BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
2.2.6.5. Permintaan Tenaga Kerja
Permintaan tenaga kerja adalah kebutuhan yang sudah didasarkan atas kesediaan membayarkan upah tertentu sebagai imbalan pemberian kerja bermaksud menggunakan atau meminta sekian orang karyawan dengan kesediaan membayar upah sekian rupiah setiap waktu. Jadi, dalam permintaan ini sudah ikut dipertimbangkan tinggi rendahnya upah yang berlaku dalam masyarakat atau yang dibayarkan kepada tenaga kerja yang bersangkutan. (Suroto, 1992 : 21).
Suatu perusahaan dalam membeli atau menggunakan tenaga kerja tidak dapat menentukan tingkat upah tenaga kerja, melainkan hanya akan mengikuti upah, pada umumnya yang berlaku di pasar tenaga kerja. Misalnya
tingkat upah tenaga kerja itu setinggi W, maka jumlah tenaga kerja yang akan digunakan oleh perusahaan agar jumlah laba yang didapatnya maksimum adalan sebanyak N*, yaitu ditentukan oleh perpotongan antara kurva VMPN dan kurva w* W*. Jumlah tenaga kerja yang digunakan tidak sebanyak N1, karena N1 terlihat bahwa tingkat upah merupakan biaya atau pengorbanan yang harus dibayar oleh perusahaan lebih tinggi daripada manfaat dalam bentuk nilai produksi yang disumbangkan terakhir.
Dengan demikian hal ini tidak menguntungkan bagi perusahaan. Sebaliknya bila jumlah tenaga kerja yang dipakai hanya sebanyak N2, ini berarti bahwa nilai produksi marginal lebih tinggi daripada tingkat upah yang harus dibayar perusahaan, artinya perusahaan mendapat manfaat yang lebih tinggi daripada korban yang harus dipikulnya dengan sendirinya perusahaan akan terdorong untuk menambah tenaga kerja lebih banyak lagi. Kedudukan keseimbangan tercapai pada posisi jumlah tenaga kerja N*
Gambar 2 : Kurva Permintaan Tenaga Kerja W
w* W*
VMPN
0 N N* N1
Sumber : Suparmoko. M, 2000, Pengantar Ekonomika Makro, Penerbit BPFE, UGM, yokyakarta, hal 161
2.2.6.6. Penawaran Tenaga Kerja
Persediaan tenaga kerja adalah istilah yang biasanya juga belum dihubungkan dengan factor upah. Sedangkan dalam istilah penawaran tenaga kerja sudah ikut dipertimbangkan factor upahnya. Dalam hal ini pencari kerja bersedia menerima pekerjaan itu atau menawarkan tenaganya apabila kepadanya diberikan upah sekian rupiah setiap waktu.
Misalnya dengan menggunakan teknologi tertentu, seseorang pengusaha mungkin membutuhkan 500 orang tenaga kerjanya. Akan tepai karena upah yang dituntut terlalu tinggi, mungkin ia hanya mampu mempekerjakan atau meminta 400 orang saja, sedangkan yang lainnya ditunda dahulu atau dibatalkan, karena kebutuhan tenaga kerja merupakan permintaan
potensial. Dari uraian diatas menjadi jelas, bahwa persediaan tenaga kerja merupakan penawaran potensial ( Suroto, 1992 : 22 ).
Penawaran tenaga kerja yang datangnya dari pemilik tenaga atau katakanlah buruh. Mereka ini mencari pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan dengan cara menjual tenaga mereka atau pada saat mereka mencari pekerjaan dikatakan bahwa mereka menawarkan tenaga kerja mereka. Pada saat tingkat upah tinggi, akan sedikit jumlah tenaga kerja yang ditawarkan, sedangkan pada tingkat upah rendah, akan banyak tenaga kerja yang ditawarkan. Pada tingkat upah W1, jumlah tenaga kerja yang ditawarkan lebih banyak yaitu sebanyak N2. Pada tingkat upah W2, jumlah tenaga kerja yang ditawarkan lebih sedikit yaitu sebanyak N
Gambar 3 : Kurva Penawaran Tenaga Kerja W NS
W 2
W1
0
N1 N2N
Sumber : Suparmoko. M, 2000, Pengantar Ekonomika Makro, Penerbit BPFE, UGM, Yokyakarta, hal 163.
2.2.7. Pengertian Investasi
Kata investasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu “Investment”, apabila dalam bahasa Indonesia investasi adalah “penanaman modal” investasi adalah suatu kegiatan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu kegiatan usaha, karena ini sangat dibutuhkan sebagai faktor penunjang di dalam memperlancar proses produksi.
Menurut pendapat Prof. Robinson yang dikutip oleh Suherman Rosyidi dalam bukunya yang berjudul Pengantar Teori Ekonomi mengatakan bahwa investasi itu penambahan barang-barang modal baru, sedangkan membeli selembar kertas saham bukanlah investasi (Rosyidi, 1994: 158).
Investasi adalah pengeluaran yang ditunjukkan untuk meningkatkan atau mmpertahankan stok barang modal. Stok barang modal terdiri dari pabrik mesin dan produk-produk tahan lama yang digunakan dalam proses produksi. (Dornbusch dan Fischer, 1995: 46).
Menurut Sukirno (2001: 107), investasi diartikan sebagai pengeluaran atau pembelanjaan penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian. Dalam prakteknya, suatu usaha untuk mencatat nilai penanaman modal yang dilakukan dalam suatu tahun tertentu,
yang digolongkan sebagai investor (atau pembentukan modal atau penanaman modal), meliputi pengeluaran atau pembelanjaan sebagai berikut: a. Pembelian berbagai jenis barang modal, yaitu mesin-mesin dan peralatan
produksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industri dan perusahaan.
b. Pembelanjaan untuk membangun rumah tempat tinggal, bangunan kantor, bangunan pabrik, dan bangunan-bangunan lainnya.
c. Pertambahan nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan mentah dan barang yang masih dalam proses produksi pada akhir tahun perhitungan pendapatan nasional. (Sukirno, 2001: 107).
Dari berbagai penjelasan diatas tentang definisi investasi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa investasi adalah pengeluaran yang disediakan untuk meningkatkan atau mempertahankan barang-barang modal, selain itu bisa diartikan sebagai uasaha membina industri supaya dapat lebih maju dan merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup usaha sebagai faktor penunjang di dalam memperlancar proses produksi.
2.2.7.1. Teori Investasi
Masalah investai adalah suatu masalah yang langsung berkaitan dengan besarnya pengharapan akan pendapatan dari barang modal dimasa depan. Pengharapan dimasa depan inilah yang menjadi faktor terpenting
untuk penentu besarnya investasi menurut Suparmoko (2000: 84) terdapat 2 teori, yaitu:
a. Teori Klasik
Teori klasik tentang investasi didasarkan atas teori produktivitas batas (marginal produktivity) dari faktor produksi modal. Menurut teori ini besarnya modal yang akan diinvestasikan dalam proses produksi ditentukan oleh produktivitas batasnya dibandingkan dengan tingkat bunga-bunganya. Sehingga investasi ini akan terus dilakukan bilamana produktivitas batas dari investasi itu masih lebih tinggi daripada tingkat bunga yang akan diterimanya bila seandainya modal itu dipinjamkan dan tidak diinvestasikan.
Dengan teori produktivitas batas, maka masalah investasi oleh para-para ahli ekonomi klasik dipecahkan atas dasar prinsip maksimalisasi laba dari perusahaan-perusahaan industri. Sebab suatu perusahaan akan memaksimalisasi labanya dalam suatu persaingan sempurna. Bila perusahaan itu menggunakan modalnya sampai pada jumlah produksi marginal kapitalnya sama dengan harga capital yaitu suku bunga, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Suatu investasi akan dijalankan apabila pendapatan dari investasi lebih besar dari tingkat bunga. Pendapatan dari investasi merupakan jumlah
pendapatan yang akan diterima setiap akhir tahun selama barang modal digunakan dalam produksi.
2. Investasi dalam modal adalah menguntungkan bila biaya ditambah bunga lebih kecil dari pendapatan yang diharapkan dari investasi itu. b. Teori Keynes
Masalah investasi baik penentu jumlah maupun kesempatan untuk melakukan investasi oleh Keynes didasarkan atas konsep Marginal Efficiency of Investment (MEI), yaitu bahwa investasi itu akan dijalankan apabila MEI lebih tinggi daripada tingkat suku bunga.
Menurut garis MEI ini antara lain disebabkan oleh 2 hal, yaitu (Suparmoko, 2000: 84):
1. Bahwa semakin banyak investasi yang terlaksana dalam masyarakat, maka semakin rendah efisiensi marginal investasi itu, semakin banyak investasi yang terlaksana dalam lapangan ekonomi maka semakin sengitlah persaingan para investor sehingga MEI menurun.
2. Semakin banyak investasi dilakukan, maka biaya dari barang modal menjadi lebih tinggi.
2.2.7.2. Macam-macam Investasi
Macam-macam investasi dibagi menjadi 4 kelompok, yang pembagiannya sebagai berikut:
1. Autonomous Invesment dan Induced Investment
Autonomous Investment ( investasi otonomi ) adalah investasi yang besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh pendapatan, tetapi dapat berubah oleh karena adanya perubahan faktor-faktor di luar pendapatan. Faktor-faktor lain diluar selain pendapatan yang mempengaruhi tingkat investasi seperti itu, misalnya tingkat teknologi, kebijaksanaan pemerintah, harapan para pengusaha dan sebagainya. Sedangkan Induced Investment atau investasi terimbas adalah investasi yang dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. 2. Public Investment dan Private Investment
Public Investment adalah Investasi atau penanaman modal yang dilakukan oleh pemerintah (baik pusat maupun daerah). Public investment tidak dilakukan oleh pihak-pihak yang bersifat personal, investasi ini bersifat impersonal atau resmi. Sedangkan Private Investment adalah investasi yang dilakukan oleh pihak swasta. Di dalam private investment, unsur-unsur seperti keuntungan yang akan diperoleh dimasa depan penjualan dan sebagainya merupakan peranan yang sangat penting dalam menentukan volume investasi. Sementara dalam penentuan volume investasi, pertimbangan itu lebih diarahkan kepada melayani atau menciptakan kesejahteraan bagi rakyat banyak.
3.Domestik Investment dan Foreign Investment
Domestik investment adalah penanaman modal di dalam negeri, sedangkan Foreign Investment adalah penanaman modal asing. Sebuah negara yang memiliki banyak sekali faktor produksi alam atau faktor produksi tenaga manusia namun tidak memiliki faktor produksi modal (capital) yang cukup untuk mengelolah sumber- sumber yang dimiliki, maka mengundang modal asing agar sumber-sumber yang ada termanfaatkan.
4.Gross Investment dan Net Investment
Gross Investment (Investasi Bruto) adalah total seluruh investasi yang diadakan atau yang dilaksanakan pada suatu ketika. Dengan demikian investasi bruto dapat benilai positif ataupun nol (yaitu ada atau tidak ada investasi sama sekali) tetapi tidak akan bernilai negatif. Sedangkan Net Investment (Investasi Netto) adalah selisih antara investasi bruto dengan penyusutan. Apabila misalnya investasi bruto tahun ini adalah Rp. 25 juta sedangkan penyusutan yang terjadi selama tahun yang lalu adalah sebesar Rp. 10 juta, maka itu berarti bahwa investasi netto tahun ini adalah sebesar Rp. 15 juta. (Rosyidi, 1994: 161).
2.2.7.3. Faktor – faktor Yang Menentukan Investasi
a. Ramalan mengenai keadaan dimasa yang akan datang.
Kegiatan perusahaan untuk mendirikan industri dan memasang barang-barang modal dinamakan kegiatan memakan waktu. Dan apabila investasi tersebut telah selesai dilaksanakan, yaitu pada waktu industri atau perusahaan itu sudah mulai menghasilkan barang dan jasa yang menjadi produksinya, maka para pemilik modal biasanya akan melakukan kegiatan terus selama beberapa tahun. Oleh karena itu dalam menentukan apakah semua kegiatan yang akan dan dikembangkan itu dapat memperoleh atau menimbulkan kerugian, maka para pemilik modal harus membuat ramalan-ramalan mengenai keadaan dimasa mendatang.
b. Tingkat bunga.
Bagi perusahaan yang bijaksana hendaknya selalu mengikuti dan memperhatikan perkembangan pasar, terutama tentang perkembangan tingkat bunga yang dapat mempengaruhi beropeasinya setiap perusahaan oleh karena itu tingkat bunga dapat digolongkan sebagai salah satu faktor penting yang akan menentukan besarnya investasi yang akan dilakukan oleh para pengusaha.
c. Perubahan dan perkembangan teknologi.
Kegiatan yang dikembangkan dalam kegiatan produksi atau usaha lain, maka hal demikian itu ditanamkan ditanamkan mengadakan
pembaharuan. Pada umumnya semakin banyak perkembangan ilmu dan teknologi, maka semakin banyak pula jumlah kegiatan pembaharuan yang dilakukan oleh para pengusaha.
d. Tingkat pendapatan Nasional dan perubahan-perubahannya.
Sejarah perkembangan ekonomi dunia menunjukkan bahwa akhir-akhir ini berbagai penemuan dan pembaharuan sangat besar peranannya. Kenyataan yang ada menggambarkan bahwa hubungan antara pendapatan nasional dan investasi merupakan cenderung untuk mencapai tingkat yang lebih besar apabila pendapatan nasional semakin besar jumlahnya. Demikian pula sebaliknya, apabila pendapatan nasional rendah biasanya nilai investasinya juga rendah.
e. Keuntungan yang dicapai perusahaan.
Setiap perusahaan yang sangat berkembang salah satu faktor penting yang dapat menentukan untuk kegiatan atau pengembangan investasi adalah keuntungan yang diperolehnya. Apabila perusahaan-perusahaan itu melakukan investasi dengan menggunakan tabungannya atau modal kas, maka perusahaan yang harus dibayar untuk jangka waktu berikutnya. Ini berarti disamping mengurangi biaya investasi yang akan dilakukan secara otomatis akan menambah modal atau keuntungan perusahaan-perusahaan yang bersangkutan. (Rosyidi, 1994: 165).
2.3. Kerangka Pikir
Variabel Inflasi (X1). Inflasi adalah kenaikan harga-harga umum secara terus-menerus. ( Putong, 2003 : 254 ). Baik inflasi maupun pengangguran sedapat mungkin harus dihindari. Masalah utama dari pengangguran ialah turunnya produksi. Masyarakat yang tidak bekerja tidak dapat berproduksi dan pengangguran yang tinggi membuat pendapatan semakin kecil yang tidak dapat bertambah. Biaya kehilangan output amat tinggi dapat membebani hubungan antara pengangguran dan output selama siklus bisnis. ( Dornbusch, 2004 : 128-130 ). Manakala inflasi terlalu tinggi, maka masyarakat cenderung tidak ingin menyimpan uangnya lagi, tetapi akan diubah dalam bentuk barang, baik barang yang siap pakai atau harus melalui proses produksi (mis:membuat rumah). Dalam kondisi tingkat inflasi yang relative tinggi, maka secara teoritis para penganggur akan banyak memperoleh pekerjaan, bukan saja karena banyak masyarakat membutuhkan tenaganya, tetapi juga para produsen seharusnya akan memanfaatkan momentum kenaikan harga barang dengan menambah produksinya yang tentu saja membuka kapasitas produksi baru dan ini tentu memerlukan tenaga kerja baru sampai pada tingkat fuul employment. ( Putong, 2003 : 267-268 ).
Variabel Pertumbuhan Ekonomi (X2). Pertumbuhan Ekonomi adalah kenaikan Produk Domestik Bruto dan Prodik Nasional Bruto. (Sukirno, 2004:9). Pengangguran berhubungan dengan ketersediaan lapangan kerja. Semakin tinggi
pertumbuhannya, maka semakin besarlah harapan akan menyerap tenaga kerja baru. Dengan demikian secara relative makin baik pertumbuhan ekonomi, maka semakin besarlah harapan untuk tidak menganggur. Sebaliknya, bila pertumbuhan ekonomi turun (apalagi negative), maka semakin besarlah tingkat pengangguran. ( Putong, 2003 : 266 ).
Variable fluktuasi nilai rupiah/kurs(X3). dapat diartikan sebagai mata uang asing dan alat pembayaran lainnya yang digunakan untuk melakukan atau membiayai transaksi ekonomi dan keuangan internasional dan biasanya mempunyai catatan kurs resmi pada Bank Sentral atau Bank Indonesia. (Hady, 2001 : 24)
Variabel Tingkat Pengangguran (Y). Tingkat pengangguran adalah rasio diantara jumlah pengangguran dengan jumlah tenaga kerja pada suatu waktu tertentu dan dinyatakan dalam satuan juta jiwa. ( Sukirno, 2004 : 355 ). Apabila jumlah Inflasi mengalami kenaikan, Produk Domestik Regional Bruto, menurun dan Pertumbuhan Ekonomi rendah akan menyebabkan Tingkat Pengangguran naik.
Gambar 4 : Paradigma Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi dan fluktuasi nilai rupiah terhadap Tingkat Pengangguran.
Inflasi ( X1 ) Pertumbuhan ekonomi
( X
2)
Penyerapan Tenaga Kerja Produksi Y= tingkat pengangguran di Kabupaten Jombang InvestasiFluktuasi nilai rupiah
( X
3)
Sumber : Penulis 2.4 HipotesisHipotesis adalah dugaan sementara yang belum tentu dapat diterima dan masih perlu diuji kebenarannya. Berdasarkan pokok-pokok permasalahan yang telah dikemukakan diatas maka dapat disusun hipotesis yang merupakan kesimpulan sementara terhadap permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1. Diduga bahwa faktor inflasi, pertumbuhan ekonomi dan fluktuasi nilai rupiah merupakan variabel bebas yang berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat (Tingkat Pengangguran) di Kabupaten Jombang 2. Diduga inflasi merupakan variabel bebas berpengaruh paling dominan
yang sangat memberikan pengaruh besar terhadap variabel terikat (Tingkat Pengangguran) di Kabupaten Jombang
3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Yang dimaksud dengan definisi operasional dan pengukuran variabel adalah pernyataan tentang definisi dan pengukuran variabel-variabel alami pemilihan secara operasional, baik berdasarkan teori yang telah ada maupun pengalaman empiris.
Untuk memperjelas terhadap masing-masing variabel yang diamati, maka pengukuran terhadap variabel-variabel tersebut adalah yang dapat diuraikan sebagai tersebut:
a. Variabel Terikat (Dependent Variabel) adalah sebuah variabel yang ditentukan oleh beberapa variabel yang lain. Dimana Variabel Terikat adalah Jumlah pengangguran (Y), yaitu
Yang dimaksud dengan variable tingkat pengangguran adalah prosentase yang didapat dari hasil jumlah penggangguran dibagi dengan jumlah angkatan kerja. Dalam satuan persen ( % ).
b. Variabel Bebas (Independent Variabel) adalah sebuah variabel yang menjelaskan variabel yang lain. Dimana Variabel Bebas terdiri dari :
1. Variabel Inflasi (X1)
Adalah kenaikkan harga barang-barang secara umum dan terus menerus yang menyebabkan turunnya nilai mata uang pada suatu periode tertentu. Dalam satuan persen.
2. Variabel Pertumbuhan Ekonomi (X2)
Yang dimaksud dengan variable pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan PDRB Kabupaten Jombang yang di hitung berdasarkan harga konstan pada tahun dasar sampai tahun akhir. Dalam satuan persen
3. Variabel nilai tukar rupiah (X3)
Yang di maksud dengan variabel nilai tukar rupiah adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau nilai dari suatu mata uang terhadap mata uang lainnya. Dalam satuan rupiah
3.2. Teknik Penentuan Sampel
Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data berkala (Time Series) yaitu data dari tahun ke tahun selama lima belas tahun terhitung sejak tahun 1998-2008. Dimana teknik penentuan sampel mengenai pengaruh Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi dan fluktuasi nilai rupiah.
3.3. Jenis dan Sumber Data 3.3.1. Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data sekunder yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan dari instansi-instansi atau lembaga yang ada hubungannya dalam penelitian ini.
3.3.2. Sumber Data
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini berasal dari :
• Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Jawa Timur, Surabaya. • Kantor Dinas Tenaga Kerja Propinsi Jawa Timur, Surabaya.
3.4. Teknik dan Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara:
Studi kepustakaan yaitu pengumpulan data dengan jalan mempelajari buku-buku literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang ada di penelitian ini.
Selain itu, penelitian ini mengambil sampel di kabupaten jombang sebagai lokasi penelitian. Lingkup penelitian dibatasi pada faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengangguran antara lain Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi dan Fluktuasi nilai rupiah
3.5. Teknik Analisis Dan Uji Hipotesis 3.5.1. Teknik Analisis
Untuk menganalisis pengaruh yang disebutkan dalam hipotesis diatas maka analisa data ini dilakukan dengan menggunakan model regresi linier
berganda dengan asumsi BLUE (Best Linier Unbiased Estimation) untuk mengetahui koefisiensi pada persamaan tersebut betul-betul linier (tidak bias). Model ini menunujukkan hubungan spesifik antara variabel-variabel bebas dan terikat.
Bentuk perumusannya sebagai berikut :
Y = o + 1X1 + 2X2 + X3 + u ……...( Sulaiman, 2004 : 80 ) egresi Dimana : Y = Tingkat Pengangguran X1 = Inflasi X2 = Pertumbuhan ekonomi X3 = Fluktuasi nilai rupiah
= Konstanta
1, , = Koefisien R
3.5.2. Uji Hipotesis
Untuk menguji pengaruh variabel bebas (X1, X2, X3) terhadap variabel terikat Y dengan prosedur sebagai berikut :
1. Uji F
Uji F dipergunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas secara simultan terhadap variabel terikat.
Dengan langkah-langkah pengujian sebagai berikut : - Merumuskan hipotesis
Ho : 1 =3 = 0 (Tidak terdapat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat )
Hi : 1 0 (Ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat)
- Menentukan level of signifikan sebesar 5 %
- Menghitung nilai F untuk mengetahui hubungan secara simultan antara variabel bebas dan variabel terikat drngan rumus sebagai berikut :
Fhitung = KT Regresi ( Soelistyo, 2001 : 325 ). KT Galat
- Menggunakan derajat kebebasan = (n-k-l) dengan ketentuan : n = Jumlah Sampel / pengamatan
KT = Kuadrat Tengah
Gambar 5 : Kurva Distribusi F
Daerah penolakan
Daerah penerimaan
F ()
Sumber: Soelistyo, 2001, Dasar – dasar Ekonometrika, BPFE, Yogyakarta, Jakarta, hal. 326
Kaidah pengujiannya:
1. Apabila F hitung ≤ F table, maka Ho diterima dan Hi ditolak, artinya variabel bebas secara keseluruhan tidak mempengaruhi variabel terikat.
2. Apabila Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak dan Hi diterima. Artinya variabel bebas secara keseluruhan mempengaruhi variabel terikat. 2. Uji t
Uji t dipergunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat.
Uji t dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
t hitung = i ( Nachrowi dan Usman, 2006 : 19 ). Se ()
Merumuskan hipotesis sebagai berikut :
Ho : i = 0 (tidak terdapat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat)
Hi : i0 (ada pengaruh variabel bebas terhadap vriabel terikat) Derajat kebebasan sebesar n-k-l, dalam persamaan tersebut : Dimana :
= Koefisien Regresi Se = Standart Error n = Jumlah sampel
k = Jumlah parameter regresi Gambar 6 : Kurva Distribusi t
Ho ditolak Daerah penerimaan Ho ditolak Ho
( -t 2 ; n-k-l ) ( t 2 ; n-k-l )
Sumber: Widarjono, Agus. 2005, Ekonometrika, Teori dan Aplikasi, Edisi Pertama, Ekonosia FE UII, Yogyakarta, hal. 59.
Kaidah pengujiannya :
1. Bila t hitung ≤ t table, maka Ho diterima dan Hi ditolak, yang artinya secara parsial tidak ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.
2. Bila t hitung > t table, maka Ho ditolak dan Hi diterima, yang artinya secara parsial variabel bebas mempengaruhi variabel terikat.
Untuk mengetahui apakah model analisis tersebut layak digunakan dalam pembuktian selanjutnya dan untuk mengetahui sejauh mana variabel bebas mampu menjelaskan variabel terikat maka perlu diketahui nilai adjusted R2 atau koefisien nilai determinasi dengan menggunakan rumus:
Jadi R2 = JK Regresi ………( Sulaiman, 2004 : 86 ). JK Total
Dimana :
R2 = koefisien determinasi JK total = jumlah kuadrat Karateristik utama dari R2 adalah : a. Tidak mempunyai nilai negatif
3.6. Pendekatan Asumsi BLUE (Best Linear Unbiased Estimator)
Tujuan utama penggunaan uji asumsi klasik adalah untuk mendapatkan koefisien regresi yang terbaik linier dan tidak bias (BLUE), karena apabila terjadi penyimpangan terhadap asumsi klasik tersebut, uji t dan uji F yang dilakukannya menjadi tidak valid dan secara statistik dapat mengacaukan kesimpulan yang diperoleh. Sifat dari BLUE itu sendiri adalah:
a. Best : Pentingnya sifat ini bila diterapkan dalam uji signifikan data terhadap dan
b. Linier : Sifat ini dibutuhkan untuk memudahkan dalam penafsiran. c. Unbiased : Nilai jumlah sampel sangat besar penaksir parameter diperoleh
dari sampel besar kira-kira lebih mendekati nilai parameter sebenarnya.
d. Estimasi : e diharapkan sekecil mungkin.
Yang diasumsikan tidak terjadi pengaruh antara variabel bebas atau regresi bersifat BLUE (Best Linier Unbiased Estimator), artinya koefisien regresi pada persamaan tersebut betul-betul linier dan tidak bias atau tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan persamaan, seperti :
a) Multikolinearitas
Identifikasi secara statistik ada atau tidaknya gejala multikolinier dapat dilakukan dengan menghitung varience inflation factor (VIF). Rumusnya adalah VIF= 1/1-R2
VIF (Varience inflation factor) menyatakan tingkat “pembengkakan” varians. Apabila VIF (Varience inflation factor) lebih besar dari 10, hal ini berarti terdapat multikolinier pada persamaan regresi linier. Pendeteksian multikolinier yang berikutnya adalah dengan mudah antara variabel bebas yang terjadi korelasi.
b) Autokorelasi
Yang dimaksud dengan autokorelasi yaitu keadaan dimana kesalahan pengganggu dalam suatu periode tertentu berkorelasi dengan kesalahan pengganggu periode yang lain, pengujian autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji statistik Durbin Watson.
t=n
(et – et--1)2 DW= t = 2 ( Widarjono, 2005 : 181 ). t=n
et2 t = 1Dimana : et adalah residual ( perbedaan variabel tak bebas yang sebenarnya dengan variabel tak bebas yang ditaksir ) dari setiap periode waktu. Sedangkan et-1 adalah residual dari waktu sebelumnya.
Untuk mengetahui ada tidaknya gejala autokorelasi maka perlu dilihat table kriteria pengujian Durbin Watson (Uji DW).