BAB III REALISASI PROGRAM DAN KEGIATAN BNN TAHUN
D. PERMASALAHAN DAN SOLUSI PEMECAHAN
2. Solusi Mengatasi Hambatan
1) Biro Perencanaan.
a) Peningkatan peran teknologi informasi (aplikasi
monevgar, e-budgeting) guna menjembatani efisiensi
kegiatan dan pendanaan.
b) Mengajukan usul pendidikan dan pelatihan kepada Ninstansi terkait (Bappenas) untuk fungsi perencanaan.
c) Optimalisasi segala sumber daya yang ada termasuk sarana dan prasarana.
2) Biro Kepegawaian dan Organisasi.
a) Ditingkatkan peran serta aktif pihak pemerintah daerah kabupaten/kota yang mengusulkan proses vertikalisasi pembentukan Satker BNNK/Kota.
b) Optimalisasi Sumber Daya Manusia yang ada, termasuk proses alih status pegawai yang dipekerjakan.
c) Peningkatan pengetahuan dan kemampuan SDM yang ada baik melalui pendidikan maupun melalui pelatihan.
3) Biro Keuangan.
a) Dilaksanakannya bimbingan teknis bagi para pengelola keuangan di lingkungan BNN.
b) Merevisi peraturan Kepala BNN Nomor 1 Tahun 2013 tentang Akuntansi dan Pelaporan Keuangan. Peraturan Kepala BNN ini digunakan untuk menyamakan persepsi di semua satuan kerja di BNN sekaligus sebagai jembatan teknis atas standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual yang diterapkan.
c) Menyusun Petunjuk Pelaksanaan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan di lingkungan BNN.
d) Bekerja sama dengan Balai Diklat BNN secara berkelanjutan dalam hal penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan teknis akuntansi dan pelaporan keuangan di lingkungan Badan Narkotika.
e) Diseminasi/sosialisasi secara periodik. Hal tersebut dapat digunakan untuk menyerap input berupa saran ataupun keluhan dari daerah terkait akuntansi dan pelaporan keuangan berbasis akrual di lingkungan BNN.
b. Inspektorat Utama.
1) Dengan melakukan rekruitmen pegawai baik dari pengadaan pegawai maupun mutasi pegawai dari instansi lain serta melakukan perbaikan pada DSP Inspektorat Utama mengenai ruang Auditor Utama dan Auditor Madya.
2) Untuk kedepannya diharapkan auditor melakukan pendekatan kepada auditi dengan mengubah mindset
watchdog menjadi konsultan.
3) Dengan memenuhi ruang kerja dengan pengadaan gedung kantor.
4) Dengan melakukan pelatihan kepada para auditor untuk menggunakan aplikasi e-audit yang digunakan dalam kegiatan audit.
c. Puslitdatin BNN.
1) Berkoordinasi dengan Biro Kepegawaian dan Organisasi Settama BNN untuk peningkatan kemampuan personel yang ada terkait bidang penelitian, data dan informasi.
2) Berkoordinasi dengan Biro Perencanaan Settama BNN untuk mendapat tambahan dukungan anggaran.
3) Berkoordinasi dengan Balai Diklat BNN untuk diadakan pendidikan dan pelatihan bagi para operator Contact Center BNN.
4) Berkoordinasi dengan Kepala BNNP, BNN Kabupaten/Kota dan para Kasatker di lingkungan BNN agar para operator aplikasi SIN tidak rangkap jabatan.
d. Deputi Bidang Pencegahan. 1) Direktorat Advokasi.
a) Semua kegiatan harus dibuat time line sehingga kita bisa melaksanakan kegiatan sesuai perencanaan.
b) Dalam melaksanakan kegiatan harus dipersiapkan kurang lebih 2 (dua) minggu.
c) Tim pelaksana harus sering menelpon peserta untuk selalu mengingatkan akan kehadiran.
2) Direktorat Diseminasi Informasi.
a) Mengoptimalkan Sumber Daya Manusia melalui pelaksanaan RDK terkait dengan perencanaan kegiatan untuk mematangkan kegiatan di lapangan.
b) Koordinasi dengan para peserta di lapangan dalam hal tatap muka jauh sebelum melaksanakan kegiatan tatap muka.
c) Memberikan sosialisasi kepada stakeholders baik yang berhubungan dengan media penyiaran dan media online serta jajaran yang melaksanakan publikasi lewat sarana transportasi sehinggga mereka memahami dan tergerak sendiri untuk melakukan sinergitas kegiatan Anti Narkoba kepada masyarakat.
e. Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat.
1) Proses legalisasi para binaan supaya dipercepat (kaitannya dengan persyaratan yang diminta AKU MANDIRI), sehingga dapat mempermudah dalam meminjam modal melalui Bank.
2) Supaya rincian biaya yang diperlukan dihitung dengan cermat sehingga cepat mendapatkan pinjaman modal.
3) Lebih mengedepankan sinergitas dengan stakeholder (instansi terkait) di Provinsi Aceh terkait dengan pembinaan teknis bagi proses alih fungsi lahan dan alih profesi petani baik melalui alih komoditi legal maupun alih usaha diluar sektor pertanian.
4) Pembangunan infrastruktur oleh instansi terkait bagi pembangunan jalan menuju lokasi binaan, supaya lebih aman dan menjangkau sampai pelosok pedesaan.
5) Melalui pendekatan dengan tokoh masyarakat dan tokoh pemuda mempermudah komunikasi dengan masyarakat perdesaan di Provinsi Aceh.
6) Melalui penyusunan Grand Design Alternative Development, akan merumuskan peran dan tanggung jawab stakeholder baik dari tingkat pusat (kementerian/lembaga) dan pemerintah daerah serta swasta (perusahaan/CSR/ LSM).
f. Deputi Bidang Rehabilitasi.
Solusi mengatasi masalah pelaksanaan kegiatan Bidang Rehabilitasi sebagai berikut:
1) Direktorat Penguatan Lembaga Rehabilitasi Instansi Pemerintah.
a) Peningkatan komunikasi, advokasi, terhadap pimpinan institusi/pemangku kepentingan dalam rangka pelaksanaan rehabilitasi.
b) Rapat koordinasi.
c) Materi penyuluhan di RS/PKM dimasukkan tentang rehabilitasi.
d) Penetapan lembaga rehabilitasi milik Pemerintah Daerah melalui Surat Keputusan Gubernur.
e) Penambahan jumlah SDM yang mendapat peningkatan kemampuan.
g) Peningkatan kemampuan SDM mengenai Adiksi yang lebih mendalam.
h) Penilaian kebutuhan pelatihan.
i) Evaluasi training atau pelatihan untuk SDM terlatih yang tidak melakukan layanan di RSU/RSUD/ Puskesmas.
j) Merekrut konselor adiksi.
k) Peningkatan kemampuan konselor.
l) Berkoordinasi dengan stakeholder untuk mendorong kebijakan pemanfaatan dan penambahan sarana prasarana yang dapat mendukung pelaksanaan layanan rehabilitasi.
m) Mendorong dan memfasilitasi terbentuknya klinik di BNNP/BNNKab./Kota.
n) Bimbingan teknis pelaksanaan rehabilitasi.
o) Monitoring dan controlling dari BNNP/BNN Kab./Kota
p) Pengajuan dana awal untuk pelaksanaan program rehabilitasi di lapas.
q) Pelatihan Pencatatan dan Pelaporan untuk keseragaman pembuatan laporan.
2) Direktorat Penguatan Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat.
a) Komunikasi, advokasi, terhadap pimpinan institusi/ pemangku kepentingan dalam rangka pelaksanaan rehabilitasi.
b) Rapat roordinasi.
c) Penambahan jumlah SDM yang mendapat peningkatan kemampuan.
d) Peningkatan kemampuan SDM mengenai adiksi yang lebih mendalam.
e) Penilaian kebutuhan pelatihan. f) Merekrut konselor adiksi.
h) Berkoordinasi dengan stakeholder untuk mendorong kebijakan pemanfaatan dan penambahan sarana prasarana yang dapat mendukung pelaksanaan layanan rehabilitasi.
i) Bimbingan Teknis Pelaksanaan Rehabilitasi.
j) Monitoring dan controlling dari BNNP/BNN Kab./Kota.
k) Pengajuan dana awal untuk pelaksanaan program rehabilitasi.
l) Pelatihan Pencatatan dan Pelaporan untuk keseragaman pembuatan laporan.
3) Direktorat Pascarehabilitasi.
a) Komunikasi, advokasi dan mengadakan rapat teknis denngan pimpinan institusi/pemangku kepentingan dalam rangka pelaksanaan pascarehabilitasi.
b) Mensosialisaikan kembali terkait rehabilitasi berkelanjutan.
c) Penambahan jumlah SDM yang mendapat peningkatan kemampuan SDM.
d) Berkoordinasi dengan stakeholder untuk mendorong kebijakan pemanfaatan dan penambahan sarana prasarana yang dapat mendukung pelaksanaan layanan pascarehabilitasi.
e) Bimbingan teknis pelaksanaan rehabilitasi.
f) Monitoring dan controlling kepada BNNP/BNN
Kab./Kota.
g) Pelatihan pencatatan dan pelaporan untuk keseragaman pembuatan laporan.
g. Deputi Bidang Pemberantasan. 1) Direktorat Intelijen.
a) Perlu ada penambahan anggaran dalam rangka pengungkapan jaringan yang lebih banyak, sementara saat ini target masih banyak sementara anggaran sudah habis.
b) Peningkatan kemampuan dengan melakukan pelatihan terhadap personil di Pusat dan Daerah, dan adanya sinergitas antara Pusat dan Daerah.
2) Direktorat Psikotropika dan Prekursor.
- Perlu di anggarkan / Pengadaan untuk alat pendeteksi prekursor narkotika dan peralatan kesalamatan untuk penyidik.
h. Deputi Bidang Hukum dan Kerjasama. 1) Direktorat Hukum.
Sebagai upaya dalam mengatasi permasalahan yang ada di atas, maka direkomendasikan solusi untuk pemecahan masalah tersebut yaitu sebagai berikut:
a) Rancangan Produk Hukum yang berasal dari satuan kerja di luar Direktorat Hukum seyogyanya melaksanakan pembahasan dengan Direktorat Hukum untuk mengevaluasi Rancangan sebelum dilaksanakan pengundangan.
b) Peningkatan kompetensi pegawai dapat dilakukan dengan mengikuti Diklat Teknis atau pendidikan yang diselenggarakan oleh swasta.
c) Perlu adanya penambahan pegawai yang mempunyai kompetensi sesuai peraturan perundang-undangan. d) Pada kegiatan yang melibatkan kementerian/lembaga
perlu ditindaklanjuti dengan koordinasi secara terpadu agar dapat memfasilitasi segala persepsi dan kepentingan.
e) Agar serapan anggaran dapat terserap dengan optimal maka strategi yang dilakukan adalah memaksimalkan penyerapan serta pelaksanaan kegiatan pada awal tahun pelaksanaan kegiatan serta disusunnya rencana kegiatan selama 1 (satu) tahun.
2) Direktorat Kerja Sama.
Sebagai upaya dalam mengatasi permasalahan yang ada atas pelaksanaan kegiatan Direktorat Kerja Sama tahun 2016, maka direkomendasikan solusi untuk pemecahan masalah tersebut yaitu sebagai berikut:
a) Berkoordinasi secara optimal dengan bidang yang menangani permasalahan Narkoba di instansi negara lain sehingga diharapkan perbedaan struktur tersebut tidak lagi menjadi permasalahan dalam menjalin kerjasama dalam upaya penanganan permasalahan Narkoba.
b) Bersikap fleksibel dalam menyikapi perbedaan kebijakan negara lain dan kebijakan Indonesia sehingga bisa dihasilkan kebijakan yang dapat mengakomodir kepentingan dan kebijakan negara lain dan kepentingan dan kebijakan Indonesia mengenai penanganan permasalahan Narkoba.
c) Pada implementasi kegiatan internasional tetap berpedoman pada nilai kurs yang ada pada saat pelaksanaan kegiatan internasional.
d) Melakukan koordinasi secara maksimal mengenai pengaturan jadwal pelaksanaan penandatanganan Nota Kesepahaman.
e) Upaya persamaan persepsi dalam penanganan permasalahan Narkoba di Indonesia dengan seluruh intansi pemerintah dan komponen masyarakat.