Berkaitan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2003 , pada grafik 6 terlihat bahwa rasio utang terhadap PDB (dengan komponen utang
D. Perkembangan Pending Matters Renstra 2010-2014
Dalam hal pembiayaan APBN, tujuan dan sasaran tahun 2005-2009 sebagian besar telah dapat dicapai dengan baik. Namun demikian, masih terdapat beberapa target yang belum dapat terealisasikan (pending matters) antara lain penyediaan landasan hukum yang berkaitan dengan pemenuhan pembiayaan APBN, yang sampai dengan saat ini masih dalam proses penyelesaian. Perkembangan penyelesaian pending matters tersebut adalah sebagai berikut:
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2010
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Halaman 84 1. Penyusunan Undang-Undang tentang Pinjaman Luar Negeri Pemerintah
Sampai dengan akhir tahun 2009, pengajuan dan pembahasan Rancangan Undang-undang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (RUU PHLN) kepada DPR belum dapat terlaksana melalui Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2005-2009. Selama proses pembahasan tahun 2009, Tim Kerja telah melakukan beberapa perubahan ketentuan/pasal dalam Naskah RUU tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. Pembahasan dan perubahan pada RUU tersebut salah satunya adalah mengenai perubahan ruang lingkup (skema) dan judul RUU yang semula RUU Pinjaman dan Hibah Luar Negeri menjadi RUU Pinjaman Luar Negeri Pemerintah (PLNP). Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa hibah luar negeri cukup diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Dalam rangka penyiapan RUU PLNP, selama tahun 2010, Tim telah melaksanakan beberapa kegiatan yaitu:
a. Rapat Pembahasan
Rapat pembahasan Penyusunan RUU PLNP i) menyusun Laporan Akhir Tahun 2009, ii) menyusun Program Kerja Tahun 2010, dan iii) membahas hasil Roundtable
Discussion Penyusunan RUU PLNP Tahun 2009.
b. Bilateral Meeting
Dalam rangka memperoleh kesepahaman bersama antara stakeholder utama dalam pengelolaan pinjaman luar negeri pemerintah, yaitu Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Keuangan telah diselenggarakan Bilateral Meeting dengan agenda utama:
1) Merumuskan pengaturan mengenai Rencana Pemanfaatan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah yang tercantum dalam Pasal 10 yang berbunyi:
a) Menteri Perencanaan menyusun rencana pemanfaatan Pinjaman Luar Negeri;
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2010
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Halaman 85 b) Rencana pemanfaatan Pinjaman Luar Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan RPJM dan Kebijakan Pengelolaan Pinjaman Luar Negeri;
c) Dalam menyusun rencana pemanfaatan Pinjaman Luar Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri Perencanaan berkoordinasi dengan Menteri Keuangan.
2) Merumuskan sekaligus menegaskan kejelasan peranan, tanggung jawab, dan mandat (clarity of roles, responsibilities, and delegations) dari semua pihak yang terlibat dalam kegiatan yang berkenaan dengan pengadaan dan pengelolaan pinjaman luar negeri, khususnya Kementerian Keuangan dan Kementerian PPN/Bappenas.
c. Penyusunan Naskah Akademis
Dalam rangka penyempurnaan Naskah Akademis RUU PLNP, telah dilaksanakan rapat intensif yang diikuti Anggota Tim Kerja. Penyempurnaan tersebut dilakukan dalam rangka pembaruan data dan kondisi pelaksanaan pinjaman luar negeri, sekaligus dalam rangka penyesuaian Naskah Akademis yang ada dengan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M.HH-01.PP.01.01 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Perundang-Undangan.
Berdasarkan Kegiatan Penyusunan Naskah RUU PLNP dan Naskah Akademis Tahun 2010, agenda kerja tahun 2011 adalah sebagai berikut:
a. Penyusunan Laporan Akhir Tahun Kegiatan Penyusunan Naskah RUU PLNP dan Naskah Akademis Tahun 2010;
b. Penyampaian Laporan Akhir Tahun Kegiatan Penyusunan Naskah RUU PLNP dan Naskah Akademis Tahun 2010 kepada Anggota Tim Kerja dan Tim Pengarah;
c. Presentasi kepada Menteri Keuangan untuk mendapatkan arahan lebih lanjut;
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2010
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Halaman 86 2. Pengelolaan portofolio dan risiko utang pemerintah dengan menggunakan instrumen
derivatif
Penggunaan instrumen derivatif dalam pengelolaan portofolio dan risiko utang Pemerintah memerlukan beberapa persiapan yang panjang bagi Pemerintah, khususnya DJPU. Persiapan tersebut misalnya penyediaan infrastruktur dasar yang diperlukan, antara lain landasan operasional, dokumentasi legal dan prosedur standar. Pada tahun 2010, telah dilakukan penyusunan materi atas peraturan operasional dalam bentuk RPMK sebagai dasar pelaksanaan transaksi lindung nilai dalam pengelolaan utang Pemerintah. Atas konsep RPMK dimaksud, DJPU telah meminta kepada Biro Hukum Kementerian Keuangan melalui surat nomor S-117/PU.5/2010 tanggal 14 Desember 2010 agar dapat melakukan penelaahan atas bentuk format peraturan, substansi dan legal drafting-nya.
Selain konsep RPMK tersebut, terdapat beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti di level pimpinan Kementerian Keuangan, antara lain:
a. Fokus utama dari tujuan pelaksanaan transaksi lindung nilai, salah satunya adalah sebagai instrumen untuk mengendalikan beban pembayaran kewajiban utang dalam APBN yang memerlukan koordinasi antar unit Eselon I, mengingat terdapat kewenangan dari unit-unit lain di luar DJPU, antara lain BKF dalam hal fiscal risk
management, Ditjen Anggaran dalam hal budget management, dan Ditjen
Perbendaharaan dalam hal cash management.
b. Perlunya melakukan identifikasi dan analisis net eksposur antara asset dan liability sebelum dilakukannya transaksi lindung nilai.
c. Penyiapan standar pencatatan akuntansi dan pelaporan, mengingat belum adanya aturan dalam Standar Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) terkait transaksi lindung nilai dengan instrumen derivatif oleh Pemerintah. SAPP selanjutnya dapat dijadikan pedoman unit-unit teknis di Kementerian Keuangan dalam melakukan transaksi lindung nilai dengan instrumen derivatif.
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2010
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Halaman 87 E. Akuntabilitas Keuangan
Alokasi Pagu awal tahun 2010 yang disediakan dalam rangka pembiayaan pelaksanaan kegiatan-kegiatan pada DJPU adalah sebesar Rp77,93 miliar. Namun, pada Semester II terdapat revisi pagu DIPA menjadi Rp218,19 miliar, yang disebabkan pengurangan dana karena penghematan dalam rangka optimalisasi belanja DJPU sebesar Rp6,99 miliar dan penambahan dana sebesar Rp147,25 miliar untuk keperluan pembelian gedung Ex-Balai Pustaka. Realisasi penyerapan DIPA pada tahun 2010 sebesar 84,37% (Rp184,09 miliar), dengan rincian per program dan per belanja sebagai berikut:
Tabel 11
Pagu dan Realiasi Anggaran Tahun 2010 (per program)
(dalam miliar rupiah)
No Program Pagu revisi Realisasi
1 Program Penerapan Kepemerintahan yang Baik 30,09 28,76 2 Program Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 2,02 1,93 3 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur
Negara
152,00 121,07 4 Program Pengelolaan dan Pembiayaan Hutang 34,07 32,33
J u m l a h 218,19 184,09
Tabel 12
Pagu dan Realiasi Anggaran Tahun 2010 (per belanja)
(dalam miliar rupiah)
No Belanja Pagu revisi Realisasi
1 Belanja Pegawai 13,45 12,86 2 Belanja Barang 52,47 49,96 3 Belanja Modal 152,28 121,26
J u m l a h 218,19 184,09
Capaian realisasi anggaran sebesar Rp184,09 miliar (84,37%) antara lain disebabkan:
1. Penghematan dana pembelian gedung Balai Pustaka dari pagu sebesar Rp147,25 miliar dengan realisasi sebesar Rp116,65 miliar;
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2010
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Halaman 88 2. Penghematan lelang renovasi gedung AA Maramis II dari pagu sebesar Rp1,19 miliar
dengan realisasi sebesar Rp0,97 miliar;
3. Penghematan pembayaran gaji pegawai dan langganan daya dan jasa dari pagu sebesar Rp15,29 miliar dengan realisasi sebesar Rp14,46 miliar;
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2010
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Halaman 89 BAB IV
PENUTUP