• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENGGABUNGAN BADAN USAHA DAN AKIBAT

3. Persyaratan dalam Melakukan Penggabungan Badan

Dalam hal ini dikeluarkannya Peraturan Pemerintah tersebut ditujukan agar terdapatnya keselarasan terkait pengaturan penggabungan badan usaha di Indonesia.

Syarat adanya penggabungan badan usaha suatu perusahaan telah diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1998 tentang Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas. Merujuk kepada ketentuan Pasal 4 Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1998 tersebut, dapat ditelisik bahwa

88Susanti Adi Nugroho,Op.Cit.,hlm.503.

89Ibid, hlm.515.

untuk dapat memperoleh izin penggabungan badan usaha harus diperhatikan persyaratan sebagai berikut:90

1. Harus memperhatikan kepentingan perseroan, kreditur, pemegang saham minoritas, dan karyawan perseroan yang bersangkutan serta kepentingan masyarakat dan persaingan sehat dalam melakukan usaha.

2. Hanya dapat dilakukan dengan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dihadiri oleh pemegang saham yang mewakili paling sedikit 3/4 (tiga perempat) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara yang sah disetujui oleh paling sedikit 3/4 (tiga perempat) bagian dari jumlah suara tersebut.

3. Tidak mengurangi hak pemegang saham minoritas untuk menjual sahamnya dengan harga yang wajar, dan terhadap pemegang saham yang tidak setuju terhadap keputusan RUPS untuk melakukan penggabungan badan usaha, hanya dapat menggunakan haknya agar saham yang dimilikinya dibeli dengan harga yang wajar sesuai dengan ketentuan Pasal 126 UU Perseroan Terbatas.

4. Penggabungan badan usaha di bidang perbankan91

90PP No. 27 Tahun 1998 tentang Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas, Pasal 4, 5, dan 6.

91PP No. 28 Tahun 1999 tentang Merger, Konsolidasi dan Akuisisi Bank, Pasal 8.

dapat dilakukan atas inisiatif bank bersangkutan, permintaan Bank Indonesia, serta inisiatif badan khusus yang bersifat sementara dalam rangka penyehatan perbankan.

5. Telah memperoleh persetujuan dari RUPS bagi bank yang berbentuk perseroan terbatas atau rapat sejenis bagi bank yang berbentuk hukum lainnya.

6. Pada saat terjadinya penggabungan badan usaha, jumlah aktiva bank hasil penggabungan tidak melebihi 20% dari jumlah aktiva seluruh bank di Indonesia.

7. Permodalan bank hasil penggabungan badan usaha harus memenuhi ketentuan rasio kecukupan modal yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

8. Calon anggota direksi dan dewan komisaris yang ditunjuk tidak tercantum dalam daftar orang yang melakukan perbuatan tercela dibidang perbankan.

Berdasarkan penjabaran tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam melakukan suatu penggabungan badan usaha yang dilakukan oleh dua atau lebih badan usaha, harus memperhatikan beberapa kepentingan perusahaan baik dari segi pemegang saham maupun tenaga kerja. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1999, menegaskan bahwa dalam melakukan penggabungan suatu badan usaha harus dilakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan jumlah pemegang saham yang setuju untuk dilakukannya penggabungan badan usaha ialah 3/4 (tiga perempat), dan berkaca kepada ketentuan Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2010 dalam melakukan suatu penggabungan badan usaha tidak diperkenankan untuk dilakukan apabila dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

4. Pre-Evaluasi dan Post-Evaluasi dalam Melakukan Penggabungan Badan Usaha

Sebelum terbitnya Peraturan KPPU No. 2 Tahun 2013 sebagai pedoman dari PP No. 57 Tahun 2010, terkait Pedoman Pelaksanaan Merger, Konsolidasi, dan Akuisisi terjadi perdebatan mengenai ketentuan pemberitahuan selama 30 hari tersebut. Sebagaimana amanat pasal 29 Ayat (1) UU No. 5 Tahun 1999 telah dijelaskan bahwa penggabungan yang dilakukan oleh suatu pelaku usaha wajib diberitahukan kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha, selambat-lambatnya 30 hari (tiga puluh hari) semenjak tanggal penggabungan.92 Dengan demikian berdasarkan pada ketentuan Pasal 29 UU No. 5 Tahun 1999, Pasal 5 dan Pasal 10 PP No. 57 Tahun 2010, dalam pengendalian penggabungan badan usaha terdapat dua sistem evaluasi, yaitu pra-evaluasi (konsultasi yang bersifat sukarela) dan post-evaluasi (pemberitahuan yang bersifat wajib).93

Sistem pra-evaluasi dimaksudkan sebagai notifikasi yang disampaikan oleh pelaku usaha kepada otoritas persaingan sebelum mereka menutup transaksi.

Sementara sistem post-evaluasi dimaksudkan sebagai notifikasi oleh pelaku usaha kepada otoritas persaingan usaha sesudah transaksi ditutup.94 Dalam pedoman KPPU, pre-notifikasi disebut dengan pre-evaluasi dan post-notifikasi disebut dengan post-evaluasi.95

92Susanti Adi Nugroho,Op.Cit., hlm. 521.

93Catur Agus Saptono dan Suparji, Op.Cit., hlm. 63.

94Mohammad Reza, Implikasi dan Tantangan Pengendalian Merger dalam Sistem Hukum Persaingan Usaha, (Jakarta: Tesis Universitas Indonesia, 2010), hlm. 92.

95Peraturan No. 13 Tahun 2010 Op.Cit., Lampiran Bab II. hlm. 10.

a. Konsultasi (Pra-evaluasi)

Konsultasi atas rencana penggabungan badan usaha dilaksanakan berdasarkan Peraturan KPPU No. 11 Tahun 2010 tentang Konsultasi Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan Saham. Yang mana syarat konsultasi yang harus terpenuhi adalah:96

1. Syarat konsultasi, yang dalam hal ini harus memenuhi ketentuan adanya dokumen penggabungan badan usaha tertulis, batasan nilai pemberitahuan, penggabungan badan usaha antar perusahaan yang tidak terafiliasi, dan penggabungan badan usaha asing.

2. Waktu konsultasi, tidak ada batasan waktu kapan konsultasi dapat dilakukan kepada KPPU, oleh karena itu konsultasi dapat dilakukan pada tahap apapun sebelum penggabungan badan usaha selesai dilaksanakan.

3. Prosedur konsultasi, yang terdiri atas pelaku usaha yang memenuhi syarat konsultasi baik tertulis maupun secara lisan kepada KPPU, konsultasi dilakukan dengan mengisi formulir M2, wajib menyertakan dokumen-dokumen yang menjadi persyaratan.

b. Pemberitahuan (Post-Evaluasi)

Pemberitahuan setelah dilakukannya merger tanpa melalui konsultasi oleh KPPU bersifat wajib untuk dilakukan, dalam hal ini suatu pelaku usaha yang melakukan penggabungan badan usaha dengan

96Catur Agus Saptono dan Suparji, Op.Cit., hlm. 69.

memenuhi ketentuan:97

5. Dampak Positif dan Negatif Penggabungan Badan Usaha

Batasan nilai (threshold), penggabungan badan usaha antarperusahaan yang tidak terafiliasi, penggabungan badan usaha asing, serta waktu dan prosedur pemberitahuan.

Seperti diketahui bersama tujuan penggabungan badan usaha adalah untuk meningkatkan pertumbuhan dan ekspansi aset perseroan, peningkatan penjualan, dan ekspansi pangsa pasar pihak yang melakukan merger atau akuisisi. Tujuan-tujuan tersebut merupakan Tujuan-tujuan jangka menengah. Tujuan yang lebih mendasar adalah pengembangan kekayaan para pemegang saham melalui penggabungan dan akuisisi yang ditujukan pada pengaksesan atau penciptaan keunggulan kompetitif yang dapat diandalkan bagi perseroan yang melakukan penggabungan dan akuisisi. Menurut Ross, Westerfield, dan Jordan dalam teori keuangan modern, menyebutkan bahwa memaksimalkan kekayaan pemegang saham dianggap sebagai kriteria rasional untuk investasi dan keputusan finansial yang dibuat oleh para manager.98

Penggabungan badan usaha menurut Desak Agung Oka Suardewi, memiliki segi positif dan segi negatif. Segi positif dari penggabungan usaha adalah sebagai berikut :99

1. Dengan skala usaha yang relatif besar, konglomerat dapatmenikmati dan memanfaatkan economies of scale100

97Ibid, hlm.64.

98Kamaludin dkk, Restruktuisasi Merger dan Akuisisi, (Bandung: Mandar Maju, 2015), hlm.45-46.

99Ibid, hlm. 52.

.

2. Dengan melaksanakan diversifikasi setiap perusahaan yang beradadibawah kepemilikan konglomerat dapat menikmati dan memanfaatkan external economies101

3. Dengan melakukan diversifikasi usaha dan ditunjang dengan skalausaha yang relatif besar, dapat meningkatkan profesionalisme danmempercepat penguasaan alih teknologi.

karena terbukanya peluanguntuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas yang padagilirannya akan mendatangkan laba yang memuaskan.

4. Dengan efisiensi dan produktifitas yang lebih tinggi padagilirannya dapat meningkatkan ekspor, menciptakan danmemperluas kesempatan kerja serta mendukung industrialisasi.

5. Bargaining position102

6. Dari segi manajemen, sentralisasi pengambilan keputusanmengandung aspek positif seperti pengambilan keputusan yangcenderung lebih cepat, berpandangan jauh kedepan danberwawasan luas.

atau posisi tawar yang lebih kuat.

Kemudian beberapa aspek negatif yang terdapat dalam penggabungan badan usaha, yaitu:103

1. Apabila penggabungan usaha tidak dibatasi dalam jenis dan skalausahanya, maka cenderung dapat menimbulkan free fight

100Catur Agus Saptono, Op.Cit., hlm. 46. Memberikan definisi economies of scale sebagai suatu keuntungan yang diperoleh karena adanya suatu peningkatan produksi, dan peningkatan output.

101Budi Kagramanto, Op.Cit., hlm. 27. Menjelaskan external economies yakni, faktor-faktor luar yang mempengaruhi suatu perusahaan tunggal yang mengakibatkan peningkatan biaya rata-rata jangka panjang dari perusahaan-perusahaan dalam situasi industri secara keseluruhan.

102Susanti Adi Nugroho, Op.Cit., hlm 39. Menjelaskan bargaining position, yang secara harfiah memiliki pengertian sebagai posisi tawar menawar. Dalm hal ini bargaining position yang kuat dapat menentukan harga tawar menawar di suatu pangsa pasar.

103Ibid, hlm. 53.

liberalism104

2. Sentralisasi pengambilan keputusan dapat dimanfaatkan untukmelakukan manipulasi pelaporan hasil usaha, pelaporan kekayaanperusahaan maupun manipulasi melalui transfer pricing

, yang pada akhirnya bermuara pada struktur pasar baruyang monopolistis.

105

3. Integrasi Horisontal dengan tujuan mengurangi jumlah pesaingmaupun vertikal dengan tujuan membatasi kemampuan pesaingmelalui penguasaan sejumlah mata rantai produksi dari hulusampai hilir dapat berdampak kepada melemahnya mekanismepasar yang menjurus kepada monopoli.

.

4. Dengan adanya sentralisasi pengambilan keputusan, makakepentingan tiap perusahaan anak disubordinasikan padakepentingan perusahaan induk yang pada gilirannya dapatberdampak negatif dan destruktif, seperti peluang yang semakinbesar dan mudah untuk membentuk semacam trust dan kartel.Kondisi ini juga memungkinkan terbentuknya kepentingan para pihak diantara konglomerat yang tidak sejalan dengankepentingan nasional.

5. Kecenderungan timbulnya praktik timbal balik atau reprocity yakni penciptaankondisi yang memungkinkan kesepakatan sejumlah perusahaanyang tergabung, untuk saling membeli barang dan jasa yangdihasilkan masing-masing perusahaan tersebut tanpamempertimbangkan keadaan pasaran, sehingga membatasi

104Catur Agus Saptono dan Suparji, Op.Cit., hlm. 20 menjelaskan free fight liberalism, adalah sistem ekonomi dengan kebebasan individu, yang artinya memberikan kebebasan individu untuk melakukan kegiatan ekonomi tanpa pembatasan yang nantinya dituntut agar dapat menghasilkan sesuatu yang baik yang dapat menguntungkan negara.

105Budi Kagramanto, Op.Cit., hlm. 41. Menjelaskan transfer pricing, sebagai harga yang dibebankan satuan usaha individual dalam suatu perseroan multisatuan usaha atas transaksi diantara mereka sendiri.

ataumeniadakan akses pasar bagi pesaing. Apabila kondisi ini semakinberkembang maka dapat menimbulkan ketimpangan ekonomiterutama terdesaknya usaha-usaha kecil dan menengah.

B. Posisi Dominan yang timbul dalam Penggabungan Badan Usaha 1. Pengertian Posisi Dominan Secara Umum

Secara umum posisi dominan memiliki definisi sebagai suatu keadaan dimana pelaku usaha yang mempunyai pangsa (share) besar dalam pasar, yang dapat memengaruhi harga pasar dengan memperbanyak produksinya.106 Pelaku usaha yang memiliki posisi dominan ini lebih sering berperan sebagai penentu harga (price setter), dibandingkan sebagai pengikut harga (price taker), dan oleh karenanya mempunyai kekuatan pasar (market power) yang besar. Sebaliknya pelaku usaha yang lebih kecil mempunyai peranan yang kecil dan akan bertindak sebagai price taker.107

Apabila merujuk terhadap pengaturan terkait yang mengatur tentang posisi dominan, maka yang dimaksud dengan posisi dominan merujuk kepada Pasal 1 ayat (4) UU No. 5 Tahun 1999 adalah, keadaaan di mana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing yang berarti di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan pangsa pasar yang dikuasai atau pelaku usaha mempunyai posisi tertinggi diantara pesaingnya di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan kemampuan keuangan, kemampuan akses pada pasokan, atau penjualan serta kemampuan untuk menyesuaikan pasokan atau permintaan barang atau jasa tertentu.108

106Mohammad Reza, Op.Cit., hlm. 81.

107Susanti Adi Nugroho,Op.Cit., hlm. 390.

108Ahmad Yani,Op.Cit.,hlm. 37.

Melalui definisi tersebut meskipun tidak dikorelasikan secara langsung, dapat dilihat

bahwa suatu posisi dominan cenderung dimiliki oleh pelaku usaha yang secara fisik telah menguasai pangsa pasar secara dominan. Tanpa adanya penguasaan pangsa pasar yang dominan tidak mungkin suatu pelaku usaha tertentu dapat memiliki posisi dominan atas pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha lain yang menjadi pesaingnya.

Berdasarkan ketentuan UU No. 5 Tahun 1999 suatu pelaku usaha dianggap memiliki posisi dominan apabila suatu pelaku usaha menguasai 50% (lima puluh persen) atau apabila suatu kelompok pelaku usaha menguasai 75% (tujuh puluh lima persen) atau lebih pangsa pasar.109 Dengan demikian posisi dominan memang didefinisikan untuk mencerminkan siapa sebenarnya “penguasa pasar”

dari suatu produk tertentu. Dengan mengetahui posisi dominan, dapat diketahui apakah suatu pasar masih cukup heterogen dengan penguasaan berimbang oleh beberapa pelaku usaha atau pasar sudah cenderung homogen dengan produk dari pelaku usaha tertentu.110

a. Posisi Dominan yang bersifat umum

Merujuk terhadap ketentuan UU No. 5 Tahun 1999 terdapat 4 bentuk posisi dominan yang dilarang karena dapat menimbulkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, yang diantaranya:

109UU No. 5 Tahun 1999, Op.Cit., Pasal 25 ayat (1).

110Ahmad Yani, Op.Cit., hlm. 38.

Dalam ketentuan ini dijabarkan bahwa suatu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha yang memiliki posisi dominan tidak diperbolehkan menggunakan posisi dominan tersebut baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk menetapkan syarat-syarat perdagangan guna mencegah dan atau menghalangi konsumen memperoleh produk yang bersaing baik dari harga maupun kualitas, membatasi pasar yang bersangkutan dari pengembangan teknologi, dan menghambat suatu pelaku usaha lain untuk memasuki pangsa pasar yang bersangkutan yang berpotensi untuk menjadi pesaing.111 Ketiga hal tersebut diatas digolongkan sebagai syarat penghalang yang dapat menciptakan iklim persaingan usaha tidak sehat. Apabila unsur adanya posisi dominan yang menyertakan beberapa persyaratan pangsa pasar, maka hal tersebut sudah memenuhi kategori Pasal 25 UU No. 5 Tahun 1999 dan dapat dinyatakan menyalahgunakan posisinya tersebut, hal ini disebut juga sebagai per se illegal dimana pengadilan tidak memerlukan pembuktian lebih lanjut terhadap perbuatannya tersebut.112

b. Posisi dominan karena jabatan rangkap

Selain melarang suatu kegiatan monopoli yang timbul dari adanya posisi dominan yang dimiliki oleh suatu pelaku usaha, UU No. 5 Tahun 1999 juga mengatur mengenai larangan terjadinya bentuk-bentuk hubungan terafiliasi yang melarang seseorang memiliki jabatan rangkap.113

111Ibid, hlm. 40.

112Munir Fuady, Hukum Anti Monopoli: Menyongsong Era Persaingan Sehat, (Bandung:

Citra Aditya Bakti, 2011), hlm. 85.

113UU No. 5 Tahun 1999, Op.Cit., Pasal 26.

Pasal 26 yang mengatur tentang jabatan rangkap yaitu penyalahgunaan posisi dominan yang dapat dilakukan melalui seseorang yang menduduki jabatan sebagai direksi atau komisaris dari

suatu perusahaan, pada waktu yang bersamaan dilarang merangkap menjadi direksi atau komisaris pada perusahaan lain (interlocking directore)114

1. Berada dalam pasar bersangkutan yang sama; atau

, apabila perusahaan-perusahaan tersebut:

2. Memiliki keterkaitan yang erat dalam bidang dan atau jenis usaha;

atau;

3. Secara bersama dapat menguasai pangsa pasar barang dan atau jasa tertentu, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

c. Posisi dominan karena kepemilikan saham mayoritas

Kepemilikan saham seseorang disuatu perusahaan juga membuka suatu peluang terjadinya posisi dominan yang dapat menimbulkan praktik monopoli.

Pada dasarnya pelarangan kepemilikan saham mayoritas pada perusahaan-perusahaan sejenis yang melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar yang sama pula.115

114Ningrum Natasya Sirait, Op.Cit., hlm.102.

115Munir Fuady, Op.Cit., hlm.86.

Pasal 27 UU No. 5 Tahun 1999 melarang dengan tegas pelaku usaha untuk memiliki saham mayoritas yang dapat mengakibatkan suatu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang tertentu, dan melarang dua atau tida pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.

d. Posisi dominan karena penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan saham

Pasal 28 UU No. 5 Tahun 1999 secara tegas melarang suatu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha untuk melakukan penggabungan, peleburan atau pengambilalihan saham yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Penggabungan, peleburan, atau pengambilalihan merupakan objek pengamatan dari hukum monopoli karena dapat menimbulkan dampat negatif kepada persaingan pasar yang tidak sehat.116

2. Akibat Hukum dari posisi dominan yang dimiliki oleh perusahaan

Memiliki posisi dominan di pasar yang dilarang oleh ketentuan UU No. 5 Tahun 1999, adalah jika posisi dominan yang telah dimiliki tersebut digunakan untuk menghambat, baik pengembangan teknologi maupun mendistorsi pasar dengan cara, berupaya untuk mencegah persaingan dengan mengeliminasi munculnya pelaku usaha baru, karena umumnya pihak yang mempunyai posisi dominan dapat dengan mudah mendikte pasar dan menetapkan syarat-syarat yang tidak sesuai dengan kehendak pasar.

Menurut Debora Owen, Pejabat Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat menyatakan bahwa Undang-Undang Antitrust di Amerika Serikat memandang bahwa posisi dominan yang bersifat monopolistik itu tidak dilarang sepanjang diperoleh dan dipertahankan melalui kemampuan prediksi atau kejelian bisnis yang tinggi.117

116Ibid, hlm. 90.

117Norman S. Pakpahan, Op.Cit., hlm. 21.

Penyebab dilarangnya suatu posisi dominan ialah apabila suatu pelaku usaha menciptakan adanya barrier to entry dan proses integrasi

vertikal suatu usaha bisnis yang dapat menjadikan penguasaan ke atas yaitu penguasaan terhadap bahan baku, dan penguasaan ke bawah yaitu penguasaan jalur distribusi.118

a. Menetapkan harga yang berlebihan (excessive prices).

Bentuk-bentuk akibat hukum yang disebabkan dari posisi dominan yang umumnya terjadi dalam persaingan usaha, yaitu:

Dalam hal ini tingginya suatu harga mungkin terjadi karena beberapa alasan, namun salah satu permasalahan yang menjadikan adanya harga yang berlebihan adalah dikarenakan harga tersebut ditetapkan oleh satu pelaku usaha yang memiliki posisi dominan yang menyebabkan kerugian yang harus diterima oleh konsumen.119

b. Menetapkan harga diskriminasi (price discrimination)

Untuk menetapkan suatu harga apakah berlebihan atau tidak ialah dengan memerintahkan harga produk ketika mahal diturunkan menjadi murah, dan ketika harga menjadi mahal justru produk tersebut tetap laku. Hal ini dilihat berdasarkan apakah terhadap barang tersebut terdapat barang substitusi atau tidak, namun sejumlah penegak hukum berpandangan hal ini sulit dilakukan karena sulitnya mengidentifikasi biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan.

Price discrimination adalah perbuatan menjual dan menetapkan harga yang berbeda (termasuk pemberian diskon) berdasarkan profil

118Susanti Adi Nugroho, Op.Cit., hlm. 405.

119Ibid, hlm.406.

konsumennya.120

c. Menetapkan syarat keterhubungan barang (tie ins or tying)

Salah satu bentuk diskriminasi harga yang umumnya terjadi adalah ketika suatu perusahaan menetapkan harga yang sama kepada para konsumen walaupun pada kegiatannya, perusahaan tersebut mengeluarkan biaya yang berbeda untuk menyuplai masing-masing konsumennya. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi ketika perusahaan dominan menetapkan harga tunggal kepada para konsumennya.

Tie ins adalah penjualan suatu barang atau produk tertentu dengan syarat (tying good) dimana pembeli harus membeli barang atau produk lainnya (the tied good).121

d. Menolak untuk bertransaksi (refusal to deal)

Kadang kala dua barang tersebut secara vertikal berhubungan (vertically related) dimana barang yang satu mempunyai fungsi yang harus digunakan bersamaan dengan barang yang lainnya (primary and secondary). Tie ins akan meningkatkan hambatan kepada perusahaan pesaing untuk masuk kedalam pasar ketika perusahaan tadi hanya menjual suatu produk dan tidak menjual produk lainnya yang mempunyai keterhubungan.

122

Perusahaan dominan yang merupakan induk perusahaan (parent’s company), yang menolak bertransaksi baik sebagai penjual maupun sebagai pembeli dengan perusahaan lainnya dengan alasan di pasar akan menambah pesaing bagi anak perusahaannya (subsidary company), dapat dikatan telah melakukan refused to deal.

120Ibid, hlm.407.

121Mohammad Reza, Op.Cit., hlm. 78.

122Susanti Adi Nugroho, Op.Cit., hlm.408.

e. Menetapkan harga rendah (predatory pricing)

Predatory pricing adalah suatu perbuatan anti kompetitif yang dilakukan oleh perusahaan dominan dengan cara menetapkan harga serendah mungkin, agar perusahaan-perusahaan lainnya tidak dapat bersaing dengan harga serendah itu ( mengeluarkan pesaing keluar dari pasar, mencegah perusahaan pesaing untuk masuk kedalam pasar dan akhirnya mendominasi pasar tanpa persaingan.123

f. Menaikkan biaya pesaing (raising rival cost)

Walaupun biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dominan tadi untuk menjual produk tadi sangat besar dengan keuntungan yang sedikit atau bhakan tidak ada, namun perusahaan tersebut mengharapkan adanya keuntungan di masa yang akan datang.

Contoh dari perbuatan anti kompetitif ini adalah menggugat perusahaan pesaing, biasanya perusahaan kecil (modal dan segmen pasar yang dimilikinya relatif kecil dibandingkan perusahaan dominan) ke pengadilan dengan berbagai macam alasan seperti: menuduh produk perusahaan tersebut mempunyai kemiripan dengan produk mereka atau menuduhnya telah menetapkan harga rendah dibawah harga pasar atau menggunakan piranti lunak (software) bajakan dalam kegiatan usahanya dan lain sebagainya.124

g. Pengekangan vertikal (vertical restraints).

Vertical restraints adalah suatu pembatasan (restrains) yang dilakukan oleh perusahaan yang mempunyai kedudukan secara vertikal di atas (upstream

123Ahmad Yani, Op.Cit., hlm.44.

124Susanti Adi Nugroho, Op.Cit., hlm.409.

firm) seperti perusahaan produsen (manufacturer) atau penjual utama (whole saler) terhadap perusahaan dibawahnya seperti agen (retailer).125

h. Penyalahgunaan hak atas kekayaan intelektual/HAKI (intelectual property abuse).

Perbuatan yang termasuk kedalam kategori vertikal restrain adalah penetapan wilayah yang eksklusif dimana perusahaan agen dipaksa setuju untuk membatasi barang yang dijualnya pada wilayah pasar tertentu dan penetapan perjanjian eksklusif dimana perusahaan agen dipaksa setuju untuk tidak menjual barangnya kepada perusahaan pesaing.

Ada tiga kategori dalam hal ini, seperti pembelian paten atas barang tertentu oleh perusahaan dominan, kewajiban transfer teknologi didalam perjanjian lisensi dengan perusahaan dominan (the transfer of technology through licesning arrangement). Perjanjian kerjasama diantara perusahaan yang bergerak dibidang penemuan, dimana salah satunya atau keduanya adalah perusahaan dominan di dalam pasar. Dalam kenyataanya, praktik ini menimbulkan tekanan pada pasar, karena hanya ada perusahaan itu saja, namun di sisi lain hal tersebut adalah sah secara hukum (legitimate).126

C. Monopoli Dalam Penggabungan Badan Usaha 1. Pengertian Monopoli Secara Umum

Adapun pengertian monopoli menurut Pasal 1 Angka 1 UU. No. 5 Tahun 1999, yaitu “penguasaan atas produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa

125Ahmad Yani, Op.Cit., hlm.45.

126Susanti Adi Nugroho, Op.Cit., hlm. 410.

tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha” sehingga dalam hal ini monopoli memiliki artian sebagai suatu situasi pasar di mana hanya ada satu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha yang “menguasai” satu produksi

tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha” sehingga dalam hal ini monopoli memiliki artian sebagai suatu situasi pasar di mana hanya ada satu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha yang “menguasai” satu produksi

Dokumen terkait