• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMAS

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Kesiapan Menikah, Pemenuhan Tugas Dasar, dan Tugas Krisis pada Keluarga Anak Prasekolah adalah karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, November 2011

Restystika Dianeswari

ABSTRACT

Restystika Dianeswari. Marital Readiness, Basic Task, and Crisis Task Fulfillment in Preschool Families. Supervised by Euis Sunarti.

The aimed of this research was to analyze the difference, correlation, and influence of marital readiness, basic task and crisis task fulfillment in preschool families. Ninety preschool families (children age three, four, and five years old) was chosen by simple random sampling in Bubulak, Bogor, East Java. This study showed a difference among marital readiness of husband and wife, where husband had higher score than wife. There was no significant correlation between marital readiness of husband, wife, and basic task of the family but positive correlation was found between husband’s marital readiness (intellectual, emotional, and social dimenssion), wife’s marital readiness (intellectual

dimenssion) and family crisis task. Husband’s marital readiness (intelectual and social readiness dimension) had a positif influence toward family crisis task. Keywords : basic task, crisis task, marital readiness, preschool, family

ABSTRAK

Restystika Dianeswari. Kesiapan Menikah, Pemenuhan Tugas Dasar, dan Tugas Krisis pada Keluarga Prasekolah. Dibimbing oleh Euis Sunarti.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan, hubungan, dan pengaruh kesiapan menikah, pemenuhan tugas dasar, dan tugas krisis pada keluarga prasekolah. Sebanyak 90 keluarga prasekolah (anak umur tiga, empat, dan lima tahun) dipilih di Desa Bubulak, Bogor, Jawa Barat dengan teknik simple random sampling. Penelitian ini menunjukkan perbedaan antara kesiapan menikah suami dan istri dengan nilai kesiapan menikah suami yang lebih tinggi daripada istri. Tidak ada hubungan yang signifikan antara kesiapan menikah suami, istri, dan pemenuhan tugas dasar keluarga tetapi hubungan yang positif terdapat diantara kesiapan menikah suami (dimensi intelektual, sosial, dan emosi), kesiapan menikah istri (dimensi kesiapan intelektual) dan pemenuhan tugas krisis keluarga. Kesiapan menikah suami (dimensi intelektual dan sosial) memiliki pengaruh positif terhadap pemenuhan tugas krisis keluarga.

RINGKASAN

RESTYSTIKA DIANESWARI. Kesiapan Menikah, Pemenuhan Tugas Dasar, dan Tugas Krisis pada Keluarga Prasekolah. Dibawah bimbingan EUIS SUNARTI.

Perkembangan sosial yang pesat dan kompleks menuntut keluarga untuk beradaptasi agar lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan tersebut. Untuk itu, individu yang akan menikah harus melakukan persiapan-persiapan sebelum berkeluarga agar menghasilkan keluarga yang sukses. Kesuksesan keluarga dapat dinilai melalui kesiapan menikah dari individu dan kemampuan keluarga dalam menjalankan tugas, fungsi, dan peran dalam keluarga. Fungsi keluarga mencakup tiga tugas yang merupakan langkah awal menuju kesuksesan keluarga, yaitu tugas dasar, perkembangan, dan krisis.

Tujuan umum dari penelitian ini adalah menganalisis kesiapan menikah, pemenuhan tugas dasar, dan tugas krisis pada keluarga anak prasekolah. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah mengidentifikasi tingkat kesiapan menikah suami dan istri, pemenuhan tugas dasar, dan tugas krisis pada keluarga anak prasekolah; menganalisis perbedaan kesiapan menikah suami dan istri pada keluarga anak prasekolah; menganalisis hubungan kesiapan menikah, pemenuhan tugas dasar, dan tugas krisis pada keluarga anak prasekolah; dan menganalisis pengaruh kesiapan menikah terhadap pemenuhan tugas krisis pada keluarga anak prasekolah. Penelitian

ini menggunakan disain cross setional study dengan waktu pengambilan data dari

bulan Juni hingga Juli 2011. Penelitian ini dilakukan di Desa Bubulak, Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, Bogor, Jawa Barat yang dipilih dengan metode purposive. Teknik pengambilan contoh dilakukan dengan simple random sampling dengan jumlah contoh sebanyak 90 keluarga dengan anak prasekolah. Data yang digunakan adalah data primer dengan bantuan kuesioner untuk membantu contoh

dalam melakukan recall kesiapan menikahnya, pemenuhan tugas dasar, dan tugas

krisis keluarga, sedangkan data sekunder didapatkan dari monografi desa. Kemudian,

data dianalisis secara deskriptif dan inferensia, yaitu uji hubungan Pearson, uji beda

t-test, dan uji linear berganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lama menikah suami dan istri adalah 5,13 tahun dengan usia menikah rata-rata suami adalah 27, 81 tahun dan 22,94 tahun untuk istri. Perbedaan yang signifikan terdapat pada umur menikah suami dan istri (p<0,01). Usia suami dan istri saat ini rata-rata adalah 32,94 dan 28,08 tahun. Lama pendidikan suami lebih tinggi daripada istri yaitu selama 9,74 tahun, sedangkan istri selama 8,84 tahun. Perbedaan yang signifikan terdapat antara lama pendidikan suami dan istri (p<0,05). Hampir separuh suami bekerja sebagai buruh (buruh bangunan, pabrik, dan penjaga warung) dan hampir seluruh istri tidak bekerja (ibu rumah tangga). Rata-rata pendapatan per kapita keluarga adalah Rp 482.000 dan masih terdapat 13,3 persen keluarga yang masih berada dibawah garis kemiskinan perkotaan di Provinsi Jawa Barat tahun 2010 menurut BPS.

Kesiapan menikah diukur melalui tujuh dimensi, yaitu kesiapan intelektual, sosial, emosi, moral, individu, finansial, dan mental. Dari tujuh dimensi tersebut, istri memiliki nilai yang lebih tinggi daripada suami hanya dalam kesiapan emosinya saja. Hal ini dikarenakan kemampuan perempuan dalam menjaga hubungan interpersonal dan mengekspresikan emosi yang lebih baik daripada laki-laki. Secara keseluruhan, rata-rata kesiapan suami lebih tinggi daripada istri dan terdapat perbedaan kesiapan menikah diantara keduanya (p<0,05).

dimasukkan ke dalam pernyataan karena anak-anak pada keluarga contoh belum memasuki pendidikan formal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga dapat memenuhi 96,2 persen pernyataan mengenai pemenuhan tugas dasar. Tiga pernyataan yang belum dipenuhi secara sempurna oleh keluarga, yaitu memiliki atap dan dinding yang kokoh (95,6%), memiliki pakaian yang berbeda untuk setiap kegiatan (91,1%), dan melakukan KB di klinik bagi istri (87,8%).

Tugas krisis merupakan periode krusial bagi keluarga yang terjadi sepanjang tahap perkembangan keluarga. Krisis ini terjadi ketika keluarga tidak mampu memenuhi tugas perkembangannya karena ketiadaan sumberdaya dalam keluarga. Terdapat dua krisis pada masa prasekolah, yaitu hilangnya privasi antara suami dan istri serta ketidakmampuan suami dan istri melakukan koping terhadap waktu, energi, dan perhatian terhadap kebutuhan kritis anak prasekolah. Keluarga dapat memenuhi rata-rata hampir separuh pernyataan mengenai tugas krisis (43,6%) dari 15 pernyataan mengenai tugas krisis. Sebanyak 80 persen keluarga mendapatkan dukungan pengasuhan dari keluarga. Hanya 20 persen ayah yang tidak memiliki waktu untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan.

Hasil uji korelasi Pearson tidak menunjukkan adanya hubungan antara

kesiapan menikah dan tugas dasar. Hubungan yang positif ditunjukkan pada kesiapan menikah suami terhadap pemenuhan tugas krisis keluarga (p<0,05). Apabila dilihat dari dimensi kesiapan menikah, terdapat hubungan antara kesiapan intelektual, emosi, dan sosial suami serta pemenuhan tugas krisis keluarga. Begitupula dengan kesiapan intelektual istri yang berhubungan dengan pemenuhan tugas krisis keluarga (p<0,05). Kesiapan intelektual yang tinggi akan memberikan akses lebih baik bagi keluarga untuk mendapatkan pekerjaan dan pendapatan yang lebih tinggi. Kesiapan sosial dan emosi diperlukan untuk mendapatkan dukungan dari keluarga, teman, dan kerabat lainnya dalam memenuhi tugas krisis keluarga.

Hasil uji pengaruh menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kesiapan intelekual dan sosial suami terhadap pemenuhan tugas krisis keluarga (p<0,05). Setiap kenaikan satu poin kesiapan intelektual suami, maka akan menaikkan pula pemenuhan tugas krisis keluarga sebanyak 0,262 poin. Begitupula dengan kesiapan sosial suami, setiap kenaikan satu poin kesiapan sosial suami maka akan menaikkan pula 0,313 poin pemenuhan tugas krisis keluarga. Model dalam penelitian ini menjelaskan 13,9 persen pengaruh kesiapan menikah terhadap pemenuhan tugas krisis keluarga dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam penelitian. Kesiapan sosial diperlukan bagi anggota keluarga untuk mendapatkan dukungan supaya dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam keluarga.

© Hak Cipta Milik IPB, tahun 2011 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,

penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan

yang wajar IPB

Dilarang mengumumkan dan memeperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

KESIAPAN MENIKAH, PEMENUHAN TUGAS DASAR, DAN KRISIS

Dokumen terkait