• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV UPAYA HUKUM YANG DAPAT DI TEMPUH OLEH IBU AGAR

B. Upaya Hukum Yang Dapat Ditempuh Oleh Ibu Agar Orang Tua

Nafkah Anaknya Setelah Terjadinya Perceraian

Dalam praktek di Pengadilan Agama dikenal dua macameksekusi yaitu : 1. Eksekusi riil atau nyata sebagaimana yang diaturdalam Pasal 200 ayat

(11) HIR, Pasal 218 ayat (2) R.Bg. dan Pasal1033 Rv yang meliputi penyerahan, pengosongan, pembongkaran,pembahagian dan melakukan sesuatu.

2. Eksekusi pembayaransejumlah uang melalui lelang sebagaimana tersebut dalam Pasal 200HIR dan Pasal 215 R.Bg yang dilakukan dengan menjual lelangbarang-barang debitur atau juga dilakukan dalam pembahagian hartabila pembahagian dengan perdamaian danpersetujuan pihak-pihak (innatura) tidak dapat dilakukan seperti dalam perkara harta bersama danwarisan.56

Dari ketentuan di atas, jika dikaitkan dengan permasalahandalam tulisan ini yang menyangkut upaya yang dapat dilakukan untukmemaksa orang tua

56Yahya Harahap dalam Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di LingkunganPeradilan Agama, Yayasan Al Hikmah, Jakarta, Cet.II, 2001, hal.215.

73

laki (ayah) dalam memenuhi isi putusanPengadilan Agama yang menghukumnya untuk memberi biaya nafkahanak, maka ibu dapat memohon eksekusi pembayaran biaya nafkahke Pengadilan Agama untuk memaksan orang tua laki-laki (ayah)tersebut untuk memberikan biaya nafkah anak.57

57Wawancara dengan Bapak Rusli, Hakim Pengadilan Agama Medan, Wawancara tanggal 15Mei 2019, Pukul 10.00 WIB.Op.cit

Ibu dapat mengajukan permohonan eksekusi terhadap orang tua laki-laki (ayah) yang melalaikan kewajiban nafkah anak tentunya hanya bisa dilakukan jika orang tua laki-laki (ayah) tersebut mempunyai harta benda yang dapat dieksekusi.Dalam hal eksekusi ini pengadilan meminta kepada orang tua laki-laki untuk menjalankan amar putusan untuk membayar nafkah anak sebesar jumlah yang telah diputuskan sampai anak tersebut berumur 21 tahun.

Persoalan biaya nafkah ini tidak juga dapat diatasi melalui upaya hukum jika ternyata harta benda orang tuanya tidak ada, sehingga jikapun dimohonkan eksekusi akan menjadi sia-sia. Selanjutnya, apabila sejak awal, biaya nafkah tidak dimintakan oleh ibu pada saat terjadinya pemeriksaan sengketa perceraian dan kemudian ternyata orang tua laki-laki (ayah) tidak memberi biaya nafkah anak, maka ibu dapat mengajukan gugatan biaya nafkah anak terhadap orang tua laki-laki (ayah) ke Pengadilan Agama yang terpisahdari sengketa perceraian sebelumnya.Jika diperhatikan jawaban responden dalam penelitian ini, dari11 responden yang menyatakan bahwa orang tua laki-laki (ayah) tidakpernah memberikan biaya nafkah anak meskipun telah diputus olehPengadilan Agama, semuanya mengatakan sering menagih biayanafkah anak tersebut kepada orang tua laki-laki (ayah) tetapi tidakdipatuhi. Tetapi sangat disayangkan, tidak satupun dari 11 responden itu yang menyatakan pernah menempun jalur hukum.

Tidak adanya responden tersebut yang menempuh jalur hukum disebabkan pengetahuan responden sendiri tentang hukum yang begitu rendah. Terhadap pertanyaan kepada seluruh responden dalam penelitian ini (30 responden), apakah mengetahui tentang adanya hukum yang dapat dilakukan jika orang tua laki-laki (ayah) tidak mematuhi isi putusan Pengadilan Agama yang menghukumnya untuk membayar biaya nafkah anak, hanya 1 dari 30 orang responden tersebut yang mengetahui adanya upaya hukum tersebut. Dengan demikian, dapat disebutkan bahwa orang tua perempuan atau anak tidak pernah melakukan upaya hukum untuk memaksa orang tua laki-laki (ayah) untuk mematuhi isi putusan mengenai biaya nafkah anak adalah disebabkan minimnya pengetahuan tentang hukum itu sendiri.

75

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan dan saran sebagai berikut:

1. Pertimbangan Hakim dalam mengambil putusan terhadap Perkara Nomor 1629/Pdt.G/2018/PA. Medan telah sesuai dan tidak bertentangan dengan hukum Positif dan Hukum Islam. Adapun hukum Islam yang digunakan adalah dengan cara ijtihad dan hukum positif yaitu: Pasal 4 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 105 huruf (a) KHI, Pasal 105 huruf (c) KHI, Pasal 149 huruf (a) KHI, Pasal 149 huruf (b) KHI, Pasal 149 huruf (d) KHI, Pasal 160 KHI. Sehingga hakim dalam memutus perkara ini telah memperhatikan fakta yang ada di persidangan.

Terkait itu hakim telah melindungi hak-hak mantan istri dan anak tentang nafkah iddah, mut’ah, hak asuh ketiga anak, dan nafkah anak.

2. Faktor-faktor yang menyebabkan tidak dilaksanakannya putusan pengadilan yang menghukum ayah untuk membiayai nafkah anak setelah terjadinya perceraian pertama karena rendahnya tingkat perekonomian, kedua adanya indikasi orang tua menikah lagi, ketiga.

3. Upaya yang dapat ditempuh oleh orang tua perempuan dalam hal orang tua laki-laki (ayah) tidak memberikan baiya nafkah anak setelah terjadinya perceraian sebagaimana diputus oleh Pengadilan

Agama, orang tua perempuan dapat mengajukan permohonan eksekusi ke Pengadilan Agama untuk memaksa orang tua laki-laki (ayah) agar memberi nafkah anak sebagaimana diputus oleh Pengadilan Agama. Hal ini di ;andasi dalam Pasal 200 HIR dan Pasal 215 R.Bg Tentang Macam-macam eksekusi yang dikenal dipengadilan agama.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas, dapat dikemukakansaran-saran sebagai berikut :

1. Biaya nafkah anak setelah terjadinya perceraian harus tetap dapat terjamin karena masa depan anak masih sangat panjang, oleh karenanya Pengadilan Agama yang memutus perkara perceraian harus mempertimbangkan dengan matang tentang permohonan biaya nafkah anak yang dimohonkan.

Kondisi ekonomi orang tua laki-laki (ayah) yang sering menjadi pertimbangkan dalam memutus, memang tetap harus dipertimbangkan, akan tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak mengabulkan sama sekali permohonan tersebut sebab ke masa depan tidak ada yang dapat menjamin bahwa orang tua laki-laki (ayah) tersebut akan tetap dalam keadaan tidak mampu secara ekonomi. Oleh karenanya, mampu atau tidak mampu secara ekonomi, sebagai langkah awal untuk melindungi kepentingan anak, biaya nafkah anak harus tetap diputus oleh Pengadilan Agama.

2. Bahwa sebaiknya Pengadilan Agama lebih memperkecil faktor yang membuat orang tua ( ayah) tidak memenuhi biaya nafkah anak pasca

77

perceraian. Apabila dikatakan tidak mampu harus diperjelas ketidakmampuannya seperti apa, apabila pasca perceraian orang tua laki (ayah) menikah lagi, tetap wajib menafkahi anak kandungnya, terlepas dengan alasan kurang mampu atau tidak.

3. Pengadilan Agama sebaiknya menjamin hak seseorang terhadap hukum in konkrito maupun hukum materil, tidak ada artinya jika tidak direalisasikan, bahkan di masa yang akan datang pembentuk Undang-Undang perlu membentuk suatu ketentuan tentang prosedur khusus yang diartikan sebagai proses penyelesaian perkara langsung pada pelaksanaan eksekusi terhadap pelaksanaan putusan pengadilan agama tentang betapa pentingnya perlindungan terhadap hakhak istri dan anak-anaknya setelah adanya perceraian tentang pemberian nafkah anak.

78

DAFTAR PUSTAKA A. BUKU

Ahmad Said Fuad, 1994, Perceraian Menurut Hukum Islam, Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1994

A. Rahman, 2002, Penjelasan Lengkap Hukum-Hukum Allah, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002

Ali, Zainuddin. 2006. Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, Ali, Mohammad.2008. Psikologi Remaja. Jakarta : Media Grafika

A.Hamid Sarong, 2010, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia, Cetakan III, Banda Aceh :Yayasan Pena

Andi Tahir Hamid,1996, Beberapa Hal Baru Tentang Peradilan Agama dan Bidangnya, Jakarta: Sinar Grafika

Bahari, Adi. 2012. Prosedur Gugatan Cerai+Pembagian Harta Gono-Gini+Hak Asuh Anak.Yogyakarta : Pustaka Yustisia

Harahap. M. Yahya. 1974. Hukum kawin Nasional Berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1974, Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. Medan : Zahir Trading Co

---. 2005. Kedudukan dan Kewenangan Acara Peradilan Agama UU no 7 Tahun 1989. ed Ke2, CetKe3, Jakarta: Sinar Grafika

Jauhari, Imam.2003. Hak-hak Anak dalam Hukum Islam. Jakarta: Pustaka Bangsa Pers,

Johan, Bahder dan Sri Warjiyati. 1997. Hukum Perdata Islam, Komplikasi Peradilan Agama tentang Perkawinan, Waris, Wasiat, Hibah, Wakaf dan Shadaqah , Bandung: Madar Maju,

Manan, Abdul. 2001. Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, Jakarta: Yayasan Al Hikmah

Muchtar, Kamal.2008. Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, Jakarta : Bulan Bintang

Prodjodikoro, Wiryono. 1984. Hukum Perkawinan di Indonesia,Bandung:Sumur, Rahman A.2002. Penjelasan Lengkap Hukum-Hukum Allah. Jakarta : PT. Raja

Grafindo Persada

79

Rofiq, Ahmad.1998.Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Sayyid Sabiq, Fiqh Al-Sunnah Jilid VIII

Setyowati Soemitro,Irma.1990. Aspek Hukum Perlindungan Anak, Jakarta: Bumi Aksara,

---. 1994. Kekuasaan Orang Tua Setelah Perceraian (Suatu PenelitianDi Desa Cukil, Sruwen dan Sugihan Kecamatan Tengaran.

Semarang: Dalam Majalah Fakultas Hukum Universitas Diponegoro

Soemiyati, 1986, Hukum Perkawinan Islam dan undang-undang Perkawinan, (Undang-undang Nomor 1Tahun 1974 tentang Perkawinan, Yogyakarta:

Liberty

_________, 2007, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan Cetakan keenam,Yogyakarta : Liberty

Subekti. 1992, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Bandung: PT Intermasa

Syamsul Alam, Andi dan M. Fauzan. 2002. Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam. Kamal Muchtar, Loc. Cit

Syarifudin, Amir. 2007. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana Thalib,M. Hasballah.1993. Hukum Keluarga Dalam Syariat Islam,. Medan:

Fakultas Hukum Universitas Dharmawangsa

Yahya harahap, 1975, Beberapa permasalahan Hukum Acara pada Peradilan Agama, Jakarta: AlHikmah

B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama

Instruksi Presiden Nomor.1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 Tentang Penggajian PNS

Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1983 jo Peraturan Pemerintah No.45 Tahun 1990tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil

C. SUMBER LAINNYA:

Mimbar Hukum Aktualisasi Hukum Mam No. 49 Thn XI 2000 Mi - Agustus, (Al-Hikmah

& DITBINBAPERA Islam)

Nizam, 2005, Thesis : Kewajiban Orang Tua Laki-Laki Atas Biaya Nafkah Anak Pasca Perceraian, Semarang :Universitas Diponegoro

81

Dokumen terkait