• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Hakikat Remaja

3. Perkembangan Psikologi Remaja

Seperti halnya dengan semua periode yang penting selama rentang kehidupan, perkembangan psikologi remaja masa remaja mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Masa remaja adalah masa yang penting karena terjadi pertumbuhan fisik dan perkembangan mental secara cepat.

b. Masa remaja adalah masa transisi atau periode peralihan. Bukan kanak-kanak lagi tetapi belumbisa disebut dewasa. Pada usia ini sering terjadi keraguandalam peran yang dilakukan.

c. Masa remaja adalah masa atau usia perubahan (periodeperubahan).Adalima perubahan yang terjadi dalam masa remaja, yaitu :

1) Perubahan tingkat emosionalitas. Pada masa ini tingkat emosionalitas cukup tinggi.

2) Cepatnya perubahan kemasakan seks.

3) Perubahan badan, perubahan minat, perubahan-perubahan peranan sosial,memunculkan problem-problem baru yang perlu dipecahkan.

4) Terjadi perubahan nilai.

5) Berubah menjadi ambivalen. Remaja ingin bebas tetapi takut bertanggung jawab.

d. Masa remaja adalah masa atau usia atau bermasalah periode bermasalah. Masalah-masalah tersebut muncul akibat adanya perubahan- perubahan fisik, perubahan seksual maupun perubahan psikis.

e. Masa remaja adalah periode mencari identitas. Kadang-kadang terjadi krisis identitas (masalah identitas diri).

f. Masa remaja adalah usia yang ditakuti, kadang-kadang dihubungkan dengan perilaku yangdistruktif (merusak)dan hal-hal yang negatif. g. Masa remaja adalah masa ambang dewasa.17

Masa remaja merupakan masa peralihan yang ditempuh oleh seseorang dari kanak-kanak menjadi dewasa, atau dapat dikatakan bahwa masa remaja adalah perpanjangan masa kanak-kanak sebelum mencapai masa dewasa. Seperti halnya dengan semua periode yang penting selama rentang kehidupan, maka masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya.

Jika kita hubungkan perkembangan psikologis remaja dengan bagaimana pembaca remaja mengapresiasi dalam merespons suatu karya (novel), didapat kesimpulan bahwa proses apresiasi melibatkan tiga unsur inti yakni, aspek kognitif, aspek emotif, dan aspek evaluatif. Aspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan intelektual pembaca dalam upaya memahami unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif tersebut. Selain dapat berhubungan dengan unsur-unsur yang secara internal terkandung dalam suau teks sastra atau unsur intrinsik, juga dapat berkaitan dengan unsur-unsur di luar teks sastra yang secara langsung menunjang kehadiran teks sastra itu sendiri. Aspek emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dalam menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks sastra yang dibaca. Selain itu unsur emosi juga sangat berperan dalam upaya memahami unsur-unsur yang bersifat subjektif. Sedangkan aspek evaluatif berkaiatan dengan kegiatan memberikan penilaian terhadap baik buruk. Indah tidak indah, sesuai tidak sesuai, serta sejumlah ragam penilaian lain yang tidak harus hadir dalam sebuah karya kritik, tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pembaca.

17

C. Hakikat Novel 1. Pengertian Novel

Dalam bahasa Latin kata novel berasalnovellusyang diturunkan pula dari katanovusyang juga berarti baru. Dikatakan baru karena dibandingkan dengan jenis-jenis lain, novel ini baru muncul kemudian.18

Novel dapat dikatakan sebagai kisah sejarah hidup seseorang karena berkaitan dengan peristiwa yang terjadi dalam rentang waktu kehidupan orang tersebut. Bahkan Wellek dan Warren pun menegaskan, “Novel dianggap sebagai dokumen atau kasus sejarah, sebagai pengakuan (karena ditulis sangat meyakinkan), sebagai sejarah kehidupan seseorang dan zamannya”.19

Menurut Stanton, “Ciri khas novel ada pada kemampuannya untuk menciptakan suatu semesta yang lengkap sekaligus rumit”.20 Semi pun mengatakan,“Novel merupakan karya fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan disajikan dengan halus. Novel dapat diartikan sebagai cerita yang memberikan konsentrasi kehidupan yang lebih tegas”.21

Adapun dalam KBBI novel merupakan karangan prosa panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.22

Novel sebagai bagian dari karya sastra berupa prosa memiliki dua unsur pembangun yang terdiri dari unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik sesuai dengan namanya merupakan unsur-unsur pembangun yang berada di dalam karya itu sendiri, unsur-unsur intrinsik secara faktual akan dijumpai saat seseorang membaca 18

Endah Tri Priyatni, Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi Kritis, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 124.

19

Rene Wellek dan Austin Warren,Teori Kesusastraan,Terj. dariTheory of Literature oleh Melani Budianta,(Jakarta: Gramedia, 1989), h. 276.

20

Robert Stanton,Teori Fiksi,Terj.dari An Introduction to Fictionoleh Sugihastuti dan Rossi Abi Al Irsyad,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar), Cet. 1, h. 90.

21

M. Atar Semi,Anatomi Sastra,(Padang: Angkasa Raya, 1993), h. 32. 22

sebuah karya sastra, sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur pembangun yang berada di luar karya sastra itu, unsur ini tidak secara langsung berpengaruh terhadap bangunan suatu karya karena tidak ikut menjadi bagian di dalamnya seperti unsur intrinsik.23

Dari beberapa pendapat tersebut peneliti menyimpulkan bahwa novel adalah karangan prosa narasi fiktif panjang, berisi gambaran kehidupan manusia beserta watak dan lingkungan tempat tinggalnya serta memiliki rangkaian peristiwa yang saling menjalin satu sama lain.

Novel terbentuk oleh unsur intrinsik dan unsur ektrinsik. Dalam penelitian ini, peneliti hanya akan menganalisis unsur intrinsik novel yang meliputi tema, alur, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, gaya bahasa dan amanat.

2. Unsur Intrinsik Novel

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur pembangun yang berada dalam karya sastra. Kepaduan antar unsur intrinsik inilah yang membuat novel berwujud.Adapun unsur-unsur tersebut yakni:

a. Tema

Menurut Tarigan,“Tema merupakan sasaran tujuan”.24 Temalah yang dijadikan tujuan menulis karangan.25

Menurut Aminudin, “Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita. Tema berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya rekaan yang diciptakannya”.26 Tema merupakan kaitan hubungan antara makna dengan tujuan pemaparan prosa rekaan oleh pengarangnya.27

Sedangkan menurut Priyatni, “Tema disebut juga sebagai ide sentral atau makna sentral suatu cerita. Tema merupakan jiwa cerita

23

Burhan Nurgiyantoro,Teori Pengkajian Fiksi,(Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,2005), h. 23.

24

Henry Guntur Tarigan,Prinsip-Prinsip Dasar Sastra, (Bandung: Angkasa, 2011), h. 125.

25

Aoh K. Hadimadja,Seni Mengarang, (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1978), h. 98. 26

Aminudin,Pengantar Apresiasi Karya Sastra, (Jakarta: Sinar Baru), h. 67. 27

dalam karya fiksi”.28Tema disaring dari motif-motif yang terdapat dalam karya yang bersangkutan yang menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasi tertentu. Tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka ia pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu.29Cara mengidentifikasi tema dapat dilakukan dengan pembacaan secara teliti sehingga detail-detail yang renik pun dapat dikenali dan mengamati secara teliti setiap konflik yang ada di dalamnya.30Nurgiyantoro menegaskan bahwa untuk menemukan tema sebuah karya fiksi haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya berdasarkan bagian-bagian tertentu saja

Dengan demikian, disimpulkan bahwa tema adalah ide pokok atau gagasan yang mendasari suatu cipta sastra yang disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Pokok persoalan itu bisa berupa kehidupan, pandangan hidup, dan komentar terhadap lingkungan. Tema dapat diketahui melalui pembacaan karya sastra secara keseluruhan, kemudian disimpulkan.

b. Alur atau Plot

Menurut Priyatni, “Alur merupakan rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat”.31Menurut Semi,“Alur atau plot merupakan suatu jalur tempat lewatnya rentetan peristiwa yang merupakan rangkaian pola tindak-tanduk yang berusaha memecahkan konflik yang terdapat di dalamnya”.32 Sama halnya menurut Aminudin, “Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita”.33

28

Priyatni, Op. cit., h. 119. 29

Nurgiyantoro,Op. cit., h. 68. 30

Stanton,Op.cit.,h. 42. 31

Priyatni.Loc. cit, h. 113. 32

Semi.Op. cit., h.43. 33

Stanton menjelaskan bahwa,“Alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa lain dan tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh terhadap keseluruhan cerita”.34

Bagi sastrawan alur atau plot berfungsi sebagai suatu kerangka karangan yang dijadikan pedoman dalam mengembangkan keseluruhan isi ceritanya, sedangkan bagi pembaca, pemahaman plot berarti juga pemahaman terhadap keseluruhan isi cerita secara runtut dan jelas.35 Alur atau plot pada prinsipnya bergerak dari suatu permulaan melalui suatu pertengahan menuju standar akhir.36 Pun demikian menurut Sudjiman, “Pengaluran adalah pengaturan urutan peristiwa pembentuk cerita. Cerita diwali dengan cerita tertentu dan diakhiri dengan cerita lainnya.37

Sementara itu Nurgiyantoro menjelaskan isi dari tahapan-tahapan alur tersebut yaitu tahap awal (tahap perkenalan) pada umumnya berisi sejumlah informasi penting yang berkaitan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap-tahap berikutnya, yakni berupa deskripsi latar (setting)dan pengenalan tokoh-tokoh. Tahap tengah cerita yang disebut juga pertikaian, menampilkan pertentangan atau konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap sebelumnya, menjadi semakin meningkat, semakin menegangkan (klimaks). Tahap akhir cerita yang disebut juga tahap penyelesaian atau pelaraian, menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks, pada penyelesain ini berisi bagaimana kesudahan cerita, atau menyaran pada bagaimanakah akhir sebuah cerita38

Dari penjelasan di atas disimpulakan bahwa alur merupakan rangkaian peristiwa dan kejadian yang saling berhubungan dengan adanya sebuah deretan hubungan kausalitas (sebab akibat).

34

Stanton,Op.cit.,h.28. 35

Siswanto,Loc. cit., h. 161. 36

Tarigan,Op. cit., h. 127. 37

Panuti Sudjiman,Memahami Cerita Rekaan,(Jakarta: Pustaka Jaya, 1988), h. 31. 38

Alur dibedakan berdasarkan kriteria urutan waktu, jumlah, dan kepadatannya. Dalam penilitian ini, hanya dipilih penggolongan alur berdasarkan kriteria urutan waktu. Berdasarkan kriteria urutan waktu, alur dibedakan menjadi dua yaitu alur kronologis (lurus) dan alur sorot balik (flash back). Dalam alur kronologis, setiap peristiwa disusun secara sistematis, bagian-bagian dalam alur disusun benar-benar sesuai keberadaannya. Sedangkan dalam alur sorot balik, setiap peristiwa tidak tersusun secara sistematis, bagian awal cerita bisa merupakan akhir, dan akhir cerita bisa merupakan awal atau tengah cerita. Alur dalam sebuah novel seringkali divariasikan, artinya penggunaan alur tidak murni kronologis ataupun sorot balik.39

c. Latar atauSetting

Latar atausettingyang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.40Istilah latar berkaitan dengan elemen-elemen yang memberikan kesan abstrak tentang lingkungan, baik tempat maupun waktu, di mana para tokoh menjalankan perannya.41 Aminudin dalam buku Siswanto mengemukakan bahwa,“Latar cerita adalah tempat umum, (general local), waktu sejarah (historical time), dan kebiasaan masyarakat (social circumlances) dalam setiap episode atau bagian-bagian tempat”.42

Sedangka menurut Kenny dalam Sudjiman yaitu,“Latar meliputi penggambaran lokasi geografis, termasuk topografi, pemandangan, sampai kepada perincian perlengkapan sebuah ruangan; pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh; waktu berlakunya kejadian, masa sejarah, musim terjadinya; lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional para tokoh.43

Dari penjabaran di atas disimpulkan bahwa latar adalah segala keterangan mengenai waktu, tempat, dan suasana terjadinya lakuan atau peristiwa dalam karya sastra. Ketiga unsur ini walau masing-39

Ibid.,h. 153—155. 40

Ibid., h. 216. 41

Furqonul Aziez & Abdul Hasim,Menganalisis Fiksi Sebuah Pengantar, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010). h. 74.

42

Siswanto,Op. cit., h. 149. 43

masing menawarkan permasalahan yang bebea dan dapat dibicarakan secara sendiri-sendiri atau masing-masing, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

Latar cerita akan berpengaruh terhadap unsur lainnya jika latar ditampilkan secara khas, dalam hal ini akan berpengaruh terhadap pengaluran dan penokohan. Menurut Sudjiman, “Latar dapat menentukan tipe tokoh cerita; sebaliknya juga tipe tokoh tertentu menghendaki latar yang tertentu pula. Latar dapat juga mengungkapkan watak tokoh. Misalnya penggambaran keadaan kamar tokoh yang acak-acakan, mengesankan bahwa penghuninya bukan pecinta kerapian”.44

Dalam karya fiksi, latar dibedakan menjadi dua tipe yaitu latar netral dan latartipikal.Menurut Nurgiyantoro, “Latar tipikal memiliki dan menonjolkan sifat khas latar tertentu, baik yang menyangkut unsur tempat, waktu, maupun sosial. Penggunaan latar tipikal dimaksudkan untuk memberikan kesan kepada pembaca bahwa karya itu bersifat realistis, terlihat sungguh-sungguh diangkat dari latar faktual”.45Jadi, latar netral tidak menunjukkan pada suatu tempat dan waktu tertentu yang khas, sedangkan latar tipikal merujuk pada suatu tempat dan waktu tertentu secara jelas atau memiliki kekhasan.

d. Tokoh dan penokohan

Menurut Priyatni,“Tokoh adalah para pelaku atau subjek lirik dalam karya fiksi”.46 Tokoh merupakan orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.47 Sedangkan penokohan adalah pelukisan gambaran yang

44

Ibid.,h. 49. 45

Nurgiyantoro,Op.cit.,h. 220—222. 46

Priyatni,Op. cit,. h. 110. 47

jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.48 Menurut Aminudin dalam buku Siswanto mengartikan, “Tokoh sebagai pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita, sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh disebut penokohan”.49Masalah penokohan dalam sebuah karya tidak semata-mata hanya berhubungan dengan masalah pemilihan jenis dan perwatakan para tokoh cerita saja, melainkan juga bagaimana melukiskan kehadiran dan penghadirannya secara tepat sehingga mampu menciptakan dan mendukung tujuan artistik karya yang bersangkutan.50

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa tokoh merupakan orang yang secara imajinatif ditampilkan sebagai pelaku cerita dan berperan sebagai orang yang menggerakan alur dalam sebuah cerita. Sedangkan penokohan adalah pelukisan penggambaran fisik dan jiwa para tokoh, baik melalui tingkah laku maupun gagasannya dalam menjalankan roda kehidupan manusia yang ditampilkan dalam sebuah cerita.

Pengelompokan tokoh dibedakan menjadi beberapa jenis. Salah satunya yaitu pengelompokan tokoh berdasarkan segi peranan. Berdasarkan segi peranananya, tokoh dibedakan atas tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama biasanya memiliki peranan yang penting dan mendominasi keseluruhan cerita, sementara tokoh tambahan peranannya tidak terlalu banyak dalam cerita, artinya intensitas kemunculannya dalam cerita tidak sebanyak tokoh utama. Tokoh utama dalam cerita terkadang lebih dari satu, sebab dinilai memiliki porsi keterlibatan yang sama dalam cerita. Maka dari itu untuk membedakan keutamaan tokoh dalam cerita didasarkan pada perbedaannya secara bertingkat sebagaimana yang dinyatakan oleh Nurgiyantoro.

48

Nurgiyantoro, Op. cit., h. 165. 49

Siswanto,Op. cit., h. 142. 50

Menurut Nurgiyantoro, “Pembedaan antara tokoh utama dan tambahan tak dapat dilakukan secara eksak. Pembedaan itu lebih bersifat gradasi, kadar keutamaan tokoh-tokoh itu bertingkat: utama (yang) utama, tokoh utama yang tambahan, tokoh tambahan yang utama dan tokoh tambahan (yang memang) tambahan”.51 Dengan demikian, walaupun dalam cerita terdapat dua tokoh utama atau dua tokoh tambahan, keduanya memiliki perbedaan kadar keutamaannya dalam cerita. Dalam penelitian ini, menggunakan pengelompokan tokoh berdasarkan segi peranannya tersebut.

e. Sudut Pandang

Menurut Pradopo,“Sudut pandang merupakan cara bercerita dari titik pandang mana atau siapa cerita itu dikisahkan”.52Menurut Minderop, “Sudut pandang pada dasarnya merupakan strategi, teknik, siasat yang sengaja dipilih pengarang untuk mengungkapkan gagasan dan ceritanya untuk menampilkan pandangan hidup dan tafsirannya terhadap kehidupan yang semua ini disalurkan melalui sudut pandang tokoh”.53 Sedangkan Tarigan menjelaskan bahwa,“Sudut pandang adalah hubungan yang terdapat antara sang pengarang dengan alam fiktif ceritanya, ataupun sang pengarang dengan pikiran dan perasaan para pembacanya”.54

Dari beberapa pendapat tersebut disimpulkan bahwa sudut pandang adalah posisi pencerita atau narator dalam cerita dan bagaimana sikap narator tersebut terhadap diirinya sendiri dalam cerita.

Bagi pembaca, sudut pandang merupakan acuan untuk memahami cerita secara keseluruhan. Sebagaimana pendapat Stevick

51

Ibid.,h. 178. 52

Rachmat Djoko Pradopo,Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan penerapannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), Cet. VI, h. 75.

53

Albertine Minderop,Metode Karakterisasi Telaah Fiksi,(Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011), h. 88.

54

dalam Nurgiyantoro, “Pembaca membutuhkan persepsi yang jelas tentang sudut pandang cerita, karena pemahaman pembaca terhadap sebuah novel akan dipengaruhi oleh kejelasan sudut pandanganya”.55

Sudut pandang secara garis besar dibedakan menjadi dua macam yaitu sudut pandang persona pertama dan sudut pandang persona ketiga.Sudut pandang persona pertama terdiri atas: teknik pencerita “aku” tokoh utama dan “aku” tokoh tambahan.

Menurut Minderop, “Teknik pencerita aku tokoh utama yaitu pencerita yang ikut berperan sebagai tokoh utama, melaporkan cerita dari sudut pandang aku dan menjadi pusat cerita. Sedangkan teknik pencerita aku tokoh tambahan yaitu pencerita yang tidak turut berperan dalam cerita, hadir sebagai tokoh tambahan yang aktif sebagai pendengar atau penonton dan hanya untuk melaporkan cerita kepada pembaca dari sudut pandang aku.56

Dengan demikian, jika yang dipilih adalah teknik pencerita “aku” tokoh utama, maka kita sebagai pembaca akan memahami isi cerita berdasarkan pandangan si tokoh utama tersebut yang memiliki peranan penting dalam cerita, tentunya si tokoh utama ini mengalami peristiwa dan konflik secara langsung dalam cerita. Sedangkan jika dalam karya sastra digunakan teknik pencerita “aku” tokoh tambahan, maka pembaca akan memahami cerita berdasarkan pemahaman atau pandangan tokoh tambahan yang dalam hal ini mengamati keseluruhan peristiwa dalam cerita yang lebih banyak dialami oleh tokoh utama.

Penggunaan sudut pandang berdampak pada hasil kisahan dalam cerita. Sudut pandang pencerita akuan dan sudut pandang pencerita diaan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dengan demikian, pada praktiknya, pengarang akan memilih sudut pandang yang sesuai dengan efek yang ingin ditimbulkannya pada cerita ciptaannya dan pada diri pembaca.

55

Nurgiyantoro,Op.cit.,h. 251. 56

f. Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa atau cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa).57Menurut Semi, “Gaya bahasa adalah tingkah laku pengarang dalam menggunakan bahasa”.58“Gaya itu ditentukan oleh sifat atau watak pengarang karena watak pengarang berbeda-beda, berbeda-beda pula gaya bahasa pengarang”.59Menurut Siswanto, “Gaya bahasa adalah cara seseorang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca”.60Sedangkan menurut Zainuddin, “Gaya bahasa adalah pemakaian ragam bahasa dalam mewakili atau melukiskan sesuatu dengan pemilihan dan penyusunan kata dalam kalimat untuk memperoleh efek tertentu”.61

Jadi gaya bahasa adalah seni pengungkapan seorang pengarang terhadap karyanya melalui medium bahasa.Gaya bahasa juga bisa membentuk karakter atau ciri dari tulisan yang dibuat oleh pengarang itu sendiri yang membedakannya dengan pengarang yang lain, menimbulkan keindahan dan keharmonisan dalam bahasa yang nantinyaakan menimbulkan imajinasi dan pengaruh bagi pembaca.

Dilihat dari sudut bahasa atau unsur-unsur bahasa yang digunakan, maka gaya bahasa dapat dibedakan menjadi beberapa

57

Gorys Keraf,Diksi dan Gaya Bahasa, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama). h. 112. 58

Semi, Op. cit., h. 47. 59

Hadimadja,Op. cit.,h. 62. 60

Siswanto,Op. cit., h. 158. 61

jenis. Salah satunya yaitu gaya bahasa berdasarkan pilihan kata dan dan gaya bahasa berlangsung tidaknya makna.62

Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling tepat dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam masyarakat63. Dengan kata lain, gaya bahasa mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi-situasi tertentu.

Adapun dalam pilihan kata ini terbagi menjadi bahasa standar dan substandar.Dalam penelitian ini penulis hanya membahas bahasa non standar, yakni bahasa dari mereka yang tidak memperoleh kedudukan atau pendidikan yang tinggi atau menyatakan ciri-ciri kedaerahan.

Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna, yakni apakah acuan yang dipakai masih mempertahankan makna denotatifnya atau sudah ada penyimpangan. Bila acuan yang digunakan itu masih mempertahankan makna dasar, maka bahasa itu masih bersifat polos. Tetapi bila sudah ada perubahan makna, entah berupa makna konotatif atau sudah menyimpang jauh dari makna denotatifnya, maka acuan itu dianggap sudah memiliki gaya sebagai yang dimaksud. Gaya bahasa berdasarkan keberlangsungan makna ini biasanya disebut sebagai tropeatau figure of speechyang artinya “pembalikan” atau “penyimpangan.Ttropeatau figure of speech dengan demikian memiliki bermacam-macam fungsi yakni, menjelaskan, memperkuat, menghidupkan obyek mati, menstimulasi asosiasi, menimbulkan gelak ketawa, atau untuk hiasan. Ttropeatau figure of speech dibagi menjadi dua kelompok, yaitu gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan.64 Gaya bahasa retoris terbagi menjadi beberapa bagian,

diantaranya:

1) Aliterasiadalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Biasanya digunakan dalam

62

Keraf, Op. cit., h. 116—117. 63

Ibid., h. 117. 64

puisi, kadang-kadang dalam prosa, untuk perhiasan atau untuk penekanan.

2) Asonasiadalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama.

3) Hiperbol adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan suatu hal.

Gaya bahasa kiasan terbagi menjadi beberapa macam gaya bahasa, diantaranya:

1) Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat.

2) Pesonifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang

Dokumen terkait