• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Para Pihak Mengenai Pemanfaatan Sumberdaya Hutan

Persepsi masyarakat tentang TN Baluran merupakan wujud dari pemahaman mereka yang terolah menurut sejarah kedatangan dan aktivitasnya selama bertahun-tahun. Persepsi ini dipengaruhi oleh pengalaman, penilaian, kepercayaan, sikap, keadaan sosial dan ekonomi serta harapannya di masa depan. Persepsi juga melibatkan pengertian kesadaran, makna atau suatu penghargaan terhadap obyek tersebut. MacKinnon et al. (1993), menyatakan bahwa keberhasilan pengelolaan kawasan dilindungi banyak bergantung pada kadar dukungan dan penghargaan yang diberikan kepada kawasan tersebut oleh masyarakat sekitar. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengetahui persepsi masyarakat desa penyangga TN Baluran khususnya para pemanfaat sumberdaya hutan dalam rangka keberhasilan pengelolaan TN Baluran.

Persepsi masyarakat diketahui dengan melakukan wawancara kepada pemanfaat sumberdaya hutan TN Baluran yang memiliki ketergantungan dengan kawasan tersebut. Pertanyaan diawali dengan pengetahuan tentang TN Baluran di dekat tempat tinggalnya. Pengetahuan yang dimaksud tidak dibatasi pada istilah taman nasional saja tetapi tergantung dari istilah yang diketahui. Selanjutnya menyangkut persepsi mereka tentang larangan- larangan dalam pemanfaatan sumberdaya hutan TN Baluran. Selain itu, ditanyakan mengenai harapan- harapan mereka dengan keberadaan TN Baluran. Secara tidak langsung, persepsi masyarakat juga meliputi persepsi sumberdaya alam di dalamnya, dan tentang pengelola atau petugas-petugas taman nasional.

Tabel 20. Persepsi Pemanfaat Sumberdaya Hutan

No Persepsi Pemanfaat Sumberdaya Hutan Jumlah Persentase (%)

1 Pengetahuan mengenai keberadaan TN Baluran

ØMengenal istilah taman nasional

ØTidak mengenal istilah taman nasional

92 58

61,33 38,67 2 Larangan-larangan dalam pemanfaatan sumberdaya hutan TN

Baluran

ØPemanfaatan sumberdaya hutan merupakan kegiatan yang tidak diperbolehkan

ØPemanfaatan sumberdaya hutan merupakan kegiatan yang diperbolehkan

38

111

25,33

74,00

3 Harapan dengan Keberadaan TN Baluran

ØMengemukakan harapan

ØTidak mengemukakan harapan

130 20

86,67 13,33

Sebagian besar pemanfaat sumberdaya hutan yang diwawancarai (61,33%) mengetahui adanya taman nasional tetapi mereka belum paham arti dari TN Baluran bahkan ada yang tidak mengenal istilah taman nasional. Mereka menganggap bahwa TN Baluran sebagai hutan lindung dengan pengertian fungsi perlindungan yang belum mereka ketahui.

Sebanyak 74,00% pemanfaat sumberdaya hutan menyatakan bahwa kegiatan yang mereka lakukan (pemanfaatan hasil hutan TN Baluran) merupakan kegiatan yang diperbolehkan karena mereka mengambil sumberdaya hutan tanpa merusak kawasan tersebut. Larangan- larangan yang mereka ketahui dan merusak kawasan antara lain larangan untuk menebang pohon, larangan membunuh satwa atau berburu seperti rusa, banteng, burung, ayam hutan dan sebagainya serta larangan merambah hutan. Mereka mengakui hanya melakukan pemungutan sumberdaya hutan yang aman dan tidak melakukan pengrusakan apapun. Bahkan mereka berpendapat, “tidak ada salahnya mengambil sumberdaya hutan yang kami butuhkan daripada dibiarkan di lantai hutan tidak bermanfaat”. Sedangkan 25,33% pemanfaat sumberdaya hutan mengakui bahwa kegiatan yang mereka lakukan tersebut merupakan kegiatan yang tidak diperbolehkan. Tetapi mereka tetap melakukannya karena terbentur dengan masalah ekonomi. Mereka sangat mengantungkan hidupnya dari kawasan TN Baluran.

Selain persepsi-persepsi yang telah disebutkan di atas, pemanfaat sumberdaya hutan (86,67%) mengemukakan harapannya dengan keberadaan TN Baluran. Dengan kondisi ekonomi yang cukup memprihatinkan, tidak mungkin masyarakat desa penyangga TN Baluran terlepas dari kawasan tersebut. Mereka sangat menggantungkan hidupnya pada kawasan TN Baluran sehingga mereka berharap bahwa kawasan TN Baluran bisa memberikan manfaat agar kesejahteraan masyarakat meningkat tanpa adanya suatu penghalang. Masyarakat berharap pengelola atau petugas TN Baluran dapat memperhatikan kepentingan masyarakat. Pada umumnya pemanfaat sumberdaya hutan juga mengemukakan bahwa hubungan mereka dengan pengelola atau petugas taman nasional sangatlah kaku, para pemanfaat sumberdaya hutan memandang petugas taman nasional sebagai petugas yang disegani dan penghalang mereka untuk memasuki kawasan dan memanfaatkan sumberdaya hutan yang ada di taman nasional. Oleh karena

itu, mereka berharap pengelola atau petugas taman nasional dapat bersosialisasi dengan masyarakat sehingga dapat bertukar informasi mengenai pengelolaan TN Baluran. Mereka pun bersedia jika suatu saat diminta oleh pihak pengelola untuk kerjasama dalam pengembangan pengelolaan taman nasional. Karena mereka mengakui bahwa kelestarian TN Baluran merupakan tanggungjawab bersama bukan hanya petugas atau pengelola TN Baluran saja. Selain itu, masyarakat menanggapi bahwa bantuan yang pernah diberikan kepada Desa Wonorejo dan Desa Sumberwaru baik itu berupa ternak maupun bantuan dalam pengembangan usaha ekonomi yang lainnya sangatlah berarti bagi masyarakat desa penyangga TN Baluran.

Pemerintah desa penyangga TN Baluran pun pada umumnya mengharapkan agar pengelola atau petugas TN Baluran memperhatikan masyarakatnya karena bagaimana pun TN Baluran berbatasan dengan kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada kawasan tersebut. Suatu kerjasama antara pemerintahan desa dengan pihak pengelola taman nasional sangatlah mereka harapkan. Pemerintahan desa berpendapat bahwa segala sesuatu yang menyangkut masyarakatnya akan lebih baik jika dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan pemerintah desa. Oleh karena itu, peran Pemda setempat dalam hal ini pemerintah desa merupakan bagian penting dalam pengelolaan TN Baluran.

D. 2. Persepsi Pengelola TN Baluran

Para petugas atau pengelola TN Baluran mengetahui adanya pemanfaatan sumberdaya hutan yang dilakukan masyarakat desa penyangga di dalam kawasan TN Baluran. Hal ini mereka anggap sebagai tindakan yang jelas tidak diperbolehkan. Karena dapat mengancam kelestarian dan menimbulkan kerusakan sumberdaya taman nasional. Mereka pun mengemukakan berbagai konteks kerusakan yang terjadi selama ini dengan adanya pemanfaatan sumberdaya hutan, diantaranya ekosistem dan habitat satwa menjadi rusak, menimbulkan kebakaran hutan, memicu perburuan liar, memicu pencurian dan penjarahan sumberdaya hutan baik kayu maupun non kayu yang tidak terkendali.

Dalam skala pemanfaatan yang ringan, petugas atau pengelola akan memberikan pengarahan dan peringatan terhadap pengambil sumberdaya hutan,

tetapi jika pemanfaatan yang dilakukan dalam skala yang berat seperti pengambil kayu rimba, pengambil daun gebang, dan pengambil yang tidak terkendali maka petugas tidak segan untuk memprosesnya sesuai dengan hukum yang berlaku. Tetapi walau bagaimana pun dengan melihat kondisi masyarakat ada sebagian pelanggaran yang masih ditolerir oleh petugas misalnya untuk pengambil rumput, rambanan, kayu bakar, biji akasia, asam, ikan, kroto dan sumberdaya hutan lainnya yang dipungut secara aman tanpa merusak fungsi kawasan itu sendiri.

Berbagai upaya terus dilakukan oleh pihak pengelola dalam rangka mengurangi pengambilan sumberdaya hutan antara lain adanya patroli, pendekatan terhadap tokoh-tokoh masyarakat maupun pembinaan daerah penyangga. Pembinaan daerah penyangga yang selama ini pernah dilakukan diantaranya :

a. Tahun 2000, adanya bantuan ternak kambing pada dua desa yaitu Desa Sumberwaru (Dusun Blangguan) dan Desa Wonorejo (Dusun Kendal). Bantuan ini ternyata tidak mengurangi pengambilan sumberdaya hutan karena untuk mendapatkan pakan ternak tersebut masih bergantung pada kawasan TN Baluran. Terlebih lagi dengan ternak tersebut volume penggembalaan justru meningkat.

b. Tahun 2002, dikembangkan lagi pembinaan daerah penyangga yang tidak memicu aktivitas dalam kawasan TN Baluran yaitu pengembangan kesenian dalam bentuk bantuan peralatan musik yang diberikan kepada kelompok musik yang telah ada organisasinya dan membutuhkan bantuan dalam rangka pengembangannya. Desa yang mendapatkan bantuan tersebut yaitu Desa Sumberwaru dengan bantuan alat musik hadrah dan Desa Wonorejo dengan bantuan alat musik band. Bantuan ini dimaksudkan agar masyarakat dapat mengembangkan budaya yang ada, sebagai wadah untuk menggalang prestasi, adanya terobosan baru bagi masyarakat untuk dapat meningkatkan tingkat sosial ekonominya sehingga tidak bergantung terhadap potensi TN Baluran serta sebagai sarana promosi potensi dan manfaat TN Baluran. Pada tahun yang sama juga adanya bantuan mesin pompa air untuk Desa Sumberwaru yang diberikan kepada kelompok tani yang telah dibentuk wadah

organisasinya. Hal ini juga dimaksudkan untuk mengurangi aktivitas masyarakat dalam mengambil sumberdaya hutan di kawasan TN Baluran. c. Tahun 2003, jenis bantuan daerah penyangga untuk Desa Wonorejo yang

diberikan berupa bantuan pembuatan gudang dan pengadaan peralatan serta bahan pembuatan pupuk bokashi serta bantuan peralatan dan bahan pengembangan usaha pembuatan keripik singkong dan tempe. Hal ini merupakan terobosan baru yang dapat dikomersilkan mengingat di desa penyangga kawasan TN Baluran banyak ternak dan tanaman singkong. Bantuan tersebut juga dapat mengurangi penggembalaan di kawasan TN Baluran dan mendukung upaya peningkatan produksi pertanian. Selain itu juga menjaring lapisan masyarakat yang pengangguran dan dapat dijadikan sebagai media promosi potensi pariwisata khususnya obyek wisata TN Baluran melalui kemasannya.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Pada kelompok umur, persentase pemanfaat sumberdaya hutan terbesar didominasi oleh pemanfaat dengan usia 28-55 tahun yaitu sebesar 84,00%. Pemanfaat sumberdaya hutan sebanyak 90,66% memiliki jumlah anggota keluarga 3-6 orang. Sebagian besar pemanfaat sumberdaya hutan berlatar belakang Sekolah Dasar (baik tamat maupun tidak tamat) sebesar 70,00%. Pemanfaat sumberdaya hutan tertinggi bermata pencaharian sebagai buruh tani (59,33%). Sebanyak 46,00% pemanfaat sumberdaya hutan memiliki pendapatan di luar sumberdaya hutan sebesar Rp. 30.000,00 sampai Rp. 90.000,00/bulan.

2. Jenis-jenis sumberdaya hutan dan persentase pemanfaat desa penyangga TN Baluran antara lain kayu bakar (20,74%), rumput (18,09%), rambanan (15,16%), biji akasia (9,84%), daun gebang (8,24%), ikan (7,18%), asam (6,38%), kroto (4,52%), madu (2,93%), biji gebang/kelanting (2,66%), kemiri (2,39%), dan gadung (1,36%).

3. Nilai pemanfaatan sumberdaya hutan oleh masyarakat desa penyangga TN Baluran relatif cukup besar yaitu Rp. 613.026.278,90/tahun. Kayu bakar adalah sumberdaya hutan yang paling banyak dimanfaatkan dengan nilai pemanfaatan Rp. 147.691.760,10/tahun. Sedangkan tingkat ketergantungan masyarakat pemanfaat desa penyangga terhadap sumberdaya hutan TN Baluran secara umum sebesar 68,98% dan kontribusi nominal absolut paling tinggi yaitu pemanfaat berpendapatan tinggi (Rp. 7.739.800,00/thn).

4. Terdapat perbedaan persepsi antara masyarakat yang memanfaatkan sumberdaya hutan dalam kawasan TN Baluran dengan pengelola kawasan TN Baluran. Perbedaan persepsi ini sangat bertentangan dengan harapan para pihak khususnya masyarakat pemanfaat sumberdaya hutan TN Baluran.

Dokumen terkait