COMPARATIVE LAW-LEGAL HISTORY-LEGAL ETHNOLOGY”, diakses pada
common law ketika bangsa Norman mengalahkan dan menaklukkan kaum asli (Anglo Saxon) di Inggris.55
Ada beberapa ciri pokok yang penting dalam common law system, yaitu antara lain:56
1. Pembangunan hukum tidak mengutamakan kodifikasi, nilai yang diangkat dan diterapkan sebagai hukum diambil dari nilai yang hidup dalam masyarakat, kebiasaan umum, maupun yang dianggap layak dan patut sesuai dengan rasa keadilan masyarakat.
2. Kebanyakan ketentuan hukumnya tidak tertulis (unwritten law) yaitu dengan kata lain disebut hukum kebiasaan.
3. Konkretisasi hukum melalui putusan pengadilan. Dengan adanya putusan pengadilan, maka akan menjadi hukum yang digunakan sebagai pedoman dan rujukan untuk menyesuaikan sengketa yang timbul dikemudian hari. 4. Menganut sistem preseden, yaitu apabila suatu nilai hukum telah
dikonkretkan melalui putusan pengadilan, maka semua pihak terikat untuk mengikatnya.
Sistem hukum anglo Amerika (common law), tumbuh pertama kali dan mempunyai pengaruh yang sangat kuat di Inggris pada abad ke-19, ketika semangat romantisme historis, utilitarianisme, positivisme ilmiah dan
55
Bismar Nasution, Reformasi Pendidikan Hukum yang Menghasilkan Sarjana Hukum yang Kompeten dan Profesional, yang disampaikan dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-51Fakultas Hukum USU, Harian Waspada, tanggal 27 Februari 2007.
56
M. Yahya Harahap, Beberapa Tinjauan Mengenai Sistem Peradilan dan Penyelesaian Sengketa, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1997),Hal 425-426
materialisme ekonomi yang mempunyai pendekatan empiris, induktif dan individualistis dalam melakukan upaya pemecahan pada setiap masalah-masalah hukum.
Common law berbeda dan terus berbeda dalam banyak hal dengan tatanan
hukum di negara-negara Eropa lainnya. Satu hal yang penting, sistem hukum Anglo Amerika (common law) menolak kodifikasi. Tidak pernah ada semacam Undang-undang Napoleon di Inggris. Prinsip dasar hukumnya tidak ditemukan dalam undang-undang yang dibuat di parlemen, dan hanya sebagian kecil ditemukan melalui pernyataan hukum yang sistematis, rinci yang disahkan oleh badan-badan legislatif atau diberlakukan melalui ketetapan.
Negara common law menganut sistem hukum yang menekankan kepada putusan hakim, membuat perkuliahan difokuskan kepada pembahasan kasus hukum dan putusan pengadilan sebagaimana pendapat Bismar Nasution, yang menyatakan:57
Pada common law system, peraturan perundang-undangan bukan harga mati bagi sebuah keadilan, sehingga sering sekali putusan hakim dijadikan parameter untuk menilai apakah suatu peraturan dapat diterapkan di masyarakat. Putusan pengadilan itu juga bukan hal yang mutlak harus diikuti, apabila seorang hakim menganggap suatu putusan tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat, dia dapat membuat putusan baru tentu dengan argumentasi yang kuat. Putusan ini akhirnya akan diuji oleh Mahkamah Agung apakah diterima atau ditolak, karena adanya doktrin kalau suatu putusan pengadilan tidak boleh bertentangan dengan putusan pengadilan diatasnya. Inilah yang membuat para Sarjana Hukum common law selalu melakukan analisis dan kritis terhadap hukum. Tidak jarang mereka melakukan perbandingan hukum untuk
57
Bismar Nasution, Reformasi Pendidikan Hukum yang Menghasilkan Sarjana Hukum yang Kompeten dan Profesional.Op.Cit.
menjustifikasi argumen mereka bahwa hukum yang berlaku tidak sesuai lagi diterapkan di masyarakat.
Negara Amerika Serikat muncul secara revolusi yang memandang Konstitusi/UUD sebagai suatu kitab suci.58
Common law juga memiliki ciri yang khas dalam hal substansi, struktur dan budaya, karena ada yang menonjol dan mendasar, ada yang kurang menonjol dan kurang mendasar, misalnya, dewan juri adalah lembaga common law, begitu juga perwalian (trust), yaitu seseorang atau bank sebagai wali (trustee) yang menerima uang atau harta kekayaan untuk diinvestasikan dan dikelola untuk kepentingan ahli waris tertentu.
Prinsipnya terdapat pada hukum perkara (case law), yaitu dalam perangkat pendapat yang ditulis oleh hakim, dan dikembangkan oleh hakim dalam memutuskan perkara tertentu. Doktrin preseden (precendent) adalah doktrin common law yang kuat yaitu hakim terikat oleh apa yang telah diputuskan.
59
Common law tidak lagi terkungkung di satu negara kecil. Bangsa Inggris membawanya ke koloninya dan dalam kebanyakan, common law berakar dan berkembang pesat. Semua negara yang menganut common law, dan karenanya merupakan The Anglo American Legal Family, pernah menjadi koloni Britania Raya (Kerajaan Inggris). Dengan kata lain, common law merajalela di negara
58
Eddy Purnama Negara Kedaulatan Rakyat, Analisis terhadap Sistem Pemerintahan Indonesia dan Perbandingannya dengan Negara-negara lain, (Bandung: Nusamedia, 2007) Hal 112, sebagaimana dikutip dari Earl R. Kruschke, An Introduction to The Constitution of The United States,
American Book Company, New York, 1968, Hal 1. 59
mana saja yang berbahasa Inggris, antara lain: Amerika Serikat (kecuali Lousiana), Kanada (kecuali Quebec), Australia, Selandia Baru, Jamaika, Trinidad, Barbados dan Singapura.60
Gugatan bersifat in rem pada Negara Common law merupakan prosedur penyitaan dan pengambilalihan suatu asset dalam rejim Civil forfeiture. Konsep civil forfeiture didasarkan pada “taint doctrine” dimana sebuah tindak pidana dianggap “taint” (menodai) sebuah asset yang dipakai atau merupakan hasil dari tindak pidana tersebut.61 Walaupun mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk menyita dan mengambilalih asset hasil kejahatan, civil forfeiture berbeda dengan criminal forfeiture yang menggunakan gugatan in personam (gugatan terhadap orang) untuk menyita dan mengambilalih suatu asset.62
Harta kekayaan yang dapat dirampas disesuaikan dengan jenis tindak pidana yang terkait yaitu meliputi:63
1. Setiap harta kekayaan hasil tindak pidana atau yang diperoleh dari hasil tindak pidana; dan atau
2. Harta kekayaan yang digunakan sebagai alat, sarana, atau prasarana untuk melakukan tindak pidana atau mendukung organisasi kejahatan; dan atau
60 Ibid.
61
Ario Wandatama dan Detania Sukarja, “Implementasi Instrumen Civil Forfeiture di Indonesia untuk mendukung Stolen Asset Recovery (StAR) Initiative”, Makalah dalam Seminar Pengkajian Hukum NAsinal, 2007, hal.22-23. sebagaimana dikutip dari David Scott Romantz, “Civil Forfeiture and The Constitution: A Legislative Abrogation of right and The Judicial Response: The Guilt of the Res”, 28 Suffolk University Law Review, 1994, Hal 390.
62 Ibid. hal 389. 63
Lihat Azamul F. Noor dan Yed Imran, Perampasan Harta Kekayaan Hasil Tindak Pidana; Suatu Telaahan Baru dalam Sistem Hukum Indonesia, Ibid.
3. Setiap harta kekayaan yang terkait dengan tindak pidana atau organisasi kejahatan; dan atau
4. Harta kekayaan yang digunakan untuk membiayai tindak pidana atau organisasi kejahatan; dan atau
5. Segala sesuatu yang menjadi hak milik pelaku tindak pidana atau organisasi kejahatan;
Saat aset harta kekayaan pelaku digugat, si pelaku tindak pidana tidak perlu ditahan guna ikut dalam proses pembuktian secara pidana, karena tradisi pada Negara common law dan tort law yang mengharuskan semua yang bersalah harus dihukum, walaupun hukuman yang termasuk pelayanan masyarakat, ganti rugi dan bentuk lain dari hukuman penjara yang membiarkan terpidana untuk tetap aktif dalam masyarakat.64
Berdasarkan Undang-Undang Asset Forfeiture di Amerika Serikat, dikenal ada 3 jenis prosedur Asset Forfeiture, yaitu:65
1. Perampasan Harta Kekayaan secara Administratif (Administrative Forfeiture
Perampasan harta kekayaan secara administratif dapat dilakukan jika pemerintah menemukan dan menyita harta kekayaan di tempat kejadian perkara. Penyitaan dilakukan dengan dasar pertimbangan bahwa harta
)
64 O.C.Kaligis, Perlindungan Hukum atas Hak Asasi Tersangka, Terdakwa dan Terpidana,
(Bandung : PT.Alumni, 2006) Hal 125. 65
Azamul F. Noor dan Yed Imran, Perampasan Harta Kekayaan Hasil Tindak Pidana; Suatu Telaahan Baru dalam Sistem Hukum Indonesia, Ibid.
kekayaan tersebut berdasarkan undang-undang dapat dirampas dengan diterbitkannya izin/persetujuan penyitaan oleh pengadilan.
Pejabat pemerintah yang melakukan penyitaan harta kekayaan harus menyerahkan surat pemberitahuan kepada orang yang menguasai harta kekayaan dan orang-orang yang memiliki kepentingan atau terkait dengan harta kekayaan serta memberitahukan kepada masyarakat melalui surat kabar dan papan pengumuman pengadilan bahwa penyidik telah menyita harta kekayaan ini dan akan merampasnya untuk negara.
2. Perampasan Harta Kekayaan secara Pidana (Criminal Forfeiture
Perampasan harta kekayaan secara pidana merupakan bagian dari pelaksanaan putusan hakim pidana dalam suatu perkara pidana. Oleh karena itu, jenis perampasan harta kekayaan ini disebut juga sebagai tindakan
)
in
personam terhadap terpidana, bukan tindakan in rem
Hakim dalam hal ini dapat menjatuhkan putusan kepada terpidana untuk membayar biaya perkara, dan/atau membayar denda, dan/atau membayar ganti rugi, dan/atau membayar uang pengganti, dan/atau menyita harta kekayaan lain milik terpidana untuk mebayar uang pengganti jika harta kekayaan yang terkait langsung dengan tindak pidana telah dialihkan atau tidak ditemukan.
terhadap harta kekayaan yang terkait dengan tidak pidana.
Sekalipun secara in personam sebenarnya harta kekayaan yang dapat dirampas hanyalah harta kekayaan milik terpidana, ternyata hal tersebut
tidak sepenuhnya benar, sebab harta kekayaan hasil tindak pidana atau harta kekayaan yang digunakan untuk membiayai, menjadi alat, sarana, atau prasarana melakukan kejahatan, dapat juga dinyatakan dirampas jika penuntut umum dapat membuktikan bahwa terdapat kaitan yang erat antara harta kekayaan tersebut dengan tindak pidana yang didakwakan.
Untuk melindungi hak-hak masyarakat, maka harus ada suatu prosedur yang menjamin agar perampasan harta kekayaan tersebut tidak sampai merenggut hak-hak dari pihak ketiga yang beritikad baik atau jujur. Prosedur ini di Amerika Serikat disebut dengan "ancillary proceeding"
3.
dan dilaksanakan oleh pengadilan setelah pokok perkara pidana telah diputus. Perampasan Harta Kekayaan secara Perdata (Civil Forfeiture
Perampasan harta kekayaan secara perdata bukan merupakan bagian dari proses penanganan perkara pidana. Pada kasus
)
civil forfeiture, pemerintah melakukan gugatan perdata terpisah in rem
Penggunaan civil forfeiture sebagai instrumen untuk menyita dan mengambil asset yang berasal, berkaitan atau merupakan hasil dari kejahatan sudah lazim ditemui di negara-negara common law. Akar dari prinsip civil terhadap harta kekayaan yang akan dirampas, dan harus dapat mengajukan bukti-bukti yang lebih kuat bahwa harta kekayaan tersebut dihasilkan atau digunakan untuk melakukan tindak pidana. Gugatan ini dapat diajukan sebelum putusan pidana, sesudah putusan pidana, atau bahkan sekalipun tidak terdapat putusan pidana menyangkut tindak pidana tersebut.
forfeiture pertama kali ditemukan pada abad pertengahan di Inggris ketika kerajaan Inggris menyita barang-barang yang dianggap sebagai instrument of
a death atau yang sering disebut sebagai Deodand.66 Munculnya era
industrialisasi di Inggris kemudian memaksa parlemen untuk menghapuskan
deodand setelah meningkatnya kecelakaan yang terjadi sehingga
menyebabkan banyaknya asset yang disita.67
Meskipun deodand telah dihapuskan di Inggris, prinsip dari civil
forfeiture ini kemudian berkembang di Amerika Serikat terutama dalam
bidang hukum perkapalan (admiralty law).68 Colonial Admiralty Courts sering sekali mengadili persidangan terhadap sebuah kapal daripada pemilik kapalnya.69
Walaupun seringkali dianggap praktek ini bersifat opresif dan tidak adil, Kongres pertama dari Amerika Serikat tetap mempertahankan penggunaan civil forfeiture di hukum perkapalan dengan mengeluarkan peraturan yang memberi kewenangan kepada pemerintah federal untuk menyita kapal. Supreme Court kemudian juga mendukung penggunaan civil forfeiture di Amerika dalam kasus the Palmyra yang terjadi di tahun 1827 dimana pengadilan menolak argumen pengacara dari si pemilik kapal yang mengatakan bahwa penyitaan dan pengambil alihan kapalnya adalah ilegal
66
Todd Barnet, “Legal Fiction and Forfeiture: A Historical Analysis of the Civil Asset Forfeiture Reform Act”, 40 Duquesne Law Review Fall 2001, hal 89.
67Ibid. hal 90. 68
Ario Wandatama dan Detania Sukarja, Op. Cit, sebagaimana dikutip dari Leonard W. Levy,
A license to Steal: The forfeiture of Property ,1996, hal 19. 69
karena tanpa adanya sebuah putusan yang menyatakan pemiliknya bersalah.70