BAB III HAMBATAN YANG DIHADAPI OLEH BANK
B. Resiko Hak Jaminan Resi Gudang dalam Pemberian
Profil resiko dan mitigasi resiko bagi bank dalam pemberian kredit dengan menggunakan Hak Jaminan Resi Gudang yaitu sebagai berikut:90 1. Keaslian Resi Gudang
89
Lampiran Peraturan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor: 09/BAPPEBTI/PER-SRG/7/2008 Tanggal 24 Juli 2008, Tentang Pedoman Teknis
Penjaminan Resi Gudang, Hal. 5
90
Hamdan Tarigan & Moh. Harsono, Bank BRI : Profil Bisnis Resi Gudang, BRI, 2007, hal. 51
Keaslian Resi Gudang merupakan hal penting yang harus diperhatikan oleh Bank, karena Resi Gudang merupakan bukti kepemilikan dan/atau tanda terima barang yang diterbitkan oleh Pengelola Gudang, sehingga apabila Resi Gudang yang diterbitkan oleh Pengelola Gudang tersebut tidak asli (palsu), maka bila dijaminkan tidak dapat diikat secara hukum dan dapat merugikan pihak bank yang membiayai kredit.
Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan Autentifikasi Resi Gudang untuk memastikan bahwa Resi Gudang yang diterbitkan adalah Resi Gudang asli dan diterbitkan oleh Pengelola Gudang yang berwenang dan terakreditasi. Autentifikasi Resi Gudang dapat dilakukan melalui:
a. Pencocokan test key/kode pengaman ke Pusat Registrasi b. Pencocokan tanda tangan pengelola Gudang yang berwenang
Dokumen yang berkaitan dengan kepemilikan objek jaminan kredit perlu diteliti dan dinilai oleh bank. Walaupun terhadap dokumen yang dipalsukan akan dapat dikenakan sanksi pidana, tetapi bank sudah dirugikan. Penilaian perlu dilakukan terhadap semua dokumen yang berkaitan dengan objek jaminan kredit. Dokumen yang sah akan merupakan suatu alat bukti yang berharga untuk membuktikan legalitas jaminan kredit dan penggunaannya sebagai jaminan kredit.
Dari dokumen barang yang dijadikan sebagai objek jaminan kredit akan dapat diketahui apakah barang tersebut milik calon peminjam (debitur) atau pihak lain. Berdasarkan dokumen dari objek jaminan kredit akan dapat diketahui berbagai data dan informasi seperti misalnya mengenai nama pemilik, domisili pemilik, letak barang, harga dari barang, ukuran atau
spesifikasi barang, dan sebagainya untuk dinilai lebih lanjut kebenarannya. Bila terhadap semua hal yang berkaitan dengan keabsahan dokumen dan kebenaran data yang tercantum di dalam dokumen sudah dilakukan penilaiannya terutama dari segi hukumnya, akan diketahui legalitasnya.
2. Pengelolaan Gudang
Pengelola Gudang adalah pihak yang melakukan usaha pergudangan, baik gudang milik sendiri maupun milik orang lain, yang melakukan penyimpanan, pemeliharaan, dan pengawasan barang yang disimpan oleh pemilik barang serta berhak menerbitkan Resi Gudang. Oleh karena itu Pengelola Gudang dalam rangka melaksanakan tugasnya harus memiliki pengalaman dan kemampuan sebagai collateral manager yang dapat mengutamakan kepentingan bank dan pemilik barang.
Dalam hal Pengelola Gudang tidak memiliki kemampuan dan pengalaman dibidang tugasnya, maka dapat menyebabkan kerugian baik kerugian kerusakan barang, kehilangan barang, kesusutan barang karena salah pemeiharaan, dan lain-lain.
Untuk mengatasi resiko yang disebabkan oleh ketidakmampuan Pengelola Gudang sebagai penerbit Resi Gudang dalam menjalankan tugasnya, maka bank wajib melakukan evaluasi secara menyeluruh dan berkesinambungan terhadap tugas dan tanggungjawab Pengelola Gudang.
Evaluasi terhadap Pengelola Gudang dapat dilakukan dengan:
a. Menilai dan mempertimbangkan pengalaman selama menjadi Pengelola Gudang.
c. Melakukan evaluasi terhadap Teknologi Informasi yang dimiliki oleh Pengelola Gudang.
d. Melakukan evaluasi terhadap sumber daya manusia yang dimiliki oleh Pengelola Gudang.
e. Melakukan evaluasi terhadap Internal Audit yang dilakukan Pengelola Gudang.
f. Melakukan evaluasi terhadap Asuransi Performance Liability yang dimiliki oleh Pengelola Gudang.
Secara umum, mutu pengelolaan gudang dari Pengelola Gudang telah dilakukan evaluasi terukur oleh Badan Pengawas, sebelum dan setelah mendapat persetujuan dari Badan Pengawas sebagai Pengelola Gudang dalam Sistem Resi Gudang.
3. Fluktuasi Harga Komoditi
Harga komoditi pertanian dan perkebunan seperti jagung, padi, kopi, kakao, sawit, karet, lada, gula, tembakau, teh, dll, pada umumnya memiliki fluktuasi harga yang tinggi yaitu pada saat musim panen harga turun dan pada saat musim tanam, harga menjadi tinggi. Untuk harga komoditi yang sangat berfluktuatif dapat merugikan bank yang membiayai debitur dengan jaminan Resi Gudang, karena pada saat harga komoditi rendah dapat berpengaruh terhadap nilai komoditi yang dijaminkan.
Jika dibandingkan dengan besarnya pinjaman yang diterima ternyata nilai komoditi yang dijaminkan lebih rendah dibandingkan dengan besarnya pinjaman, maka ada kecenderungan debitur tidak menyelesaikan kreditnya pada saat jatuh tempo. Sebaliknya jika pada saat kredit jatuh tempo, harga
komoditi di pasaran cukup tinggi melebihi besarnya pinjaman yang diterima, maka debitur cenderung menyelesaikan kreditnya. Oleh karena itu bank harus hati-hati dalam menetapkan dan memprediksi harga komoditi pada saat menetapkan besarnya kredit.
Sesuai dengan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit, dalam pemberian kredit dengan jaminan Resi Gudang perlu dilakukan mitigasi resiko agar diperoleh keyakinan bahwa kredit yang diberikan akan dapat dilunasi tepat pada waktunya. Mengingat pemberian kredit dengan jaminan Resi Gudang lebih menekankan pada nilai barang yang disimpan dalam Sistem Resi Gudang, serta adanya kemungkinan menurunnya nilai barang akibat penurunan mutu barang, maka bank harus melakukan monitoring terhadap fluktuasi harga komoditas yang menjadi jaminan Resi Gudang tersebut.
Berkaitan dengan hal tersebut maka di dalam perjanjian kreditnya harus mencantumkan klausula yang menyatakan bahwa Resi Gudang akan dilikuidasi untuk pelunasan kredit jika penurunan nilai barang telah mendekati jumlah kredit, apabila pemilik barang tidak menambah jumlah barang/komoditas sebesar jumlah penurunan nilai barang.
4. Daya Simpan Komoditi
Komoditi pertanian dan perkebunan pada umumnya memiliki daya simpan yang berbeda-beda, ada yang dapat disimpan dalam jangka pendek dan ada pula yang dapat disimpan dalam jangka panjang. Untuk komoditas yang dapat digunakan dalam Sistem Resi Gudang minimal memiliki daya simpan 3 bulan.
Kesalahan dalam menetapkan daya simpan komoditi sehingga tidak sesuai dengan jangka waktu Resi Gudang dapat merugikan pihak bank, karena apabila komoditi yang dapat disimpan jangka pendek dan ditetapkan dapat disimpan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan komoditi sekaligus dapat menurunkan harga komoditi tersebut.
Memeriksa jangka waktu Resi Gudang dan cover proffesional insurance (asuransi profesional). Resi Gudang memiliki jangka waktu yang bervariasi, sesuai dengan jangka waktu komoditas yang disimpan. Penentuan jangka waktu Resi Gudang didasarkan selain pada daya simpan komoditas juga dipengaruhi oleh mutu komoditas. Acuan yang digunakan dalam menentukan jangka waktu didasarkan atas Standar Mutu yang berlaku di Indonesia (SNI).
Jangka waktu Resi Gudang yang akan diterima sebagai jaminan kredit sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) hari lebih pendek dibandingkan dengan jangka waktu yang tercantum dalam sertifikat mutu komoditas yang tercantum dalam Resi Gudang. Prinsipnya, semakin panjang selisih jangka waktu tersebut akan semakin baik. Hal ini terkait dengan kondisi mutu barang, yang juga berpengaruh terhadap harga jual barang, disamping juga adanya kesempatan yang cukup untuk melakukan penjualan komoditas baik secara penjualan langsung atau melalui lelang umum.
5. Kehilangan Barang Selama Penyimpanan
Selama penyimpanan barang jaminan di Gudang yang dikelola oleh Pengelola Gudang, dimungkinkan adanya resiko kehilangan barang, baik disebabkan oleh pencurian maupun kelalaian yang dilakukan oleh petugas
Pengelola Gudang, maka atas kehilangan barang jaminan tersebut dapat merugikan pihak bank sebagai penerima Hak Jaminan atas Resi Gudang.
Melakukan evaluasi terhadap sistem keamanan Gudang dan cover fidelity insurance atau professional indemnity insurance adalah asuransi terhadap kecurangan atau pencurian yang dilakukan oleh pegawai gudang yang bersangkutan.91
Apabila dalam kerangka pembiayaan Resi Gudang, depositor yang juga sebagai debitur tidak dapat mengembalikan modal kerja yang diperolehnya dari financing bank sebagaimana kesepakatan dalam perjanjian kredit, maka financing bank berhak mencairkan Resi Gudang yang dijadikan sebagai agunan oleh debitur. Jika pada saat Resi Gudang dicairkan ternyata barang yang dinyatakan dalam Resi Gudang tersebut tidak ada atau tidak benar maka financing bank berhak meminta ganti rugi dari Pengelola Gudang yang menerbitkan Resi Gudang tersebut. Pengelola Gudang bertanggungjawab atas barang milik depositor yang dikelolanya.
6. Penurunan Mutu/Kualitas dan Kesusutan Barang Selama Penyimpanan Selama penyimpanan barang jaminan di gudang yang dikelola oleh Pengelola Gudang, dimungkinkan adanya resiko penurunan mutu/kualitas dan kesusutan barang, baik disebabkan oleh:
a. Jenis barang itu sendiri b. Sifat barang itu sendiri
c. Kesalahan dari Lembaga Penilai Kesesuaian menerbitkan sertifikasi mutu
91
Penjelasan Pasal 40 butir k, PP No. 36 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 9 tahun 2006 Tentang Sistem Resi Gudang
d. Kesalahan Lembaga 92
Atas penurunan mutu dan resiko kesusutan barang tersebut dapat mengakibatkan menurunnya nilai barang tersebut sehingga dapat juga merugikan pihak bank sebagai penerima jaminan atas Resi Gudang.
Penilai Kesesuaian dalam menetapkan tingkat kesusutan barang
Memeriksa jangka waktu Resi Gudang, sertifikat mutu untuk meihat toleransi susut barang dan cover stock insurance. Kesusutan Barang selama penyimpanan (susut timbun) adalah kesusutan yang dihitung/dibandingkan antara berat pada saat masuk dalam stapel/lot dengan berat terakhir setelah penimbangan pada saat keluar (Koli cukup tetapi berat kurang). Sedangkan Toleransi susut adalah batas maksimal kesusutan yang ditolerir dalam kurun waktu tertentu selama penyimpanan.
C. Hambatan yang Dihadapi oleh Bank (Kreditur) sebagai Pemegang Hak Jaminan Resi Gudang
Hingga saat ini masih sedikit perbankan yang menerima Resi Gudang sebagaimana dimaksud dalam UUSRG, dimana perbankan pada umumnya masih melihat dan menunggu perkembangan dari pelaksanaan UUSRG. Pada Bank CIMB Niaga, Resi Gudang yang diterima sebagai jaminan adalah Resi gudang berdasarkan Perjanjian Manajemen Agunan sedangkan Resi Gudang sebagaimana dimaksud dalam UUSRG belum diterima karena masih
menunggu kebijakan manajemen.93 Lalu pada Rabobank menerima jaminan berupa barang sebagaimana tercantum dalam Resi Gudang berdasarkan Perjanjian Manajemen Agunan bukan Resi Gudang sebagaimana dimaksud dalam UUSRG. Dalam hal debitur akan menarik barang yang disimpan dalam gudang maka debitur tersebut harus melunasi fasilitas kreditnya sesuai dengan besarnya ditarik dan dijual.94 Bank Ekonomi juga belum menerima jaminan Resi Gudang sebagaimana diatur dalam UUSRG yang masih tergolong baru, melainkan stok barang yang disimpan dalam gudang sebagaimana Resi Gudang yang dikeluarkan oleh pengelola gudang sebagai bukti penyimpanan barang, pengikatan jaminan atas barang tersebut adalah fidusia.95
Berdasarkan informasi yang penulis peroleh, BRI belum seluruhnya menerima jaminan Resi Gudang Sistem Resi Gudang, BRI telah menerima jaminan Resi Gudang sebagaimana dimaksud dalam UURSG namun belum seluruh cabang BRI masih BRI yang berada daerah sentra pertanian, dalam pelaksanaannya tidak mengalami hambatan yang berarti, hanya masalah kondisi pergudangan yang kurang memadai dan dalam pelaksanaan lelang atau penjualan secara langsung tidak mengalami hambatan karena pada umumnya nasabah adalah petani yang masih jujur dan pembelinya juga cukup
Maka Resi Gudang yang diterima oleh CIMB Niaga, Rabobank maupun Bank Ekonomi sebagai jaminan kredit adalah Resi Gudang CMA.
93
Wawancara dengan Sdr. Amran Ibrahim, Bussines Manager CIMB Niaga, Tanggal 16-
4-2012 94
Wawancara denganSdr. Tommy Nugroho, Senior Kredit Analis Rabobank, Tanggal
16-4-2012 95
Wawancara dengan Sdri. Laurentia Devi, Bagian Hukum Bank Ekonomi Jakarta, Tanggal 18-4-2012
banyak karena pada umumnya obyek jaminannya adalah bahan pokok.96 Contohnya pada BRI Cabang Makassar telah memberikan fasilitas kredit dengan jaminan Resi Gudang berasarkan UUSRG dengan obyek jaminan berupa jagung, secara umum dalam pelaksanaan penerimaan jaminan tersebut tidak mengalami hambatan yang berarti, hambatan yang dialami adalah berupa hambatan teknis berkaitan dengan keadaan gudang tempat penyimpanan barang, demikian juga dalam melakukan eksekusi lelang ataupun penjualan sendiri obyek jaminan tersebut tidak mengalami hambatan karena merupakan bahan kebutuhan pokok.97
Pada tanggal 9-11 Juni 2009 Bappebti bekerjasama dengan IFC World Bank, PT Sucofindo, PT Bhanda Ghara Reksa dan PT Kliring Berjangka menyelenggarakan Pelatihan Sistem Resi Gudang Untuk Perbankan yang diselenggarakan di Kuta, Bali. Dalam pelatihan tersebut dikatakan bahwa Sistem Resi Gudang adalah kegiatan yang berkaitan dengan penerbitan, pengalihan, penjaminan, dan penyelesaian transaksi Resi Gudang sesuai dengan UUSRG. Sistem Resi Gudang merupakan salah satu instrumen penting dan efektif dalam sistem pembiayaan perdagangan karena dapat menyediakan akses kredit bagi dunia usaha dengan jaminan barang (komoditas) yang disimpan di gudang, namun hingga saat ini, sistem ini belum dimanfaatkan secara optimal karena kurangnya pemahaman mengenai regulasi Sistem Resi Gudang serta manfaat-manfaat yang tercipta dalam sistem baik untuk kalangan perbankan maupun pemilik komoditas. Pelatihan tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan dan memberikan pemahaman tentang Sistem Resi
96
Wawancara dengan Sdr. Hari Prawoto, Bagian Kredit BRI , Tanggal 20-4-2012
97
Bappebti, Bunga Rampai Perdagangan Berjangka Komoditi, Sistem Resi Gudang dan Pasar Lelang Tahun 2011, vol. 1
Gudang khususnya kepada perbankan. Pelatihan tersebut diikuti antara lain oleh BRI, BCA, OCBC NISP, HSBC, DBS Indonesia, Agroniaga, Rabobank, Bank Ekspor Indonesia, BII, Bank Mega, Chinatrust Indonesia, Bank Mandiri, Permata Bank, BNI, CIMB Niaga, Bukopin dan Standard Chartered Bank.98
Berdasarkan pelatihan yang baru diselenggarakan oleh Bappebti pada tanggal 9-11 Juni 2009 maka dapat dimaklumi bahwa perbankan nasional belum menerima Resi Gudang Sistem Resi Gudang sebagai jaminan kredit, perbankan nasional masih saling menunggu dan melihat perkembangan UUSRG dalam penerapan dan pelaksanaannya, sedangkan Resi Gudang yang telah diterima baik oleh perbankan asing maupun perbankan nasional sebagai jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh debitor adalah Resi Gudang CMA yang merupakan bukti penyimpanan barang, dimana setiap pengeluaran barang dari Gudang pemilik barang haru mengajukan permohonan terlebih dahulu dari bank selaku pemegang fidusia dan hasil penjualan barang tersebut dipergunakan untuk penurunan baki kredit atau untuk pelunasan sebagian atas fasilitas yang diperoleh debitor
Berdasarkan uraian diatas dan terkait dengan obyek jaminan Resi Gudang yang berupa komoditi pertanian, penulis akan mengidentifikasikan dan menganalisis beberapa hambatan yang dihadapi oleh pemegang hak jaminan Resi Gudang (Kreditur) terkait dengan obyek jaminan Resi Gudang sebagai benda bergerak yang berwujud, yaitu sebagai berikut:
1. Resiko Pasar
98
Bappebti, Rangkuman Kabar dan Pemberitaan Tentang Sistem Resi Gudang, Majalah Futures Kontrak Berjangka, bappebti/mjl/078/iX/2011/edisi April 2011
Resiko pasar dapat dilihat dari harga atau nilai jual obyek jaminan itu sendiri yang sangat fluktuatif dan tidak stabil walaupun telah ditetapkan standar harga apakah dapat dipergunakan untuk menjual obyek jaminan pada standar harga yang telah ditentukan tersebut, mengingat mutu obyek jaminan yang mudah berubah menurun dan juga persaingan dalam usaha dibidang hasil pertanian atau perkebunan cukup keras serta banyaknya produk sejenis yang dihasilkan oleh pengusaha sehingga sangatlah sulit untuk menjual pada harga yang ditetapkan tersebut pada saat obyek jaminan tersebut harus segera dijual baik melalui pelelangan umum maupun dijual sendiri, di samping itu masih kurangnya lembaga-lembaga penunjang yang mampu membeli dan menampung penjualan obyek jaminan tersebut.
2. Kebenaran atau keabsahan cara memperoleh barang yang disimpan di gudang
Dalam penerbitan Resi Gudang baik Resi Gudang berdasarkan UUSRG maupun Resi Gudang berdasarkan CMA (Collateral Management Agreement), Pengelola Gudang tidak bertanggungjawab atas kebenaran atau keabsahan cara memperoleh barang yang disimpan dalam gudang tersebut. Hal inilah yang menjadi permasalahan bagi bank karena dapat terjadi barang yang menjadi obyek jaminan yang disimpan di dalam gudang itu belum dibayar lunas harga perolehannya, sehingga bank harus hati-hati dalam menerima jaminan ini dan harus dimintakan bukti lunas atas pembelian obyek jaminan tersebut. UUSRG dan peraturan pelaksana Sistem Resi Gudang yang berada dibawahnya juga menjelaskan bahwa tanggung jawab Pengelola
Gudang hanya dibatasi pada kesalahan Penulisan dalam Resi Gudang dan Kehilangan dan/atau kerugian yang disebabkan oleh kelalaiannya dalam menyimpan dan menyerahkan barang.
Pengelola Gudang dalam menerbitkan Resi Gudang tidak hanya ditujukan bagi petani, tetapi juga diberikan bagi pengusaha UKM yang menampung komoditi dari petani, sehingga melihat dari asal muasal obyek jaminan yang berupa komoditi pertanian, bisa berasal dari hasil tanam maupun dari hasil pembelian dari petani. Maka dalam melakukan verifikasi terhadap keabsahan barang pun akan mengalami kesulitan pada pelaksanaannya. Hal ini disebabkan karena bentuk persediaan komoditi pertanian yang sifatnya berasal dari alam, sehingga tidak ada pencatatan, pendaftaran atau legalitas kepemilikan yang dapat menjadi bukti perolehan atas hasil alam tersebut.
Lain halnya bagi pengusaha agribisnis, selain memiliki lahan pertanian sendiri yang menghasilkan komoditinya sendiri, terkadang juga melakukan pembelian langsung kepada petani-petani. Khusus untuk persediaan komoditi pertanian yang berasal dari pembelian langsung kepada para petani tersebut, maka masih terdapat peluang untuk melakukan verifikasi melalui tanda bukti perolehan atau pelunasan pembelian komoditi tersebut. Namun pelaksanaannya pun tidak semudah itu. Pada prakteknya pun seringkali petani belum dibayar lunas, dan petani telah menyerahkan komoditi hasil pertaniannya itu kepada pengusaha semata-mata karena kesulitan dalam penyimpanan hasil panen waktu pasca panen sehingga petani bersedia untuk dibayar dikemudian hari.
Dokumen Resi Gudang sebagai alas hak atas barang, dapat digunakan sebagai agunan, karena Resi Gudang dijamin dengan komoditas tertentu, yang berada dalam pengawasan Pihak ketiga (Pengelola Gudang) yang terakreditasi. Kata-kata “dijamin dengan Komoditas tertentu” bermakna bahwa Resi Gudang dapat di agunkan sebagai jaminan kredit karena memiliki nilai ekonomis yang berasal dari komoditi yang disimpan dalam gudang tersebut. Tetapi dalam proses penerbitan Resi Gudang sebagai alas hak dari suatu kepemilikan komoditi yang disimpan di Gudang, berlaku prinsip bahwa pembawa/penguasa barang adalah pemilik barang (bezit) dan adanya itikad baik dari petani/pengusaha agribisnis sebagai pemilik komoditi yang disimpan di gudang. Undang-Undang dan peraturan pelaksana lainnya tidak menyerahkan kewajiban verifikasi barang kepada Pengelola Gudang, Pengelola Gudang dalam menerbitkan Resi Gudang hanya diwajibkan untuk melakukan verifikasi terhadap kebenaran jumlah, jenis dan nilai barang.
3. Eksekusi Jaminan
Permasalahan lainnya yang penulis dapat identifikasikan adalah mengenai Eksekusi Jaminan, berikut dibawah ini akan penulis uraikan mengenai permasalahan tersebut.
Di dalam Pasal 16 ayat (1) UUSRG ditegaskan bahwa:
“Apabila pemberi hak jaminan cedera janji, penerima Hak Jaminan mempunyai hak untuk menjual obyek jaminan atas kekuasaan sendiri melalui lelang umum atau penjualan langsung.”
Dan juga di dalam Pasal 21 ayat (1) PP No. 36 Tahun 2007 menyatakan mengenai kekuasaan untuk melakukan parate executie ini, bahwa:
“Dalam hal pemberi Hak Jaminan cedera janji terhadap kewajibannya kepada Penerima Hak Jaminan, maka penerima Hak Jaminan mempunyai hak untuk melakukan penjualan obyek Hak Jaminan atas kekuasaan sendiri tanpa memerlukan penetapan pengadilan setelah memberitahukan secara tertulis mengenai hal itu kepada pemberi Hak Jaminan.”
Jelas bahwa Undang-Undang memberikan kepada pemegang Hak Jaminan Resi Gudang kewenangan kepada kreditur pemegang hak jaminan untuk melakukan eksekusi jaminan berupa komoditi tersebut tanpa memerlukan penetapan pengadilan atau yang biasa disebut parate executie.
Dalam rangka penjualan obyek jaminan Resi Gudang, Penerima Hak Jaminan melakukan pemberitahuan tentang rencana penjualan obyek Hak Jaminan akibat cidera janjinya pemberi Hak Jaminan dengan menggunakan Model Formulir yang telah ditentukan. Pemberitahuan dilakukan melalui SRG-Online dan disampaikan melalui pos tercatat kepada pemberi Hak Jaminan, Pusat Registrasi, dan Pengelola Gudang paling lambat 3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan penjualan langsung atau lelang umum.99
Permasalahan dapat muncul apabila kreditur/penerima hak jaminan yang beritikad tidak baik, dengan dalih telah melakukan pemberitahuan secara tertulis kepada pemilik barang, maka Kreditur merasa berhak untuk melakukan eksekusi Hak Jaminan, begitu pula sebaliknya pemilik barang karena alasan belum menerima pemberitahuan dari kreditur maka debitur
99
Peraturan Kepala Bappebti Nomor: 09/BAPPEBTI/PER-SRG/7/2008 tanggal 24 Juli 2008 tentang Pedoman Teknis Penjaminan Resi Gudang yang mengatur teknis dari pelaksanaan eksekusi jaminan melalui penjualan obyek jaminan
dapat mengajukan gugatan atas dasar pemegang hak jaminan telah melakukan perbuatan melanggar hukum (Pasal 1365 KUHPerdata).
Pasal 1365 KUHPerdata:
“Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.”
Disatu sisi Kreditur atau penerima hak jaminan berhak untuk melakukan Parate Executie tetapi disisi yang lain apabila ia menjalankan haknya maka dia harus menerima resiko untuk digugat oleh debitur karena alasan melakukan tindakan main hakim sendiri dan melakukan perbuatan melanggar hukum berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata tersebut.
Hal seperti itu dialami juga dalam beberapa pelaksanaan Parate Executie hak tanggungan dan fiducia. Adanya beberapa putusan hakim atas gugatan dari debitur kepada kreditur, yang tidak menerapkan hukum sebagaimana yang seharusnya, karena sebenarnya hak kreditur untuk melakukan parate executie terhadap obyek jaminan telah diatur dan dijamin oleh undang-undang. Pada pelaksanaannya, kekuasaan untuk melakukan ekseskusi melalui lembaga parate executie masih menimbulkan permasalahan.