• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 4. Metodelogi Penelitian

4.4 Pertimbangan Etik

Dalam melaksanakan penelitian ini ada beberapa pertimbangan etik yang harus di perhatikan yaitu kerelaan perawat pelaksana menjadi responden serta kebebasan dari Rumah Sakit secara fisik maupun sosial.

Lembar persetujuan diberikan kepada responden ataupun pernyataan lisan. Peneliti menjelaskan maksud, tujuan dan prosedur penelitian yang dilakukan, selanjutnya Perawat pelaksana akan meyatakan kesediannya menjadi responden. Jika para perawat pelaksana menolak untuk berpartisipasi dalam penelitian maka peneliti tidak akan memaksa dan tetapi menghormati hak – hak. Jika perawat pelaksana bersedia menjadi responden, maka mereka diminta untuk

menandatangani lembar persetujuan (Inform consent). Untuk menjaga kerahasiaan responden peneliti tidak mencantumkan nama responden (anonimiti) pada lembar pengumpulan data, tetapi dengan memberi kode pada masing – masing lembaran tersebut. Kerahasiaan informasi perawat dijamin oleh peneliti dan hanya kelompok data tersebut saja yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

4.5 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini disusun oleh peneliti yang mengacu pada tinjauan pustaka yang terdiri dari tiga macam kuesioner yaitu: kuesioner data demografi, kuesioner tentang gaya kepemimpinan kepala ruangan dalam persepsi perawat pelaksana dan kuesioner tentang stress psikologi perawat pelaksana.

Kuesioner bagian pertama berisi tentang data demografi perawat pelaksana meliputi; Jenis kelamin, usia, jenjang pendidikan terakhir, lama bekerja dan status pernikahan.

Kuesioner yang kedua berisi tentang pernyataan yang memberikan gambaran persepsi perawat pelaksana tentang gaya kepemimpinan kepala ruangan yang penulis ambil dari instrumen penelitian Hutahaean (2010) dimana kuesioner tersebut disusun berdasarkan kewenangan dan kekuasaan dalam melaksanakan fungsinya mulai dari perencanaan, pengorganisasian, ketenagaan, pengarahan dan pengawasan dengan jumlah soal 18 butir. Dimana soal nomor 1-4 fungsi perencanaan, nomor 5-8 fungsi pengorganisasian, nomor 9-12 pada fungsi ketenagaan, soal 13 – 16 pada fungsi pengarahan dan soal 17 – 18 pada fungsi

pengawasan. Dimana gaya kepemimpinan laissers faire dengan nilai 1, gaya kepemimpinan autokratik dengan nilai 2, gaya kepemimpinan partisipatif dengan nilai 3 dan untuk gaya kepemimpinan demokratis dengan nilai 4 dengan demikian skor paling rendah adalah 18 dan paling tinggi adalah 72. Dimana jika didapat nilai 18- 30 dimana gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh kepala ruangan adalah gaya kepemimpinan laissez faire, nilai 31– 44 dimana gaya kepemimpinan yang di terapkan oleh kepala ruangan adalah gaya kepemimpinan Autokratik, nilai 45 - 58 gaya kepemimpinan yang di terapkan oleh kepala ruangan ialah gaya kepemimpinan Partisipatif dan nilai 59 - 72 gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh kepala ruangan adalah gaya kepemimpinan Demokratis.

Kuesioner bagian yang ketiga tentang pernyataan stres psikologi perawat pelaksana yang penulis buat sendiri berdasarkan tinjauan teoritis. Kuesioner yang digunakan berisi 20 pernyataan dengan 4 pilihan jawaban yaitu tidak pernah (TP), kadang – kadang (KK), sering (S) dan Selalu (SL) Dimana pernyataan nomor 1-4 dimana stress psikologi menggangu perasaan, pernyataan nomor 5-8 stress yang mengganggu pikiran, pernyataan nomor 9-12 perasaan stress psikologi yang berpengaruh terhadap perilaku, pernyataan nomor 13 -16 stress psikologis yang memacu beragam penyakit dan pernyataan nomor 17 – 20 stress psikologi yang menimbulkan depresi jawaban tidak pernah memiliki bobot 1, jawaban kadang – kadang memiliki bobot 2, jawaban sering memiliki bobot 3 dan jawaban Selalu memiliki bobot 4. Dengan demikian skor paling rendah adalah 20 dan paling tinggi adalah 80. Dimana indikator yang digunakan ialah jika didapat nilai 20 – 39 maka perawat pelaksana dalam stress tingkat peringatan, nilai 40 – 59 maka

perawat pelaksana dalam tingkat resistensi dan jika nilai 60 – 80 maka perawat pelaksana dalam stres tingkat ketelitian (Exhausted).

4.6Uji Instrumen 4.6.1 Uji Validitas

Validitas instrumen ialah pengukuran dan pengamatan yang berarti prinsip kesaihan instrumen dalam mengumpulkan data. Semakin tinggi validitas suatu instrumen, maka instrumen tersebut semakin mengenai sasarannya atau semakin menunjukkan apa yang seharusnya diukur. Instrumen yang dikatakan valid adalah suatu alat yang pasti untuk mengukur apa yang ingin di ukur dan mampu mengungkapkan apa yang ingin di ungkapkan (Sugiyono, 2005). Kuesioner dalam penelitian ini telah di uji validasi yaitu kuesioner bagian ke 3 mengenai stres psikologis perawat pelaksana kepada Dosen Departemen jiwa dan komunitas yaitu Ibu Wardiyah Daulai, S.Kep.,Ns., M.Kep. Semua kuesioner pada angket stres psikologis perawat pelaksana sudah valid dan layak di gunakan untuk peneltian dengan nilai CVI 0,9. Sedangkan kuesioner bagian ke 2 yaitu mengenai gaya kepemimpinan kepala ruangan tidak penulis uji validasi karena sudah di uji validasi pada penelitian sebelumnya.

4.6.2 Uji Reliabilitas

Reliabilitas Instrumen ialah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali – kali dalam waktu yang berlainan (Nursalam, 2008). Menurut Putra (2012) Uji reliabilitas (keandalan) bertujuan melihat andal atau tidaknya instrumen yang telah disusun.

Instrumen Pada penelitian ini telah penulis uji reliabel kepada 10 orang perawat pelaksana di ruang rawat inap rumah sakit Santa Elisabeth Medan. Diolah menggunakan menggunakan cronbach alpha, dimana kuesioner 2 mengenai gaya kepemimpinan kepala ruangan pada uji reliabelitas pada penelitian sebelumnya dengan nilai koefisein 0.795, setelah di uji reabilitas ulang nilai koefisen 0,892 dan kuesioner 3 mengenai stres Psikologis perawat pelaksana dengan nilai koefisiennya 0,885. Menurut setiadi (2006) sebuah isntrumen yang handal yaitu nilai koefisien uji reliabelnya > 0,07

4.5 Pengumpulan Data

Persiapan awal mulai dilakukan dengan tahap sebagai berikut:

1. Mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian kepada institusi pendidikan yaitu Fakultas Keperawatan USU

2. Kemudian surat dari Fakultas Kepererawatan USU di kirim ke Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan sebagai tempat penelitian.

3. Setelah mendapatkan izin dari dari Direktur Rumah sakit Santa Elisabeth Medan, peneliti melakukan pengumpulan data.

4. Peneliti menjumpai kepala ruangan setiap unit di ruangan Critical care rumah sakit Santa Elisabeth Medan dan menjelaskan maksud dari penelitian yang di lakukan oleh peneliti

5. Setelah menjelaskan tentang tujuan penelitian, selanjutnya penulis meninggalkan kuesioner kepada kepala ruangan.

6. Kepala ruangan kemudian membagikan kuesioner tersebut ke perawat pelaksana, untuk diisi. Sebelum disi, perawat pelaksana menandantangani

imform consent, setelah perawat pelaksana menginis kuesioner, kemudian menggumpulkannya ke kepala ruangan dan kepala ruangan menyerahkannya ke penulis secara kolektif.

7. Kemudian penulis memeriksa kelengkapan data sehingga jika ada data yang kurang lengkap dapat dilengkapi dengan segera.

8. Selanjutnya keseluruhan data dikumpulkan untuk dianalisa. 4.6 Analisa Data

Setelah semua kuesioner terkumpul maka dilakukan analisa data melalui beberapa tahap yaitu:

1. Editing

Setelah kuesioner di serahakan oleh kepala ruangan tiap unit kepada penulis, kemudian penulis memeriksa kelengkapan identitas dan data responden serta memastikan bahwa semua jawaban sudah diisi.

2. Coding

Setalah kuesioner di pastikan terisi dengan lengkap, kemudian penulis memberikan code di setiap item peryataan, mulai dari data demografi, kuesioner gaya kepemimpinan dan kuesioner stres psikologis perawat pelaksana

2. Tabulating

Setelah smua data di beri coding, kemudaian data tersebut di masukkan ke program excel, berdasarkan pernyataan yang ada di kuesioner.

3. Processing

Data yang telah di masukkan ke program excel kemudian diolah dengan komputer, untuk melihat statistik univariat dan statistik bivariatnya.

Metode statistik untuk analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Statistik Univariat

Statistik univariat adalah suatu prosedur untuk menganalisa data dari satu variabel yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu hasil penelitian (Notoadmojo, 2006). Pada penelitian ini, analisa data dengan statistik univariat digunakan untuk data demografi yang meliputi jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, lama bekerja, dan variabel gaya kepemimpinan kepala ruangan dan stress psikologi perewat pelaksana.

2. Statistik Bivariat

Statistik bivariat merupakan kelanjutan dari analisa univariat dengan cara melakukan tabulasi silang, yang rencanannya menggunakan uji statistikan chi-square(�2) pada taraf kepercayaan 95% untuk melihat pengaruh antara variabel independent dengan variabel dependent yaitu Pengaruh gaya kepemimpinan kepala ruangan terhadap stress psikologis. Apabila p < a (p < 0,05) berarti ada Pengaruh yang signitifikan Antara kedua variable yang diteliti yang artinya Ha diterima tetapi apabila nilai p> a (p > 0,05) berarti tidak ada hubungan

yang signitifikan antara kedua variabel yang diteliti berarti Ha ditolak (Alimul, 2009).

Saat penulis melakukan uji statistik tidak memenuhi syarat dari uji statistik chis- square dimana syarat dari Chis-Square ialah:

1. Tidak Boleh ada sel yang mempunyai nilai harapan (Nilai E) kurang dari 1

2. Tidak boleh ada sel yang mempunyai nilai harapan (nilai E) kurang dari 5, lebih dari 20% dari jumlah keseluruhan sel (Hastono,2001)

Pada dasarnya jika keterbatasan tersebut ternyata terjadi pada saat uji chis-square , peneliti dapat menggabungkan kategori – kategori yang berdekatan dalam rangka memperbesar frekuensi harapan dari sel – sel tersebut. Tetapi karena kecilnya sampel yang di teiti oleh penulis, hal tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan. Sehingga penulis menggunakan uji statistik Anova untuk melihat perbedaan tingkat stres psikologis yang dialami oleh perawat pelaksana pada gaya kepemimpinan kepala ruangan Critical Care rumah sakit Santa Elisabeth Medan dengan mengubah skala yang digunakan menjadi numerik pada saat input data. Dengan cara membandingkan mean antar subs skor gaya kepemimpinan dan stres pskologis perawat pelaksana. Jika hasil perbadingan ke dua varian tersebut menghasilkan nilai kurang dari 1, maka mean yang di bandingkan menunjukkan ada perbedaan (Hastono, 2001) dan tetap mencantumkan hasil tabulasi silang antara gaya kepemimpinan kepala ruangan dan stres psikologis perawat pelaksana di ruangan critical care Rumah sakit Santa Elisabeth medan.

Dokumen terkait