• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Pengadopsian Inovasi Pertanian Suku Pedalaman Arfak (Kasus di Kabupaten Manokwari, Papua Barat) adalah karya saya dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalan Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Agustus 2007

M u l y a d i NRP: P061030071

ABSTRACT

MULYADI. The Adoption of Agricultural Innovation by the Arfak Tribal (a case in Manokwari Regency, West Papua). Under the supervision of Mr. BASITA GINTING SUGIHEN as a chairman, PANG S. ASNGARI and DJOKO SUSANTO as the members of the committee.

Although agricultural development has been undergoing for a number of years, subsistence agricultural activities of the Arfak tribal group in Manokwari have still dominated their agricultural system. Any outside innovation tends to be adopted partially and temporary. Moreover, innovation is always viewed as disturbance to the norm conserved from one generation to another. The failure of this tribe in adopting suggested technology, however, is not due to their conservations, but the fact that the technology offered is not suitable with both socio-economic conditions and ecology of the farming society in the villages.

In line with the above problem, this study aims: (1) to identify factors affecting the process of agricultural innovation adoption in Arfak society; (2) to identify the attitudes of Arfak society towards agricultural innovation and the extension programs they have received; (3) to identify social cultural values (habits, norms, and customs) which support or hindrance agricultural activities in Arfak society, and (4) to find out the knowledge system and local agricultural technology of Arfak society.

Sample in taken this study was probability area sampling; namely offering the same opportunity to every head of a family to become a sample. This covers 4 districts, 10 villages and 100 respondents, including head of farmer families, chief of tribes, preaches, and other key persons. The methods used were surveys and participative observations to obtain not only quantitative data (factorial analysis, proportion, and SEM) but also qualitative one.

The results of the study were: (1) the earlier stage (knowledge stage) of innovation adoption process was significantly crucial. This includes the stage of knowing the innovation and understanding the way the innovation functions. A factor which plays an essential role at this stage was the motivation to know and then use this innovation. (2) In fact, Arfak farmers have undergone social, cultural, and economic orientation changes (from traditional to modern); (3) Factors of social value supporting the development of Arfak farmers were their emphatic ability; while the obstacles were pessimistic, irrational, and afraid of taking risk; (4) The shifting field for Arfak farmers means: (a) soil fertility, (b)eternal conservation, and (c) food security (5) Arfak farmers have a “food security” concept; namely: (a) three planting periods, (b) multi crops, (c) natural warehouse; (6) The production of Arfak society agriculture has generally used to fulfill the needs of the customs. The belief on the supra natural power refers to “swaggi” is extremely strong so that they are afraid of conducting activities outside their house.

RINGKASAN

MULYADI. Pengadopsian Inovasi Pertanian Suku Pedalaman Arfak (Kasus di Kabupaten Manokwari, Papua Barat). Dibimbing oleh BASITA GINTING SUGIHEN sebagai Ketua; PANG S. ASNGARI dan DJOKO SUSANTO sebagai Anggota Komisi Pembimbing.

Provinsi Papua Barat memiliki keanekaragaman sumber daya alam dan manusia (ratusan suku/klen) yang belum diberdayakan secara maksimal, kendatipun pembangunan pertanian sudah berlangsung cukup lama, kegiatan pertanian tradisional (subsistens) masih dominan pada Suku Pedalaman Arfak di Manokwari. Inovasi dari luar cenderung diadopsi sebagian dan sementara, setelah itu mereka kembali ke cara semula. Inovasi selalu dicurigai akan mengganggu sistem norma lama yang sudah mereka anut secara turun temurun. Namun gagalnya masyarakat mengadopsi teknologi anjuran disebabkan mereka konservatif, tetapi lebih dikarenakan rancang-bangun teknologi anjuran tersebut tidak sesuai dengan kondisi sosio-ekonomi dan ekologi masyarakat tani di pedesaan.

Sejalan dengan permasalahan di atas, penelitian dilakukan dengan tujuan: (1) Mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses adopsi inovasi

pertanian masyarakat Arfak; (2) Mengetahui sikap masyarakat Arfak terhadap inovasi pertanian dan kegiatan penyuluhan yang mereka terima selama ini; (3) Mengidentifikasi nilai-nilai sosial budaya (kebiasaan, tata kelakuan, dan adat istiadat) yang mendukung dan menghambat usahatani pada masyarakat Arfak dan (4) Menemukan sistem pengetahuan dan teknologi pertanian lokal masyarakat Arfak.

Teknik penarikan sampel pada penelitian ini adalah probability area sampling yaitu memberikan peluang yang sama pada setiap kepala keluarga petani Arfak yang tinggal pada wilayah geografis Pegunungan Arfak untuk menjadi anggota sampel. Diperoleh 4 Distrik, 10 Kampung, dan 100 responden (Kepala Keluarga petani dan Kepala suku, pendeta, tokoh masyarakat sebagai responden kunci). Menggunakan metode penelitian survei dan observasi partisipatif untuk mendapatkan data kuantitatif (analisis faktorial, proporsi, dan SEM) dan kualitatif.

Hasil-hasil penelitian adalah: (1) Tahap awal (tahap pengetahuan) proses adopsi inovasi sangat menentukan yaitu mulai mengenal adanya inovasi dan memperoleh beberapa pengertian tentang cara inovasi tersebut berfungsi. Faktor yang sangat berperan adalah sikap mental yaitu keinginan besar untuk mengetahui dan menggunakan inovasi tersebut; (2) Secara nyata petani Arfak telah mengalami perubahan sosial, budaya, dan orientasi ekonomi (masa transisi) dari masyarakat tradisional ke modern; (3) Faktor-faktor nilai sosial pendorong pengembangan petani Arfak adalah kemampuan berempati. Kekuatan pengganggu menghambat proses adopsi inovasi yaitu pesimistis, irasional, dan tidak berani mengambil resiko; (4) Konsep ladang berpindah bagi petani Arfak adalah bermakna sebagai: (a) kesuburan tanah, (b) pelestarian hayati, dan (c) ketersediaan pangan; (5) Petani Arfak memiliki konsep “Ketahanan Pangan” yaitu waspada terhadap: (a) tiga waktu tanam, (b) tanaman campuran (multicrop), dan (c) lumbung alam; (6) Produksi pertanian masyarakat Arfak lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan adat. Masih kuat kepercayaan terhadap kekuatan gaib “swanggi” yang menyebabkan mereka takut beraktivitas di luar rumah.

________________________

©Hak cipta milik IPB, tahun 2007 Hak cipta dilindungi

Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apa pun, baik cetak, fotokopi, mikrofilm, dan sebagainya

PENGADOPSIAN INOVASI PERTANIAN

SUKU PEDALAMAN ARFAK

(Kasus di Kabupaten Manokwari, Papua Barat)

M U L Y A D I

Disertasi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada

Program Mayor Ilmu Penyuluhan Pembangunan

SEKOLAH PASCASARJANA

Dokumen terkait