BAB I KINERJA
C. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan APEC dan Organisasi
4. Pertemuan APEC Senior Officials’ Meeting (SOM) 1
Pertemuan pertama APEC Senior Officials' Meeting (SOM 1) 2011 telah diselenggarakan di Washington D.C., AS pada tanggal 11-12 Maret 2011. Pertemuan diketuai oleh SOM
Chair Amerika Serikat dan dihadiri oleh seluruh Ekonomi
APEC; APEC Business Advisory Council (ABAC).
Pembahasan pada SOM 1 tidak ditujukan untuk mengambil keputusan tertentu, tetapi lebih pada penjajakan topik dan perumusan kerangka waktu pembahasan prioritas APEC AS 2011 dalam satu tahun.
Strengthening Regional Economic Integration and Expanding Trade
Pada prioritas strengthening regional economic integration
and expanding trade, agenda utama yang akan dibahas
adalah mengenai the next generation of trade and
investment issues. AS menjelaskan bahwa yang dimaksud next generation of trade and investment issues adalah
isu-isu yang diprediksi akan menjadi pokok-pokok bahasan pada perundingan perdagangan di abad ke-21.
Gambar 5. SOM Chair AS Memberikan Sambutan dalam Pleno Terbuka
APEC SOM1
Agenda Next
Generation of Trade and Investment Issues
Agenda next generation of trade and investment issues mulai dibahas pada pertemuan CTI Trade Policy Dialogue
on the Next Generation of Trade Issues pada tanggal 7
Maret 2011. Pembahasan didasari oleh discussion paper AS, yaitu APEC Agenda on Next Generation Trade and
Investment Issues Pertemuan menghasilkan beberapa
kesimpulan, antara lain:
1) Terdapat kesepakatan di antara Ekonom APEC untuk mengidentifikasi isu terkait next generation of trade and
investment yang menjadi kepentingan bersama;
2) Beberapa ekonom menekankan pentingnya untuk bekerja sama dengan private sectors di dalam menentukan isu-isu yang akan dijadikan prioritas di 2011;
3) Beberapa ekonom menyampaikan concerns mereka terhadap beberapa isu yang diangkat di dalam
discussion paper yang dianggap bukan merupakan
kepentingan ekonomi terkait (misalnya isu cloud
computing;
4) Terdapat kesepakatan mengenai pentingnya capacity
building dalam penanganan isu-isu yang spesifik terkait next generation of trade and investment.
Dalam kaitan ini, CTI sepakat untuk membentuk Friends of
the Chair (FoTC) yang akan mengkaji dan mengidentifikasi
isu-isu terkait next generation of trade and Investment dan/capacity building.
Dalam pertemuan SOM, berbagai Ekonom menyampaikan pandangan mereka terkait isu-isu yang dapat dikategorikan sebagat next generation of trade and Investment, yaitu: (i)
supply chain connectivity; (ii) small and medium enterprises; (iii) food security; (iv) cloud computing; (v) climate change; (vi) energy; (vii) IPR, (viii) Sanitary and Phytosanitary (SPS); dan (ix) technology.
Sebagian besar Ekonom APEC mengangkat isu supply chain
connectivity dan pengembangan SMEs sebagai prioritas
mereka. Dalam kaitan ini US Trade Representatives menyarankan agar kedua isu dimaksud dapat diidentifikasi sebagai isu yang menjadi kepentingan bersama yang akan dibahas di agenda next generation of trade and investment
issues.
Para Ekonom APEC, khususnya Ekonom berkembang, juga mengangkat pentingnya capacity building terutama terkait pembahasan isu spesifik di dalam next generation of trade
and Investment issues. China mengangkat pentingnya
memperhatikan perbedaan kapasitas Ekonomi APEC di dalam pembahasan next generation of trade and
investment issues,
Para Ekonom APEC juga sepakat atas pentingnya peran dan dukungan ABAC di dalam membantu Ekonom APEC untuk melakukan identifikasi dan menentukan prioritas di Isu-isu next generation of tmde and investment issues. Para Ekonom APEC mendukung dibentuknya FoTC on Next
Generation of Trade and Investment Issues yang akan
melakukan kajian terhadap isu-isu yang dapat diangkat dan menjadi kepentingan bersama ekonom APEC.
Promoting Green Growth
Pada prioritas promoting green growth, AS melakukan kategorisasi pembahasan prioritas ini pada tiga agenda yaitu energy-related, trade-related, dan environment
protection.
Pada topik energy-related issues, tiga isu utama yang dibahas adalah terkait phasing out inefficient fossil fuel
subsidies; reducing the energy intensity, dan green electricity.
Beberapa Ekonom seperti China, Thailand, Brunei, dan Malaysia menyampaikan bahwa dalam mendorong pembahasan phasing out inefficient fossil fuel subsidies, perlu digarisbawahi pentingnya mengakomodasi kebutuhan masyarakat kurang mampu serta mendorong transfer teknologi.
Trade-Telated Issues Sementara itu, pembahasan pada topik trade-related
issues akan difokuskan pada tiga isu, yaitu: Environmental Goods and Services (EGS), Advanced Technology Demonstration Vehicles, dan Remanufactured Goods. Environmental Goods
and Services (EGS)
Pada pembahasan EGS, AS menyampaikan bahwa pihaknya menargetkan tercapainya hasil yang konkret dengan melakukan pembahasan spesifik pada beberapa
Non-Tariff Measures (NTMs) dan menentukan rencana aksi
dari pembahasan dimaksud dengan mengedepankan
capacity building dan knowledge sharing.
Sehubungan dengan itu, SOM berharap FotC EGS yang terdapat dalam CTI dapat melakukan pembahasan lebih lanjut dan memberikan rekomendasi tentang daftar isu-isu NTMs yang dapat didorong untuk diselesaikan pada tahun 2011. Pembahasan mengenai hal ini akan dilanjutkan pada pertemuan SOM 2 tahun 2011.
Advanced Technology Demonstration Vehicles
Pada isu Advanced Technology Demonstration Vehicles, SOM menyambut baik perkembangan positif yang telah dilakukan dalam Automotive Dialogue (AD). Disampaikan bahwa Isu Advenced Technology Demonstration Vehicles ini dikembangkan untuk memberikan fasilitasi importasi dari kendaraan bermotor dalam jumlah kecil yang telah menggunakan alternatif bahan bakar dan teknologi tinggi untuk tujuan penelitian dan demonstrasi langsung di lapangan dan bukan untuk dijual ke publik.
Remanufactured Product
Pada isu remanufactured product, AS menekankan bahwa pihaknya tidak berupaya memperkenalkan rezim baru pada remanufactured product. Pembahasan akan diarahkan pada persamaan perlakuan importasi dan tarif bagi produk-produk remanufaktur. Ditekankan pula bahwa produk remanufaktur yang dimaksud bukanlah produk bekas ataupun produk scrap.
Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand menyampaikan bahwa pihaknya keberatan dengan pembahasan
manufactured product. Meski demikian, AS diharapkan
dapat memfasilitasi capacity building dan mendorong transfer teknologi guna mengurangi kesenjangan pembangunan dalam pembahasan topik tersebut.
Environment Protection Pada topik environment protection, isu yang dibahas
adalah mengenai Illegal Logging and Associated Trade, dan
Low-Emission Development Strategy (LEDS) khususnya
Pada pertemuan CTI 1, Indonesia dan AS telah mengajukan proposal “Establishing an APEC Strategy on Illegal Logging
and Associated Trade." Proposal tersebut saat ini tengah
dalam pembahasan intersesional di CTI. China, Peru, Mexico, dan PNG menyatakan mendukung proposal tersebut.
Sementara itu, China menyampaikan bahwa pihaknya akan menyelenggarakan Forestry Ministerial Meeting di Beijing, China pada tanggal 6-8 September 2011.
Terkait LEDS, Jepang dan China menyampaikan bahwa pihaknya bermaksud menyelenggarakan workshop terkait pada bulan Juni 2011 di China. Dalam pertemuan tersebut akan dilakukan pembahasan mengenai konsep energy
efficiency city model.
Delri pada berbagai kesempatan menyampaikan bahwa pembahasan Green Growth perlu ditekankan pada aspek investasi, capacity building, dan technology diffusion terutama untuk meningkatkan kapasitas Ekonomi berkembang. Dengan demikian, APEC dapat mendorong proses market building dan tidak sekedar market access. Selain itu, Indonesia juga menekankan bahwa pembahasan agenda green growth perlu memasukkan isu oceans and
marine environment sebagai upaya mendukung food security sekaligus mengembangkan sustainable growth. Expanding Regulatory
Cooperation and Advancing Regulatory Convergence
Di dalam pembahasan agenda Expanding Regulatory
Cooperation and Advancing Regulatory Convergence, AS
menekankan bahwa tujuan diangkatnya regulatory
cooperation dan convergence bukan untuk harmonisasi
peraturan di APEC, namun lebih ditujukan untuk mengembangkan best practices dan membantu Ekonomi APEC untuk menerapkan good regulatory practices.
Good regulatory practices menekankan pada pentingnya
transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik di dalam perumusan suatu peraturan. Penerapan regulasi yang baik tidak hanya bermanfaat bagi private sectors, namun juga untuk masyarakat luas.
Dalam menyikapi agenda dimaksud, beberapa ekonom APEC menekankan pentingnya fleksibilitas di dalam pembahasan karena perbedaan kapasitas, sistem regulasi dan koordinasi internal antara stakeholders di masing-masing ekonomi APEC, utamanya di ekonomi berkembang.
Beberapa ekonom APEC mendukung pembahasan agenda ini dan mendukung pelaksanaan capacity building terkait
good regulatory practices.
Capacity Building Terkait capacity building, AS menyampaikan proposal APEC
Regulatory Cooperation Plan untuk meningkatkan regulatory cooperation di kawasan Asia Pasifik dan
membentuk Friends of the Choir (FoTC) on Regulatory
Cooperation untuk membantu Ekonomi APEC dalam
mencapai regulatory objectives di masing-masing ekonomi.
Gambar 6. Pejabat Senior APEC