Hasil belajar menurut Susanto (2015: 5) yaitu perubahan-perubahan yang terjadi
pada siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotori sebagai
hasil dalam kegiatan belajar. Secara sederhananya, yang dimaksud dengan hasil belajar
merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui proses pembelajaran.
Winkel (1999) dalam Purwanto (2010, 38-39) mengungkapkan bahwa belajar
merupakan proses dalam diri individu berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapat
perubahan dalam perilakunya. Belajar adalah aktivitas mental/psikis yang berlangsung
melalui interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan
dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Pengertian hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari apa yang dapat terjadi di
dalam pembelajaran, baik itu yang terjadi di luar kelas maupun yang terjadi di dalam
22
dibangkitkan dan digunakan kembali oleh siswa. Pengalaman yang didapat siswa
tersebut bergantung dari kualitas interaksinya dengan guru maupun siswa lain,
karakteristik siswa, maupun kapan waktunya.
Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa yang
mengikuti proses belajar mengajar (Purwanto 2010: 46). Meskipun pembelajaran dapat
dilakukan dimanapun baik di luar maupun di dalam kelas, namun ada hal yang
membedakannya, yaitu pembelajaran di dalam kelas dilakukan secara sistematis.
Pembelajaran di dalam lingkungan kelas bertujuan untuk mengubah perilaku individu
pada saat proses belajar.
Proses belajar merupakan suatu proses yang unik. Unik disini dikarenakan hasil
belajar hanya didapat oleh orang yang belajar saja, dan tiap individu akan menampilkan
hasil yang berbeda. Hal ini sejalan dengan pendapat Sudjana (2005: 22) yang
menjelaskan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Howard Kingslay telah membagi tiga
macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan
pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Hasil belajar yang dimaksud merupakan
kemampuan masing-masing individu siswa untuk dapat menerima, memahami dan
mengolah materi dari pengalaman belajar mereka.
Masing-masing jenis hasil belajar berisi bahan yang telah diterapkan dalam
kurikulum. Gagne membagi lima kategori hasil belajar, yakni (a) informasi verbal, (b)
keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e) keterampilan motoris
23
baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil
belajar yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotoris.
1. Ranah Kognitif
a. Mengingat, yaitu mengambil pengetahuan dari memori jangka panjang terdiri dari
kemampuan mengidentifikasi dan mengambil ingatan dari memori jangka
panjang.
b. Memahami, yaitu mengkonstruksi makna dari materi pembelajaran, termasuk apa
yang diucapkan, ditulis, dan digambar oleh guru terdiri dari kemampuan
menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan,
membandingkan, dan menjelaskan.
c. Mengaplikasikan, yaitu menerapkan atau menggunakan suatu prosedur dalam
keadaan tertentu yang terdiri dari kemampuan mengeksekusi dan
mengimplementasikan.
d. Menganalisis, yaitu memecah materi menjadi bagian-bagian penyusunnya dan
menentukan hubungan-hubungan antar bagian itu dan keseluruhan struktur atau
tujuan terdiri dari kemampuan membedakan, mengorganisasikan, dan
mendekonstruksikan.
e. Mengevaluasi, yaitu mengambil keputusan berdasarkan kriteria dan/atau standar
yang terdiri dari kemampuan memeriksa dan mengkritik.
f. Mencipta, yaitu memadukan bagian-bagian untuk membentuk sesuatu yang baru
24
kemampuan merumuskan, merencanakan, dan memproduksi. (Anderson, 2015:
100).
2. Ranah Afektif
Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil belajar afektif tampak
pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti, perhatiannya terhadap pelajaran,
disiplin, motovasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan
hubungan sosial. Ada beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar.
a. Reciving/attending, yakni semacam kepekaan dalam memerima rangsangan
(stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi,
gejala, dll. Dalam tipe ini, termasuk kesadaran, keinginan untuk memerima
stimulus, kontrol, dan seleksi gejala atas rangsangan dari luar.
b. Responding atau jawaban, yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap
stimulasi yang datang dari luar. Hal ini mencakup ketapatan reaksi, perasaan,
kepuasaan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang kepada dirinya.
c. Valuing (penilaian), berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau
stimulus tadi. Dalam evaluasi ini, termasuk didalamnya kesediaan menerima nilai,
latar belakang, atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap
nilai tersebut.
d. Organisasi, yakni pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi,
25
yang dimilikinya. Yang termasuk ke dalam organisasi ialah konsep tentang nilai,
organisasi sistem nilai, dll.
e. Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan semua sistem nilai
yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah
lakunya. Kedalamnya termasuk keseluruhann nilai dan karakteristiknya.
3. Ranah Psikomotoris
Hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan
kemapuan bertindak individu. Ada 6 tingkatan keterampilan, yakni:
a. Gerakan reflek (keterampilan dalam gerakan yang tidak sadar);
b. Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar;
c. Kemapuan perseptual, termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan
auditif, motoris, dan lain-lain;
d. Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan;
e. Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada
keterampilan yang komplek;
f. Kemempuan yang berkenaan dengan komunikasi non-decuresive seperti gerakan
ekspresif dan interpretatif. (Sudjana, 2005: 29-31).
Hasil belajar juga merupakan hasil proses belajar (Dimyati dan Mudjiono 2002:
250). Hasil belajar ini dapat dipandang dari dua sisi, baik dari sisi siswa maupun dari
26
dari sebelum dan sesudah individu siswa belajar. Sementara dari guru, hasil belajar ini
merupakan terselesaikannya bahan pelajaran. Sedangkan menurut Hamalik (2011: 30)
mengemukakan bahwa hasil belajar adalah apabila seseorang telah belajar akan terjadi
perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari
tidak mengerti menjadi mengerti.
Berdasarkan beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
merupakan suatu kemampuan individu dalam menyerap pengalaman belajarnya, baik
di dalam maupun di luar kelas. Hasil belajar ini berbeda-beda dari masing-masing
individu pelaku belajar sesuai dengan tingkat perkembangan mentalnya. Hasil belajar
ini dapat diukur ke dalam berbagai ranah baik kognitif, afektif, maupun psikomotoris.
Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan hasil belajar kognitif
berupa nilai dan hasil belajar afektif berupa beberapa sikap seperti keaktifan,
kreativitas, sesenangan dan kemempuan berpikir, yang didapat siswa dalam mata
pelajaran matematika setelah siswa mengikuti kegiatan belajar dengan mengunakan
metode permainan edukatif.