• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Bait al Hikmah

Dalam dokumen Sejarah Pendidikan Islam dari masa ke ma (Halaman 103-106)

PERKEMBANGAN INTELEKTUAL SELAMA DINASTY ABBASIYAH PERIODE KHALIFAH AL MA’MUN (813-833 M)

C. Perkembangan Bait al Hikmah

Bait al-Hikmah merupakan lembaga ilmu pengetahuan yang didirikan oleh al-Ma’mun sekitar tahun 815 M172. Yang dipercayai menjadi sebuah penyontohan dari akademi kuno Jundishapur, aktivitas utamanya menterjemahkan filsafat Yunani dan karya-karya ilmu pengetahuan yang dibawa dari Romawi. Pemimpin pertama lembaga ini adalah Yuhanna (Yahya) ibnu Masawayh173. Pimpinan berikutnya Sahl ibnu Harun174 dan Salm, orang yang ditugaskan oleh Said ibnu Harun. Di sana ada juga sejumlah besar pengawai penterjemah, dan yang paling terkenal di antara mereka adalah Banu al-Munajjim, selain itu ada pegawai penyalin dan penjilid.

170 Sayyed Hoseein Nasr, Science and Civilization in Islam, (Cambridge, Massachusett: University Press, 1968), h. 69

171 Rene Taton (ed.), Ancient and Medieval Science from Beginnings to 1450, transled by A.J. Pomeran B.S.c (New York: Basic Book Inc., 1963), h. 387; lihat juga Fakhry, A History, Op.cit. h. 16

172Mohsen Zakeri, ‘ Sahl b. Harun b. Rahawayh, “ El 2, III h. 839-840; lihat juga Watt, The Influence, Op.cit, h. 31

173 On the Barmakids see D. Sourdel, “al-Barmakids” El 2, I, h. 1033-1036

174 Hitti, History, Op.cit, h. 375; lihat juga D. Sourdel, “Bayt al-Hikmah,”E 12, h.1141; Taton, (ed.), Ancient, Op.cit, h. 409

Bait al Hikmah merupakan sebuah pengembangan dari perpustakaan yang dibangun oleh Harun al-Rasyid yang disebut Khizanat al-Hikma (Perbendaharaan Kebijaksanaan), di mana keturunan Barmaky175 telah memulai penerjemahan bermacam risalah Yunani. Al-Ma’mun kemudian memberikan sebuah perintah resmi untuk gerakan penerjemahan, yang kemudian mempengaruhi perkembangan pemikiran Islam dan budaya seutuhnya. Untuk lembaga ini al- Ma’mun mempekerjakan seorang ahli observatorium astronomi di Bagdad di bawah kendali seorang muallaf Yahudi yaitu; Sind ibnu Ali kemudian dilanjutkan Yahya ibnu Abi Manshur. Lebih lanjut, al-Ma’mun kemudian menambah observatorium lainnya di Mt. Qasiyun Palmyra (Damaskus). di mana para sajana Muslim menemukan sebuah tabel astronomi baru dengan memperbaiki satu-satunya table astronomi kuno peninggalan Ptolemy176. Sehingga, Bait al-Hikmah menjadi sebuah gabungan dari perpustakaan, pendidikan dan biro penerjemahan, dan yang paling penting sekali lembaga pendidikannya semenjak pembangunan museum Aleksandria177. Dalam pada itu, bahasa Syiria, pemikiran Yunani, sain dan karya-karya teknik telah diterjemahkan ke dalam bahasan Arab.

Tidak perlu diperbincangkan lagi, bahwa itu telah memainkan sebuah peranan yang amat penting dalam memindahkan hasil karya kuno yang ada kepada dunia Islam, dan darinya telah mendorong sebuah ledakan aktifitas intelektual di dunia Islam. Bait al-Hikmah juga berfungsi sebagai sebuah perpustakaan yang amat penting yang kemudian diperkaya dengan sejumlah sumber-sember terjemahan. Kemudian daripada itu, telah memberikan banyak inspirasi kepada beberapa orang untuk mendirikan model perpustakaan yang serupa, dan membangun perpustakaan-perpustakaan lainnya. Beberapa orang sarjana menyakini bahwa lembaga ini dirancang dalam usaha untuk pengembangan adat kebiasaan Persia sebelum Islam. Mereka mendasarkan pendapat mereka pada fakta bahwa kedua kegiatan seperti Universitas

175Ibid, h. 310; lihat juga Qadir, Pilosophy, Op.cit, h. 36; Stanton, Higher, Op.cit, h. 131; George Sarton, Introduction the History of Science from Homer to Omar Kayyam, (Washington, D.C.: the Williams & Wilkins Company Baltimore, 1953), h. 557-558

176 Holt et al. (eds.), The Cambridge, h. 748 177Ibid., h. 783

Jundishapur dan para penterjemah awal lebih memberikan perhatian kepada ilmu pengetahuan praktis ketimbang teori ilmu pengetahuan murni178.

Bait al-Hikmah sebagian besarnya telah mengabdikan diri kepada perekembangan ilmu pengetahuan dengan penelitian para sarjana serta proses pendidikan yang diberikan kepada para pelajar yang sebagian besar masih belum matang. Para sarjana yang dipekerjakan diberikan fasilitas tempat tinggal gratis oleh kerajaan di lembaga tersebut179. Banu Musa (anak Musa ibnu Shakir seorang ahli astronomi terkenal), seperti Muhammad, Ahmad dan Hasan, sebagai contoh telah mendapatkan dukungan yang besar dari al-Ma’mun dan telah mampu menjadi sarjana yang terpelajar sebagai sebuah hasil perhatian pribadi yang telah ditunjukkan oleh direktur utama Bait al- Hikmah, yakni Yunus ibnu Mansur180. Sarjana terkenal lain di lembaga ini yang bekerja sebagai penerjemah dan pengulas filsafat Yunani juga sebagai perumus dasar filsafat Islam adalah al- Kindi181. Selanjutnya, menjelang berakhirnya rezim al-Ma’mun, Bait al-Hikmah telah memulai menerjemahkan karya-karya non logika; sebuah tahap yang menunjukan berkurangnya pengaruh pemikiran Aristoteles. Seorang perintis penerjemahan karya non logika adalah Jabir ibnu Hayyan al-Azdi al-Thusi al- Sufi (721-815) yang telah memulai penerjemahan naskah ilmu kimia semenjak kekuasaan Harun al-Rasyid. Dan bahkan perhatian utamanya adalah ilmu kimia, Jabir juga mempelajari; ilmu logika, filsafat, kedokteran, ilmu-ilmu klenik, ketabiban, mekanik, dan hampir setiap bidang ilmu pengatahuan lainnya182.

Bagaimanapun, sejak kekuasaan al-Mutawakkil, Bait al-Hikmah telah menunjukan kemerosotan yang terus-menerus. Khalifah al-Mutawakkil yang berkuasa merupakan seorang penyokong para ulama arthodok, yang kemudian menghacurkan orang-orang Mu’tazilah dan pusat ilmu pengetahuan mereka, Bait al-Hikmah. Meskipun begitu, satu hal yang mesti tidak terlupakan bahwa

178Bayard Dodge, Muslim Education in Medieval Times, (Washington, D.C., The Middle East Institute, 1962), h. 16 & 19

179 N.A Baloch, Great Books of Islamic Civilization, (Islamabad: Pakistan Hijra Council, 1989), h. 211; Sir William cecir Dampier, A History of Science and Relations with Philosophy and Region, (Cambridge: the University Press; New York: the MacMillan Company, 1942), h. 77

180 Staton, Higher, Op.cit, h. 80-81 181 Nasr, Science, Op.cit, h. 42-43 182 Staton, Higher, Op.cit, h. 78

pembangunan Bait al-Hikmah telah menginspirasi banyak orang, sebagaimana juga para penguasa lainnya untuk mendirikan lembaga-lembaga yang serupa. Salah seorang dari mereka adalah Fatimah yang selama kekuasaan Hakim, telah membangun Dar-el-Hikma di tahun 1005 M. Bait al-Hikmah kemudian digabungkan ke dalam tempat sekolah hingga penyerangan tentara Mongol, yang telah membakarnya selama penghacuran Bagdad pada tahun 1258 M183.

Dalam dokumen Sejarah Pendidikan Islam dari masa ke ma (Halaman 103-106)