DAN JAMINAN PENGADAAN BARANG/JASA
H. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Penyusunan Perjanjian Kerjasama, Surat Perintah Kerja Dan Surat Pesanan
1. Penyedia barang/jasa dapat menerima uang muka dari penanggung jawab pengadaan, yang besarannya ditetapkan dalam perikatan (Perjanjian Kerjasama /Surat Perintah Kerja) dengan terlebih dahulu menyerahkan Surat Jaminan Uang Muka.
2. Penyedia barang/jasa dilarang mengalihkan tanggung-jawab sebagian atau seluruh pekerjaan utama dengan cara mensubkontrakkan kepada pihak lain dengan cara dan alasan apapun, kecuali disubkontrakkan kepada penyedia barang/jasa spesialis. Terhadap pelanggaran atas larangan tersebut di atas, dikenakan sanksi berupa denda yang besarannya sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam perikatan.
3. Pembayaran uang muka kepada penyedia barang/jasa dilaksanakan sesuai besaran yang ditetapkan dalam perikatan maksimum sebesar 30%
(tiga puluh perseratus). Dalam hal penyedia barang/jasa tidak mengambil uang muka yang telah ditetapkan dalam perikatan, maka pembayaran tidak diperhitungkan pengambilan uang muka.
4. Pembayaran dilakukan atas dasar prestasi pengadaan barang/jasa yang penilaiannya dilakukan dengan sistem termin, dengan memperhitungkan angsuran uang muka dan kewajiban pajak.
5. Pembayaran dilakukan dalam mata uang rupiah atau mata uang lain, sesuai dengan nilai atau harga yang dicantumkan dalam Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan.
6. Perubahan Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/ Surat Pesanan dilakukan apabila terjadi perubahan volume atau lingkup pengadaan barang/jasa, metode kerja, spesifikasi, waktu pelaksanaan, atau biaya atas kesepakatan para pihak. Atas perubahan Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan tersebut dituangkan dalam addendum yang ditanda tangani kedua belah pihak.
7. Penghentian Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/ Surat Pesanan atau perikatan, dilakukan jika terjadi hal-hal diluar kekuasaan kedua belah pihak untuk melaksanakan kewajiban yang ditentukan dalam
PT Jasa Raharja (Persero) |Standar Prosedur Operasi Pengadaan Barang/Jasa 91
Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan, yang disebabkan oleh timbulnya perang, pemberontakan, perang saudara, sejauh kejadian-kejadian tersebut berkaitan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kekacauan dan huru-hara serta bencana alam yang dinyatakan resmi oleh pemerintah, atau keadaan yang ditetapkan di dalam dokumen Perjanjian Kerjasama, Surat Perintah Kerja dan Surat Pesanan atau surat perintah kerja atau surat pesanan.
8. Pemutusan Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan atau perikatan dapat dilakukan bilamana para pihak cidera janji dan atau tidak memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya sebagaimana diatur di dalam dokumen Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan.
9. Pemutusan Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan atau perikatan yang disebabkan oleh kelalaian penyedia barang/jasa dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kerjasama, Surat Perintah Kerja dan Surat Pesanan atau perikatan berupa:
a. jaminan pelaksanaan menjadi milik PT Jasa Raharja (Persero);
b. sisa uang muka harus dilunasi oleh penyedia barang/jasa;
c. membayar denda kepada PT Jasa Raharja (Persero);
10. Pemutusan Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan yang disebabkan oleh kelalaian pengguna barang/jasa, dikenakan sanksi berupa kewajiban mengganti kerugian yang menimpa penyedia barang/jasa sesuai yang ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan dituangkan dalam Berita Acara.
11. Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan batal demi hukum atau dibatalkan apabila para pihak terbukti melakukan kolusi, kecurangan dan atau tindak pidana korupsi baik dalam proses pengadaan maupun pelaksanaan Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan.
12. Setelah pekerjaan selesai 100% (seratus perseratus) atau pekerjaan yang selesai sesuai dengan tahapan termin yang tertuang di dalam Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan, penyedia barang/jasa mengajukan kepada penerima barang/jasa untuk dilakukan serah terima dengan membuat berita acara serah terima atau berita acara penerimaan barang/jasa dan laporan penyelesaian pekerjaan yang di tandatangani oleh unit teknis terkait.
13. Penanggungjawab pengadaan melakukan penilaian atau penghitungan terhadap hasil pekerjaan yang telah diselesaikan, baik secara sebagian atau seluruh pekerjaan, dan menugaskan kepada penyedia barang/jasa untuk memperbaiki kerusakan, kekurangan, dan atau mengganti pekerjaan atau pengadaan yang tidak sesuai dengan dokumen Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan.
PT Jasa Raharja (Persero) |Standar Prosedur Operasi Pengadaan Barang/Jasa 92
14. Penanggungjawab pengadaan atau yang ditunjuk menerima penyerahan pengadaan barang/jasa setelah seluruh hasil yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam dokumen Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan.
15. Penyedia barang/jasa harus memelihara hasil pengadaan barang/jasa selama masa pemeliharaan, sehingga kondisinya tetap seperti pada saat penyerahan pengadaan barang/jasa dan dapat memperoleh pembayaran uang retensi.
16. Setelah masa pemeliharaan berakhir, dilakukan serah terima kedua, dengan membuat Berita Acara Penyelesaian.
17. Jika terjadi keterlambatan atas penyelesaian pengadaan barang/jasa karena kelalaian penyedia barang/jasa, maka penyedia barang/jasa yang bersangkutan dikenakan denda keterlambatan tersebut sekurang-kurangnya 1‰ (satu perseribu) per hari dari nilai Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan tertentu berkenaan dengan sifat pengadaannya dan maksimum sebesar jaminan pelaksanaan.
18. Konsultan Perencana yang tidak cermat dan mengakibatkan kerugian pengguna barang/jasa dikenakan sanksi berupa keharusan menyusun kembali perencanaan dengan beban biaya dari konsultan yang bersangkutan atau tuntutan ganti rugi sesuai ketentuan yang berlaku;
19. Jika terjadi perselisihan antara penanggungjawab pengadaan dengan penyedia barang/jasa, maka kedua belah pihak menyelesaikan perselisihan di Indonesia dengan cara musyawarah, mediasi, arbitrasi, atau melalui pengadilan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja menurut hukum yang berlaku di Indonesia.
20. Keputusan dari hasil penyelesaian perselisihan dengan memilih salah satu cara tersebut diatas, adalah mengikat dan segala biaya yang timbul untuk menyelesaikan perselisihan tersebut dipikul oleh para pihak sebagaimana diatur di dalam dokumen Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan.
I. Penyelesaian Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan
1. Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan dinyatakan telah selesai 100% (seratus perseratus) apabila seluruh pengadaan barang/jasa telah selesai dilaksanakan oleh Penyedia Barang/Jasa yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan, dan menyampaikannya secara tertulis kepada Kepala Divisi Umum/ Kepala Cabang.
2. Penerima Hasil Pekerjaan harus melakukan penilaian terhadap hasil pekerjaan yang telah diselesaikan (khususnya yang berkaitan dengan barang yang berteknologi tinggi) yang didukung dengan hasil uji teknis
PT Jasa Raharja (Persero) |Standar Prosedur Operasi Pengadaan Barang/Jasa 93
baik internal maupun eksternal dan dituangkan dalam berita acara dan bila perlu dilakukan checklist uji teknis/pemeriksaan barang.
3. Apabila terdapat kekurangan dalam hasil pekerjaan sebagaimana ditentukan dalam Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan, Penerima Hasil Pekerjaan melalui Kepala Divisi/Kepala Cabang memerintahkan Penyedia Barang/Jasa/Pekerjaan Konstruksi untuk memperbaikinya.
4. Penerima Hasil Pekerjaan menerima penyerahan Barang/Jasa/Pekerjaan setelah seluruh Barang/Jasa/Pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerjadan dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima Pekerjaan.
5. Khusus Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya, Penyedia Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya melakukan pemeliharaan atas hasil pekerjaannya selama masa yang ditetapkan dalam Perjanjian Kerjasama/Surat Perintah Kerja/Surat Pesanan, sehingga kondisinya tetap seperti pada saat penyerahan pekerjaan. Sedangkan pada Pengadaan Barang, masa garansi diberlakukan sesuai kesepakatan para pihak dalam Perjanjian Kerjasama, Surat Perintah Kerja dan Surat Pesanan.
6. Setelah masa pemeliharaan berakhir, Pejabat Pengadaan mengembalikan jaminan Pemeliharaan/uang retensi kepada Penyedia Barang/Jasa/Pekerjaan Konstruksi/ Jasa Lainnya.