BAB II ANALISIS PERTIMBANGAN HUKUM DALAM PUTUSAN
B. Pertimbangan Hakim
Dalam mengambil suatu putusan terlebih dahulu hakim melakukan pertimbangan-pertimbangan yang menyebabkan terjadinya perceraian, adapun dalam putusan ini pertimbangan hakim adalah sebagai berikut :
Menimbang, bahwa maksud dan tujuan gugatan Penggugat adalah sebagaimana tersebut di atas;
Menimbang, bahwa untuk memenuhi ketentuan Pasal 154 R. Bg jo. Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 jo. Pasal 31 ayat (1) dan (2)
25
Peraturan Pemerintah no 9 tahun 1975 jo. Pasal 82 Undang-Undang ayat (1) dan (4) Undang Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 tahun 2009, Majelis Hakim telah berusaha mendamaikan dengan cara menasehati Penggugat agar rukun kembali dengan Tergugat, akan tetapi tidak berhasil;
Menimbang,bahwa perdamaian melalui proses mediasi telah dilaksanakan tanggal 9 Agustus 2018 dengan mediator Hj. Beby Nazlia Hsb, SH., MH dan mediator telah melaporkan hasil mediasi tanggal 9 Agustus 2018 bahwa mediasi tidak berhasil, dengan demikian maksud Peraturan Mahkamah Agung R.I No. 1 Tahun 2016 telah terpenuhi;
Menimbang, bahwa yang menjadi pokok masalah dalam perkara ini adalah Penggugat mengajukan gugatan cerai agar dijatuhkan talak satu bain sughra Tergugat terhadap Penggugat dengan alasan dalam rumah tangga Penggugat dan Tergugat telah terjadi perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus dan tidak ada harapan lagi untuk hidup rukun dalam rumah tangga disebabkan Tergugat tidak ada perhatian terhadap Penggugat dan egois, tidak perduli dengan keadaan kebutuhan rumah tangga, tidak sopan kepada orang tua Penggugat, tidak mau mendengar apalagi menerima pendapat Penggugat, tidak bisa dikasi tahu agar perhatian menjaga kesehatan anak serta Penggugat dan Tergugat tinggal satu rumah bersama dengan orang tua Tergugat dan juga abang Tergugat berserta istrinya (ada 3 kepala keluarga dalam satu rumah) yang mengakibatkan Penggugat dengan Tergugat telah pisah rumah sejak bulan Juni 2018 sampai sekarang;
Menimbang, bahwa meskipun Tergugat tidak menyampaikan jawaban atau sanggahan, akan tetapi karena perkara ini adalah perkara perceraian kepada Penggugat tetap dibebani untuk membuktikan dalil gugatannya;
Menimbang, bahwa untuk meneguhkan dalil-dalil gugatannya, Penggugat mengajukan bukti-bukti (vide. Pasal 283 R.Bg) berupa P.1, P.2., P.3., P.4., dan 2 (dua) orang saksi seperti tersebut di atas, dan terhadap bukti tersebut Majelis akan mempertimbangkannya sebagai berikut;
Menimbang, bahwa bukti P.1, P.2., P.3 dan P.4.telah disesuaikan dengan aslinya dan bermeterai cukup, maka berdasarkan ketentuan pasal 285 R.Bg. jo.
pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai jo.
pasal 2 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai Dan Besarnya Batas Pengenaan Harga Nominal Yang Dikenakan Bea Materai, bukti tersebut secara formil dapat diterima sebagai alat bukti, sedangkan secara materil akan dipertimbangkan;
Menimbang, bahwa bukti P.1 berupa fotokopi Kutipan Akta Nikah merupakan akta autentik membuktikan bahwa antara Penggugat dan Tergugat telah terikat dalam perkawinan yang sah;
Menimbang, bahwa bukti P.2 berupa fotokopi Kutipan Akta Kelahiran, membuktikan anak yang bernama XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 11 Juli 2014 adalah anak kandung Penggugat dengan Tergugat;
Menimbang, bahwa bukti P.3 berupa fotokopi Kutipan Akta Kelahiran, membuktikan anak yang bernama XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 18 Mei 2018 adalah anak kandung Penggugat dengan Tergugat;
27
Menimbang, bahwa bukti P.2 berupa fotokopi Kartu Keluarga membuktikan status kependudukan Penggugat sebagai warga Kelurahan Sidorejo Hilir, Kecamatan Medan Tembung, kota Medan;
Menimbang, bahwa selain bukti surat, Penggugat menghadirkan saksi-saksi dari pihak keluarga dan orang dekat dari Penggugat dan di bawah sumpahnya memberikan keterangan di depan sidang sebagaimana pada duduk perkaranya;
Menimbang, bahwa saksi I (XXXXXXXXXXXXX) dan saksi II (XXXXXXXXXXXXX) selaku ayah dan ibu kandung Penggugat, tidak ada halangan hukum untuk diangkat menjadi saksi dan telah memberikan keterangan di bawah sumpah di depan persidangan, oleh sebab itu sesuai ketentuan Pasal 175 R.Bg, maka secara formil kesaksian para saksi dapat diterima sebagai bukti saksi dalam perkara ini, sedangkan substansinya akan dipertimbangkan selanjutnya;
Menimbang, bahwa saksi I dan saksi II dalam kesaksiannya menyatakan pernah melihat langsung pertengkaran Penggugat dan Tergugat disebabkan Tergugat kurang bertanggung jawab menafkahi rumah tangga dan tidak sopan dan kurang adab sama orang tua Penggugat, dan baik saksi I maupun saksi II mengetahui bahwa Penggugat dengan Tergugat telah pisah rumah sejak 2 (dua) bulan yang lalu sampai sekarang dan saksi-saksi menyatakan tidak sanggup lagi merukunkan Penggugat dengan Tergugat;
Menimbang, bahwa oleh karena kesaksian saksi-saksi tersebut saling bersesuaian dan tidak saling bertentangan satu sama lainnya, dengan demikian keterangan para saksi tersebut patut untuk diyakini kebenarannya dan sesuai ketentuan Pasal 308 ayat (1) dan pasal 309 R.Bg patut dinilai telah memenuhi
syarat materil kesaksian, sehingga dapat diterima sebagai bukti yang mendukung dalil gugatan Penggugat dalam perkara ini;
Menimbang, bahwa dalil Tergugat tentang penyebab pertengkaran Tergugat tidak mengajukan bukti apapun dalam persidangan, oleh karena itu Tergugat dinyatakan tidak dapat membuktikan dalil-dalil bantahannya;
Menimbang, bahwa berdasarkan fakta tersebut Majelis Hakim berpendapat bahwa Penggugat telah dapat membuktikan rumah tangganya telah sampai pada kondisi pecah dan tidak ada harapan akan hidup rukun kembali dan sudah sangat sulit bagi Penggugat dan Tergugat untuk dapat mewujudkan tujuan perkawinan yang kekal, bahagia, sakinah, mawaddah wa rahmah, sebagaimana dimaksud oleh firman Allah SWT dalam suroh Arrum ayat 21 dan sejalan dengan pasal 1 Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam;
Menimbang, bahwa oleh karena Penggugat dengan Tergugat telah berpisah rumah, sedangkan pihak keluarga telah berupaya mendamaikan, akan tetapi tidak berhasil, karenanya sejalan dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI nomor 379.K/AG/1995 tanggal 26 Maret 1997, yang menyatakan bahwa suami isteri yang telah hidup pisah rumah menunjukkan rumah tangga mereka telah pecah dan tidak mungkin didamaikan lagi. Dengan demikian Majelis Hakim berpendapat kualitas pertengkaran Penggugat dengan Tergugat telah sampai pada pertengkaran dan perselisihan yang tidak mungkin didamaikan lagi;
Menimbang, bahwa terbukanya pintu perceraian menurut ketentuan hukum Islam adalah ketika ikatan lahir batin telah pecah dan tidak mungkin lagi dipersatukan kembali dalam rumah tangga, maka yang menjadi alternative pilihan terbaik untuk keluar dari situasi kemelut tersebut adalah membuka pintu
29
perceraian sebagai pintu darurat (emergency exit) guna meminimalisir resiko buruk yang berkepanjangan bagi perjalanan rumah tangga Penggugat dengan Tergugat dimasa yang akan datang tanpa menyudutkan pihak yang dituding sebagai pangkal penyebab terjadinya perselisihan karena faktanya Penggugat maupun Tergugat dinilai telah gagal menjaga keharmonisan rumah tangganya sejalan dengan Yurisprudensi Mahkamah agung nomor 534/K/Pdt/1996 tanggal 18 juni 1996;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, Majelis berkesimpulan bahwa alasan perceraian Penggugat telah memenuhi ketentuan pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo.
Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dan Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam, dengan demikian gugatan Penggugat sudah sepatutnya dikabulkan dengan menjatuhkan talak satu bain sughra Tergugat terhadap Penggugat;
Menimbang, bahwa tentang gugatan Penggugat agar anak Penggugat dengan Tergugat yang bernama XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 11 Juli 2014 dan XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 18 Mei 2018, ditetapkan di bawah hadhanah Penggugat, dengan alasan kedua anak tersebut masih belum mumayyiz sehingga masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang Penggugat sebagai ibu kandungnya, sesuai dengan ketentuan Pasal 86 ayat 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Peradilan Agama, penggabungan tersebut dapat dibenarkan dan secara formil patut diterima dan dipertimbangkan;
Menimbang, bahwa oleh karena anak-anak Penggugat dan Tergugat a quo masih di bawah umur dan belum mumayyiz (12) tahun dan sepanjang persidangan Majelis tidak menemukan cacat yang dapat menggugurkan hak Penggugat untuk ditetapkan sebagai pemegang hak hadhonah dan lagi pula Tergugat tidak mengajukan keberatan, dengan demikian gugatan Penggugat patut dikabulkan dengan menetapkan anak Penggugat dan Tergugat bernama XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 11 Juli 2014 dan XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 18 Mei 2018, berada di bawah hadhonah Penggugat;
Menimbang, bahwa meskipun Penggugat telah ditetapkan sebagai pemegang hak hadanah dalam perkara ini, akan tetapi tidak serta merta kesempatan Tergugat untuk mengasuh anak menjadi hilang dan untuk kemaslahatan dan masa depan anak agar batinnya tetap merasakan dan mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang telah berpisah, Penggugat tidak boleh menghalangi Tergugat, tetapi harus memberi izin kepada Tergugat untuk melihat atau bertemu dan membawa anak tersebut pada hari-hari libur dan waktu-waktu tertentu yang diperlukan untuk mencurahkan kasih sayangnya. Hal mana sejalan dengan ketentuan pasal
45 ayat (1) dan (2) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, yang intinya menyatakan kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak mereka sebaik-baiknya sampai anak tersebut kawin atau dapat berdiri sendiri, meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus;
Menimbang, bahwa tuntutan Penggugat tentang biaya nafkah anakanak a quo setiap bulan sebesar Rp 3.000.000.- (tiga juta rupiah), majelis hakim akan mempertimbangkannya;
31
Menimbang, bahwa dalam pasal 149 huruf d Kompilasi Hukum Islam disebutkan bilamana perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib memberikan biaya hadhanah untuk anak-anaknya yang belum mencapai umur 21 dan pasal 156 huruf f menyatakan pengadilan dapat pula dengan mengingat kemampuan ayahnya menetapkan jumlah biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang tidak turut padanya;
Menimbang, bahwa meskipun tidak ada bukti apapun yang diajukan Penggugat tentang besaran penghasilan yang didapat Tergugat setiap bulan, akan tetapi mengingat azas kelayakan dan kepatutan, maka majelis hakim menetapkan biaya nafkah anak Penggugat dengan Tergugat untuk masa yang akan datang setiap bulan minimal sejumlah Rp 700.000,- (tujuh ratus ribu rupiah) sampai anak-anak tersebut mandiri;
Menimbang, bahwa sesuai ketentuan pasal 89 ayat (1) Undang Nomor 7 tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, maka semua biaya yang timbul dalam perkara ini dibebankan kepada Penggugat untuk membayarnya; Mengingat segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dalil syar’i yang berkenaan dengan perkara ini;
MENGADILI 1. Mengabulkan gugatan Penggugat;
2. Menjatuhkan talak satu bain sughra Tergugat (XXXXXXXXXXXXX) terhadap Penggugat (XXXXXXXXXXXXX);
3. Menetapkan anak Penggugat dengan Tergugat yang bernama XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 11 Juli 2014 dan
XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 18 Mei 2018, berada di bawah pengasuhan dan pemeliharaan (hadhanah) Penggugat;
4. Menetapkan biaya nafkah 2 (dua) orang anak Penggugat dengan Tergugat untuk masa yang akan datang setiap bulan minimal sejumlah Rp 700.000,00 (tujuh ratus ribu rupiah);
5. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya nafkah 2 (dua) orang anak Penggugat dengan Tergugat kepada Penggugat setiap bulan sebesar diktum angka 4, terhitung sejak putusan ini dijatuhkan sampai anak-anak tersebut mandiri
6. Membebankan kepada Penggugat membayar biaya perkara sejumlah Rp 491.000,00 (lima ratus sembilan puluh satu ribu rupiah);