• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORIS

2.1 Kerangka Teori

2.1.6 Persepsi

Persepsi adalah proses yang digunakan individu mengelola dan menafsirkan kesan indera mereka dalam rangka memberikan makna kepada lingkungan mereka. Meski demikian apa yang dipersepsikan seseorang dapat berbeda dari kenyataan yang obyektif (Robbins, 2006). Menurut Daviddof, persepsi adalah suatu proses yang dilalui oleh suatu stimulus yang diterima panca indera yang kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan sehingga individu menyadari yang diinderanya itu. Atkinson dan Hilgard mengemukakan bahwa persepsi adalah proses dimana kita menafsirkan dan mengorganisasikan pola stimulus dalam lingkungan. Seba gai cara pandang, persepsi timbul karena adanya respon terhadap stimulus. Stimulus yang diterima seseorang sangat komplek, stimulus masuk ke dalam otak, kernudian diartikan, ditafsirkan serta diberi makna melalui proses yang rumit baru kemudian dihasilkan persepsi (Anonim, 2009).

Menurut Walgito, proses terjadinya persepsi tergantung dari pengalaman masa lalu dan pendidikan yang diperoleh individu. Proses pembentukan persepsi dijelaskan oleh Feigi sebagai pemaknaan hasil pengamatan yang diawali dengan adan ya stimuli. Setelah mendapat stimuli, pada tahap selanjutnya terjadi seleksi yang berinteraksi

dengan interpretation, begitu juga berinteraksi dengan closure. Proses seleksi terjadi pada saat seseorang memperoleh informasi, maka akan berlangsung proses penyeleksian pesan tentang mana pesan yang dianggap penting dan tidak penting. Proses closure terjadi ketika hasil seleksi tersebut akan disusun menjadi satu kesatuan yang berurutan dan bermakna, sedangkan interpretasi berlangsung ketika yang bersangkutan memberi tafsiran atau makna terhadap informasi tersebut secara menyeluruh (Anonim, 2009).

Dalam penelitian nantinya peneliti ingin melihat persepsi dari wisatawan Internasional yang berkunjung ke Bukit Lawang, berdasarkan informasi dan

pengalaman yang dimiliki dengan komunikasi yang mereka lakukan terhadap penduduk setempat. Untuk itu, dalam melihat berbagai aktifitas masyarakat setempat yang diketahui dengan cara mengamati dan berkomunikasi dengan warga setempat sehingga menimbulkan berbagai perspektif dengan 10 karakteristik sebagai berikut: ( Deddy Mulyana, 2005 : 58)

1) Komunikasi dan bahasa

Sistem komunikasi, verbal dan non verbal membedakan suatu kelompook dari kelompok lainnya. Terdapat banyak “bahasa asing” di dunia. Sejumlah bangsa memiliki limabelas atau lebih bahasa utama (dalam suatu kelompok bahasa terdapat dialek, aksen, logat, jargon dan ragam lainnya), lebuh jauh lagi makna yang diberikan kepada gerak-gerik, misalnya sering berbeda secara kultural. Meskipun bahasa tubuh mungkin universal, perwujudannya mungkin berada secara lokal. Subkultur-subkultur seperti kelopok militer, mempunyai peristilahan dan tanda-tanda yang menerobos batas-batas nasional (seperti gerakan menghormat , atau sistem kepangkatan).

2) Pakaian dan Penampilan

Ini merupakan pakaian dan dandanan (perhiasan) luar, juga dekorasi tubuh yang cenderung berbeda secara kultural. Kita mengetahui adanya kimoni Jepang, penutup kepala Afrika, payung inggris, sarung Polynesia, dan ikat kepala Indian Amerika. Beberapa suku bangsa mencorengi wajah-wajah mereka untuk bertempur, sementara sebahagian wanita menggunakan kosmetik untuk peralatan kecantikan. Banyak subkultur menggunakan pakaian yang khas-jeans sebagai pakaian kaum muda di seluruh dunia, seragam untuk sekelompok orang tertentu seperti anak-anak sekolah atau polisi. Dalam sub-kultur militer, adat istiadat dan peraturan-peraturan menentukan pakaian harian, panjang rambut, perlengkapan yang di pakai dan sebagainya.

3) Makanan dan Kebiasaan

Cara memilih, menyiapkan, menyajikan dan memakan makanan sering berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Orang-orang

Amerika menyenangi danging sapi, tapi sapi terlarang untuk orang-orang yang memeluk agama Hindu, sedangkan makanan yang terlarang bagi orang Islam dan Yahudi adalah daging babi, tapi daging babi boleh di makan bagi orang Cina dan lainnya. Di kota-kota metropolitan, restoran-restoran sering menjaikan makanan “nasional” tertentu untuk memenuhi selera budaya yang berlainan. Cara makan juga berbeda-beda. Ada orang yang makan dengan tangan saja, ada yang menggunakan sumpit, bahkan ada yang mengunakan seperangkat alat makan yang lengkap seperti sendok, garpu dan pisau. Dalam penggunaan alat makan itu sendiripun masih dapat dibedakan asal budayanya, seperti penggunaan garpu, cara orang Amerika dan orang Eropa memiliki perbedaan tersendiri. Subkultur-subkultur juga dapat dianalisis dari perspektif ini, seperti ruang makan eksekutif, asrama tentara, ruang minum teh wanita, restoran vegetarian, dan lainnya.

4) Waktu dan Kesadaraan Akan Waktu

Kesadaran akan waktu berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Sebagian orang tepat waktu dan sebagaian orang lainnya melalaikan waktu. Umumnya, orang-orang Jerman tepat waktu, sedang orang-orang di Amerika Latin lebih santai. Dalam beberapa budaya kesegeraan di tentukan oleh usia atau status – maka dibeberapa negeri orang-orang bawahan di harapkan datang tepat pada waktunya ketika menghadiri rapat staf, sedangkan bos orang yang terakhir kali tiba. Beberapa subkultur, seperti subkultur militer, mempunyai sistem waktu mereka sendiri dalam menandai waktu dua puluh empat jam. Waktu yang disebut pukul 1 siang oleh golongan sipil disebut pukul 13.00 oleh golongan militer. Dalam budaya-budaya demikian, kesegeraan dihargai. Namun ada penduduk-penduduk pribumi di beberapa negara lain yang tidak memperdulikan waktu yang terus berjalan baik dalam hitunganan menit bahkan jam, tetapi hanya menandai waktu mereka dengan terbit dan terbenamnya matahari.

Musim-musim sepanjang tahun juga beraneka ragam secara kultural. Beberapa wilayah di bumi menandai musim-musim tersebut dengan sebutan musim semi, musim dingin, musim pasan dan musim gugur, namun beberapa wilayah lainnya menandai musim-musim sepanjang tahun dengan musim hujan dan musim kemarau. Di Amerika Serikat misalnya, orang-orang yang tinggal di

wilayah Barat Tengah (Midwest) lebih menyadari adanya keempat musim tersebut, sementara mereka yang tinggal di wilayah Barat atau wilayah Barat laut cenderung mengabaikan keemapat musim tersebut, khususnya orang-orang yang berada di Kalifornia yang lebih memperhatikan bulan-bulan hujan dan lingsiran lumpur, atau bulan-bulan kering dan api yang membakar hutan.

5) Penghargaan dan Pengakuan

Suatu cara lain untuk mengamati budaya adalah dengan memperhatikan cara dan metode memberika pujian bagi perbuatan-perbuatan baik dan berani, lama pengabdian atau bentuk-bentuk lain penyelesaian tugas. Pengakuan bagi para prajurit perang adalah dengan membolehkan mereka menato tubuh mereka. Pengakuan-pengakuan lainnya bagi prajurit-prajurit perang yang berani itu adalah dengan memberi mereka topi perang, ikat pinggang bahkan intan permata. Dahulu celana panjang merupakan tanda kedewasaan bagi seorang anak laki-laki yang sedang tumbuh pada usia tertentu. Dalam subkultur bisnis, terdapat penghargaan-penghargaan untuk mengakui hak-hak istimewa kaum eksekutif seperti pemberian jamuan makan malam. Dalam subkultur kepolisian, penghargaan ini dapat berupa pemberian medali. Golongan militer menunjukkan pangkat dan jabatan dengan trip, pita, bintang jasa dan sebagainya. Jamuan makan untuk merayakan suatu keberhasialan juga beragam, sesuai dengan kultur dan subkulturnya masing-masing.

6) Hubungan-hubungan

Budaya juga mengatur hubungan manusia dan hubungan-hubungan organisasi berdasarkan usia, jenis kelamin, status, kewarganegaraan, kekayaan, kekuasaam, kebijaksanaan, dan lainnya. Unit keluarga merupalam wujud paling umum hubungan manusia, dan bentuknya bisa kecil dan bisa juga besar. Dalam suatu rumah tangga yang beragama Hindu suatu keluarga terdiri dari ayah, ibu, anak-anak, orang tua, paman-paman, bibi-bibi, dan saudara sepupu. Sebenarnya, letak ruangan seseorang dalam rumah-rumah demikian bisa juga diatur sedemikan rupa, seperti laki-laki berada disisi rumah, sedangkan wanita berada di sisi lainnya.

Dibeberapa negeri hubungan pernikahan lazimnya adalah monogami, sedangkan dinegeri lain mungkin poligami atau poliandri merupakan suatu hal yang biasa. Dalam budaya-budaya tertentu, orang yang harus dipatuhi dalam keluarga adalah lelaki yang merupakan suatu kepala dalam keluarga, dan hubungan yang sudah tetap ini meluas ke masyarakat. dalam beberapa budaya orang tua sering dianggap memiliki strata lebih tinggi, patut dihormati dan ada pula sebagian budaya yang menganggap orang tua dapat di jadikan seperti teman.

7) Nilai dan Norma

Sistem kebutuan bervariasi pula, sebagaimana prioritas-prioritas yang melekat pada suatu perilaku tertentu dalam kelompok. Mereka menginginkan kelangsungan hidup, menghargai usaha-usaha mengumpulkan makanan, penyediaan pakaian dan perumahan yang memadai, sementara mereka memiliki kebutuhan lebih tinggi dari materi, uang, gelar, pekerjaan, hukum dan keteraturan. Amerika adalah salah satu negeri yang berada dipertengahan revolusi nilai. Di sini orang-orang sangat mendambakan nilai-nilai lebih tinggi, seperti kualitas kehidupan, prestasi diri dan makna dalam pengalaman. Menarik untuk diperhatikan bahwa dalam beberapa budaya dikepulauan Pasifik, orang yang statusnya lebih tinggi, diharapkan pula untuk memberikan lebih banyak barang pribadinya.

Berdasarkan sistem nilai itu, suatu budaya menetapkan norma-norma perilaku bagi masyarakat yang bersangkutan. Aturan-aturan keangoraan ini bisa berkenaan dengan berbagai hal, mulai dari etika kerja atau kesenangan hingga kepatuhan mutlak atau kebolehan bagi anak-anak; dari penyerahan istri secara kaku kepada suaminya hingga kebebasan wanita secara total. Antropolog Ina Brown mengatakan,”orang-orang dalam budaya-budaya berbeda merasa senang, kepentingan, jengkel atau malu tentang hal-hal berbeda karena mereka mempersepsi situasi-situasi berdasarkan premis-premis yang berbeda pula. “Karena adat istiadat dipelajari, beberapa budaya menurut kejujuran dari anggota-anggota dari kelompok itu sendiri, namum menerima standar yang lebih luas dari orang-orang asing. Sebagian dari adat istiadat ini wujud pemberian hadiah,

upacara kelahiran, kematian, dan pernikahan; aturan untuk tidak mengaku orang lain, memperlihatkan rasa hormat, menyatakan sopan santun dan sebagainya.

8) Rasa Diri dan Ruang

Kenyamanan yang orang miliki dengan dirinya dapat diekspersikan secara berbeda oleh budaya. Identitas diri dan penghargaan dapat diwujudkan dengan sikap yang sederhana dalam suatu budaya, sementara dalam budaya lain ditujukan dengan perilaku yang agresif. Dalam budaya-budaya tertentu rasa kebebasan dan kreativitas dibalas oleh kerjasama dan konformitas kelompok. Orang-orang dari budaya tertentu, seperti orang Amerika, memiliki rasa ruang yang sangat membutuhkan jarak lebih besar antara individu dengan individu lainnya, sementara orang Amerika Latin dan orang-orang Vietnam menginginkan jarak lebih dekat lagi. Beberapa budaya yang sangat terstruktur dan formal, sementara budaya-budaya lain lebih lentur dan informal. Beberapa budaya sangat tertutup budaya lain lebih terbuka dan berubah . setiap budaya meresahkan diri dengan suatu cara yang unik.

9) Proses Mental dan Belajar

Beberapa budaya menekankan aspek pengembangan otak ketimbang aspek lainnya sehingga orang dapat mengamati perbedaan-perbedaan yang mencolok dalam cara orang-orang berpikir dan belajar. Antropolog Edward Hall berpendapat bahwa pikiran adalah budaya yang teristernalisasikan, dan prosesnya berkenaan dengan bagaimana orang mengorganisasikan dan memproses informasi. Kehidupan dalam suatu tempat tertentu menetapkan pahala dan hukum-hukum untuk memperlajari atau tidak mempelajari informasi tertentu, dan ini ditegaskan dan diperkuat oleh budaya di sana. Maka orang-orang Jerman menekankan logika, sedangkan orang-orang Jepang dan orang-orang Navaho menolak sistem Barat. Logika orang-orang Indian Hopi didasarkan pada pemeliharaan integritas sistem sosial mereka dan semua hubungan yang berkaitan dengan hal itu. Beberapa budaya menyukai berpikir abstrak dan konseptulasi, sementara budaya-budaya lain lebih menyukai mengapal diluar kepala dan belajar. Apa yang tampaknya universal adalah bahwa setiap budaya mempunyai

suatu proses berpikir, namun setiap budaya mewujudkan proses tersebut dengan cara yang berbeda.

10)Kepercayaan dan Sikap

Barangkali klasifikasi yang paling sulit adalah memastikan tema-tema kepercayaan utama sekelompok orang, dan bagaimana faktor ini serta faktor-faktor lainnya mempengaruhi sikap-sikap mereka terhadap diri mereka. Orang-orang dalam semua budaya tampaknya mempunyai perhatian terhadap hal-hal supernatural yang jelas dalam agama-agama dan praktik-pratik agama mereka. Budaya-budaya primitif misalnya. Mempunyai kepercayaan kepada makhluk-makhluk spiritual yang sering di sebut “animisme”. Dalam perkembangan manusia ada suatu evolusi yang jelas dalam bidang spiritual manusia, sehingga dewasa ini banyak orang modern menggunakan istilah-istilah seperti “kecerdasan kosmik” untuk menunjukkan kepercayaan mereka pada kekuatan-kekuatan transendental. Di antara kedua ekstrem dalam continuum spiritual ini tradisi-tradisi religius dalam berbagai budaya secara disadari atau tidak mempengaruhi sikap-sikap seseorang terhadap kehidupan, kematian dan kehidupan setelah mati. Budaya Barat tampaknya sangat di pengaruhi dengan tradisi-tradisi Yahudi – Kristen – Islam, sementara budaya-budaya Timur diperngaruhi oleh Budhisme, Konfusionisme, Taoisme dan Hinduisme. Agama, dalam batas-batas tertentu mengekspresikan filsafat kelompok-kelopok orang tentang fase-fase penting dalam kehidupan. Agama dipengaruhi oleh budaya budayapun dipengaruhi agama. Kedudukan wanita dalam masyarakat sering merupakan perwujudan dari kepercayaan kepercayaan tersebut. Dalam beberapa masyarakat wanita deperlakukan sederajat dengan lelaki. Dalam beberapa masyarakat lain wanita tunduk pada lelaki dan diperlakukan tidak selayaknya wanita melaikan sebuah barang. Sistem kepercayaa agama sekelompok orang agak bergantung pada tingkat perkembangan kemanusiaan mereka. Suku-suku bangsa primitif cenderung percaya kepada ketahayulan dan praktik sihir merupakan suatu hal yang biasa, sebagian agama sangat terikat pada tingkat perkembangan pertanian, sementara banyak orang yang sudah mengenal teknologi maju yang tampaknya

semakin menjauhi agama, mengganti kepercayaan pada agama-agama tradisional dengan kepercayaan kepada ilmu pengetahuan.

Kesepuluh klasifikasi yang di uraikan diatas merupakan suatu model yang sederhana untuk menilai suatu budaya tertentu. Model ini adalah suatu paradigma, atau tatanan mental untuk mengevaluasi karakteristik-karaketristik budaya tertentu. Sehingga dapat mempermudah peneliti dalam mengetaui paradigma ataupun pandangan dari wisatawan terhadap penduduk setempat di Bukit Lawang

Dokumen terkait