• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : PERLINDUNGAN TERHADAP KREDITUR

A. Perlindungan Hukum Grosse Akta Kepada Kreditur

Pada dasarnya grosse suatu akta merupakan suatu salinan dari akta notaris yang mempunyai title eksekutorial, yakni kekuatan yang sama dengan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Perbedaannya ialah terletak pada adanya irah-irah ”Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” pada kepala suatu grosse akta.

112

Asido Sihombing : Analisis Yuridis Terhadap Grosse Akta Notaris Sebagai Pengikatan Jaminan Dikaitkan Dengan Kredit Macet (Studi Di Kota Medan), 2009.

USU Repository © 2009

Agar grosse akta mempunyai kekuatan eksekutorial, maka harus mempunyai syarat formal dan syarat materil.

Menurut pendapat Edhi Siswoko sebagaimana dikutipVictor M. Situmorang, yang menjadi syarat formal terhadap suatu grosse akta adalah:

1. Grosse akta itu harus berkepala “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

2. Dibawah grosse akta itu harus dicantumkan kata-kata ‘Diberikan Sebagai Grosse Akta Pertama”

3. Dicantumkan pula nama orang yang mana atas permintaannya grosse akta ini diberikan.

4. Dicantumkan pula tanggal pemberian grosse akta tersebut.113

Adapun syarat materilnya adalah hanya grosse akta notaris yang berisi pengakuan hutang, hipotik (hak tanggungan) yang mempunyai kekuatan eksekutorial.

Berdasarkan putusan Mahkamah Agung No. 1520 Pdt/1984 tanggal 31 Mei 1986, maka untuk dapat melaksanakan eksekusi grosse akta sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 224 HIR/258 RBG, haruslah dipenuhi syarat yakni :

Syarat formil yaitu : bahwa pada grosse akta tersebut dicantumkan kalimat “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”

Syarat meteril yaitu: bahwa jumlah hutang yang harus dibayar oleh debitur telah menjadi pasti.114

Demikian juga M. Yahya Harahap mengatakan bahwa syarat syahnya grosse akta ditinjau dari dua segi yaitu : 115

113

Victor M. Situmorang dan Cormentyna Sitanggang, Op.cit., hal. 43. 114

Djazuli Bachar, Eksekusi Grosse Akta Sebagai Cara Mencapai Peradilan Sederhana,

Cepat dan Biaya Ringan, (Varia Peradilan, Ikahi, 1993), hal 122.

Asido Sihombing : Analisis Yuridis Terhadap Grosse Akta Notaris Sebagai Pengikatan Jaminan Dikaitkan Dengan Kredit Macet (Studi Di Kota Medan), 2009.

USU Repository © 2009

a. Segi formil

Syarat formil grosse akta adalah syarat yang berkenan dengan tata cara pembuatan dan bentuk grosse akta yang memerlukan formalitas tertentu yang dilihat dari rujukan ketentuan peraturan dan undang-undang, dan dari rujukan doktrin ilmu hukum yang menggolongkan grosse akta sebagai bentuk perjanjian yang memiliki karakter assesor/tambahan, serta adanya dokumen yang melengkapi grosse akta.

b. Segi Materil

Syarat materil dari grosse akta adalah ketentuan mengenai rumusan isi yang harus tercantum dalam grosse akta yaitu rumusan grosse akta tidak mengandung syarat- syarat perjanjian hutang dan menyebut secara khusus dan terinci benda objek yang dibebani serta menyebut secara pasti jumlah hutang debitur.

Berdasarkan uraian diatas, maka secara doktrinal, grosse akta pengakuan hutang telah memberikan perlindungan hukum yang cukup apabila grosse akta pengakuan hutang tersebut telah memenuhi syarat formal dan syarat materil dari suatu grosse akta. Apabila tidak dipenuhinya apa yang menjadi syarat formil dan materil dari grosse akta, maka grosse akta itu akan kehilangan kekuatan eksekutorial, sehingga kekuatan akta itu hanya dapat dilakukan dengan gugatan perdata biasa. Hal ini dapat dilihat dalam pandangan H. Abdul Wahab Sudiono, yaitu :

Bahwa menurut Pasal 224 HIR/ 258 RBG, judul grosse itu sebagai syarat untuk dilaksanakan, jika tidak ada maka dengan sendiriannya tetap akta otentik, sehingga pelaksanaannya dapat dilakukan melalui gugatan perdata biasa dengan disertai tuntutan agar putusannya dapat dengan serta merta dilaksanakan sedangkan mengenai tidak dicantumkannya di bawah grosse akta, kata-kata sebutan nama orang yang atas permintaanya grosse itu diberikan serta tanggal pemberiannya, karena dalam ketentuan Pasal 224 HIR/ 258 RBG tidak diatur maka tidak menyebabkan grosse itu tidak sah karena sekalipun tidak ditentukan dalam ketentuan Pasal 224 HIR/258 RBG tersebut bahwa grosse akta itu harus telebih dahulu dilengkapi atau disempurnakan sesuai dengan Pasal 55 ayat 4 Undang-undang Jabatan Notaris, untuk menjaga atau mencegah kemungkinan diberikannya lebih

115

M. Yahya Harahap, Kedudukan Grosse Akta Dalam Perkembangnan Hukum di

Asido Sihombing : Analisis Yuridis Terhadap Grosse Akta Notaris Sebagai Pengikatan Jaminan Dikaitkan Dengan Kredit Macet (Studi Di Kota Medan), 2009.

USU Repository © 2009

dari satu grosse, karena menurut Pasal 55 ayat 4 jo Pasal 856 KUH Perdata, pemberian grosse UUJN kedua hanya dapat terjadi terlebih dahulu ada ketetapan hakim.116

Sebagai tambahan, Menurut ketentuan formal yang ada117 demikian juga

secara praktis menurut putusan pengadilan, yang harus menanda-tangani surat hutang yang kemudian dijadikan atau diberi label sebagai grosse akta itu adalah debitur beserta pasangan kawinnya.118

116

H. Abdul Wahab Sudiono, Grosse Akta Pengakuan Hutang Dalam Teori dan Praktek , (Varia Peradilan, Juli 1993), hal. 133.

117

Pasal 119 KUHPerdata jo. Pasal 36 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

118

Lihat Keputusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam tanggal 16 Mei 1994 No. 07/Pdt. G/1994/LP jo. Keputusan Pengadilan Tinggi Sumatera Utara di Medan tanggal 13 Juli 1995 No. 522/Pdt/1994/PT.Mdn jo. Keputusan Mahkamah Agung R.I. tanggal 23 Pebruari 1998 No. 1851 K/Pdt/1996.

Sesuai ketentuan Pasal 221 KUHPerdata yang mewajibkan para praktisi untuk mewaspadai keputusan perceraian yang diterbitkan oleh Pengadilan Negeri yang sudah mempunyai kekuatan pasti akan tetapi tidak diikuti dengan pendaftaran di Kantor Catatan Sipil yang berwenang untuk menerbitkan akta perceraian sebagaimana yang dikehendaki oleh Undang-Undang. Dalam rangka penjaminan terhadap kekayaan bersama dalam perkawinan yang terdaftar atas nama salah seorang dari pasangan kawin itu sedangkan mereka telah menerima keputusan Pengadilan yang sudah berkekuatan hukum yang menyatakan perkawinan mereka bubar karena perceraian, akan tetapi tidak atau belum didaftarkan di kantor Catatan Sipil yang berwenang, maka pengikatan atas harta bersama yang

Asido Sihombing : Analisis Yuridis Terhadap Grosse Akta Notaris Sebagai Pengikatan Jaminan Dikaitkan Dengan Kredit Macet (Studi Di Kota Medan), 2009.

USU Repository © 2009

statusnya seperti ini tetap memerlukan persetujuan tertulis dari pasangan kawin yang bersangkutan.119

Kegiatan perkreditan merupakan proses pembentukan asset Bank. Kredit merupakan risk aset bank karena asset bank dikuasai oleh pihak luar Bank yaitu para Debitur.

Dokumen terkait