BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pernikahan dan keluarga Jawa
1. Pengertian pernikahan dalam masyarakat Jawa dan posisi pernikahan dalam budaya Jawa
Koentjaraningrat (2007) berpendapat bahwa, orang Jawa adalah
orang yang bahasa ibunya adalah bahasa Jawa yang sebenarnya. Bahasa
Jawa dalam arti yang sebenarnya dijumpai di Jawa tengah dan Jawa Timur.
Jadi, orang Jawa adalah penduduk asli bagian tengah dan timur Pulau Jawa
yang berbahasa Jawa. Sementara itu, di mata orang Jawa, menjadi orang
Jawa berarti menjadi manusia berbudaya, manusia beradab, yang
mengetahui tatanan Jawa (Mulder, 1985).
Perkawinan/ pernikahan dalam masyarakat Jawa merupakan sebuah
fase kehidupan manusia dari masa remaja ke masa berkeluarga (Hadiatmaja
& Endah, 2009). Peristiwa tersebut sangat penting dalam proses
pengintegrasian manusia di dalam alam semesta ini. Oleh sebab itu,
perkawinan disebut juga taraf kehidupan baru bagi manusia.
Geertz (1983) menyatakan, perkawinan bagi orang Jawa merupakan
pelebaran menyamping ikatan antara dua kelompok himpunan yang tak
bersaudara atau pengukuhan keanggotaan di dalam satu kelompok. Geertz
menemukan pada praktiknya kebebasan sebenarnya secara ekonomi dan
menikah mungkin tertunda untuk satu tahun atau lebih sesudah pernikahan,
kecuali hanya apabila pada akhirnya pemisahan itu benar-benar telah terjadi, maka pasangan yang baru menikah tersebut secara sosial dipandang
benar-benar telah menikah.
Raffles (1817/ 2008) mengungkapkan bahwa pernikahan pada
masyarakat Jawa mengikat tanpa terkecuali. Bukan hanya pada pasangan
pengantin saja, tetapi juga orangtua dan kerabat-kerabat dekat. Campur
tangan para kerabat penting dilakukan di masa-masa awal ketika pasangan
pengantin belum mampu mengambil keputusan secara berhati-hati dan
bijaksana. Masa campur tangan teman-teman pria kepada orangtua atau
penjaga sang gadis disebut tetakon (bertanya tentang).
Lebih jauh lagi, perkawinan bagi masyarakat Jawa, diyakini sebagai
sesuatu yang sakral. Pengertian sakral diartikan sebagai upacara suci atau
upacara yang kudus, tidak bercela, tidak bernoda, murni. Perkawinan atau
pernikahan yang kita saksikan itu adalah gebyar (pancaran sinar) lahiriah
(Herusatoto, 2009). Herusatoto juga menyatakan bahwa, kawin atau nikah
adalah perjanjian luhur antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi suami
isteri dengan resmi, yang sah di hadapan Tuhan dan sah di hadapan hukum
sosial dengan segala kewajiban dan tanggung jawabnya di hadapan
keduanya.
Hadiatmaja dan Endah (2009) berpendapat bahwa dengan adanya pernikahan yang sakral, diharapkan kedua mempelai pengantin dapat
melatarbelakangi pelaksanaan perkawinan dalam masyarakat Jawa yang
sangat selektif dan hati-hati baik saat pemilihan calon menantu, maupun penentuan hari pelaksanaan perkawinan. Selain itu, karena sakralnya
pernikahan dalam masyarakat Jawa, Pemberton (2003) berpendapat bahwa
tahun 1950-an upacara perkawinan dalam masyarakat Jawa dilakukan
dengan teliti dan sungguh-sungguh, terutama upacara mandi sampai ijab
kabul sampai upacara adat.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, dapat dilihat bahwa
karakteristik pernikahan dalam masyarakat Jawa, yaitu peralihan fase remaja
ke masa berkeluarga, pelebaran menyamping dua kelompok himpunan yang
tidak mempunyai hubungan saudara, setelah menikah tinggal terpisah dari
orangtua dan membentuk keluarga secara mandiri, serta pernikahan
merupakan sesuatu yang dianggap sakral.
2. Usia ideal pada laki-laki dan perempuan untuk menikah
Menurut Geertz (1983), anak laki-laki biasanya tidak menikah sampai
sesudah benar-benar dewasa dan dapat menyangga sebuah keluarga dengan
layak. Biasanya laki-laki menikah pada usia antara 18-30 tahun, sangat
jarang yang menikah di atas usia 30 tahun. Berbeda dengan anak perempuan
yang telah dinikahkan pada usia 16 atau 17 tahun. Dibandingkan anak
perempuan, anak laki-laki mempunyai kuasa yang lebih besar atas nasibnya sendiri.
Gambaran Geertz tersebut mirip dengan hasil penelitian Jacoby dan
Bernard (dalam Suryani, 2007), pada masa kini dibandingkan dengan pria setelah usia tertentu, umumnya sekitar usia 30 tahun, wanita mendapat
tekanan yang lebih besar untuk menikah dari orangtua, sahabat, dan bahkan
teman sekerjanya. Bila hingga usia 30 tahun sang wanita tidak kunjung
mendapatkan pasangan, maka biasanya orangtua, sahabat, dan teman
kerjanya mulai merancang suatu pertemuan dengan seorang pria atau
mencarikan jodoh melalui rubrik biro jodoh di surat kabar.
Pada umumnya, orangtua menunggu sampai anak laki-lakinya merasa
telah siap menikah dan menyampaikan hal tersebut kepada orangtuanya
untuk meminta bantuan. Sering kali orangtua memberikan kesempatan
kepada anak laki-lakinya untuk menunjukkan gadis yang diinginkannya,
atau untuk memveto saran-sarannya. Namun, orangtuanyalah yang
mengadakan segala perundingan dengan orangtua si gadis serta membuat
persiapan untuk pernikahan (Geertz, 1983).
Sikap orangtua terhadap anak laki-laki berbeda dengan sikap orangtua
terhadap anak gadis. Orangtua cenderung takut anak gadisnya dibicarakan
melakukan ”kumpul kebo” jika tidak segera menikah. Oleh karena tidak ada
jalan melembaga untuk mengawasi anak perempuan kecuali dengan cara
selalu memasang mata terhadap anaknya, maka pemecahan yang paling
gampang dari masalah ini adalah mencarikan baginya seorang suami secepat-cepatnya (Geertz, 1983).
Tampaknya terdapat pendapat umum bahwa jika seorang anak
perempuan dibiarkan terlalu lama tidak menikah, dia akan menyerah pada gelora, dan sebagai akibatnya akan hamil. Ini bukannya terlalu tak bermoral,
melainkan semata-mata merupakan peristiwa yang tak diinginkan dan
merepotkan, karena kemudian timbullah kesulitan di dalam menikahkannya,
lalu ayah pun mungkin harus membayar pengantin lelaki untuk
mengawininya (Geertz, 1983).
Berdasarkan pemaparan tersebut, terlihat bahwa usia ideal anak
perempuan untuk menikah lebih dibatasi dibandingkan usia ideal pada anak
laki-laki untuk menikah. Selain itu, pada masa kini telah terjadi peningkatan
usia wanita untuk menikah, yaitu sampai usia 30 tahun. Meskipun demikian,
tekanan untuk menikah dari orang-orang sekitar masih terjadi.
3. Pengertian dan karakteristik keluarga Jawa
Menurut Koentjaraningrat (2007), sebagai kelanjutan dari adanya
peristiwa perkawinan, timbul keluarga batih atau kaluwarga. Keluarga batih
dalam masyarakat Jawa merupakan suatu kelompok sosial yang berdiri
sendiri, serta memegang peranan dalam proses sosialisasi anak-anak yang
menjadi anggotanya. Adapun kepala keluarga disebut kepala somah. Ia bisa
seorang laki-laki, tetapi bisa juga seorang wanita, kalau si suami meninggal
dunia. Bilamana ibu tidak ada lagi, maka diangkatnya sebagai kepala somah
baru dari salah seorang anak atas persetujuan lainnya. Bentuk suatu keluarga sempurna terdiri dari suami, isteri, dan anak-anak sedangkan keluarga yang
Menurut Jay (1969), keluarga Jawa adalah sarang keamanan dan sumber
perlindungan, karena di dalam keluarga, orangtua merupakan sumber pertama kesejahteraan rohani dan jasmani bagi anak.
Terdapat dua tipe keluarga dalam keluarga Jawa, antara lain:
a. Keluarga Inti, disebut juga keluarga batih. Keluarga batih dalam
masyarakat Jawa merupakan suatu kelompok sosial yang berdiri
sendiri, serta memegang peranan dalam proses sosialisasi anak-anak
yang menjadi anggotanya. Adapun seorang kepala keluarga disebut
kepala somah (Koentjaraningrat, 1979, h. 333). Menurut
koentjaraningrat (dalam Taryati, Harnoko, Mudjijono & Suhatno,
1994/1995), keluarga inti yang berdasarkan monogami terdiri atas,
seorang suami, seorang isteri sebagai ayah dan ibu dari anak.
Keluarga inti yang lebih kompleks bila berdasar pada poligami, yaitu
apabila dalam keluarga ada lebih dari seorang isteri, sebaliknya
disebut keluarga inti dimana ada seorang isteri, tetapi lebih dari
seorang suami disebut keluarga inti yang berdasarkan poliandri.
b. Keluarga luas, yaitu kelompok kekerabatan yang terdiri dari lebih
dari satu keluarga inti, tetapi seluruhnya merupakan suatu kesatuan
sosial yang amat erat, dan hidup tinggal bersama pada satu tempat,
dalam satu rumah atau pada satu pekarangan (Koentjaraningrat,
dalam Taryati, dkk. 1994/1995). Meskipun mereka tinggal bersama, namun masing-masing mewujudkan suatu kelompok sosial yang
maupun dapurnya. Harus diperhatikan bahwa suatu keluarga luas
tetap dikepalai oleh satu kepala somah, yaitu somah yang terdahulu (Koentjaraningrat, 2007).
Geertz (1983) mengatakan, bentuk dasar sistem terminologi Jawa
ialah bilateral dan generasional, bersisi dua dan turun-temurun. Arti
bilateral, yaitu prinsip keturunan dengan memperhitungkan keanggotaan
kelompok kekerabatan melalui garis laki-laki maupun wanita. Generasional
adalah semua anggota generasi sendiri, misalnya saudara seayah-ibu dan
saudara sepupu, disebut dalam istilah-istilah yang sama atau mirip.
4. Agama sebagai landasan hukum yang mengatur pernikahan
Menurut Sujarno, dkk. (1999/2000) agama adalah suatu kepercayaan
kepada Tuhan dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang
bertalian dengan kepercayaan itu sendiri. Taryati dkk. (1994/1995) juga
menjelaskan bahwa agama merupakan tuntunan hidup atau jalan hidup yang
dapat membina mental atau rohani, agar berkeyakinan kepada Tuhan dengan
cara menjalankan atau mengamalkan ajaran agama dan menjauhi
larangan-larangan agama.
Nashir (dalam Sujarno dkk., 1999/2000) mengemukakan, ajaran
agama menunjukkan bahwa perlunya keseimbangan manusia dalam
usahanya mencari keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Aktualisasi dan mewujudkan keseimbangan itu, yaitu manusia harus mampu
Sementara dalam kehidupan di dunia ini, diwujudkan dengan hubungan
suami dan isteri, mengasuh anak, hubungan sosial dengan tetangga, hubungan antar keluarga, berteman dengan orang lain, dan bermasyarakat
dengan baik.
Bagi umat Islam di Indonesia, perkawinan menjadi persoalan sejak
masa penjajahan. Mereka menghendaki agar Pemerintah dan Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) secepat mungkin merampungkan sebuah
undang-undang tentang perkawinan. Seperti dimaklumi, sebelum lahirnya UU No.1
tahun 1974, di Indonesia berlaku berbagai macam hukum perkawinan
sebagai peraturan pokok dalam melaksanakan perkawinan, yaitu :
a. Bagi orang Indonesia asli yang beragama Islam berlaku Hukum Islam
yang telah diterima atau diresepsi kedalam hukum adat. Hal ini sangat
dipengaruhi oleh teori Receptio in Complexu yang dikemukakan oleh
L.W.C.van den Berg dan Salmon Keyzer (dalam Triwidodowu, 2009).
Teori ini menyatakan bahwa hukum agama baru menjadi hukum
apabila telah diterima kedalam Hukum Adat.
b. Bagi orang Indonesia asli yang beragama Kristen berlaku Ordonanci
Perkawinan Indonesia Kristen (HOCI) Stb. 1933 no. 74 juncto Stb.
1936 no. 247. Untuk pencatatannya diatur dengan Stb 1933 no. 75
juncto Stb. 1936 no. 607
Dengan melihat uraian tersebut jelaslah bahwa pengaturan perkawinan sebelum era UU No.1 tahun 1974 dilaksanakan berdasarkan
dengan berpedoman pada peraturan yang berlaku bagi golongannya, bukan
golongan orang lain. Kecuali, ia menundukkan diri terhadap suatu hukum tertentu. Dalam hal penundukan diri, misalnya orang Indonesia asli yang
beragama Islam menundukkan diri pada KUH Perdata, maka baginya
berlaku hukum yang baru, sedang hukum Islam tidak lagi berlaku baginya
(Triwidodowu, 2009).
Dalam pernikahan masyarakat Jawa yang beragama Islam,
Koentjaraningrat (1985) menyatakan bahwa bagian ijab saat pernikahan
merupakan bagian yang paling penting dalam agama islam yang dianut oleh
sebagian besar masyarakat Jawa. Hardjowirogo (1980), juga berpendapat
bahwa, dari seluruh rangkaian upacara perkawinan, akad nikahlah yang
terpenting. Dengan akad nikah, maka suatu perkawinan menurut agama
Islam sudah dianggap sah.
Dalam agama Kristen, soal perkawinan sudah jadi aturan baku yang
harus ditaati. Demikian juga dalam agama Katolik karena para penganutnya
berpegang pada salah satu ayat Kitab Suci yang menyebut “Apa yang sudah
disatukan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia (Albha, 2008).
5. Perkembangan pernikahan dalam masyarakat Jawa
Menurut Taryati dkk.(1994/1995), masyarakat Jawa menganggap
bahwa pernikahan yang ideal adalah bila dilakukan dengan orang yang berasal dari luar sanak saudara agar menghindari perpecahan saudara jika
orang memiliki kesamaan agama dan saling mencintai. Hal tersebut berbeda
dengan pernikahan di zaman dahulu yang belum meyakini bahwa perasaan saling mencintai merupakan hal yang penting dalam pemilihan calon
pasangan.
Berdasarkan hasil penelitian Sadarjoen (2007), selain perasaan saling
mencintai, faktor lain yang menentukan keharmonisan sebuah pernikahan
adalah faktor keuangan. Sejauh mana status sosial ekonomi pasangan dapat
menggambarkan harapan dan mimpi pasangan kedepannya, serta sejauh
mana karier masing-masing pasangan dapat saling membanggakan.
Soemardjan (2009), mengatakan bahwa dewasa ini orangtua terpaksa
setuju jika orang muda tidak bersedia lagi dijodohkan dalam pernikahan.
Meskipun demikian, mereka tidak mengizinkan anak-anaknya yang telah
mendapatkan pendidikan formal mendapatkan pasangan yang tidak
berpendidikan. Pada waktu sebelumnya, status sosial atau kekayaan di
bidang pertanian orangtua memainkan peranan penting dalam memilih
pasangan. Namun, pada saat ini kualifikasi pendidikan dari calon pasangan
itu sendiri lebih dipentingkan. Maka perbedaaan antara orang-orang yang
terpelajar dan tidak terpelajar menjadi penting.
Pandangan lainnya tentang pernikahan masa kini, Herusatoto (2009),
menyebutkan bahwa pada zaman modern saat ini, pernikahan hanya
dipandang sebagai sebuah perjanjian lahiriah untuk hidup bersama dan mempunyai keturunan sebagai penerus generasinya. Generasi muda banyak
si muda dan si mudi. Bukan urusan pihak keluarga pria maupun pihak
keluarga wanita. Tampaknya perkembangan zaman membuat generasi muda juga memiliki sifat individualis.