• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERKEMBANGAN PENGATURAN JAMINAN RES

A. Perjanjian Kredit Bank

3. Perkembangan Penerapan Sistem Resi Gudang

Sistem Resi Gudang mulai dikenal di Indonesia sejak 5 tahun terakhir. Sebelum muncul UUSRG banyak dikenal berbagai macam terobosan yang ditempuh baik oleh pemerintah maupun pelaku usaha dalam sistem tata niaga komoditi pertanian. Beberapa diantaranya yang hampir mirip dengan Sistem Resi Gudang adalah sistem tunda jual, gadai gabah, dan yang terakhir adalah CMA (Collateral Management Agreement). Jika ditinjau dari kelengkapan infrastruktur sistem dan keamanannya Sistem Resi Gudang merupakan sistem yang paling

aman jika dibandingkan dengan beberapa sistem yang pernah ada di Indonesia.

58

Mulia Ginting Munthe, “Perkembangan Resi Gudang Mengecewakan”, 7 April 2008,

Dalam Sistem Resi Gudang terdapat jaminan keamanan bagi perbankan karena semua data penatausahaan Resi Gudang terpusat di Pusat Registrasi dan diawasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI). Serta terdapat kepastian mutu bagi pemilik barang maupun calon pemilik barang karena barang yang disimpan dikelola dengan baik oleh Pengelola Gudang dan diuji mutu sebelumnya oleh Lembaga Penilaian Kesesuaian indepenen yang telah mendapat sertifikasi dari KAN dan disetujui oleh BAPPEBTI.

Dalam penerapannya di lapangan Sistem Resi Gudang mengalami berbagai macam kendala dan masalah. Yang menjadi masalah utama adalah kurangnya pemahaman masyarakat, pelaku usaha, bahkan pihak lembaga keuangan terhadap mekanisme dan manfaat Sistem Resi Gudang. Hal ini merupakan kendala yang pada umumnya dialami oleh suatu kebijakan yang bersifat topdown. Manfaat dari Sistem Resi Gudang dan perkembangan Sistem Resi Gudang di Indonesia dapat kita lihat dari tabel di bawah ini:

Tabel 1 : Perkembangan Sistem Resi Gudang di Indonesia

Tahun

PENERBITAN

Pembiayaan

Resi Gudang Komoditi

Jumlah % *) Volume (ton) % *) Nilai Barang (Rp 000) % *) Nilai (Rp 000) % *) Lembaga Keuangan 2008 16 508,83 1.431.616,2 313.900 BPRS Bina Amanah, BRI, Bank Jatim 2009 13 -19% 214,11 -58% 552.962,24 -61% 136.800 -44% BRI

2010 56 331% 2.248,94 950% 8.467.083,5 1431% 4.017.986,3 2837% BRI, Bank Jatim,

Bank BJB, Bank Kalsel,

PKBLKBI,LPDB

*) Presentase pertumbuhan dari tahun sebelumnya

Sumber : Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI)

Dalam tabel diatas menunjukkan adanya penurunan dan peningkatan dari tahun 2008 hingga tahun 2010, baik itu penerbitan Resi Gudang maupun Resi Gudang yang dijadikan pembiayaan kredit. Pada tahun 2008 terdapat 16 (enam belas) Resi Gudang yang diterbitkan dengan nilai barang sebesar Rp. 1.431.616,- (satu juta empat ratus tiga puluh satu enam ratus enam belas rupiah) dan yang diajukan ke pembiayaan kredit sebesar Rp. 313.900,- (tiga ratus tiga belas ribu sembilan ratus rupiah). Tetapi pada tahun 2009 mengalami penurunan sebanyak 19% (sembilan belas perseratus) menjadi 13 (tiga belas) Resi Gudang yang terbit dengan nilai barang mengalami penurunan sebesar 58% (lima puluh delapan perseratus) sehingga pembiayaan kredit juga menurun hingga 44% (empat puluh empat perseratus). Sedangkan pada tahun 2010 mengalami peningkatan secara signifikan dengan meningkatnya jumlah penerbitan Resi Gudang hingga 331% (tiga ratus tiga puluh satu perseratus), sehingga ada 56 (lima puluh enam) Resi Gudang yang diterbitkan dengan nilai barang sebesar Rp. 8.467.083,- (delapan juta empat ratus enam puluh tujuh ribu delapan puluh tiga rupiah) dan pembiayaan kredit juga meningkat hingga 2837% (dua ribu delapan ratus tiga puluh tujuh perseratus) dengan nilai pembiayaan sebesar Rp. 4.017.986,- (empat juta tujuh belas ribu sembilan ratus delapan puluh enam rupiah).

Maka dapat dilihat dari tabel diatas, bahwa perkembangan Resi Gudang di Indonesia dalam 3 tahun terakhir dari tahun 2008 sampai tahun

2010 terdapat sedikit penurunan lalu peningkatan yang signifikan, baik dari penerbitan dan pembiayaan Resi Gudang. Dari tabel diatas juga dapat dilihat bahwa sudah ada lembaga keuangan yang menerima jaminan Resi Gudang ini, baik bank maupun non bank seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Jatim, Bank Jawa Barat (BJB), Bank Kalsel dan BPRS Bina Amanah

Implikasi Sistem Resi Gudang yang menyebar keseluruh bidang sektor mulai dari hulu sampai hilir (pertanian-industri) akan memberikan dampak yang cukup besar bagi perkembangan perekonomian baik daerah maupun nasional. Dampak yang nyata dapat dirasakan adalah adanya peningkatan pendapatan petani, tumbuhnya industri pergudangan di daerah, berkembangnya lembaga-lembaga pembiayaan, yang akhirnya secara makro akan meningkatkan distribusi pendapatan daerah. Disamping itu implementasi SRG juga akan memberikan dampak yang tidak kentara (intangible) berupa tumbuhnya pola kemandirian usaha pada petani dan pelaku usaha.

Dalam perkembangannya di Indonesia setelah disahkannya UUSRG, sudah ada beberapa Bank yang telah memberikan kredit dengan jaminan Resi Gudang berdasarkan UUSRG tersebut, yaitu antara lain Bank BRI, Bank CIMB Niaga, Bank Jatim dan Bank Kalsel.

Pengembangan Sistem Resi Gudang, memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung upaya pemerintah dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui sistem ini akan tersedia alternatif pendanaan meningkatkan kemampuan usaha para petani dan pelaku usaha agribisnis.

Terkait dengan perkembangan Sistem Resi Gudang yang masih dalam tahap Pilot Project di beberapa daerah tertentu saja, maka hal tersebut berdampak pula pada implementasi pelaksanaan pembiayaan dengan Jaminan Resi Gudang oleh Perbankan. Berikut penulis akan mengidentifikasikan permasalahan dalam penerapan Sistem Resi Gudang dan kaitan dengan terbatasnya peranan bank dalam memberikan fasilitas kredit dengan jaminan Resi Gudang, yaitu sebagai berikut:

a. Masih terbatasnya Prasarana, infrastruktur, dan jumlah lembaga-lembaga yang menunjang kegiatan Sistem Resi Gudang, yaitu misalnya dapat dilihat pada sedikitnya daerah yang memiliki Gudang yang telah terakreditasi sesuai dengan kriteria Sistem Resi Gudang.

b. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman petani, pengusaha dan lembaga pembiayaan terhadap Sistem Resi Gudang dan manfaatnya sebagai akses kepada pembiayaan modal kerja.

c. Keterbatasan jenis komoditi yang dapat menjadi objek jaminan Resi Gudang.

d. Masih adanya paradigma bahwa sektor pertanian merupakan bisnis dengan profil pembiayaan beresiko tinggi, yaitu dari obyek jaminan berupa komoditi pertanian dengan daya simpan terbatas dan mudah rusak.

e. Terbatasnya jumlah pasar komoditas untuk komoditi yang diperdagangkan dengan Resi Gudang. Seperti Pasar Lelang Komoditas Agro (PLKA) untuk penjualan komoditas dan Bursa Berjangka untuk perdagangan Resi Gudang.

Dokumen terkait