• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN BISNIS FRANCHISE (WARALABA)

E. Perlindungan Hukum Bagi Pengusaha Kecil dan

Indonesia pada dekade terakhir ini mengalami perkembangan ekonomi yang sangat pesat. Akan tetapi di balik itu timbul pula rasa cemas, bahwa perkembangan ekonomi yang begitu pesat hanya menguntungkan pihak dalam kalangan tertentu saja, sedangkan mereka yang berada di luar kalangan tersebut akan terdesak sehingga semakin tidak dapat bersaing bahkan tidak mempunyai daya untuk mempertahankan keberadaannya.

Karena itu, perangkat hukum ekonomi Indonesia harus berupaya untuk menyiapkan diri guna menghadapi praktek-praktek bisnis yang tidak sehat yang biasanya tersembunyi di belakang klausula-klausula kontrak bisnis.

Sunaryati Hartono78 menyatakan bahwa dalam ilmu hukum himbauan seperti tersebut di atas dinamakan sebagai droit de l’Economie, yaitu pengaturan dan pranata hukum yang berisi kebijaksanaan untuk mengarahkan kehidupan ekonomi ke suatu arah yang tertentu, dalam hal di atas yang dimaksud dengan arah tertentu yakni ke arah pemerataan dan keadilan.

78

Sunaryati Hartono, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, (Bandung: Alumni, 1991), hal. 119.

Sejarah perekonomian menunjukkan bahwa pada awalnya perhatian pemerintah di banyak negara di dunia lebih tertuju pada usaha besar dan usaha menengah. Dalam perkembangan selanjutnya, pemerintah mulai mengakui keberadaan industri kecil sebagai salah satu penopang perekonomian di suatu negara.

Atih Suryati79 mengemukakan bahwa aspek mendasar yang mendorong pemerintah untuk mengembangkan usaha kecil adalah:

1) Dimilikinya keunggulan kompetitif, karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan melalui industri kecil bahan-bahan dapat diolah sehingga menghasilkan nilai tambah;

2) Industri kecil memberikan lapangan kerja;

3) Industri kecil menyalurkan keterampilan penduduk yang telah terbina secara turun-temurun terutama untuk daerah tertentu;

4) Produk industri kecil ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terutama lapisan masyarakat berpendapatan rendah;

5) Jenis produk industri kecil beraneka ragam;

6) Industri kecil merupakan sumber wiraswasta dan bibit pengusaha menengah dan besar.

Keenam hal di atas telah mendasari pemerintah Indonesia khususnya untuk memelihara industri kecil sebagai basis dari perekonomian nasional.

79

Atih Suryati, “Pembinaan dan Pengembangan Industri Kecil di Indonesia”, dalam Internasional Seminar dengan Topik “Small Scale and Micro Enterprises in Economic Development Anticipating Globalization and Free Trade”, di Bandung, 23 April 2004.

Sebagai wujud nyata dari perhatian pemerintah untuk berusaha meningkatkan keberadaan usaha kecil di Indonesia disusunlah suatu produk hukum yaitu UU No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil yang berusaha untuk melindungi kepentingan usaha kecil di Indonesia. Penciptaan produk hukum ini diharapkan dapat melindungi segenap kehidupan dan kepentingan dari seluruh rakyat Indonesia termasuk usaha kecil.

Hal yang perlu digarisbawahi dari UU Usaha Kecil, kemitraan ialah kerjasama usaha antara pengusaha kecil dan koperasi dan pengusaha menengah serta pengusaha besar disertai pembinaan dan pengembangan oleh pengusaha menengah atau pengusaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungan.

Adapun prinsip dari kemitraan menurut Tim IKOPIN80 dapat dijabarkan sebagai berikut:

1) Kesalingtergantungan;

2) Saling memperkuat dan saling menguntungkan;

3) Proporsional artinya bidang garapannya disesuaikan dengan karakteristik bidang usaha yang selaras untuk masing-masing pelaku ekonomi;

4) Proaktif dalam menjalankan kegiatan, yaitu pihak-pihak terkait memiliki inisiatif serta tanggung-jawab;

5) Sinergi, yaitu keseluruhannya lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya.

80

Tim IKOPIN, “Tantangan-Tantangan Yang Dihadapi Koperasi, BUMN, Dan BUMS Dalam Era Globalisasi”, dalam Seminar Aspek-Aspek Hukum dalam Kerjasama Bidang Usaha Koperasi, BUMN, dan Swasta, di Jakarta, 26-28 September 1997.

Program kemitraan yang dicanangkan oleh pemerintah diharapkan dapat membantu pengusaha kecil dalam menghadapi era persaingan bebas.

Tujuan dari UU Usaha Kecil adalah pemberdayaan usaha kecil yang berlandaskan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam rangka menumbuhkan serta meningkatkan kemampuan usaha kecil menjadi usaha yang tangguh dan mandiri serta dapat berkembang menjadi usaha menengah, serta meningkatkan peranan usaha kecil dalam pembentukan produk nasional, perluasan kesempatan kerja dan berusaha, peningkatan ekspor, serta peningkatan dan pemerataan pendapatan untuk mewujudkan dirinya sebagai tulang punggung serta memperkokoh struktur perekonomian nasional.81

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam rangka mendukung terlaksananya pemberdayaan bagi usaha kecil dan usaha menengah di Indonesia, hal ini meliputi:82 penciptaan iklim usaha yang kondusif untuk bertumbuhnya usaha kecil, pembinaan dan pengembangan, pembiayaan dan penjaminan, kemitraan, perlindungan terhadap penyalahgunaan.

Pemerintah menumbuhkan iklim usaha dalam aspek pendanaan dengan cara memperluas sumber pendanaan, meningkatkan akses terhadap sumber pendanaan, memberikan kemudahan dalam pendanaan.83

81

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, Pasal 2, 3, dan 4.

82

Soeharto Prawirokusumo, “Usaha Kecil dalam Pembangunan Ekonomi Mengantisipasi Globalisasi Pasar Bebas dalam Internasional Seminar dengan Topik: Small Scale and Micro Enterprises in Economic Development Anticipating Globalization and Free Trade”, di Jakarta, 20 Mei 2001.

83

Peningkatan iklim usaha dalam aspek persaingan dilakukan dengan cara menetapkan peraturan perundang-undangan serta kebijaksanaan yang dapat meningkatkan kerjasama sesama usaha kecil dalam bentuk koperasi, asosiasi dan himpunan kelompok usaha untuk memperkuat posisi tawar usaha kecil; mencegah pembentukan struktur pasar yang dapat melahirkan persaingan yang tidak wajar; serta mencegah terjadinya penguasaan pasar dan pemusatan usaha oleh kelompok tertentu.84

Penumbuhan iklim usaha dalam aspek prasarana dan informasi dilakukan dengan cara menetapkan kebijaksanaan untuk mengadakan prasarana umum yang dapat mendorong dan mengembangkan pertumbuhan usaha kecil; memberikan keringanan tarif prasarana tertentu bagi usaha kecil; membentuk dan memanfaatkan bank data dan jaringan informasi bisnis; mengadakan dan menyebarkan informasi mengenai pasar, teknologi, desain, dan mutu.85

Diusahakan pula penumbuhan iklim usaha dalam aspek kemitraan dengan cara menetapkan kebijaksanaan untuk: mewujudkan kemitraan, dan mencegah terjadinya hal-hal yang merugikan usaha kecil dalam pelaksanaan transaksi usaha dengan usaha menengah.86

Ditumbuhkan pula iklim usaha dalam aspek perijinan dengan cara menetapkan kebijaksanaan untuk menyederhanakan tata cara dan jenis perijinan

84

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, Pasal 8. 85

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, Pasal 9. 86

dengan mengupayakan terwujudnya sistem pelayanan satu atap serta memberikan kemudahan persyaratan utnuk memperoleh perijinan.87

Aspek perlindungan juga merupakan salah satu upaya yang dilakukan demi menumbuhkan iklim usaha yaitu dengan menetapkan peraturan perundang- undangan dan kebijaksanaan untuk menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di pasar, ruang pertokoan, lokasi sentra industri, lokasi pertanian rakyat, lokasi pertambangan rakyat, dan lokasi yang wajar bagi pedagang kaki lima, serta lokasi lainnya; mencadangkan bidang dan jenis kegiatan usaha yang memiliki kekhususan proses, bersifat padat karya, serta mempunyai nilai seni budaya yang bersifat khusus dan turun temurun; mengutamakan penggunaan produk yang dihasilkan usaha kecil melalui pengadaan secara langsung dari usaha kecil; mengatur pengadaan barang atau jasa dan pemborongan kerja pemerintah; serta memberikan bantuan konsultasi hukum dan pembelaan.88

Keseluruhan upaya yang telah dilakukan, apabila dikaitkan dengan masalah kemitraan melalui pola franchise, telah diusahakan berbagai upaya seperti pelatihan, klinik konsultasi bisnis, pembinaan, perlindungan dalam rangka menumbuhkembangkan usaha franchise ini.

Berdasarkan keseluruhan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kemitraan merupakan cara yang efektif untuk menumbuhkembangkan usaha

87

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, Pasal 12. 88

kecil dan menengah di Indonesia. Kemitraan usaha dapat dicapai dengan pola- pola tertentu salah satunya adalah kemitraan usaha dengan pola franchise.

Kemitraan usaha dengan pola franchise tentu dapat meningkatkan keberadaan usaha kecil dan menengah di Indonesia, hal ini didasarkan pada: 1) Pola ini akan memberikan peluang bagi pengusaha kecil dan menengah untuk

mendapatkan sumber dana yang memadai karena dengan mereka bermitra dengan pengusaha besar maka akan otomatis kepercayaan dari para pemberi sumber dana bahwa dana yang dipinjam akan dapat dikembalikan;

2) Kemampuan usaha kecil dan menengah meningkat diakibatkan dukungan dari kemitraan dengan usaha besar sehingga posisi tawar mereka meningkat dalam persaingan bisnis;

3) Kemitraan dengan pola franchise memungkinkan pengusaha kecil dan menengah mendapatkan informasi yang benar dan terkini sehingga dapat mengantisipasi permintaan pasar dengan cepat dan terarah;

4) Pola ini memungkinkan pula pengusaha kecil dan menengah memperoleh pengetahuan sesuai dengan teknologi yang canggih sehingga mereka dapat bersaing; dan

5) Membuka kemungkinan bagi pengusaha kecil dan menengah untuk dapat mengelola bisnisnya secara lebih baik karena didukung oleh standar operasi, standar pelayanan, sistem manajemen perusahaan yang biasanya didukung oleh pelatihan yang diberikan oleh perusahaan besar mitranya.

Upaya-upaya nyata yang telah dilakukan diharapkan dapat mengangkat franchisee yang sering kali berada dalam posisi yang lebih lemah, melalui pengaturan dari UU No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil sehingga dapat terlindungi keberadaannya.

Dokumen terkait