Impor Luar Negeri
1.2 Sisi Lapangan Usaha
1.2.3 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan
Berdasarkan Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia, Indeks Konsumsi Barang Kebutuhan Tahan Lama (Durable Goods) meningkat dari 114,44 pada triwulan IV 2017 menjadi 116,66 pada triwulan I 2018 (Grafik 1.35). Hal ini turut mengindikasikan peningkatan perdagangan untuk jenis barang-barang kebutuhan tahan lama. Selain itu, Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia juga menunjukkan adanya peningkatan indeks penjualan riil (IPR) untuk sejumlah kelompok barang, yakni suku cadang & aksesori; pakaian & perlengkapan; serta peralatan komunikasi (Grafik 1.36).
Sumber: Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia Sumber: Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia
Meningkatnya kinerja LU perdagangan juga tercermin dari pertumbuhan impor barang konsumsi yang meningkat dari -3,5% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 8,1% (yoy) pada triwulan I 2018 (Grafik 1.37). Peningkatan khususnya terjadi pada impor makanan & minuman serta impor barang yang bersifat non-durable
serta semi-durable. Di sisi domestik, diperkirakan terjadi peningkatan pada perdagangan kendaraan bermotor yang ditunjukkan oleh meningkatnya pertumbuhan kredit kendaraan bermotor (KKB) dari 3,94% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 8,08% (yoy) pada triwulan I 2018 (Grafik 1.38).
1.2.3 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan
Kinerja lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan juga mengalami peningkatan yakni dari tumbuh -8,60% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi -0,36% (yoy) pada triwulan I 2018. Hal ini seiring dengan mulai berlangsungnya masa panen pada akhir triwulan I 2018. Selain itu, produksi tanaman pangan komoditas padi diperkirakan membaik setelah sempat memburuk akibat serangan hama wereng pada akhir tahun 2017.
Grafik 1.35 Indeks Konsumsi Durable Goods Grafik 1.36 Indeks Penjualan Riil
20
Meningkatnya kinerja pertanian juga terpantau dari hasil SKDU BI yang menunjukkan adanya peningkatan baik pada kegiatan usaha, penggunaan tenaga kerja, serta investasi di LU pertanian (Grafik 1.39). Peningkatan ini khususnya terjadi pada sub kelompok tanaman pangan, peternakan, dan perikanan (Grafik 1.40).
Sumber: Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI Sumber: Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI
Sejalan dengan hal tersebut, pertumbuhan kredit pada lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan juga mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Penyaluran kredit pada lapangan usaha pertanian meningkat dari 15,41% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 16,26% pada triwulan I 2018 (Grafik 1.41). Namun meningkatnya pertumbuhan kredit tersebut juga diikuti oleh meningkatnya risiko kredit yakni NPL dari 2,73% menjadi 3,50% (Grafik 1.42).
1.2.4. Konstruksi
Di tengah meningkatnya laju pertumbuhan ketiga lapangan usaha utama, pertumbuhan lapangan usaha kontruksi melambat dari 10,49% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 9,79% (yoy) pada triwulan I 2018. Hal ini diperkirakan dipengaruhi oleh efek seasonal masih terbatasnya proyek konstruksi Pemerintah Daerah di awal tahun seiring dengan masih berlangsungnya proses lelang proyek. Selain itu, kondisi cuaca dengan curah hujan tinggi di awal tahun juga menghambat kegiatan konstruksi di sejumlah wilayah. Adapun proyek Pelabuhan Patimban yang ditargetkan mulai konstruksi pada Januari 2018 kemudian dimundurkan menjadi Juni 2018.
Sejalan dengan masih terbatasnya kegiatan konstruksi di awal tahun, pertumbuhan penjualan semen di Jawa Barat juga melambat yakni dari 16,8% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 9,5% (yoy) pada triwulan I 2018 (Grafik 1.43). Sejalan dengan hal tersebut, hasil SKDU BI juga menunjukkan adanya penurunan baik pada
Grafik 1.40 Kapasitas Produksi Sub Kelompok Pertanian
Grafik 1.42 Perkembangan NPL Kredit Pertanian Grafik 1.41 Perkembangan Kredit Pertanian
21
kegiatan usaha, penggunaan tenaga kerja serta kegiatan investasi pada lapangan usaha konstruksi (Grafik 1.44).
Sumber : Kemenperin dan Kemendag (diolah) Sumber: Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI
Sejalan dengan hal tersebut, pertumbuhan pembiayaan perbankan untuk lapangan usaha konstruksi juga tumbuh melambat yakni dari 21,97% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 21,77% (yoy) pada triwulan I 2018 (Grafik 1.45). Hal ini terjadi di tengah menurunnya risiko kredit atau NPL konstruksi dari 3,4% menjadi 3,3% (Grafik 1.46). Masih relatif lambatnya kegiatan konstruksi di awal tahun diperkirakan menjadi faktor utama lambatnya pertumbuhan kredit konstruksi pada triwulan I 2018.
Melambatnya kegiatan konstruksi diperkirakan juga sebagai bentuk respon terhadap permintaan KPR yang masih relatif stagnan. Penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) tumbuh melambat dari 16,28% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 15,92% (yoy) pada triwulan I 2018 (Grafik 1.47). Perlambatan ini khususnya terjadi pada rumah tipe menengah dan besar. Perlambatan penyaluran KPR ini antara lain juga dipengaruhi risiko kredit atau NPL KPR yang juga terpantau meningkat dari 2,47% menjadi 2,62% pada triwulan I 2018 (Grafik 1.48).
Grafik 1.43 Penjualan Semen Jawa Barat Grafik 1.44 SKDU Konstruksi
22
Tracking Perkembangan Ekonomi Makro Regional Triwulan II 2018
Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2018 diperkirakan melambat dibandingkan triwulan I 2018, dengan perkiraan pertumbuhan pada rentang 5,7% - 6,1% (yoy). Namun diperkirakan masih tetap lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan II 2017. Dari sisi pengeluaran, perlambatan diperkirakan terjadi pada komponen investasi yang sedikit menahan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat triwulan II 2018. Sementara dari sisi lapangan usaha, diperkirakan tertahan oleh melambatnya lapangan usaha industri pengolahan dan konstruksi. Perkiraan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2018 ditahan oleh beberapa faktor antara lain:
1. Berlangsungnya bulan Ramadhan dan Idul Fitri, menahan kinerja konstruksi dan industri pengolahan karena banyaknya hari libur.
2. Kecenderungan perilaku investor yang wait and see menjelang pelaksanaan Pilgub dan Pilkada pada triwulan II 2018.
3. Kenaikan tarif cukai rokok pada awal tahun 2018 dengan rata-rata kenaikan sebesar 10,04% diperkirakan akan mempengaruhi daya beli masyarakat pada triwulan II 2018.
4. Kenaikan harga minyak dunia yang berpengaruh terhadap harga BBM dalam negeri pada awal tahun juga turut menahan daya beli masyarakat.
5. Perkiraan peningkatan FFR sebanyak 3-4 kali selama 2018 yang akan mempengaruhi kestabilan nilai tukar, turut berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Barat.
Namun demikian, terdapat beberapa faktor yang berpotensi mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2018, yakni:
1. Kecenderungan peningkatan konsumsi selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri, ditambah lagi dengan penyelenggaraan Pilkada di triwulan II 2018.
2. Konsumsi Pemerintah diperkirakan meningkat karena pelaksanaan Pilgub Jawa Barat dan Pilkada 16 kabupaten/kota di Jawa Barat.
3. Persiapan venue ASIAN Games yang dijadwalkan selesai pada bulan Juni 2018 mendorong konsumsi pemerintah dan lapangan usaha perdagangan meningkat pada triwulan II 2018.
4. Berlanjutnya perbaikan pertumbuhan ekonomi global serta adanya perkiraan kenaikan harga komoditas global akan mendorong ekspor luar negeri Jawa Barat.
23
5. Terus membaiknya kinerja ekonomi negara mitra dagang utama, dimana pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan India diperkirakan meningkat pada tahun 2018.
6. Kinerja lapangan usaha industri pengolahan dan pertanian diperkirakan akan terdorong seiring dengan persiapan masa Pilkada dan masa panen yang masih berlangsung hingga triwulan II 2018.