KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT MEI 2018 GEOPARK CILETUH

149 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL

PROVINSI JAWA BARAT

MEI 2018

(2)
(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan

ridha-

Mei 2018

diterbitkan. Buku ini merupakan asesmen terhadap perkembangan ekonomi Jawa Barat terkini

yang berisi mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, perbankan dan sistem pembayaran, keuangan

daerah, ulasan perkembangan kesejahteraan masyarakat serta mencakup pula prospek

perekonomian ke depan.

Dalam penyusunan buku ini, data dan informasi selain dari internal Bank Indonesia, juga

bersumber dari berbagai instansi terkait, seperti Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan dinas-dinas

terkait, BPS Jawa Barat, BULOG Divre III, Kementerian Keuangan c.q. DJP Jawa Barat I, Kanwil

Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Barat, PLN, berbagai perusahaan, asosiasi dan akademisi.

Sehubungan dengan hal tersebut, perkenankanlah kami mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu penyusunan buku ini.

Akhir kata, kami berharap semoga buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Semoga

Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan ridha-Nya dan menerangi setiap langkah kita.

Bandung, 5 Juni 2018

Kepala Perwakilan

Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat

Ttd

Ismet Inono

Direktur

(6)

ii KATA PENGANTAR ... i ii v vii ... xii

TABEL INDIKATOR EKONOMI PROVINSI JAWA BARA ... x

BAB I EKONOMI MAKRO REGIONAL Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat Triwulan I 2018 ... ... 2

1.1. Sisi Pengeluaran .. . ... 4

1.1.1. Konsumsi .... ... 5

1.1.2. Investasi ... 9

1.1.3. Ekspor Impor ... 11

1.2. Sisi Lapangan Usaha ... 15

1.2.1. Industri Pengolahan ... 17

1.2.2 Perdagangan Besar-Eceran dan Reparasi Mobil- ... 18

1.2.3 Pertanian, Kehutanan dan ... 19

1.2.4 Konstruksi ... ... 20

Tracking Perkembangan Ekonomi Makro Regional Triwulan II 2018.... ... 22

BOKS 1. PT. BUMR Pangan Terhubung Peningkatan Efisiensi... 26

BOKS 2. Pengembangan Desa Wisata Cibuntu Kuningan... 30

BAB II KEUANGAN PEMERINTAH 2.1. Gambaran Umum ... ... 34

2.2. ... 34

2.2.1 Anggaran Pendapatan Provinsi Jawa Barat ... 35

2.2.2 Realisasi Pendapatan Provinsi Jawa Barat Triwulan I 2018... 36

2.2.3 Anggaran Belanja Provinsi Jawa Barat ... 39

2.2.4 Realisasi Belanja Provinsi Jawa Barat Triwulan I 2018... 39

2.3. ... 42

2.4. Belanja APBN di Jawa Barat ... 43

BAB III PERKEMBANGAN INFLASI 3.1. Perkembangan Inflasi Triwulan I 2018 ... 46

(7)

iii

3.3. Perkembangan Inflasi Antar Provinsi di Pulau Jawa 54

3.4. Perkembangan Inflasi Kota di Jawa Barat 55

3.5. Perkembangan Inflasi Triwulan II 2018... 56

3.6. Program Pengendalian Inflasi Daerah... 58

3.6.1. Pelaksanaan Kegiatan TPID Jawa Barat... 59

3.6.2. Tantangan Dalam Pelaksanaan Pengendalian Inflasi 60 3.6.3. Rencana Program Pengendalian Inflasi Triwulan II 2018 ... 61

BOKS 3. Utilisasi Sistem Resi Gudang di Jawa Barat Sebagai Upaya Pengendalian Inflasi di Daerah... 62

BAB IV STABILITAS KEUANGAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM 4.1. Asesmen Intermediasi Perbankan... ... 68

4.1.1. Perkembangan Kredit... .. 68

4.1.2. Dana Pihak Ketiga ... 70

4.1.3. Aset dan Aktiva Produktif... 71

4.1.4. Risiko Kredit... 72

4.1.5. ... 72

4.1.6. Perkembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( ... 73

4.1.6.1. ... 73

4.1.6 ... 74

4.1.6.3 Program Pengembangan UMKM Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat... 75

4.2. ... 79

4.2.1 Sumber-Sumber Kerentanan Sektor Korporasi ... 79

... 80

... 81

4.3.1 Sumber ... 81

4.3.2. Eksposur Perbankan pada Sektor Rumah Tangga ... 83

BOKS 4. Pengembangan Klaster Melalui Sistem Logistik Pangan Berbasis Teknologi Digital...84

BAB V PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH 5.1. Perkembangan Sistem Pembayaran Non Tunai .. ... .. ... 87

5.2. Perkembangan Sistem Pembayaran Tunai 89

5.3. Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) Berizin dan Penyelenggara Transfer Dana Bukan Bank (PTD BB) di Jawa Barat... 91 5.3.1. Perkembangan Kegiatan Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB)... 92

(8)

iv

5.3.3. Upaya Pengawasan Penyelenggaraan KUPVA BB dan PTD BB... 93

BOKS 5. BIJB Kertajati Permata Baru di Tanah Pasundan...95

BAB VI KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN 6.1 .... ... 99

6.2 ... 104

6.3 ... 105

BAB VII PROSPEK PEREKONOMIAN 7.1. Prospek Perekonomian Global dan ... 110

7.1.1. ... 110

7.1.2. ... 112

7.2. Prospek Perekonomian Provinsi Jawa Barat ... 114

7.2.1. Prospek Pertumbuhan Ekonomi ... 114

7.2.2. Prospek Inflasi ... 121

LAMPIRAN 123 TIM PENYUSUN ... 124

(9)

v

Tabel 1.1 Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Pengeluaran (%, yoy) .. 4

Tabel 1.2 Sumber Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat Berdasarkan Komponen Pengeluaran (%, yoy)... 4

Tabel 1.3 Struktur Konsumsi Rumah Tangga Provinsi Jawa Barat Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB)... 5

Tabel 1.4 Laju Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga Provinsi Jawa Barat (%, yoy)... ... 5

Tabel 1.5 Struktur Ekspor Impor Provinsi Jawa Barat (%) ... 11

Tabel 1.6 Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Lapangan Usaha (%, yoy)... ... 16

Tabel 1.7 Sumber Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat Berdasarkan Lapangan Usaha (%)... 16

Tabel 1.8 Pertumbuhan Industri Besar Sedang (yoy)... ... 18

Tabel 2.1 Ringkasan Realisasi APDB Provinsi Jawa Barat Triwulan I 2018 ... 35

Tabel 2.2 Anggaran Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Barat 2017 dan 2018. ... 36

Tabel 2.3 Realisasi Pendapatan Provinsi Jawa Barat Triwulan I 2018 .. ... 37

Tabel 2.4 Anggaran Belanja Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2017 dan 2018.... ... 39

Tabel 2.5 Realisasi Belanja Provinsi Jawa Barat Hingga Triwulan I 2018... ... 40

Tabel 2.6 Anggaran Belanja APBN di Provinsi Jawa Barat . ... 43

Tabel 2.7 Realisasi Belanja APBN di Provinsi Jawa Barat Triwulan I 2018... .... 43

Tabel 3.1 Komoditas Penyumbang Inflasi & Deflasi Kelompok Administered Prices Triwulan I 2018... ... 49

Tabel 3.2 Penyesuaian Harga BBM Jenis Umum Sepanjang Triwulan I 2018... ... 50

Tabel 3.3 Komoditas Penyumbang Inflasi & Deflasi Kelompok Volatile Food Triwulan I 2018 ... 51

Tabel 3.4 Komoditas Penyumbang Inflasi & Deflasi Kelompok Core Triwulan I 2018... 54

Tabel 3.5 Komoditas Penyumbang Inflasi & Deflasi di Pulau JawaTriwulan I 2018 ... ... 55

Tabel 3.6 Komoditas Penyumbang Inflasi & Deflasi Bulanan Kota Bekasi Pada Triwulan I 2018... 56

Tabel 3.7 Program Rutin dan Program Strategis Kegiatan Pengendalian Inflasi di Jawa Barat ... 59

Tabel 4.1 Pertumbuhan Kredit untuk Lapangan Usaha Utama di Jawa Barat ... 70

Tabel 4.2 Dana Rumah Tangga untuk Membayar Cicilan dan Perubahannya Berdasarkan Tingkat Pengeluaran per Bulan ... 82 Tabel 5.1 Jumlah KUPVA BB dan Jumlah Penertiban KUPVA BB... ... 91

Tabel 5.2 Jumlah Kantor Cabang PTD BB di Wilayah Kerja KpwBI Provinsi Jawa Barat... 93

Tabel 6.1 Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Menurut Jenis Kegiatan Utama... ... 100

Tabel 6.2 Jumlah Penduduk Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan (%). ... ... 102

Tabel 6.3 Klasifikasi Penduduk Bekerja (Pekerja Penuh/Tidak Penuh).... .... 103

Tabel 7.1 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia ... 110

Tabel 7.2 Asumsi Dasar Ekonomi Makro APBN ... 112

(10)

vi

Tabel 7.4 . ... 117

Tabel 7.5 Risiko Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat Tahun ... 119

Tabel 7.6 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat- Sisi Lapangan Usaha... ... 120

(11)

vii

Grafik 1.1 ... ... 3

Grafik 1.2 Share Perekonomian Kawasan Jawa Terhadap Nasional... 3

Grafik 1.3 Indeks Keyakinan Konsumen... ... 6

Grafik 1.4 Indeksi Kondisi Ekonomi Saat Ini... 6

Grafik 1.5 Perkembangan Permintaan Domestik... .... ... 6

Grafik 1.6 Komposisi Penggunaan Pendapatan RT.... ... ... .... 6

Grafik 1.7 Perkembangan Harga Properti Residensial... ... 7

Grafik 1.8 Perkembangan Impor Barang Konsumsi ... ... 7

Grafik 1.9 Perkembangan Kredit Konsumsi... ... 7

Grafik 1.10 Perkembangan KPR, KKB dan Multiguna... .... . ... 7

Grafik 1.11 Realisasi Belanja Operasional APBN di Jawa Barat... .... 8

Grafik 1.12 Realisasi Belanja Operasional APBD di Jawa Barat ... . .... 8

Grafik 1.13 Pertumbuhan Komponen Investasi... ... ... 9

Grafik 1.14 Perkembangan Realisasi PMA dan PMDN di Jawa Barat. . .... ... 9

Grafik 1.15 Andil Petumbuhan PMDN ke Sektor Utama di Jawa Barat... ... 10

Grafik 1.16 Andil Petumbuhan PMA ke Sektor Utama di Jawa Barat... ... 10

Grafik 1.17 Perkembangan Penjualan Semen di Jawa Barat... 10

Grafik 1.18 Perkembangan Investasi Kegiatan Dunia Usaha SKDU.... ... ... 10

Grafik 1.19 Perkembangan Neraca Perdagangan Luar Negeri Jawa Barat... . ... .... 12

Grafik 1.20 Perkembangan Neraca Perdagangan Dalam Negeri Jawa Barat ... 12

Grafik 1.21 Impor Antar Daerah Mitra Dagang Jawa Barat... .... 12

Grafik 1.22 Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Jawa Barat.. ... ... 13

Grafik 1.23 Struktur Komoditas Ekspor Jawa Barat... ... 13

Grafik 1.24 Pertumbuhan ekspor Industri Pengolahan Jawa Barat... 13

Grafik 1.25 Ekspor Jawa Barat ke Negara/Kawasan Tujuan Utama... ... 14

Grafik 1.26 Perkembangan PMI Negara Mitra Dagang Utama... ... 14

Grafik 1.27 Perkembangan Nilai dan Volume Impor Jawa Barat... 15

Grafik 1.28 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah (USD/IDR)... 15

Grafik 1.29 Purchasing Managers Index (PMI) Mitra Dagang... 17

Grafik 1.30 Impor Bahan Baku dan Barang Modal... 17

Grafik 1.31 Kredit Untuk Industri Pengolahan Lokasi Proyek di Jawa Barat... .. 17

Grafik 1.32 Rasio NPL Kredit Industri Pengolahan... 17

(12)

viii

Grafik 1.34 Perkembangan Produksi Industri Besar dan Sedang (IBS) Jawa Barat ... 18

Grafik 1.35 Indeks Konsumsi Durable Goods... .... ... ... 19

Grafik 1.36 Indeks Penjualan Riil... ... 19

Grafik 1.37 Impor Barang Konsumsi... 19

Grafik 1.38 Perkembangan Kredit Rumah Tangga... 19

Grafik 1.39 SKDU Pertanian... ... 20

Grafik 1.40 Kapasitas Produksi Sub Kelompok Pertanian... ... .. ... 20

Grafik 1.41 Perkembangan Kredit Pertanian... ... 20

Grafik 1.42 Perkembangan NPL Kredit Pertanian... . ... 20

Grafik 1.43 Penjualan Semen Jawa Barat... .... 21

Grafik 1.44 SKDU Konstruksi... ... 21

Grafik 1.45 Perkembangan Kredit Konstruksi... ... ... 21

Grafik 1.46 Perkembangan NPL Kredit Konsumsi... ... 21

Grafik 1.47 Perkembangan Penyaluran KPR Per Tipe... .... 22

Grafik 1.48 Perkembangan NPL KPR... ... 22

Grafik 1.49 Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Jawa Barat... 23

Grafik 1.50 Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen Jawa Barat... 23

Grafik 2.1 Perkembangan APBD Provinsi Jawa Barat ... 35

Grafik 2.2 Perkembangan Pendapatan dan Belanja Pemerintah Provinsi Jawa Barat ... 35

Grafik 2.3 Pangsa Komponen Pendapatan Asli Daerah Provinsi Jawa Barat ... 36

Grafik 2.4 Pangsa Realisasi Pajak Daerah Triwulan I 2018... 37

Grafik 2.5 Proporsi Anggaran Belanja Provinsi Jawa Barat... 39

Grafik 2.6 Persentase Realisasi Anggaran Belanja Per Triwulan (%)... 40

Grafik 2.7 Perkembangan Belanja Operasi dan Modal... 40

Grafik 2.8 Pangsa Realisasi Belanja Operasi (%)... 41

Grafik 2.9 Pertumbuhan Komponen Belanja Operasi... 41

Grafik 2.10 Struktur Belanja APBD Kab/Kota 2017 dan 2018... 42

Grafik 2.11 Perkembangan Realisasi Belanja 24 Kab/kota di Jawa Barat Triwulan I 2018... 42

Grafik 2.12 Pangsa Realisasi Belanja APBN di Jawa Barat... 44

Grafik 2.13 ... 44

Grafik 3.1 Ringkasan Perkembangan Inflasi Jawa Barat (yoy)... .... .... 46

(13)

ix

Grafik 3.4 Komoditas Penyumbang Inflasi dan Deflasi Bulanan Jawa Barat.... .. ... 47

Grafik 3.5 Laju Inflasi Tahunan Berdasarkan Kelompok Pengeluaran... .. ... 48

Grafik 3.6 Perkembangan Disagregasi Inflasi di Jawa Barat ... 48

Grafik 3.7 Inflasi Administered Prices Kelompok Energi dan Non Energi (yoy)... .. ... 49

Grafik 3.8 Perkembangan Harga Minyak Dunia... ... 50

Grafik 3.9 Perkembangan Inflasi Kelompok Pengeluaran Bahan Makanan. .. ... 51

Grafik 3.10 Perkembangan Inflasi Core Traded dan Non-Traded .... ... 52

Grafik 3.11 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah... ... 53

Grafik 3.12 Perkembangan Harga Emas Dunia... .... 53

Grafik 3.13 Perkembangan Indeks Penjualan Riil... .... ... 53

Grafik 3.14 Perkembangan Indeks Penjualan Riil Berdasakan Kelompok Komoditas. 53 Grafik 3.15 Inflasi Nasional, Jawa dan Jawa Barat... 54

Grafik 3.16 Laju Inflasi Kumulatif Kota Perhitungan (ytd)... ... 56

Grafik 3.17 Laju Inflasi Tahunan Kota Perhitungan (yoy)... ... 56 Grafik 4.1 Grafik 4.2 Grafik 4.3 Grafik 4.4 Grafik 4.5 Grafik 4.6 Grafik 4.7 Grafik 4.8 Grafik 4.9 Grafik 4.10 Grafik 4.11 Grafik 4.12 Grafik 4.13 Grafik 4.14 Grafik 4.15 Grafik 4.16 Grafik 4.17 Grafik 4.18 Grafik 4.19

Perkembangan Kredit per Jenis Penggunaan... ...

Proporsi Kredit Menurut Jenis Penggunaan .. ... ... Perkembangan Suku Bunga Kredit Berdasarkan Lokasi Proyek di Jawa Barat... .... Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR)... ... Pertumbuhan DPK Perbankan... ... ... Proporsi DPK Jawa Barat... .... ... Proporsi DPK Nasional...

Perbandingan Pangsa DPK terhadap Nasional .... ...

Pertumbuhan Aset Perbankan... ... ...

Rasio Non Performing Loan (NPL) Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan... Ratio Non Performing Loan (NPL) Kredit Berdasarkan Lapangan Usaha Utama... Perkembangan Kredit Kota/Kabupaten Tw I 2018... Rasio NPL Kredit Kota/Kabupaten TW I 2018... Perkembangan Kredit UMKM... .. NPL Kredit UMKM... ...

Proporsi Kredit UMKM Berdasarkan Lapangan Usaha ...

Kredit UMKM Kota/Kabupaten Tw I 2018 ...

NPL Kredit UMKM Kota/Kabupaten Tw I 2018. ... Perkembangan Luas dan Produksi Kopi Arabika di Jawa Barat...

69 69 69 70 71 71 71 71 72 72 72 73 73 74 74 74 75 75 78

(14)

x Grafik 4.20 Grafik 4.21 Grafik 4.22 Grafik 4.23 Grafik 4.24 Grafik 4.25 Grafik 4.26 Grafik 4.27 Grafik 4.28 Grafik 4.29 Grafik 4.30 Grafik 4.31 Grafik 4.32 Grafik 5.1 Grafik 5.2 Grafik 5.3 Grafik 5.4 Grafik 5.5 Grafik 5.6 Grafik 5.7 Grafik 5.8

Perkembangan Luas dan Produksi Kopi Robusta di Jawa Barat.. ... Perkembangan Ekspor Jawa Barat ... PMI Negara Mitra Dagang Utama... ... Persentase Penggunaan Penghasilan...

Perkembangan Kredit Korporasi...

Kredit Korporasi Lapangan Usaha Utama ... Perkembangan Kredit Korporasi

NPL Kredit Koporasi Lapangan Usaha Utama ... Tingkat Optimisme Konsumen Jawa Barat Survei Konsumen

Pertumbuhan Kredit Rumah Tangga ...

Kredit Kendaraan Bermotor ...

Perkembangan Kredit Pemilikan Rumah... Perkembangan NPL Kredit Rumah Tangga ... ... Perkembangan Transaksi Kliring Jawa Barat Nominal. ...

Perkembangan Transaksi Kliring Jawa Barat Volume ...

Perkembagan RTGS Jawa Barat ...

Perkembangan Inflow Outflow Uang Kartal... Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Net Flow....

Perkembangan Pemusnahan UTLE. ...

Perkembangan Temuan uang Palsu di Jawa Barat... ... ...

Perkembangan ... ... ... 78 79 79 80 81 81 81 81 82 83 83 83 83 87 87 87 89 89 90 90 92

Grafik 5.9 Perkembangan Transaksi UKA Penjualan . ... .... 92

Grafik 5.10 Perkembangan Pertumbuhan Nilai Transfer Dana di Jawa Barat . . .... 93

Grafik 5.11 Perkembangan Pertumbuhan Volume Transfer Dana di Jawa Barat . ... .... 93

Grafik 6.1 Perkembangan Angkatan Kerja dan TPAK Jawa Barat 100

Grafik 6.2 Perkembangan Jumlah Penduduk Bekerja dan TPT Jawa Barat 100 Grafik 6.3 Laju Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat Semesteran ... 100

Grafik 6.4 Perkembangan Pa ... 100

Grafik 6.5 Perkembangan Pangsa Tenaga Kerja Sektoral ... 101

Grafik 6.6 Pertumbuhan PDRB Berdasarkan Lapangan Usaha... .. 101

Grafik 6.7 Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini ... 101

(15)

xi Grafik 6.10 Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang (IBS) Jawa Barat. 102

Grafik 6.11 Pangsa Penganggur Berdasarkan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan... . 103

Grafik 6.12 TPT Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir... 103

Grafik 6.13 NTP Jawa Barat dan Komponen Penyusunnya 104

Grafik 6.14 Pertumbuhan NTP Berdasarkan Subsektor 104

Grafik 6.15 Pertumbuhan Indeks yang Diterima Petani (IT) Berdasarkan Subsektor 104 Grafik 6.16 Pertumbuhan Indeks yang Dibayar Petani (IB) Berdasarkan Subsektor 105 Grafik 6.17 Pertumbuhan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) Berdasarkan Subsektor 105

Grafik 6.18 105

Grafik 6.19 Pertumbuhan Komponen Indeks Konsumsi Rumah Tangga Petani 105

Grafik 6.20 106

Grafik 6.21 106

Grafik 6.22 106

Grafik 6.23 106

Grafik 6.24 Pertumbuhan Lapangan Usaha Kelompok Primer, Sekunder, dan Tersier 107

Grafik 7.1 .... 111

Grafik 7.2 ... ... 115

Grafik 7.3 .. 115

Grafik 7.4 ... ... 116

(16)
(17)

xii

LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI

Pertumbuhan ekonomi Jawa

Barat pada triwulan I 2018 sebesar 6,02% (yoy), meningkat dibanding triwulan IV 2017 sebesar 5,32% (yoy) dan triwulan I 2017 sebesar 5,29%(yoy)

Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2018 meningkat dibanding triwulan IV 2017. Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jawa Barat meningkat dari 5,32% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 6,02% (yoy) pada triwulan I 2018. Realisasi ini lebih tinggi dibanding rata-rata LPE triwulan I pada kurun waktu 2015-2017 yang tercatat sebesar 5,42%. LPE triwulan I 2018 juga lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I 2017 yang tercatat sebesar 5,29%(yoy). Peningkatan ini dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan kebutuhan kampanye menjelang Pilgub dan Pilkada 2018 di 16 kota/kabupaten di Jawa Barat yang berlangsung bulan Juni 2018 serta persiapan menjelang Bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang mendorong industri melakukan front loading strategy pada triwulan I 2018. Selain itu, penyelesaian venue ASIAN Games yang ditargetkan bulan Juni 2018 akan selesai juga turut mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Dari sisi pengeluaran, peningkatan laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2018 disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga, konsumsi LNPRT, konsumsi pemerintah dan net ekspor antar daerah. Sedangkan dari sisi lapangan usaha (LU), laju pertumbuhan mayoritas lapangan usaha di Jawa Barat khususnya lapangan usaha utama, yakni pertanian, industri pengolahan dan perdagangan turut mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat.

Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2018 diperkirakan melambat dibandingkan triwulan I 2018, dengan proyeksi pertumbuhan pada rentang 5,7% - 6,1% (yoy). Namun proyeksi ini diperkirakan masih tetap lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada triwulan II 2017. Dari sisi pengeluaran, perlambatan diperkirakan terjadi pada komponen investasi yang dapat menahan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat triwulan II 2018. Sementara dari sisi lapangan usaha, perkiraan melambatnya laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2018 disebabkan oleh melambatnya kinerja sejumlah lapangan usaha utama yaitu industri pengolahan dan konstruksi.

PERKEMBANGAN INFLASI

Realisasi inflasi Jawa Barat

pada triwulan I 2018 masih sejalan dengan sasaran inflasi nasional yang ditetapkan sebesar 3,5%±1%

Inflasi IHK Jawa Barat pada triwulan I 2018 sebesar 3,91% (yoy), mengalami peningkatan dibandingkan dengan realisasi inflasi triwulan sebelumnya yang sebesar 3,63% (yoy). Memasuki awal tahun 2018, perkembangan harga secara umum mengalami kenaikan dibandingkan dengan triwulan yang sama di tahun lalu. Hal ini tercermin dari laju inflasi secara kumulatif dari Januari hingga Maret pada 2018 sebesar 1,49% (ytd), lebih tinggi dari 2017 yang sebesar 1,21% (ytd). Peningkatan tekanan inflasi ini disebabkan oleh tingginya kenaikan harga pada kelompok volatile food. Realisasi inflasi Jawa Barat juga tercatat lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 3,40% (yoy)

STABILITAS KEUANGAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES

KEUANGAN DAN UMKM

Intermediasi perbankan terpantau dalam kondisi yang cukup baik yang tercermin dari peningkatan penyaluran kredit disertai peningkatan NPL. Sementara penghimpunan DPK melambat..

Stabilitas keuangan Jawa Barat yang tercermin salah satunya dengan kinerja perbankan terpantau dalam kondisi yang cukup baik pada triwulan I 2018. Di tengah melambatnya pertumbuhan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), penyaluran kredit ke lokasi proyek di Jawa Barat masih tumbuh meningkat. Kredit tumbuh dari 7,81% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 9,69% (yoy) pada triwulan I 2018. Intermediasi perbankan yang antara lain dicerminkan melalui Loan to Deposit Ratio (LDR) juga tercatat meningkat menjadi 91,52%. Namun peningkatan intermediasi ini diikuti dengan meningkatnya risiko kredit atau Non Performing Loan (NPL). NPL meningkat baik untuk kredit yang disalurkan perbankan di seluruh wilayah untuk Jawa Barat (lokasi proyek) sebesar 3,41%,

(18)

RINGKASAN EKSEKUTIF

xiii

maupun dari bank-bank yang berkantor di Jawa Barat (lokasi bank) sebesar 3,97%. Khusus pada segmen korporasi, pertumbuhan kredit juga meningkat ke level 5,61% (yoy) di tengah melambatnya penghimpunan DPK korporasi yang tumbuh sebesar 14,13% (yoy). Namun risiko kredit korporasi juga ikut meningkat dengan rasio NPL sebesar 4,80%. Hal serupa juga terjadi pada segmen rumah tangga, di mana penyaluran kredit meningkat di tengah melambatnya DPK. Walaupun risiko kredit rumah tangga ikut meningkat, namun rasio NPL-nya masih relatif rendah yakni sebesar 2,08%.

PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG

RUPIAH

Sistem pembayaran non tunai melalui SKN-BI mengalami peningkatan, sedangkan RTGS mengalami penurunan

Transaksi non tunai menggunakan kliring mengalami peningkatan dari sisi nominal namun menurun dari sisi volume, sedangkan transaksi non tunai RTGS mengalami penurunan. Sementara itu, aktivitas transaksi keuangan secara tunai pada triwulan ini mencatatkan posisi net inflow atau dengan kata lain jumlah penyetoran uang kartal ke kas Bank Indonesia lebih tinggi dari jumlah penarikan. Jumlah KUPVA BB atau Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank yang berada di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat mengalami peningkatan dari 14 pada 2016 menjadi 37 KUPVA pada April 2018. Adapun perkembangan transfer dana melalui Penyelenggara Transfer Dana Bukan Bank (PTD BB) di Jawa Barat terpantau mengalami perlambatan di triwulan ini dibandingkan dengan triwulan IV 2017.

PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN

Meningkatnya laju

pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2018 diikuti dengan penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) dan meningkatnya pangsa tenaga kerja formal..

Sejalan dengan meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2018, kondisi ketenagakerjaan Jawa Barat pada Februari 2018 juga membaik. Hal ini tercermin pada menurunnya tingkat pengangguran terbuka (TPT) dibanding Februari 2017. Selain itu pangsa tenaga kerja formal juga meningkat seiring dengan akselerasi pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan yang cukup tinggi. Namun terdapat indikasi penurunan kualitas tenaga kerja seiring dengan meningkatnya pangsa tenaga kerja berpendidikan rendah dan paruh waktu. Adapun tingkat kemiskinan dan ketimpangan (gini ratio) berdasarkan data September 2017 juga mengalami perbaikan dan tercatat sebagai level terendah sejak 2012.

PRAKIRAAN PEREKONOMIAN KE DEPAN

Pada triwulan III 2018,

perekonomian Jawa Barat diperkirakan tumbuh lebih rendah dibanding triwulan II seiring dengan berlalunya momen Hari Raya serta Pilkada serentak. Untuk keseluruhan tahun 2018, LPE Jawa Barat diperkirakan meningkat dibanding tahun 2017 ditopang oleh berlangsungnya sejumlah event besar seperti Pilkada dan Asian Games.

Pada triwulan III 2018, perekonomian Jawa Barat diperkirakan tumbuh lebih rendah dibanding triwulan II 2018 yakni pada kisaran 5,2% - 5,6% (yoy). Dari sisi pengeluaran, perlambatan khususnya disebabkan oleh melambatnya konsumsi (baik rumah tangga, LNPRT, maupun Pemerintah) seiring dengan berlalunya momentum Hari Raya serta Pilkada serentak. Di sisi lain, investasi dan net ekspor luar negeri diperkirakan masih tetap tumbuh seiring dengan berlanjutnya pembangunan infrastruktur serta prospek membaiknya perekonomian global. Dari sisi lapangan usaha, perlambatan khususnya terjadi pada sejumlah lapangan usaha utama seperti pertanian, perdagangan, informasi & komunikasi, serta transportasi & pergudangan. Hal ini juga dipengaruhi oleh berlalunya efek seasonal pada triwulan II 2018. Namun kinerja industri pengolahan dan konstruksi pada triwulan III 2018 diperkirakan meningkat seiring dengan kembali normalnya hari kerja efektif setelah periode libur panjang di akhir triwulan II.

(19)

xiv

5,9% (yoy). Meningkatnya LPE Jawa Barat pada tahun 2018 terutama ditopang oleh berlangsungnya sejumlah event yang dapat memberikan multiplier effect baik pada kegiatan ekonomi maupun pendapatan masyarakat. Beberapa event dimaksud meliputi : (1) Pemilihan Gubernur Jawa Barat dan Pilkada di 16 Kab/Kota di Jawa Barat pada Juni 2018 dan (2) Asian Games 2018 yang akan dilaksanakan pada Agustus 2018 di mana Jawa Barat menjadi salah satu lokasi venue pelaksanaan. Selain itu, prospek berlanjutnya perbaikan ekonomi global turut menopang prospek peningkatan kinerja ekspor Jawa Barat.

Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, tekanan inflasi tahun 2018 juga diperkirakan sedikit meningkat dibanding tahun 2017 namun masih berada dalam kisaran sasaran inflasi tahun 2018 sebesar 3,5%±1%.

Perkiraan meningkatnya tekanan inflasi ini terutama didorong oleh beberapa faktor meliputi : (1) prospek meningkatnya harga minyak dunia yang diperkirakan akan ditransmisikan ke kenaikan harga BBM (khususnya non subsidi); (2) adanya rencana Pemerintah untuk menaikkan batas bawah tarif angkutan udara, dari 30% dari batas atas menjadi 40% dari batas atas; serta (3) Pilkada Jabar 2018 yang diperkirakan mendorong permintaan domestik. Bank Indonesia bersama-sama Pemerintah dalam forum TPI/TPID berkomitmen untuk menjaga inflasi berada dalam kisaran sasaran inflasi tahun 2018 sebesar 3,5%±1%.

(20)

xv

I.

EKONOMI MAKRO REGIONAL

2018

I II III IV I

Produk Domestik Regional Bruto (%, yoy) 5,66 5,29 5,35 5,20 5,32 5,29 6,02

Konsumsi Rumah Tangga 5,60 4,85 4,82 4,15 4,70 4,63 4,82

Konsumsi LNPRT 5,48 2,07 3,26 3,35 10,31 4,77 18,15 Konsumsi Pemerintah 3,76 4,95 -6,42 1,60 1,38 0,23 4,96 PMTB 4,59 3,97 3,30 7,97 9,49 6,28 6,16 Perubahan Inventori 3,99 1,79 -6,73 -11,74 -3,01 -5,14 2,25 Ekspor 2,93 16,87 9,79 15,71 4,73 11,54 6,71 Impor 1,26 16,02 3,82 14,66 5,16 9,57 4,23

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 5,64 7,07 5,00 1,58 -8,60 1,88 -0,36

Pertambangan dan Penggalian -0,97 0,95 0,58 -7,66 -1,51 -2,02 -5,33

Industri Pengolahan 4,77 4,65 4,89 5,52 6,29 5,35 7,37

Pengadaan Listrik, Gas 3,37 6,40 -18,53 -10,66 -21,81 -11,42 -13,44

Pengadaan Air 6,33 7,84 8,48 6,15 6,17 7,13 6,34

Konstruksi 5,02 4,08 5,35 8,58 10,49 7,24 9,79

Perdagangan Besar dan Eceran, dan

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 4,41 5,45 4,76 4,26 3,93 4,58 5,24

Transportasi dan Pergudangan 8,84 4,78 6,05 1,57 7,21 4,83 2,72

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 9,35 9,55 8,45 8,62 6,99 8,37 7,88

Informasi dan Komunikasi 14,27 10,37 11,84 10,16 14,88 11,85 9,59

Jasa Keuangan 11,89 2,50 4,52 2,63 4,23 3,48 8,34

Real Estate 6,51 4,50 8,46 9,85 14,43 9,31 10,18

Jasa Perusahaan 8,16 7,80 7,70 7,10 11,00 8,42 11,29

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan

dan Jaminan Sosial Wajib 2,98 0,84 0,73 8,53 -8,54 0,19 1,13

Jasa Pendidikan 7,61 8,03 9,97 9,83 6,91 8,67 5,14

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 9,48 7,73 9,06 8,02 8,72 8,38 7,59

Jasa lainnya 8,73 8,96 9,92 10,43 9,77 9,78 6,53

Nilai Ekspor Non Migas (USD juta) 24.927 6.866 6.538 7.748 7.560 28.713 7.401 Volume Ekspor Non Migas (ribu ton) 6.887 1.660 1.628 1.905 1.880 7.074 1.831 Nilai Impor Non Migas (USD juta) 11.068 2.646 2.455 2.836 2.593 10.531 2.613

Volume Impor Non Migas (ribu ton) 2.136 568 534 588 553 2.243 551

Jawa Barat 124,36 125,87 127,77 127,90 128,88 128,88 130,79 Kota Bandung 125,28 126,35 128,34 128,21 129,61 129,61 131,24 Kota Bekasi 123,07 124,55 126,11 126,13 126,77 126,77 129,57 Kota Depok 124,35 126,19 128,34 128,56 129,24 129,24 130,68 Kota Bogor 126,07 128,32 129,95 130,43 131,86 131,86 133,48 Kota Sukabumi 125,09 126,87 129,26 129,13 130,22 130,22 131,70 Kota Cirebon 121,16 122,55 124,79 125,44 126,44 126,44 128,11 Kota Tasikmalaya 124,43 125,73 127,89 128,54 129,26 129,26 130,96 Jawa Barat 2,73 3,37 4,31 3,87 3,63 3,63 3,91 Kota Bandung 3,93 3,21 4,15 3,67 3,46 3,46 3,87 Kota Bekasi 2,22 3,21 4,11 3,50 3,01 3,01 4,03 Kota Depok 1,87 3,49 4,43 3,98 3,93 3,93 3,56 Kota Bogor 2,70 4,34 5,15 4,87 4,59 4,59 4,02 Kota Sukabumi 2,20 3,47 5,06 4,15 4,10 4,10 3,81 Kota Cirebon 1,56 2,74 3,91 4,00 4,36 4,36 4,54 Berdasarkan Permintaan/Penggunaan

Berdasarkan Penawaran/Lapangan Usaha

Ekspor Impor 2017 2017 2016r) INDIKATOR

Indeks Harga Konsumen (IHK)

(21)

xvi

2018

I II III IV I

Total Aset 517,14 522,21 537,26 552,42 571,76 571,76 569,32

Dana Pihak Ketiga (DPK) - Lokasi Bank Pelapor* 370,65 373,56 385,12 391,95 415,47 415,47 403,65 Kredit - Lokasi Bank Pelapor 335,19 335,91 347,83 353,40 364,43 364,43 368,80 Kredit - Lokasi Proyek 521,54 522,92 537,46 548,85 559,64 559,64 571,85

Loan to Deposit Ratio (LDR) (%) 90,44 89,92 90,32 90,16 87,72 87,72 91,37

Bank Umum Syariah

Total Aset 41,84 42,11 43,46 44,31 46,20 46,20 45,96

Dana Pihak Ketiga (DPK) - Lokasi Bank Pelapor 29,56 29,86 31,23 32,75 33,84 33,84 34,72 Pembiayaan - Lokasi Bank Pelapor 30,30 30,76 31,80 32,18 32,08 32,08 32,38

Pembiayaan - Lokasi Proyek 42,09 44,03 45,66 47,56 48,00 48,00 50,04

Financing to Deposit Ratio (FDR) 102,48 103,00 101,81 98,26 94,80 94,80 93,27

Total Bank Umum

Total Aset 558,98 564,32 580,71 596,73 617,96 617,96 615,28

Dana Pihak Ketiga (DPK) - Lokasi Bank Pelapor 400,21 403,42 416,35 424,70 449,31 449,31 438,37

Giro 71,50 74,42 79,77 81,15 85,80 85,80 83,30

Tabungan 174,21 168,12 179,02 178,82 193,38 193,38 187,26

Deposito 154,50 160,88 157,55 164,72 170,13 170,13 167,81

Kredit/Pembiayaan - Lokasi Bank Pelapor 365,49 366,67 379,63 385,57 396,51 396,51 401,19 Kredit/Pembiayaan - Lokasi Proyek** 563,63 566,94 583,12 596,41 607,64 607,64 621,89

Modal Kerja 219,90 216,61 227,29 235,58 237,74 237,74 243,53

Investasi 110,67 111,79 108,18 109,10 107,47 107,47 109,23

Konsumsi 233,06 238,55 247,66 251,73 262,42 262,42 269,13

Kredit UMKM - Lokasi Proyek 113,12 123,93 116,92 119,46 125,86 125,86 125,91

Loan to Deposit Ratio (LDR) (%) 91,33 90,89 91,18 90,79 88,25 88,25 91,52

Rasio Non Performing Loan (NPL) Gross 3,24 3,26 3,61 3,38 3,19 3,19 3,41 INDIKATOR

(dalam Rp Triliun kecuali dinyatakan lain) Bank Umum Konvensional

2017 2017 2016 2018 I II III IV I Inflow (Rp Triliun) 88,04 21,53 14,56 30,51 17,23 83,83 22,29 Outflow (Rp Triliun) 49,40 8,34 23,32 7,65 14,71 54,02 10,38 Netflow (Rp Triliun) 38,63 13,19 -8,76 22,86 2,51 29,81 11,91

Kliring Penyerahan (Rp Triliun) 341,19 71,68 61,73 65,31 65,16 263,88 62,29

Volume e Kliring (juta lembar) 8,64 2,02 1,80 1,83 1,89 7,54 1,80

Transaksi Tunai

Transaksi Non Tunai (Kliring)

2016 2017 2017

INDIKATOR

II. PERBANKAN

Sumber: Bank Indonesia

* Lokasi bank pelapor : pencatatan berdasarkan transaksi perbankan (baik penghimpunan dana maupun penyaluran kredit) yang dilakukan oleh bank-bank yang berkantor di Jawa Barat

* Lokasi proyek : pencatatan berdasarkan realisasi kredit yang disalurkan di wilayah Jawa Barat (tidak terbatas kepada penyaluran oleh bank yang berkantor di Jawa Barat

III. SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

(22)

.

BAB I

Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jawa Barat pada triwulan I 2018 sebesar 6,02%

(yoy), meningkat dari triwulan IV 2017 (5,32%,yoy) maupun dari triwulan I 2017

(5,29%, yoy).

Dari sisi pengeluaran, peningkatan LPE Jawa Barat disebabkan oleh meningkatnya

pertumbuhan konsumsi rumah tangga, konsumsi LNPRT, konsumsi pemerintah

dan net ekspor antar daerah

.

Dari sisi lapangan usaha (LU), LPE triwulan I 2018 didorong oleh meningkatnya

lapangan usaha utama, yakni pertanian, industri pengolahan dan perdagangan.

PDRB Triwulan I

2018

Konsumsi Rumah

Tangga

Konsumsi

Pemerintah

Investasi

Ekspor

EKONOMI MAKRO

REGIONAL

(23)

2

Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat Triwulan I 2018

Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2018 meningkat dibanding triwulan IV 2017. Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jawa Barat meningkat dari 5,32% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 6,02% (yoy) pada triwulan I 2018. Realisasi ini lebih tinggi dibanding rata-rata LPE triwulan I pada kurun waktu 2015-2017 yang tercatat sebesar 5,42%. Peningkatan ini dipengaruhi oleh peningkatan permintaan kebutuhan kampanye menjelang Pilgub dan Pilkada 2018 serta persiapan menjelang Bulan Ramadhan dan Idul Fitri mendorong industri melakukan front loading strategy1 pada triwulan I 2018.

Jika dibandingkan dengan triwulan I 2017 yang tercatat sebesar 5,29%(yoy), triwulan I 2018 juga tercatat meningkat cukup tinggi dengan 6,02% (yoy). Peningkatan ini didorong oleh komponen konsumsi LNPRT, investasi serta stabilnya konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah. Sedangkan dari sisi lapangan usaha (LU) , industri pengolahan dan konstruksi menjadi pendorong perekonomian triwulan I 2018. Penyelenggaraan Pilkada 2018 yang berbarengan dengan bulan Ramadhan dan Idul Fitri pada triwulan I 2018, serta persiapan penyelenggaraan ASIAN Games yang akan berlangsung pada triwulan III 2018, turut mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat meningkat. Selain itu, beberapa pembangunan infrastruktur pemerintah yang sudah dalam tahap finishing, seperti Bandara Kertajati yang direncanakan akan digunakan untuk pemberangkatan ibadah haji 2018 juga memberikan efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Dibandingkan dengan kawasan Jawa, LPE Jawa Barat pada triwulan I 2018 mengalami pertumbuhan paling tinggi sebesar 6,02% (yoy), sama seperti DKI Jakarta yang juga meningkat sebesar 6,02% (yoy). Meningkatnya pertumbuhan ekonomi kawasan Jawa ditopang oleh peningkatan pertumbuhan seluruh provinsi kecuali Jawa Timur yang melambat menjadi 5,50% (yoy) pada triwulan I 2018 (Gambar 1.1).

Sumber : BPS Indonesia dan Provinsi

1Strategi yang dilakukan perusahaan khususnya industri manufaktur dengan memajukan jadwal produksi dari jadwal seharusnya dengan

pertimbangan berkurangnya waktu kerja efektif di jadwal seharusnya

(24)

3

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2018 kembali tercatat mengungguli perekonomian Nasional yang tumbuh sebesar 5,06% (Grafik 1.1). Pada triwulan I 2018, Jawa Barat masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional dengan pangsanya yang mencapai 12,97%, tertinggi ketiga setelah DKI Jakarta (17,57%) dan Jawa Timur (14,55%). Adapun sumbangan PDRB Jawa Barat terhadap nasional ini mengalami peningkatan dibanding triwulan IV 2017 (12,75%), demikian halnya dengan DKI Jakarta dan Jawa Timur. Tingginya kontribusi Jawa Barat terhadap nasional disebabkan karena Jawa Barat merupakan kontributor sektor industri pengolahan terbesar terhadap nasional dengan pangsa mencapai 23,70%.

Sumber : BPS Sumber : BPS

Dari sisi pengeluaran, peningkatan laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2018 disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga, konsumsi LNPRT, konsumsi pemerintah dan net ekspor antar daerah. Peningkatan konsumsi rumah tangga didorong oleh adanya peningkatan daya beli masyarakat karena adanya kenaikan UMR di seluruh daerah di Jawa Barat sebesar 8,71% di awal tahun 2017. Konsumsi LNPRT dan konsumsi pemerintah meningkat karena persiapan menjelang Pilgub dan Pilkada di 16 kabupaten/kota di Jawa Barat yang berlangsung bulan Juni 2018. Selain itu, yang mendorong konsumsi pemerintah meningkat juga adanya penyelesaian venue ASIAN Games yang ditargetkan akan selesai bulan Juni 2018. Komponen net ekspor antar daerah juga menunjukkan adanya peningkatan yang didorong oleh ekspor antar daerah hasil produksi industri pengolahan yang meningkat seiring dengan perlambatan impor antar daerah.

Dari sisi lapangan usaha (LU), peningkatan laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2018 didorong oleh meningkatnya laju pertumbuhan mayoritas lapangan usaha di Jawa Barat , khususnya lapangan usaha utama yakni pertanian, industri pengolahan dan perdagangan. Bergesernya masa tanam padi pada triwulan IV 2017 turut menggeser masa panen menjadi akhir triwulan I 2018. Hal ini mendorong peningkatan pertumbuhan LU pertanian pada triwulan I 2018. LU industri pengolahan dan perdagangan juga tercatat meningkat pada triwulan I 2018, hal ini seiring dengan meningkatnya konsumsi swasta yang didorong oleh masuknya masa kampanye Pilkada 2018, serta persiapan ASIAN Games 2018.

Grafik 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Jabar & Nasional Grafik 1.2. Share Perekonomian Kawasan Jawa Terhadap Nasional

(25)

4

1.1.

Sisi Pengeluaran

Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jawa Barat pada triwulan I 2018 mencapai 6,02% (yoy) atau meningkat dibanding triwulan IV 2017 (5,32%, yoy). Meningkatnya pertumbuhan ekonomi Jawa Barat ini didorong oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang meningkat dari 4,70% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 4,82% (yoy) pada triwulan I 2018. Tak hanya konsumsi rumah tangga, konsumsi LNPRT juga meningkat cukup tinggi, yaitu menjadi sebesar 18,15% (yoy) yang didorong oleh berlangsungnya masa kampanye Pilkada 2018. Komponen komsumsi pemerintah pun mengalami peningkatan pada triwulan I 2018 menjadi sebesar 4,96% (yoy), didorong oleh kenaikan belanja modal yang cukup signifikan pada triwulan I 2018. Selain itu, ekspor juga turut mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat meningkat pada triwulan I 2018, khususnya ekspor antar daerah yang meningkat dari 2,22% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 8,79% (yoy) pada triwulan I 2018 (Tabel 1.1).

Tabel 1.1. Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Pengeluaran (% yoy)

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat, Perhitungan Staff BI

Ket: *Angka Sementara ; **Angka Sangat Sementara; r) Angka Revisi

Tabel 1.2. Sumber Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat Berdasarkan Komponen Pengeluaran (% yoy)

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat, Perhitungan Staff BI

Ket: *Angka Sementara ; **Angka Sangat Sementara; r) Angka Revisi

Sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2018 masih tetap didominasi oleh konsumsi rumah tangga yang menempati posisi pertama dengan andil sebesar 3,06%. Subkomponen konsumsi makanan, minuman, selain restoran serta transportasi dan komunikasi memiliki andil terbesar. Besarnya andil konsumsi rumah tangga didorong oleh meningkatnya daya beli masyarakat seiring dengan kenaikan UMR sebesar 8,71% pada awal tahun 2018. Andil terbesar kedua adalah komponen ekspor yaitu sebesar 2,46%. Kenaikan ekspor terutama didorong oleh ekspor antar daerah dimana masuknya masa panen pada triwulan I 2018 telah mendorong ekspor antar daerah dari sisi pertanian, dimana pada triwulan I 2018 berlangsung masa panen untuk komoditas padi. Selain itu, permintaan bahan bangunan untuk persiapan venue pelaksanaan ASIAN 2018**)

Ir) IIr) IIIr) IV*) I**)

Konsumsi Rumah Tangga 5,07 5,60 4,85 4,82 4,15 4,70 4,63 4,82

Konsumsi LNPRT -8,13 5,48 2,07 3,26 3,35 10,31 4,77 18,15 Konsumsi Pemerintah 8,10 3,76 4,95 -6,42 1,60 1,38 0,23 4,96 PMTB 4,16 4,59 3,97 3,30 7,97 9,49 6,28 6,16 Perubahan Inventori -16,51 3,99 1,79 -6,73 -11,74 -3,01 -5,14 2,25 Ekspor 5,46 2,93 16,87 9,79 15,71 4,73 11,54 6,71 Impor 2,20 1,26 16,02 3,82 14,66 5,16 9,57 4,23 PDRB 5,04 5,66 5,29 5,35 5,20 5,32 5,29 6,02 Komponen Penggunaan 2015r) 2017* ) 2017*) 2016r) 2018**)

Ir) IIr) IIIr) IV*) I**)

Konsumsi Rumah Tangga 3,19 3,52 3,09 3,00 2,59 2,98 2,91 3,06

Konsumsi LNPRT -0,05 0,03 0,01 0,02 0,02 0,06 0,03 0,11 Konsumsi Pemerintah 0,43 0,21 0,21 -0,33 0,08 0,10 0,01 0,21 PMTB 1,04 1,14 0,94 0,81 1,92 2,46 1,54 1,44 Perubahan Inventori -0,74 0,14 0,06 -0,24 -0,43 -0,10 -0,18 0,07 Ekspor 1,90 1,03 5,58 3,18 5,30 1,76 3,94 2,46 Dikurangi Impor 0,73 0,41 4,61 1,09 4,29 1,94 2,97 1,34 PDRB 5,04 5,66 5,29 5,35 5,20 5,32 5,29 6,02 Komponen Penggunaan 2015r) 2017* ) 2017*) 2016r)

(26)

5

Games yang berasal dari Jawa Barat mengalami peningkatan, sehingga turut mendorong ekspor antar daerah. Andil terbesar ketiga adalah investasi yaitu sebesar 1,44%, dimana investasi bangunan masih memberikan andil terbesar. Hal ini didorong oleh beberapa proyek infrastruktur yang sudah masuk ke dalam tahap finishing, antara lain Bandara Kertajati yang akan soft launching tanggal 24 Mei 2018.

1.1.1. Konsumsi

Konsumsi Rumah Tangga

Laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2018 tercatat sebesar 4,82% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 4, 70% (yoy). Berdasarkan struktur komponen penyusunnya, konsumsi rumah tangga di Jawa Barat didominasi oleh konsumsi makanan dan minuman selain restoran dengan pangsa sebesar 41,76%, dan diikuti oleh transportasi dan komunikasi (25,93%) serta perumahan dan perlengkapan rumah tangga (11,61%) (Tabel 1.3). Khusus untuk pangsa konsumsi makanan dan minuman tercatat meningkat dibanding triwulan sebelumnya.

Tabel 1.3. Struktur Konsumsi Rumah Tangga Provinsi Jawa Barat Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB)

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat. Perhitungan Staff BI

Ket: *Angka Sementara; **Angka Sangat Sementara; r) Angka Revisi

Peningkatan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga terutama disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan subkomponen konsumsi kelompok makanan dan minuman, selain restoran (dari 5,18% menjadi 5,70%) serta kelompok pakaian dan alas kaki (dari 3,41% menjadi 3,70%) (Tabel 1.4). Meningkatnya subkomponen konsumsi tersebut didorong oleh kenaikan permintaan sehubungan dengan masa kampanye yang berlangsung pada triwulan I 2018 menjelang Pilgub dan Pilkada di 16 kabupaten/kota.

Tabel 1.4. Laju Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga Provinsi Jawa Barat (% yoy)

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat. Perhitungan Staff BI

2018**) Ir) IIr) IIIr) IV*) I**)

Makanan dan Minuman, Selain Restoran 39,40 41,33 41,81 41,77 41,47 41,38 41,60 41,76 Pakaian dan Alas Kaki 4,19 3,97 3,92 3,85 3,91 3,95 3,91 3,90 Perumahan dan Perlengkapan Rumah Tangga 12,11 11,74 11,56 11,72 11,85 11,79 11,73 11,61 Kesehatan dan Pendidikan 5,78 5,59 5,58 5,55 5,62 5,67 5,60 5,64 Transportasi dan Komunikasi 26,80 26,11 25,94 25,88 26,01 26,01 25,96 25,93 Restoran dan Hotel 6,02 5,88 5,82 5,84 5,82 5,89 5,84 5,85 Lainnya 5,71 5,38 5,38 5,38 5,32 5,31 5,35 5,31

Konsumsi Rumah Tangga 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 2017*)

2017*) 2016r)

Komponen Konsumsi Rumah Tangga 2015r)

2018**)

Ir) IIr) IIIr) IV*) I**)

Makanan dan Minuman, Selain Restoran 6,83 6,92 6,61 6,18 5,64 5,18 5,89 5,70

Pakaian dan Alas Kaki 7,59 5,00 5,37 3,47 2,71 3,41 3,72 3,70

Perumahan dan Perlengkapan Rumah Tangga 5,66 5,27 0,84 1,70 1,71 3,11 1,84 2,97

Kesehatan dan Pendidikan 3,00 3,27 4,42 5,11 4,15 5,82 4,88 5,08

Transportasi dan Komunikasi 4,14 5,89 4,75 4,31 3,57 4,79 4,35 4,80

Restoran dan Hotel 2,17 4,95 4,26 5,80 4,64 5,94 5,16 5,37

Lainnya 1,83 0,77 4,02 5,27 3,62 2,96 3,96 3,22

Konsumsi Rumah Tangga 5,07 5,60 4,85 4,82 4,15 4,70 4,63 4,82

Komponen Konsumsi Rumah Tangga 2015r) 2016r) 2017*

)

(27)

6

Peningkatan pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercermin dari peningkatan keyakinan konsumen Jawa Barat pada triwulan I 2018 dibanding triwulan sebelumnya. Berdasarkan Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia, meningkatnya optimisme konsumen terjadi dari peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen (dari 128,78 pada triwulan IV 2017 menjadi 128,93 pada triwulan I 2018) yangbterutama didorong oleh meningkatnya Indeks Kondisi Ekonomi saat ini (112,54 pada triwulan IV 2017 menjadi 114,69 pada triwulan I 2018) (Grafik 1.3). Adapun peningkatan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini didorong oleh peningkatan indeks dari seluruh komponen penyusunnya, terutama indeks penghasilan saat ini dan indeks konsumsi barang kebutuhan tahan lama (Grafik 1.4). Meningkatnya indeks penghasilan saat ini diperkirakan sejalan dengan meningkatnya kegiatan usaha khususnya yang terkait dengan pemenuhan permintaan ekspor antar daerah. Selain itu, kenaikan UMR sebesar 8,71% juga turut mendorong peningkatan indeks penghasilan saat ini. Hal ini juga sejalan dengan likert scale permintaan domestik yang meningkat dari 0,26 pada triwulan IV 2017 menjadi 0,47 pada triwulan I 2018 (Grafik 1.5).

Sumber: Survei Konsumen, Bank Indonesia Sumber: Survei Konsumen, Bank Indonesia

Selain itu, Survei Konsumen juga menunjukkan adanya peningkatan pada pangsa pengeluaran untuk konsumsi dari total pendapatan masyarakat (Marginal Propensity to Consume) dari 63,61% menjadi 64,85% (Grafik 1.6). Peningkatan tendensi konsumsi ini diiringi dengan menurunnya pangsa pendapatan yang dialokasikan untuk tabungan (Marginal Propensity to Saving) yakni dari 21,52% menjadi 21,14%. Meningkatnya kegiatan konsumsi masyarakat di Jawa Barat juga tercermin dari pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang secara triwulanan mengalami peningkatan dari 1,36% (qtq) pada triwulan IV 2017 menjadi 1,86% (qtq) pada triwulan I 2018. Begitupun secara tahunan yang meningkat dari 5,79% (yoy) menjadi 5,89% (yoy) (Grafik 1.7). Berdasarkan tipe rumahnya, peningkatan IHPR secara tahunan terutama terjadi pada rumah tipe kecil dan menengah, sementara indeks harga rumah tipe besar tumbuh melambat pada triwulan I 2018.

Sumber: Hasil Liaison, Bank Indonesia Sumber: Survei Konsumen, Bank Indonesia

(28)

7

2018 dan juga terjaganya nilai tukar rupiah, impor barang konsumsi terpantau tumbuh meningkat yakni dari -3,53% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 8,14% (yoy) pada triwulan I 2018 (Grafik 1.8). Secara spesifik, peningkatan yang paling besar terjadi pada impor barang konsumsi makanan & minuman yang telah diproses (siap konsumsi oleh rumah tangga). Hal ini sejalan dengan perkembangan konsumsi rumah tangga kelompok makanan & minuman di Jawa Barat yang meningkat pada triwulan I 2018, diimbangi oleh meningkatnya konsumsi berbagai kelompok jasa serta kebutuhan sekunder lainnya.

Sumber: Survei Harga Properti Residensial, Bank Indonesia Sumber: Bea Cukai

Dari indikator perbankan, pertumbuhan kredit konsumsi dan rumah tangga terpantau relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan kredit konsumsi meningkat terbatas dari 12,60% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 12,82% pada triwulan I 2018 (Grafik 1.9). Dari kelompok kredit rumah tangga, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih memegang pangsa terbesar yakni mencapai 55,71%, diikuti kredit multiguna (30,21%) dan kredit kendaraan bermotor (14,08%). Dari segmen kredit rumah tangga, kredit kendaraan bermotor mengalami peningkatan (dari 3,92% menjadi 8,08%) sedangkan perlambatan terbatas terjadi pada kredit pemilikan rumah (dari 16,28% menjadi 15,93%) dan kredit multiguna (dari 18,45% menjadi 17,49%) (Grafik 1.10). Meningkatnya KKB juga tercermin dari kenaikan penjualan mobil pada triwulan I 2018 dengan pertumbuhan sebesar 2,88%, meningkat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan IV 2017 yang terkontraksi 1,49%.

Sumber: Bank Indoensia Sumber: Bank Indonesia

Grafik 1.7. Perkembangan Harga Properti Residensial Grafik 1.8. Perkembangan Impor Barang Konsumsi

(29)

8

Konsumsi Pemerintah

Pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan I 2018 meningkat dibanding triwulan sebelumnya, seiring dengan persiapan Pilkada 2018 serta mulai berlangsungnya masa kampanye. Konsumsi pemerintah pada triwulan I 2018 tercatat tumbuh sebesar 4,96% (yoy), meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,38% (yoy). Meningkatnya pertumbuhan konsumsi pemerintah didorong oleh penyelenggaraan Pilgub dan Pilkada di 16 kabupaten/kota dimana anggaran yang disediakan mencapai Rp1,69 triliun turut mendorong kenaikan konsumsi pemerintah pada triwulan I 2018.

Pada triwulan I 2018 realisasi belanja operasional Pemerintah Pusat di Jawa Barat yang terdiri dari belanja pegawai, belanja barang, dan belanja bantuan sosial melalui APBN sebesar Rp5,54 Triliun, lebih tinggi dibanding realisasi pada triwulan I 2017 sebesar Rp5,10 Triliun. Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, realisasi belanja operasional Pemerintah Pusat di Jawa Barat pada triwulan I 2018 tumbuh 8,58% (yoy), meningkat dibanding triwulan IV 2017 yang tumbuh sebesar 4,92% (yoy) (Grafik 1.11). Peningkatan ini terutama terjadi pada pertumbuhan belanja barang (dari 4,77% menjadi 30,56%), dimana pangsa belanja barang terhadap total belanja APBN di Jawa Barat pada triwulan I 2018 mencapai 41,64%.

Sumber: Kanwil Perbendaharaan Jawa Barat Sumber: Biro Keuangan Pemprov Jawa Barat

Sama halnya dengan realisasi belanja APBN, adapun realisasi belanja operasi pemerintah daerah melalui APBD Provinsi Jawa Barat pada triwulan I 2018 tercatat sebesar Rp3,12 Triliun, meningkat dibanding triwulan I 2017 sebesar Rp2,68 Triliun. Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, pertumbuhan belanja operasi APBD Provinsi hingga triwulan I 2018 sebesar 16,54% (yoy), melambat dibanding triwulan IV 2017 yang tumbuh sebesar 27,50% (yoy) (Grafik 1.12). Berdasarkan komponennya, peningkatan laju pertumbuhan disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan belanja hibah & bantuan keuangan dari 1,50% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 22,68% (yoy) pada triwulan I 2018. Adapun belanja hibah & bantuan keuangan memberikan kontribusi terbesar pada realisasi belanja Pemerintah Provinsi pada triwulan I 2018 yakni mencapai 54,94%.. Di sisi lain, perlambatan laju pertumbuhan belanja dibanding triwulan sebelumnya terjadi pada belanja pegawai (dari 162,54% menjadi 22,29%) dan belanja barang (dari 52,01% menjadi -5,04%). Hal ini akibat efek base year, khususnya pada tahun 2017 sebagai implikasi dari pengalihan wewenang dari Pemerintah Kab/Kota ke Provinsi yang meningkatkan beban belanja Pemerintah Provinsi, baik untuk belanja pegawai maupun belanja

Grafik 1.11. Realisasi Belanja Operasional APBN di Jawa Barat

Grafik 1.12. Realisasi Belanja Operasional APBD di Jawa Barat

(30)

9

barang. Secara umum, persentase realisasi belanja operasi pada APBD Pemerintah Provinsi terhadap pagunya pada triwulan I 2018 sebesar 13,25%, meningkat dibanding triwulan I 2017 sebesar 11,31%.

1.1.2. Investasi

Pertumbuhan komponen Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya, yakni dari 9,49% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 6,16% (yoy) pada triwulan I 2018. Perlambatan laju pertumbuhan investasi pada triwulan I 2018 terjadi pada investasi bangunan (dari 10,49% (yoy) menjadi 6,43% (yoy)) dan investasi non bangunan (dari 6,37% (yoy) menjadi 5,32% (yoy)) (Grafik 1.13). Meski melambat, pertumbuhan investasi bangunan ini masih tetap lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan I 2017 (3,61% (yoy)). Adapun investasi di Jawa barat didominasi oleh investasi bangunan dengan pangsa sebesar 75%.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perlambatan investasi di Jawa Barat pada triwulan I 2018, antara lain: (1) banyaknya proyek infrastruktur yang sudah memasuki tahap finishing antara lain Bandara Kertajati dan venue ASIAN Games 2018; (2) telah selesainya beberapa proyek swasta dalam rangka peningkatan kapasitas dengan membangun pabrik baru di Jawa Barat.

Sumber: BPS Jawa Barat Sumber: BKPM RI

Melambatnya laju pertumbuhan investasi tersebut juga dikonfirmasi oleh data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI yang menunjukkan bahwa pada triwulan I 2018 terjadi perlambatan terutama pada pertumbuhan realisasi PMDN di Jawa Barat. Realisasi PMDN di Jawa Barat pada triwulan I 2018 mencapai Rp4,53Triliun atau terkontraksi 50,19% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 15,81% (yoy).

Sementara itu, realisasi PMA pada triwulan I 2018 sebesar USD1,87 miliar atau tumbuh sebesar 23,26% (yoy), meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar -6,84% (yoy) (Grafik 1.14). Secara nasional, Jawa Barat masih menjadi provinsi tujuan PMA utama, sejalan dengan banyaknya industri dan kawasan industri yang berkembang di Jawa Barat. Dukungan implementasi Paket Kebijakan Ekonomi khususnya dalam mempermudah kegiatan investasi dan pengurusan perijinan juga menjadi salah satu penarik PMA ke Jawa Barat. Terkait implementasi salah satu Paket Kebijakan yakni pendirian KLIK (Kemudahan Investasi Langsung

Grafik 1.13. Pertumbuhan Komponen Investasi Grafik 1.14. Perkembangan Realisasi PMA dan PMDN di Jawa Barat

(31)

10

tersebar berada di 11 kawasan industri di Jawa Barat. Dengan demikian, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah KLIK terbanyak secara nasional.

Sumber: BKPM RI Sumber: BKPM RI

Di sisi PMDN, perlambatan pada triwulan I 2018 disumbang oleh mayoritas industri utama. Hal ini tercermin dari penurunan andil pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya, khususnya pada industri makanan (dari 39,4% menjadi -6,0%), industri kimia (dari -1,7% menjadi -4,0%) dan real estate (dari 1,8% menjadi -4,1%) (Grafik 1.15). Namun demikian, perlambatan yang lebih dalam ditahan oleh masih meningkatnya laju pertumbuhan PMDN ke sektor konstruksi, industri elektronik dan industri kertas. Melambatnya pertumbuhan PMDN ke industri-industri utama Jawa Barat pada awal tahun diperkirakan karena investor yang pada umumnya merupakan pemodal dari industri-industri yang ada di Jawa Barat masih mengantisipasi uncertainty pada perekonomian Jawa Barat dan perekonomian nasional, karena adanya pelaksanaan Pilkada serentak pada bulan Juni 2018. Selain itu, beberapa proyek infrastruktur yang sudah dalam tahap finishing juga turut menahan pertumbuhan PMDN di Jawa Barat.

Sementara itu, peningkatan PMA ke Jawa Barat disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan PMA ke hampir seluruh sektor utama. Hal ini tercermin dari peningkatan andil pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya, khususnya pada real estate (dari 0,3% menjadi 5,9%), industri elektronik (dari -3,5% menjadi 35,8%), industri makanan (dari -10,3% menjadi -0,4%) dan industri karet & plastik (dari -4,5% menjadi -3,0%) (Grafik 1.16).

Sumber: Asosiasi Semen Indonesia Sumber: Survei Kegiatan Dunia Usaha, Bank Indonesia

Grafik 1.15. Andil Pertumbuhan PMDN ke Sektor Utama di Jawa Barat

Grafik 1.16. Andil Pertumbuhan PMA ke Sektor Utama di Jawa Barat

Grafik 1.17. Perkembangan Penjualan Semen di Jawa Barat

Grafik 1.18. Perkembangan Investasi Kegiatan Dunia Usaha - SKDU

(32)

11

Melambatnya perkembangan investasi pada triwulan I 2018 juga tercermin dari menurunnya penjualan semen dimana pertumbuhannya menurun dari 15,2% pada triwulan IV 2017 menjadi 9,5% pada triwulan I 2018. Menurunnya penjualan semen ini seiring dengan proyek infrastruktur di Jawa Barat yang sudah memasuki masa finishing, antara lain Bandara Kertajari yang soft launching pada bulan Mei 2018. Selain itu, dari sisi swasta, peningkatan kapasitas produksi melalui pembangunan pabrik baru juga sudah mulai selesai pada triwulan I 2018. Hal ini terkonfirmasi dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang menunjukkan bahwa hampir seluruh sektor mengalami perlambatan investasi yaitu industri pengolahan dan konstruksi.

1.1.3. Ekspor Impor

Neraca perdagangan Jawa Barat pada triwulan I 2018 secara total mencatatkan surplus (ADHB), yakni sebesar Rp2,50 triliun, berbeda dibandingkan triwulan IV 2017 yang mengalami defisit sebesar Rp30,00 triliun. Kondisi surplus pada triwulan ini disebabkan meningkatnya net ekspor antar daerah khususnya hasil produksi industri pengolahan yang dibutuhkan oleh daerah mitra dagang utama Jawa Barat. Neraca perdagangan antar daerah ini meningkat dari defisit Rp85,64 triliun pada triwulan IV 2017 menjadi defisit Rp52,02 triliun pada triwulan I 2018. Di sisi lain, neraca perdagangan luar negeri Jawa Barat sesuai dengan karakteristiknya masih konsisten mencatatkan surplus namun melambat dibanding triwulan IV 2017. Surplus neraca perdagangan luar negeri pada triwulan I 2018 melambat dari Rp55,63 triliun menjadi Rp54,52 triliun. Adapun struktur neraca ekspor Jawa Barat pada triwulan I 2018 didominasi oleh ekspor luar negeri (53,56%). Di sisi lain, neraca impor Jawa Barat didominasi oleh impor antar provinsi (74,40%) (Tabel 1.5).

Tabel 1.5. Struktur Ekspor Impor Provinsi Jawa Barat (%)

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat. Perhitungan Staff BI

Ket: *Angka Sementara; **Angka Sangat Sementara; r) Angka Revisi

Kinerja pertumbuhan net ekspor luar negeri tercatat menurun pada triwulan I 2018, namun sebaliknya net ekspor antar daerah pada triwulan I 2018 tercatat meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Net ekspor luar negeri Jawa Barat pada triwulan I 2018 tumbuh sebesar 26,52% (yoy), melambat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 28,58% (yoy) (Grafik 1.19). Hal ini disebabkan oleh perlambatan laju pertumbuhan ekspor luar negeri yang lebih dalam dibandingkan impor luar negeri. Di sisi lain, net ekspor antar daerah pada triwulan I 2018 tumbuh sebesar 32,08% (yoy), meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 29,46% (yoy) (Grafik 1.20). Melambatnya kinerja perdagangan luar negeri turut didorong oleh kinerja perekonomian beberapa negara/kawasan mitra dagang yang stagnan, seperti ASEAN dan Eropa. Perlambatan terjadi khususnya pada sektor industri otomotif, industri kertas dan industri elektronik. Pada net

2018**) Ir) IIr) IIIr) IV*) I**)

Ekspor Luar Negeri 62,07 56,97 54,76 53,89 57,32 55,65 55,46 53,56

Ekspor Antar Provinsi 37,93 43,03 45,24 46,11 42,68 44,35 44,54 46,44

Impor Luar Negeri 31,19 30,74 29,89 27,85 27,60 22,33 26,64 25,60

Impor Antar Provinsi 68,81 69,26 70,11 72,15 72,40 77,67 73,36 74,40

Ekspor

Impor

2017*)

2017*)

Komponen

2015r) 2016r)

(33)

12

implikasi dari meningkatnya harga komoditas global. Adapun perbaikan wilayah-wilayah berbasiskan SDA tersebut diperkirakan mendorong ekspor antar daerah untuk produk makanan & minuman (seiring dengan membaiknya pendapatan masyarakat setempat) serta alat angkutan (sebagai barang modal untuk industri pertambangan/penggalian) dari Jawa Barat.

Sumber: BPS Sumber: BPS

Ekspor-Impor Antar Daerah

Pertumbuhan ekspor antar daerah pada triwulan I 2018 sebesar 8,79% (yoy) meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 2,22%. Dari sisi nominal, ekspor antar daerah juga tercatat meningkat dari Rp54,02 triliun pada triwulan IV 2017 menjadi Rp55,83 triliun pada triwulan I 2018.

Peningkatan ini terutama didorong oleh

membaiknya kondisi perekonomian dari wilayah mitra dagang. Data impor antar daerah menunjukkan adanya beberapa mitra dagang yang

pertumbuhannya meningkat, antara lain DKI Jakarta (Grafik 1.21). Persiapan venue untuk penyelenggaraan ASIAN Games di DKI Jakarta yang membutuhkan bahan bangunan mendorong industri pengolahan meningkat, khususnya di Jawa Barat yang memiliki pangsa industri pengolahan terbesar secara nasional. Di sisi lain, impor antar daerah juga menunjukkan adanya peningkatan dari 11,78% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 13,13% (yoy) pada triwulan I 2018. Namun secara nominal, impor antar daerah menunjukkan adanya penurunan dari Rp 91,03 triliun menjadi Rp71,34 triliun. Dengan meningkatnya ekspor dan menurnnya impor antar daerah, secara keseluruh net ekspor antar daerah meningkat lebih tinggi pada triwulan II 2018.

Sumber: BPS

Grafik 1.19. Perkembangan Neraca Perdagangan Luar Negeri Jawa Barat

Grafik 1.20. Perkembangan Neraca Perdagangan Dalam Negeri Jawa Barat

Grafik 1.21. Impor Antar Daerah Mitra Dagang Jawa Barat

(34)

13

Ekspor-Impor Luar Negeri

Ekspor Luar Negeri

Pertumbuhan ekspor luar negeri Jawa Barat pada triwulan I 2018 melambat yakni dari 6,71% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 5,12% (yoy) pada triwulan I 2018. Hal ini tercermin dari nilai ekspor barang FOB (freight on board) pada triwulan ini yang melambat dari 15,5% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 7,8% (yoy) pada triwulan I 2018 (Grafik 1.22). Namun, pertumbuhan volume ekspor barang FOB tercatat meningkat dari -7,3% pada triwulan IV 2017 menjadi 10,3% pada triwulan I 2018. Melambatnya pertumbuhan ekspor luar negeri ini

didorong oleh Indeks Harga Ekspor yang melambat dalam jangka menengah, serta melambatnya kinerja perekonomian beberapa mitra dagang Jawa Barat, seperti Eropa, Jepang dan Tiongkok.

Sumber: Bea Cukai Sumber: Bea Cukai

Berdasarkan pangsanya, komoditas ekspor terbesar dari Jawa Barat pada triwulan I 2018 adalah dari subkelompok Tekstil dan Produk Tekstil (19,30%), diikuti oleh Kendaraan (16,71%), Elektronik (16,69%), dan Kimia (7,43%) (Grafik 1.23). Industri TPT masih menjadi pengekspor utama, khususnya dikarenakan pada triwulan I terdapat perusahaan swasta yang cukup besar di Jawa Barat yang meningkatkan kapasitas produksinya melalui pembangunan pabrik baru. Di sisi lain, industri otomotif mengalami penurunan pangsa dibandingkan dengan kondisi pada triwulan IV 2017. Sementara itu, pangsa industri elektronika meningkat dan hampir menggeser posisi kedua industri otomotif sebagai pangsa terbesar ekspor.

Secara pertumbuhan, seluruh subsektor industri pengolahan mengalami perlambatan. Industri yang mengalami perlambatan terdalam adalah industri otomotif (dari 35,1% menjadi 4,4%), industri kertas (dari 56,2% menjadi 35,1%) dan industri elektronik (dari 30,3% menjadi 16,6%). Khusus untuk industri otomotif, melambatnya

Sumber: Bea Cukai

Grafik 1.22. Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Jawa Barat

Grafik 1.23. Struktur Komoditas Ekspor Jawa Barat Grafik 1.24. Pertumbuhan Ekspor Industri Pengolahan Jawa Barat

(35)

14

perhatikan untuk mendorong industri otomotif dalam meningkatkan ekspor mobil antara lain mengembangkan industri pendukung (suku cadang), mempromosikan tax-holiday sebagai insentif untuk merangsang produksi sedan di Indonesia, pembenahan infrastruktur terutama akses ekspor-impor di jalan raya dan pelabuhan, serta road map yang tegas dari Standar Emisi Euro 2 menuju pelaksanaan Standar Emisi Euro 4.

Sumber: Bea Cukai Sumber: Markit Economics, Tiongkok Logistics Information

Center, dan Nomura/JMMA

Sementara itu dari sisi negara tujuan, melambatnya pertumbuhan ekspor luar negeri terjadi ke semua negara mitra dagang utama dengan perlambatan terdalam pada ekspor ke ASEAN. Nilai ekspor barang FOB dari Jawa Barat ke ASEAN, Amerika Serikat, dan Eropa tercatat masing-masing sebesar USD1.899 juta, USD1.191 juta dan USD953 juta. Pertumbuhan ekspor ke ASEAN melambat dari 25,34% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 14,15% pada triwulan I 2018 (Grafik 1.25). Selanjutnya, pertumbuhan ekspor Jawa Barat ke Amerika Serikat juga melambat dari -2,82% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi -8,07% (yoy) pada triwulan I 2018. Sama halnya dengan ASEAN dan Amerika Serikat, Eropa juga mengalami perlambatan pada triwulan I 2018 dengan tumbuh dari 13,65% (yoy) menjadi 8,12% (yoy). Melambatnya permintaan dari mitra dagang utama ini sejalan dengan perkembangan Purchasing Manager Index (PMI) yang menurun dibanding triwulan sebelumnya. Adapun PMI Eropa menurun dari 59,73 pada triwulan IV 2017 menjadi 58,27 pada triwulan I 2018, begituppun PMI Tiongkok menurun dari 51,67 menjadi 51,03 (Grafik 1.26). Namun demikian PMI dari mayoritas negara mitra dagang utama Jawa Barat saat ini masih berada di atas level 50 yang menandakan adanya ekspansi di sektor manufaktur.

Impor Luar Negeri

Pertumbuhan impor luar negeri Jawa Barat juga mengalami perlambatan seiring dengan ekspor yang melambat, yakni dari -8,43% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi -9,94% (yoy) pada triwulan I 2018. Di sisi lain, pertumbuhan impor barang CIF juga mengalami perlambatan yakni dari 5,3% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi -3,0% (yoy) pada triwulan I 2018 (Grafik 1.27). Hal ini terjadi seiring dengan depresiasi terbatas Rupiah pada triwulan I 2018 sebesar 0,27% (qtq) dan kebijakan The Fed yang menaikkan suku bunga kebijakannya (FFR) pada bulan Maret 2018 (Grafik 1.28). Pada triwulan I 2018, industri masih belum optimal melakukan pembelian barang modal melalui impor, karena masih menggunakan stock tahun lalu.

Grafik 1.25. Ekspor Jawa Barat ke Negawa/Kawasan Tujuan Utama

Grafik 1.26. Perkembangan PMI Negara Mitra Dagang Utama

(36)

15

Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia

1.2 Sisi Lapangan Usaha

Perekonomian Jawa Barat dari sisi lapangan usaha masih ditopang terutama oleh industri pengolahan, meskipun terlihat ada peningkatan pada sektor tersier seperti informasi dan komunikasi serta jasa -jasa. Pada triwulan I 2018, pangsa industri pengolahan mencapai 42,58%, menurun dibandingkan triwulan sebelumnya (43,02%) akibat peningkatan kinerja pertanian yang lebih besar. Selain industri pengolahan, lapangan usaha utama Jawa Barat lainnya adalah perdagangan besar dan eceran dan reparasi mobil dan sepeda motor serta pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan pangsa masing-masing sebesar 14,78% dan 9,16%.

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2017 didorong oleh kinerja ketiga lapangan usaha utama, yakni industri pengolahan; perdagangan besar & eceran; serta pertanian, kehutanan & perikanan (Tabel 1.6). Hal ini sejalan dengan menguatnya permintaan domestik didorong oleh beberapa event yang tengah berlangsung seperti masa kampanye menjelang Pilkada serentak dan persiapan Asian Games 2018. Periode Ramadhan serta libur Lebaran yang berlangsung pada triwulan II 2018 diperkirakan juga mendorong pelaku usaha industri pengolahan menerapkan front loading strategy proses produksinya ke triwulan I 2018. Selain itu, membaiknya kinerja beberapa provinsi mitra dagang akibat kenaikan harga komoditas global juga berdampak kepada meningkatnya permintaan antar daerah. Di sisi lain, terdapat tujuh lapangan usaha yang mengalami perlambatan laju pertumbuhan, antara lain konstruksi; transportasi & pergudangan; dan informasi dan komunikasi. Hal ini diperkirakan sejalan dengan efek seasonal berlalunya momen libur akhir tahun pada triwulan IV 2017.

Grafik 1.27. Perkembangan Nilai dan Volume Impor Jawa Barat

Grafik 1.28. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah (USD/IDR)

Figur

Memperbarui...

Related subjects :