BAB III REALISASI PROGRAM DAN KEGIATAN BNN TAHUN
D. PERMASALAHAN DAN SOLUSI PEMECAHAN
1. Permasalahan
a. Sekretariat Utama.
Sebagai Satker pengemban fungsi pembinaan bidang dukungan administrasi kepada seluruh Satker di lingkungan BNN, Sekretariat Utama melaksanakan program dan kegiatan dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, namun demikian masih dihadapkan pada berbagai permasalahan dan kendala yang langsung maupun tidak langsung sangat berpengaruh pada upaya pelayanan menjadi kurang optimal sebagaimana uraian berikut:
1) Biro Perencanaan.
a) Pada umumnya para pelaksana perencana di Satker belum pernah mendapat pelatihan fungsi perencana (perencana ototidak).
b) Kurang matangnya perencanaan terkait dengan penetapan target kegiatan dan jangka waktu pelaksanaan kegiatan yang berakibat revisi rencana kegiatan dan anggaran.
c) Koordinasi antar Satker belum bisa berjalan optimal oleh karena keterbatasan sumber daya manusia.
d) Sarana dan prasarana kerja yang kurang representatif.
2) Biro Kepegawaian dan Organisasi.
a) Masih kurangnya Peraturan Kepala BNN yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam penyusunan dokumen.
b) Kurangnya koordinasi dan kerja sama yang dibangun oleh BNNP dan BNNK dengan pemerintah daerah setempat sehingga proses pelaksanaan upaya P4GN belum optimal.
c) Kurangnya sosialisasi dan pendekatan jajaran BNNP dan BNN Kab./Kota kepada pimpinan daerah setempat sehingga proses vertikalisasi belum optimal dilaksanakan.
d) Jumlah kebutuhan pegawai BNN yang terpenuhi baru 24% sehingga masih sangat kurang, sedangkan pemerintah mengeluarkan kebijakan moratorium pengadaan CPNS.
e) Pegawai BNN terdiri dari PNS organik, PNS dipekerjakan dan Polri yang diperbantukan sehingga muncul beberapa perbedaan data.
f) Pengetahuan akan persyaratan administrasi untuk mutasi jabatan di BNNP dan BNN Kab./Kota masih kurang dipahami.
3) Biro Keuangan.
a) Belum maksimalnya pengelolaan keuangan di lingkungan satuan kerja BNN. Hal ini terlihat dari masih berulangnya temuan inspektorat utama dan BPK. b) Terbatasnya kualitas sumber daya manusia yang
memahami dan menguasai analisa akuntansi dan laporan keuangan.
c) Frekuensi perubahan kebijakan pemerintah yang cukup banyak dan cepat terkait akuntansi dan pelaporan keuangan.
d) Aplikasi dan dukungan Teknologi Informatika masih kurang memadai.
e) Perubahan jumlah pegawai BNN tiap bulan tidak dapat diprediksi sehingga berpengaruh pada belanja pegawai (gaji pokok, tunjangan keluarga, tunjangan beras, tunjangan struktural, tunjangan umum dan tunjangan PPh. 21).
b. Inspektorat Utama.
Gambaran umum kendala pelaksanaan tugas inspektorat utama adalah sebagai berikut:
1) Keterbatasan pegawai dalam bidang pengawasan dikarenakan belum adanya ruang untuk jabatan auditor utama sebagai pengendali mutu dan auditor madya serta masih kurangnya jumlah personil pada Inspektorat Utama...auditor
2) Belum optimalnya koordinasi dan komunikasi dengan satuan kerja di lingkungan BNN karena masih ditemukan gap antara auditor dan auditi sehingga menghambat dalam pengumpulan data.
3) Keterbatasan ruang keja gedung BNN mengakibatkan terpisah-pisahnya ruang kerja dan kendaraan operasional bagi pegawai Inspektorat Utama BNN, sehingga mengalami kendala dalam koordinasi dan kecepatan penyelesaian pekerjaan.
4) Keterbatasan aplikasi e audit yang dimiliki oleh Inspektorat
Utama dan belum dimanfaatkan secara optimal aplikasi
e audit yang ada oleh para Auditor.
c. Puslitdatin BNN.
1) Masih minimnya kualitas maupun kuantitas personel di bidang penelitian, data dan informasi.
2) Keterbatasan anggaran dan personil untuk menindaklanjuti informasi yang masuk melalui Contact Center BNN mengenai adanya peredaran gelap Narkoba di masyarakat.
3) Tidak adanya pendidikan dan pelatihan bagi petugas operator untuk menggali informasi dari masyarakat, sehingga informasi mengenai adanya peredaran gelap Narkoba masih banyak yang sumir.
4) Masih rangkap jabatan operator aplikasi Sistem Informasi Narkoba (SIN) baik di lingkungan BNN, BNNP maupun BNN Kabupaten/Kota sehingga entri data tidak realtime.
d. Deputi Bidang Pencegahan.
Beberapa permasalahan pada Deputi Bidang Pencegahan BNN sebagai berikut:
1) Direktorat Advokasi.
a) Kurang matangnya perencanaan antar target dan jangka waktu pelaksanaan yang berakibat penjadualan ulang pelaksanaan kegiatan.
b) Sulitnya pelaksanaan koordinasi antar instansi dengan pelaksanaan progam.
c) Belum terbitnya regulasi pedoman penyusunan rencana aksi P4GN bagi Kementerian/Lembaga/ Instansi sebagai pengganti Inpres Nomor 12 Tahun 2011 tentang pelaksanaan Kebijakan dan Strategi Nasional di bidang P4GN.
2) Direktorat Diseminasi Informasi.
a) Program peningkatan kualitas sumber daya manusia (capacity building) belum optimal, demikian juga dari sisi kuantitas perlu penambahan pegawai, baik staf maupun pegawai administrasi.
b) Kegiatan di bidang Media Elektronik dan non Elektronik khususnya di BNN Provinsi dan Kabupaten, belum optimal hal ini dipengaruhi kurangnya jumlah SDM yang bisa bertanggung jawab dalam mengisi konten di media online maupun memberikan informasi-informasi kepada publik dalam menyelenggrakan kegiatan konvensional maupun media cetak.
c) Peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan tugas dan fungsi belum optimal.
d) Para pengelola/manajemen media (cetak dan elektronik), masih lebih memperhitungkan sisi ekonomi terkait dengan penyiaran materi P4GN, yang berakibat penyampaian informasi P4GN melalui media massa kepada masyarakat belum optimal.
e. Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat.
Gambaran permasalahan yang dihadapi Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan pemberdayaan alternatif BNN adalah:
1) Belum adanya legalisasi para binaan, sehingga proses untuk pinjaman modal atau masuk display di Smesco agak terhambat.
2) Jarak yang jauh antara tim pemberdayaan alternatif BNN Pusat ke lokasi kegiatan di Provinsi Aceh, sehingga banyak waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pemberdayaan alternatif.
3) Kondisi keamanan dan geografis dilokasi binaan yang notabene adalah pegunungan dan melewati tebing/jurang merupakan situasi yang sangat beresiko bagi tim pemberdayaan alternatif.
4) Komunikasi dengan masyarakat perdesaan yang masih banyak kurang mengerti bahasa Indonesia.
5) Belum semua instansi yang terkait di Provinsi Aceh bersinergi dalam program Alternative Development dalam rangka menciptakan kawasan rawan menjadi bersih Narkoba.
f. Deputi Bidang Rehabilitasi.
Gambaran permasalahan yang dihadapi Deputi Bidang Rehabilitasi dalam pelaksanaan kegiatan adalah:
1) Pada Direktorat Penguatan Lembaga Rehabilitasi Instansi Pemerintah sebagai berikut:
a) Belum maksimalnya dukungan pimpinan institusi/ pemangku kepentingan dalam pelaksanaan rehabilitasi di beberapa daerah.
b) Dukungan terhadap rehabilitasi di daerah tergantung pemahaman pimpinan daerah.
c) Status RS/PKM mitra rehabilitasi BLUD sehingga kesulitan dalam klaim pembiayaan.
d) Tugas rehabilitasi bukan tugas pokok petugas RS/PKM, dan tidak ada perintah langsung dari Kadinkes/Gubernur.
e) Kesulitan mendapatkan klien, Klinik/PKM/RS bersifat pasif (tidak ada penjangkauan).
f) WBP Klien rehabilitasi yang tidak selesai program juga tidak melanjutkan program rehabilitasi di BNNP/BNN Kab./Kota.
g) Pelaksanaan rehabilitasi melalui rekomendasi TAT beberapa daerah tidak dilaksanakan karena perbedaan persepsi diantara penegak hukum.
h) Belum mencukupinnya ketersediaan SDM yang terlatih di lembaga yang menjalankan rehabilitasi.
i) Kompetensi (pengetahuan dan keterampilan) SDM mengenai adiksi dan penanganan rehabilitasi belum maksimal).
j) SDM terlatih tidak melakukan layanan di RSU/RSUD/ Puskesmas.
k) Ditemukan asesmen dilakukan oleh petugas yang tidak terlatih/tersertifikasi.
l) Kurangnya konselor yang dapat membantu menjalankan program rehabilitasi dan konselor yang ada kompetensinya kurang.
m) Belum terpenuhinya kebutuhan fasilitas untuk mendukung layanan rehabilitasi.
(1) Tidak memenuhi standar layanan. (2) Tidak memenuhi standar keamanan.
n) Di beberapa Lapas tidak ada blok khusus dan kegiatan rehabilitasi dicampur dengan kegiatan lainnya.
o) Beberapa BNNP/BNN Kab./Kota terkendala dalam pembentukan klinik.
p) Di beberapa lembaga pelaksanaan rehabilitasi belum sesuai petunjuk teknis:
(1) Kriteria klien yang direhabilitasi rawat inap/jalan masih belum sesuai.
(2) Layanan program belum dilaksanakan sesuai petunjuk teknis.
q) Kualitas pelaksanaan rehabilitasi belum memenuhi standar pelayanan rehabilitasi karena petugas baru dilatih dan dikenalkan dengan program.
r) Sistem pembayaran reimburse yang cukup menyulitkan lembaga dalam menjalankan program rehabilitasi (di lembaga tidak ada anggaran untuk melaksanakan rehabilitasi di awal program).
s) Pelaporan pertanggungjawaban terlambat sehingga klaim terlambat dibayar.
3) Permasalahan Direktorat Penguatan Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat sebagai berikut:
a) Belum maksimalnya dukungan pimpinan institusi/ pemangku kepentingan dalam pelaksanaan rehabilitasi di beberapa daerah.
b) Dukungan terhadap rehabilitasi di daerah tergantung pemahaman pimpinan daerah.
c) Belum mencukupinnya ketersediaan SDM yang terlatih di lembaga yang menjalankan rehabilitasi.
d) Kompetensi (pengetahuan dan keterampilan) SDM mengenai adiksi dan penanganan rehabilitasi belum maksimal).
e) Ditemukan asesmen dilakukan oleh petugas yang tidak terlatih/tersertifikasi.
f) Kurangnya konselor yang dapat membantu menjalankan program rehabilitasi dan konselor yang ada kompetensinya kurang.
g) Belum terpenuhinya kebutuhan fasilitas untuk mendukung layanan rehabilitasi:
(1) Tidak memenuhi standar layanan. (2) Tidak memenuhi standar keamanan.
h) Kualitas pelaksanaan rehabilitasi belum memenuhi standar pelayanan rehabilitasi karena petugas baru dilatih dan dikenalkan dengan program.
i) Sistem pembayaran reimburse yang cukup menyulitkan lembaga dalam menjalankan program rehabilitasi (di lembaga tidak ada anggaran untuk melaksanakan rehabilitasi di awal program).
j) Pelaporan pertanggungjawaban terlambat sehingga klaim dibayar terlambat.
k) Beberapa lembaga yang sudah memenuhi standar layanan sudah menjadi IPWL.
l) Munculnya lembaga rehabilitasi baru yang di rekomendasikan oleh BNNP/BNN Kab./Kota yang belum memenuhi standar layanan.
4) Permasalahan pelaksanaan kegiatan Direktorat Pascarehabilitasi adalah sebagai berikut:
a) Belum maksimalnya dukungan pimpinan institusi/ pemangku kepentingan dalam pelaksanaan rehabilitasi di beberapa daerah dimana dukungan terhadap rehabilitasi di daerah tergantung pemahaman pimpinan daerah.
b) Kesulitan mendapatkan klien untuk mengikuti program pascarehabilitasi.
c) Belum mencukupinya ketersediaan SDM yang terlatih di lembaga yang menjalankan pascarehabilitasi dan kompetensi (pengetahuan dan keterampilan) SDM mengenai adiksi dan penanganan pascarehabilitasi belum maksimal.
d) Belum terpenuhinya kebutuhan fasilitas untuk mendukung layanan pascarehabilitasi:
(1) Tidak memenuhi standar layanan.
(2) Tidak memenuhi standar keamanan.
e) Di beberapa lembaga pelaksanaan pascarehabilitasi belum sesuai petunjuk teknis.
f) Kriteria klien yang dipascarehabilitasi rawat inap/jalan masih belum sesuai.
g) Layanan program belum dilaksanakan sesuai juknis.
h) Kualitas pelaksanaan pascarehabilitasi belum memenuhi standar pelayanan rehabilitasi karena petugas baru dilatih dan dikenalkan dengan program.
i) Pencatatan dan pelaporan layanan tidak seragam.
g. Bidang Pemberantasan.
Permasalahan pelaksanaan tugas pada Satker di lingkungan Deputi Bidang Pemberantasan sebagai berikut:
1) Direktorat Intelijen.
a) Terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) pada Direktorat Intelijen.
b) Terbatasnya anggaran, sehingga pelaksanaan pengungkapan jaringan hasilnya belum maksimal, karena dalam pengungkapan jaringan sindikat narkotika perlu mobilitas yang tinggi dan perlu adanya dukungan operasional yang memadai.
c) Dengan perubahan Pola dan Modus jaringan sindikat Narkotika di Indonesia, maka Bidang Pemberantasan BNNP/BNNKab./Kota perlu mobilitas yang tinggi dan berupaya menggunakan peralatan Teknologi Intelijen dalam rangka pengungkapan jaringan yang ada di daerah serta ingin adanya peningkatan pengungkapan yang lebih besar, sedangkan peralatan Teknologi yang ada masih terbatas, sehingga akan menghambat pelaksanaan kerja dan saat ini dirasakan hasil masih kurang maksimal.
2) Direktorat Psikotropika dan Prekursor.
Belum tersedianya peralatan untuk mendeteksi bahan- bahan kimia prekursor atau bahan kimia lain, serta peralatan keselamatan (safety) untuk para petugas lapangan/penyidik yang berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP).
3) Direktorat Penindakan dan Pengejaran.
a) Terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) pada Direktorat Penindakan dan Pengejaran.
b) Terbatasnya Sarana dan Prasana di Direktorat Penindakan dan Pengejaran.
c) Terbatasnya anggaran, sehingga pelaksanaan pengungkapan jaringan hasilnya belum maksimal, karena dalam pengungkapan jaringan sindikat narkotika perlu mobilitas yang tinggi dan perlu adanya dukungan operasional yang memadai.
d) Masih adanya tumpang tindih dalam Tupoksi.
h. Deputi Bidang Hukum dan Kerja Sama.
Permasalahan pelaksanaan tugas pada Satker di lingkungan Deputi Bidang Hukum dan Kerja Sama adalah sebagai berikut:
1) Direktorat Hukum.
a) Pelaksanaan Kegiatan.
(1) Produk hukum yang dihasilkan oleh satuan kerja lain di luar Direktorat Hukum masih belum melalui pembahasan yang melibatkan Direktorat Hukum sehingga dalam proses pengundangan masih terdapat kesalahan dan harus dikembalikan.
(2) Pelibatan Direktorat Hukum masih terbatas pada permintaan paraf sehingga informasi yang berkaitan dengan pembentukan peraturan perundang-undangan belum tersampaikan.
(3) Kasus hukum pada Bantuan Hukum yang bersifat Litigasi belum sepenuhnya disampaikan oleh instansi vertikal.
(4) Hambatan implementasi peraturan perundang-undangan dan potensi kasus belum disampaikan sepenuhnya oleh instansi vertikal.
(5) Kurangnya kegiatan yang mempunyai kemampuan teknis di bidang hukum baik pembentukan peraturan perundang-undangan dan litigasi.
(6) Kurangnya kegiatan dukungan yang bertugas mengadministrasikan dan mengolah data.
b) Pelaksanaan Realisasi Anggaran.
(1) Adanya penurunan tingkat perwakilan peserta atau narasumber dari pejabat yang dituju kepada bawahan pejabat sehingga anggaran tidak terserap sempurna.
(2) Durasi waktu perjalanan dinas yang dikurangi sehingga anggaran tidak terserap pada durasi waktu yang dikurangi.
(3) Penggantian biaya transportasi peserta yang lebih kecil dari Pagu Anggaran pada kegiatan berskala nasional atau kegiatan yang mengundang peserta luar daerah.
(4) Anggaran honor Panitia Anggaran antar Kementerian penyusunan Revisi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika tidak terserap sempurna karena Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sudah menganggarkan.
2) Direktorat Kerja Sama.
Seluruh kegiatan pada Direktorat Kerja Sama selama tahun 2016 telah berhasil dilaksanakan, namun demikian terdapat beberapa permasalahan dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut, yaitu sebagai berikut:
a) Perbedaan struktur organisasi antara BNN dengan instansi negara lain dimana BNN menangani penegakan hukum, rehabilitasi, pencegahan, dan pemberdayaan masyarakat, sedangkan pada instansi lain hanya mencakup bidang yang spesifik.
b) Kebijakan dari negara lain tidak sama dengan kebijakan yang ada di Indonesia;
c) Perubahan kurs dollar ketika penyusunan rencana kerja dengan saat implementasi kegiatan yang berpengaruh pada alokasi anggaran kegiatan.
d) Penentuan jadwal pelaksanaan penandatanganan Nota Kesepahaman antara BNN dengan instansi pemerintah terkait dikarenakan kesibukan para pimpinan dalam melaksanakan tugas sehari-hari. e) Tingginya ego sektoral masing-masing instansi
2. Solusi Mengatasi Hambatan.