F. Tinjauan tentang Permainan Edukatif
5. Permainan Edukatif dalam Pembelajaran Matematika
Pembelajaran matematika merupakan suatu proses belajar mengajar yang
dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas untuk berfikir siswa yang dapat
meningkatkan kemampuan berpikir dan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai
upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi matematika (Zubaidah dan
Risnawati, 2016: 8). Pembelajaran matematika harus dapat memberikan ruang kepada
siswa untuk dapat mencari dan menemukan pengalaman matematika. Hasil dari
penguasaan matematika ini adalah anak akan dapat menggunakan matematika sebagai
bahasa dan alat untuk memecahkan masalah matematika pada kehidupan sehari-
harinya.
Menurut Subarinah (2006, 2) anak sekolah dasar pada umumya untuk kelas
rendah masih berada dalam usia 7-11 tahun yang menurut teori Piaget masih berada
dalam tahap operasional konkret. Dalam hal ini maka dalam pembelajaran matematika
32
mengonkritkan pembelajaran matematika tersebut dengan menggunakan permainan
edukatif.
Menurut Dienes dalam Pitadjeng (2006: 32) permainan matematika sangat
penting sebab operasi matematika dalam permainan tersebut menunjukkan aturan
secara konkret dan lebih membimbing dan menajamkan pengertian matematika pada
anak didik. Dengan hal ini anak akan lebih mudah dalam menangkap pembelajaran
matematika yang coba disajikan guru.
Menurut Ismail (2006: 15) pada dasarnya bermain memiliki dua pengertian yang
harus dibedakan. Bermain menurut pengertian pertama dapat bermakna sebagai suatu
aktivitas bermain murni mencapai kesenangan tanpa mencari “menang-kalah” (play). Sedangkan bermain yang kedua sebagai aktivitas bermain yang dilakukan dalam
rangka mencari kesenangan dan kepuasan, namun ditandai dengan adanya pencarian
“menang-kalah” (games). Dengan demikian maka memang pada dasarnya semua aktivitas bermain selalu didasarkan pada perolehan kesenangan dan kepuasan.
Semiawan (2008: 20) mengungkapkan bahwa bagi anak, bermain adalah suatu
kegiatan yang serius, tetapi mengasyikkan. Melalui aktivitas bermain, berbagai
pekerjaannya terwujud. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak, karena
menyenangkan bukan karena akan memperoleh hadian atas pujian. Bermain adalah
salah satu alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya. Dengan aktivitas
bermain ini, anak akan dapat menemukan kesenangan yang diinginkannya dan melatih
kemampuannya pula. Dengan merancang pembelajaran dengan bermain, maka dapat
33
Dalam pembelajaran matematika, topik bilangan cacah dipelajari anak SD di
semua kelas dari kelas I sampai VI. Bilangan cacah merupakan pengertian abstrak,
sedangkan anak usia SD masih berada dalam tahap operasional konkret, dimana dalam
hal tersebut membutuhkan bantuan dari benda-benda nyata agar siswa dapat berpikir
secara abstrak. Agar dapat mengerti mengenai bilangan cacah, untuk mempelajari
konsep bilangan cacah dan operasinya membutuhkan manipulasi benda-benda konkret.
Benda konkret tadi dapat dikemas guru dalam bentuk alat peraga maupun suatu alat
permainan. Dari penggunaan alat atau permainan tadi, anak diajak oleh guru untuk
bermain dengan memanipulasinya agar belajar lebih menyenangkan, asik, dan tentunya
dapat mempelajari apa itu bilangan cacah. Dengan menggunakan metode permainan,
anak akan lebih mudah dalam melakukan pembagian bilangan cacah, sehingga
kemampuannya dalam melakukan pembagian akan lebih baik.
Dalam penelitian ini, metode permainan edukatif yang digunakan termasuk
dalam permainan yang disertai aturan (games) yang sesuai dengan salah satu tahap
belajar menurut teori belajar Dienes dalam Ruseffendi (1990: 125). Dalam permainan
yang disertai aturan, siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang
terdapat dalam konsep tertentu. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep
tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. Siswa yang sudah memahami
aturan-aturan tadi. Melalui permainan, siswa diajak untuk mulai mengenal dan
memikirkan bagaimana struktur matematika itu.
Adapun langkah-langkah permainan edukatif yang dapat dilakukan dalam
34
a. Permainan “Permen Pembagian”
Menurut Aisyah (2008: 2-30) permainan ini bertujuan untuk menjelaskan
makna pembagian. Langkah-langkah permainannya adalah sebagai berikut:
1) Guru memberi contoh soal, misalnya 10 : 5
2) Perlihatkan 10 permen di tangan.
3) Guru meminta bantuan siswa sebanyak 5 anak.
4) Bagikan secara merata setiap siswa dengan 1 permen.
5) Jika masih ada sisa permen, bagikan lagi sisa permen yang berada di tangan guru
secara merata kepada 5 siswa tadi sampai permen habis.
6) Tanyakan berapa permen yang dimiliki tiap anak.
7) Terangkan bahwa hasilnya merupakan pembagian 10 dengan 5, yaitu 2.
8) Tanamkan kepada anak bahwa 10 : 5 = 10 – 5 – 5.
Ulangi permainan “permen pembagian” ini dengan jumlah permen yang berbeda jumlahnya sehingga anak paham betul mengenai makna pembagian. Permen juga dapat
diganti mengunakan benda lain yang ada di sekitar anak. Misalnya kapur, pensil, buku,
kelereng, karet.
b. Permainan Pembagian sebagai Pengelompokan
Dalam melakukan pembagian, maka dapat dilakukan dengan membaginya
secara berkelompok dimana masing-masing kelompokakan sama banyaknya. Bilangan
yang dibagian menunjukkan bagaimana suatu bilangan dibagi menjadi kelompok yang
35
memunjukkan berapa benda yang ada dalam setiap kelompok. Langkah-langkah
permainannya adalah sebagai berikut:
1) Siapkan dua belas kelereng di dalam plastik. Kelereng tersebut akan
dikelompokkan ke dalam gelas plastik. Masing-masing gelas plastik akan berisi 2
kelereng. Caranya dengan menyelesaikan pembagian 12 : 2. Jumlah kelereng (12)
adalah bilangan yang dibagi, sementara jumlah kelereng dalam tiap gelas plastik
(2) adalah pembaginya. Masukkan dua kelereng ke dalam setiap gelas plastik
sampai habis. Berapa banyak jumlah gelas plastik yang berisi dua kelereng? Jika
memasukkan dua kelereng tiap gelas plastik, maka di jumlah gelas plastik yang
dibutuhkan ada enam. Dua belas dibagi dua sama dengan enam.
2) Kembalikan lagi kedua belas kelereng tadi ke dalam plastik. Kelereng tersebut
akan dikelompokkan ke dalam gelas plastik. Masing-masing gelas plastik akan
berisi 3 kelereng. Hal ini akan menyelesaikan soal 12 : 3. Pada soal ini 12
merupakan bilangan yang dibagi, dan 3 merupakan pembaginya. Masukkan tiga
kelereng ke dalam setiap gelas plastik sampai habis. Berapa banyak jumlah gelas
plastik yang berisi tiga kelereng? Dengan demikian jumlah gelas plastik yang
dibutuhkan ada empat. Dua belas dibagi tiga sama dengan empat.
3) Kembalikan lagi kedua belas kelereng tadi ke plastik semula. Kelereng akan
dikelompokkan kembali dalam gelas plastik yang masing-masing berisi empat
kelereng. Hal ini akan menyelesaikan soal 12 : 4. Masukkan empat kelereng ke
36
berisi empat kelereng? Dengan demikian jumlah gelas plastik yang dibutuhkan ada
tiga. Dua belas dibagi empat sama dengan tiga.
4) Kembalikan lagi kedua belas kelereng tadi ke plastik semula. Kelereng akan
dikelompokkan kembali dalam gelas plastik yang masing-masing berisi enam
kelereng. Masukkan enam kelereng ke dalam gelas plastik sampai habis. Maka
jumlah gelas plastik yang dibutuhkan ada dua kelereng. Dua belas dibagi enam
sama dengan dua.
5) Akhirnya, sekarang dua belas kelereng tadi akan dikelompokkan ke dalam gelas
plastik yang berisi dua belas kelereng tiap gelasnya. Maka jumlah gelas plastik
yang dibutuhkan ada satu. Dua belas dibagi dua belas sama dengan satu.
6) Tuliskan lima pembagian berbeda yang baru saja diperoleh adalah
12 : 2 = 6 ;
12 : 3 = 4 ;
12 : 4 = 3 ;
12 : 6 = 2 ;
12 : 12 = 1
c. Permainan dua persegi bilangan (Domi Numbers)
Menurut Pitadjeng (2006: 101) penggunaan permainan dua persegi bilangan
(Domi Numbers) digunakan untuk melatih keterampilan berhitung anak. Cara
penggunaannya sebagai berikut:
1) Bagi siswa menjadi beberapa kelompok yang anggota maksimal 4 siswa. Setiap
37
2) Beri petunjuk cara bermain, dan beri waktu anak untuk bermain sekiranya 30 menit.
Anak yang belum terampil pembagian, dianjurkan untuk menulis dalam buku
catatan, kalimat pembagian beserta hasil yang dijumpai selama bermain.
3) Cara bermainnya sebagai berikut: setiap pemain diberi 4 kartu sebagai modal awal.
Sisa kartu ditumpuk dalam keadaan tertutup. Untuk memulai permainan, diambil
sebuah kartu dari tumpukan kartu, dan dibuka. Secara bergiliran, pemain
memasangkan pembagian yang sesuai dengan kartu yang dibawa dengan kartu yang
dibuka. Pemain pertama yang bermain dan arah bermain ditentukan dengan undian
atau kesepakatan pemain. Jika secara kebetulan kartu pemain tidak ada yang cocok,
maka dia harus mengambil satu kartu dari tumpukan kartu yang masih ada. Jika
kartu yang diambil juga tidak ada yang cocok, maka disimpan menjadi miliknya,
dan dilanjutkan pemain berikutnya. Demikian seterusnya sampai seluruh kartu habis
dipasangkan. Pemain yang menang adalah yang habis kartunya terlebih dahulu atau
paling sedikit sisanya, sedangkan pemain yang paling akhir membuang kartu atau
paling banyak sisanya adalah yang kalah.