AKUNTABILITAS KINERJA DAN AKUNTABILITAS KEUANGAN A. Capaian IKU
B. Evaluasi dan Analisis Kinerja
9. SS pembentukan SDM yang berintegritas dan berkompetensi tinggi, dengan indikator:
a. Persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya
Indikator persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya bertujuan untuk menyediakan pejabat yang mempunyai kompetensi sesuai jabatannya dalam rangka meningkatkan dan mengamankan keuangan dan kekayaan negara. Variabel kompetensi jabatan adalah Standar Kompetensi Jabatan (SKJ/Jenis dan level kompetensi yang menjadi syarat keberhasilan pelaksanaan tugas suatu jabatan) dan Job Person Match (JPM): Indeks kesesuaian antara kompetensi pejabat dengan SKJ (untuk tahun 2010 JPM minimal adalah 70%). Data indikator ini diukur dari hasil Assessment Center tingkat Pusat (Eselon II s.d. Eselon IV) dan data penempatan pegawai yang menduduki jabatan sesuai SKJ.
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2010
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Halaman 62 Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target (maximize), dimana capaian yang makin tinggi dari target adalah capaian yang diharapkan.
1) Pada tahun 2010, indikator pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya ditargetkan sebesar 80% dengan realisasi sebesar 90%. Pejabat yang mengikuti assesment centre pada tahun 2010 sebanyak 70 pejabat dan yang memenuhi angka JPM minimal 70% sebanyak 63 pejabat (90%)
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mendukung tercapainya indikator pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya, adalah sebagai berikut:
a) pelaksanaan diklat kompetensi; dan b) pelaksanaan assesment center.
2) Kendala yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya adalah data untuk SKJ pada tahun 2010 hanya mengukur soft competency (Soft competency pejabat struktural/fungsional merupakan sikap perilaku PNS yang diperlukan untuk masing-masing jabatan, yang diperoleh melalui Assessment Center sebagaimana dimaksud dalam PMK yang mengatur mengenai Assessment Center Kementerian Keuangan. Indikator ini belum maksimal dalam mencapai tujuannya, sebab standar kompetensi jabatan yang diukur hanya berdasarkan
soft competency, yang disebabkan belum terdapatnya SKJ tentang hard competency. Seharusnya, Standar Kompetensi meliputi hard competency dan soft competency. Sehingga, sistem pengembangan pegawai yang dilakukan dapat
menjadi suatu rangkaian program/kegiatan yang bersifat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta sikap pegawai, yang dapat mengembangkan kecakapan dan keahlian kerja serta sikap positif pegawai terhadap pekerjaan.
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut untuk tahun 2011, DJPU akan menyusun SKJ tentang hard competency.
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2010
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Halaman 63 b. Jumlah pegawai yang dijatuhi hubungan disiplin sedang atau berat
Indikator jumlah pegawai yang dijatuhi hubungan disiplin sedang atau berat bertujuan untuk menegakkan kepatuhan terhadap kode etik, menjaga integritas tinggi pegawai, dan peningkatan good governance. Kasus pelanggaran hubungan disiplin sedang atau berat adalah pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai sesuai dengan PP Nomor 30 tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS kecuali terhadap disiplin yang disebabkan pelanggaran PP 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi PNS yang telah diputuskan berdasarkan Laporan Hasil Audit Inspektorat Jenderal, Rekomendasi Majelis Kode Etik tiap-tiap unit eselon I, dan aparat penegak hukum.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang kurang dari target (minimize), dimana capaian yang makin rendah dari target adalah capaian yang diharapkan.
1) Pada tahun 2010 indikator jumlah pegawai yang dijatuhi hubungan disiplin sedang atau berat ditargetkan sebanyak 1 pegawai dengan realisasi sebanyak 0 pegawai. Sampai akhir tahun tidak terdapat pegawai yang melanggar peraturan disiplin sedang atau berat.
Kegiatan yang dilakukan untuk mencegah adanya pegawai yang dijatuhi hubungan disiplin sedang atau berat adalah melakukan sosialisasi peraturan tentang kode etik serta peraturan lainnya yang menyangkut disiplin pegawai.
2) Kendala yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator jumlah pegawai yang terkena kasus pelanggaran berat atau penyalahgunaan wewenang adalah penyimpangan yang dilakukan pegawai yang mengakibatkan terjadinya kasus pelanggaran berat atau penyalahgunaan wewenang sangat sulit diprediksi, karena sangat tergantung kepada perilaku individu masing-masing pegawai.
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2010
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Halaman 64 a) Melakukan sosialisasi peraturan tentang kode etik serta peraturan lainnya
yang menyangkut disiplin pegawai;
b) Melakukan sosialisasi Instruksi Menteri Keuangan Nomor: 01/IMK.01/2009 tanggal 9 Januari 2009 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Penegakan Disiplin PNS di Lingkungan Departemen Keuangan kepada seluruh pegawai;
c) Melakukan monitoring pelaksanaan kode etik;
d) Melakukan pembinaan kepada pegawai terutama yang dilakukan oleh atasan langsung secara lebih intensif.
c. Persentase jam pelatihan pelatihan pegawai DJPU terhadap jam kerja
Indikator persentase jam pelatihan pelatihan pegawai DJPU terhadap jam kerja bertujuan untuk mengukur pengembangan SDM DJPU dalam rangka menghasilkan SDM yang kompetitif dalam mengelola utang. Jam pelatihan (jamlat) adalah total jam pelatihan yang diikuti oleh SDM DJPU dari diklat yang dilaksanakan oleh DJPU, BPPK (tidak termasuk Diklatpim, DUD, UPKP), dan lembaga pelatihan yang diakui.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang diarahkan kepada ketepatan atas target (stabilize), dimana capaian yang makin mendekati target adalah capaian yang diharapkan.
1) Pada tahun 2010, persentase jam pelatihan pegawai DJPU terhadap jam kerja ditargetkan sebesar 5,77% (28.153 jamlat) dengan realisasi sebesar 5,90% (28.793 jamlat). Sampai akhir tahun telah dilaksanakan sebanyak 68 diklat dari rencana 65 diklat. Total jam kerja pegawai DJPU dalam tahun 2010 adalah 488.268 jam kerja setahun (total pegawai DJPU sebanyak 324 pegawai x jam kerja normal pegawai kementerian keuangan 1.507 jam/tahun);
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator persentase jam pelatihan pelatihan pegawai DJPU terhadap jam kerja adalah indikator ini
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2010
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Halaman 65 masih terkesan mengejar jam pelatihan tanpa melihat kepentingan peserta pelatihan;
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
a) Penyusunan SKJ, sehingga dapat diketahui kebutuhan pelatihan per pegawai.
b) Penyusunan training need analysis (TNA) dengan menyesuaikan kebutuhan.
d. Pencapaian SS pembentukan SDM yang berintegritas dan berkompetensi tinggi, dengan indikator persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya, jumlah pegawai yang dijatuhi hubungan disiplin sedang atau berat, dan persentase jam pelatihan pelatihan pegawai DJPU terhadap jam kerja pada tahun 2010 dapat tercapai dengan baik.
10. SS pengembangan organisasi yang handal dan modern, dengan indikator a. Persentase penyelesaian penataan/modernisasi organisasi
Indikator persentase penyelesaian penataan/modernisasi organisasi di lingkungan DJPU adalah penyelesaian proses penataan/modernisasi organisasi mulai dari pengumpulan data, analisis/telaahan, pembahasan internal DJPU, dan penyampaian surat usulan ke Sekjen.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target (maximize), dimana capaian yang makin tinggi dari target adalah capaian yang diharapkan.
1) Tahun 2010, persentase penataan/modernisasi organisasi pada tahun 2010 ditargetkan sebesar 100% dengan realisasi 100%. Konsep usulan penataan organisasi DJPU sebagai bagian dari rancangan PMK tentang organisasi dan tata kerja Kementerian Keuangan telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan berupa PMK Nomor 184/PMK.01/2010 tanggal 11 Oktober 2010.
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2010
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Halaman 66 Konsep penataan organisasi di lingkungan DJPU difokuskan pada reposisi fungsi kepatuhan dan teknologi informasi yang menjadi unsur penting dalam pelaksanaan tugas dan fungsi DJPU yang saat ini masih belum berjalan optimal. Reposisi tersebut juga diikuti dengan restrukturisasi dan penajaman tugas dan fungsi dari masing-masing unit di lingkungan DJPU.
Penataan organisasi di lingkungan DJPU merupakan penataan organisasi yang berkesinambungan dengan menekankan pada penempatan fungsi serta pendefinisian tugas dan fungsi yang semakin baik sehingga secara bertahap DJPU diharapkan dapat menjadi organisasi yang handal dalam mendukung kinerja Kementerian Keuangan, khususnya dalam mengelola utang dan hibah pemerintah.
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator persentase penataan/modernisasi organisasi antara lain:
a) Organisasi DJPU merupakan salah satu unit eselon I yang relatif baru dibandingan dengan unit eselon I lainnya di lingkungan Kementerian Keuangan. Selain itu sebagai sebuah organisasi, DJPU perlu mengakomodir dinamika perkembangan tuntutan stakeholders yaitu struktur organisasi DJPU yang lebih efektif, adaptif, sehingga proses bisnis yang lebih efisien dan akuntabel serta pelaksanaan tugas dan fungsi yang lebih fokus pada pencapaian tujuan organisasi melalui penerapan sistem manajemen yang berorientasi kinerja, sehingga penataan organisasi di DJPU merupakan suatu proses yang terus–menerus harus dilakukan;
b) Penataan organisasi DJPU lebih diarahkan pada pencapaian organisasi pengelolaan utang yang ideal, yang sesuai dengan perubahan sistem fiskal di Indonesia.
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
Melakukan penataan organisasi DJPU dengan menyesuaikan pada dinamika perkembangan tuntutan stakeholders dan perubahan/penataan pengelolaan sistem fiskal di Indonesia;
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2010
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Halaman 67 b. Jumlah dokumen perencanaan dan evaluasi kinerja organisasi
Indikator jumlah dokumen perencanaan dan evaluasi kinerja organisasi bertujuan untuk memberikan arah dalam menerjemahkan visi dan misi organisasi yang disusun sehingga dapat dilaksanakan sesuai rencana dan menjadi bahan evaluasi organisasi. Dokumen perencanaan dan evaluasi kinerja adalah dokumen perencanaan dan evaluasi kinerja yang disusun berdasarkan UU nomor 25 Tahun 2005 tentang sistem perencanaan pembangunan nasional dan Inpres 7 Tahun 1999 (Rencana Strategi, Roadmap, Rencana Kerja, RKT, PK, dan LAKIP).
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target (maximize), dimana capaian yang makin tinggi dari target adalah capaian yang diharapkan.
1) Tahun 2010, jumlah dokumen perencanaan dan evaluasi kinerja organisasi ditargetkan sebanyak 6 dokumen dengan realisasi 6 dokumen yaitu:
a) 3 dokumen bahan masukan LAKIP Kementerian Keuangan (berupa bahan narasi LAKIP, bahan masukan Rencana Kinerja Tahunan, bahan masukan Penetapan Kinerja Kementerian Keuangan);
b) 1 dokumen bahan masukan Renstra Kementerian Keuangan;
c) 1 dokumen bahan masukan Road Map Kementerian Keuangan; dan
d) 1 dokumen bahan masukan Rencana Kerja Kementerian Keuangan.
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator jumlah dokumen perencanaan dan evaluasi kinerja organisasi, yaitu berupaya agar dalam penyusunan dokumen dapat dilakukan pengumpulan data utang secara aktual sehingga dokumen yang dihasilkan dapat menjadi bahan perencanaan dan evaluasi organisasi yang valid sebagai bahan pengambilan keputusan. Untuk itu diperlukan upaya yang cukup menyita waktu karena pelaksanaan pengumpulan data utang harus dilakukan melalui koordinasi dengan unit eksternal dan internal DJPU/Kementerian Keuangan;
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2010
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Halaman 68 a) Pelaksanaan koordinasi dilaksanakan dengan secara lebih efektif melalui pelaksanaan forum rapat kerja yang lebih intensif, terutama dengan unit eksternal;
b) Proses penyediaan data dan narasi diupayakan memiliki cut off date yang sejalan dengan periode penyusunan dokumen.
c. Persentase penyelesaian SOP
Indikator persentase penyelesaian Standard Operating and Procedures (SOP) bertujuan untuk menunjukan janji pelayanan kepada stakeholder dan untuk menunjang terwujudnya organisasi modern. SOP merupakan pedoman/petunjuk bagi para aparatur (pejabat/pegawai) dalam melaksanakan tugas (pelayanan) dan bagi para pengguna jasa pelayanan (pelanggan) untuk mengetahui/memahami prosedur pelayanan yang dilakukan oleh aparatur.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target (maximize), dimana capaian yang makin tinggi dari target adalah capaian yang diharapkan.
1) Tahun 2010, persentase penyelesaian SOP ditargetkan sebesar 100% dengan realisasi sebesar 100, yang dilaksanakan melalui 2 tahap, yaitu:
a) Pada Semester I tahun 2010 telah diselesaikan 217 SOP yang ditetapkan dengan Keputusan Dirjen PU Nomor Kep-39/PU/2010 tanggal 9 Juli 2010; dan
b) Pada Semester II tahun 2010 telah ditetapkan sebanyak 79 SOP melalui Kepdirjen nomor KEP-05/PU/2011, tanggal 17 Januari 2011 Perubahan Ketiga Atas Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Nomor Kep-36/PU/2007 Tentang Standar Prosedur Operasi (Standard Operating
Procedures/SOP) DJPU.
Jumlah SOP DJPU keseluruhan yang telah selesai disusun sampai dengan tahun 2010 dan telah mendapat penetapan sebanyak 418 SOP.
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2010
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Halaman 69 2) Kendala yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator penyelesaian
SOP di lingkungan DJPU antara lain:
a) Penyempurnaan SOP masih terus dilakukan sehubungan dengan adanya kebutuhan stakeholders dan penataan organisasi;
b) Beberapa SOP yang telah disusun masih harus disingkronisasikan dengan dokumen uraian jabatan, karena SOP berkaitan dengan kewenangan tugas jabatan dalam pengambilan keputusan tertentu atau melakukan suatu kegiatan;
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
a) Melakukan identifikasi SOP yang masih harus dibuat;
b) Melakukan sinkronisasi antara uraian jabatan, SOP, dan ABK agar keterkaitan antara ketiga dokumen tersebut serta arahan pada kewenangan pelaksanaan setiap kegiatan menjadi lebih jelas dan waktu pelaksanaan kegiatannya lebih terukur;
c) Melakukan koordinasi yang lebih intensif dengan unit terkait, yaitu Biro Organisasi dan Ketatalaksanaan serta unit Eselon II di lingkungan DJPU, dalam mempercepat penyelesaian SOP.
d. Pencapaian SS pengembangan organisasi yang handal dan modern, dengan Persentase penyelesaian penataan/modernisasi organisasi, jumlah dokumen perencanaan dan evaluasi kinerja organisasi, dan persentase penyelesaian SOP pada tahun 2010 dapat tercapai dengan baik.
11. SS pembangunan sistem TIK yang terintegrasi, dengan indikator sistem aplikasi