• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERMASALAHAN YANG DIHADAPI INDUSTRI BESI/ BAJA NASIONAL

Dalam dokumen INOVASI DAN APLIKASI TEKNOLOGI PERTAMBA (Halaman 70-76)

NASIONAL BERBASIS BAHAN BAKU LOKAL

2. PERMASALAHAN YANG DIHADAPI INDUSTRI BESI/ BAJA NASIONAL

2.1. Ketergantungan Bahan Baku Impor

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam yang berupa mineral bijih besi, pasir besi, batubara dan lain sebagainya. Namun pada kenyataannya industri besi/ baja nasional masih kekurangan pasokan bahan baku untuk memenuhi proses produksinya. Kondisi ini disebabkan masih terbatasnya industri besi/ baja hulu di Indonesia baik dalam jumlah maupun kapasitas produksinya (Kemenperin, 2009).

Sumber bijih besi di Indonesia tersebar dan karakternya spesifik, tetapi belum ada industri lokal yang mengolah bahan baku bijih besi tersebut secara berkelanjutan, bahkan sebagian besar bijih besi, pasir besi dan batubara tersebut diekspor begitu saja tampa diberikan nilai tambah. Belum adanya industri lokal yang mengolah bahan baku bijih besi disebabkan oleh beberapa kendala, yaitu 1) investasi yang diperlukan untuk mendirikan industri pengolahan bahan baku bijih besi lokal masih relatif sangat besar, 2) belum dikuasainya teknologi pengolahan

60 bahan baku bijih besi, 3) infrastruktur yang diperlukan belum memadai, 4) informasi pertambangan yang diperlukan masih simpang siur serta 5) belum terintegrasinya dukungan kebijakan dari pemerintah.

2.2. Kendala Teknologi Dan Sumber Daya Manusia (SDM)

Penguasaan teknologi sudah menjadi suatu kewajiban yang harus dikembangkan apabila Indonesia berkeinginan untuk mengembangkan industri besi/ baja nasional. Pada kenyataannya penguasaan teknologi untuk benefisasi bijih besi masih sangat lemah. Selain itu teknologi pengolahan bahan baku bijih besi/ pasir besi yang spesifik untuk membuat ingot masih belum teruji sehingga untuk melaksanakan proses produksi masih menggunakan lisensi alat dan ahli teknologi dari luar negeri.

Indonesia belum mempunyai pusat riset nasional yang menangani secara khusus pengolahan bahan baku lokal sampai menjadi produk hilir yang diprioritaskan oleh pemerintah, yang akan melakukan riset khusus tentang industri logam, melakukan penelitian dan pengembangan teknologi secara terus-menerus mengikuti perkembangan industri logam internasional, membuat kebijakan nasional, membuat keputusan, merealisasikan dan mengimplementasikan kebijakan dan program-program pengembangan industri logam seperti yang dimiliki oleh China.

Pengembangan industri logam juga terhambat oleh rendahnya produktivitas sumber daya manusia yang mampu memberikan teknologi tepat guna, khususnya ahli untuk menangani teknologi pada industri besi/ baja hulu bila dibandingkan dengan produktivitas SDM industri besi/ baja di negara lain. Kalaupun tersedia SDM yang mampu menerapkan teknologi tepat guna, jumlah ahli yang dimiliki masih sangat terbatas. Hal ini dikarenakan besarnya jumlah dan rendahnya tingkat edukasi tenaga kerja yang diserap.

2.3. Tata Kelola Kebijakan Industri Besi/ Baja Nasional Belum Terintegrasi Kondisi ini diindikasikan oleh kenyataan bahwa kebijakan industri besi/ baja belum menjadi isu nasional yang digunakan sebagai acuan bagi seluruh stakeholder/ kementrian dalam pengembangan industri nasional. Selain itu

61 industri logam masih menggunakan aturan-aturan industri yang bersifat umum, padahal industri besi/ baja merupakan supporting bagi industri lain, sehingga diperlukan kebijakan khusus yang berbeda dan mendukung pengembangan industri besi/ baja. Adanya kontradiksi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah serta belum adanya sinergisitas kebijakan antardepartemen menyebabkan pelaku industri besi/ baja mengalami kesulitan dalam melakukan pengembangan industrinya. Kebijakan yang ada selama ini umumnya bersifat reaktif bukan berbasis strategis.

Kebijakan ekspor dan impor bahan baku logam juga menjadi permasalahan tersendiri yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja indusrti besi/ baja hulu dan tersedianya pasokan bahan baku bagi industri besi/ baja hilir. Insentif dan peran lembaga keuangan juga belum sepenuhnya mendukung pendanaan bagi investasi di industri besi/ baja.

2.4. Keterkaitan Antarstakeholder Pada Industri Besi/ Baja Nasional Belum Harmonis

Hubungan yang harmonis antara stakeholder industri besi/ baja dengan sendirinya akan memepercepat proses pengembangan industri itu sendiri. Dengan adanya harmonisasi dan keterkaitan antara stakeholder, arus informasi dan pemenuhan bahan baku dan pemasaran akan lebih efektif dan lebih menguntungkan dalam jangka panjang.

Pada kenyataanya masing-masing stakeholder industri logam nasional belum terhubungkan dengan baik, dimana masing-masing berjalan sendiri-sendiri sehingga tidak ada integritasi satu sama lain yang dapat mendorong pengembangan industri besi/ baja nasional. Selama ini belum ada sistem yang mengatur dan mengikat masing-masing stakeholder secara keseluruhan serta menjadi acuan semua pelaku industri. Beberapa klaster industri baja yang sudah terbentuk belum bisa berjalan secara optimal sehingga keberadaannya belum bisa memberikan kontribusi yang nyata bagi kemajuan dan pengembangan industri baja nasional.

62 3. TEKNOLOGI PENGOLAHAN BIJIH BESI/ PASIR BESI

Potensi sumber daya bijih besi/ pasir besi Indonesia sangat mendukung untuk kemandirian industri besi/ baja nasional jika dilakukan pemilihan teknologi yang tepat sesuai dengan karakter bahan bakunya. Teknologi untuk mendapat besi/ baja dari bijih besi/ pasir besi yang digunakan di Indonesia adalah blast furnace (tanur tiup) dan Direct Reduction Iron berbasis gas alam. Blast furnace merupakan teknologi generasi pertama pembuatan besi. Bagian-bagian dari tanur tiup dapat dilihat pada Gambar 2. Sementara Gambar 3 menunjukkan mini blast furnace yang telah di-set-up di Balai Pengolahan Mineral Lampung, LIPI sejak tahun 1985.

Gambar 2. Ilustrasi skematik tanur tiup secara umum untuk generasi pertama teknologi iron making.

Teknologi ini merupakan peleburan reduksi (reduction smelting) dan masuk kategori reduksi tidak langsung. Pembuatan besi dengan tanur tiup membutuhkan kokas yang relatif mahal dan temperatur tungku yang tinggi sekitar 1500-2000°C. Pemakaian batubara semi cooking dapat menjadi alternatif dengan proses lebih murah. Proses pembuatan besi dengan teknologi ini merupakan proses yang berkelanjutan sehingga membutuhkan jaminan ketersedian bahan baku. Bijih besi yang digunakan memerlukan kualitas yang baik yaitu kadar Fe yang tinggi dan tidak adanya kandungan pengotor. Besi ingot yang dihasilkan memiliki kandungan karbon 4-5% sehingga sangat getas dan harus diproses lebih lanjut untuk produksi baja.

Teknologi generasi kedua adalah pembuatan besi dengan menggunakan gas alam untuk mereduksi bijih besi sehingga didapat besi reduksi langsung (Direct

1. Hembusan udara panas dari tungku 2. Daerah pencairan

3. Zona reduksi FeO (Ferrous Oxide) 4. Zona reduksi Fe2O3 (Ferric Oxide)

5. Daerah pemanasan awal

6. Tempat masuk Bijih besi, Kapur dan Kokas

7. Gas sisa pembakaran

8. Lajur Bijih besi, Kapur dan Kokas 9. Slag

10. pig iron

63 Reduction Iron). Teknologi ini tidak sebesar dapur tinggi, investasinya lebih rendah dan sudah banyak dibangun di negara-negara berkembang. Teknologi ini juga digunakan oleh PT. Krakatau Steel yang disebut Hyl dari Meksiko. Teknologi lain yang dikembangkan pada generasi kedua ini adalah MIDREX® Process dan Fastmet® Process. Teknologi lain yang dikembangkan adalah HOTLINK® Process yang merupakan pengembangan dari MIDREX® Process. Penggunaan teknologi generasi kedua ini jika dibandingkan dengan tanur tiup meningkat secara drastis dari 800.000 ton pada tahun 1970 menjadi 55.000.000 ton pada tahun 2005 (Otzuka & Kunii, 1967; Kashiwaya & Ishii, 2004). Bijih besi yang digunakan pada proses ini adalah hematit dan magnetit, sehingga tetap membutuhkan Fe dengan kadar yang tinggi dan tanpa banyak pengotor.

Gambar 3. Mini tanur tiup yang ada di Balai Pengolahan Mineral Lampung dengan kapasitas 10 ribu ton/ tahun.

Gambar 4. Plant Reduksi Langsung berbasis gas alam (a) MIDREX® Process, (b) HOTLINK® Process.

64 Teknologi generasi ketiga yang dikembangkan oleh Kobe Steel adalah IT Mark Three (ITmk3®), seperti ditunjukkan pada Gambar 5. Teknologi ini merupakan pengembangan dari Fastmet® process, yang merupakan reduksi langsung dengan menggunakan batu bara. ITmk3® adalah proses yang unik, karena pellet direduksi dan dilelehkan pada suhu yang relatif rendah yaitu 1350°C. Pada proses ini besi dengan mudah terpisah dari slag. Reaksi pada ITmk3® berada pada fasa padat/ cair yang berbeda dengan teknologi pembuatan besi konvensional. Keunggulan lain dari teknologi ini adalah FeO sisa kurang dari 2% dan tidak merusak bata api. Bijih besi halus dan bijih besi kadar rendah bisa digunakan pada teknologi ini. Kobe steel dalam penelitiannya dalam waktu yang singkat (3-9 menit) telah berhasil mereduksi langsung bijih besi dengan teknologi ITmk3® dengan variasi temperatur. Seiring dengan penambahan waktu pada pemanasan 1350°C, metalisasi berjalan lebih sempurna dan terjadi pengumpulan/ pemisahan slag dari metal yang terbentuk (Anameric et al., 2006; Nagata et al., 2001; kobayashi et al., 2007)

Gambar 5. ITmk3® Process menggunakan Rotary Hearth Furnace.

Karakteristik pasir besi Indonesia yang tersebar dan kadar Fe yang tidak terlalu tinggi menjadikan pasir besi Indonesia tidak efisien untuk diolah dengan menggunakan teknologi yang telah ada di Indonesia (Generasi pertama dan

65 0 5 10 15 20 25 2005 2007 2009 2011 2013 2015 2017 2019 2021 2023 2025 Tahun Ko n s u m s i b a ja n a s io n a l (ju ta t o n / ta h u n )

- Optimalisasi kapasitas terpasang.

- Penerapan & pembangunan mini blast furnace. - Pengaturan ekspor/impor baja dan bahan baku. - Kajian pembentukan klaster industri baja hulu. - Akselerasi R&D iron making dari low grade bijih besi.

- Pembentukan 6 buah klaster industri baja hulu. - Peningkatan kapasitas masing-masing klaster dari 500 rb sampai minimal 1 juta ton/ tahun. - Akselerasi penguasaan steel making dan turunannya. - Pengaturan ekspor/impor baja dan bahan baku.

- Peningkatan kapasitas masing-masing klaster dari 1 menjadi 3 juta ton/ tahun. - Pengaturan ekspor/impor baja dan bahan baku.

Tahap I

Tahap II

Tahap III

kedua). Pasir besi tersebut dapat digunakan tetapi membutuhkan proses yang panjang agar sesuai dengan karakteristik yang dipersyaratkan oleh teknologi tersebut. Selain itu harga kokas yang masih impor (generasi pertama) dan harga gas alam (generasi kedua) yang cenderung naik menjadi kendala lain dalam pengolahan pasir besi di Indonesia.

Dalam dokumen INOVASI DAN APLIKASI TEKNOLOGI PERTAMBA (Halaman 70-76)