• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN YURIDIS KEWAJIBAN AYAH TERHADAP BIAYA NAFKAH ANAK SAH SETELAH TERJADINYA PERCERAIAN (STUDI PUTUSAN NO.1629/PDT.G/2018/PA-MDN) SKRIPSI.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TINJAUAN YURIDIS KEWAJIBAN AYAH TERHADAP BIAYA NAFKAH ANAK SAH SETELAH TERJADINYA PERCERAIAN (STUDI PUTUSAN NO.1629/PDT.G/2018/PA-MDN) SKRIPSI."

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN YURIDIS KEWAJIBAN AYAH TERHADAP BIAYA NAFKAH ANAK SAH SETELAH TERJADINYA PERCERAIAN

(STUDI PUTUSAN NO.1629/PDT.G/2018/PA-MDN)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukun Universitas Sumatera Utara

Oleh:

TRI ANGGRI LESTARI 150200187

DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN PERDATA BW

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)
(3)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

NAMA :TRI ANGGRI LESTARI

NIM :150200187

DEPARTEMEN :HUKUM KEPERDATAAN

JUDUL SKRIPSI :TINJAUAN YURIDIS KEWAJIBAN AYAH TERHADAP BIAYA NAFKAH ANAK SAH SETELAH TERJADINYA PERCERAIAN

(STUDI PUTUSAN NO.1629/PDT.G/2018/PA-MDN) Dengan ini menyatakan:

1. Bahwa skripsi yang saya tulis tersebut diatas adalah benar tidak merupakan jiplakan skripsi atau karya ilmiah orang lain.

2. Apabila terbukti dikemudian hari skripsi tersebut adalah jiplakan, maka segala akibat hukum yang timbul menjadi tanggung jawab saya.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

Medan, 18 Mei 2019

TRI ANGGRI LESTARI NIM : 150200187

(4)

i ABSTRAK Tri Anggri Lestari*

Dr. Utary M Barus, SH, M.Hum**

EkoYudhistira, SH, MKn***

PerceraiandalamHukumPerdataialahpenghapusanperkawinandenganputusa n hakim, atautuntutansalahsatupihakdalamperkawinanitu.Perceraian yang sering kali terjadidalamhubunganperkawinanpastiakanmenimbulkanakibat yang fatal.

Hal inidisebabkankarenakeduabelahpihakakandihadapkanpadamasalahbaru yang lebihmenantangdikemudianhari. Selainkepada yang melakukannya (baiksuamiatauistri), jugakepada sang anak, baikdalamhakdankewajiban yang ditimbulkannya. Mulaidarihakpemeliharaananak yang belummencapaiusia 12

(duabelas) tahun yang mencangkupbiayapendidikan, pengasuhandanperwaliannya.

Dalampenelitianini,

penulismenggunakanmetodependekatanyuridisnormatif.Dalamperspektifyuridisdi maksudkanuntukmenjelaskandanmemahamimaknadanlegalitasperaturanperundan

g-undangan yang mengaturpenegakanhokumterhadapmasalahbiayanafkahanakpascaperceraian.Penu

lismengambillokasipenelitianpada Kantor Pengadilan Agama Medan.Teknikpengumpulan data dilakukandengancarastudikepustakaan (library research) yaitumempelajaridanmenganalisissecarasistematikabuku-buku, peraturanperundang-undangan, jurnal, artikeldansumberlainnya yang berkaitantentangpencatatansipil.

Adapunhasil yang diperolehpenulismelaluipenelitianini,

yaknimengetahuitentangnafkah-nafkah yang diberikankepadaanaknyasetelahterjadiperceraian, Nafkah,

mengetahuidasarhukumtentangnafkahanak , tujuandanprinsipprinsipnafkah,sebabsebab yang mewajibkanayah

memberikannafkahkepadaanakpascaperceraian.

BerisikantentangPenyelesianPerkaraPerceraiandanBiayaNafkahAnakdanAnalisaP

ertimbanganHukumbagi Hakim dalamMemutuskanPerkaranafkahanakdapatdilihatdarisegihokumislammaupundari

undangundang yang berlakuhasilpenelitiantersebutdapatdiketahuibahwanafkah yang diberikansudahsesuaidenganapa yang dimintaolehpihakpenggugat,

akantetapidalamprakteknyamasihbanyak ayah yang tidakmembiayainafkahanakdikarenakanbeberapafaktor, terutamafaktorekonomi.

Kata Kunci:Perceraian, Kewajiban Ayah, NafkahAnak

*Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

**Dosen Pembimbing I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

***Dosen Pembimbing II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(5)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Penulisan skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pada program Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Sehubungan dengan itu, judul yang penulis ajukan yaitu TINJAUAN YURIDIS KEWAJIBAN AYAH TERHADAP BIAYA NAFKAH ANAK SAH SETELAH TERJADINYA PERCERAIAN (STUDI PUTUSAN NO.1629/PDT.G/2018/PA-MDN).

Dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, Penulis tidak terlepas dari bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Uniersitas Sumatera Utara.

3. Prof. Dr. OK. Saidin, SH., M.Hum selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Ibu Puspa Melati Hasibuan, SH, M.Hum selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

5. Bapak Dr. Jelly Leviza, SH., M.Hum selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

6. Ibu Dr. Rosnidar Sembiring, SH., M.Hum. selaku Ketua Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

7. Bapak Syamsul Rizal, SH, M.Hum, selaku Sekretaris Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

8. Ibu Dr. Utary M Barus,SH, M.Hum selaku Dosen Pembimbing I yang sangat sabar dan telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan

(6)

iii

pemikirannya untuk menyempurnakan apa-apa saja yang penulis uraikan dalam penulisan skripsi ini dapat selesai tepat pada waktunya.

9. Bapak Eko Yudhistira, SH, MKn. Selaku Dosen Pembimbing II yang sangat sabar dan telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pemikirannya untuk menyempurnakan apa-apa saja yang penulis uraikan dalam penulisan skripsi ini dapat selesai tepat pada waktunya.

10. Seluruh Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mengajar dan membimbing penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

11. Seluruh Staf Administrasi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

12. Secara khusus saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua saya, ayahanda Purwono dan ibunda tercinta Suheti yang telah mendoakan serta memberikan cinta, kesabaran, perhatian, dukungan, bantuan dan pengorbanan yang tertinilai sehingga saya dapat melanjutkan dan menyelesaikan studi dengan baik.

13. Kepada kedua abang (saudara laki-laki kandung) penulis yaitu, Irfan Hardiansyah, SE dan Serda Tino Irawan yang selalu menjadi teman hidup terbaik, yang akan selalu ada dikala senang dan sedih.

14. Untuk pacar tersayang calon imamku Serda Ade Tri Yudha terima kasih selalu memberikan waktu luang, semangat, motivasi, dan canda tawa dalam membantu menyelesaikan skripsi ini.

15. Kepada teman sekaligus sahabat saya yaitu messi yang selalu menyemangati, dan member masukan kepada saya. Dan saya berterima kasih juga kepada kakak saya ‘SuciatiPuspitaNingrum SH’ yang telah menemani saya dan menyemangati saya dan menghibur saya dalam menyeleasikan skripsi

16. Kepada teman karib ku “PSB” , Anis Febriani, Esnawati Limbong, Siti Alawiyah Hasibuan, Wulan Suci, Gizka Aditya Putri, Bintang Ully R Pardede terima kasih telah mendukung penulis selama menempuh perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Semoga pertemanan kita tidak sampai di bangku perkuliahan saja, sukses untuk kita semua.

(7)

iv

17. Dan kepada semua penghuni green kost lantai 3 yang telah menyemangati.

Dalam penulisan skripsi ini, Penulis menyadari bahwa hasil yang diperoleh masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, Penulis meminta maaf kepada pembaca skripsi ini karena keterbatasan pengetahuan dari penulis.

Akhir kata penulis mengucapkan Terima Kasih sedalam-dalamnya kepada kita semua dan semoga Do’a yang telah diberikan mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan perkembangan Hukum di Negara Republik Indonesia.

Medan, Mei 2019

Penulis

Tri Anggri Lestari NIM.150200187

(8)

v DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Permasalahan ... 6

C. Tujuan Penulisan ... 6

D. Manfaat Penulisan ... 7

E. MetodePenulisan ... 8

F. KeaslianPenulisan ... 10

G. SistematikaPenulisan ... 10

BAB II ANALISIS PERTIMBANGAN HUKUM DALAM PUTUSAN PERCERAIAN NOMOR.1629/PDT.G/2018/PA.MDN ... 13

A. Posisi Kasus... 13

B. Pertimbangan Hakim... 24

C. AnalisisHukum ... 32

BABIIIFAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN TIDAK DILAKSANAKANNYA PUTUSAN PENGADILAN YANG MENGHUKUM AYAH UNTUK MEMBIAYAI NAFKAH ANAK SETELAH TERJADINYA PERCERAIAN ... 34

A. Perceraian Dalam Hukum Perkawinan ... 34

B. Akibat Hukum Perceraian Terhadap Anak ... 43

C. Alasan Orang Tua/Ayah Tidak Menjalankan Putusan Hakim Pasca Perceraian ... 57

BAB IV UPAYA HUKUM YANG DAPAT DI TEMPUH OLEH IBU AGAR ORANG TUA LAKI-LAKI (AYAH) MELAKSANAKAN KEWAJIBANNYA DALAM MEMBIAYAI NAFKAH ANAKNYA SETELAH TERJADINYA PERCERAIAN ... 66

(9)

vi

A. Kewajiban Hukum Orang Tua Laki-laki (ayah) Atas Biaya

Nafkah Anak Sah Setelah Terjadinya Perceraia ... 66

B. Upaya Hukum Yang Dapat Ditempuh Oleh Ibu Agar Orang Tua Laki-laki (ayah) Melaksanakan Kewajibannya Dalam Membiayai Nafkah Anaknya Setelah Terjadinya Perceraian .... 72

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 75

A. Kesimpulan ... 75

B. Saran ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 78 LAMPIRAN

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Menurut Undang-Undang No.1 Tahun 1974, Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.Maksud dilaksanakannya perkawinan adalah untuk hidup dalam pergaulan yang sempurna yang merupakan jalan yang amat mulia untuk mengatur rumah tangga dan anak-anak yang akan dilahirkan sebagai satu pertalian yang amat teguh guna memperkokoh pertalian persaudaraan antara kaum kerabat suami dengan kaum kerabat istri yang pertalian itu akan menjadi suatu jalan yang membawa kepada saling menolong antara satu kaum dengan yang lain, dan akhirnya rumah tangga tersebut menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.

Perkawinan dalam Islam tidaklah semata-mata sebagai hubungan atau kontrak keperdataan biasa, akan tetapi mempunyai nilai ibadah1

Perkawinan merupakan salah satu perintah agama kepada yang mampu untuk segera melaksanakannya.Karena perkawinan dapat mengurangi kemaksiatan, baik dalam bentuk penglihatan maupun dalam bentuk perzinaan.

. Oleh karena itu, suami istri dalam suatu perkawinan mempunyai pertanggungjawaban secara vertikal kepada Tuhan Yang Maha Esa di samping mempunyai hak dan kewajiban secara timbal balik suami dan istri serta anak-anak yang lahir dalam perkawinan.

1Ahmad Rofiq, 1998, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, hal. 69

(11)

Orang yang berkeinginan untuk melakukan pernikahan, tetapi belum mempunyai persiapan bekal (fisik dan nonfisik) dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW,untuk berpuasa. Orang berpuasa akan memiliki kekuatan atau penghalang dari berbuat tercela yang sangat keji, yaitu perzinaan.2

Perceraian dalam Hukum Perdata ialah penghapusan perkawinan dengan putusan hakim, atau tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan itu. Perceraian yang sering kali terjadi dalam hubungan perkawinan pasti akan menimbulkan akibat yang fatal. Hal ini disebabkan karena kedua belah pihak akan dihadapkan pada masalah baru yang lebih menantang dikemudian hari. Selain kepada yang melakukannya (baik suami atau istri), juga kepada sang anak, baik dalam hak dan kewajiban yang ditimbulkannya. Mulai dari hak pemeliharaan anak yang belum Kebahagiaan dalam pernikahan merupakan hal yang didambakan oleh setiap pasangan.Kebahagiaan tersebut berasal dari niat dan usaha dari masing- masing pasangan untuk mewujudkan sebuah kebahagiaan. Sebelum menikah, saat sudah sama-sama untuk menyatukan komitmen suci mencapai kebahagiaan hakiki, pasangan akan berusaha mempertahankan kebahagiaan tersebut sampai akhir hayat.Namun dalam pergaulan antara suami tidak jarang terjadi perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus maupun sebabsebab lain yang kadang- kadang menimbulkan suatu keadaan yang menyebabkan suatu perkawinan tidak dapat dipertahankan lagi, sedangkan upaya-upaya damai yang dilakukan oleh kedua belah pihak maupun keluarga tidak membawa hasil yang maksimal sehingga pada akhirnya jalan keluar yang harus ditempuh tidak lain adalah perceraian.

2Zainuddin Ali, 2006, Hukum Perdata Islam di Indonesia,Jakarta : Sinar Grafika, hal. 7

(12)

3

mencapai usia 12 (dua belas) tahun yang mencangkup biaya pendidikan, pengasuhan dan perwaliannya.3Perceraian terjadi diakibatkan atas kemauan suami dengan cara menjatuhkan Cerai Talak ataupun atas pengajuan istri yang sering dikenal Gugat Cerai dan Cerai Gugat diatur dalam Paragraf 3, Pasal 73 UU RI No:

3 tahun 2006. Adanya pengajuan perkara ke Pengadilan yang dilakukan oleh suami ataupun istri telah menandai bahwa perceraian itu tanpa membedakan jenis kelamin dan hak hukum warga negara dapat diajukan oleh masing- masing pihak.

Karena itu keduanya juga harus memudahkan proses jalan perkara dengan cara mematuhi aturan hukum dan hadir di persidangan, sehingga pencapaian keadilan dapat terpenuhi dan perkara dapat diselesaikan berdasarkan aturan hukum. Selain kehadiran kedua belah pihak yang berperkara, hal lain yang sangat berperan penting dalam persidangan adalah posisi hakim sebagai pihak yang akan memutuskan perkara, juga sebagai pihak yang akan mendamaikan kedua belah pihak. Asas kewajiban hakimuntuk mendamaikan pihak-pihak yang berperkara, sangat sejalan dengan tuntunan dan tuntunan ajaran moral Islam.4

Perceraian yang sudah diputus biasanya adanya suatu pembebanan nafkah kepada anak yang selalu diberikan kepada pihak yang bisa memberi nafkah.

Nafkah sendiri juga dapat didefinisikan sebagai biaya wajib dikeluarkan oleh seorang (suami/istri) terhadap suatu yang berada dalam tanggungannya meliputi biaya untuk kebutuhan pangan, pendidikan, sandang dan papan, termasuk juga kebutuhan sekunder seperti perabot rumah tangga. Sebagaimana diketahui bersama bahwa anak merupakan penerus bangsa yang mengemban tugas bangsa yang belum terselesaikan oleh generasi-generasi sebelumnya.Sebagai penerus

3Subekti. 1982, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Bandung: PT Intermasa. hal. 42.

4M.Yahya harahap. 2005. Kedudukan dan Kewenangan Acara Peradilan Agama UU no 7 Tahun 1989. ed Ke2, CetKe3, jakarta: Sinar Grafika. hal. 215.

(13)

cita-cita bangsa dan negara, anak harus dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang sehat rohani dan jasmani, cerdas, bahagia, berpendidikan dan bermoral tinggi.Untuk itu, anak tersebut harus memperoleh kasih sayang, perlindungan, pembinaan, dan pengarahan yang tepat.

Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Intruksi Presiden No 1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam mengatur dengan tegas kewajiban orang tua terhadap anak. Dengan demikian, suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah.Hak maupun kewajiban orang tua terhadap anak dalam hukum dikenal dengan istilah salah teknis hukum sebagai “kekuasaan orang tua”

(ouderlijkemacht). Kekuasaan orang tua inipenting artinya bagi kehidupan seorang anak terutama yang belum dewasa karena melalui lembaga hukum ini hak-hak dasar anak akan dipenuhi.5

Dalam keluarga yang orangtua bercerai pertumbuhan anak dalam standar yang ideal kemungkinan sulit tercapai karena kebutuhan jasmani dan rohaninya tidak dapat dipenuhi secara sempurna. Apabila dikaitkan pula dengan kebutuhan materi/jasmani anak yang hidup dalam keluarga yang kedua orang tuanya sudah bercerai, pertumbuhan dan perkembangan anak tentu akan mengalami hambatan yang serius apabila kebutuhan materi/jasmani anak berupa biaya pemeliharaan dan biaya pendidikan anak sampai dewasa tidak ada kejelasannya. Secara garis besar maka dapat disebutkan bahwa perlindungan anak dapat dibedakan dalam dua pengertian, yaitu :

5Irma Setyowati Soemitro, 1994, Kekuasaan Orang Tua Setelah Perceraian (Suatu PenelitianDi Desa Cukil, Sruwen dan Sugihan Kecamatan Tengaran, Dalam Majalah Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, hal. 37.

(14)

5

a. Perlindungan yang bersifat yuridis yang meliputi : 1. Bidang hukum publik

2. Bidang hukum keperdataan

b. Perlindungan yang bersifat non yuridis yang meliputi : 1. Bidang sosial

2. Bidang kesehatan 3. Bidang pendidikan. 6

Menyadari demikian pentingnya anak dalam kedudukan keluarga, individu, masyarakat, bangsa dan negara maka undangundang telah mengatur hak- hak anak misalnya dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Undang-Undang No.4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak, Undang-Undang No. 3 tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak, dan Instruksi Presiden No.1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam dan berbagai peraturan perundangundangan lain. Demikian pula hak-hak anak diakui oleh sejumlah putusan pengadilan.Namun meskipun telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan dan adanya kecenderungan internasional yang memfokuskan perhatian terhadap anak, pada kenyataannya masih banyak anak yang tidak beruntung (disadvantaged children) dalam mencukupi kehidupannya.

Sebagai salah satu faktor ketidakberuntungan anak dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya baik dilihat dari aspek rohani maupun aspek jasmani berupa pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dan pendidikan yang layak bagi anak adalah akibat adanya perceraian kedua orang tuanya. Baik Undang-Undang No.1 Tahun 1974 maupun Instruksi Presiden No.1 Tahun 1991

6 Irma Setyowati Soemitro, 1990, Aspek Hukum Perlindungan Anak, Jakarta : Bumi Aksara, hal. 13.

(15)

Tentang Kompilasi Hukum Islam dan peraturan perundang-undangan lainnya yang dijadikan hukum materil oleh pengadilan agama dalam memutus perkara- perkara perceraian dalam pasal-pasalnya dengan tegas mengatur tentang kewajiban orang tua terhadap biaya nafkah anak setelah terjadinya perceraian yang pada hakikatnya membebankan kewajiban itu kepada orang tua laki-laki (ayah).Memperhatikan fenomena di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Tinjauan Yuridis Kewajiban Ayah terhadap Biaya Nafkah Anak Sah Setelah Terjadinya Perceraian (Studi Putusan No.1629PDT.G/2018/PA-MDN)

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana pertimbangan hukum bagi hakim dalam putusan perceraian No.1629/PDT.G/2018/PA-MDN ?

2. Faktor apakah yang menyebabkan tidak dilaksanakannya putusan pengadilan yang menghukum ayah untuk membiayai nafkah anak setelah terjadinya perceraian?

3. Bagaimana upaya hukum yang dapat dilakukan agar ayah melaksanakan kewajibannya dalam membiayai nafkah anak setelah terjadinya perceraian?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui bagaimana pertimbangan hukum bagi hakim dalam Putusan Perceraian No.1629/PDT.G/2018/PT-MDN.

(16)

7

2. Untuk mengetahui faktor apakah yang menyebabkan tidak dilaksanakannya putusan pengadilan yang menghukum ayah untuk membiayai nafkah anak setelah terjadinya perceraian.

3. Untuk mengetahui bagaimana upaya hukum yang dapat dilakuka agat ayah melaksanakan kewajibannya dalam membiayai nafkah anak setelah terjadinya perceraian.

D. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan ini yaitu:

a. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis yaitu manfaat dari penulisan hukum ini yang bertalian dengan pengembangan ilmu hukum. Manfaat teoritis dari penulisan ini yaitu:

1. Hasil penulisan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang ilmu hukum pada umumnya serta Hukum Perdata mengenai kewajiban ayah dalam membiayai nafkah anak pasca perceraian.

2. Hasil penulisan ini diharapkan dapat memperkaya referensi dan literatur dalam dunia kepustakaan tentang kewajiban ayah terhadap biaya nafkah anak pasca perceraian, hasil penulisan ini dapat dipakai sebagai acuan terhadap penulisan-penulisan sejenis untuk tahap berikutnya.

b. Manfaat Praktis

Manfaat praktis yaitu manfaat dari penulisan hukum ini berkaitan dengan pemecahan masalah. Manfaat praktis dari penulisan ini yaitu:

1. Hasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi orang tua dalam membuat membuat keputusan bercerai terkhusus bagi seorang ayah, karena ayah memiliki kewajiban untuk menafkahi anak pasca perceraian.

(17)

2. Hasil penulisan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat, khususnya orang tua agar tidak mengambil keputusan yang menyebabkan anak sebagai korban.

3. Hasil penulisan ini diharapkan dapat membuat orang tua (ayah) paham akan kewajiban terhadap anak kandungnya pasca terjadinya perceraian

E. Metode Penulisan

1. Jenis Penelitian

Pengelompokkan jenis-jenis penelitian tergantung pada pedoman dari sudut pandang mana pengelompokkan itu ditinjau.Ditinjau dari jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yaitu penelitian yang langsung bertujuan untuk memberikan data seteliti mungkin tentangTinjauan Yuridis Kewajiban Ayah Terhadap Biaya Nafkah Anak Pasca Terjadinya Perceraian.

2. Metode Pendekatan

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode pendekatan yuridis normatif.Dalam perspektif yuridis dimaksudkan untuk menjelaskan dan memahami makna dan legalitas peraturan perundang-undangan yang mengatur penegakan hukum terhadap masalah biaya nafkah anak pasca perceraian.

3. Lokasi Penelitian

Penulis mengambil lokasi penelitian pada Kantor Pengadilan Agama Medan

4. Sumber Data

Sumber data yang digunakan sebagai bahan penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder, antara lain sebagai berikut:

(18)

9

a. Data primer merupakan bahan hukum yang terdiri dari aturan hukum yang terdapat pada peraturan perundang-undangan atau berbagai perangkat hukum, seperti KUHPerdata, Peraturan Pemerintah dan data yang bersumber dari penelitian lapangan yaitu suatu data yang diperoleh langsung dari sumber pertama di lapangan.

b. Data sekunder merupakan data yang bersumber dari penelitian kepustakaan yaitu data yang diperoleh tidak secara langsung dari sumberpertamanya, melainkan bersumber dari data-data yang sudah terdokumenkan dalam bentuk bahan-bahan hukum.

5. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan (library research) yaitu mempelajari dan menganalisis secara sistematika buku- buku, peraturan perundang-undangan, jurnal, artikel dan sumber lainnya yang berkaitan tentang pencatatan sipil.

6. Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan oleh penulis adalah analisis data kualitatif, dimana keseluruhan data baik primer maupun sekunder akan diolah dan dianalisis dengan cara menyusun data secara sistematis, dikategorisasikan dan diklasifikasikan, dihubungkan antara satu data dengan data yang lainnya, dilakukan interpretasi untuk memahami makna data dalam situasi sosial, serta dilakukan penafsiran dari perspektif peneliti setelah memahami keseluruhan kualitas data.

(19)

F. Keaslian Penulisan

Dalam pengerjaan penulisan skripsi ini, penulis terlebih dahulu melakukan pencarian atau penelusuran terhadap judul skripsi yang terdapat di Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan dinyatakan bahwa tidak ada judul yang sama pada arsip Perpustakaan Universitas Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi “Tinjauan Yuridis Kewajiban Ayah Terhadap Biaya Nafkah Anak Pasca Terjadinya Perceraian (Studi Putusan Nomor 1629/PDT.G/2018/PA-MDN)” adalah hasil dari pemikiran dan ide serta gagasan dari penulis sendiri dan dikembangkan pemaparan dengan arahan dosen pembimbing.Keaslian dari penulisan skripsi ini terjamin benar adanya. Jikalau ada terdapat judul yang menyerupai dan terdaftar di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum / Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara seperti judul penulis di atas, tentunya di luar sepengetahuan penulis dan pasti substansi di dalam skripsi tersebut berbeda dengan substansi di dalam skripsi penulis ini. Namun demikian adanya, di dalam penulisan skripsi ini terdapat kutipan-kutipan atau pendapat orang lain yang dilakukan sebagai referensi untuk mendukung fakta-fakta dalam penulisan skripsi ini. Penulis juga melihat beberapa judul skripsi yang berkaitan dengan Kewajiban orang tua dalam hal ini berbeda substansi dan lokasi penelitiannya dengan penulis.

G. Sistematika Penulisan

Untuk dapat memberikan gambaran secara menyeluruh tentang sistematika penulisan hukum yang sesuai dengan aturan penulisan hukum, maka penulis

(20)

11

menggunakan sistematika penulisan hukum yang terdiri dari empat bab, dimana tiap bab terbagi dalam sub-sub bagian yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan penulisan hukum ini. Adapun susunannya adalah sebagai berikut

BAB I Pendahuluan

Dalam bab ini akan memberikan gambaran penulisan hukum tentang latar belakang , permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metodologi penelitian, keaslian penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II Analisa Pertimbangan Hukum Bagi Hakim Dalam Putusan Perceraian Nomor.1629/PDT.G/2018/PA-MDN

Dalam bab ini menguraikan dua sub bab besar yang berisi tentangposisi kasus, dan selanjutnya menjelaskan tentang pertimbangan Hakim.

BAB III Faktor-faktor yang menyebabkan tidak dilaksanakanny putusan pengadilan yang menghukum ayah untuk membiayai nafkah anak setelah tejadinya perceraian

Dalam bab ini akan membahas tiga sub bab tentang perceraia dalam hukum perkawinan, setelah itu menjelaskan tentang akibat hukum perceraian terhadap anak, dan yang terakhir menjelaskan tentang alas an orang tua (ayah) tidak menjalankan putusan hakim pasca perceraian.

BAB IV Upaya hukum yang dapat ditempuh oleh ibu agar orang tua laki-laki (ayah) melaksanakan kewajibannya dalam membiayai nafkah anaknya setelah terjadinya perceraian

(21)

Pada bab ini akan membahas mengenai upaya-upaya yang dapat ditempuh ibu agar orang tua laki-laki (ayah) mau melaksanakan daalam membiayai nafkah anak pasca perceraian.

BAB V Penutup

Pada Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah diuraikan dalam skripsi ini.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(22)

13 BAB II

ANALISIS PERTIMBANGAN HUKUM DALAM PUTUSAN PERCERAIAN NOMOR.1629/PDT.G/2018/PA.MDN

A. Posisi Kasus

Pada suatu perkara yang telah di Putus oleh Pengadilan Agama dalam proses pengambilan Putusan ada beberapa pertimbangan. Musyawarah juga dilakukan oleh para Majelis Hakim ketika proses pengambilan Putusan terhadap suatu perkara yang mereka sedang mereka tangani.Berikut ini akan penulis papakarkan data yang terdapat pada putusan yang memuat pertimbangan- pertimbangan majelis hakim sebelum memutuskan perkaranya.

DUDUK PERKARA :

Bahwa Penggugat dan Tergugat adalah merupakan suami istri yang terikat dalam suatu hubungan perkawinan yang sah sebagaimana dimaksud dalam Kutipan Akta Nikah No. 138/10/III/2012 tanggal 5 Maret 2012 yang dibuat oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Timur, Kota Medan;

Bahwa sebagai suami istri, Penggugat dan Tergugat telah bergaul sebagaimana layaknya suami istri (Ba’da Addukhul) dan telah dikaruniai 2 (dua) orang anak yang bernama yaitu:

1. XXXXXXXXXXXXX, Laki-laki, Lahir di Medan pada tanggal 11 Juli 2014;

(23)

2. XXXXXXXXXXXXX, Laki-laki, Lahir di Medan pada tanggal 18 Mei 2018;

Bahwa Tergugat merupakan pegawai honorer di Pemko Medan sebagai Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dan Penggugat juga bekerja di PT. Mulia Utama Mandiri;

Bahwa sejak perkawinan antara Penggugat dan Tergugat tinggal satu rumah bersama orang tua Tergugat di Jalan Umar No. 15/19 Kelurahan Glugur Darat I, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan selama ± 4 (empat) tahun, dan Abang Tergugat bersama dengan isterinya juga telah lebih dahulu tinggal bersama dengan orang tua Tergugat di rumah tersebut;

Bahwa namun dalam perkembangannya dikemudian hari pada tanggal 14 Agustus 2016 Penggugat dan Tergugat pindah dari rumah orang tua Tergugat dan mengkontrak rumah di Jalan XXXXXXXXXXXXX, Deli Serdang, dan setelah habis masa kontrakan tersebut kemudian pada tanggal 1Juli 2018 pindah kerumah kontrakan yang baru di Jalan XXXXXXXXXXXXX, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan;

Bahwa pada awalnya hubungan antara Penggugat dan Tergugat dalam menjalankan dan membina rumah tangganya semasa perkawinan adalah dalam keadaan baik-baik, namun beberapa bulan masa pernikahan masih di tahun 2012 sudah mulai terjadi perselisihan dan pertengkaran, keadaan perselisihan dan pertengkaran tersebut terjadi terus menerus sehingga rumah tangga Penggugat dan Tergugat menjadi retak;

(24)

15

Bahwa sebab-sebab terjadinya perselisihan dan pertengkaran pertengkaran yang mengakibatkan keretakan rumah tangga Penggugat dan Tergugat adalah karena:

1. Tergugat tidak ada perhatian terhadap Penggugat dan egois;

2. Tergugat tidak perduli dengan keadaan kebutuhan rumah tangga;

3. Tergugat tidak sopan kepada orang tua Penggugat;

4. Tergugat tidak mau mendengar apalagi menerima pendapat Penggugat;

5. Tergugat tidak bisa dikasi tahu agar perhatian menjaga kesehatan anak misalnya mengenai kalau Tergugat diberitahu Penggugat bahwa menurut dokter anak pertama tidak bisa makan atau minum yang mengandung coklat namun Tergugat tetap memberikannya sehingga anak pertama bolak balik sakit dan berobat ke Dokter Spesialis Anak.

6. Antara Penggugat dan Tergugat tinggal satu rumah bersama dengan orang tua Tergugat dan juga Abang Tergugat berserta istrinya (ada 3 kepala keluarga dalam satu rumah);

Bahwa beberapa bulan perjalanan rumah tangga masih di tahun 2012, terjadi pertengkaran dimana Penggugat tanpa dengan sengaja membuka HP milik Tergugat dan didalamnya ada SMS (pesan) yang saling balas membalas yang isi SMS (pesan) berbunyi kata-kata “sayang, dan ada pengakuan Tergugat kalau Tergugat belum kawin” dan setelah membaca SMS (pesan) tersebut Penggugat bertanya kepada Tergugat apa maksud SMS (pesan) tersebut dan siapa yang mengirim SMS (pesan) tersebut dan apakah Tergugat menjalin hubungan asmara dengan perempuan lain, atas pertanyaan tersebut Tergugat tidak mengakuinya namun Tergugat menjawab itu hanya main-main saja dan yang mengirim SMS

(25)

(pesan) adalah seorang wanita kawan kantor Tergugat, dan pertengkaran tersebut di dengar oleh Ibu Tergugat, dan Ibu Tergugatmengatakan kepada Penggugat itukan bukan suatu masalah dan itukan hanya SMS (pesan), lalu Penggugat menjawab kalau sudah kawin kata-kata sayang yang dituliskan dan dikirim itu bukanlah hal yang biasa dan oleh karena sikap dan jawaban Tergugat dan Ibu Tergugat tersebut Tergugat meminta agar Penggugat dipulangkan ke orang tuanya;

Kemudian Keesokan harinya Penggugat datang ke kantor Tergugat dan berjumpa dengan Tergugat lalu Penggugat meminta agar berjumpa dengan wanita kawan kantor Tergugat yang mengirim SMS (pesan) tersebut namun pada saat itu Tergugat meminta dan mendesak Penggugat agar pulang dan akhirnya Penggugat tidak dapat berjumpa dengan wanita tersebut; Oleh karena usia perkawinan masih sangat muda dan Penggugat mencoba untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga dengan harapan Tergugat tidak melakukan hal yang demikian lagi;

Bahwa pada saat Penggugat hamil anak yang pertama (XXXXXXXXXXXXX) sekira akhir tahun 2013 ada beberapa kali terjadi pertengkaran dimana Penggugat melihat dan merasakan kalau Tergugat tidak ada perhatiannya kepada Penggugat yang sedang hamil dan Tergugat tidak mau tahu dengan kebutuhan Penggugat yang sedang hamil dimana Tergugat lebihmengutamakan pekerjaannya dan Ibunya;

Bahwa dengan kejadian SMS (pesan) tersebut Penggugat tidak mau lagi membuka HP milik Tergugat karena Penggugat menyakinkan diri kalau Tergugat tidak mungkin lagi melakukan hal tersebut dan disamping itu Penggugat sudah lelah memikirkan sikap dan perbuatan Tergugat maupun Ibu Tergugat selama ini,

(26)

17

namun di tahun 2016 tanpa terpikir lagi kejadian di tahun 2012 Tergugat membuka HP milik Tergugat dan ternyata di dalamnya ada SMS (pesan) kata-kata sayang namun pada saat itu Penggugat mengatakan kepada Tergugat “jangan mengirim SMS (pesan) dengan kata-kata sayang mana tahu suaminya bisa marah dan kembali meminta agar Tergugat tidak mengulangi perbuatannya” namun atas perkataan Penggugat tersebut Tergugat tidak terima dan marah sehingga terjadi pertengkaran, padahal hati, perasaan Penggugat atas isi SMS (pesan) tersebut sangat terluka dan Penggugat sudah tidak kepercayaan lagi dengan Tergugat;

Bahwa sekira 3 (tiga) bulan sebelum hari raya Idul Adha di tahun 2016 antara Penggugat dan Tergugat bertengkar lagi, pertengkaran tersebut disebabkan karena Penggugat sudah tidak tahan lagi hidup satu rumah dengan orang tua Penggugat dan juga Abang Penggugat bersama istrinya dimana Penggugat meminta kepada Tergugat untuk hidup mandiri dan mengontrak rumah dan atas permintaan Penggugat tersebut Tergugat marah- marah dan mengatakan uang mu aja yang membayar kontrakan aku tidak mau tahu, namun karena Penggugat sudah jenuh dan tidak sanggup lagi hidup bersama dengan orang tua Penggugat akhirnya Penggugat berusaha sendiri mencari uang dan dan rumah kontrakan, setelah dapat rumah kontrakan Penggugat mengatakan kepada Tergugat untuk pindah, dan tanggal 14 Agustus 2016 Penggugat dan Tergugat pindah dari rumah orang tua Tergugat dan mengkontrak rumah di Jalan XXXXXXXXXXXXX, Deli Serdang, akan tetapi dalam perpindahan tersebut Tergugat pada saat itu marah- marah dan seakan-akan tidak mau berpisah rumah dengan orang tuanya;

Bahwa beberapa bulan tinggal dirumah kontrakan antara Penggugat dan Tergugat sering bertengkar, pertengkaran tersebut disebabkan hanya karena

(27)

Tergugat masih tidak rela kalau Tergugat harus tinggal dirumah kontrakan dan tidak satu rumah lagi dengan orang tuanya sehingga satu hari sebelum hari raya Idul Adha di tahun 2016 Tergugat meninggalkan rumah kontrakan dan pergi untuk tinggal dirumah orang tuanya bersama dengan orang tuanya lebih satu bulan lamanya, sehingga hanya Penggugat bersama anaknya yang tinggal dirumah kontrakan, dan melihat keadaan tersebut orang tua Penggugat meminta kepada Penggugat untuk disampaikan kepada Tergugat agar Tergugat bersama orang tuanya datang menjumpai orang tua Penggugat namun hanya Tergugat saja yang menjumpai orang tua Penggugat dan pada saat itu orang tua Penggugat menasehati Penggugat dan Tergugat, dan pada saat itu juga Tergugat meminta maaf atas kesalahannya kepada orang tua Penggugat dan Tergugat sendiri berjanji ini yang terakhir kalinya dan tidak mengulangi perbuatannya yang membuat pertengkaran;

Bahwa pertengkaran Penguggat dan Tergugat juga sering kali terjadi disebabkan Penggugat sudah sangat sering mengingatkan kepada Tergugat kalau Dokter sudah mengatakanuntuk sementara waktu dimasa pengobatan anak pertama Penggugat dan Tergugat tidak bisa makan dan minum yang mengandung coklat karena pencernaan anak pertama tidak normal dan apabila setiap diberi makan dan minum yang mengandung coklat maka anak pertama tersebut pasti sakit, dan perkataan Dokter tersebut sudah sangat jelas didengar Tergugat namun Tergugat tidak menghiraukannya dan tetap memberi makanan dan minuman yang mengandung coklat, tindakan Tergugat tidak memperdulikan kesehatan anak tersebut akhirnya menibulkan pertengkaran terus menerus terjadi;

(28)

19

Bahwa pada saat Penggugat melahirkan anak kedua melalui operasi Cesar di Rumah Sakit pada tanggal 18 Mei 2018 selama berada di Rumah Sakit Penggugat sangat kecewa dan perasaan yang hancur dimana pada saat itu Penggugat sangat membutuhkan Tergugat untuk berada dekat Penggugat namun Tergugat sangat jarang menjenguk Penggugat selama berada di Rumah Sakit dan Tergugat pernah mengatakan kan ada Ibunya yang menjaganya, kenapa harus aku.

Bahwa memang yang rutin menjaga Penggugat di Rumah Sakit adalah orang tua dan keluarga Penggugat;

Bahwa setelah pulang dari Rumah Sakit dan kembali kerumah kontrakan, Tergugat juga tidak memberikan perhatian terhadap kebutuhan dan perawatan Penggugat yang baru melahirkan dan terhadap anak kedua yang baru lahir, oleh karenanya Penggugat meminta orang tua Penggugat untuk menjemput Penggugat dan anak-anak agar tinggal dirumah orang tua Penggugat untuk diurus orang tua Penggugat;

Bahwa pertengkaran Penggugat dan Tergugat terjadi lagi pada tanggal 27 Juni 2018 pagi hari dimana Tergugat datang menjumpai Penggugat dan anak- anaknya di rumah orang tua Penggugat, yang pada saat itu Penggugat dan anak- anaknya sedang berada di rumah orang tua Penggugat, dan pada saat itu Tergugat membawa makanan dan minuman yang mengandung coklat dan memberikannya kepada anak pertama dan seketika itu Penggugat melarang dan marah kepada Tergugat kenapa lagi dikasi makanan dan minuman yang mengandung coklat kepada anak pertama dan akhirnya pertengkaran besar terjadi dan pertengkaran besar tersebut didengar oleh Ibu Penggugat dan Ibu Penggugat datang dan melihat pertengkaran tersebut, lalu Ibu Tergugat mengatakan kepada Tergugat kan sudah

(29)

dikasi tahu si Mega (Penggugat) berulang kali kalau si Fadel (anak pertama) tidak bisa makan dan minum yang mengandung coklat, dan mendengar ucapan Ibu Penggugat tersebut Tergugat emosi dan tidak terima lalu Tergugat mengatakan kepada Ibu Penggugat jangan turut campur urusan ini, inikan rumah tangga saya, dan mendengar ucapan tersebut Ibu Penggugat pergi meninggalkan Tergugat sendiri, sementara Penggugat bersama anak pertamanya sudah terlebih dahulu meninggalkan Tergugat dan masuk ke dalam kamar, kemudian Tergugat pergi meninggalkan rumah orang tua Penggugat sambil menendang pintu kamar yang didalamnya ada Penggugat dan anak pertamanya;

Bahwa puncak pertengkaran Penggugat dan Tergugat terjadi pada 30 Juni 2018 dimana pada pagi harinya tanggal Tergugat kembali datang ke rumah orang tua Penggugat dan menanya kepada Penggugat kapan pulang ke rumah kontrakan dan pada saat itu juga Tergugat mengajak anak pertama untuk jajan ke Indomaret, dimana atas ajakan tersebut Penggugat melarang Tergugat membawa anak pertama jajan ke Indomaret karena Penggugat takut kalau Tergugat akan membelikan makanan dan minuman yang mengandung coklat, dan karena larangan Penggugat tersebut akhirnya pertengkaran terjadi dan tarik menarik anak pertama juga terjadi, dan pada saat itu Ibu Penggugat mendengar pertengkaran lalu Ibu Penggugat datang dan melihat Penggugat dan Tergugat bertengkar sambil tarik menarik anak pertama lalu Ibu Penggugat berusaha memisahkan Penggugat dan Tergugat yang sedang tarik menarik anak pertama dengan cara menahani Tergugat agar tidak membawa si Fadel (anak pertama), dan melihat tindakan IbuPenggugat yang menahan Tergugat lalu dengan emosinya Tergugat mencakar tangan Ibu Penggugat, dan melihat stuasi yang tidak terkendali Ibu Penggugat

(30)

21

menghubungi menantu lakilakinya agar secepatnya datang karena Penggugat dan Tergugat bertengkar lagi dirumah orang tua Penggugat dan menantu lakilaki Ibu Penggugat tersebut datang dan melihat pertengkaran tersebut lalu menantu laki- laki Ibu Penggugat tersebut meminta kepada Tergugat untuk keluar dari rumah tersebut namun Tergugat tidak terima disuruh keluar sehingga akibatnya antara Tergugat dengan menantu laki-laki Ibu Penggugat bertengkar dan akhirnya Tergugat dengan emosinya meninggalkan rumah orang tua Penggugat;

Bahwa setelah Penggugat dirawat selama tinggal dirumah orang tua Penggugat maka pada tanggal 1 Juli 2018 Penggugat dengan ditemani orangtua Penggugat pindah ke rumah kontrakan yang baru di Jalan XXXXXXXXXXXXX, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan. Bahwa akan tetapi Penggugat sangat sedih karena kumulasi perlakuan Tergugat selama ini dan tidak dapat menerima perlakuan kasar Tergugat atas tarik menarik anak tersebut dan perlakuan terhadap ibu Penggugat, oleh karena itu Penggugat tidak mau lagi untuk hidup bersama dengan Tergugat;

Bahwa pihak keluarga sudah pernah melakukan upaya untuk mendamaikan berupa nasehat dan membujuk agar antara Penggugat dan Tergugat dapat kembali tinggal bersama membina rumah tangga seperti semula namun hal tersebut tidak berhasil;

Bahwa melihat adanya perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus dan segala akibatnya yang tersebut diatas, apalagi Penggugat telah memberikan kesempatan berulang kali kepada Tergugat untuk dapat berubah namun Tergugat tidak bisa berubah maka Penggugat berpendapat antara Penggugat dan Tergugat sudah tidak dapat lagi hidup bersama secara rukun dan damai seperti semula,

(31)

sehingga Penggugat sampai pada suatu ketetapan hati bahwa perceraian adalah jalan yang terbaik bagi Penggugat dan Tergugat untuk dikemudian hari, oleh sebab itulah Penggugat mengajukan gugatan cerai ini;

Bahwa berdasarkan alasan-alasan dan dasar tersebut diatas maka gugatan cerai Penggugat telah cukup dan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh peraturan yang berlaku, maka oleh karena itu Penggugat memohon kepada Pengadilan Agama Medan cq. Majelis Hakim Yang Mulia agar berkenan untuk mengabulkan gugatan cerai yang diajukan Penggugat dengan menyatakan menjatuhkan Talak I (satu) Ba’in Sughro dari Tergugat terhadap diri Penggugat;

Bahwa oleh karena antara Penggugat dan Tergugat bercerai maka selanjutnya Penggugat memohon kepada Pengadilan Agama Medan Cq. Majelis Hakim Yang Mulia agar berkenan menyatakan hak asuh/hadhanah atas 2 (dua) orang anak yang masing-masing bernama XXXXXXXXXXXXX, Lakilaki, Lahir di Medan pada tanggal 11 Juli 2014 dan XXXXXXXXXXXXX, Laki-laki, Lahir di Medan pada tanggal 18 Mei 2018 berada ditangan Penggugat berdasarkan alas an bahwa kedua anak tersebut belum mumayyiz dan sampai saat sekarang ini berada ditangan Penggugat dan Penggugatlah selama ini yang tetap berusaha dan sabar dalam mengasuh dan memelihara kedua anak tersebut, sedangkan Tergugat tidak memperhatikan kesehatan anak dan anak juga secara psicologis tidak dekat dengan Tergugat bahkan takut kepada Tergugat;

Bahwa meskipun Penggugat dan Tergugat bercerai dan hak asuh/hadhanah berada ditangan Penggugat namun menurut hukum Tergugat tetap berkewajiban dan bertanggung jawab atas nafkah kedua anak tersebut, dan Tergugat adalah pegawai honorer di Pemko Medan sebagai Satpol PP yang tentunya mempunyai

(32)

23

penghasilan/gaji sehingga Penggugat merasa yakin bahwa Tergugat mampu untuk membiayai baik kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan pendidikan untuk kedua anak tersebut sampai ke perguruan tinggi, oleh karena itu Penggugat memohon kepada Pengadilan Agama Medan Cq. Majelis Hakim Yang Mulia agar berkenan menghukum Tergugat untuk member nafkah kepada kedua anak yang masing-masing bernama XXXXXXXXXXXXX dan XXXXXXXXXXXXX sebesar Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah) setiap tanggal 01 (satu) setiap bulannya sampai anak tersebut dewasa dan mandiri melalui transfer ke rekening Penggugat yang khusus untuk itu;

Bahwa mengenai pembebanan biaya perkara yang timbul dalam perkara mohon kepada Pengadilan Agama Medan cq. Majelis Hakim Yang Mulia agar membebankannya kepada yang patut menanggungnya menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku;

Berdasarkan uraian diatas Penggugat memohon kepada Pengadilan Agama Medan cq. Majelis Hakim Yang Mulia agar berkenan menentukan suatu hari persidangan dan memanggil para pihak-pihak guna untuk melakukan pemeriksaan perkara ini dan selanjutnya agar berkenan mengambil suatu Putusan yang berbunyi Bahwa berdasarkan dalil-dalil dan alasan tersebut diatas, maka dengan ini Penggugat memohon kepada Ketua Pengadilan Agama Medan Cq. Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk menentukan suatu hari persidangan dengan memanggil para pihak dan selanjutnya memberikan putusan yang amarnya berbunyi sebagai berikut:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

(33)

2. Menjatuhkan Talak I (satu) Ba’in Sughro dari Tergugat

(XXXXXXXXXXXXX)terhadap diri Penggugat (XXXXXXXXXXXXX);

3. Menyatakan hak asuh atas kedua orang anak yang masing-masing bernama XXXXXXXXXXXXX, Lakilaki, Lahir di Medan pada tanggal 11 Juli 2014 dan XXXXXXXXXXXXX, Laki-laki, Lahir di Medan pada tanggal 18 Mei 2018 berada ditangan Penggugat;

4. Menghukum Tergugat agar memberikan nafkah kepada kedua orang anak yang masing-masing bernama XXXXXXXXXXXXX dan XXXXXXXXXXXXX tersebut sebesar Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah) setiap tanggal 01 setiap bulannya sampai kedua anak tersebut dewasa dan mandiri melalui transfer ke rekening Penggugat yang khusus untuk itu;

5. Membebankan biaya perkara yang timbul dalam perkara ini sesuai dengan peraturan yang berlaku; Atau: jika Pengadilan berpendapat lain mohon putusan yang seadil-adilnya;

B. Pertimbangan Hakim

Dalam mengambil suatu putusan terlebih dahulu hakim melakukan pertimbangan-pertimbangan yang menyebabkan terjadinya perceraian, adapun dalam putusan ini pertimbangan hakim adalah sebagai berikut :

Menimbang, bahwa maksud dan tujuan gugatan Penggugat adalah sebagaimana tersebut di atas;

Menimbang, bahwa untuk memenuhi ketentuan Pasal 154 R. Bg jo. Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 jo. Pasal 31 ayat (1) dan (2)

(34)

25

Peraturan Pemerintah no 9 tahun 1975 jo. Pasal 82 Undang-Undang ayat (1) dan (4) Undang Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 tahun 2009, Majelis Hakim telah berusaha mendamaikan dengan cara menasehati Penggugat agar rukun kembali dengan Tergugat, akan tetapi tidak berhasil;

Menimbang,bahwa perdamaian melalui proses mediasi telah dilaksanakan tanggal 9 Agustus 2018 dengan mediator Hj. Beby Nazlia Hsb, SH., MH dan mediator telah melaporkan hasil mediasi tanggal 9 Agustus 2018 bahwa mediasi tidak berhasil, dengan demikian maksud Peraturan Mahkamah Agung R.I No. 1 Tahun 2016 telah terpenuhi;

Menimbang, bahwa yang menjadi pokok masalah dalam perkara ini adalah Penggugat mengajukan gugatan cerai agar dijatuhkan talak satu bain sughra Tergugat terhadap Penggugat dengan alasan dalam rumah tangga Penggugat dan Tergugat telah terjadi perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus dan tidak ada harapan lagi untuk hidup rukun dalam rumah tangga disebabkan Tergugat tidak ada perhatian terhadap Penggugat dan egois, tidak perduli dengan keadaan kebutuhan rumah tangga, tidak sopan kepada orang tua Penggugat, tidak mau mendengar apalagi menerima pendapat Penggugat, tidak bisa dikasi tahu agar perhatian menjaga kesehatan anak serta Penggugat dan Tergugat tinggal satu rumah bersama dengan orang tua Tergugat dan juga abang Tergugat berserta istrinya (ada 3 kepala keluarga dalam satu rumah) yang mengakibatkan Penggugat dengan Tergugat telah pisah rumah sejak bulan Juni 2018 sampai sekarang;

(35)

Menimbang, bahwa meskipun Tergugat tidak menyampaikan jawaban atau sanggahan, akan tetapi karena perkara ini adalah perkara perceraian kepada Penggugat tetap dibebani untuk membuktikan dalil gugatannya;

Menimbang, bahwa untuk meneguhkan dalil-dalil gugatannya, Penggugat mengajukan bukti-bukti (vide. Pasal 283 R.Bg) berupa P.1, P.2., P.3., P.4., dan 2 (dua) orang saksi seperti tersebut di atas, dan terhadap bukti tersebut Majelis akan mempertimbangkannya sebagai berikut;

Menimbang, bahwa bukti P.1, P.2., P.3 dan P.4.telah disesuaikan dengan aslinya dan bermeterai cukup, maka berdasarkan ketentuan pasal 285 R.Bg. jo.

pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai jo.

pasal 2 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai Dan Besarnya Batas Pengenaan Harga Nominal Yang Dikenakan Bea Materai, bukti tersebut secara formil dapat diterima sebagai alat bukti, sedangkan secara materil akan dipertimbangkan;

Menimbang, bahwa bukti P.1 berupa fotokopi Kutipan Akta Nikah merupakan akta autentik membuktikan bahwa antara Penggugat dan Tergugat telah terikat dalam perkawinan yang sah;

Menimbang, bahwa bukti P.2 berupa fotokopi Kutipan Akta Kelahiran, membuktikan anak yang bernama XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 11 Juli 2014 adalah anak kandung Penggugat dengan Tergugat;

Menimbang, bahwa bukti P.3 berupa fotokopi Kutipan Akta Kelahiran, membuktikan anak yang bernama XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 18 Mei 2018 adalah anak kandung Penggugat dengan Tergugat;

(36)

27

Menimbang, bahwa bukti P.2 berupa fotokopi Kartu Keluarga membuktikan status kependudukan Penggugat sebagai warga Kelurahan Sidorejo Hilir, Kecamatan Medan Tembung, kota Medan;

Menimbang, bahwa selain bukti surat, Penggugat menghadirkan saksi- saksi dari pihak keluarga dan orang dekat dari Penggugat dan di bawah sumpahnya memberikan keterangan di depan sidang sebagaimana pada duduk perkaranya;

Menimbang, bahwa saksi I (XXXXXXXXXXXXX) dan saksi II (XXXXXXXXXXXXX) selaku ayah dan ibu kandung Penggugat, tidak ada halangan hukum untuk diangkat menjadi saksi dan telah memberikan keterangan di bawah sumpah di depan persidangan, oleh sebab itu sesuai ketentuan Pasal 175 R.Bg, maka secara formil kesaksian para saksi dapat diterima sebagai bukti saksi dalam perkara ini, sedangkan substansinya akan dipertimbangkan selanjutnya;

Menimbang, bahwa saksi I dan saksi II dalam kesaksiannya menyatakan pernah melihat langsung pertengkaran Penggugat dan Tergugat disebabkan Tergugat kurang bertanggung jawab menafkahi rumah tangga dan tidak sopan dan kurang adab sama orang tua Penggugat, dan baik saksi I maupun saksi II mengetahui bahwa Penggugat dengan Tergugat telah pisah rumah sejak 2 (dua) bulan yang lalu sampai sekarang dan saksi-saksi menyatakan tidak sanggup lagi merukunkan Penggugat dengan Tergugat;

Menimbang, bahwa oleh karena kesaksian saksi-saksi tersebut saling bersesuaian dan tidak saling bertentangan satu sama lainnya, dengan demikian keterangan para saksi tersebut patut untuk diyakini kebenarannya dan sesuai ketentuan Pasal 308 ayat (1) dan pasal 309 R.Bg patut dinilai telah memenuhi

(37)

syarat materil kesaksian, sehingga dapat diterima sebagai bukti yang mendukung dalil gugatan Penggugat dalam perkara ini;

Menimbang, bahwa dalil Tergugat tentang penyebab pertengkaran Tergugat tidak mengajukan bukti apapun dalam persidangan, oleh karena itu Tergugat dinyatakan tidak dapat membuktikan dalil-dalil bantahannya;

Menimbang, bahwa berdasarkan fakta tersebut Majelis Hakim berpendapat bahwa Penggugat telah dapat membuktikan rumah tangganya telah sampai pada kondisi pecah dan tidak ada harapan akan hidup rukun kembali dan sudah sangat sulit bagi Penggugat dan Tergugat untuk dapat mewujudkan tujuan perkawinan yang kekal, bahagia, sakinah, mawaddah wa rahmah, sebagaimana dimaksud oleh firman Allah SWT dalam suroh Arrum ayat 21 dan sejalan dengan pasal 1 Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam;

Menimbang, bahwa oleh karena Penggugat dengan Tergugat telah berpisah rumah, sedangkan pihak keluarga telah berupaya mendamaikan, akan tetapi tidak berhasil, karenanya sejalan dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI nomor 379.K/AG/1995 tanggal 26 Maret 1997, yang menyatakan bahwa suami isteri yang telah hidup pisah rumah menunjukkan rumah tangga mereka telah pecah dan tidak mungkin didamaikan lagi. Dengan demikian Majelis Hakim berpendapat kualitas pertengkaran Penggugat dengan Tergugat telah sampai pada pertengkaran dan perselisihan yang tidak mungkin didamaikan lagi;

Menimbang, bahwa terbukanya pintu perceraian menurut ketentuan hukum Islam adalah ketika ikatan lahir batin telah pecah dan tidak mungkin lagi dipersatukan kembali dalam rumah tangga, maka yang menjadi alternative pilihan terbaik untuk keluar dari situasi kemelut tersebut adalah membuka pintu

(38)

29

perceraian sebagai pintu darurat (emergency exit) guna meminimalisir resiko buruk yang berkepanjangan bagi perjalanan rumah tangga Penggugat dengan Tergugat dimasa yang akan datang tanpa menyudutkan pihak yang dituding sebagai pangkal penyebab terjadinya perselisihan karena faktanya Penggugat maupun Tergugat dinilai telah gagal menjaga keharmonisan rumah tangganya sejalan dengan Yurisprudensi Mahkamah agung nomor 534/K/Pdt/1996 tanggal 18 juni 1996;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, Majelis berkesimpulan bahwa alasan perceraian Penggugat telah memenuhi ketentuan pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo.

Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dan Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam, dengan demikian gugatan Penggugat sudah sepatutnya dikabulkan dengan menjatuhkan talak satu bain sughra Tergugat terhadap Penggugat;

Menimbang, bahwa tentang gugatan Penggugat agar anak Penggugat dengan Tergugat yang bernama XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 11 Juli 2014 dan XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 18 Mei 2018, ditetapkan di bawah hadhanah Penggugat, dengan alasan kedua anak tersebut masih belum mumayyiz sehingga masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang Penggugat sebagai ibu kandungnya, sesuai dengan ketentuan Pasal 86 ayat 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Peradilan Agama, penggabungan tersebut dapat dibenarkan dan secara formil patut diterima dan dipertimbangkan;

(39)

Menimbang, bahwa oleh karena anak-anak Penggugat dan Tergugat a quo masih di bawah umur dan belum mumayyiz (12) tahun dan sepanjang persidangan Majelis tidak menemukan cacat yang dapat menggugurkan hak Penggugat untuk ditetapkan sebagai pemegang hak hadhonah dan lagi pula Tergugat tidak mengajukan keberatan, dengan demikian gugatan Penggugat patut dikabulkan dengan menetapkan anak Penggugat dan Tergugat bernama XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 11 Juli 2014 dan XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 18 Mei 2018, berada di bawah hadhonah Penggugat;

Menimbang, bahwa meskipun Penggugat telah ditetapkan sebagai pemegang hak hadanah dalam perkara ini, akan tetapi tidak serta merta kesempatan Tergugat untuk mengasuh anak menjadi hilang dan untuk kemaslahatan dan masa depan anak agar batinnya tetap merasakan dan mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang telah berpisah, Penggugat tidak boleh menghalangi Tergugat, tetapi harus memberi izin kepada Tergugat untuk melihat atau bertemu dan membawa anak tersebut pada hari-hari libur dan waktu-waktu tertentu yang diperlukan untuk mencurahkan kasih sayangnya. Hal mana sejalan dengan ketentuan pasal

45 ayat (1) dan (2) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, yang intinya menyatakan kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak mereka sebaik-baiknya sampai anak tersebut kawin atau dapat berdiri sendiri, meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus;

Menimbang, bahwa tuntutan Penggugat tentang biaya nafkah anakanak a quo setiap bulan sebesar Rp 3.000.000.- (tiga juta rupiah), majelis hakim akan mempertimbangkannya;

(40)

31

Menimbang, bahwa dalam pasal 149 huruf d Kompilasi Hukum Islam disebutkan bilamana perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib memberikan biaya hadhanah untuk anak-anaknya yang belum mencapai umur 21 dan pasal 156 huruf f menyatakan pengadilan dapat pula dengan mengingat kemampuan ayahnya menetapkan jumlah biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang tidak turut padanya;

Menimbang, bahwa meskipun tidak ada bukti apapun yang diajukan Penggugat tentang besaran penghasilan yang didapat Tergugat setiap bulan, akan tetapi mengingat azas kelayakan dan kepatutan, maka majelis hakim menetapkan biaya nafkah anak Penggugat dengan Tergugat untuk masa yang akan datang setiap bulan minimal sejumlah Rp 700.000,- (tujuh ratus ribu rupiah) sampai anak-anak tersebut mandiri;

Menimbang, bahwa sesuai ketentuan pasal 89 ayat (1) Undang Nomor 7 tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, maka semua biaya yang timbul dalam perkara ini dibebankan kepada Penggugat untuk membayarnya; Mengingat segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dalil syar’i yang berkenaan dengan perkara ini;

MENGADILI 1. Mengabulkan gugatan Penggugat;

2. Menjatuhkan talak satu bain sughra Tergugat (XXXXXXXXXXXXX) terhadap Penggugat (XXXXXXXXXXXXX);

3. Menetapkan anak Penggugat dengan Tergugat yang bernama XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 11 Juli 2014 dan

(41)

XXXXXXXXXXXXX, lahir tanggal 18 Mei 2018, berada di bawah pengasuhan dan pemeliharaan (hadhanah) Penggugat;

4. Menetapkan biaya nafkah 2 (dua) orang anak Penggugat dengan Tergugat untuk masa yang akan datang setiap bulan minimal sejumlah Rp 700.000,00 (tujuh ratus ribu rupiah);

5. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya nafkah 2 (dua) orang anak Penggugat dengan Tergugat kepada Penggugat setiap bulan sebesar diktum angka 4, terhitung sejak putusan ini dijatuhkan sampai anak-anak tersebut mandiri

6. Membebankan kepada Penggugat membayar biaya perkara sejumlah Rp 491.000,00 (lima ratus sembilan puluh satu ribu rupiah);

C. Analisis Hukum

Dalam menentukan, atau biasa disebut hak asuh anak, dalam kasus perceraian hadhanah merupakan hakyang patut diterima si kecil, karena dia masih memerlukan orang yang sanggupmemelihara, membimbing dan mendidiknya dengan baik. Kedekatan emosionalanak dengan ayah dan ibunya merupakan hal mendasar yang perludipertimbangkan hakim dalam menetapkan hak asuh anak.

Kedekatan emosionalakan sangat mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak.

Perasaan cinta, kasihsayang, lemah lembut dan kenyamanan yang berbanding terbalik dengankebencian, amarah, sikap kasar dan ketidaknyamanan menjadi penentu baiktidaknya perkembangan anak. Posisi anak yang ingin merasakan kenyamanan secarapsikologis dan sejauh mana kedekatan emosionalnya menjadi pertimbanganhakim.Terkait itu hakim perlu juga memperhatikan pola pengasuhan

(42)

33

yangditerapkan kepada anak.Sehingga secara psikologis kepentingan anak harusdiutamakan supaya mendapat perhatian lebih, terutama dalam hal pengaturanwaktu mengasuh dan mengunjungi.Sehingga keputusan hakim memberikan hak asuh anak kepada ibu dalam kasus ini yang bertindak sebagai penggugat sudah tepat.Karena secara kedekatan emosional dan rasa kasih sayang, serta waktu luang untuk membesarkan anak itu lebih besar mampu diberikan oleh ibu dari pada ayah.

Selanjutnya mengenai biaya nafkah anak pasca perceraian, Menurut Pasal 41 huruf (b) UUPerkawinan menjelaskan, bahwa bapak bertanggung atas semua biayapemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bilamana bapak dalamkenyataannya tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan dapatmenentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut. Maka dari itu apabila orangtua telah bercerai ayah tetap wajib memenuhi biaya kebutuhan pendidikananaknya.Terkait itu hal umum yang sering menjadi konflik antara orang tua anakadalah kebutuhan anak dan kenginan masing-masing orang tua.Sehingga hakimperlu mencermatinya dengan mengidentifikasi kenginan orang tua yang sejalandengan kebutuhan anak. Hal ini pula yang menjadi dasar untuk menentukan kewajiban kewajiban yang harus dibayar mantan suami kepada mantan istri untukmemenuhi kebutuhan anak, oleh sebab itu dalam kasus ini menurut penulis putusan hakim dengan menjatuhkan biaya nafkah kepada ayah sebesar 700 ribu perbulan terhadap kedua anaknya sudah tepat, apabila dilihat dari kemampuan keuangan dan pendapatan ayah yang telah diuraikan dalam putusan tersebut.

(43)

34 BAB III

FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN TIDAK

DILAKSANAKANNYA PUTUSAN PENGADILAN YANG MENGHUKUM AYAH UNTUK MEMBIAYAI NAFKAH ANAK SETELAH TERJADINYA

PERCERAIAN

A. Perceraian dalam hukum perkawinan 1. Perceraian Secara Umum

Perceraian berasal dari kata dasar cerai, yang berarti putus hubungan sebagai suami istri. Menurut bahasa perceraian adalah perpisahan antara suami dan istrinya. Perceraian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata cerai, yang berarti pisah, putus hubungan sebagai suami istriMenurut pokok- pokok hukum perdata bahwa perceraian adalah penghapusan perkawinan dengan putusan Hakim atau tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan.Perceraian walaupun diperbolehkan oleh agama Islam, namun pelaksanaannya harus berdasarkan suatu alasan yang kuat dan merupakan jalan terakhir yang ditempuh oleh suami istri. Apabila cara-cara yang lain telah diusahakan sebelumnya tetap tidak dapat mengembalikan keutuhan kehidupan rumah tangga suami istri tersebut.7

Pada prinsipnya perkawinan bertujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal untuk itu suami istri perlu saling membantu dan melengkapi agar masing- masing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual maupun material karena itu undang-undang juga menganut asas atau prinsip mempersukar perceraian.Menurut Pasal 38 UU No. 1 tahun 1974tentang Perkawinan ditegaskan bahwa perkawinan dapat putus karena

7 Soemiyati, 1986, Hukum Perkawinan Islam dan undang-undang Perkawinan, (Undang-undang Nomor 1Tahun 1974 tentang Perkawinan, Yogyakarta: Liberty, hal. 105

(44)

35

kematian atau perceraian atas putusan hakim, Selanjutnya dalam Pasal 39 UU No. 1 Tahun 1974 disebut dan j juga diatur dalam Pasal 65 UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama disebutkan bahwa perceraian dapat dilakukan didepan sidang peradilan setelah peradilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.

Perceraian hanya dapat dilakukan dengan adanya cukup alasan yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan pemerintah, yang dalam peraturan pemerintah No 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan pada pasal 19 perceraian dapat terjadi karena alasan :

a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan sebagainya yang sukar disembuhkan

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa ijin pihak lain tanpa alasan yang sah atau hal lain di luar kamampuannya

c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara selama 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat

yang membahayakan pihak lain.

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri

f. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

(45)

Alasan dibenarkannya perceraian antara suami/istri yang terikat dalam suatu perkawinan dalam Pasal 116 Instruksi Presiden No.1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum islam tidak hanya alasan sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Pemerintah No.9 tahun 1975.8

a. Suami melanggar taklik talak

Akan tetapi ada penambahan alasan, yakni sebagai berikut :

b. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terajdinya

Ketidak rukunan dalam rumah tangga.dalam ajaran islam perceraian dikenal dengan istilah talak, talak secara harfiah berartimembebaskan seekor binatangdigunakan dalam sejarah untuk menunjukkan cara yang sah dalam mengakhiri suatu perkawinan.9

Pada sebuah kasus perceraian selama perkara tersebut belum diputuskan, usaha untuk mendamaikan tersebut dapat dilakukan pada setiap sidang pemeriksaan dalam sidang perdamaian.Apabila ternyata upaya damai tidak berhasil maka sidang dapat dilanjutkan ke tahap pembacaan gugatan.Menurut Pasal 123 KHI perceraian hanya dapat dilakukan lewat sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Perceraian tersebut baru sah terhitung pada saat perceraian itu dinyatakan di depan sidang Pengadilan.

2. Syarat-syarat untuk Bercerai

10

8Instruksi Presiden No.1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum islam

9M. Hasballah Thalib, 1993,Hukum Keluarga Dalam Syariat Islam, Fakultas Hukum Universitas Dharmawangsa, Medan, hal. 101.

10Amir Syarifudin, 2007,Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana, hlm.

189.

Mengacu pada pasal tersebut, maka pemohon dapat mengajukan surat (pemohon) yang menerangkan bahwa pemohon

(46)

37

bermaksud menceraikan pemohon ke Pengadilan Agama di daerah tempat tinggal pemohon. Nantinya, Pengadilan Agama bersangkutan mempelajari isi surattersebut dan dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari memanggil pemohon dan juga termohon untuk meminta penjelasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan maksud perceraian tersebut. Idealnya, pernikahan dilakukan sekali seumur hidup.

Pada kenyataannya bagi sebagian pasangan, pernikahan sekali seumur hidup sulit dlakukan.Ada begitu banyak rintangan, mulai dari masalah ekonomi, prinsip hidup, keluarga, dan rintangan lainnya.Bahkan beberapa pasangan mengalami kasus kekerasan dalam rumah tangga. Pasal 8 dan Pasal 9 KHI mengatur bahwa putusnya perkawinan selain cerai mati hanya dapat dibuktikan dengan surat cerai berupa putusan Pengadilan Agama, baik yang berbentuk putusan perceraian, ikrar talak, khuluk atau putusan taklik talak. Apabila bukti tidak ditemukan karena hilang dan sebagainya, maka dapat dimintakan salinannya kepada Pengadilan Agama. Terkait surat bukti tidak dapat diperoleh, maka dapat diajukan permohonan ke Pengadilan Agama.11

Pengajuan perceraian ini dapat dilakukan oleh salah satu pihak, dari pihak istri atau dari pihak suami.Pengajuan permohonan ini biasanya dalam bentuk ajuan tertulis dan ditujukan kepada Pengadilan Agama.Tetapi bila ajuan tertulis sulit dibuat, maka pasangan suami istri dapat membuat ajuan secara lisan.

Nantinya pihak pengadilan agama akan membuat surat tertulis berdasarkan ajuan secara lisan yang telah disampaikan. Cerai mati terjadi jika suami atau istri

Nantinya perceraian harus diputuskan di Pengadilan Agama.

11Ibid

(47)

meninggal dunia.Jika salah satu dari mereka meninggal maka perkawinannya dianggap putus dengan sendirinya, serta putus hak dan kewajiban masing-masing.

Menurut Pasal 170 KHI istri yang ditinggal mati oleh suaminya, wajib melaksanakan masa berkabung selama masa iddah sebagai tanda turut berduka cita dan sekaligus menjaga timbulnya fitnah.Suami yang ditinggal mati oleh istrinya, melakukan masa berkabung menurut kapatutan. Bagi seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya, boleh menikah lagi dengan pria lain yang bukan muhrimnya setelah menjalani masa iddah. Masa iddah ini diberlakukan untuk mengetahui apakah sang istri ketika ditinggal saatmeninggal dunia masih dalam keadaan hamil atau tidak. Masa iddah ini penting untuk mengetahui siapa orang tua dari sang anak kelak ketika lahir.12

Setiap perceraian yang terjadi tentu didasari atau dilatarbelakangi dengan berbagai permasalahan yang terjadi dalam perkawinan.Perceraian yang tanpa alasan adalah perceraian yang hukumnya haram.Dalam fikihtidak disebutkan terperinci tentang alasan-alasan yang menyebabkan perceraian,13

12 Lihat Pasal 170 Kompilasi Hukum Islam

13Soemiyati, 2007,Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan Cetakan keenam,Yogyakarta : Liberty, hlm, 129.

akan tetapi dijelaskan tentang beberapa tindakan yang bisa menyebabkan perceraian seperti syiqaq, nusyuz, zhihar, li’an, dan ila’. Pengajuan gugatan perceraian ke Pengadilan harus disertai dengan alasanalasan yang cukup sesuai dengan alasan- asalan yang telah ditentukan dalam Undang-Undang Perkawinan ini.Alasan perceraian menurut Hukum Perdata, hanya dapat terjadi berdasarkan alasan-alasan

(48)

39

yang ditentukan Undang-undang dan harus dilakukan di depan sidingpengadilan.14

Menurut Pasal 116 KHI, perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan sebagai berikut :15

1. Salah satu pihak berbuat zinah atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.

2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 tahun berturut- turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya.

3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain.

5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri.

6. Antara suami dan istri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

7. Suami melanggar taklik talak.

8. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga.

Khuluk adalah penyerahan harta yang dilakukan oleh isteri untuk menebus dirinya dari (ikatan) suaminya. Perceraian dengan caraini diperbolehkan dalam

14Yahya harahap, 1975,Beberapa permasalahan Hukum Acara pada Peradilan Agama, Jakarta: AlHikmah, hal, 133.

15 Lihat Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam

Referensi

Dokumen terkait

Sejahtera Motor Gemilang, yang merupakan salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang industri otomotif sepeda motor bermerek dagang Suzuki dan memiliki

What are the types of errors that the students made in using of conditional sentences type IIIbased on Surface Strategy Taxonomy?... What are the proportions (frequency

Pada area santai terdapat lemari buku-buku di mana tempat komunitas dan wisata Waste Recy- cling Project dapat menghabiskan waktu mereka dengan bersantai dan membaca

Uji hipotesis menunjukan adanya pengaruh signifikan terhadap loyalitas perawat pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Sawahlunto.Namun,jika dilihat dari uji

Sehingga apabila pembelajaran konsumen menggunakan KA Argo Muria terus menerus baik maka akan meningkatkan kepurusan pembelian KA AM Sikap konsumen secara parsial memiliki

: Kebijakan Redaksi dalam Menentukan Berita atau Foto Headline (Studi Newsroom padaHarian FAJAR Makassar) Penguji I Penguji II Pembimbing I Pembimbing II M...

Dengan begitu, jampi-jampi dari dukun manapun yang ada di Bangka ini tidak akan mempan/mampu menembus Desa Batu Beriga (dikenal juga dengan dukun kekuatan/ilmu

Ada pengaruh yang signifikan antara perilaku kepemimpinan yang dicerminkan oleh dimensi iklim saling mempercayai, penghargaan terhadap ide bawahan, memperhitungkan perasaan